• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.6 Pembuatan Ekstrak dan Fraksinasi

3.6.2 Pemisahan secara fraksinasi

Pembuatan fraksi-fraksi dilakukan secara ekstraksi cair-cair (ECC) menggunakan pelarut n-heksan dan etilasetat. Sebanyak 10 g ekstrak etanol ditambahkan etanol 20 ml dan air suling 40 ml, lalu dimasukkan ke dalam corong pisah. Kemudian ditambahkan 40 ml n-heksan, dikocok lalu didiamkan sampai diperoleh 2 lapisan, n-heksan (lapisan atas) dipisahkan dan fraksinasi dilakukan sampai warna lapisan n-heksan jernih. Sisanya (lapisan bawah) kemudian ditambahkan 50 ml etilasetat, dikocok lalu didiamkan sampai terdapat 2 lapisan, lapisan etilasetat (lapisan atas) dipisahkan dan fraksinasi dilakukan sampai warna lapisan etilasetat jernih. Semua fraksi, termasuk fraksi sisa terakhir (fraksi air) yang diperoleh diuapkan sampai fraksinya kental.

3.7 Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH 3.7.1 Prinsip metode penangkapan radikal bebas DPPH

Kemampuan sampel uji dalam meredam DPPH (1,1-Diphenyl-2-Picryl-hidrazyl) sebagai radikal bebas dalam larutan metanol (sehingga terjadi

peredaman warna ungu DPPH) dengan nilai IC50 (konsentrasi sampel uji yang mampu meredam radikal bebas sebesar 50%) digunakan sebagai parameter untuk menentukan aktivitas antioksidan sampel uji tersebut (Molyneux, 2004).

3.7.2 Pembuatan larutan blanko

Larutan DPPH 0,5 mM (konsentrasi 200 µg/ml) dipipet sebanyak 5 ml, kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml, dilarutkan dan dicukupkan volumenya dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 40 µg/ml).

3.7.3 Penentuan panjang gelombang serapan maksimum

Larutan DPPH konsentrasi 40 ppm dihomogenkan dan diukur serapannya pada panjang gelombang 400-800 nm (Graham, 1976).

3.7.4 Pembuatan larutan induk sampel uji

Sebanyak 10 mg ekstrak etanol, fraksi etil asetat, fraksi n-heksan dan fraksi air buah senduduk ditimbang kemudian masing-masing dilarutkan dalam labu tentukur 10 ml dengan metanol lalu volumenya dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 1000 µg/ml).

3.7.5 Pembuatan larutan uji

Masing-masing larutan induk dipipet sebanyak 0,03 ml; 0,06; 0,125 ml;

0,25 ml; 0,5 ml. kemudian masing-masing dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml (untuk mendapatkan konsentrasi 3,125 µg/ml, 6,25 µg/ml, 12,5 µg/ml, 25 µg/ml, 50 µg/ml), ke dalam masing-masing labu tentukur ditambahkan 2 ml larutan DPPH 0,5 mM (konsentrasi 40 µg/ml) lalu volume dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda, didiamkan di tempat gelap selama 60 menit, lalu diukur serapannya pada spektrofotometer UV-Visible.

3.7.6 Pembuatan larutan induk vitamin C

Sebanyak 10 mg vitamin C ditimbang kemudian dilarutkan ke dalam labu tentukur 10 ml dengan metanol, lalu dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 1000 µg/ml ).

3.7.7 Pembuatan larutan uji vitamin C

Larutan induk dipipet sebanyak 0,02 ml; 0,04 ml; 0,06 ml dan 0,08 ml kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml (untuk mendapatkan konsentrasi 2 µg/ml, 4 µg/ml, 6 µg/ml dan 8 µg/ml), kemudian dalam

masing-masing labu tentukur ditambahkan 2 ml larutan DPPH 0,5 mM (konsentrasi 40 µg/ml). Lalu volume dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda, didiamkan di tempat yang gelap selama 60 menit lalu diukur serapannya pada spektrofometer UV-Visible.

