GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
KAUR PEMERINT
III.1. Kronologis / Proses Berlangsungnya Konflik
Konflik pilkades pada dasarnya adalah pertentangan. Adanya pertentangan tentunya dilatarbelakangi oleh perebutan sesuatu yang dianggap sangat penting, dan melibatkan beberapa orang atau kelompok yang bertentang. Seperti halnya pendapat dari para ahli yang menanggapi dan melihat kehadiran konflik ditengah-tengah masyarakat. Kata konflik tersebut mengacu kepada perkelahian, perlawanan dan pertentangan dimana dua orang atau kelompok berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya (Hendropuspito, 1989: 240). Hal senada disampaikan oleh Coser (dalam Suparlan, 1999) yang mana pengertian konflik adalah perjuangan antar individu atau kelompok untuk memenangkan sesuatu tujuan yang sama-sama ingin mereka capai. Dimana kekalahan dan kehancuran dipihak lawan, merupakan tujuan utama yang ingin mereka capai. Dengan demikian konflik ibarat sebuah permainan. Timbulnya konflik adalah adanya pihak tertentu yang terlibat dalam konflik bukan untuk mencapai suatu tujuan melainkan untuk menikmati konflik itu sendiri. Maka inti dari konflik itu adalah menyangkut masalah perbedaan dan pertentangan antar individu yang akhirnya merebak menjadi konflik sosial. Berbeda dengan persaingan atau kompetisi, dimana tujuan utama adalah pencapaian kemenangan melalui keunggulan prestasi dari yang bersaing, maka dalam konflik tujuannya adalah penghancuran pihak lawan sehingga seringkali tujuan untuk memenangkan sesuatu yang ingin dicapai menjadi tidak sepenting keinginan untuk menghancurkan pihak lawan. konflik sosial yang merupakan perluasan dari konflik individual, biasanya terwujud dalam bentuk konflik fisik atau perang antar dua kelompok atau lebih, yang biasanya selalu terjadi dalam keadaan berulang. Konflik pilkades periode 2008/2013 yang terjadi di Desa Sosor Mangulahi Kabupaten Humbang Hasundutan, sama halnya dengan penjelasan diatas
yang memperebutkan kursi kepala desa oleh beberapa kelompok masyarakat. Konflik antar individu yang meluas menjadi konflik sosial ini, berawal dari perselisihan dan perdebatan kecil yang berkembang semakin besar dan akhirnya melahirkan sebuah konflik serius. Terhitung dari sejak masa jabatan kades lama dinyatakan berakhir hingga pada pasca pemilihan kepala desa 2008/2013. Pada bab ini penulis akan menguraikan serta menjelaskan secara mendetail dan terperinci asal mula konflik sampai pada klimaknya.
Waktu yang sangat ditunggu oleh sebagian masyarakat terutama mereka yang berkepentingan, tgl 12 Februari 2008 sebagai masa berakhirnya kepemimpinan kades periode lama. Kepala Desa Sosor Mangulahi periode 2003/2008 Sukri, oleh Badan Permusyawaratan Desa dinyatakan berakhir yang diumumkan kepada masyarakat sebelum tgl 12 Februari 2008 tersebut. BPD selaku Badan perwujudan demokrasi desa membentuk rapat yang dihadiri oleh perangkat desa dan juga keanggotaannya. Rapat ini dilakukan dengan beragendakan pembentukan PPKD (Panitia Pemilihan Kepala Desa). BPD menilai sangat penting dalam menindaklanjuti berakhirnya masa jabatan kades lama tersebut, sekaligus untuk mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pilkades 2008/2013. setelah PPKD terbentuk ada sebagian masyarakat mengaku tidak setuju dengan keputusan rapat yaitu terbentuknya PPKD. Pihak yang tidak menerima hasil keputusan rapat tersebut sebagian besar adalah marga Simamora. Menurut mereka terjadi permainan antara BPD dengan kades lama Sukri. Pembentukan PPKD sangat membantu Sukri apabila masih mencalonkan nantinya karena keanggotaan PPKD merupakan orang-orangnya. Hal inilah yang menjadi alasan bagi sebagian marga simamora, sekaligus menjadi tahap prakonflik. Menurut Nader dan Todd (1978 : 4) dalam Ihromi (1993 : 210) Tahap Prakonflik atau keluhan adalah mengacu kepada keadaan atau kondisi oleh seseorang atau suatu
kelompok yang dipersepsikan sebagai hal yang tidak adil dan alasan-alasan atau dasar-dasar dari adanya perasaan itu. Pelanggaran terhadap rasa ketidakadilan itu dapat bersifat nyata, atau imajinasi saja, tergantung pada persepsi dari pihak yang merasakan ketidakadilan bersangkutan. Situasi pendapat yang semula dari perdebatan diadik (dua pihak) menjadi hal yang memasuki bidang publik. Ini dilakukan secara sengaja dan aktif dengan maksud supaya ada sesuatu tindakan mengenai tuntutan yang diinginkannya.
