65E. Metode Pengumpulan Data
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Daerah Penelitian
1. Letak, Luas, dan Batas Wilayah Penelitian
Kecamatan Dukun merupakan salah satu kecamatan yang berada di bagian timur Kabupaten Magelang. Jarak dari Kecamatan Dukun menuju pusat pemerintahan Kabupaten Magelang adalah 18 kilometer, sedangkan jarak dari Kecamatan Dukun menuju pusat pemerintahan Provinsi Jawa Tengah adalah 107 kilometer. Kecamatan Dukun terbagi menjadi 15 wilayah desa, 145 dusun, 154 RW, dan 470 RT. Desa atau kelurahan di Kecamatan Dukun meliputi Desa Ketunggeng, Desa Ngadipuro, Desa Wates, Desa Kalibening, Desa Ngargomulyo, Desa Keningar, Desa Sumber, Desa Dukun, Desa Banyubiru, Desa Banyudono, Desa Mangunsoko, Desa Sewukan, Desa Krinjing, Desa Paten, dan Desa Sengi.
Secara astronomis, Kecamatan Dukun terletak antara 110o01’51’’ – 110o12’48’’ Bujur Timur dan 7o19’13’’ – 7o35’99’’ Lintang Selatan. Kecamatan Dukun berbatasan dengan kecamatan dan wilayah yang lain sebagai berikut:
a. Batas Sebelah Utara : Kecamatan Sawangan b. Batas Sebelah Timur : Kabupaten Boyolali c. Batas Sebelah Selatan : Kecamatan Srumbung d. Batas Sebelah Barat : Kecamatan Muntilan
Kecamatan Dukun memiliki luas wilayah 53,41 km2dengan rincian 3496 hektar merupakan lahan pertanian dan 673
73
hektarmerupakan lahan non pertanian. Berikut merupakan pembagian luas masing masing desa yang ada di Kecamatan Dukun.
Tabel9. Pembagian Luas Wilayah Penelitian
No Desa Luas (km2) Persentase (%)
1 Ketunggeng 2,04 3,82 2 Ngadipuro 1,72 3,22 3 Wates 1,84 3,45 4 Kalibening 2,38 4,46 5 Ngargomulyo 9,47 17,73 6 Keningar 6,60 12,36 7 Sumber 3,19 5,97 8 Dukun 3,26 6,1 9 Banyubiru 2,80 5,24 10 Banyudono 2,99 5,6 11 Mangunsoko 1,37 2,57 12 Sewukan 1,88 3,52 13 Krinjing 6,09 11,4 14 Paten 3,90 7,3 15 Sengi 3,87 7,2 Jumlah 53,41 100 Rata-rata 3,54 6,666667
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Magelang, 2016
Rata-rata luas wilayah setiap desa di Kecamatan Dukun adalah sekitar 3,54km2 atau sekitar 6,67% dari luas wilayah keseluruhan. Desa yang paling luas adalah Desa Ngargomulyo dengan luas sekitar 9,47km2atau 17,73% dari total luas wilayah keseluruhan. Desa yang memiliki luas paling sempit adalah Desa Mangunsoko dengan luas sekitar 1,37km2 atau sekitar 2,56% dari total luas wilayah keseluruhan di Kecamatan Dukun. Berikut disajikan gambar peta administrasi Kecamatan Dukun.
74
75
2. Iklima. Curah Hujan
Salah satu komponen penyusun terbentuknya iklim adalah curah hujan. Pola curah hujan di wilayah penelitian dipengaruhi oleh angin monsun barat atau monsun barat laut dan angin monsun timur ataumonsun tenggara. Angin munson barat atau barat laut yang bersifat basah bertiup antara bulan November-April yang menyebabkan adanya musim penghujan. Angin munson timur atau timur laut yang bersifat kering bertiup antara bulan Juli-September yang menyebabkan adanya musim kemarau.
Data curah hujan di wilayah penelitian ini diambil dari lima stasiun penakar hujan di sekitar daerah penelitian yang meliputi : Stasiun Sawangan/ Krogowanan, Stasiun Muntilan, Stasiun Dukun/ Banggalan, Stasiun Babadan, dan Stasiun Srumbung/ Ngepos. Data curah hujan rata-rata bulanan untuk masing-masing stasiun tercantum dalam tabel.
Tabel 10. Rerata Curah Hujan Bulanan Selama 11 Tahun yaitu 2006-2016 dari 5 (Lima) Stasiun di Daerah Penelitian
Bulan Stasiun Hujan
Sawangan Muntilan Dukun Babadan Srumbung
Januari 386 358 336 428 355 Februari 354 386 377 416 426 Maret 455 482 369 347 377 April 350 356 325 286 329 Mei 258 209 204 219 231 Juni 151 109 132 127 153 Juli 143 69 137 131 105 Agustus 38 75 26 29 50 September 179 119 202 204 156 Oktober 156 145 166 156 91 November 349 307 343 258 332 Desember 491 369 363 437 367 Jumlah 3310 2984 2980 3038 2972
76
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa curah hujan bulanan tertinggi terjadi di Stasiun Sawangan pada bulan Desember dengan rata-rata curah hujan perbulannya sebesar 491 mm/bulan. Untuk nilai curah hujan bulanan terendah terjadi di Stasiun Dukun pada bulan Agustus dengan rata-rata curah hujan perbulannya sebesar 26 mm/bulan. Untuk nilai curah hujan yang tertinggi selama satu tahun terdapat pada Stasiun Sawangan dengan nilai curah hujan sebesar 3.310 mm/tahun. Untuk nilai curah hujan yang terendah selama satu tahun terdapat pada Stasiun Srumbung dengan nilai curah hujan sebesar 2.972 mm/tahun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar Peta Poligon Thiessen yang menunjukkan luasan poligon masing-masing stasiun hujan.