3.7.8 Penentuan persen peredaman

Kemampuan antioksidan diukur sebagai penurunan serapan larutan DPPH (peredaman warna ungu DPPH) akibat adanya penambahan larutan uji. Nilai serapan larutan DPPH sebelum dan sesudah penambahan larutan uji tersebut dihitung sebagai persen peredaman.

% Peredaman = ontrol- Sampel

ontrol

x

100%

Keterangan : A Kontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel A Sampel = Absorbansi sampel

3.7.9 Penentuan nilai IC50

Nilai IC50 merupakan bilangan yang menunjukkan konsentrasi sampel uji (μg/ml) yang memberikan peredaman DPPH sebesar 50% (mampu meredam proses oksidasi DPPH sebesar 50%). Nilai 0% berarti tidak mempunyai aktivitas antioksidan, sedangkan nilai 100% berarti peredaman total dan pengujian perlu dilanjutkan dengan pengenceran larutan uji untuk melihat batas konsentrasi aktivitasnya. Hasil perhitungan dimasukkan ke dalam persamaan regresi dengan konsentrasi ekstrak (μg/ml) sebagai absis (sumbu X) dan nilai % peredaman (antioksidan) sebagai ordinatnya (sumbu Y) (Molyneux, 2004).

Secara spesifik, suatu senyawa dikatakan antioksidan sangat kuat jika nilai IC50 kurang dari 50 μg/ml, kuat untuk IC50 bernilai 50-100 μg/ml, sedang jika IC50

bernilai 100-150 µg/ml, dan lemah jika IC50 bernilai 151-200 µg/ml (Molyneux, 2004)

3.8 Analisis Kandungan Kimia

3.8.1 Analisis dengan kromatografi lapis tipis (KLT)

Pemeriksaan secara KLT ekstrak etanol dan fraksi buah senduduk dilakukan menggunakan fase gerak n-heksan-etil asetat dengan berbagai perbandingan, fase diam plat pra lapis silika gel 60 F254 dan sebagai penampak bercak digunakan pereaksi Lieberman-Burchard.

Cara kerja: larutan ekstrak ditotolkan pada plat pra lapis silika gel 60 F254 yang sebelumnya telah diaktifkan, kemudian dimasukkan ke dalam chamber yang telah jenuh dengan uap pengembang dan ditutup rapat, setelah elusi selesai plat dikeluarkan dari chamber dan dikeringkan di udara, kemudian plat disemprot dengan larutan penampak bercak. Warna bercak yang terjadi diamati dan dihitung harga Rf-nya.

3.8.2 Analisis dengan kromatografi kertas (KKt)

Pemeriksaan secara KKt dari ekstrak dan fraksi buah senduduk dilakukan dengan menggunakan fase gerak BAA (4:1:5), HCl 1% dan asam asetat 5%

dengan fase diam kertas saring Whatmann nomor 1 dan sebagai penampak bercak digunakan pereaksi AlCl3, NH3 dan FeCl3.

Cara kerja: larutan fraksi ditotolkan pada kertas Whatmann, kemudian dimasukkan ke dalam chamber yang telah jenuh dengan uap pengembang dan ditutup rapat, setelah elusi selesai plat dikeluarkan dari chamber dan dikeringkan di udara, kemudian disemprot dengan pereaksi AlCl3, NH3 dan FeCl3. Warna bercak yang terjadi diamati dan dihitung harga Rf-nya.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan

Hasil identifikasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Bogoriense, Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor menunjukkan bahwa sampel termasuk suku Melastomaceae, spesies Melastoma malabthricum L. Hasil identifikasi, gambar tumbuhan senduduk,

gambar simplisia dan serbuk simplisia serta bagan kerja dapat dilihat pada Lampiran 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 halaman 54-58.

