• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.5. Keadaan Sosial Masyarakat Sekitar Situ Gede

4.1.5.3. Persentase preferensi masyarakat Situ Gede

Preferensi merupakan harapan masyarakat Situ Gede terhadap pengembangan dan pengelolaan Situ Gede sebagai lokasi agroeduwisata. Hasil persentase mengenai preferensi masyatakat Situ Gede dapat dilihat pada Gambar 10.

Didapatkan hasil bahwa 100% masyarakat Situ Gede mengharapkan dengan adanya pengembangan dan pengelolaan agroeduwisata di Situ Gede maka akan tidak merusak lingkungan, dapat membuka lapangan pekerjaan baru, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan terjadi pembangunan fasilitas. Sebanyak 13,33% masyarakat mengharapkan hal lainnya seperti kegiatan pendisiplinan untuk menghindari perbuatan asusila di sekitar Situ Gede serta adanya penetapan tarif masuk ke Situ Gede.

4.2. Pembahasan

Suatu badan perairan dicirikan oleh tiga komponen utama penyusunnya, yaitu komponen hidrologi yang mencakup keadaan morfometri dan bathimetri, komponen fisika-kimia perairan, dan komponen biologi. Berdasarkan komponen hidrologi, dapat diketahui bahwa Situ Gede memiliki dua nilai panjang (panjang maksimum dan panjang maksimum efektif) serta dua nilai lebar (lebar maksimum dan lebar maksimum efektif). Hal ini dikarenakan Situ Gede memiliki pulau di dalam wilayah perairannya. Menurut Hakanson (1974) in Hariyadi et al. (1992) diketahui bahwa pulau yang terdapat di dalam perairan Situ Gede (luas pulau 14,53 m2) hanya merupakan gundukan tanah. Indeks perkembangan garis pantai (SDI) yang diperoleh adalah 1,28 dan hal ini mengindikasikan bahwa Situ Gede merupakan perairan yang memiliki bentuk tidak teratur. Bila suatu perairan memiliki bentuk yang tidak teratur maka perairan tersebut cenderung mudah untuk mengalami penyuburan karena memiliki peluang yang besar untuk mendapatkan masukan bahan organik dan anorganik dari luar (allochthonous).

Perairan Situ Gede merupakan perairan yang cenderung dangkal (Lampiran 6). Hal ini dapat diketahui dari nilai kedalaman maksimum yaitu hanya sebesar 2,8 meter dengan nilai perkembangan volume danau (VD) sebesar >0,5. Ini mengindikasikan bahwa keadaan dasar Situ Gede rata seperti pasu. Hasil perhitungan kedalaman relatif diperoleh sebesar <2% sehingga menunjukkan bahwa perairan Situ Gede memiliki persentase stabilisasi stratifikasi yang rendah akibat mudah mengalami pengadukan oleh angin. Persentase stabilisasi stratifikasi

yang rendah akan menyebabkan kondisi dasar dan permukaan perairan Situ Gede relatif sama.

Debris yang selalu ada di Situ Gede adalah dedaunan. Hal ini dikarenakan lokasi sekitar Situ Gede dikelilingi dan didominasi oleh pepohonan. Keadaan ini menyebabkan daun dari pepohonan banyak yang jatuh terbawa ke perairan. Pada stasiun 1 (inlet), ditemukan pula debris baik pada dasar maupun permukaan perairan berupa sampah. Hal ini dikarenakan pada stasiun tersebut banyak masukan berupa limbah rumah tangga hasil dari pemukiman penduduk (antropogenik). Debris yang terdapat pada stasiun 1 disajikan dalam Lampiran 5.

Stasiun 1, 2, dan 4 didominasi oleh substrat pasir, sedangkan pada stasiun 3 didominasi oleh substrat debu. Menurut Horne & Goldman (1994), perbedaan tipe substrat akan mempengaruhi distribusi dan kelimpahan dari organisme khususnya bagi makroinvertebrata. Melalui tipe subtrat, akan diketahui pula kemampuan tanah serta bebatuan dalam menahan air yang tergantung dari porositas dan permeabilitas tanah.

Stasiun 1, 2, dan 4 bersubstrat pasir akan memiliki karakteristik untuk menahan air dan nutrien yang rendah, namun memiliki kemampuan infiltrasi dan aerasi yang tinggi. Karakteristik pasir merupakan karakteristik yang disenangi oleh beberapa jenis makroinvertebrata sebagai tempat tinggal karena karakteristik pasir mampu melewatkan air dan udara. Hal ini dapat dilihat bahwa pada ketiga stasiun tersebut keanekaragaman benthos relatif lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun 3. Stasiun 3 didominasi oleh substrat debu dengan karakteristik berupa kemampuan infiltrasi, aerasi, menahan nutrien dan air yang sedang. Melalui karakteristik inilah yang diduga mengakibatkan stasiun 3 relatif memiliki keanekaragaman benthos yang rendah, namun kandungan nutriennya seperti nitrat dan orthofosfat cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun lainnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Miller (1992) in Effendi (2003).

Nilai TSS pada dasar perairan cenderung memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai TSS pada permukaan. Keadaan ini diduga terjadi karena padatan-padatan tersuspensi akan banyak mengalami pengendapan sehingga pada akhirnya akan bertumpuk di dasar dan akan meningkatkan nilai TSS. Padatan tersuspensi merupakan padatan yang berukuran cukup besar dan berat (Patraju 2006). Pada stasiun 2 di bagian dasar, nilai TSS yang didapatkan

adalah selalu paling tinggi dengan kisaran antara 54-72 mg/L. Hal ini diduga karena pada stasiun 2 banyak mendapatkan padatan tersuspensi berupa sisa pakan yang digunakan untuk memancing. Stasiun 2 pada Situ Gede merupakan lokasi yang paling banyak digunakan sebagai lokasi pemancingan sehingga diduga sisa pakan akan masuk dan tercampur ke dalam perairan.

Arthington (1980) in Prihantini et al. (2008) menyatakan bahwa kondisi perairan dapat dibagi berdasarkan persentase kecerahannya. Nilai 0,25-1 m merupakan perairan yang keruh, nilai 1-5 m merupakan perairan yang sedikit keruh, dan nilai >5m merupakan perairan jernih. Berdasarkan nilai kisaran ini, maka dapat diketahui bahwa perairan Situ Gede berdasarkan nilai kecerahan merupakan perairan yang keruh.

Warna perairan pada Situ Gede adalah warna hijau, coklat, hingga hitam. Pada stasiun 1 (inlet) warna perairan didominasi oleh warna hitam. Keadaan ini diduga terjadi karena terdapatnya material humus di stasiun tersebut. Selain itu, pada stasiun tersebut banyak terdapat sampah baik sampah organik maupun anorganik yang berasal akibat aktivitas penduduk sekitar Situ Gede. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Horne & Goldman (1994) bahwa warna perairan biasanya akan dipengaruhi oleh padatan terlarut, padatan tersuspensi, plankton, pantulan cahaya matahari, kandungan humus, dan keadaan dasar perairan.

Bila suatu perairan mendapat bahan masukan terlarut yang tinggi maka akan memberikan warna coklat atau kuning. Bahan masukan yang tinggi ini akan mendorong pertumbuhan plankton sehingga pada akhirnya warna perairan akan menunjukkan warna kehijauan (Horne & Goldman 1994). Hal inilah yang diduga terjadi pada stasiun 2, 3, dan 4 dimana warna perairannya adalah coklat kehijauan. Diduga keadaan ini disebabkan karena terdapatnya plankton serta bahan organik pada ketiga stasiun tersebut.

Secara umum nilai DHL yang didapatkan pada dasar dan permukaan perairan relatif sama. Hal ini diduga terjadi karena perairan Situ Gede memiliki persentase stabilisasi stratifikasi yang rendah antara dasar dan permukaan. Bila melihat gambar di atas, dapat diketahui bahwa nilai DHL tertinggi didapatkan pada stasiun 3 pada bagian dasar. Hal ini diduga terjadi karena pada stasiun 3 banyak mendapatkan masukan berupa akumulasi garam terlarut hasil peluruhan material dan dedaunan dari pulau di sekitarnya.

Hasil pengukuran terhadap nilai pH menunjukkan adanya fluktuasi di setiap waktu pengamatan. Nilai pH di Situ Gede cenderung asam. Hal ini diduga terjadi karena Situ Gede mendapatkan masukan bahan organik yang cukup tinggi. Akibatnya adalah terjadi proses dekomposisi yang cenderung mengakibatkan hasil akhir berupa C02 menjadi tinggi dan pada akhirnya menyebabkan pH menjadi turun. Dugaan ini diperkuat oleh Horne & Goldman (1994).

Nilai DO minimum pada saat pengamatan adalah 4,02 mg/L. Hal ini menunjukkan bahwa perairan Situ Gede memiliki kandungan DO yang mencukupi bagi kehidupan organisme di dalamnya. Kandungan DO yang mencukupi ini diduga terjadi karena Situ Gede merupakan perairan yang dangkal dan memiliki stabilisasi stratifikasi yang rendah sehingga menyebabkan Situ Gede dapat melakukan kontak dengan udara dan terjadi proses pencampuran dengan massa air di dalamnya,

Nilai DO yang diperoleh pada dasar perairan cenderung menunjukkan hasil yang lebih rendah bila dibandingkan dengan di permukaan. Hal ini diduga karena permukaan perairan akan memiliki kontak udara yang lebih tinggi sehingga oksigen yang berasal dari udara dapat masuk ke dalam perairan dan menyebabkan DO di permukaan meningkat. Sedangkan di dasar perairan, kontak udara semakin semakin berkurang ditambah dengan proses dekomposisi yang membutuhkan oksigen semakin meningkat.

Nilai nitrat yang diperoleh selalu mengalami peningkatan di setiap pengamatan. Pada pengamatan 1, baik di dasar maupun permukaan perairan nilai nitrat yang didapatkan <0,05 mg/L. Selang satu minggu kemudian, pada pengamatan 2 nilai nitrat meningkat kecuali pada stasiun 4 bagian permukaan perairan. Hal ini diduga terjadi karena terdapatnya proses nitrifikasi. Proses nitrifikasi berjalan selama 3 hari (Liu & Jiayang 2001). Pada pengamatan 1, diduga nutrien yang ada masih didominasi oleh ammonia kemudian pada pengamatan 3, amonia tersebut telah berubah menjadi nitrat.

Pada stasiun 3 relatif menunjukkan hasil nilai orthofosfat yang paling tinggi. Hal ini diduga karena pada stasiun tersebut, banyak mendapatkan masukan material yang berasal dari pulau di sekitar stasiun tersebut. Dugaan ini diperkuat oleh Brower & Zar (1997) yang menyatakan keberadaan orthofosfat dipengaruhi oleh mineral alami, pupuk, dan organik fosfat yang keberadaan secara

alami. Menurut Horne & Goldman (1994), kandungan fosfat dipengaruhi oleh limbah pertanian, limbah domestik, dan limbah industri yang bila terlalu tinggi keberadaannya akan menyebabkan eutrofikasi. Melalui hasil pengukuran, diketahui bahwa faktor pembatas di Situ Gede adalah nitrogen. Hal ini dikarenakan rasio N dan P yang didapatkan di Situ Gede lebih kecil dari 16 : 1. Berdasarkan kadar orthofosfat yang didapatkan pada saat pengamatan, Situ Gede tergolong sebagai perairan dengan tingkat kesuburan tinggi (Jozwiak & Marcin 1999).

Berdasarkan komponen biologi, didaptakan hasil bahwa plankton dan perifiton di Situ Gede didominasi oleh kelas Cyanophyceae. Menurut Hartoto et al. (1994) in Prihatini et al. (2008), bila suatu perairan keberadaan organisme planktonnya didominasi oleh Cyanophyceae maka perairan tersebut tergolong perairan sedang yang umumnya mendapat masukan bahan organik yang berasal melalui proses-proses alami dan limbah penduduk. Pernyataan ini diperkuat oleh Wetzel (1975), yang menyatakan bahwa bila suatu perairan terdapat kelas Chlorophyceae, Cyanophyceae, Euglenophyceae dan Bacillariophyceae di dalamnya maka tergolong perairan eutrofik. Berdasarkan literatur tersebut maka dapat diketahui bahwa berdasarkan keberdaaan fitoplankton, perairan Situ Gede cenderung tergolong perairan eutrofik yang mendapat pengaruh berupa masukan bahan organik yang tinggi khusunya dari aktivitas penduduk sekitarnya.

Saat ini kelimpahan dari ketiga jenis nekton asli tersebut mulai mengalami penurunan. Diduga hal ini terjadi karena adanya pola perubahan lingkungan perairan Situ Gede yang salah satunya adalah akibat adanya pengembangan Situ Gede sebagai kawasan wisata, persentase eksploitasi yang berlebihan, serta masuknya jenis ikan introduksi ke dalam lingkungan perairan Situ Gede.

Jenis nekton lainnya yang dapat ditemukan di Situ Gede merupakan nekton hasil introduksi. Banyaknya jenis spesies nekton introduksi di Situ Gede menunjukkan bahwa perairan Situ Gede merupakan perairan yang telah terganggu. Nekton introduksi memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap keadaan lingkungan dan memiliki kemampuan untuk mengakses makanan. Melalui kemampuan inilah yang cenderung membuat nekton introduksi menjadi

Lokasi dari Situ Gede yang diduga paling banyak kelimpahan nektonnya adalah stasiun 2. Diduga ini terjadi karena pada stasiun tersebut aktivitas manusia untuk kegiatan wisata sedikit dilakukan. Selain itu pada stasiun tersebut, diduga banyak terdapat jenis makanan dari nekton tersebut. Hal ini dapat diduga melalui nilai keanekaragaman zooplankton, perifiton, dan benthos yang relatif lebih tinggi dibandingkan stasiun lainnya. Faktor penyebab lainnya adalah stasiun 2 merupakan stasiun yang memiliki nilai kedalaman paling besar yaitu 170-200 cm. Hal inilah yang menyebabkan lokasi 2 paling banyak dan sering dijadikan sebagai lokasi pemancingan.

Nilai indeks keanekaragaman yang didapatkan di Situ Gede baik berdasarkan fitoplankton, zooplankton, perifiton, maupun benthos memberikan hasil 0-3. Melalui hasil ini, dapat diduga bahwa perairan Situ Gede saat ini telah mengalami pencemaran tingkat tinggi. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Mason (1981) yang menyatakan bahwa bila suatu perairan nilai indeks keanekaragamannya berkisar 0-1 maka dapat dikatakan bahwa perairan tersebut telah mengalami pencemaran dan mengindikasikan bahwa saat ini ekosistem perairan Situ Gede berada dalam kondisi kesehatan yang rendah. Dugaan ini sejalan dengan pernyataan Smith (2007). Keadaan ini terjadi akibat adanya perubahan pola penggunaan Situ Gede yang saat ini sedang dikembangkan untuk wisata, eksploitasi sumberdaya (baik air untuk pemukiman sekitar, pertanian, perkebunan, maupun sumberdaya ikannya untuk perikanan), dan adanya masukan limbah rumah tangga akibat aktivitas penduduk, serta limbah wisata di sekitarnya. Dugaan ini diperkuat oleh OECD (2005) dan Parama et al. (2002).

Nilai indeks keseragaman yang didapatkan di Situ Gede baik berdasarkan fitoplankton, zooplankton, perifiton, maupun benthos memberikan hasil bahwa perairan Situ Gede tergolong sebagai perairan dengan tingkat keseragaman tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa perairan Situ Gede memiliki penyebaran organisme yang relatif merata sehingga keseragaman populasi menjadi meningkat.

Nilai indeks dominansi yang didapatkan di Situ Gede baik berdasarkan fitoplankton, zooplankton, perifiton, maupun benthos memberikan hasil bahwa perairan Situ Gede tergolong sebagai perairan dengan tingkat dominansi sedang hingga tinggi dengan kondisi lingkungan yang cukup hingga tidak stabil. Hal ini mengindikasikan bahwa pada perairan Situ Gede relatif terdapat jenis spesies

tertentu yang mendominasi spesies lainnya. Salah satu jenis spesies yang diduga cukup mendominasi pada perairan Situ Gede adalah Microcystys sp.

Potensi bagi pengembangan konsep agroeduwisata di Situ Gede dapat dilihat melalui potensi alamiah serta keadaan sosial masyarakat di sekitar Situ Gede. Berdasarkan hasil pengamatan yang yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa Situ Gede memiliki potensi alamiah baik yang yang berupa abiotik maupun biotik. Potensi alamiah abiotik Situ Gede relatif menunjukkan bahwa saat ini perairan Situ Gede telah mengalami pencemaran. Hal ini dapat diketahui dari beberapa parameter kualitas airnya yang telah melebihi baku mutu perairan yang telah ditetapkan. Parameter tersebut antara lain ialah TSS, pH, kecerahan, BOD, dan orthofosfat. Bila dibandingkan dengan penelitian Sari (2009), dapat diketahui bahwa kisaran nilai TSS telah mengalami peningkatan dan nilai pH di Situ Gede telah mengalami penurunan. Diduga hal ini terjadi karena Situ Gede mendapatkan masukan yang cukup tinggi baik bahan organik maupun anorganik dari luar badan perairannya. Namun bila dibandingkan dengan peneilitian Wigena (2004), dapat diketahui bahwa nilai DO di Situ Gede saat ini masih sesuai. Nilai nitrat di Situ Gede saat ini juga masih tergolong sesuai dengan kisaran nilai nitrat di danau sekitar wilayah Jawa Barat seperti Danau Lido menurut penelitian Amalia (2009) yaitu sebesar 0,08-0,47 mg/L.

Masukan utama yang diduga paling mendominasi bagi perairan Situ Gede adalah masukan akibat adanya aktivitas masyarakat sekitar Situ Gede (wilayah pemukiman). Masukan lainnya berasal melalui kegiatan perkebunan, pertanian, perikanan, serta wisata yang saat ini mulai dikembangkan di Situ Gede. Kegiatan wisata di Situ Gede tidak hanya memberikan beban berupa masukan bahan organik dan anorganik saja. Ternyata kegiatan wisata juga mampu merubah pola pemanfaatan wilayah perairan tersebut. Misalnya dengan adanya wisata bersepeda air maka diduga akan mempengaruhi pola kehidupan organisme akuatik di dalam perairan Situ Gede.

Pola kehidupan organisme akuatik di dalam perairan Situ Gede dapat diketahui melalui indeks biologi berupa indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi. Mason (1981) mengklasifikasikan perairan Situ Gede sebagai perairan yang telah mengalami pencemaran tingkat tinggi. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa perairan Situ Gede memiliki tingkat

keanekaragaman yang rendah. Hal ini terjadi karena saat ini Situ Gede mendapatkan tekanan yang tinggi akibat adanya aktivitas pemukiman masyarakat sekitar Situ Gede, kegiatan pertanian, kegiatan perkebunan, dan ditambah lagi oleh kegiatan wisata.

Berdasarkan nilai indeks keseragaman, didapatkan hasil bahwa perairan Situ Gede tergolong sebagai perairan dengan tingkat keseragaman tinggi sehingga penyebaran individu di Situ Gede adalah sama atau tidak menumpuk hanya di satu titik saja. Nilai indeks dominansi yang didapatkan di Situ Gede tergolong sebagai perairan dengan tingkat dominansi tinggi sehingga mengindikasikan kondisi lingkungan Situ Gede tidak stabil.

Melalui hasil ini, maka dapat dikatakan bahwa saat ini Situ Gede sedang mendapatkan tekanan ekologis yang tinggi. Dapat dikatakan pula bahwa berdasarkan keadaan potensi alamiah Situ Gede, maka sebenarnya saat ini Situ Gede berada dalam kondisi yang kurang resisten dalam menerima gangguan dari luar (Mason 1981). Salah satu gangguan dari luar tersebut adalah dikembangkannya konsep agroeduwisata di Situ Gede.

Keadaan sosial masyarakat Situ Gede terhadap pengembangan dan pengelolaan konsep agroeduwisata di Situ Gede dapat diketahui melalui persentase aspirasi, persepsi, dan preferensi. Hasil yang didapatkan menyatakan bahwa 100% responden masyarakat menyetujui, menyatakan layak, memahami dampak positif, dan memahami dampak negatif terhadap pengembangan dan pengelolaan Situ Gede sebagai salah satu lokasi agroeduwisata. Sebagian besar masyarakat Situ Gede telah memahami potensi dari Situ Gede serta konsep dari wisata atau agroeduwisata. Namun hanya 63,33% saja yang menyatakan bahwa saat ini Situ Gede memiliki kondisi lingkungan yang bersih.

Saat ini keadaan dan kemampuan alamiah dari perairan Situ Gede belum layak untuk dijadikan sebagai lokasi agroeduwisata, disamping kenyataan bahwa saat ini masyarakat sekitar Situ Gede belum mengaplikasikan konsep agroeduwisata yang lestari, berkelanjutan, dan tetap memperhatikan lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari kondisi lingkungan Situ Gede yang masih tercemari oleh keberadaan sampah organik dan anorganik dari adanya aktivitas penduduk di sekitar Situ Gede. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya dan arahan untuk meningkatkan daya dukung potensi alamiah dan keadaan sosial masyarakat Situ

Gede dalam menerima konsep pengembangan dan pengelolaan agroeduwisata. Hal ini diperlukan untuk mencapai keberhasilan akan konsep agroeduwisata di Situ Gede yang tidak hanya diterima secara persentase sosial saja namun juga secara alamiah sehingga tercapai pengembangan dan pengelolaan konsep agroeduwisata yang berkelanjutan dan tetap menjaga keseimbangan lingkungan. Melalui upaya dan rekomendasi berikut, diharapkan dapat menjadikan Situ Gede sebagai kawasan berwawasan lingkungan yang mampu dijadikan sebagai kawasan wisata dengan tujuan studi yang dapat memberi pengetahuan dan pengalaman mengenai pertanian secara luas. Berikut adalah beberapa rekomendasi upaya dan arahan bagi pengembangan dan pengelolaan agroeduwisata di Situ Gede:

a. Berupaya untuk mengurangi beban masukan baik bahan organik maupun anorganik yang masuk ke dalam perairan Situ Gede. Seperti telah disebutkan bahwa beban masukan tersebut berasal dari adanya aktivitas pemukiman masyarakat sekitar Situ Gede, kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan, dan ditambah lagi oleh kegiatan wisata. Upaya yang dapat dilakukan pada taraf aktivitas masyarakat sekitar Situ Gede adalah merubah pola hidup masyarakat Situ Gede untuk dapat berperan aktif dalam menjaga kelestarian dan kebersihan Situ Gede. Sedangkan pada taraf kegiatan pertanian, perkebunan, dan perikanan adalah masyarakat diupayakan untuk melakukan proses bertani dan budidaya ikan yang ramah lingkungan seperti pembatasan penggunaan pupuk, pestisida, dan pakan buatan.

b. Pada taraf kegiatan pengembangan Situ Gede sebagai kawasan agroeduwisata diperlukan kegiatan penataan dan pengelolaan sumberdaya biotik dan abiotik ekosistem perairan Situ Gede. Upaya yang dapat dilakukan adalah seperti dengan melakukan penataan wilayah wisata perairan sesuai dengan kriteria pemanfaatan jenis wisata tertentu (seperti memancing, bersepeda air, dan sebagainya) dan meningkatkan nilai biodiversitas Situ Gede antara lain dengan memperkaya jenis biota (baik plankton, hewan, maupun tumbuhan air) introduksi yang tetap mempertimbangkan keberadaan biota native.

c. Melakukan upaya pengelolaan ekosistem perairan Situ Gede yang terintegrasi dengan lingkungan sekitarnya seperti mempertahankan pepohonan di sekitar Situ Gede demi tercipta kealamiahan, kelestarian, dan daerah vegetasi

tangkapan air bagi Situ Gede. Kegiatan lainnya adalah dengan proses pengelolaan limbah rumah tangga dan pemanfaatan tumbuhan air sebagai penyangga dan penyaring material yang akan masuk ke dalam perairan. d. Perlu adanya upaya pemerintah untuk mendukung terciptanya Situ Gede

sebagai kawasan wisata berwawasan lingkungan. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan cara membuat suatu permodelan analisis yang dapat menguntungkan bukan hanya secara sosial namun juga secara lingkungan, membentuk wilayah konservasi untuk menjamin ketersediaan sumberdaya hayati, memberikan penghargaan dan hukuman bagi masyarakat yang turut serta dalam menjalankan upaya konservasi ekosistem perairan Situ Gede. e. Terus melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin mengenai keadaan

biotik dan abiotik Situ Gede serta dampaknya baik bagi ekosistem perairan Situ Gede maupun bagi manusia sebagai penggunanya.

Bila potensi alamiah dan keadaan sosial masyarakat Situ Gede telah mampu dan layak untuk dikembangkan menjadi lokasi agroeduwisata, maka arah pengembangan konsep agroeduwisata di Situ Gede selanjutnya adalah berupa konsep kegiatan. Konsep kegiatan tersebut adalah aplikasi nyata berupa macam kegiatan yang dapat dikembangkan di Situ Gede. Macam kegiatan yang dapat dikembangkan antara lain adalah keliling (touring) ekosistem perairan Situ Gede, melihat koleksi biota akuatik di Situ Gede (misal jenis zooplankton tertentu yang telah diawetkan), menonton video mengenai pengambilan contoh air dan biota, rekreasi memancing, dan rekreasi penyebaran benih ikan.

Secara umum, bila dilihat melalui keadaan fisik dan kualitas perairannya, macam kegiatan yang dapat dikembangkan pada stasiun 1 dan 4 hanyalah sebatas pengambilan biota jenis tertentu kemudian diawetkan untuk dijadikan sebagai biota koleksi. Stasiun 2 dan 3 memiliki keadaan fisik dan kualitas perairan yang lebih baik. