KONFLIK PILKADES DAN PENYELESAIANNYA
(Suatu Kajian Antropologi Terhadap Pilkades Periode 2008/2013
Di Desa Sosor Mangulahi Kabupaten Humbahas)
SKRIPSI
Diajukan guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Sosial dalam bidang Antropologi
Oleh :
SARI EDISON PURBA
050905025
DEPARTEMEN ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
AYAT PERSEMBAHAN
Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata : “Aku
bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau
sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada
orang kecil. Ya Bapa itulah yang berkenan kepada-Mu.
Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidaka ada seorangpun yang
tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang
berkenan menyatakan hal itu
(Lukas 10 : 21-22)
Skripsi ini saya Persembahkan kepada keluarga tercinta dan tersayang yang selalu
setia mendukung saya, sehingga skripsi ini dapat diselesaiakan pada waktu yang
indah.
Ayah
: M. Purba
Ibunda : S. br. Simamora
Kakak : Ani Berliana &keluarga, Lamtiur&keluarga, Yenthi & keluarga
Adek
: Marlina, Maya, Agus Tino
Dan tidak lupa kepada Pujaan Hati ; Theresia Mona Sari br. Pardosi
KATA PENGANTAR
Dengan segala kerendahan hati, penulis memanjatkan segala puji dan puja
syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkat dan rahmatnya yang selalu
menyertai penulis sehingga mampu menyelesaikan skripsi ini pada waktu yang indah.
Adapun yang menjadi judul skripsi ini adalah “Konflik Pilkades Dan
Penyelesaiannya” yang dimaksudkan sebagai tugas akhir selama perkuliahan untuk
dapat memperoleh gelar sarjana sosial di Departemen Antropologi Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Sebagai manusia biasa yang tidak pernah luput dari kekurangan, penulis
menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini sangat jauh dari sempurna dan masih perlu
perbaikan. Penulis juga menyadari penyelesaian skripsi ini tidak akan tercapai tanpa
adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu maka dalam hal ini
penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. M. Arif Nasution, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
2. Bapak Drs. Zulkifli Lubis, MA Selaku ketua Departemen Antropologi
sekaligus menjadi Dosen Wali yang telah baanyak membimbing dan
mengarahkan penulis selama perkuliahan di Departemen Antropologi Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
3. Bapak Dr. Fikarwin Zuska, M.Si selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak
meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam memberikan bimbingan dan
arahan penyelesaian skripsi ini, mulai dari awal sampai pada selesainya skripsi
4. Bapak Drs. Irfan Simatupang, M.Si dan juga Ibu Dra. Mariana Makmur, MA
selaku Dosen Penguji, terima kasih atas saran dan bimbingannya sampai
selesainya skripsi ini.
5. Para Dosen Antropologi yang telah membekali, mengarahkan dan
membimbing saya selama mengikuti perkuliahan di Departemen Antropologi
sampai pada penyelesaian skripsi.
6. Seluruh Staf Pegawai Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Sumatera Utara
7. Bapak S. Purba selaku Kepala Desa di Lokasi Penelitian saya yang telah
banyak membantu dan memberikan kemudahan dalam proses penyelesaian
skripsi ini
8. Ibu R. Simamora ( istri Bapak S. Purba ) yang juga ikut serta membantu saya
dan menyambut dengan baik di Lapangan.
9. Secara khusus kepada kedua orang tua saya ; M. Purba dan S. br. Simamora
terima kasih yang sedalam-dalamnya saya persembahkan atas rasa cintanya
yang tak terbalaskan oleh siapapun, baik dukungan moral, materil dan
segalanya diberikan demi tercapainya penyelesaian skripsi saya.
10. Kepada Ibunda Tercinta S. br. Simamora yang tidak bosan-bosannya memberi
nasehat untuk mendorong semangat, semoga Tuhan memberkati semua proses
pengobatan yang sudah dijalani, untuk dapat menyembukan penyakit dan
memberikan umur yang panjang. Saya yakin Tuhan pasti melihat dan
menjamah orang tua saya.
11. Kepada seluruh keluarga yang selalu setia memberi dukungan setiap saat, saya
ucapakan banyak terima kasih. Saya tidak dapat berbuat apa-apa tanpa
dan Lae (Sabri, Theresia, Kaka Yenthi/Lae Sijabat), ketiga Adek saya (
Marlina, Maya, Agus Tino ) sekaligus kepada Renta br. Sinaga dan juga
semua keluarga di Kampung.
12. Saya tidak lupa juga mengucapkan banyak terima kasih kepada pujaan hati
Theresia Mona Sari br Pardosi yang selalu setia memberikan dukungan dan
bantuan semampu mungkin. Semoga sayangku lebih sukses lagi dan tetap
semangat dalam mengikuti perkuliahan, untuk dapat menyusul wisuda tepat
waktu.
13. Seluruh kerabat Antropologi, yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu
termasuk seluruh stambuk 2005 dan juga stambuk yang lainnya. Kita harus
tetap semangat dalam mengembangkan dan mendalami Antropologi, kita tetap
kerabat selamanya.
14. Terima kasih kepada seluruh anggota Resimen Mahasiswa Sumatera Utara,
khususnya Resimen Mahasiswa Universitas Sumatera Utara atas semangat
yang selalu diberikan untuk memotivasi saya dan membantu penyelesaian
skripsi ini. Semoga Menwa tetap jaya untuk selamanya dan tetap
memepertahankan Widya Castrena Dharma Shiddha.
15. Saya juga mengucapkan terima kasih pada pihak yang ikut serta membantu
penyelesaian skripsi ini yang tidak bisa disebutkan secara keseluruhan dan
Dukungan semua pihak masih saya butuhkan demi kesempurnaan
kedepannya. Atas segala bantuan dan dukungannnya saya ucapkan terima kasih.
Akhirnya semoga skripsi ini bermanfaat untuk semua pihak termasuk untuk
masyarakat di lokasi penelitian saya.
Medan, November 2009
Penulis
ABSTRAKSI
Konflik Pilkades dan Penyelesaiannya (Suatu Kajian Antropologi Terhadap Pilkades Periode 2008/2013 di Desa Sosor Mangulahi Kabupaten Humbahas)
Skripsi ini terdiri dari 5 bab 105 halaman, Lampiran dan beberapa Daftar.
Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) sebagai alat untuk proses pergantian/peralihan pemerintahan desa sekaligus menjadi pesta demokrasi di tingkat wilayah desa, tidak jarang diwarnai oleh konflik dan pertentangan diantara masyarakat desa, baik konflik individu maupun konflik sosial. Seperti yang kita ketahui masyarakat desa adalah masyarakat yang masih terikat dengan hubungan kekerabatan serta adat istiadat, dan pada umumnya menjungjung tinggi nilai-nilai budaya setempat demi keharmonisan dalam hubungan maupun interaksi sosialnya. Namun hal itu tidak selalu menjadi kemudahan ataupun faktor pendukung dalam urusan politik dalam hal ini penyelenggaraan pilkades. Demikian halnya dengan Pilkades Periode 2008/2013 di Desa Sosor Mangulahi Kabupaten Humbahas yang tidak pernah luput dari konflik dan pertentangan di tengah-tengah etnisitas masyarakat yang homogen. Masyarakatnya didominasi oleh Etnis Batak Toba dan menganut hanya satu Agama yaitu Kristen Protestan. Disamping etnisitas dan agamanya homogen bahkan masyarakatnya sebagian besar terdiri dari tiga marga besar ; Purba, Manalu, dan Simamora. Secara silsilah Batak Toba ketiga marga tersebut diatas dikategorikan mempunyai satu Nenek Moyang pada zaman dahulu. Hal itu berarti semakin menguatkan bahwa masyarakat desa Sosor Mangulahi memiliki ikatan yang sangat kental dan kuat. Sekali lagi hal itu tetap saja tidak selalu menjadi kemudahan terhadap penyelenggaraan Pilkades Periode 2008/2013.
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR i
ABSTRAKSI v
BAB I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Masalah...1I.2. Masalah dan Fokus Penelitian...8
I.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian...9
I.3.1. Tujuan Penelitian...9
I.3.2. Manfaat Penelitian………...9
I.4. Tinjauan Pustaka...11
I.5. Metode Penelitian...28
I.5.1. Tipe Penelitian...28
1.5.2. Tehnik Pengumpulan Data...28
a. Tehnik Observasi Partisipasi...29
b. Tehnik Wawancara...29
c. Pengalaman di Lapangan...30
d. Dokumen...30
e. Interview Guide...30
I.5.3. Penentuan Informan...31
BAB II. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
II.1. Sejarah Desa Sosor Mangulahi...35
II.2. Letak Geografis Desa Sosor Mangulahi...37
II.3. Komposisi Penduduk...38
II.3.1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin...38
II.3.2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia……...…………...….39
II.3.4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan………...….40
II.3.5. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian...41
II.3.6. Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama………...….42
Ii.4. Sarana / Fasilitas………...………...………...43
II.4.1. Sarana Kesehatan…...………....43
II.4.2. Sarana Pendidikan..……….…..…43
II.4.3. Sarana Ibadah………..………..………….…44
II.5. Sistem Organisasi Sosial……….……….44
II.6. Struktur Pemerintahan Desa dan Perangkat Desa...46
II.7. Pejabat Pemerintahan dan Perangkat Desa...47
BAB III. KONFLIK PILKADES
III.1. Kronologis / Proses Berlangsungnya Konflik...48III.1.1. Pilkades 2008 / 2013...60
III.2. Latar Belakang / Penyebab Konflik………...…65
III.3. Pihak Yang Terlibat Dalam Konflik………..…………66
III.4. Lamanya Konflik………..………...…68
III.5. Akibat/Fungsi Konflik...68
III.5.1. Akibat/Fungsi Negatif Konflik...68
III.6. Keadaan Masyarakat Sebelum Konflik dan Pada Saat Konflik.71
III.7. Analisa Faktor Pendorong Perebutan Kades...72
III.8. Kekerabatan Tidak Selalu Faktor Pendukung Politik...76
BAB IV. PENYELESAIAN KONFLIK
IV.1. Langkah-Langkah Penyelesaian...81IV.2. Tabel Pihak Terlibat dalam Penyelesaian Konflik...87
IV.3. Tanggapan Masyarakat Terhadap Penyelesaiaan...90
IV.4. Keadaan Masyarakat Pasca Penyelesaian Sampai Sekarang...90
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
V.1. Kesimpulan...91V.2. Saran...100
DAFTAR INFORMAN x
DAFTAR ISTILAH xv
INTERVIEW GUIDE xviii
LAMPIRAN
ABSTRAKSI
Konflik Pilkades dan Penyelesaiannya (Suatu Kajian Antropologi Terhadap Pilkades Periode 2008/2013 di Desa Sosor Mangulahi Kabupaten Humbahas)
Skripsi ini terdiri dari 5 bab 105 halaman, Lampiran dan beberapa Daftar.
Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) sebagai alat untuk proses pergantian/peralihan pemerintahan desa sekaligus menjadi pesta demokrasi di tingkat wilayah desa, tidak jarang diwarnai oleh konflik dan pertentangan diantara masyarakat desa, baik konflik individu maupun konflik sosial. Seperti yang kita ketahui masyarakat desa adalah masyarakat yang masih terikat dengan hubungan kekerabatan serta adat istiadat, dan pada umumnya menjungjung tinggi nilai-nilai budaya setempat demi keharmonisan dalam hubungan maupun interaksi sosialnya. Namun hal itu tidak selalu menjadi kemudahan ataupun faktor pendukung dalam urusan politik dalam hal ini penyelenggaraan pilkades. Demikian halnya dengan Pilkades Periode 2008/2013 di Desa Sosor Mangulahi Kabupaten Humbahas yang tidak pernah luput dari konflik dan pertentangan di tengah-tengah etnisitas masyarakat yang homogen. Masyarakatnya didominasi oleh Etnis Batak Toba dan menganut hanya satu Agama yaitu Kristen Protestan. Disamping etnisitas dan agamanya homogen bahkan masyarakatnya sebagian besar terdiri dari tiga marga besar ; Purba, Manalu, dan Simamora. Secara silsilah Batak Toba ketiga marga tersebut diatas dikategorikan mempunyai satu Nenek Moyang pada zaman dahulu. Hal itu berarti semakin menguatkan bahwa masyarakat desa Sosor Mangulahi memiliki ikatan yang sangat kental dan kuat. Sekali lagi hal itu tetap saja tidak selalu menjadi kemudahan terhadap penyelenggaraan Pilkades Periode 2008/2013.
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Penelitian
Pemilihan Kepala Desa yang sering disingkat dengan Pilkades mungkin bukan
istilah yang asing lagi untuk saat ini. Sebagai wadah untuk menampung aspirasi
politik masyarakat sekaligus sarana pergantian atau kelanjutan pemerintahan desa
pilkades diharapkan mampu memenuhi keinginan dan harapan masyarakat desa
tertentu, untuk mengangkat calon yang layak sebagai kepala desa. Pilkades
merupakan sebuah instrumen dalam pembentukan pemerintahan modern dan
demokratis. Pesta demokrasi yang dilakukan ditingkat wilayah terkecil ini pada
dasarnya sudah diatur oleh peraturan perundang-undangan pemerintah tentang tata
cara penyelenggaraan pilkades. Sehingga seluruh rangkaian tahapan-tahapannya
mulai dari pembentukan panitia pilkades sampai pada pelantikan kepala desa terpilih
diharapkan sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Dengan demikian proses
pemilihan kepala desa akan berjalan dengan baik tanpa mempengaruhi keutuhan
masyarakat. Dan harapan masyarakat dapat terpenuhi untuk terpilihnya kepala desa
yang baru dan dinyatakan layak untuk memimpin dan menjalankan roda pemerintahan
desa. Hal inilah yang didambakan oleh setiap masyarakat desa demi terciptanya
keadaan yang kondusif.
Namun dalam prakteknya pilkades yang sudah diatur oleh perundang-undangan
pemerintah untuk saat ini sangat sulit terselenggara dengan lancar dan berkualitas
karena bermainnya faktor-faktor kepentingan politik, kepentingan untuk ingin berebut
yang legitimate1. Disamping itu penyelenggaraan pilkades juga tersentuh dan tidak
terlepas dari pengaruh kebudayaan2
Desa Sosor Mangulahi yang berada di Kabupaten Humbang Hasundutan dikenal
masih sangat homogen yang mana hanya terdapat Etnis Batak Toba dan didominasi
oleh Agama Kristen Protestan. Masyarakatnya terdiri dari tiga marga
masyarakat desa. Sehingga sering kali budaya
sangat berperan didalamnya. Seiring dengan hal ini didalam pelaksanaan pilkades
tidak jarang menuai kericuhan dan konflik. Di dalam penyelenggaraan pesta
demokrasi ini terdapat banyak masalah dan persoalan sebagai gejala awal konflik
pilkades. yang diwarnai dengan kericuhan, kekerasan, yang dapat merusak keutuhan
dan eksistensi masyarakatnya. Situasi yang memprihatinkan ini tidak jarang lagi
terjadi di berbagai daerah desa yang terdapat di Tanah Air Indonesia. Seperti misalnya
yang terjadi di Desa Sosor Mangulahi Kabupaten Humbang Hasundutan. Proses
pelaksanaan pilkades diwarnai dengan persaingan tidak sehat, kericuhan, kekerasan
yang akhirnya menuai konflik.
3
1
Legitimate merupakan pemerintahan yang sah ataupun resmi dan diakui oleh masyarakat maupun
secara hukum. Lihat, Haw Widjaja, Pemerintahan Desa dan Administrasi Desa
, (1996). Jakarta, PT. Raja Grafindo.
2
Kebudayaan memiliki defenisi yang cukup kaya dan belum dapat dirangkumkan menjadi satu
konsep, karena para ahli mengartikannya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar. Lihat, Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi I (1990), Jakarta. UI-Press.
3
Marga bagi orang batak merupakan nilai ataupun harga sekaligus keabsahannya selaku orang batak,
sehingga tidak ada orang batak yang tidak bermarga. Marga secara silsilah ataupun tarombo batak juga dapat mengetahui derajat atau posisi seseorang itu mulai dari nenek moyangnya dengan mengacu pada sistem kekerabatan. Dan pada dasarnya marga sudah mempunyai makna tersendiri dan sejarahnya masing-masing. Lihat, Bungaran Antonius Simanjuntak, Sruktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hingga 1945 (2006), : 79. Jakarta, Yayasan Obor Indonesia.
besar yaitu
Purba, Manalu, Simamora. Pada Silsilah Marga Batak Toba ketiga marga tersebut
diatas adalah satu, yang artinya memiliki ikatan kekeluargaan yang cukup kuat dan
kuatnya ikatan tersebut melemah ketika bersinggungan dengan pilkades sehingga
terpecahbelah sepertinya tidak ada lagi nilai-nilai kekeluargaan yang tidak sesuai
dengan hakekat ketiga marga tersebut, yang ditandai dengan adanya persaingan
politik yang tidak sehat diantara ketiga marga tersebut.
Dalam hal ini kebudayaan bersinggungan dengan kepentingan politik. Sehingga
masyarakat lupa diri akan pentingnya kekeluargaan dan kebudayaan demi
kepentingan politik yaitu memenangkan calon mereka masing-masing dan berusaha
untuk mengalahkan calon yang lain sebagai lawan politiknya. Situasi seperti ini
mengundang penulis untuk mengulas dan mengkaji lebih mendalam. Apa sebenarnya
yang terjadi di tengah-tengah masyarakat desa, sekaligus bagaimana penyelesaian
konflik yang terjadi. secara khusus penulis juga ingin melihat bagaimana kebudayaan
berperan didalamnya dalam hal mengatasi dan menyelesaikan konflik tersebut.
Konflik pilkades dan penyelesaiannya sebagai judul penelitian, tentunya memiliki
latar belakang ataupun penjelasan tentang alasan-alasan sehingga penelitian layak
untuk dilakukan. Seiring dengan hal diatas, dalam bab ini juga akan dimuat
ketertarikan peniliti terhadap objek penelitian, yang berawal dari adanya gejala-gejala
sosial meggambarkan ketidakcocokan dan ketidakharmonisan ditengah-tengah
masyarakat. Seperti misalnya retaknya komunikasi antara satu dengan yang lain,
bahkan yang bersaudara sekalipun, semakin berkurangnya nilai-nilai kekeluargaan
diantara warga masyarakat, bahkan adanya kecenderungan mereka untuk membentuk
kelompok-kelompok tertentu dan tidak bersatu lagi, sampai pada pertikaian, konflik
yang terlihat dari perkelahian dan masih banyaknya masalah yang lainnya.
Gejala-gejala sosial seperti disebutkan diatas sudah terjadi sebelum pelaksanaan pilkades.
Yang selalu menghebohkan masyarakatnya dalam menantikan pelaksanaannya.
pilkades merupakan respon dari gejala-gejala sosial yang timbul ditengah masyarakat
khususnya pada warga Desa Sosor Mangulahi, sebagai lokasi penelitian saya.
Gejala-gejala sosial dimaksud timbul sebagai persoalan baru yang mampu mempengaruhi
masyarakat. Seperti yang dijelaskan diatas terjadi hubungan-hubungan sosial yang
sebelumnya tidak pernah terjadi baik antar individu maupun antar kelompok. Peneliti
melihat hal ini sebagai sebuah pendekatan politik yang berusaha mempengaruhi
pihak-pihak yang lain. Yang jelasnya terdapat kepentingan-kepentingan atau
kekuasaan4
4
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang
atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku (Miriam Budiardjo,2002) Kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi (Ramlan Surbakti,1992).
dan politik sedang dijalankan oleh pihak tertentu. Masyarakat desa juga
masyarakat yang berpolitik, yang menjalankan kekuasaan-kekuasaannya melalui
hubungan tertentu. Kumpulan marga pada masyarakat batak misalnya mungkin salah
satu wadah untuk menampung aspirasi politiknya. mulanya saya meneropong pilkades
itu adalah jembatan untuk mencapai sebuah kedudukan atau kakuasaan, yang mana
penyelenggaraannya sudah diatur oleh undang-undang. ternyata kacamata itu tidak
sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Pelaksanaan pilkades dimaksud lebih
dipengaruhi oleh person-person yang ada didalamnya, termasuk calon-calon yang
ada, para pendukung masing-masing calon, dan juga pihak yang terlibat melalui
cara-cara tertentu. Sehingga terjadi gejala-gejala sosial seperti pembentukan
kelompok-kelompok tertentu, hubungan yang kurang baik, saling mencari kelemahan lawan,
menunjukkan kemampuan masing-masing, bahkan terjadinya konflik dan kekerasan.
Banyaknya persoalan yang timbul dalam masyarakat lebih mengarah pada
kepentingan politik. Organisasi-organisasi masyarakat tidak lagi diarahkan untuk
kekuatan politik sekaligus tujuan politik. Dari rangkaian gejala-gejala sosial yang
timbul melahirkan sebuah keingintahuan bagi peneliti untuk mencari eksplanan
(penjelasannya) sekaligus mengangkat pilkades sebagai objek penelitian
(eksplanandum). Bagaimana konflik terjadi sementara masyarakat yang saya kaji
adalah masyarakat Batak Toba, yang masih bersifat homogen, apa yang
melatar-belakangi hal tersebut akan menjadi tugas peneliti. Antropologi politik mengatakan
kekerabatan mempengaruhi kekuasaan dan keduanya saling berkaitan. Hal ini
dikarenakan oleh pentingnya kekerabatan sebagai kekuatan politik sehingga
manipulasi kekerabatan merupakan strategi politik.
Pemilihan kepala desa (pilkades) merupakan proses untuk memilih atau
dipilihnya orang yang mampu untuk memimpin jalannya roda pemerintahan di
wilayah desa tertentu sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku. Proses sosial
ini tentunya memberikan kesempatan dan hak yang sama kepada warga masyarakat
desa untuk menunjukkan partisipasi politiknya, baik sebagai hak pilih maupun sebagai
hak untuk dipilih. Adanya persamaan hak diantara warga masyarakat akan
menimbulkan persaingan sosial untuk memperoleh kekuasaan yang diinginkan
dengan berbagai cara dan usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Masing-masing
person akan melakukan pendekatan tersendiri terhadap masyarakat dengan maksud
untuk menarik perhatian dan simpati warga. Dengan demikian person tersebut
mengharapkan suara warga untuk mendukung dan memilihnya. Person sebagai calon
kepala desa yang juga sebagai bagian dari warga desa tertentu dituntut untuk menjalin
komunikasi dan hubungan yang baik terhadap warga yang lain. Yang terdiri dari
individu, kelompok sosial, lembaga sosial, norma-norma sosial, dan lapisan-lapisan
sosial atau stratifikasi sosial. Dengan memulai dari lingkungan keluarga dan kerabat
bahwa kekuasaan dan kekerabatan merupakan dua hal yang saling berkaitan dan
berpengaruh bahkan saling mendukung dalam konteks politik. Mengingat kekerabatan
merupakan sebuah sistem melibatkan sangat banyak orang yang terdapat didalamnya
dan masih adanya hubungan darah ataupun hubungan kekeluargaan memungkinkan
seseorang lebih mudah untuk melakukan pendekatan dengan cepat. Dan kegagalan
seseorang didalam menjalin hubungannya terhadap kerabat dekatnya akan
menimbulkan kesulitan untuk mencapai dukungan dari pihak lain. Dan hal inilah yang
biasanya memicu konflik dan menciptakan persoalan baru.
Masyarakat desa yang pada umumnya masih menjung-jung tinggi nilai-nilai
kekeluargaan terlebih hubungan darah. Sesuatu yang mustahil untuk memilih orang
lain apabila masih ada orang yang lebih dekat dalam artian masih adanya pertalian
darah. Kentalnya rasa solidaritas pada masyarakat desa pada sisi lain merupakan
sebuah kelemahan untuk menentukan pilihan nantinya dalam konteks politik, baik
sebelum pemilihan kades, pada saat pilkades maupun sesudah terlaksananya
pemilihan tersebut. Hal ini terjadi di dukung oleh adanya kesempatan dan hak yang
sama bagi setiap warga untuk memilih dan juga untuk dipilih.
Pemilihan kepala desa sebagai sebuah proses terdiri dari beberapa
tahapan-tahapan dan memerlukan waktu sesuai dengan tahapan-tahapan yang ada. Mulai dari rapat
yang dihadiri oleh kepala desa, lembaga musyawarah desa dan camat dua bulan
sebelum berakhirnya masa jabatan. Setelah itu rapat dipimpin oleh kepala desa untuk
menyusun kepanitiaan pencalonan dan pelaksanaan pilkades selanjutnya membahas
hal-hal yang berkaitan dengan pemilihan misalnya pembiayaan. Hasilnya diajukan
kepada Bupati kepala daerah tingkat dua untuk memperoleh pengesahan. Kemudian
panitia akan menentukan jadwal pelaksanaan pemilihan dengan syarat sudah
pencalonan panitia akan mengadakan pendaftaran, dan disahkan sesuai dengan
persyaratan administratif, yang akan diumumkan dipapan pengumuman yang terbuka
dengan mencantumkan nama-nama bakal calon dan daftar pemilih yang telah
disahkan. Setelah mengetahui orang-orang yang bakal calon, keadaan akan
mengalami perubahan ditengah masyarakat.
Perubahan dalam hal ini ditandai oleh hubungan dan jalinan komunikasi diantara
warga desa sudah berkurang. Dan yang lebih memprihatinkan adalah mereka
cenderung membentuk kelompok-kelompok sesuai dengan jumlah calon yang ada.
Berkurangnya hubungan yang baik tidak hanya diantara para calon saja tetapi juga
diantara masyarakat pendukung masing-masing calon. Dalam konteks ini hubungan
antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan
kelompok ataupun sebaliknya sudah tidak eksis lagi. Tetapi hubungan itu hanya ada
diantara mereka yang mempunyai calon yang sama. Masyarakat telah terkotak-kotak
sesuai dengan calon yang ada dan interaksi sosial menunjukkan adanya nilai-nilai
budaya yang mengalami pergeseran dan perubahan kearah yang kurang baik.
Penulis juga melihat terjadinya konflik sosial ini mempengaruhi pada semua
aspek kehidupan sehari-hari masyarakat. Yang secara keseluruhannya berdampak
terhadap hubungan sosial masyarakat. bahkan hubungan diantara anggota masyarakat
yang bersaudarapun terpengaruh oleh keadaan itu, sehingga nilai kekeluargaan dan
hubungan darah sudah luntur dan sangat memprihatinkan. Karena calon-calon yang
ada pada dasarnya merupakan orang-orang yang masih ada hubungan kekerabatan dan
kekeluargaan. Hal inilah yang menjadi daya tarik sekaligus latar belakang sehingga
I.2. Masalah dan Fokus Penelitian
Dari gambaran di atas kajian ini berupaya untuk memahami anatomi konflik
pilkades yang terjadi di Desa Sosor Mangulahi Kabupaten Humbang Hasundutan dan
juga proses penyelesaiannya. Masyarakat Desa Sosor Mangulahi masih bersifat
homogen yaitu Etnis Batak Toba menganut Agama Kristen Protestan. Terdiri dari tiga
marga besar antara lain Purba, Manalu, Dan Simamora. Adapun marga selain itu
adalah orang-orang pendatang yang sudah lama berdomisili, berjumlah sangat sedikit
dibandingkan ketiga marga tersebut.
Masyarakat Desa Sosor Mangulahi masih mempunyai ikatan darah (kekeluargaan)
yang sangat kuat, ternyata tidak menjadi faktor pendukung ataupun kemudahan dalam
melaksanakan partisipasi politik masyarakat, yakni pemilihan kepala desa. Pada
pemilihan kepala desa yang sudah berlalu tidak jarang ditemukannya berbagai konflik
dan persoalan-persoalan sosial. Seperti rusaknya hubungan-hubungan sosial, tanpa
memandang kekeluargaan disamping itu pernah juga terjadi kekerasan, anarkis,
ancaman, perkelahian dan berbagai masalah lainnya. Penelitian diharapkan mampu
untuk mengulas ataupun mengkaji, mendalami secara deskriptif bagaimanakah
anatomi konflik serta bagaimana konflik pilkades dapat diselesaikan pasca pilkades
dan untuk saat ini termasuk peranan kebudayaan masyarakat didalamnya. Dengan
demikian maka masalah dan fokus penelitian dapat diperjelas melalui pertanyaan di
bawah ini :
1. Mengapa dalam penyelenggaraan pilkades di Desa Sosor Mangulahi masih
terjadi konflik, sementara masyarakatnya masih terikat dengan
kekeluargaan dan kekerabatan yang sangat kuat.
2. Bagaimanakah langkah-langkah penyelesaian konflik pilkades sehingga
I.3. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
I.3.1. Tujuan penelitian
Pada hakekatnya penelitian ini dilatarbelakangi oleh timbulnya
persoalan-persoalan politik, masalah-masalah sosial, hubungan-hubungan yang terjadi,
ketidakcocokan di tengah masyarakat baik individu dengan individu maupun individu
dengan kelompok atau sebaliknya yang bersumber sosial, politik. Sehingga dengan
adanya penelitian ini diharapkan mampu untuk mengkaji masalah dan konflik yang
terjadi dalam masyarakat, dalam kaitannya dengan pemilihan kepala desa (pilkades).
Disamping itu penelitian ini juga dimaksudkan bertujuan untuk menjawab berbagai
masalah penelitian yang ada, yaitu: untuk mengetahui dengan jelas latar belakang
ataupun penyebab konflik beserta penyelesaiannya. Dengan cara itu diharapkan akan
tergambar anatomi5
Penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam menambah ataupun memperkaya
tulisan ilmiah mengenai pelaksananan pemilihan kepala desa (pilkades),
kekuasaan-kekuasaan yang terjadi di desa, ataupun kajian antropologi politik menyangkut
konflik. Maka selanjutnya masyarakat luas secara umum dan masyarakat Desa Sosor
Mangulahi secara khusus mengetahui bagaimana penyelenggaraan pemilihan kepala
desa berjalan lancar tanpa menuai konflik. Sehingga kedepannya masyarakat Desa
Sosor Mangulahi diharapkan mampu untuk melaksanakan pilkades dengan tetap konflik pilkades, sehingga peneliti mampu memberikan
sumbangsih pemikiran kepada masyarakat sesuai dengan Tri Dharma Perguruan
Tinggi, Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian.
I.3.2. Manfaat Penelitian
5
Anatomi konflik : merupakan susunan, sistematika, urutan bisa juga kronologis dan proses terjadinya
menjaga nilai-nilai kekeluargaan, nilai-nilai budaya yang pada hakekatnya cukup
kuat dan kokoh. Mencegah konflik secara dini dan tidak akan melunturkan nilai
budaya demi kepentingan politik dan kekuasaan. Jelasnya pemilihan kepala desa
harus menjadi pemersatu masyarakat dan bukan sebagai gejala sosial yang
memecahkan kesatuan masyarakat desa. Pada akhirnya akan tercapai masyarakat yang
I.4. Tinjauan Pustaka.
Konflik sosial belakangan ini sudah semakin marak di Tanah Air Indonesia
bahkan kedunia Internasional yang cukup mempengaruhi aspek-aspek kehidupan
masyarakat. Sehingga mendapat perhatian dari berbagai pihak terkait termasuk para
ahli dibidangnya. Pada dasarnya konflik itu adalah pertentangan dan akan musnah
bersamaan dengan hilangnya umat manusia dari permukaan bumi. Hal ini sesuai
dengan pendapat Dahrendorf6 dalam poloma, 1994 :
“Konflik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan masyarakat. Masyarakat tidak mungkin
melepaskan diri dari konflik, karena konflik itu sendiri
sejalan dengan dinamika kehidupan manusia dalam
perubahan sosial. Konflik antar perorangan dan antar
kelompok merupakan bagian sejarah kehidupan umat
manusia. Berbagai macam keinginan seseorang dan
kelompok yang tidak terpenuhi seringkali berakhir dengan
konflik. Konflik juga akan selalu ada pada setiap
masyarakat karena konflik merupakan gejala sosial”.
Demikian halnya dengan pemilihan kepala desa di Desa Sosor Mangulahi yang
menuai konflik bersumber sosial politik, tidak terlepas dari masyarakat desa tersebut
selaku subjek dari konflik yang terjadi. Terdapat persaingan antara satu dengan yang
lainnya untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan masing-masing. Dalam (Sumber : Erna Lamsihar Nainggolan “Konflik Antar
Remaja”, skripsi Antropologi 2004 halm 1).
6
menjalankan persaingan tersebut seringkali terjadi tindakan-tindakan sebagai upaya
penting yang merugikan pihak lain. Keadaan inilah pada akhirnya akan menuai
konflik ditengah-tengah masyarakat.
Kata konflik tersebut mengacu kepada perkelahian., perlawanan dan
pertentangan dimana dua orang atau kelompok berusaha menyingkirkan pihak lain
dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya (Hendropuspito, 1989:
240). Hal senada disampaikan oleh Coser (dalam Suparlan, 1999) yang mana
pengertian konflik adalah perjuangan antar individu atau kelompok untuk
memenangkan sesuatu tujuan yang sama-sama ingin mereka capai. Dimana kekalahan
dan kehancuran dipihak lawan, merupakan tujuan utama yang ingin mereka capai.
Dengan demikian konflik ibarat sebuah permainan. Timbulnya konflik adalah adanya
pihak tertentu yang terlibat dalam konflik bukan untuk mencapai suatu tujuan
melainkan untuk menikmati konflik itu sendiri. Maka inti dari konflik itu adalah
menyangkut masalah perbedaan dan pertentangan antar individu yang akhirnya
merebak menjadi konflik sosial. Konflik yang sedang marak saat sekarang ini dan
sangat kaya untuk dikaji secara lebih mendalam adalah konflik politik. Dimana-mana
politik sudah semakin mendominasi aspek kehidupan masyarakat Indonesia,
termasuk diwilayah tingkat pedesaan yang selalu dihadapkan dengan Pemilihan
Kepala Desa (Pilkades). Yang sangat memprihatinkan lagi adalah pelaksanaannya
yang dapat memecahkan masyarakat dan keluarga. Seperti halnya kutipan dibawah
ini, pemilihan kepala desa berujung pada konflik sosial tanpa memandang keluarga
dan kerabat. Hal ini bisa menggambarkan Pemilihan Kepala Desa yang terjadi di Desa
Kakak Adik pun Berseteru Dalam Pilkades Rahayu
salah satu calon yang berstatus PNS, kakaknya. Ia mengaku akan mengutamakan asas musyawarah mufakat dalam penyelesaian masalah itu. Namun demikian, Ketua BPD Rahayu, Mulawarman Sutan Rajo Nan Kayo, menilai konflik itu dibuat oleh sejumlah pihak yang mengintervensi proses pilkades di Rahayu.
Konflik yang mendapat perhatian dari para ahli juga ditanggapi oleh berbagai
media. Hal ini terlihat jelas dari banyaknya tulisan-tulisan yang terdapat pada situs
internet mengulas tentang konflik dan segala sesuatu yang berkaitan dengan konflik
tersebut. Disamping itu masih banyak media-media lainnya berperan serta dalam
memperkaya kajian ini. Seperti yang dijelaskan melalui salah satu situs internet
id.wikipedia.org/wiki/Konflik - 32k –03 April 2009): ”Konflik berasal dari kata kerja
(Sumber : www.bandungkab.go.id “Kakak Adik pun
Berseteru Dalam Pilkades Rahayu” 03 April 2009)
proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu
pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau
membuatnya tidak berdaya. Tidak satu masyarakatpun yang tidak pernah mengalami
konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya
akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik
dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu
perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian,
pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya
ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam
setiap
Pada prinsipnya konflik sesungguhnya tidak bisa dihindari oleh siapapun, namun
yang paling penting adalah bagaimana cara untuk menyelesaikan konflik tersebut
supaya ancaman dan bahaya sebagai akibatnya dapat dicegah secara dini.
Menurut Nader dan Todd (1978 : 9-10) dalam tulisan Ihromi (1993 : 210-212)
ada beberapa tahap untuk mengatasi dan menyelesaikan terjadinya konflik, yaitu :
1. Membiarkan saja (lumping it) : pihak yang merasakan perlakuan tidak adil,
gagal dalam upaya menekan tuntutannya. Seseorang mengambil keputusan
untuk mengabaikan saja karena berbagai kemungkinan seperti kurangnya
informasi mengenai bagaimana proses mengajukan keluhan itu ke pengadilan,
atau sengaja tidak diproses ke pengadilan karena diperkirakan bahwa kerugian
lebih besar dari keuntungannya (dalam arti materil maupun kejiwaan).
2. Mengelak (avoidance): pihak yang merasakan dirugikan, memilih untuk
mengurangi hubungan-hubungan dengan pihak yang merugikannya atau sama
sekali menghentikan hubungan tersebut.
3. Paksaan (coercion): salah satu pihak memaksakan pemecahan pada pihak yang
lain. Tindakan yang bersifat memaksakan atau ancaman untuk menggunakan
kekerasan, pada umumnya mengurangi penyelesaian secara damai.
4. Perundingan (negotiation): dua pihak yang berhadapan merupakan pengambil
keputusan. Pemecahan dari masalah yang mereka hadapi dilakukan oleh kedua
belah pihak, mereka sepakat, tanpa adanya pihak ketiga yang mencampuri.
5. Mediasi (mediation): pemecahan suatu masalah dilakukan menurut perantara.
Dalam cara ini ada pihak ketiga yang membantu kedua belah pihak yang
ditentukan oleh kedua pihak yang bersengketa, atau ditunjuk oleh pihak yang
berwenang. Kedua pihak yang bersengketa tidak harus menuruti atau setuju
terhadap upaya mencari pemecahan oleh pihak ketiga atau mediator, tetapi
harus setuju bahwa jasa-jasa dari mediator akan digunakan dalam upaya
pemecahan masalah.
6. Arbitrase (arbitration): dua pihak yang besengketa sepakat untuk meminta
perantara pihak ketiga, arbitrator, dan sejak semula telah setuju bahwa mereka
akan menerima keputusan dari arbitrator itu.
7. Peradilan (adjudication): pihak ketiga mempunyai wewenang untuk
mencampuri pemecahan masalah, lepas dari keinginan para pihak yang
bersengketa. Pihak ketiga juga berhak membuat keputusan itu artinya
berupaya bahwa keputusan dilaksanakan.
Sementara itu menurut Suparlan (1999), untuk dapat menghentikan konflik
adalah adanya suatu pranata organisasi yang dipercaya dengan melibatkan partisipasi
masyarkat agar dapat menjaga dan mengawasi dinamika hubungan antar kelompok.
Selain itu membuka jalur komunikasi yang dapat mengakomodasi atau meredam
perbedaan-perbedaan dan pertentangan-pertentangan yang terjadi. Sebagai gejala
sosial, konflik akan selalu ada pada setiap masyarakat, karena antagonisme atau
perbedaan menjadi ciri dan penunjang terbentuknya masyarakat.” Karl Marx, (1986)
Menyebutkan perbedaan-perbedaan sosial tidak mungkin bisa dihindari, tidak
mungkin ada lapisan atas jika tidak ada lapisan bawah dan menengah. Seseorang pasti
akan menghadapi masalah dalam mengambil pilihan, keinginan, dan kepentingannya.
Pengambilan pilihan itu tergantung pada norma, realitas berpikir, dan argumentasi
rasional maupun irrasional. Manusia ada yang mengambil pilihan itu secara tepat dan
kesalahan pengambilan keputusan akan membawa akibat pada perjalanan hidup
manusia. Apalagi kesalahan pengambilan keputusan untuk berperilaku dengan orang
lain atau kelompoknya, kemampuan seseorang untuk beradaptasi terhadap lingkungan
menjadi faktor yang sangat penting untuk dapat mempertahankan kelangsungan
hidupnya.
Konflik antar kelompok juga sangat ditentukann oleh bangunan nilai dan
penggunaan simbol yang berbeda antar kelompok tersebut sehingga menimbulkan
penafsiran yang berbeda untuk menghargai atau dihargai. Banyak hal yang
menyebabkan terjadinya konflik. Konflik dapat terjadi karena perebutan suatu tujuan,
dan tujuan itu bervariasi mulai dari perebutan sumber daya alam sampai hal-hal
sederhana dan remeh yang dianggap bernilai tinggi (Sihbudi, 2001).
Sekalipun bermacam-macam nama dan sebutan serta asal mula terbentuknya
satuan-satuan organisasi kewarganegaraan kesatuan masyarakat hukum, namun
azaznya atau landasan hukumnya hampir sama untuk seluruh indonesia. Yaitu
berlandaskan pada adat, kebiasaan dan hukum adat. dengan demikian dapatlah secara
umum ditemukan suatu pengertian atau batasan tentang desa atau yang semacam
dengan sebagai berikut. Desa adalah suatu kesatuan masyarakat adat dan hukum adat
yang menetap disuatu wilayah yang tertentu batas-batasnya, memiliki ikatan lahir dan
bathin yang sangat kuat, baik karena seketurunan maupun karena sama-sama memiliki
kepentingan politik, ekonomi, sosial dan keamanan : memiliki susunan pengurusan
yang dipilih bersama, memiliki kekayaan dalam jumlah tertentu dan berhak
menyelenggarakan urusan rumah tangganya sendiri. (R. H. Unang Sunardjo, 1984).
Pada mulanya istilah desa dipakai didaerah Jawa, Madura, dan Bali. Secara
etimologis kata desa berasal dari bahasa sansekerta, yaitu swa-desi. Yang artinya
hidup bersama yang mempunyai kesatuanhubungan organisasi, serta batas geografis
tertentu. (Kusnaedi, 1995). Suatu persekutuan hidup yang setingkat desa ditiap daerah
berbeda-beda. Misalnya di sumsel disebut dusun, maluku disebut dati, dibatak toba
disebut huta, diaceh dikenal dengan istilah gampung dab meunasah, minagkabau
disebut nagari atau luha minahasa disebut wama, kalimantan adalah udik, dibugis
dikenal matowa, makassar yaitu gaukang, dan masih banyak istilah yang lainnya.
Desa memiliki pemerintahannya yaitu pemerintahan desa. Yang dipimpin oleh
kepala desa. Kades sebagai penyelenggara pemerintahan desa kedudukannya sebagai
alat pemerintah daerah terendah langsung dibawah camat. Tugas kades adalah
menjalankan rumah tangga desanya sendiri, menjalankan urusan pemerintahan ,
melaksanakan program pembangunan baik yang berasal dari pemerintah pusat
maupun pemerintah daerah. Penyelenggara pemerintah termasuk didalamnya
pembinaan ketenteraman dan ketertiban diwilayah desa. Tugas lainnya antara lain
mengembangkan semangat gotong royong masyarakat dalam melaksanakan
pemerintahan dan pembangunan desa.
Fungsi kades :
1. Melaksanakan kegiatan rumah tangga desanya sendiri.
2. Menggerakkan partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan wilayahnya
3. Melaksanakan tugas dari pemerintah
4. Membina ketenteraman serta ketertiban masyarakat desa
5. Melaksanakan kordinasi dalam menjalankan pemerintahan, pembangunan, dan
pembinaan kehidupan masyarakat desa. Kepala desa dibantu oleh sekdes, kadus,
kepala urusan masing-masing seksi, LKMD (Lembaga Kesejahteraan Masyarakat
Menurut webster (1966), istilah conflict didalam bahasa aslinya berarti suatu
perkelahian peperangan atau perjuangan. Yaitu berupa konfrontasi fisik antara
beberapa pihak. Tetapi arti kata itu berkembang dengan masuknya ketidaksepakatan
yang tajam atau oposisi atas berbagai kepentingan, ide dll. Defenisi webster yang
kedua konflik berarti persepsi mengenai perbedaan kepentingan (perceived
divergence of interest), atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang
berkonflik tidak dapat dicapai secara simultan. Charles Darwin, Sigmund Freud dan
Karl Marx (1986) dalam teori konflik sosial menyatakan beberapa fungsi positif
konflik. Pertama, konflik adalah persamain yang subur bagi terjadinya perubahan
sosial. Kedua, konflik tersebut menfasilitasi tercapainya rekonsiliasi atas berbagai
kepentingan. Ketiga, konflik dapat mempererat persatuan kelompok. Konflik adalah
persepsi mengenai perbedaan kepentingan-kepentingan adalah perasaan orang
mengenai apa yang sesungguhnya yang inginkan. Perasaan itu cenderung bersifat
sentral dalam pikiran dan tindakan orang yang membentuk inti dari banyak sikap,
tujuan, dan niat (intensinya). (Raven dan Rubin, 1983).
Manusia adalah makhluk politik yang selalu menjalankan
kekuasaan-kekuasaannya melalui hubungan-hubungan sosialnya dan selalu berusaha
mempengaruhi yang lain. (Aristoteles, 1986: 1). Maka demikian juga halnya dalam
aktifitas lainnya tidak terlepas dari kepentingan-kepentingan, kekuasaan-kekuasaan
dalam rangka politik. Untuk mengetahui perilaku-perilaku politik beberapa
pendekatan yang sering digunakan, namun yang lebih relevan adalah
struktural-fungsionalis.