4.2 Hasil Karakterisasi Simplisia

Hasil pemeriksaan makroskopik simplisia buah senduduk dicirikan: buah terdiri dari 5 ruas, namun karena ketika masih berbentuk buah segar cukup lembek maka kebanyakan bentuk simplisia sudah tidak beraturan. Pada daging buah terdapat biji-biji yang berukuran sangat kecil berwarna coklat dan mudah terlepas, buahnya kecil dengan ukuran garis rentang lebih kurang 1,5 cm, berwarna ungu kemerahan (gelap), dengan rasa sepat-sepat manis.

Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia diperoleh adanya sel batu dengan bentuk berombak. Mesokarpium yang terdiri dari sel-sel parenkhim, dan serabut sklerenkhim. Epikarpium merupakan epidermis kulit buah. Gambar hasil pengamatan dapat dilihat pada Lampiran 6 halaman 59.

Hasil pemeriksaan kadar air, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total dan kadar abu yang tidak larut asam dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil karakterisasi serbuk simplisia buah senduduk

No Karakteristik Simplisia Hasil (%)

1 Kadar air 5,31%

2 Kadar sari larut air 24,23%

3 Kadar sari larut etanol 29,82%

4 Kadar abu total 3,17%

5 Kadar abu tidak larut asam 0,67%

Hasil penetapan kadar air dari simplisia buah senduduk diperoleh 5,31 %, yang menunjukkan bahwa kandungan air yang ada masih dalam batas minimal yang dapat ditolerir karena kandungan air yang tinggi menyebabkan ketidakstabilan ekstrak. Penetapan kadar air dilakukan untuk memberi batasan atau rentang besarnya kandungan air di dalam simplisia atau ekstrak, karena tingginya kandungan air dapat mempercepat pertumbuhan bakteri dan jamur (Ditjen POM R.I., 2000).

Kadar sari yang larut dalam etanol adalah 29,82% dan kadar sari yang larut dalam air adalah 24,23%. Kadar sari larut air dan etanol merupakan pengujian untuk penetapan jumlah kandungan senyawa yang dapat larut dalam iar dan kandungan senyawa yang dapat larut dalam etanol (Ditjen POM R.I., 2000).

Penetapan kadar sari larut air untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar dalam simplisia dan kadar sari larut etanol untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat non polar dan polar. Senyawa senyawa yang dapat larut dalam air adalah glikosida, tanin, gula, enzim, zat warna dan asam organik. Senyawa-senyawa yang larut dalam etanol adalah glikosida, flavonoid, sterioid/triterpenoid, karotenoid dan dalam jumlah sedikit yang larut yaitu lemak (Depkes R.I., 1986).

Kadar abu total dengan bobot 3,17% dan kadar abu tidak larut dalam asam adalah 0,67%. Penetapan kadar abu untuk mengetahui kandungan mineral internal yang terdapat di dalam simplisia yang diteliti, serta senyawa anorganik yang

tersisa selama pembakaran. Kadar abu tidak larut asam untuk menentukan jumlah silika, khususmya pasir yang ada pada simplisia (WHO, 1992).

4.3 Hasil Skrining Fitokimia

Hasil skrining fitokimia dari serbuk simplisia buah senduduk dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Hasil skrining fitokimia serbuk simplisia dan esktrak buah senduduk

No Parameter Hasil

Hasil skrining fitokimia simplisia dan esktrak buah senduduk menunjukkan adanya senyawa alkaloid, glikosida, flavonoid, steroid/triterpenoid dan tanin. Menurut Syafitri, dkk., (2014), hasil uji fitokimia esktrak buah senduduk mentah maupun esktrak buah masak menunjukkan kandungan kimia yang sama yaitu alkaloid, triterpenoid, flavonoid, tanin dan fenol.

