Dalam penelitian ini, terdapat dua mataair yang diteliti kualitas airnya berdasarkan parameter fisika dan kimia sesuai dengan baku mutu air minum menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492 Tahun 2010. Penelitian kualitas mataair dilakukan di laboratorium Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta. Dua mataair yang diteliti berasal dari dua bentuklahan yang berbeda, yakni bentuklahan dataran kaki gunungapi dan dataran fluvial.
Mataair yang berasal dari bentuk lahan dataran kaki gunung api diambil di Desa Keningar pada ketinggian 945 mdpal dengan titik koordinat 433379 mU dan 9167006 mT. Mataair ini merupakan mataair bertipe artesis yang mengalir sepanjang tahun (perennial). Mataair di Desa Keningar ini termasuk ke dalam mataair kelas 5 karena memiliki debit 2,43 liter/detik. Mataair yang berasal dari bentuk lahan dataran fluvial gunungapi diambil di Desa Wates pada ketinggian 522,12 mdpal dengan titik koordinat 426602 mU dan 9164132 mT. Mataair ini merupakan mataair bertipe kontak yang mengalir sepanjang tahun (perennial). Mataair di Desa Wates ini termasuk ke dalam mataair kelas 5 karena memiliki debit 1,94 liter/detik.
a. Parameter Fisika 1) Bau
Air yang baik memiliki ciri tidak berbau bila dicium dari jauh maupun daridekat. Air yang berbau busuk mengandung bahan-bahan organik yang sedangmengalami dekomposisi
177
(penguraian) oleh mikro organisme air.Uji bau air dari mataair Desa Keningar dan Desa Wates yang telah dilakukan oleh BBTKLPP Yogyakartamemberikan hasil bahwa air dari kedua desa tersebut tidak berbau. Hal ini sesuai dengan persyaratan kualitas air minum menurut Per.Men.Kes.RI No.492/Men.Kes/Per/IV/2010 bahwa kadar air yang diperbolehkan untuk air minum adalah air yang tidak berbau. 2) Warna
Air untuk keperluan rumah tangga harus jernih. Air yang berwarna berarti mengandung bahan-bahan lain yang berbahaya bagi kesehatan. Uji warna air yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa mataair Desa Keningar memiliki kadar 2 TCU, sedangkan mataair Desa Wates memiliki kadar kurang dari 1 TCU. Hasil dari kedua desa tersebut tergolong layak dan tidak melebihi persyaratan kualitas air minum menurut Per.Men.Kes.RI No.492/Men.Kes/Per/IV/2010 bahwa kadar warna air yang diperbolehkan untuk air minum adalah sebesar 15 TCU.
Gambar 13. DiagramBatang Hasil Uji Warna Air
0 5 10 15 20 Kadar Maksimal Desa Keningar Desa Wates
178
3) Total Zat Padat Terlarut (DTS)
Total zat padat terlarut pada umumnya disebabkan oleh bahan organik, garam organik, dan gas terlarut. Uji DTS air yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa mataair Desa Keningar memiliki kadar 123 mg/L, sedangkan mataair Desa Wates memiliki kadar 114 mg/L. Hasil dari kedua desa tersebut tergolong layak dan tidak melebihi persyaratan kualitas air minum menurut Per.Men.Kes.RI No.492/Men.Kes/Per/IV/2010 bahwa total zat padat terlarut dalam air yang diperbolehkan untuk air minum adalah sebesar 500 mg/L.
Gambar 14. Diagram Batang Hasil Uji Total Zat Padat Terlarut Air
4) Kekeruhan
Air yang baik untuk air minum adalah air yang jernih atau tidak keruh. Kekeruhan air disebabkan oleh zat padat tersuspensi, baik yang bersifatanorganik maupun yang organik. Zat anorganik berasal dari lapukan batuan danlogam, yang organik dapat berasal dari lapukan tanaman atau hewan.
Uji kekeruhan air yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa mataair Desa Keningar memiliki kadar kekeruhan 1
0 100 200 300 400 500 600 Kadar Maksimal Desa Keningar Desa Wates
179
NTU, sedangkan mataair Desa Wates memiliki kadar kekeruhan kurang dari 1 NTU. Hasil dari kedua desa tersebut tergolong layak dan tidak melebihi persyaratan kualitas air minum menurut Per.Men.Kes.RI No.492/Men.Kes/Per/IV/2010 bahwa kadar kekeruhan air yang diperbolehkan untuk air minum adalah sebesar 5 NTU.
Gambar 15. Diagram Batang Hasil Uji Kekeruhan Air 5) Rasa
Secara fisika, air bisa dirasakan oleh lidah. Air yang terasa asam, manis,pahit, atau asin menunjukkan bahwa kualitas air tersebut tidak baik. Menurut Juli Soemirat Slamet, 2002 dalam Sulih, 2007: 30, “rasa asindisebabkan adanya garam-garam tertentu yang larut dalam air, sedangkan rasaasam diakibatkan adanya asam organik maupun asam anorganik”.