77
78
b. Tipe Iklim
Iklim merupakan rata-rata keadaan cuaca dalam jangka waktu yang cukup lama dan mencakup daerah yang luas. Iklim tersusun oleh gabungan beberapa unsur, yakni radiasi matahari, suhu udara, kelembapan udara, curah hujan, tekanan udara, dan angin. Unsur-unsur tersebut berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya sehingga menyebabkan perbedaan iklim setiap daerah.
Klasifikasi iklim merupakan penggolongan iklim menjadi beberapa kelas yang mempunyai karakteristik. Salah satu unsur iklim yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan tipe iklim adalah curah hujan. Klasifikasi iklim menurut Schmidt-Fergusson didasarkan pada ratio dari bulan kering dan bulan basah seperti yang dikemukakan oleh Mohr, yaitu dengan banyak sedikitnya bulan kering dan bulan basah untuk mengetahui nilai konstanta Q sehingga dapat diketahui klasifikasi iklimnya. Nilai Q diperoleh dengan membandingkan jumlah rata-rata curah hujan bulan kering dengan jumlah rata-rata curah hujan bulan basah. Bulan basah adalah bulan yang curah hujannya melebihi 100 mm/bulan, sedangkan bulan kering adalah bulan yang curah hujannya kurang dari 60 mm/bulan. Bulan yang curah hujannya antara 60 mm/bulan hingga 100 mm/bulan dinamakan bulan lembab. Namun bulan lembab tidak termasuk dalam perhitungan. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada persamaan yang dikemukakan Schmidt sebagai berikut:
79
Jumlah rata-rata bulan kering
Q = x 100% Jumlah rata-rata bulan basah
Dengan mengetahui nilai Q maka dapat diketahui tipe iklim berdasarkan klasifikasi Schmdit-Fergusson sebagai berikut:
Tabel 11. Klasifikasi Iklim menurut Schmdit-Fergusson
Golongan Nilai Q Keterangan
A 0 ≤Q ≤ 14,3 Sangat basah B 14,3 ≤ Q ≤ 33,3 Basah C 33,3 ≤ Q ≤ 60 Agak basah D 60 ≤ Q ≤ 100 Sedang E 100 ≤ Q ≤ 167 Agak kering F 167 ≤ Q ≤ 300 Kering G 300 ≤ Q ≤ 700 Sangat kering
H 700 ≤ Q Luar biasa kering
Sumber : Ir. Ance Gunarsih Kartasapoetra, 2012
Dari data yang disajikan pada stasiun-stasiun yang ada dapat diperoleh nilai bulan kering dan nilai bulan basah dengan menghitung berdasarkan rumus yang sudah ditentukan oleh Schmdit-Fergusson. Setelah melakukan perhitungan, maka diperoleh bahwa iklim pada daerah terbagi menjadi dua. Wilayah dengan area Polygon Thiessen dari Stasiun Sawangan, Babadan, dan Srumbung termasuk ke dalam golongan A (sangat basah).Wilayah dengan area Polygon Thiessen dari Stasiun Muntilan dan Dukun termasuk ke dalam golongan B (basah). Dari data lima stasiun memperlihatkan bahwa rata-rata jumlah bulan basah jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah bulan kering. Bulan basah jauh lebih banyak dibandingkan dengan bulan kering dikarenakan hujan yang terjadi pada daerah penelitian memang cukup besar, mengingat daerah penelitian terletak pada bentuk lahan kaki lereng dan dataran kaki Gunung Merapi. Berikut ini
80
perbandingan jumlah bulan kering dan bulan basah dari lima stasiun penakar hujan.
Tabel 12. Perbandingan Bulan Basah dan Bulan Kering selama 10 Tahun dari Lima Stasiun Hujan
Tahun
Stasiun
Sawangan Muntilan Dukun Babadan Srumbung
BK BB BK BB BK BB BK BB BK BB 2006 2 7 3 6 2 7 1 7 0 6 2007 1 6 1 5 2 6 2 9 2 6 2008 1 8 1 8 1 7 1 7 0 7 2009 2 8 2 8 2 8 1 7 2 8 2010 0 10 0 10 0 10 0 9 0 9 2011 2 8 0 6 0 7 0 6 2 7 2012 1 7 2 7 2 6 1 8 2 7 2013 0 10 0 10 0 10 0 10 0 10 2014 2 9 1 9 1 9 2 9 2 9 2015 1 7 0 6 1 7 1 7 1 7 2016 0 8 0 5 0 7 1 7 1 7 Rata-rata 1 8 1,7 7,3 1,4 7,6 0,9 7,8 0,8 7,2 Q 12,5 23,28 18,42 11,54 11,11
Sumber : Analisis Data Sekunder, 2016