• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kromatografi Lapis Tipis Densitometri

Dalam dokumen MENGGUNAKAN METODE KLT DENSITOMETRI SKRIPSI (Halaman 23-38)

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA

E. Kromatografi Lapis Tipis Densitometri

fase gerak heksan:etil asetat:asam asetat glasial (4,4:6,4:0,55) belum pernah

dilakukan untuk menetapkan kadar ibuprofen dan parasetamol dalam Tablet

merek Neo Rheumacyl.

3. Manfaat Penelitian

a. Manfaat teoritis. Memberikan informasi tentang penetapan kadar

ibuprofen dan parasetamol dalam sediaan tablet Neo Rheumacyl® menggunakan

metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) densitometri.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

b. Manfaat Praktis. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang

keberadaan dan jumlah ibuprofen dan parasetamol dalam tablet merek Neo

Rheumacyl®, sehingga didapatkan informasi bagi masyarakat mengenai

penjaminan mutu tablet yang mengandung ibuprofen dan parasetamol.

B.Tujuan Penelitian

Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah

ibuprofen dan parasetamol dalam tablet merek Neo Rheumacyl®, mengetahui

kesesuaian kadar ibuprofen dan parasetamol dalam tablet merek Neo Rheumacyl®

memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia edisi IV yakni tidak kurang dari

6

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A.Ibuprofen

Ibuprofen memiliki nama IUPAC (R,S)-2-(p-Isofenil) asam propionat,

memiliki bobot molekul 206,28 g/mol dengan rumus molekul C13H18O6

(Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995).

CH3 H3C O CH3 CH3 H

Gambar 1. Struktur ibuprofen (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI,1995)

Ibuprofen mengandung tidak kurang dari 97,0% dan tidak lebih dari

103,0% C13H18O6, dihitung terhadap zat anhidrat. Pemerian dari ibuprofen berupa

serbuk hablur, memiliki warna putih hingga hampir putih, dan berbau khas lemah.

Ibuprofen praktis tidak larut dalam air, sangat mudah larut dalam etanol, dalam

metanol, dalam aseton dan dalam kloroform. Ibuprofen sukar larut dalam etil

asetat. Ibuprofen memiliki serapan maksimum pada λ 221 nm (Direktorat Jenderal

Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995). Nilai log P dari ibuprofen adalah 3,6.

Nilai 𝐸11%𝑐𝑚 dalam metanol untuk ibuprofen adalah 14,5 dan memiliki pKa sebesar

4,4 (DrugLib, 2011).

Ibuprofen adalah obat yang tergolong dalam kelompok antiperadangan

non-steroid yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit akibat artritis. Ibuprofen

juga tergolong dalam kelompok analgesik dan antipiretik. Hanya ibuprofen

dengan bentuk enantiomer S saja yang digunakan sebagai penahan rasa sakit,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

aktivitas analgesik bekerja dengan cara menghentikan enzim siklooksigenase yang

mengakibatkan terhambatnya sintesis prostaglandin. Prostaglandin adalah suatu

zat yang bekerja pada ujung-ujung syaraf yang sakit (Tim redaksi Vitahealth,

2008).

Penetapan kadar ibuprofen menurut Farmakope Indonesia edisi IV

ditentukan dengan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi menggunakan fase

gerak campuran asam kloroasetat : asetonotril : amonium hidroksida dengan laju

alir 2,0 mL per menit menggunakan detektor 254 nm dan kolom 4,6 mm x 25 cm.

Larutan baku internal yang digunakan adalah valerofenon. Nilai resolusi yang

diperoleh tidak kurang dari 2,5 dan simpangan baku relatif pada penyuntikan

ulang tidak lebih dari 2,0 %. Waktu retensi relatif baku internal dan ibuprofen

berturut-turut adalah 1,4 dan 1,0 menit (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan

Makanan RI, 1995).

Tablet ibuprofen mengandung ibuprofen tidak kurang dari 90,0% dan

tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. Penetapan kadar

ibuprofen dalam tablet dilakukan dengan menggerus tidak kurang dari 20 tablet

dan menetapkan kadar menggunakan sistem kromatografi yang tertera pada

penetapan kadar untuk ibuprofen bahan baku (Direktorat Jenderal Pengawasan

8

B.Parasetamol

Parasetamol dengan nama IUPAC asetaminofen atau 4‟ -hidroksiasetalnilida dengan bobot molekul 151,16 g/mol (Direktorat Jenderal

Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995).