Uji rasa air dari mataair Desa Keningar dan Desa Wates yang telah dilakukan oleh BBTKLPP Yogyakarta memberikan hasil bahwa air dari kedua desa tersebut tidak berasa. Hal ini sesuai dengan persyaratan kualitas air minum menurut Per.Men.Kes.RI No.492/Men.Kes/Per/IV/2010 bahwa
0 1 2 3 4 5 6 Kadar Maksimal Desa Keningar Desa Wates
180
kadar air yang diperbolehkan untuk air minum adalah air yang tidak berasa.
6) Suhu
Air yang baik memiliki temperatur yang tidak jauh berbeda dengan temperatur udara. Air yang secara mencolok mempunyai temperatur diatas atau di bawah temperatur udara berarti mengandung zat-zat tertentuatau sedang terjadi proses tertentu yang mengeluarkan atau menyerap energi dalam air, seperti proses dekomposisi bahan organik oleh mikro organisme yangmenghasilkan energi.
Pengukuran temperatur air dalam penelitian ini dilakukan dengan dua cara, yakni pengukuran langsung di lapangan dan pengukuran di laboratorium.Pengukuran langsung di lapangan menggunakan alat berupa thermometer air raksa yang berskala 0oC sampai 100oC. Thermometer air tersebut dimasukkan ke dalam air dan dibiarkan terendam di dalam air. Setelah kurang lebih tiga menit, thermometer tersebut diangkat, dibaca, dan dicatat hasilnya, kemudian dibandingkan dengan suhu udara di tempat pengukuran temperatur air.
Hasil pengukuran langsung suhu di lapangan yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa mataair Desa Keningar memiliki suhu 23oC, sedangkan mataair Desa Wates memiliki suhu24oC. Hasil pengukuran suhu di laboratorium BBTKLPP yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa
181
mataair Desa Keningar dan Desa Wates memiliki suhu yang sama, yakni 25,2oC.Suhu udara pada saat pengukuran lapangan adalah sebesar 26oCOleh karena itu, hasil pengukuran suhu baikdari pengukuran lapangan maupun uji laboratorium kedua desa tersebut tergolong layak dan tidak melebihi persyaratan kualitas air minum menurut Per.Men.Kes.RI No.492/Men.Kes/Per/IV/2010 bahwa kadar suhuair yang diperbolehkan untuk air minum adalah berselisih 3oC dengan suhu udara.
Gambar 16. Diagram Batang Hasil Uji Suhu Air b. Parameter Kimia
1) Alumunium (Al)
Air yang di dalamnya terkandung banyak aluminium, menyebabkan rasa yang tidak enak apabila dikonsumsi.Uji kandungan alumuniumdalam air yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa mataair Desa Keningar memiliki kadar alumunium sebesar 0,0141 mg/L, sedangkan mataair Desa Wates memiliki kadar alumunium sebesar 0,0265 mg/L. Hasil
21,5 22 22,5 23 23,5 24 24,5 25 25,5 26 26,5 Suhu Udara Desa Keningar Desa Wates
182
dari kedua desa tersebut tergolong layak dan tidak melebihi persyaratan kualitas air minum menurut Per.Men.Kes.RI No.492/Men.Kes/Per/IV/2010 bahwa kadar alumunium dalam air yang diperbolehkan untuk air minum adalah sebesar 0,2 mg/L.
Gambar 17. Diagram Batang Hasil Uji Kandungan Alumunium dalam Air
2) Besi (Fe)
Kandungan besi dalam air yang melebihi baku mutu dapat menimbulkan warna kuning, rasa, pengendapan pada dinding pipa, pertumbuhan bakteri besi, dan kekeruhan. Uji kandungan besi dalam air dari mataair Desa Keningar dan Desa Wates yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa air dari mataair kedua desa tersebut memiliki kandungan besi kurang dari 0,0162 mg/L. Hal ini sesuai dengan persyaratan kualitas air minum menurut Per.Men.Kes.RI No.492/Men.Kes/Per/IV/2010 bahwa kandungan besi yang diperbolehkan untuk air minum adalah tidak lebih dari 0,3 mg/L.
Kandungan besi yang ada pada kedua sampel air dalam penelitian inimerupakan pencerminan pengaruh batuan
0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 Kadar Maksimal Desa Keningar Desa Wates
183
vulkanik terhadap kualitas air. Lokasi pengambilan sampel air terletak di wilayah gunungapi, yakni pada bentuklahan dataran kaki gunungapi dan dataran alluvial gunungapi, sehingga semakin dekat dengan aktivitas vulkanik maka akan semakin besar kandungan Fe.
Gambar 18.Diagram Batang Hasil Uji Kandungan Besi dalam Air
3) Kesadahan
Air yang baik adalah air yang memiliki tingkat kesadahan yang rendah. Kesadahan air yang tinggi disebabkan oleh garam-garam yang terlarut dalam air, terutama kalsium dan magnesium. Uji kesadahan air yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa mataair Desa Keningar memiliki kesadahan sebesar 78 mg/L, sedangkan mataair Desa Wates memiliki kesadahan sebesar 76 mg/L. Hasil dari kedua desa tersebut masih dalam batas normal dan tidak melebihi persyaratan kualitas air minum menurut Per.Men.Kes.RI No.492/Men.Kes/Per/IV/2010 bahwa kesadahan dalam air yang diperbolehkan untuk air minum adalah sebesar 500 mg/L.
0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,35 Kadar Maksimal Desa Keningar Desa Wates