• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 LANDASAN TEOR

2.1.3 Kualitas Pelayanan

2.1.3.1Pengertian Kualitas Pelayanan

Menurut Wyckof (dalam Lovelock 1998), kualitas pelayanan

adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas

tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan

pelanggan.

Menurut Parasuraman, et al mengemukakan bahwa terdapat

dua faktor yang mempengarhui kualitas pelayanan yaitu

pelayanan yang diharapkan (expected service) dan pelayanan

yang dirasakan (perseived service). Apabila jasa yang yang

diterima atau dirasakan sesuai dengan yang diharapkan maka

kualitas jasa dipersepsikan baik dan memuaskan (Tjiptono,

Berdasarkan para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa

kualitas pelayanan adalah totalitas karakteristik pelayanan

kesehatan yang sesuai dengan harapan pasien dan standar yang

ada.

2.1.3.2Dimensi Kualitas Pelayanan

Menurut Parasuraman, et al., (1985) yang melakukan

penelitian khusus terhadap beberapa jenis jasa dan berhasil

mengidentifikasi sepuluh faktor utama yang menentukan kualitas

jasa.

Kesepuluh faktor tersebut meliputi reliability,

responsiveness, competence, acces, courtesy, communication,, credibility, security, understanding or knowing the customer, tangibles. Dalam perkembangan selanjutnya yaitu tahun 1988, Parasuraman,dkk menemukan bahwa sepuluh dimensi yang ada

dapat dirangkum menjadi hanya lima dimensi

SERVQUAL(Tjiptono, 2004:69-70).

Menurut Parasuraman, et al., (1988) menjelaskan bahwa

ada lima dimensi SERVQUAL (Tjiptono, 2004:69-70; Rambat L

dan A. Hamdani, 2009:182), yaitu :

a) Bukti Langsung (tangible)

b) Keandalan(Reliability)

c) Daya Tanggap(Responsiveness)

e) Empati (Empathy)

2.1.3.3Persepsi

Persepsi dapat diartikan juga sebagai proses seorang individu

memilih, mengorganisasi dan menafsirkan masukan-masukan

informasi untuk menciptakan sebuah gambar yang bermakna

tentang dunia (Kotler, 1994). Persepsi tergantung bukan hanya

pada sifat-sifat rangsangan fisik, tetapi juga pada hubungan

rangsangan dengan medan sekelilingnya dan kondisi dalam diri

individu.

2.1.4Kepuasan

2.1.4.1Pengertian Kepuasan

Menurut Philip Kotler (1997) menyatakanbahwa kepuasan

adalah tingkat keadaan dimanaseseorang menyatakan hasil

perbandingan atas kinerja produk (jasa)yang diterima dan yang

diharapkan(Rambat L dan A. Hamdani, 2009:192).

Rashid dan Amina (2014) mengemukakan bahwa kepuasan

dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu kepuasanyang berwujud

merupakan kepuasan yang dapat dirasakan dan dilihat oleh

pelanggan serta telah dimanfaatkan, dan kepuasan psikologika

yang bersifat tidak terwujud dari pelayanan kesehatan tetapi dapat

Rama (2011) mengemukakan bahwa kepuasan pasien akan

terpenuhi apabila proses penyampaian jasa pelayanan kesehatan

kepada konsumen sudah sesuai dengan yang mereka harapkan

atau dipersepsikan. Terpenuhinya kebutuhan pasien akan mampu

memberikan gambaran terhadap kepuasan pasien, oleh karena itu

tingkat kepuasan pasien sangat tergantung pada persepsi atau

harapan mereka pada pemberi jasa pelayanan. Kebutuhan pasien

yang sering diharapkan adalah keamanan pelayanan, harga dalam

memperoleh pelayanan, ketepatan dan kecepatan pelayanan

kesehatan.