Hubungan-hubungan politik adalah hubungan-hubungan melalui apa
orang-orang atau kelompok-kelompok menjalankan kekuasaan atau kewenangan untuk
didalam hubungan-hubungan sosial terdapat hubungan politik yang bersamaan.
Adanya gejala-gejala sosial sebagai tanda-tanda adanya konflik menurut struktural
fungsionalis didorong oleh kehadiran persaingan dalam masyarakat. Individu
bersaing untuk mendapatkan akses kejenjang status peranan yang lebih tinggi
karena prestise yang terdapat disana, dan yang juga yang penting, ganjaran materi
dan lainnya yang lebih besar. Sekurang-kurangnya dalam masyarakat demokratis,
persaingan ini relatif terbuka, karena orang memiliki kesempatan yang masuk akal
untuk melakukan yang terbaik bagi mereka. Tatanan yang demikian itu fungsionalis
dalam hal tatanan tersebut akhirnya melayani kebutuhan individu untuk mencapai
sesuatu dan memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mengisi posisi-posisi penting
dengan orang-orang yang berkompeten. Pernyataan ini menegaskan
masalah-masalah dan persoalan yang timbul dalam masyarakat disebabkan oleh
persaingan yang terbuka khususnya dalam masyarakat tradisional yang
demokratis. Kesimpulan yang dibangun oleh Parson dan struktural-fungsionalis
lainnya adalah bahwa penggunaan kekuasaan secara kekerasan itu sendiri justru
dapat menimbulkan gejolak atau kekacauan. Jadi untuk memahami bagaimana
masyarakat yang stabil itu bisa tercapai, kita harus mencari sumber keteraturan sosial
di tempat lain (Parson, 1953).
Berdasarkan perda No 13/2006
Syarat Calon Kades :
1. Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Usia minimal 25 tahun
3. Sekurang-kurangnya 2 tahun berturut-turut
penduduk desa setempat
5. Belum pernah jabat kades atau baru sekali
6. TNI/Polri/PNS, asal dapat izin atasannya
Syarat Pemilih :
1. Terdaftar sebagai penduduk dengan minimal 6 bulan
2. Usia 17 tahun
3. Tak dicabut hak pilihnya
4. Tak Boleh diwakilkan saat menyoblos
Pemilihan kepala desa merupakan praktek demokrasi di daerah pedesaan yang
menyangkut aspek legitimasi kekuasaan dan aspek penentuan kekuasaan sehingga
akan mengundang kompetisi dari golongan minoritas untuk merebut jabatan kepala
desa Untuk mendapatkan jabatan kepala desa tersebut di butuhkan partisipasi aktif
dari masyarakat yang pada hakekatnya merupakan suatu kewajiban pada masyarakat
itu sendiri dalam pemilihan kepala dasa.Mengingat fungsi Apaparatur Pemerintahan
Desa yang sangat menentukan maka calon kepala desa yang terpilih seharusnya bukan
saja sekedar seorang yang mendapat suara terbanyak dalam pemilihan, akan tetapi
disamping memenuhi syarat yang cukup dan dapat di terima dengan baik oleh
masyarakat juga mampu melaksanakan tugas pemerintahan, pembangunan sebagai
pembina masyarakat serta berjiwa panutan dan suri tauladan bagi warga desanya,
Untuk itu harus benar-benar seorang pancasialis sejati yang penuh dedikasi dan
loyalitas yang cukup tinggi. Sebelum menjadi kepala desa, kepala desa dipilih secara
langsung, umum, bebas dan rahasia, oleh penduduk desa warga negara Republik
Indonesia yang terdaftar sebagai penduduk desa setempat, sudah mencapai umur 17
tahun atau sudah pernah kawin, tidak dicabut hak pilihnya dan terdaftar dalam daftar
meliputi tahap persiapan pelaksanaan pemilihan (pembentukan panitia) tahap
pendaftaran calon kepala desa, tahap penyeleksian calon kepala desa, tahap
pemungutan suara dan tahap pengesahan (pelantikan calon kepala desa yang terpilih)
Adapun teknik yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut,
yaitu teknik wawancara teknik observasi teknik angket dan teknik kepustakaan.
Setelah data dikumpulkan dengan menggunakan teknik-teknik diatas selanjutnya
dilakukan dengan pengolahan data, dalam rangka untuk melihat dan memeriksa
kesempurnaannya. Selanjutnya akhir dari kegiatan ini adalah penarikan kesimpulan.
Proses pemilihan kepala desa Ngasinan Kecamatan Jetis Kabupaten Daerah tingkat II
Ponorogo pada dasarnya telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Karena
tahap-tahap yang ada telah dilaksanakan berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan sesuai pula dengan asas atau prinsip
Demokrasi Pancasila yang bersifat LUBER. Namun demikian dalam pemilihan kepala
Desa Ngasinan Kecamatan Jetis Kabupaten Daerah Tingkat II Ponorogo, terdapat pula
suatu penyimpangan-penyimpangan atau praktek-praktek yang tidak sesuai dengan
Undang-Undang dan peraturan yang berlaku. (sumber :
www1.surya.co.id/v2/?p=9377)
Masyarakat demokratis dalam hal ini sangat rentan dengan konflik atau
persoalan-persoalan politik dalam persaingan terbuka untuk mencapai status yang
lebih tinggi yaitu kedudukan kekuasaan dan kepentingan. Studi tentang demokrasi
sebagai sistem politik tidak dapat dilepaskan dari studi tentang hukum sebab antara
keduanya dapat diibaratkan dua sisi dari sekeping mata uang. Demokrasi tanpa
hukum tidak akan terbangun dengan baik bahkan mungkin menimbulkan anarki,
sebaliknya hokum tanpa sistem politik yang demokratis hanya akan menjadi
dari gagasan tentang demokrasi tentu harus dituangkan didalam aturan-aturan
hukum dan kepada aturan-aturan hukum itulah setiap konflik dalam berdemokrasi
harus dicarikan rujukannya. (1999 : 1).
Sedikit dikaji mengenai sistem politik di Indonesia sebenarnya kenyataan
bahwa meskipun sejak semula bangsa kita mendirikan negara Indonesia diatas prinsip
demokrasi namun dalam aktualisasinya tidak selamanya negara kita berlangsung
demokratis. Bahkan tidak kurang dari 37 tahun dari sejarah perjalanannya yang
sudah berusia hampir 55 tahun ternyata indonesia terselenggara secara tidak
demokratis. Pewadahan hukum atas pilar-pilar demokrasi juga tidaklah responsif
karena selalu memberi peluang bagi terjadinya kooptasi negara dan tampilnya
pemerintahan yang otoriter. Itulah sebabnya era reformasi ini harus dipandang sebagai
momentum untuk melakukan pembenahan-pembenahan secara mendasar dalam
bidang politik dan hukum dengan meletakkan hukum pada posisi yang supreme. tanpa
demokratisasi dalam kehidupan politik yang kemudian pilar-pilarnya diwadahi
dengan hukum yang responsif maka krisis akan selalu datang. Para pecinta hukum
senantiasa meyakini bahwa jika pemerintah otoriter dan hukum tidak lagi supreme
maka krisis akan terus datang. (Moh. Mahmud, 1999 : 3-4). yang artinya sistem
politik yang demikian yang terjadi di daerah pemerintahan seluruh Indonesia,
termasuk daerah pemerintahan terkecil yaitu Desa yang masih bersifat trasidisional.
Keadaan ini menggambarkan persoalan-persoalan dan bahkan konflik sosial yang
terjadi dilatarbelakangi oleh sistem politik desa yang masih mengikuti sistem yang
berlaku di Indonesia secara umum.
Menurut
bahwa Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah
berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam
sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kewenangan desa adalah:
Menyelenggarakan urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asal usul
desa Menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan
kabupaten/kota yang diserahkan pengaturannya kepada desa, yakni urusan
pemerintahan yang secara langsung dapat meningkatkan pelayanan masyarakat.
Tugas pembantuan dari Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota Urusan
pemerintahan lainnya yang diserahkan kepada desa. Desa, atau udik, menurut definisi
universal, adalah sebuah aglomerasi permukiman di area pedesaan (rural). Di
Istilah desa dapat disebut dengan nama lain, misalnya d
dengan istilah
dengan istila
dengan nama lain sesuai dengan karakteristik adat istiadat desa tersebut.
Pemilihan Kepala Desa Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa :
1. BPD memproses pemilihan kepala desa, paling lama 4 (empat) bulan sebelum
berakhirnya masa jabatan kepala desa.
2. Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk desa dari calon yang memenuhi
syarat; Pemilihan Kepala Desa bersifat langsung, umum, bebas, rahasia, jujur
dan adil; Pemilihan Kepala Desa dilaksanakan melalui tahap pencalonan dan
3. Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala Desa, BPD membentuk Panitia
Pemilihan yang terdiri dari unsur perangkat desa, pengurus lembaga
kemasyarakatan, dan tokoh masyarakat.Panitia pemilihan melakukan
pemeriksaan identitas bakal calon berdasarkan persyaratan yang ditentukan,
melaksanakan peinungutan suara, dan melaporkan pelaksanaan pemilihan
Kepala Desa kepada BPD.
4. Panitia pemilihan melaksanakan penjaringan dan penyaringan Bakal Calon
Kepala Den sesuai persyaratan;Bakal Calon Kepala Desa yang telah
memenuhi persyaratan ditetapkan sebagai Calon Kepala Desa oleh Panitia
Pemilihan.
5. Calon Kepala Desa yang berhak dipilih diumumkan kepada masyarakat
ditempat-tempat yang terbuka sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat
setempat.
6. Calon Kepala Desa dapat, melakukan kampanye sesuai dengan kondisi sosial
budaya masyarakat setempat; Calon Kepala Desa yang dinyatakan terpilih
adalah calon yang mendapatkan dukungan suara terbanyak; Panitia Pemilihan
Kepala Desa melaporkan hash pemilihan Kepala Desa kepada BPD; Calon
Kepala Desa Terpilih sebagaimana dirnaksud pada ayat; ditetapkan dengan
Keputusan BPD berdasarkan Laporan dan Berita Acara Pemilihan dari Panitia
Pemilihan.
7. Calon Kepala Desa Terpilih disampaikan oleh BPD kepada Bupati/Walikota
melalui Camat untuk disahkan menjadi Kepala Desa Terpilih.
8. Bupati/Walikota menerbitkan Keputusan Bupati/ Walikota tentang
Pengesahan Pengangkatan Kepala Desa Terpilih paling lama 15 (lima belas)
9. Kepala Desa Terpilih dilantik oleh Bupati/Walikota paling lama 15 (lima
belas) hari terhitung tanggal penerbitan keputusan Bupati/Walikota.
10. Masa jabatan Kepala Desa adalah 6 (enam) tahun terhitung sejak tanggal
pelantikan dan dapat dipilih kembali hanya untuk sate kali masa jabatan
berikutnya.
Diperoleh dar
Kepala Desa merupakan pimpinan penyelenggaraan pemerintahan desa
berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersam
(BPD). Masa jabatan Kepala Desa adalah 6 tahun, dan dapat diperpanjang lagi untuk
satu kali masa jabatan. Kepala Desa juga memiliki wewenang menetapkan
Kepala Desa dipilih langsung melalu
penduduk desa setempat. Desa merupakan satu kesatuan wilayah terkecil dalam suatu
negara yang terdiri dari beberapa dusun yang mana didalamnya terdapat masyarakat
yang tinggal menetap dan saling berinteraksi satu sama yang lain dengan
pemerintahannya yang dipimpin oleh seorang kepala desa. (sosiologi 1997). Nama
desa untuk setiap daerah berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya sesuai dengan
etnis masing-masing. Misalnya saja pada masyarakat batak toba desa itu disebut
dengan huta. Demikian juga halnya dengan masyarakat yang lain menyebutnya sesuai
dengan bahasanya masing-masing.
Berdasarkan undang-undang nomor 5 tahun 1979 pemerintahan desa terdiri atas :
1. Kepala Desa
Pemerintahan Desa dalam pelaksanaan tugasnya dibantu oleh perangkat desa,
yang mana perangkat desa terdiri atas :
1. Sekretaris Desa (sekdes)
2. Kepala-kepala dusun
Susunan organisasi dan tata kerja pemerintahan desa diatur dengan Peraturan
Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. Yang
masing-masing pejabat dan perangkat pembantu mempunyai kedudukan, tugas dan
fungsinya masing-masing. Kedudukan kepala desa adalah sebagai alat pemerintah,
alat pemerintah daerah dan alat pemerintah desa. Disamping itu kepala desa juga
bertugas untuk menjalankan urusan rumah tangganya, urusan pemerintah, pembinaan
masyarakat, dan mengembangkan semangat jiwa gotong royong. Adapun fungsinya
kepala desa untuk megatur kegiatan dalam rumah tangganya sendiri, menggerakkan
partisipasi masyarakat, melaksanakan tugas dari pemerintah diatasnya, keamanan dan
ketertiban masyarakat serta melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh
pemerintah diatasnya.
(Joko siswanto, Administrasi Pemerintahan Desa, 1995) menguraikan
pelaksanaan pemilihan sebagai berikut ; Setelah tugas-tugas awal diselesaikan oleh
panitia dan telah menentukan tempat hari pemelihan, tujuh hari sebelum pemilihan
dilaksanakan, panitia pencalonan dan pelaksanaan pemilihan memberitahukan kepada
penduduk desa yang berhak memilih dan mengadakan pengumuman-pengumuman di
tempat terbuka tentang akan dilaksanakannya pemilihan kepala desa.
Pemilihan harus bersifat langsung, umum, bebas, dan rahasia. Pelaksanaan
demokrasi Pancasila harus dijaga dan dijamin. Pemilihan Kepala Desa dinyatakan sah
apabila junlah yang hadir untuk menggunakan hak pilihnya sekurang-kurangnya 2/3
I.5. Metode Penelitian
I.5.1. Tipe penelitian
Tipe atau jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan
pendekatan kualitatif. Dalam hal ini penulis akan berusaha untuk menggali data dan
informasi terkait dari berbagai sumber untuk dapat menggambarkan konflik pilkades
dan penyelesaiannya yang terjadi di Desa Sosorgontig Kabupaten Humbahas. Di
samping itu penelitian kualitatif akan dilengkapi dengan data kuantitatif dimaksudkan
untuk memperjelas, mendukung data yang ada. Data kuantitatif itu lebih cenderung
pada data-data statistik berupa pengambilan data arsip seperti demografi, junlah
penduduk, usia, tingkat pendidikan, pola pemukiman, dan juga data yang lain.
Sementara itu data kualitatif dikumpulakan melalui wawancara, observasi, menggali
berbagai sumber seperti dokumen terkait. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan
dibawah ini :
1.5.2. Tehnik pengumpulan data
Pengumpulan data lapangan dilakukan melalui wawancara mendalam, atas dasar
pertanyaan yang telah dibuat sebelumnya. Untuk memperoleh data-data dan informasi
sesuai dengan tipe penelitian yang digunakan, maka adapun tehnik untuk
mengumpulkan data-data dilapangan antara lain :
a. Tehnik observasi Partisipasi
Menggunakan tehnik ini dimaksudkan untuk mengamati langsung dan ikut
terlibat saat berlangsungnya pemilihan maupun sesudah selesainya pilkades. Menurut
tempat, pelaku, dan aktifitas. Untuk melakukan pengamatan terlibat peneliti harus
mengalokasikan diri kedalam salah satu tempat, melihat pelaku-pelaku antara satu
dengan yang lainnya dan menjadi bagian dari mereka, serta mengamati dan
berpartisipasi terlibat dalam aktifitas. Maka secara langsung dapat dilihat
tindakan-tindakan masyarakat yang berkaitan dengan pilkades tersebut. Pada saat sebelum
dilaksanakannya pilkades misalnya apakah ada yang membentuk kelompok-kelompok
ataupun tindakan-tindakan yang dapat menarik perhatian anggota masyarakat. Dan
yang paling penting adalah ikut terlibat pada saat berlangsungnya pemungutan suara
ataupun puncaknya pesta demokrasi desa. Sehingga dapat mengetahui situasi
pemilihan tersebut. Demikian juga halnya setelah selesainya kegiatan tersebut perlu
diamati kesiapan pihak yang gagal untuk menerima kekalahan, atau melakukan
serangan susulan karena tidak mampu menerima keadaan. Hal inilah yang perlu
diamati ditengah-tengah masyarakat.
b. Tehnik wawancara
Wawancara (interview) merupakan cara yang digunakan seseorang untuk tujuan
penelitian guna mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seorang
responden atau informan dengan bercakap-cakap, berhadapan muka dengan orang
yang diwawancarai. tehnik ini digunakan untuk memperoleh informasi bagaimana
hubungan antara satu dengan yang lain. Bagaimana konsep masyarakat tentang
pilkades dan pelaksanaannya. Mencari jawaban mengenai pelaksanaan pilkades pada
periode-periode sebelumnya dan membandingkan dengan yang sedang belangsung.
Untuk mendukung pengumpulan data yang akurat, penulis sudah melihat dan
mengalami secara langsung keadaan masyarakat Desa Sosor Mangulahi yaitu dua hari
menjelang pilkades. Pengalaman di lapangan memang cukup bermanfaat dalam
memperkaya data dan lebih terpercaya. Pada saat berlangsungnya pilkades tersebut
penulis juga ikut terlibat didalamnya, sehingga segala sesuatunya yang terjadi benar
diamati bukan rekayasa. Untuk lebih lengkapnya penulis akan mencatat pengalaman
tersebut untuk memperkaya dan keperluan data yang lebih lengkap.
d. Dokumen
Demi kelengkapan informasi dan data yang akurat, peneliti akan mencari
sumber atau referensi pendukung lainnya. baik sumber tertulis maupun sumber
lainnya. seperti : koran, buku, majalah, jurnal, artikel, kaset, internet, skripsi lain,
data-data desa bersangkutan, maupun sumber lain yang berkaitan dengan konflik
sosial, penyelesaiannya dan pemilihan kepala desa.
e. Interview Guide
Untuk melengkapi data dan informasi yang diperoleh dari hasil observasi,
interview, dokumen maka perlu pembuatan daftar pertanyaaan yang relevan dengan
objek penelitian. Disamping itu interview guide juga penting untuk memandu dan
sebagai pedoman bagi peneliti dilapangan. Sehingga penelitian yang dilakukan tidak
menyimpang dari objek . Atau setidaknya mengingatkan peneliti untuk membatasi
pertanyaan-pertanyaan penelitian.