Mereka meminta kepada ketua BPD agar pembentukan PPKD diulang kembali dan lebih demokratis, namun BPD tidak bisa lagi merubah keputusannya. Jauh hari sebelumnya marga simamora sudah mempersiapkan calonnya, sehingga mereka tidak mau mengalami kegagalan kedua kalinya setelah kalah pada pilkades sebelumnya. PPKD yang diketuai oleh Jaya beserta kenggotaannya ternyata pendukung Sukri pada pilkades lalu. Terjadi kesalahpahaman diantara mereka membawa akibat yang sangat buruk terhadap hubungan sosial, karena keadaan dimasyarakat sudah mulai berubah dan mengawali perpecahan masyarakat sebelum konflik semakin serius.
PPKD tidak terpengaruh terhadap hal diatas namun tetap menjalankan fungsinya sebagai mana mestinya. BPD juga mengharapkan PPKD untuk bertanggungjawab penuh dengan penyelenggaraan pilkades 2008/2013. Pihak marga simamora yang rencananya akan mengusung Antoni menjadi lebih kritis dalam menilai kinerja BPD dan PPKD. Mereka selalu mencari kelemahan dan tidak jarang protes terhadap apa yang diperbuat oleh kedua Badan tersebut. Masyarakat terpecah-pecah termasuk marga Purba yang ada di Desa Sosor Mangulahi terbagi menjadi dua kelompok. Pengelompokan itu dipicu oleh isu pengusungan calon dari marga purba sebanyak dua orang. Kubu-kubu yang ada saling memperjuangkan calon yang akan mereka usung, dengan berbagai macam cara dilakukan untuk mencapai kemenangan nantinya.
Semakin hari keadaan semakin memprihatinkan ditandai dengan semakin berkurangnya interaksi, hubungan ditengah masyarakat.
PPKD menjaring dan mengadakan penyaringan terhadap calon yang sudah mendaftar, melakukan berbagai tahapan seleksi akhirnya tiga orang calon dinyatakan sesuai dengan persyaratan dan berhak untuk ditetapkan oleh BPD. Adapun ketiga calon yang ditetapkan oleh BPD adalah : Sukri (kades lama), Antoni (mantan calon kades periode lama), Pratama (calon kades baru). Penulis sangat tertarik dengan momen ini, karena ketiga calon diatas masih memiliki garis keturunan/kekerabatan yang sangat dekat. Masyarakat Desa Sosor Mangulahi dikenal sebagai masyarakat yang Homogen terdiri dari etnis Batak Toba, mayoritas bergama Kristen Protestan dan bahkan terdapat tiga marga besar ; Purba, Manalu, Simamora. Pada kenyataannya masyarakat yang homogen tidak menjadi faktor didalam penyelenggaraan pilkades supaya berjalan dengan lancar tanpa tersentuh konflik.
Sejauh ini penulis melihat keadaan di Desa Sosor Mangulahi sangat membutuhkan perhatian ; interaksi sosial sudah tidak kelihatan, hubungan sosial yang terbatas, kekeluargaan juga ikut pudar. Masyarakat mengalami berbagai masalah termasuk pengelompokan yang semakin serius, yang mana penulis melihatnya menjadi empat kelompok masyarakat. Diantaranya kubu marga purba yang terdiri dari pendukung Sukri dan pendukung pratama tongam, kubu marga simamora yang mengusung Antoni dan kelompok terakhir adalah masyarakat yang tidak ikut serta kedalam kubu manapun. Masyarakat yang cenderung netral seperti pengurus gereja, pengetua adat dan sebagian dari masing-masing ketiga marga tersebut, dan juga para pendatang.