Buah senduduk mengandung senyawa polifenol yang memiliki sifat sebagai antioksidan. Menurut Fachraniah (2012), antioksidan merupakan zat yang mampu memperlambat atau mencegah oksidasi. Zat ini secara nyata mampu memperlambat atau menghambat oksidasi zat yang mudah teroksidasi meskipun dalam konsentrasi yang rendah.

4.4 Hasil Ekstraksi dan Fraksinasi

Hasil ekstraksi simplisia buah senduduk dengan pelarut etanol 80%

diperoleh ekstrak etanol buah senduduk sebanyak 66,17 g dari 300 g simplisia.

Persen rendemen diperoleh sebesar 22,06 %. Penggunaan pelarut etanol 80%

adalah untuk menarik semua senyawa metabolit sekunder pada buah.

Hasil fraksinasi dari ekstrak etanol buah senduduk dengan pelarut n-heksan diperoleh 0,2 g dari 15 g ekstrak dan rendemennya 1,33%. Sedangkan dengan pelarut etil asetat diperoleh 1,68 g dari 15 g ekstrak dengan rendemen 11,20%.

4.5 Hasil Pengujian Antioksidan

4.5.1 Hasil penentuan panjang gelombang serapan maksimum

Hasil pengukuran serapan maksimum larutan DPPH 40 µg/ml dalam metanol dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Kurva serapan maksimum larutan DPPH 40 µg/ml dalam metanol secara spektrofotometri visibel

4.5.2 Hasil analisis peredaman radikal bebas DPPH oleh sampel uji

Hasil uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH diperoleh serapan yang diukur pada spektrofotometri dengan panjang gelombang 516 nm. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol, fraksi etil asetat, fraksi n-heksan dan fraksi air buah senduduk diperoleh dari hasil pengukuran absorbansi dengan metode DPPH pada menit ke-60 dengan adanya penambahan larutan uji dengan konsentrasi 3,125 µg/ml, 6,25 µg/ml, 12,5 µg/ml, 25 µg/ml dan 50 µg/ml yang dibandingkan dengan kontrol DPPH (tanpa penambahan larutan uji). Dapat dilihat penurunan absorbansi DPPH terhadap penambahan konsentrasi larutan uji dalam menganalisis aktivitas antioksidan pada Tabel 4.3.

Pada tabel 4.3 menunjukkan adanya penurunan nilai absorbansi DPPH dari ekstrak etanol buah senduduk, fraksi etil asetat, fraksi n-heksan, fraksi air dan vitamin C yang diberi larutan uji dibandingkan terhadap kontrol pada setiap kenaikan konsentrasi. Menurut Molyenux (2004), penurunan nilai absorbansi menunjukkan adanya aktivitas antioksidan dari sampel. Interaksi antioksidan-DPPH baik secara transfer elektron atau radikal hidrogen kepada antioksidan-DPPH, akan menetralkan radikal bebas DPPH menjadi berpasangan, maka warna larutan berubah dari ungu tua menjadi kuning terang dan absrobansi pada panjang gelombang maksimumnya akan hilang.

Tabel 4.3 Hasil analisis absorbansi DPPH terhadap penambahan ekstrak dan fraksi buah senduduk serta vitamin C

Larutan Uji Konsentrasi (µg/ml) Absorbansi

Ekstrak etanol 0

Nilai absorbansi larutan DPPH sebelum dan sesudah penambahan larutan uji dihitung sebagai persen peredaman. Hasil analisis peredaman radikal bebas oleh ekstrak dan fraksi buah senduduk dapat dilihat pada Gambar 4.2, 4.3, 4.4, 4.5 dan 4.6. berikut ini :

Gambar 4.2 Grafik hasil analisis aktivitas antioksidan ekstrak etanol buah senduduk

Gambar 4.3 Grafik hasil analisis aktivitas antioksidan fraksi etil asetat buah senduduk

Gambar 4.4 Grafik hasil analisis aktivitas antioksidan fraksi n-heksan buah senduduk