Informan adalah seseorang yang diwawancarai dan diharapkan memberikan
keterangan atau informasi mengenai hal-hal yang ingin diketahui si peneliti. Informan
ini untuk menjawab permasalahan penelitian ini seperti yang telah dijelaskan diatas
adalah masyarakat desa yang benar-benar tinggal menetap. Informan kunci dalam
penelitian adalah warga yang mempunyai hak suara dan ikut untuk memilih (Amri
Simamora 45 Tahun)
. Untuk mendapatkan karakteristik informan kunci selanjutnya akan digunakan
tehnik snowball yaitu tehnik yang digunakan secara berjenjang dari informan kunci
yang pertama berlanjut keinforman kedua, informan kedua menentuskan informan
ketiga dan seterusnya. Dan akan berhenti jika data dan informasi yang diperoleh
sudah cukup. Dari tehnik ini akan menghadirkan informan pangkal, pokok, maupun
biasa yang juga akan diwawancarai dengan sifat kondisional pada praktek penelitian.
Informan pangkal adalah orang yang mempunyai pengetahuan luas mengenai
berbagai masalah yang ada dalam suatu komunitas atau masyarakat. Informan pangkal
dalam penelitian ini adalah kepala desa. Baik kepala desa yang lama ataupun kepala
desa terpilih (Sukri57 Tahun). Karena mungkin mereka sudah lebih mengetahui apa
yang terjadi di desatersebut.
Informan pokok adalah orang yang mempunyai keahlian mengenai suatu
masalah yang ada dalam suatu masyarakat tertentu dan yang menjadi perhatian
penelitian. Dalam hal ini yang menjadi informan pokok adalah pengetua adat
(Gomgom Purba 46 Thn). Karena dianggap mereka lebih mengerti dan memahami
keberadaan adat dalam kaitannya dengan pemilihan kepala desa.
Informan biasa merupakan orang yang memberikan informasi mengenai suatu
masalah sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya tapi bukan ahlinya. Jadi secara
yang lama dan juga pengetua-pengetua adat, mewakili masyarakat peserta pemilih.
Panitia pilkades, perangkat desa serta anggota warga yang lainnya. Tentunya arah
pertanyaannya adalah untuk mengetahui hubungan-hubungan sosial, interaksi sosial
dikalangan masyarakat desa. Apakah masih terjaga atau mengalami perubahan.
Bagaimana hubungan pihak yang terpilih dengan pihak yang kalah juga penting.
I.6. Tehnik Analisa Data
Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif, yang berusaha untuk
menyelidiki kenyataan yang telah terjadi sebagaimana adanya, tanpa ada manipulasi
perlakuan atau subyek, Fokusnya diarahkan untuk mencari hubungan sebab-sebab
Data yang dikumpulkan pertama-tama dilakukan klasifikasi, kategorisasi, dan
anlisis perbandingan, untuk melihat masalah sosial, ekonomi, budaya, dan politik.
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola,
kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat
dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong, 2005 : 280).
Data dan informasi yang telah diperoleh dari lapangan nantinya akan diteliti kembali,
hal ini untuk melihat kelengkapan hasil interview atau observasi, dokumen dan
kesesuainnya dengan interview guide serta kesesuaian jawaban yang satu dengan
yang lainnya. Setelah itu akan disusun secara sistematis dan dikelompokkan
berdasarkan kategori atau item-item masalah yang ditetapkan, baik itu tentang
konsepsi, pengetahuan atau secara umum hal-hal yang berkaitan dengan konflik
pilkades dan juga penyelesaiannya. Pengaturan data-data yang telah diperoleh
merupakan hal yang sangat penting untuk membantu dan mempermudah nantinya.
Disamping itu peneliti peneliti juga akan berusaha memperoleh suatu gambaran
menyeluruh dari data-data dan informasi yang sudah dikumpulkan. Gambaran
menyeluruh ini sangat penting dalam usaha menempatkan semua data dalam
kategori-kategori serta dapat menghindarkan bahwa data-data dipaksakan dalam kategori-kategori
tertentu. Disamping itu gambaran tersebut juga dapat menghasilkan pedoman
klasifikasi. Analisa yang dilakukan secara kualitatif, serta terakhir adalah pendesainan
penulisan sehingga menghasilkan sebuah karya ilmiah yang saling berkaitan dan
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
II.1.
Sejarah Desa Sosor Mangulahi
Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang mengenal daerahnya. Mengenal
Hal inilah yang tercermin pada masyarakat Desa Sosor Mangulahi. Sebagian besar
mereka mengetahui tentang sejarah Huta (Desa) mereka. Ketika penulis melakukan
wawancara, kecintaan masyarakat terhadap daerahnya tergambar dari pengetahuan
terhadap daerah itu sendiri, walaupun dokumen tertulis tentang sejarah desa tidak ada
untuk saat ini.
Tidak ada dokumen tertulis tentang sejarah berdirinya Desa Sosor Mangulahi yang
berada di Kabupaten Humbang Hasundutan ini. Penulis memperoleh informasi terkait
dari hasil wawancara (interview) dengan orang-orang yang dianggap lebih
mengetahui hal tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Desa, Pengetua
Adat, Pengurus Gereja, orang yang paling tua dan juga warga desa : informasi yang
diperoleh saling berkaitan dan hampir sama antara satu dengan yang lainnya. Penulis
merangkumnya menjadi satu rangkaian sejarah tanpa menghilangkan satupun
informasi yang ada.
Pertama sekalinya Desa Sosor Mangulahi dihuni oleh Nenek Moyang Marga
Purba. Nenek Moyang Marga Purba yang awalnya berdomisili di Bakara tepatnya
berada di Sebelah Timur Desa Sosor Mangulahi. Dalam mempertahankan
kelangsungan hidupnya, nenek moyang marga purba berpindah dari Bakara dengan
menaiki perbukitan ke sebelah Barat. Tanah yang berbatu-batu dan kurang subur,
sehingga mereka kesulitan mencari nafkah dengan bercocok tanam di Bakara menjadi
alasan untuk mencari daerah yang lebih subur. Bercocok tanam sebagai keahlian
mereka sekaligus usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup tentunya tidak
terlepas dari lahan yang subur. Setelah seharian menaiki perbukitan, mereka
menemukan sebuah daerah yang mereka anggap tanahnya cukup subur dan
mendukung untuk bercocok tanam. Tidak lama kemudian, lahan pun dibuka dengan
Kesuburan daerah ini, menjadi faktor penarik terhadap pendatang yang lain termasuk
Nenek Moyang Marga Manalu Dari Desa Indah. Nenek Moyang Marga manalu juga
melakukan hal yang sama dengan marga Purba. Kedua marga ini setelah berusaha
memperoleh hasil dari bercocok tanamnya cukup memuaskan.
Keberhasilan mereka dalam bercocok tanam akhirnya menarik perhatian nenek
moyang dari marga Simamora, yang juga mengikuti jejak kedua marga tersebut.
Seiring dengan berjalannya waktu, pertanian mereka semakin berkembang dan
menimbulkan persaingan diantara mereka. Tidak ingin direbut oleh pendatang baru,
mereka pun menamai daerah yang subur tersebut dan membuat batas-batasnya. Proses
pembuatan nama daerah yang cukup kaya tersebut, mereka dasarkan dengan kondisi
alamnya. Dengan melakukan pemantauan terhadap seluruh daerahnya akhirnya nama
daerah tersebut berhasil ditemukan. Sosor Mangulahi adalah nama yang sangat tepat
dan sesuai dengan kondisi geografisnya. Sosor Mangulahi berasal dari dua kata ; sosor
dan gattung. Sosor dan gattung berasal dari Bahasa Batak Toba mempunyai arti yang
berkaitan satu dengan yang lain.
Sosor artinya daerah yang jauh dari keramaian, tersembunyi, sulit terpengaruh daerah luasnya dan tidak begitu luas.
Gattung artinya daerah yang didalamnya terdapat jurang-jurang, permukaannya tidak merata namun berbukit-bukit, dan ditumbuhi pepohonan yang cukup lebat.
Sosorgattung berubah menjadi Sosor Mangulahi karena mereka menganggap gonting
lebih tepat dibandingkan dengan gattung. Apabila didefenisikan kedua kata tersebut
maka Sosor Mangulahi artinya : daerah perkampungan yang tersembunyi dari
keramaian sehingga sulit terpengaruh oleh perkampungan atau daerah lain, kondisi
permukaannya tidak merata karena banyak ditemui jurang, perbukitan, persawahan
Pada akhirnya daerah tersebut bernama Desa Sosor Mangulahi (Huta Sosor
M