4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.2. Kualitas Perairan Situ Gede
Kualitas perairan Situ Gede dapat diduga melalui keadaan fisika dan kimia perairan. Hasil pengukuran kualitas perairan Situ Gede yang didapatkan saat dilakukan pengamatan dapat dilihat dalam Lampiran 7-9. Pengambilan data kualitas perairan Situ Gede dilakukan pada dua titik kedalaman yaitu permukaan dan dasar perairan. Hasil pengukuran kualitas perairan untuk beberapa parameter di Situ Gede pada saat dilakukan pengamatan disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil pengukuran kualitas perairan di Situ Gede saat dilakukan pengamatan
N
o Parameter Baku mutu
Kisaran Pengamatan Rata-rata Pengamatan Fisika 1 Temperatur (ºC) ±3 29-31 12 2 TSS (mg/L) 50 4-72 20,42 3 DHL (µmhos/cm) Tidak tercantum 109-120 113,4 Kimia 4 pH 6-9 5,5-6 5,8 5 DO (mg/L) 4 4,02-7,23 5,22 6 BOD (mg/L) 3 4,73-34,66 13,08 7 Nitrat (mg/L) 10 0,0001-0.3342 0,27 8 Orthofosfat (mg/L) 0,2 0-0.1683 0,05
Berdasarkan Tabel 4, dapat diketahui bahwa kisaran temperatur pada saat dilakukan pengamatan yaitu pada pukul 07.00-09.00 WIB, pada saat kondisi cerah di Situ Gede adalah 29-310C. Titik temperatur terendah didapatkan pada pengamatan kedua yaitu 290C pada stasiun 2 hingga 4 dan titik temperatur tertinggi didapatkan pada pengamatan kesatu yaitu 310C pada stasiun 1 hingga 3. Bila dibandingkan dengan hasil kisaran temperatur di situ wilayah Jabodetabek menurut Prihantini et al. (2008) yaitu 27-340C, maka kisaran temperatur pada saat dilakukan pengamatan di Situ Gede masih tergolong ke dalam kisaran nilai tersebut.
Hasil pengukuran nilai TSS (Total Suspenden Solid) yang didapatkan di Situ Gede berkisar antara 4-72 mg/L. Nilai TSS terendah didapatkan pada stasiun 4 (outlet) pada bagian dasar dan nilai TSS tertinggi didapatkan pada stasiun 2 pada bagian dasar. Secara umum, nilai TSS pada dasar perairan cenderung memiliki
nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai TSS permukaan perairan. Bila dibandingkan dengan baku mutu yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 peruntukkan kelas II, dapat diketahui bahwa nilai kisaran TSS sebesar 72 mg/L di Situ Gede telah melebihi baku mutu yang telah ditetapkan. Akibatnya adalah keadaan air Situ Gede berdasarkan nilai TSS kurang baik untuk dijadikan sebagai air pendukung sarana rekreasi, budidaya ikan air tawar, peternakan, dan pertanian. Bila dibandingkan dengan nilai TSS di Situ Gede pada tahun 2008 menurut penelitian Sari (2009) yaitu sebesar 6-23 mg/L, dapat diketahui bahwa kisaran nilai TSS di Situ Gede saat ini telah mengalami peningkatan.
Kecerahan merupakan ukuran transparansi air yang dapat ditentukan secara visual menggunakan Secchi disc (Horne & Goldman 1994). Nilai kecerahan perairan Situ Gede berkisar antara 0,58-1 m, dimana nilai kecerahan terendah didapatkan pada stasiun 3 dan nilai kecerahan tertinggi didapatkan pada stasiun 1 (inlet). Kisaran nilai DHL (Daya Hantar Listrik) di Situ Gede adalah antara 109-120 µmhos/cm dengan nilai DHL terendah didapatkan pada stasiun 1 (inlet) pada bagian permukaan dan nilai DHL tertinggi didapatkan pada stasiun 3 pada bagian dasar. Secara umum, nilai DHL pada dasar dan permukaan perairan Situ Gede relatif sama. Peraturan Daerah Jawa Barat Nomor 39 Tahun 2000, menyatakan bahwa nilai DHL untuk golongan C dan D (perikanan dan pertanian) adalah 2250 µmhos/cm. Sehingga berdasarkan baku mutu tersebut dapat diketahui bahwa berdasarkan nilai DHL, perairan Situ Gede masih layak untuk dijadikan perairan bagi perikanan dan peternakan.