Gambar 4.5 Grafik hasil analisis aktivitas antioksidan fraksi air buah senduduk 0

Gambar 4.6 Grafik hasil analisis aktivitas antioksidan vitamin C

Hasil analisis peredaman radikal bebas oleh ekstrak dan fraksi buah senduduk serta vitamin C sebagai pembanding menunjukkan bahwa semakin meningkat konsentrasi larutan uji, maka semakin meningkat aktivitas peredaman DPPH karena semakin banyak atom hidrogen dari ekstrak buah senduduk yang berpasangan dengan elektron pada radikal bebas DPPH sehingga serapannya semakin menurun.

4.5.4 Hasil analisis nilai IC50 (inhibitory concentration) sampel uji

Nilai IC50 diperoleh berdasarkan persamaan regresi linier yang didapatkan dengan cara memplot konsentrasi larutan uji dan persen peredaman DPPH sebagai parameter aktivitas antioksidan dengan konsentrasi larutan uji (µg/ml) sebagai absis (X) dan nilai persen peredaman sebagai ordinat (Y). Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa ekstrak etanol, fraksi etil asetat, n-heksan memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 kurang dari 50 µg/ml. Sedangkan fraksi air memiliki aktivitas antioksidan yang kuat

dengan nilai IC50 dalam rentang 50-100 µg/ml. Perbedaan nilai IC50 pada masing-masing fraksi disebabkan adanya distribusi golongan senyawa metabolit sekunder yang bersifat sebagai antioksidan (flavonoid, tanin dan steroid/triterpenoid) berdasarkan kepolaran pelarut yang digunakan.

Tabel 4.4 Hasil Persamaan regresi linier dan nilai IC50 yang diperoleh dari ekstrak dan fraksi buah senduduk

Larutan Uji Persamaan Regresi IC50 (µg/ml)

Ekstrak etanol Y= 1,59x + 26,77 14,53

Fraksi etil asetat Y= 1,39x +41,81 5,91

Fraksi n-heksan Y= 1,07x + 5,11 41,93

Fraksi air Y= 0,87x + 3,06 54,17

Vitamin C Y= 12,51x + 5,98 3,52

Pada tabel di atas juga terlihat fraksi etil asetat memiliki nilai IC50 yang lebih kecil dibandingkan esktrak etanol dan fraksi n-heksan. Hal ini menunjukkan bahwa untuk meredam warna radikal bebas hingga setengah konsentrasinya pada fraksi etil asetat lebih efektif dibandingkan ekstrak etanol dan fraksi n-heksan, tetapi masih kurang efektif jika dibandingkan dengan vitamin C.

Fraksi etil asetat dengan nilai IC50 5,91 µg/ml memiliki aktivitas antioksidan terkuat diantara ekstrak dan fraksi buah senduduk diduga karena adanya senyawa fenolik dan flavonoid. Menurut Gusrav, senyawa flavonoid berperan sebagai antioksidan karena memiliki gugus hidroksil yang dapat melepaskan proton dalam bentuk ion hidrogen. Ion hidrogen hanya memiliki satu buah proton dan tidak memiliki elektron, sehingga dalam elektron radikal yang terdapat pada atom nitrogen di senyawa DPPH berikatan dengan ion hidrogen dan menghasilkan DPPH yang tereduksi (Gusrav, dkk., 2007). Radikal bebas

pada DPPH dapat tereduksi juga ketika bereaksi dengan donor higrogen yang terdapat dalam senyawa fenolik (Arazo, dkk., 2011).

4.6 Hasil Analisis Kandungan Kimia

4.6.1 Hasil analisis kromatografi lapis tipis (KLT) 4.6.1.1 Hasil KLT ekstrak etanol

Hasil analisis KLT ekstrak etanol buah senduduk menggunakan fase gerak n-heksan:etil asetat yang memberikan hasil terbaik adalah perbandingan 50:50

dengan penampak bercak Liebermann-Burchard diperoleh 4 noda dengan 3 noda senyawa steroid/triterpenoid (Rf 0,11, 0,15 dan 0,82). Gambar kromatogram dan Tabel data hasil analisis secara KLT secara keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 10, halaman 74-75.