Berdasarkan beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa

kepuasan merupakan perasaan senang individu sebagai pelanggan

layanan kesehatan karena terpenuhinya harapan atau keinginan

dalam menerima jasa pelayanan kesehatan. Bila harapan kurang

atau jauh dari kenyataan maka pelanggan tidak puas. Bila harapan

sebanding dengan kenyataan maka pelanggan puas dan bila

kenyataan yang diterima melampui harapan maka pelanggan

sangat puas pelayanan kesehatan yang diberikan.

Banyak manfaat yang diterima dengan tercapainya tingkat

kepuasan pasien yang tinggi. Menurut Fornell (1992), ada

beberapa manfaat yang dapat diperoleh oleh organisasi pelayanan

yang dapat memberikan kepuasan kepada pelanggannya, (Rambat

a. Tingkat kepuasan yang tinggi dapat meningkatkan loyalitas

pelanggan dan mencegah perputaran pelanggan

b. Mengurangi sensitivitas pelanggan terhadap harga dan

mengurangi biaya kegagalan pemasaran

c. Mengurangi biaya operasi yang diakibatkan oleh

meningkatnya jumlah pelanggan dan efektivitas iklan dan

reputasi bisnis.

2.1.4.2Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepuasan Pasien

Menurut Carr dan Hill (1992) dalam Baros (2011)

menyatakan bahwa derajat kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh

latar belakang pelanggan, kedudukan sosial, tingkat ekonomi,

pendidikan, budaya umur dan jenis kelamin :

a Jenis kelamin

Menurut Lumenta (1989) menyatakan wanita mempunyai

tingkat kepuasan yang lebih tinggi daripada laki-laki.

Sedangkan menurut Rahman (2006) dan Mohammed (2011)

menyatakan bahwa laki-laki mempenyai tingkat kepuasan

yang lebih tinggi daripada perempuan.

b Umur

Umur merupakan perkembangan manusia yang dalam

setiap perubahannya dapat mempengaruhi seseorang dalam

kanak-kanak di saat kemampuan kognitif belum matang,

praktek perilaku kesehatan dinilai belum tepat.

Saat memasuki usia remaja, seseorang sudah mempunyai

kemampuan pengambilan keputusan logis yang mengarah

pada perilaku kesehatan, namun kebanyakan mereka masih

mempertimbangkangodaan dan tekanan dari orang

disekitarnya. Sedangkan pada umur dewasa, kebanyakan

orang dapat menentukan dan mempraktekkan perilakunya

sendiri untuk melindungi, meningkatkan, dan memelihara

kesehatannya (Rustiana, 2005:104).

Menurut penelitian PratiwidalamRetnowati (2010),

menjelaskan bahwa usiaakanmempengaruhipengetahuan yang

dimilikiolehseseorang yang

nantinyadapatmempengaruhipengambilankeputusanuntuk

status kesehatannya.

Menurut Lizarmi (2000), menyatakan bahwa hubungan

antara umur dan kepuasan terdapat perbedaan kepuasan antara

umur muda dengan umur tua

Menurut Rahman (2006) menyatakan bahwa kepuasan

berdasarkan umur produktif dan umur produktif mempunyai

tuntutan dan harapan yang lebih besar dibandingkan umur tua.

Ada hubungan antara pendidikan dengan kepuasan.

Menurut Lumenta (1989), bahwa pasien dengan tingkat

pendidikan rendah, pada umumnya cakup puas dengan

pelayanan kesehatan dasar, sedangkan pasien dengan

pendidikan tinggi tidak puas dengan pelayanan kesehatan

dasar.

Basov (2000) dalam Retnowati (2010),

menjelaskanbahwa terdapat hubungan antara tingkat

pendidikan dengan status kesehatan. Tingkat pendidikan

secara tidak langsung akan mempengaruhi pengetahuan

seseorang, dan berdampak pada pengambilan keputusan

terhadap kesehatannya. Tingkat pendidikan adalah salah satu

factor struktur sosial yang menurut Anderson (1974) dalam

teori Health System Modelsdapat memberikan dorongan

kepada seseorang dalam mengambil tindakan untuk

kesehatannya (Notoatmodjo, 2012:234).

