BAB II LANDASAN TEORI
B. Kualitas Kehidupan Bekerja
1. Definisi Kualitas Kehidupan Bekerja
Walton (dalam Kossen, 1986) mengatakan bahwa kualitas kehidupan
bekerja adalah persepsi pekerja terhadap suasana dan pengalaman pekerja di
tempat kerja mereka. Stewart (2007) menyatakan bahwa kualitas kehidupan
bekerja menyangkut persepsi karyawan bahwa mereka ingin merasa aman, secara
relatif merasa puas dan memperoleh kesempatan pertumbuhan. Kualitas
kehidupan bekerja merupakan filosofi manajemen yang bertujuan meningkatkan
martabat karyawan, memperkenalkan perubahan budaya, memberikan kesempatan
pertumbuhan dan pengembangan (Gibson, 2003). Menurut Lau dan May (1998)
kualitas kehidupan bekerja didefinisikan sebagai strategi tempat kerja yang
mendukung dan memelihara kepuasan karyawan dengan tujuan untuk
meningkatkan kondisi kerja karyawan dan organisasi serta keuntungan untuk
pemberi kerja.
Kualitas kehidupan bekerja merupakan pendekatan manajemen yang terus
menerus diarahkan pada peningkatan kualitas kerja. Kualitas yang dimaksud
adalah kemampuan menghasilkan barang dan jasa yang dipasarkan dan cara
memberikan pelayanan yang terus menerus disesuaikan dengan kebutuhan
berhasil merebut pasar. Program kualitas kehidupan bekerja pada dasarnya
mencari cara untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan menciptakan pekerjaan
yang lebih baik atau tercapainya kinerja yang tinggi (Gitosudarmo, 2000). Dengan
demikian peran penting kualitas kehidupan bekerja adalah mengubah iklim kerja
agar organisasi secara teknis dan manusiawi membawa kepada kualitas kerja yang
lebih baik.
Berdasarkan definisi yang telah diuraikan tersebut, dapat ditarik kesimpulan
bahwa kualitas kehidupan kerja adalah persepsi pekerja mengenai kesejahteraan,
suasana dan pengalaman pekerja di tempat kerja, yang mengacu kepada
bagaimana efektifnya lingkungan pekerjaan memenuhi keperluan-keperluan
pribadi pekerja.
2. Aspek-Aspek Kualitas Kehidupan Bekerja
Walton (dalam Kossen, 1986) mengatakan bahwa kualitas kehidupan
bekerja adalah persepsi pekerja terhadap suasana dan pengalaman pekerja di
tempat kerja mereka. Suasana pekerjaan yang dimaksudkan adalah berdasarkan
kepada delapan kriteria, yaitu:
a. Kompensasi yang mencukupi dan adil
Gaji yang diterima oleh individu dari kerjanya dapat memenuhi standar gaji
yang diterima umum, cukup untuk membiayai suatu tingkat hidup yang layak dan
mempunyai perbandingan yang sama dengan gaji yang diterima orang-orang lain
b. Kondisi-kondisi kerja yang aman dan sehat
Individu tidak ditempatkan kepada keadaan yang dapat membahayakan fisik
dan kesehatan mereka, waktu kerja mereka juga sesuai dengan jadwal yang telah
ditetapkan. Begitu juga umur adalah sesuai dengan tugas yang
dipertanggungjawabkan kepada mereka. Kondisi lingkungan kerja diupayakan
relatif bebas dari resiko yang dapat membahayakan karyawan dari hal-hal yang
menyebabkan cedera dan penyakit lainnya dimasa datang
c. Kesempatan untuk mengembangkan dan menggunakan kapasitas manusia
Mengacu pada hubungan antara pekerjaan dengan harga diri karyawan,
dimana memungkinkan karyawan untuk menggunakan dan mengembangkan
keahlian dan pengetahuannya. Pekerja diberi autonomi, kerja yang mereka
lakukan memerlukan berbagai kemahiran, mereka juga diberi tujuan dan
perspektif yang diperlukan tentang tugas yang akan mereka lakukan. Pekerja juga
diberikan kebebasan bertindak dalam menjalankan tugas yang diberikan dan
diberikan kesempatan untuk terlibat dalam pembuatan keputusan yang terkait
dengan pekerjaannya dan lingkungan kerjanya.
d. Peluang untuk pertumbuhan dan mendapatkan jaminan
Suatu pekerjaan dapat memberi sumbangan dalam menetapkan dan
mengembangkan kapasitas individu. Kemahiran dan kapasitas individu itu dapat
dikembangkan dan dipergunakan dengan sepenuhnya, selanjutnya peningkatan
peluang kenaikan pangkat dan promosi dapat diperhatikan serta mendapatkan
jaminan terhadap pendapatan.
Individu tidak dilayani dengan sikap curiga, mengutamakan konsep
egalitarianism, adanya mobilitas untuk bergerak ke atas, merasa bagian dari suatu tim, mendapat dukungan dari kelompok-kelompok primer dan terdapat rasa
hubungan kemasyarakatan serta hubungan antara perseorangan.
f. Hak-hak karyawan.
Hak pribadi seorang individu harus dihormati, memberi dukungan
kebebasan bersuara dan terwujudnya pelayanan yang adil.
g. Pekerja dan ruang hidup secara keseluruhan
Kerja juga memberikan dampak positif dan negatif terhadap ruang
kehidupan seseorang. Selain berperan di lingkungan kerja, individu juga
mempunyai peranan di luar tempat kerja seperti sebagai seorang suami atau istri
dan bapak atau ibu yang perlu mempunyai waktu untuk bersama keluarga.
h. Tanggung jawab sosial organisasi
Organisasi mempunyai tanggung jawab sosial. Organisasi haruslah
mementingkan pengguna dan masyarakat secara keseluruhan semasa menjalankan
aktivitasnya. Organisasi yang mengabaikan peranan dan tanggung jawab
sosialnya akan menyebabkan pekerja tidak menghargai pekerjaan mereka.
3. Prinsip Kualitas Kehidupan Bekerja
Kualitas kehidupan bekerja dapat juga didefinisikan dengan beberapa
prinsip kualitas kehidupan bekerja yang penting dalam meningkatkan dan
mengoptimalkan kesejahteran dan martabat karyawan (Ronen, 1981). Prinsip
a. security: bebas ketakutan dan kecemasan yang disebabkan faktor pekerjaan yang berkaitan dengan kesehatan, keamanan, pendapatan dan masa depan
tenaga kerja,
b. equity: penerimaan kompensasi yang setaraf dengan kontribusi yang diberikan karyawan terhadap pekerjaannya,
c. individuation: kondisi yang mengizinkan karyawan dalam mengembangkan kemampuan unik karyawan, otonomi dan pembelajaran, dan
d. democracy: partisipasi karyawan dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan pekerjaannya dan lingkungan kerjanya.
4. Bentuk-Bentuk Kualitas Kehidupan Bekerja
Kualitas kehidupan bekerja mempengaruhi kualitas kehidupan karyawan.
Kualitas kehidupan bekerja merupakan aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh
managemen sumber daya manusia untuk memartabatkan karyawannya dalam
lingkungan kerja (Ronen, 1981). Beberapa aktivitas yang dilakukan oleh
perusahaan untuk memperbaiki kualitas kehidupan bekerja bagi karyawan adalah:
a. Participation
Partisipasi karyawan dalam proses membuat keputusan yang berkaitan
dengan pekerjaannya dan lingkungan kerjanya dapat memperbaiki kualitas
kehidupan bekerjanya. Partisipasi ini ada dua bentuk yaitu partisipasi horizontal
yaitu interaksi karyawan dengan teman sekerja dan tim; dan partisipasi vertical
yaitu keterlibatan dalam membuat keputusan dengan atasan. Kedua partisipasi ini
dapat meningkatkan kualitas kehidupan bekerja karyawan. Tujuannya adalah
otonomi dalam membuat pilihan yang berkaitan dengan lingkungan kerjanya dan
menyesuaikan kepribadiannya dengan tuntutan kerja sebagaimana halnya dengan
menyesuaikan pekerjaannya dengan diluar pekerjaannya.
b. Job redesign
Efektivitas dan efisiensi dalam penyelesesaian tugas dan proses kerja
membutuhkan koordinasi yang tinggi dan kontrol yang kuat terhadap karyawan.
Penelitian sebelumnya menemukan dampaknya terhadap lingkungan kerja seperti
mempengaruhi motivasi karyawan, kepuasan kerja dan performa kerja yang
berimplikasi negatif terhadap organisasi dan menurunkan kualitas kehidupan
bekerja. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya menemukan bahwa mendesain
ulang kerja dalam batasan produksi dapat meningkatkan kualitas kehidupan
bekerja dan mempertahankan atau meningkatkan produktivitas. Tujuannya adalah
untuk menyesuaikan karakteristik pribadi karyawan dengan karakteristik
pekerjaan.
Salah satu bentuk job redesign adalah job enrichment, dimana dengan meningkatkan tanggung jawab karyawan baik dalam perencanaan, pelaksanaan
dan pengontrolan pekerjaan, dan dengan memberikan kesempatan untuk membuat
keputusan tentang metode dan prosedur yang akan dilaksanakan, atau dengan
memberikan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan klien atau
departemen lain, semuanya dapat meningkatkan kualitas kehidupan bekerja.
Dimensi job enrichment mempengaruhi aspek psikologis individu yang kemudian menghasilkan konsekuensi pribadi dan pekerjaan seperti performa kepuasan,
c. Team building
Tim merupakan salah satu bentuk kelompok, dimana setiap anggota
menganut kepribadian kelompok yang ditandai dengan cohesiveness, beliefs, value and norm dan goal. Kerja tim dapat meningkatkan dan memaksimalkan kerjasama anggota tim dan meningkatkan pembelajaran karyawan untuk
mempelajari keahlian karyawan lain terutama cara efisien dalam meningkatkan
produksi.
5. Dampak Kualitas Kehidupan Bekerja
Rhonen (1981) mengatakan bahwa pengukuran kualitas kehidupan bekerja
akan berdampak pada:
a. meningkatkan sikap positif karyawan terhadap pekerjaannya dan terhadap
perusahaan,
b. meningkatkan produktivitas dan motivasi intrinsik karyawan,
c. meningkatkan efektifitas perusahaan dan kompetitif perusahaan dalam
menghadapi bisnis global.