4.6.1.2 Hasil KLT fraksi n-heksan

Hasil analisis KLT fraksi n-heksan buah senduduk menggunakan fase gerak n-heksan:etil asetat, yang memberikan hasil terbaik adalah perbandingan 80:20 dengan penampak bercak Liebermann-Burchard diperoleh 6 noda dengan 4 noda senyawa steroid/triterpenoid (Rf 0,08, 0,19, 0,52, 0,62). Gambar kromatogram dan Tabel data hasil analisis secara KLT secara keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 11, halaman 76-77.

4.6.2 Hasil analisis kromatografi kertas (KKt) 4.6.2.1 Hasil KKt ekstrak etanol

Pemisahan ekstrak etanol buah senduduk secara kromatografi kertas (KKt) menggunakan fase gerak BAA (4:1:5), HCl 1%, dan asam asetat 5. Noda yang terbentuk disemprot dengan pereaksi AlCl3, NH3 dan FeCl3. Hasil pemisahan

ekstrak etanol buah senduduk secara kromatografi kertas dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Pada tabel terlihat bahwa hasil kromatografi ekstrak etanol buah senduduk dengan KKt menunjukkan fase gerak terbaik adalah BAA (4:1:5), diperoleh 3 noda senyawa tanin yang berwarna kehitaman, 1 noda senyawa glikosida berwarna merah muda dan 3 noda senyawa flavonoid yang berwarna kuning dan coklat dengan AlCl3 dan NH3. Fase gerak HCl 1% dan asam asetat 5%

memberikan jumlah noda lebih sedikit dibanding fase gerak BAA (4:1:5).Gambar kromatogram dapat dilihat pada Lampiran 12, halaman 78-83.

Tabel 4.5 Data hasil analisis KKt ekstrak etanol

Fase gerak Harga Rf 4.6.2 Hasil KKt fraksi etilasetat

Pemisahan fraksi etilasetat buah senduduk secara kromatografi kertas (KKt) menggunakan fase gerak BAA (4:1:5), HCl 1%, dan asam asetat 5%. Noda yang terbentuk disemprot dengan pereaksi AlCl3, NH3 dan FeCl3. Hasil pemisahan fraksi etil asetat buah senduduk secara kromatografi kertas dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Pada tabel terlihat bahwa hasil kromatografi fraksi etil asetat buah senduduk dengan KKt menunjukkan fase gerak terbaik adalah BAA (4:1:5),

diperoleh 3 noda senyawa tanin yang berwarna kehitaman dan 1 noda senyawa glikosida berwarna merah muda dan 4 noda senyawa flavonoid yang berwarna kuning dan coklat dengan AlCl3 dan NH3. Fase gerak HCl 1% dan asam asetat 5%

memberikan jumlah noda yang lebih sedikit dibanding fase gerak BAA (4:1:5).

Gambar kromatogram dapat dilihat pada Lampiran 13, halaman 84-89.

Tabel 4.6 Data hasil analisis KKt fraksi etilasetat

Fase gerak Harga Rf

Pemisahan fraksi air buah senduduk secara kromatografi kertas (KKt) menggunakan fase gerak BAA (4:1:5), HCl 1%, dan asam asetat 5%. Noda yang terbentuk disemprot dengan pereaksi AlCl3, NH3 dan FeCl3. Hasil pemisahan fraksi air buah senduduk secara kromatografi kertas dapat dilihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7 Data hasil analisis KKt fraksi air