N H O

OH

Gambar 2. Struktur parasetamol (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995)

Parasetamol mengandung tidak kurang 98,0% dan tidak lebih dari

101,0% C8H9NO2, dihitung terhadap zat anhidrat. Pemerian dari parasetamol

berupa serbuk hablur putih dan tidak berbau tetapi memiliki rasa sedikit pahit.

Parasetamol larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1 N dan

mudah larut dalam etanol (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI,

1995). Menurut Farmakope Indonesia III, parasetamol larut dalam 70 bagian air,

dan 7 bagian etanol (95%) P, agak sukar larut dalam kloroform dan praktis tidak

larut dalam eter. Panjang gelombang serapan maksimum parasetamol adalah 244

nm dalam akuades (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI,

1995). Nilai log P dari parasetamol adalah 0,28. Nilai 𝐸11%𝑐𝑚 dalam metanol untuk

parasetamol adalah 850 dan memiliki pKa sebesar 9,5 (DrugLib, 2011).

Khasiat dan penggunaan sebagai analgesik dan antipiretik ((Direktorat

Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1979). Parasetamol tidak memiliki

khasiat antiradang sehingga tidak tergolong obat jenis NSAID. Dalam dosis

normal, parasetamol tidak menyakiti permukaan dalam perut atau mengganggu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

gumpalan darah, sehingga dapat digunakan sebagai analgesik pada penderita

penggumpalan darah (Zulkifli, 2009).

Penetapan kadar parasetamol menurut Farmakope Indonesia edisi IV

ditentukan dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi menggunakan fase gerak

campuran air : metanol (3:1) dengan detektor 243 nm dan kolom 3,9 mm x 30 cm

dengan laju alir 1,5 mL per menit. Efisiensi kolom tidak kurang dari 1000

lempeng teoritis, dan simpangan baku relatif pada penyuntikan berulang tidak

lebih dari 2.0% (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995).

Tablet parasetamol mengandung parasetamol tidak kurang dari 90,0%

dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. Penetapan kadar

ibuprofen dalam tablet dilakukan dengan menggerus tidak kurang dari 20 tablet

dan menetapkan kadar dengan menggunakan sistem kromatografi yang tertera

pada penetapan kadar untuk parasetamol bahan baku (Direktorat Jenderal

Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995).

C.Tablet

Menurut Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI (1995),

tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan

pengisi. Berdasarkan cara pembuatannya, tablet dibagi menjadi dua macam yakni

tablet cetak dan tablet kempa. Kualitas tablet dapat diperhatikan dari evaluasi sifat

fisik tablet (Aulton dan Summer, 1994) meliputi:

1. Penampilan tablet. Dalam penampilan tablet, identitas visual sangat penting

karena dapat memengaruhi penerimaan konsumen mengenai mutu suatu obat.

10

keseragaman ukuran, bentuk, permukaan, warna, ada tidaknya bau, rasa dan

cacat fisik dari tablet (Lachman, 1979).

2. Keseragaman bobot. Salah satu syarat obat adalah memiliki dosis yang sama

tiap takarannya. Oleh karena itu sediaan tablet harus memenuhi uji

keseragaman bobot untuk menggambarkan keseragaman dosis zat aktif yang

terkandung tiap tablet. Menurut Farmakope Indonesia edisi III, untuk tablet

tidak bersalut adalah menimbang 20 tablet dan dihitung bobot rata-ratanya,

kemudian tablet ditimbang satu persatu lalu dbandingkan dengan bobot

rata-rata pertablet. Tablet memenuhi syarat apabila tidak lebih dari dua tablet yang

masing-masing beratnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari

kolom A dan tidak satupun tablet yang bobotnya menyimpang dari bobot

rata-ratanya lebih besar dari kolom B (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan

Makanan RI, 1979).

Tabel I. Persyaratan keseragaman bobot tablet (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1979)

Bobot rata-rata Penyimpangan bobot rata-rata dalam %

A B 25 mg atau kurang 26 mg sampai dengan 150 mg 151 mg sampai dengan 300 mg lebih dari 300 mg 15% 10% 7,5% 5% 30% 20% 15% 10%

Tablet dapat terdiri dari beberapa bahan tambahan yang memiliki

fungsinya masing-masing. Bahan-bahan tambahan yang digunakan dalam

pembuatan tablet adalah bahan pengisi, bahan pengikat, bahan penghancur, bahan

pelicin, pemberi rasa dan warna. Bahan pengisi diperlukan jika zat aktif tidak

cukup memenuhi massa tablet dan untuk memperbaiki daya kohesi sehingga dapat

memacu aliran saat proses kempa langsung. Bahan pengisi harus memenuhi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

persyaratan yaitu : tidak toksik, tersedia dalam jumlah yang cukup, harganya cukup murah, tidak terkontraindikasi dengan komponen yang lain, harus inert secara fisiologi, stabil secara fisik dan kimia, baik dalam kombinasi dengan berbagai obat atau komponen tablet yang lain, bebas dari mikroba, mudah bercampur dengan warna, tidak boleh mengganggu bioavailabilitas obat. Bahan pengisi yang biasa digunakan antara lain: sukrosa, laktosa, kalsium karbonat, dekstrosa, manitol, sorbitol dan lain-lain (Voigt, 1995).

Bahan pengikat berfungsi untuk memberikan daya adhesi pada massa serbuk pada saat granulasi dan kempa langsung serta menambah daya kohesi yang telah ada pada bahan pengisi sehingga menghasilkan tablet yang kompak dan tidak mudah pecah (Voigt, 1995). Bahan pengikat dapat ditambahkan dalam bentuk kering dan dalam bentuk larutan. Bahan pengikat yang umum digunakan adalah cairan amilum, gelatin, gom arab, tragakan, dan derivat selulosa (Lachman, 1976).

Bahan penghancur dimaksudkan untuk memudahkan pecah atau hancurnya tablet dalam medium air atau cairan lambung sehingga menjadi granul atau partikel penyusunnya dan dapat memberikan efek terapetik yang diharapkan. Contoh bahan penghancur adalah amilum, avicel (mikrokristalin selulosa), solka floc, CMC, HPMC (Lachman, 1976).

Bahan pelicin digunakan untuk mengurangi gesekan diantara granul dan

dinding ruang cetak selama proses pembuatan tablet (Ansel, 1995). Beberapa

bahan pelicin yang biasa digunakan antara lain talk, magnesium stearat, asam

12

Bahan pewarna berfungsi untuk menutupi warna obat yang kurang baik,

identifikasi produk dan meningkatkan estetika produk. Syarat bahan pewarna

adalah tidak mempunyai aktifitas terapetik, tidak meningkatkan bioavailabilitas

atau stabilitas produk. Beberapa contoh pewarna yang dbiasa digunakan adalah

tartrazine, fast grees, sunset yellow, indigotine (Voigt, 1995). Bahan pemberi rasa

biasanya hanya untuk tablet kunyah, hisap, bucal, sublingual, effervescent, dan

tablet lain yang dimaksudkan untuk hancur atau larut dimulut. Beberapa contoh

pemanis alami yang sering digunakan adalah mannitol, laktosa, sukrosa, dan

dekstrosa (Voigt, 1995).

D.Neo Rheumacyl®

Gambar 3. Tablet Neo Rheumacyl® (Anonim, 2011)

Neo Rheumacyl® merupakan obat bebas terbatas yang diproduksi oleh

P.T. Tempo Scan Pacific/Bode dengan bentuk sediaan tablet dengan nomor

registrasi DKL7222702410A1. Tiap tablet mengandung 200 mg ibuprofen dan

350 mg parasetamol. Neo Rheumacyl® digunakan sebagai penghilang nyeri yang

berhubungan dengan proses peradangan. Kontraindikasi pasien dengan ulkus

peptikum aktif, gagal jantung kongestif, gangguan hati & ginjal, kehamilan

(khususnya trimester pertama & terakhir) (UBM Medica, 2011).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Indeks keamanan pada wanita hamil tidak menunjukkan adanya resiko

pada janin dan tidak memperlihatkan efek merugikan (kecuali penurunan

kesuburan). Tetapi tidak ada penelitian terkendali yang mengkonfirmasi resiko

pada wanita hamil semester pertama ( dan tidak ada bukti risiko pada trisemester

selanjutnya). Neo Rheumacyl® digunakan tiga sampai empat kali sehari sebanyak

satu tablet (UBM Medica, 2011).

E.Kromatografi Lapis Tipis-Densitometri 1. Kromatografi Lapis Tipis

Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan campuran berdasarkan

perbedaan pergerakan antara fase gerak dan fase diam (Sastrohamidjojo, 2005).

Menurut Gandjar dan Rohman (2007) Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

merupakan teknik pemisahan campuran dengan menggunakan suatu plat fase

diam di mana fase diam secara seragam tersebar di atas permukaan plat tersebut

kemudian fase gerak akan bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler

pada pengembangan menaik (ascending), atau karena gaya gravitasi pada

pengembangan secara menurun (descending).

Keuntungan KLT jika dibandingkan dengan kromatografi kolom menurut

Sastrohamidjojo (2005). adalah proses pada kromatografi kolom lebih lama,

cuplikan yang digunakan besar sedangkan pada KLT cuplikan yang digunakan

relatif kecil dan prosesnya relatif lebih cepat. Sedangkan jika dibandingkan

dengan kromatografi kertas menurut Sastrohamidjojo (2005) waktu yang

dibutuhkan relatif cepat, pemisahan lebih baik dan dapat dilakukan analisis

14

digunakan senyawa-senyawa yang lebih reaktif seperti asam dengan catatan fase

diam yang digunakan tidak bereaksi dengan senyawa tersebut.

2. Fase Diam KLT

Dua sifat yang harus diperhatikan menurut Sastrohamidjojo (2005)

adalah besar partikel dan homogenitasnya, karena besarnya interaksi tergantung

terhadap fase diam. Partikel dengan butiran yang sangat kasar tidak akan

memberikan hasil yang memuaskan, semakin kecil ukuran partikel yang

digunakan maka aliran pelarut atau pengembang akan lebih cepat. Beberapa

contoh fase diam adalah silika, alumina, bubuk selulosa, pati dan lainnya.

Fase diam yang sering digunakan adalah silika gel. Silika gel yang

digunakan diberi pengikat dengan tujuan memberikan kekuatan pada lapisan.

Biasanya telah ditambahkan oleh industri sehingga tidak perlu ditambahkan

sendiri, diberi nama dengan logo silika gel G (Sastrohamidjojo, 2005). Berikut

adalah struktur silika gel

Gambar 4. Struktur silika gel (Gandjar dan Rohman, 2007)

Sebelum digunakan silika gel perlu dipanaskan, tujuannya untuk

mengaktivasi silika atau dengan kata lain „membuka‟ silika agar dapat menyerap

dengan maksimal. Suhu yang digunakan untuk mengaktivasi lempeng silika gel

adalah 105O C, diharapkan semua air yang menutupi silika dapat menguap

sehingga silika dapat aktif kembali (Gandjar dan Rohman, 2007).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Gambar 5. Interaksi hidrogen antara gugus silanol dengan air membentuk lapisan air multilayer (Wall, 2005)

Tata nama lempeng KLT yang dijual di pasaran terdapat pada tabel di

bawa ini:

Tabel II. Tata nama lempeng KLT (Gandjar dan Rohman, 2007)

Singkatan / simbol Arti

“Sil” Produk mengandung silika gel seperti Anasil G Pengikat (lapisan halus) gipsum (CaSO4.1

2 H2O) F atau UV Ditambahkan bahan yang berfluoresensi seperti seng silikat

teraktivasi mangan

254 dan 366 Setelah simbol F atau UV, untuk menunjukkan panjang gelombang eksitasi senyawa berfosforisensi yang ditambahkan 3. Fase Gerak KLT

Menurut Stahl (1985) fase gerak dalam KLT ialah pembawa yang terdiri

dari satu atau beberapa bahan pelarut yang bergerak dalam fase diam karena

kapilaritas. Fase gerak dapat dipilih dari pustaka tetapi biasanya dikombinasikan

kembali untuk mendapatkan fase gerak yang sesuai. Fase gerak dapat terdiri dari

satu atau lebih senyawa. Lebih mudah menggunakan dua senyawa dibandingkan

dengan senyawa tunggal karena dapat mengoptimasi kondisi sehingga pemisahan

yang dihasilkan dapat optimal.

Beberapa petunjuk yang dapat digunakan untuk pemilihan fase gerak:

a. Fase gerak memiliki kemurnian yang sangat tinggi karena KLT merupakan

salah satu teknik yang sensitif

16

c. Polaritas fase gerak perlu diperhatikan untuk menentukan kecepatan migrasi

solut sehingga dapat memengaruhi nilai Rf.

4. Penotolan Sampel

Pemisahan yang optimal diperoleh dengan cara menotolkan sampel

dengan ukuran bercak sekecil dan sesempit mungkin. Jika sampel yang digunakan

terlalu banyak maka akan menurunkan resolusi. Penotolan dapat dilakukan

dengan cara manual maupun otomatis dengan instrumen tertentu (Gandjar dan

Rohman, 2007). Misalnya Camag Linomat 5 (Wall, 2005).

Penotolan sampel yang tidak tepat akan menyebabkan kromatogram

memiliki puncak ganda dan menyebabkan bercak yang menyebar. Jika volume

sampel yang ditotolkan lebih besar dari 2–10 µL maka penotolkan harus dilakukan secara bertahap dengan dilakukan secara bertahap dan dilakukan

pengeringan terlebih dahulu sebelum kemudian dicelupkan ke dalam fase gerak

(Gandjar dan Rohman, 2007).

