• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Kualitas

2.2.1.1 Pengertian Kualitas

Menurut Joseph Juran yang dikutip dari Prawirosentono, (2002: 5),

pengertian kualitas dikategorikan atas dua sudut pandang yang berbeda,

yaitu: pertama dipandang dari sisi konsumen, kualitas (mutu produk)

berkaitan dengan enaknya barang tersebut digunakan. Artinya, apabila suatu

barang secara layak dan baik digunakan berarti barang tersebut bermutu

baik, dan kedua dipandang dari sisi produsen, mutu suatu produk adalah

keadaan fisik, fungsi, dan sifat suatu produk bersangkutan yang dapat

memenuhi selera dan kebutuhan konsumen dengan memuaskan sesuai

dengan nilai uang yang telah ditetapkan.

Dalam ISO 8402, kualitas didefinisikan sebagai totalitas

karakteristik suatu produk yang menunjang kemampuan produk untuk

memenuhi dan memuaskan keinginan atau kebutuhan yang dispesifikasikan

atau ditetapkan (Gaspersz, 2006: 1).

Menurut The American Sociaty of Quality Control, kualitas adalah

keseluruhan ciri-ciri dan karakteristik dari suatu produk atau layanan

menyangkut kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang telah

ditentukan atau yang bersifat laten (Purnama, 2006: 9).

Dari beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

menunjang kemampuan produk tersebut dalam memenuhi dan memuaskan

selera dan kebutuhan konsumen sesuai dengan nilai uang yang telah

ditetapkan.

2.2.1.2 Jenis Kualitas

Menurut Supriyono (1994: 377), umumnya ada dua jenis mutu yang

diakui yaitu mutu rancangan dan mutu kesesuaian.

1. Mutu rancangan adalah suatu fungsi berbagai spesifikasi produk. Mutu

rancangan yang lebih tinggi biasanya ditunjukkan oleh dua hal yaitu: (1)

tingginya biaya pemanufakturan, dan (2) tingginya harga jualnya.

2. Mutu kesesuaian adalah suatu ukuran mengenai bagaimana suatu produk

memenuhi berbagai persyaratan atau spesifikasi. Jika produk memenuhi

semua spesifikasi rancangan, produk tersebut cocok untuk digunakan.

Menurut Ciptani (1999: 69), suatu produk dikatakan memiliki

kualitas baik apabila memenuhi dua kriteria:

1. Kualitas desain (desain quality)

Suatu produk dikatakan memenuhi kualitas desain apabila

produk tersebut memenuhi spesifikasi produk yang bersangkutan secara

2. Kualitas kesesuaian (conformance quality)

Suatu produk dikatakan memiliki kualitas kesesuaian apabila

produk tersebut tidak menyimpang dari spesifikasi yang ditetapkan dan

dapat memenuhi permintaan konsumen sehingga konsumen merasa puas

dengan produk yang diterimanya.

2.2.1.3 Pengukuran Kualitas

Ada dua jenis mutu, dengan demikian terdapat pula dua jenis

ukuran. Jenis yang pertama adalah defisiensi produk dan kedua adalah

keistimewaan produk.

Bagi sebagian besar defisiensi produk, unit ukurannya dinyatakan

dengan rumus generik sederhana:

Mutu = Defisiensi Terjadinya Peluang Defisiensi Frekuensi

Dalam rumus ini pembilangnya (yaitu Frekuensi Defisiensi) berupa

seperti jumlah cacat, jumlah kesalahan, jam kerja ulang, biaya akibat mutu

jelek, dan jumlah kegagalan di lapangan.

Sedangkan penyebutnya (yaitu Peluang Terjadinya Defisiensi)

berupa, misalnya jumlah unit yang diproduksi, jumlah jam kerja

keseluruhan, uang pemasukan/penjualan, dan jumlah unit yang

Selain menggunakan rumus diatas, kualitas juga dapat diukur

dengan menggunakan rumus:

Hasil Proses / Kualitas Produk =

Output Total

Bagus Output

Rumus tersebut umumnya dipakai suatu perusahaan dalam

menetapkan standar pengukuran produk yang berkualitas. Dimana

pembilangnya (yaitu output bagus) merupakan produk yang baik (produk sesuai dengan kebutuhan pelanggan). Output bagus ini diperoleh dari total output/jumlah produksi dikurangi dengan produk cacat (produkyang tidak

baik). Sedangkan penyebutnya (yaitu total output) merupakan jumlah keseluruhan produk yang dihasilkan suatu perusahaan (Hongren, 2008:

296).