Fase gerak Harga Rf

Pada tabel terlihat bahwa hasil kromatografi fraksi air buah senduduk dengan KKt menunjukkan fase gerak terbaik adalah BAA (4:1:5), diperoleh 2 noda senyawa tanin yang berwarna kehitaman dengan penampak bercak FeCl3. Fase gerak HCl 1% dan asam asetat 5% memberikan jumlah noda yang lebih sedikit dibanding fase gerak BAA (4:1:5). Gambar kromatogram dapat dilihat pada Lampiran 14, halaman 90-95.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:

a. Ekstrak etanol, fraksi etilasetat, fraksi n-heksan dan fraksi air buah senduduk memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 14,53 µg/ml, 5,91 µg/ml, 41,93 µg/ml, dan 54,17 µg/ml.

b. Fraksi etilasetat memiliki aktivitas antioksidan paling efektif dengan nilai IC50 yaitu 5,91 µg/ml.

c. Hasil analisis secara KLT, ekstrak etanol diperoleh 3 noda senyawa steroid/triterpenoid dengan fase gerak terbaik n-heksan:etilasetat (50:50), fraksi n-heksan diperoleh 4 senyawa steroid/triterpenoid dengan fase gerak terbaik

yaitu n-heksan:etilasetat (80:20). Sedangkan hasil analisis secara KKt, esktrak etanol diperoleh 1 senyawa tanin, 1 senyawa glikosida, dan 3 senyawa flavonoida, fraksi etil asetat diperoleh 1 noda senyawa glikosida, 4 senyawa flavonoid, dan 3 senyawa tanin, fraksi air diperoleh 2 senyawa tanin dengan fase gerak terbaik yaitu BAA (4:1:5).

5.2 Saran

Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk mengisolasi senyawa aktif bersifat antioksidan dari fraksi etilasetat buah senduduk dan memformulasikannya dalam bentuk sediaan obat.

DAFTAR PUSTAKA

Arazo, M., Bello, A., Rastrelli, L., Montelier, M., Delgado, L., Panfet., C., dkk.

(2011). Antioxidant properties of Pulp and Peel Yellow Mangosteen Fruits. Emir. J. Food Agric. 23: 517.

Arisandi, Y., dan Andriani, Y. (2000). Tanaman Obat Plus Pengobatan Alternatif. Jakarta: Setia Kawan. Halaman 76.

Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid 1. Jakarta: Trubus Agriwidya. Halaman 130.

Depkes R.I. (1986). Sediaan Galenik. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 6-7.

Depkes R.I. (1995). Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Halaman 299-306, 321-325.

Depkes R.I. (2010). Suplemen I Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta:

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 140-141.

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia Edisi Ke IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 39.

Ditjen POM R.I. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.

Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 10-11.

Djauhariya, E. (2004). Gulma Berkhasiat Obat. Jakarta: Seri Agrisehat. Halaman 74.

Ewing, G.W. (1975). Instrumental Methods of Chemical Analysis. Fouth Edition.

Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha. Halaman 34.

Farnsworth, N.R. (1966). Biological and Phytochemical Screening of Plants.

Chicago: Reheis Chemical Company. Journal of Pharmaceuticals Science.

55(3): 247-268.

Gandjar, I.G., dan Rohman, A. (2007) Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar. Halaman 220-221.

Graham, T.W.S. (1976). Organic Chemistry. USA: John Willey & Sons. Halaman 568.

Gusrav, S., Deshkar, N., Gulkari, V., Duragkar, N., dan Patil, A. (2007). Free Radical Scavenging Activity of Polygala chinensis Linn. Pharmacology.

2, 245-253.

Harborne, J.B. (1987). Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Bandung: Penerbit ITB. Halaman 1, 10-11.

Hariana, A. (2011). Tumbuhan Obat dan khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya.

Halaman 65.

Hernani dan Raharjo. (2005). Tanaman Berkhasiat Antioksidan. Jakarta: Penerbit Swadaya.

Ionita, P. (2005). Is DPPH Stable Free Radical a Good Scavenger for Oxygen Species?. Chem. Pap. 59(1)11-12.