Apabila dikaji lebih mendalam hubungan kekerabatan diantara ketiga calon kepala desa berada dalam dalam garis Tungku Yang Tiga atau lebih dikenal dengan
Dalihan Na Tolu. Seperti yang kita ketahui Dalihan Na Tolu terdiri dari tiga unsur ; Hula-hula, Dongan Tubu, Boru. Hal ini jika dikaitkan dengan hubungan ketiga calon sangat relevan. Sukri dan Pratama Purba adalah dua orang yang mardongan tubu karena mereka bersaudara dan semarga. Mereka berdua juga hula-hula dari Antoni karena hubungan kekerabatan mereka adalah marlae, dan sebaliknya Antoni adalah boru dari Sukri dan Pratama. Walaupun mereka berada dalam satu payung adat, namun tidak menjadi jaminan untuk tetap solid. Keadaan yang semakin buruk ini mendapat perhatian dari pihak masyarakat bebas (yang tidak terpengaruh, ikut kedalam ketiga kubu), para pengurus gereja, pengetua adat dan sebagian dari ketiga marga serta para pendatang. Mereka membuat sebuah pertemuan dan mengundang ketiga calon yang bertujuan untuk mempersatukan ketiganya. Masyarakat bebas ini menilai bahwa pertarungan ketiga calon memperebutkan kursi kepala desa sangat rawan konflik dan rentan dengan perpecahan, yang ditandai dengan kondisi memburuk sebelum pilkades. Sebelum konflik semakin meluas, Lukman (47 Thn) selaku perwakilan pengurus gereja sekaligus pemimpin pertemuan mengharapkan ketiga calon bersatu demi keutuhan masyarakat. Artinya ketiga calon memilih satu diantara mereka yang lebih layak (calon tunggal), sehingga masyarakat tetap bersatu tidak berkubu-kubu. Pertemuan yang digelar pada bulan maret 2008 itu tidak membuahkan hasil, ketiga calon tersebut tidak satu orangpun yang mau mengalah namun mereka ingin menunjukkan kemampuan masing-masing. Penuh dengan kekecewaan pihak gereja hanya pasrah dengan penolakan mereka, keadaan pun semakin mencekam. Gomgom yang sudah kecewa mengatakan :
” gabe ma oto do jolma na di huta on alani pemilihan kampung marbadai, tumagon do dinasida huaso sian hadameon. Nga lupa be halak i di adat batak i, tarlumobi ma dalihan na tolu i. Angka na marhula-hula, mardongan tubu, marboru, nungga
marbadai. Nga muruk oppu i marnida na masa on. Dang marsipasangapan be angka na martondong, dan maila halak i mangida jolma na di luat na asing an. Molo jolma na maradat, boi do sahalak sian nasida gabe kampung. Na asing i tu periode na naeng ro. Dang porlu sai marbadai, sega partondongan alani i”. (Masyarakat Desa Sosor Mangulahi menjadi bodoh dengan adanya pilkades, timbul pertengkaran dan lebih memilih kekuasaan daripada kebersamaan. Mereka melupakan adat istiadat terlebih Tungku Yang Tiga. Mereka yang ada didalamnya tidak lagi bersatu dan berselisih. Nenek moyang kita yang di alam sana bisa marah menyaksikan hal ini. Tidak saling menghormati saudara sendiri, tidak malu terhadap daerah yang lain. Seandainya mereka manusia yang berbudaya dan tau adat istiadat, mereka bisa saja menaikkan satu calon saja. Calon yang lain bisa menyusul untuk periode berikutnya. Tidak semestinya terjadi perselisihan, pertengkaran dalam keluarga).
(Hasil Wawancara, 2008).
Hari demi hari tahapan pilkades tetap berjalan sesuai dengan kebijakan PPKD. Pertengahan bulan maret 2008, PPKD membagikan kartu pemilih dan surat undangan kepada masyarakat yang mempunyai hak pilih dan sesuai dengan persyaratan pemilih. Untuk berkampanye, PPKD memberikan waktu selama dua hari kepada masing- masing calon untuk menarik simpati masyarakat yang belum tersentuh calon termasuk yang tidak masuk kedalam kubu yang ada. Satu minggu sebelum pilkades diselenggarakan kampanye sudah harus berakhir yang dijadwalkan mulai dari tgl 31 Maret 2008 s/d 5 April 2008. Sukri dijadwalkan 31 Maret s/d 1 April 2008 ; Pratama 2 April s/d 3 April 2008 ; Antoni 4 April s/d 5 April 2008.
Satu minggu sebelum pilkades dilaksanakan adalah minggu tenang bagi masyarakat dan juga para calon dalam mempersiapkan segala sesuatunya dalam menghadapi pilkades tersebut. Para pendukung calon kades yang sudah berkelompok
menjadi terpecah-pecah. Minggu tenang yang dimaksudkan sebagai persiapan pilkades malah menjadi ajang pertengkaran, perselisihan dan berbagai masalah terjadi. Peristiwa ini semakin mempertajam konflik dan semakin menipisnya kekeluargaan diantara mereka. Pada hari minggu tanggal 6 april 2008 sekitar pukul 20.30 WIB, terjadi perselisihan antara pendukung calon kades Sukri dengan pendukung calon kades Antoni. Awalnya adalah masalah sepele antara dua orang pendukung calon yang berbeda. Mereka berdebat sembari menikmati minuman kopi di kedai yang tidak lain adalah tempat mereka biasanya nongkrong setiap malam harinya. Hidayat (45 tahun) membanggakan Sukri sebagai calon pilihannya dengan berbagai macam pujian dan menyatakan sangat layak menjadi kepala desa. Ia sangat optimis calonnya menjadi pemenang. Demikian halnya dengan Charly (39 tahun) adiknya sendiri yang juga membanggakan calonnya Antoni. Menurutnya Antoni lebih layak dan sangat tepat menjadi kepala desa yang baru dibandingkan dengan calon yang lain. Calon yang lain termasuk calon kakaknya sendiri adalah pembohong dan hanya mengumbar janji kepada masyarakat. Hidayat membanggakan Sukri :
“Dung si Sukri gabe kampung godang do kemajuan ni Sosor Mangulahi on. Padenggan hon dalan, paiashon huta on, burju do ibana tu sude parhuta on, parminggu do ibana, molo adong si uruson dang hea maol, dang pola olo marjanji. Ibana do muse pilliton molo pemilihan kampung on. Dang adong hu ida na boi do pe mangganti ibana. Aha ma hurangna molo i pasahat calon Antoni dohot Pratama jo periode on tu si Sukri. Asa jolo di torus hon jo sa periode nai. Jadi boi tarida program ni ibana i. Molo calon na dua nai boi ma tu periode na naeng ro. Alai dang adong na patoru roha na, dang diargai na uttua sian ibana. Molo toho do dianggap ho au akkangmu, hulala denggan do urupanmu au. Dang tuaha hita sai marasing-asing pilihanta. Togihon ma angka donganmi, hulean pe parsigaretmu.” (Setelah Sukri menjadi kepala desa kemajuan di
Sosor Mangulahi cukup pesat. Memperbaiki jalan, mengadakan kebersihan bersama, bersikap baik terhadap semua warga, religius, tidak pernah mempersulit apabila rakyat ada urusan, dan tidak pernah mengumbar janji. Beliau lah yang nantinya yang akan saya pilih. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi beliau. Supaya programnya bisa dilanjutkan kembali. Dengan demikian programnya dapat dilihat masyarakat. Calon yang lainnya masih bisa untuk periode berikutnya. Tetapi, tidak ada satu orang pun yang mau untuk mengalah, tidak menghargai yang lebih tua. Apabila kamu masih menganggap saya sebagai kakakmu, mungkin ada baiknya kita saling membantu. Tidak ada artinya kita berbeda pilihan. Sebaiknya kamu dan kawan- kawanmu bergabung menyukseskan Sukri. Sebagai uang rokok bisa saya berikan nantinya).
(Hasil Wawancara, 2008)
Dengan tegas Charly langsung menolak tawaran kakaknya sendiri untuk ikut bergabung. Charly menjawab :
“Ho pe nga gabe lam maoto alani si Sukri i. Aha dilean ibana allang on mu? Asa gabe dihalomohon roham ibana. Asal dipandohoni ho do hatam. Nga hea be ibana gabe kampung, nga di boto ibana be songon dia hakampungon i, alai boasa dang dilean ibana tingki tu angka na umposo ? ibana kan nga matua andigan be naposo on marsiajar ? molo toho do ibana natua-tua, ndang sai di halomohon rohana be gabe kampung muse. Ndang natua-tua songon i. Jadi tiop ma hepengmi dang porlu di au songoni.” (Kakak sudah semakin bodoh akibat dari Sukri. Apa yang dia berikan sehingga kamu membanggakan dia sebagai kepala desa. Kamu seharusnya berpikir dahulu sebelum berbicara. Sukri sudah pernah menjadi Kepala Desa, sudah mengetahui bagaimana kekuasaan seorang Kepala Desa, tetapi mengapa dia tidak memberi kesempatan kepada yang lebih muda? Sukri sudah lebih tua dibanding dengan yang lain,
apa salahnya memberi waktu kepada yang lebih muda untuk belajar? Sebagai seorang yang lebih tua seharusnya dia lapang dada, besar hati dan tidak perlu untuk mencalonkan lagi. Jadi saya tidak bisa menerima tawaran dan saya tidak butuh uangmu).