2.2.1.4 Standar Kualitas

Menurut Hansen (2001: 981), standar kualitas terbagi atas dua

pendekatan yaitu:

1.Pendekatan Tradisonal

Dalam pendekatan tradisonal, standar kualitas yang tepat adalah

tingkat kualitas yang dapat diterima (Acceptable Quality Level – AQL).

AQL merupakan suatu pengakuan bahwa sejumlah tertentu produk cacat

akan diproduksi. Atau dalam hal ini pendekatan tradisional masih dapat

2.Pendekatan Kualitas Total atau Pendekatan Kontemporer

Dalam pendekatan ini, standar kualitas merefleksikan suatu

pandangan filosofi dari kontrol kualitas total dan mensyaratkan bahwa

produk dan jasa yang diproduksi dan dikirm kepada pelanggan adalah

sesuai dengan nilai sasaran. Atau dapat dikatakan bahwa pendekatan

tersebut mensyaratkan Total Kontrol Kualitas (TQC)/cacat nol (tidak ada

produk yang cacat).

2.2.1.5 Manfaat Kualitas

Menurut Russel yang dikutip dari Ariani (2003: 9), bahwa terdapat

beberapa manfaat pentingnya kualitas bagia suatu organisasi atau

perusahaan:

1.Meningkatkan repurasi perusahaan.

Perusahaan atau organisasi yang telah menghasilkan suatu

produk atau jasa yang berkualtias akan mendapat predikat sebagai

organsiasi yang mengutamakan kualitas. Oleh karena itu, perusahaan

atau organsiasi tersebut dikenal oleh masyarakat luas dan mendapatkan

nilai “lebih” dimata masyarakat. Karena “nilai” lebih itulah maka

perusahaan atau organisasi tersebut dipercaya masyarakat.

2.Menurunkan biaya.

Dalam paradigma lama, untuk menghasilkan produk berkualitas

karena produk yang dihasilkan dibuat sesuai dengan kemampuan

perusahaan, sehingga standar kualitas yang digunakan juga hanya

ditetapkan oleh perusahaan . kondisi demikian membuat produk dan jasa

yang telah dihasilkan tidak akan laku terjual karena konsumen tidak

menginginkannya.

Namun seiring dengan perubahan jaman dan perkembangan

teknologi muncul sebuah paradigma baru yang mengatakan bahwa

untuk menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas perusahaan atau

organsiasi tidak perlu mengeluarkan biaya tinggi. Hal ini disebabkan

perusahaan atau organsiasi tersebut berorientasi pada customer

satisfaction, yaitu dengan mendasarkan jenis, tipe, waktu, dan jumlah

produk yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan harapan

pelanggan. Dengan demikian, tidak ada pemborosan yang terjadi yang

harus dibayar mahal oleh perusahaan atau organisasi tersebut.

3.Meningkatkan pangsa pasar.

Pangsa psarakan meningkat bila minimasi biaya tercapai, karena

organisasi atau perusahaan dapat menekan harga walaupun kualitas tetap

menjadi yang terutama. Hal-hal inilah yang mendorong konsumen untuk

membeli dan membeli lagi produk atau jasa tersebut sehingga pangsa

4.Adanya pertanggungjawaban Produk.

Dengan semakin meningkatnya persaingan kualitas produk atau

jasa yang dihasilkan, maka organisasi atau perusahaan akan dituntut

untuk semakin bertanggung jawab terhadap desain, proses, dan

pendistribusian produk untuk memenuhi kebutuhan dan harapan

pelanggan.

5.Untuk penampilan produk.

Kualitas akan membuat produk atau jasa dikenal, dan dal ini akan

membuat perusahaan atau organsiasi yang menghasilkan produk atau

menawarkan jasa juga dikenal dan dipercaya masyarakat luas. Dengan

demikian, tingkat kepercayaan pelanggan dan masyarakat umumnya

akan bertambah dan organisasi atau perusahaan akan lebih dihargai.

Dokumen terkait