Menurut Rahman (2006) menyatakan bahwa peserta yang

berpendidikan sedang lebih puas dengan pelayanan rawat inap

dibandingkan dengan berpendidikann tinggi. Sedangkan

menurut Carr dan Hill (1992) dalam Tina (2007) menyatakan

bahwa masyarakat yang berpendidikan tinggi cenderung tidak

puas karena pengetahuan yang dimiliki lebih menuntut

d Pekerjaan

Pekerjaan adalah salah satu faktor struktur sosial yang

menurut Anderson (1974) dalam teori Health System

Modelsdapat memberikan dorongan kepada seseorang dalam mengambil tindakan untuk kesehatannya (Notoatmodjo,

2012:234).

Menurut Rahman (2006) menyatakan bahwa orang yang

bekerja cenderung memiliki harapan lebih tinggi

dibandingkan orang yang tidak bekerja terhadap pelayanan

kesehatan.

e Status Kepesertaan

Menurut Yanuarti (2001) menyatakan bahwa peserta atau

penanggung lebih puas daripada anggota keluarga (yang

ditanggung). Sedangkan Menurut Hidiati (2002) dalam

Situmpol (2012) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang

bermakna antara status kepesertaan denga tingkat kepuasan.

2.1.4.3Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Pasien

Menurut Boy S. Sabarguna (2004:46-47) menjelaskan bahwa,

ada beberapa aspek yang mempengaruhi kepuasan pasien, yaitu :

1. Aspek kenyaman, meliputi lokasi tempat pelayanan kesehatan

yaitu, kebersihan, kenyamanan ruangan yang akan digunakan

pasien, makanan yang dimakan, dan peralatan yang tersedia

2. Aspek hubungan pasien dengan staf rumah sakit, meliputi

keramahan petugas terutama perawat, informasi yang

diberikan oleh petugas, komunikatif, responatif, suportif, dan

cekatan dalam melayani pasien.

3. Aspek kompetensi, meliputi keberanian bertindak,

pengalaman, gelar, dan terkenal.

4. Aspek biaya, meliputi mahalnya pelayanan terjangkau

tidaknya oleh pasien, dan ada tidaknya keringanan yang

diberikan kepada pasien.

Menurut Wendy Leebov et al mengemukakan bahwa ada

banyak faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pasien (Djoko

Wijono, 2008: 385-387), sebagai berikut :

1. Faktor Kompetensi

Pengalaman memberikan pelayanan medis atau

keperawatan seperti dokter, perawat, resepsionis dan staf lain.

2. Faktor Pembiayaan (Keterjangkauan)

a Biaya pelayanan atau perawatan termasuk faktor yang

amat diperhatikan oleh pasien.

b Masalah biaya pelayanan kesehatan hendaknya terbuka

secara profesional

c Seharusnya tidak ada biaya tambahan diluar ketentuan

yang berlaku atau diluar sepengetahuan pasien dan

3. Faktor Ambience

Adalah faktor seputar lingkungan yang ada di rumah

sakit.

4. Faktor Sistem

Adalah kemudahan menemukan tempat pelayanan atan

perawatan.

5. Faktor Hubungan Antar Manusia

a Kepedulian dokter dan para medis pada pasien dan

keluarganya

b Kemauan dan kemampuan berkomunikasi dokter dan

paramedis dengan pasien dan keluarganya

c Waktu yang digunakan dokter dengan pasien

d Keterampilan pelayanan interpersonal kepada pasien

6. Faktor Kenyamanan dan Keistimewaan

Suatu kenyamanan dan keistimewaan yang diberikan

pada pasien dan keluarganya akan memberikan kekuatan dan

kepuasan pada mereka,karena membuat merasa dihargai,

diistimewakan, diperhatikan, dan mengurangi kecemasan

seperti: tersedia AC, menyediakan majalah/surat kabar/teka-

teki silangsi ruang tunggu, bahan-bahan promosi kesehatan,

dan lain-lain.