5. Pengembangan

Plat yang telah ditotol oleh sampel kemudian dikembangkan dalam

bejana kromatografi yang sebelumnya telah dijenuhi oleh fase gerak. Tinggi fase

gerak dalam bejana harus di bawah lempeng yang telah ditotol oleh sampel.

Bejana kromatografi harus tertutup dengan rapat saat sedang mengelusi sampel.

Penjenuhan bejana dilapisi dengan kertas saring. ada beberapa macam teknik

melakukan pengembangan yakni menaik (ascending) dan menurun (denscending)

melingkar dan mendatar (Gandjar dan Rohman, 2007).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

6. Analisis Kualitatif dan Kuantitatif

Metode KLT dapat digunakan untuk uji identifikasi suatu senyawa dalam

campuran (sampel). Parameter yang digunakan adalah nilai Rf. Dua senyawa

dikatakan identik jika memiliki nilai Rf yang sama jika diukur pada kondisi KLT

sama. Analisis kuantitatif dapat dilakukan dengan dua cara yakni mengukur

bercak secara langsung pada lempeng dengan menggunakan ukuran luas atau

dengan menggunakan teknik densitometri. Cara yang kedua adalah dengan cara

mengerok bercak kemudian menetapkan kadar senyawa dalam sampel dengan

metode analisis lain, misalnya metode spektrofotometri. Tetapi terdapat

kelemahan pada cara kedua yakni dapat terjadi kesalahan dalam pemindaian

bercak sehingga kadar yang diukur bukan merupakan kadar sebenarnya (Gandjar

dan Rohman, 2007).

Nilai Rf adalah jarak tempuh analit dari titik awal penotolan dibagi

dengan jarak tempuh pelarut dari titik awal menuju batas pengembangan (Clark,

2007). Nilai Rf yang baik antara 0,2 – 0,8; sedangkan nilai maksimal Rf adalah 1, saat solut bermigrasi dengan kecepatan yang sama dengan fase gerak dan nilai

minimum Rf adalah 0 saat solut tertahan di posisi awal permukaan fase diam

(Gandjar dan Rohman, 2007).

Nilai reprodusibilitas ditunjukkan dengan nilai KV. Nilai KV yang baik

menurut Harmita (2004) adalah < 2%. Tetapi kriteria ini tidak mutlak melainkan

tergantung dari kondisi analit yang diperiksa dan jumlah sampel dan kondisi

18

Tabel III. Kriteria KV yang dapat diterima (Harmita,2004) Kadar analit KV (%) ≥ 1% 0,1 % 1 ppm 1 ppb 2,5 5 16 32 7. Densitometri

Dasar dari densitometri adalah berkas radiasi eletromagnetik dari panjang

gelombang tertentu ( biasanya UV dari 190-800 nm) yang bergerak mendeteksi

bercak analit pada fase diam, di mana fase gerak diletakkan pada suatu wadah

yang digerakan oleh motor. Kromatogram yang terbentuk sangat mirip dengan

yang diperoleh dalam HPLC, biasanya menampilkan serangkaian puncak dengan

baseline (Sastrohamidjojo, 2005).

Densitometri dapat mendeteksi lokasi puncak secara otomatis,

mengoptimasi kondisi pengukuran luas bawah kurva, scanning seluruh totolan

pada plat secara langsung, merekam spektra analit, scanning λ analit, kompensasi

baseline otomatis untuk menghilangkan sinyal palsu yang disebabkan

oleh interfensi pada plat fase diam, kalibrasi, pelaporan data, dan penyimpanan

data untuk perhitungan kembali (Sherma, 1996).

Instrumen awal yang digunakan bukan merupakan suatu kesatuan.

Semakin berkembangnya jaman, mulai digunakan teknik komputerisasi di mana

cara penggunaannya diprogram dengan komputer sehingga proses pendeteksian

bercak analit menjadi lebih mudah (Wall, 2005). Densitometer memiliki sumber

cahaya, monokromator untuk memilih λ yang cocok, serta sistem yang dapat

memfokuskan sinar pada lempeng (Gandjar dan Rohman, 2007).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Gambar 6. Instrumentasi densitometer (Wall, 2005)

Metode densitometri dapat dilakukan dengan cepat dan sederhana.

Metode ini memerlukan adsorben dan fase gerak yang murni. Agar diperoleh hasil

yang baik dipilih adsorben yang siap pakai yang telah melalui proses pra

pencucian (Gritter, 1991).

Dalam dokumen MENGGUNAKAN METODE KLT DENSITOMETRI SKRIPSI (Halaman 23-38)

Dokumen terkait