Kumalaningsih, S. (2006). Antioksidan Alami, Penangkal Radikal Bebas: Sumber, Manfaat, Cara Penyediaan dan Pengolahan. Cetakan Pertama. Surabaya:

Trubus Agrisarana. Halaman 3, 39, 53.

Lenny, S. (2006). Senyawa Flavonoida, Fenil Propanoida, dan Alkaloida. Karya Ilmiah. Medan: Departemen Kimia FMIPA USU. Halaman 6.

Markham, K.R. (1998). Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Bandung: ITB.

Halaman 1-3.

Merck, E., dan Darmstadt. (1978). Dyeing Reagents for Thin Layer and Paper Chromatography. German: Federal Republic of Germany. Halaman 1.

Molyneux, P. (2004). The Use of The Stable Free Radical Diphenylpicrylhydrazil (DPPH) for Estimating Antioxidant Activity. Songklanakarin Journal Science Technology. 26(2): 211-219.

Prakash, A. (2001). Antioxidant Activity. Medallion Laboratories-Analytical Progress. 19(2):22.

Rohdiana, D. (2001). Aktivitas Daya Tangkap Radikal Polifenol Dalam Daun Teh. Majalah Jurnal Indonesia. 12(1): 53-58.

Rohman, A. (2009). Kromatografi untuk Analisis Obat. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Halaman 1, 47

.

Sastrohamidjojo, H. (1985). Kromatografi. Yogyakarta: Penerbit Liberty.

Halaman 1, 2, 33.

Sentra Imformasi IPTEK. (2009). Senggani. http://www.iptek.net.id/ind.pd tanobat/view.p hp? Mnu=2&id=156. Diakses pada tanggal 27 Juni 2018.

Silalahi, J. (2006). Makanan Fungsional. Yogyakarta: Kanisius. Halaman 40, 47, dan 48.

Simanjuntak, M.R. (2008). Ekstraksi dan Fraksinasi Komponen Ekstrak Daun Senduduk (Melastoma malabathricum L.) serta Pengujian Efek Sediaan Krim Terhadap Penyembuhan Luka Bakar. Skripsi. Medan: Universitas Sumatera Utara. Halaman 23.

Sunarni, T. (2005). Aktivitas Antioksidan Penangkap Radikal Bebas Beberapa kecambah Dari Biji Tanaman Familia Papilionaceae. Jurnal Farmasi Indonesia 2 (2), 2001, 53-61.

Syafitri, N.E., Bintang, M., dan Falah, S. (2014). Kandungan Fitokimia, Total Fenol dan Total Flavonoid Ekstrak Buah Harendong (Melastoma affine D.

Don). Current Biochemistry. 1(3): 105-115.

Trilaksani, W. (2003). Antioksidan: Jenis, Sumber, Mekanisme Kerja dan Peran Terhadap Kesehatan. Bogor: Institute Pertanian Bogor. Halaman 1.

Wibiani, S. (2010). Isolasi dan Identifikasi Senyawa Antosianin Kulit Buah Anggur ( Vitis vinifera var. Prabu Bestari). Skripsi. Malang:Universitas

Islam Negri (UIN) Maulana Malik Ibrahim.

Winata, H. (2011). Aktivitas Antioksidan dan Kandungan Kimiawi Ekstrak Duan Wungu (Graptophyllum pictum L. Griff). Skripsi. Fakultas Matematika dan IPA. Institut Pertanian Bogor.

WHO. (1992). Quality Control Methods for Medicinal Plant Materials.

Switzerland: Geneva. Halaman 25-28.

Lampiran 1. Surat hasil identifikasi tumbuhan

Lampiran 2. Gambar tumbuhan dan buah enduduk (Melastoma malabathricum L.)

Lampiran 3. Gambar simplisia dan serbuk simplisa buah senduduk

Simplisia buah senduduk

Serbuk simplisia buah senduduk