Masalah waktu dalam pelayanan sering menjadi

penyebab utama ketidakpuasan pelanggan termasuk pasien

dan pegawai itu sendiri.

2.1.4.4Metode Pengukuran Kepuasan

Menurut Kotler (1994) mengemukakan bahwa ada

empat metode dalam mengukur kepuasansuatu pelayanan

(Tjiptono, 2004:148-150) yaitu:

1. Sistem Keluhan dan Saran

Setiap perusahaan yang berorientasi pada pelanggan

(customer oriented) perlu memberikan kesempatan seluas-

luasnya bagi para pelanggannya untuk menyampaikan saran,

pendapat, dan keluhan mereka, Media yang bisa digunakan

meliputi kotak saran diletakkan di tempat-tempat strategis

(yang mudah diajngkau atau sering dilewati pelanggan),

menyediakan kartu komentar (yang bisa diisi langsung

ataupun yang bisa dikirimkan via pos kepada perusahaan)

menyediakan saluran telepon khusus (customer hot lines), dan

lain-lain.

2. Survei Kepuasan Pelanggan

Menurut McNeal dan Lamb dalam Peterson dan Wilso

(1992) memgemukakan bahwa umumnya banyak penelitian

menggunakan metode survei, baik melalui pos, telepon,

maupun wawancara pribadi.

Pengukuran kepuasan pelanggan melalui metode ini

dapat dilakukan dengan directly reported satisfaction, derived

dissatisfaction, problem analysis, dan importance-

performance analysis.

3. Ghost Shopping (Pembelanja Misterius)

Metode ini dilaksanakan dengan cara memperkerjakan

beberapa orang (ghost shopper) untuk berperan atau bersikap

sebabagi pelanggan/ pembeli potensial produk perusahaan dan

pesaing. Lalu ghost shopper tersebut menyampaikan temuan-

temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk

perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka

dalam pembelian produk-produk tersebut. Selain itu para

ghost shopper juga mengamati atau menilai cara perusahaan

dan pesaingnya menjawab pertanyaan pelanggan dan

menangani setiap keluhan.

4. Last Customer Analysis

Dalam metode ini sedikit unik. Perusahaan berusahan

menghubungi para pelanggannya yang telah berhenti membeli

atau yang telah beralih pemasok. Yang diharapkan adalah

akan diperolahnya informasi penyebab terjadinya hal tersebut.

mengambil kebijakan selanjutnya dalam rangka meningkatkan

kepuasan dan loyalitas pelanggan.

2.1.4.5Tujuan Pengukuran Kepuasan

Tujuan pengukuran kepuasan yaitu mengetahui dengan baik

bagaimana jalannya atau bekerjanya proses bisnis, mengetahui

dimana harus melakukan perubahan dalam upaya melakukan

perbaikan secara terus-menerus untuk memuaskan pelanggan,

terutama untuk hal-hal yang dianggap pentingoleh para

pelanggan, dan menentukan apakah perubahan yang dilakukan

mengarah ke perbaikan (improvement) (Supranto, 2011:3).

Pengukuran kepuasan pasien selaku pengguna jasa pelayanan

kesehatan atau sebagai pelanggan rumah sakit atau puskesmas

adalah untuk mengetahui sejauh nama tingkat kepuasan pasien

dan menghitung indeks kepuasan pelanggan (Customer

SatisfactionIndex) CSI dapat digunakan oleh pihak manajemen rumah sakit atau puskesmas (Muninjaya, 2005:239-240) yaitu :

a. Alat kebijakan pengambilan keputusan guna meningkatkan

kinerja rumah sakit atau puskesmas.

b. Alat untuk menyusun strategi pemasaran produk pelayanan.

Unit-unit pelayanan (unit produksi) yang paling sering

menerima keluhan pasien harus mendapat perhatian dari pihak

c. Alat untuk memantau dan mengendalikan aktivitas staf sehari-

hari dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

d. Alat untuk mencapai misi yang telah ditetapkan oleh rumah

sakit atau puskesmas yaitu memperoleh kepercayaan

Dokumen terkait