Pada stasiun 1 (inlet) selalu ditemukan busa serta minyak. Selain itu pada stasiun 1 (inlet) dan stasiun 4 (outlet) juga selalu tercium bau. Apabila suatu perairan memiliki bau maka dapat dikatakan bahwa perairan tersebut telah terkontaminasi. Nilai pH di Situ Gede cenderung asam. Kisaran nilai pH di Situ Gede adalah antara 5,5-6. Pada stasiun 2 dan 3 nilai pH yang didapatkan selalu menunjukan hasil yang sama di setiap pengamatan. Bila dibandingkan dengan baku mutu Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001, maka berdasarkan nilai pH, perairan Situ Gede tidak sesuai untuk kelas II dan tidak layak dijadikan sebagai sebagai air pendukung sarana rekreasi, budidaya ikan air tawar, peternakan, dan pertanian. Bila dibandingkan dengan data menurut Wigena (2004) yang menyatakan bahwa nilai pH di Situ Gede adalah 6,8 dan menurut Sari (2009)
bahwa kisaran nilai pH di Situ Gede adalah 6-7,40; maka berdasarkan kedua literatur tersebut dapat dijadikan sebagai indikator bahwa saat ini perairan Situ Gede relatif mengalami penurunan nilai pH.
Kisaran nilai DO(Dissolved Oxygen) yang didapatkan di Situ Gede adalah 4,02-7,23 mg/L. Secara umum, nilai DO pada bagian dasar perairan lebih rendah bila dibandingkan dengan permukaan. Bila dibandingkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001, maka berdasarkan nilai DO, perairan Situ Gede masih sesuai untuk peruntukkan kelas II karena kisaran nilai DO yang didapatkan berada dalam rentang baku mutu yaitu 6-8 mg/L. Hal ini juga masih sesuai dengan studi yang dilakukan sebelumnya oleh Wigena (2004) diperoleh nilai DO antara 6,6-6,8 mg/L dan berikutnya oleh Sari (2009) bahwa kisaran nilai DO di Situ Gede adalah 4,10-5,75 mg/L.
Kisaran nilai BOD (Biochemical Oxygen Demand) pada Situ Gede adalah 4,73-34,66 mg/L. Menurut Horne & Goldman (1994), Situ Gede tergolong sebagai perairan terpolusi bahan organik yang tinggi. Hal ini dikarenakan, nilai BOD yang didapatkan di Situ Gede berada dalam kisaran 20 mg/L. Bila dibandingkan dengan baku mutu Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 kelas II dan Peraturan Daerah Jawa Barat Nomor 39 Tahun 2000, maka perairan Situ Gede berdasarkan nilai BOD tidak layak untuk dijadikan sebagai kelas II, golongan C, dan golongan D.
Nutrien yang diukur pada saat dilakukan pengamatan di Situ Gede terdiri dari nitrat dan orthofosfat. Nilai nitrat yang didapatkan di Situ Gede berkisar antara 0,0001-0,3342 mg/L. Nilai nitrat yang didapatkan selalu mengalami peningkatan di setiap pengamatan. Pada pengamatan 1, baik di dasar maupun permukaan perairan, nilai nitrat yang didapatkan <0,05 mg/L. Selang satu minggu kemudian, pada pengamatan 2 nilai nitrat meningkat kecuali pada stasiun 4 bagian permukaan perairan. Bila dibandingkan dengan baku mutu Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 kelas II serta literatur menurut Horne & Goldman (1994), maka perairan Situ Gede berdasarkan nilai nitrat layak untuk dijadikan sebagai kelas II, golongan C, dan golongan D. Sedangkan bila dibandingkan dengan nilai nitrat di Danau Lido menurut penelitian Amalia tahun 2009 yaitu sebesar 0,081-0,4700 mg/L, maka nilai nitrat di Situ Gede masih tergolong sesuai. Nilai orthofosfat di Situ Gede berkisar antara 0-0,1683 mg/L. Pada stasiun 3, nilai
orthofosfat yang didapatkan selalu memberikan hasil yang paling tinggi. Berdasarkan kisaran nilai orthofosfat yang didapatkan, maka Situ Gede tergolong sebagai perairan eutrofik (Wetzel 1975).