(Hasil Wawancara, 2008)
Perdebatan semakin memanas diantara mereka yang masih kakak beradik untuk membela calon masing-masing sekaligus optimis akan kemenangannya. Mereka pun mengganti menu minuman, dengan menambahkan minuman beralkohol termasuk tuak ditengah-tengah perdebatan yang semakin memanas dan menantang. Malam mulai menjelang larut diiringi dengan orang-orang yang semakin banyak bardatangan untuk mengetahui hangatnya perkembangan pembicaraan tentang pilkades yang sedang ditunggu-tunggu. Charly dan Hidayat yang sudah dipengaruhi minuman mulai berbicara semberaut. Hidayat sangat kesal dengan adiknya yang bertahan membela Antoni dan menolak tawaran kakaknya untuk bergabung, bahkan menilai calon kakaknya tidak legowo. Dalam keadaan setengah sadar Hidayat langsung membantingkan botol minuman diatas meja. Adiknya juga yang sudah dalam keadaan emosi tidak tinggal diam, dia tidak segan-segan mendorongkan meja dihadapan kakaknya. Lupa dengan garis kekerabatan dan kekeluargaan mungkin tidak mereka sadari, karena perkelahiannya semakin arogan dan anarkis. Orang-orang yang ada di kedai juga sudah dipenuhi dengan perasaan sensitif karena adanya pengelompokan masyarakat dalam rangka pilkades. Membela anggota pendukung calon yang sama adalah satu-satunya pilihan mereka. Perkelahian pun semakin meluas dan besar yang membuat keadaan mencekam. Perkelahian berlangsung selama kurang lebih 2 jam, yang mengakibatkan banyak kerugian dan korban. Adapun orang yang mengalami kerugian adalah pemilik kedai tempat mereka berkelahi . Sementara 2 kelompok yang terlibat dalam perkelahian tersebut mengalami luka-luka akibat pukulan dan benturan
benda-benda yang digunakan, seperti botol, gelas, asbak, kayu. Secara terpaksa pemilik kedai menutup rumahnya dan mengusir orang-orang yang berkelahi setelah gagal mendamaikan. Orang-orang yang berkelahi tidak memiliki tempat lain selain pulang ke rumah masing-masing, sekaligus membuat perkelahian berakhir untuk saat itu. Perkelahian ini tidak hanya mengakibatkan kerugian dan korban tetapi juga hubungan diantara mereka putus total. Tulus Sinaga pemilik kedai mengaku sangat kecewa terhadap tindakan orang-orang yang berkelahi dan menilai mereka bodoh. Tulus tidak tahu menuntut kerugiannya kepada siapa, melainkan hanya bisa memilih untuk tidak berjualan lagi dan menutup kedainya untuk selamanya. Para calon mengalami hal yang sama dengan pemilik kedai kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa selain berharap akan kemenangannya. Tidak disangka perkelahian belum berakhir dan masih terulang kembali ditempat yang berbeda. PPKD telah menentukan tempat pelaksanaan pilkades tepatnya di kompleks Gereja HKBP Desa Sosor Mangulahi. Maka pada hari Senin tanggal 7 April 2008 dijadwalkan untuk membersihkan kompleks tersebut yang sebelumnya sudah ditinjau dan dinyatakan layak karena lapangan cukup luas. Hasan (29 tahun) yang sekelompok dengan Charly sedang ikut melakukan kebersihan kompleks gereja. Bersama dengan kawan- kawannya, Hasan sedang bekerja sambil bercanda dan tertawa ketika itu juga Iskandar (32 tahun) berselisih pandangan dengan mereka. Iskandar bukanlah pendukung calon yang sama dengan mereka, rencananya Iskandar ingin bekerja ke ladangnya yang tidak jauh dari kompleks tersebut. Perjalanannya pun terganggu karena terjadi adu pandangan dengan Hasan. Mata mereka saling menatap sadis satu sama lain. Iskandar yang merasa diejek ketika mereka tertawa, sementara Hasan merasa disepelekan dengan tatapan matanya.
Setelah mereka saling memplototi, Iskandar kemudian semakin terpancing emosi yang diikuti dengan Hasan yang memberhentikan kegiatannya. Perang mulut terjadi diantara mereka dengan bahasa-bahasa arogan, yang berujung pada perkelahian. Perkelahian yang kedua kalinya ini menyisakan dendam terhadap Iskandar, dia harus menerima pengeroyokan dari Hasan dan kawan-kawannya. Kelompok Iskandar sangat terpukul melihat kondisi Iskandar babak belur, lemah tak berdaya. Berbagai konflik selalu terjadi silih berganti setiap harinya diantara masyarakat Desa Sosor Mangulahi. Rangkaian peristiwa tersebut menimbulkan ketakutan terhadap semua pihak masyarakat termasuk ketiga calon kepala desa. Menanggapi pengeroyokan terhadap Iskandar, kelompoknya merencanakan serangan balasan terhadap Hasan dan kawan-kawannya. Rajio seakan mencium rencana balasan tersebut, sehingga dia jarang kelihatan dengan seorang diri. Dia mencegah rencana tersebut dengan selalu berkumpul dengankelompoknya pada hari Rabu, 9 April 2008 sekitar pukul 19.00 WIB. Perkelahian dua kelompok pendukung Antoni dan Sukri kembali terjadi. Kedai kopi Paraduan Simamora yang tidak jauh dari rumah Hasan menjadi saksi bisu perkelahian. Sebelumnya Hasan dan kawan-kawan kelompoknya sedang nongkrong sambil main gitar dan bernyanyi gembira. Kegembiraan mereka tiba-tiba dikelabui oleh kehadiran lawan kelompok yaitu pendukung Sukri yang datang untuk balas dendam terhadap pengeroyokan Iskandar. Perkelahian ini lebih serius dari sebelum-belumnya. Benda-benda tajam juga mewarnai perkelahian mereka. Sama halnya dengan perkelahian pertama, semua orang yang terlibat jadi korban luka-luka. Beberapa jam kemudian Sukri sebagai kepala desa lama sekaligus calon kades, datang bersama lima orang bawahannya untuk mengakhiri perkelahian tersebut. Butuh waktu cukup lama untuk menahan aksi mereka. Walaupun pada akhirnya berhasil dipulangkan ke rumah masing-masing. Ketakutan masyarakat
semakin memuncak khususnya para ibu rumah tangga dan anak-anaknya. Peristiwa itu juga mengingatkan para pemilik kedai kopi dan kedai tuak. Esok harinya tidak satu pun kedai yang membuka pintunya untuk warga. Semua kedai yang ada trauma dengan tiga peristiwa tersebut dan tidak mau menjadi korban kerugian. Dalam hal mencegah peristiwa yang sama, maka mulai pada hari Kamis tanggal 10 April sampai pada berakhirnyapilkades periode 2008 / 2013, pihak kepolisian sektor setempat menurunkan personil untuk menjaga keamanan. Kehadiran pihak kepolisian di Desa Sosor Mangulahi sangat membantu untuk meredama rencana perkelahian antara kelompok pendukung kades tersebut. Ketiga kelompok tersebut saling bermusuhan antara pendukung Sukri, Antoni dan Pratama. Peneliti melihat pendukung Sukri dan pendukung Antoni merupakan 2 kelompok yang sangat anti antara satu dengan lainnya. Berbeda halnya dengan pandukung Pratama yang tidak pernah terlibat dengan perkelahian, walaupun mereka tidak mempunyai hubungan sosial yang baik dengan kelompok lain. Hasil wawancara dengan Andika Manalu (23 tahun) ternyata calon Sukri dan Antoni adalah dua calon yang sudah bersaing sejak periode sebelumnya dan periode 2008 / 2013 persaingan kedua kalinya. Calon Pratama adalah calon perdana, yang dulunya pendukung Antoni.
Predddy :
“Dang olo sae halak on na marbadai, on ma tahe molo so marsikkola. Alani kepala desa pe marsitallikan. Na marhahaanggi pe naeng marsipamatean. Anggo calon Antoni dohot Sukri on do nga leleng halak on marsoal. Nunga padua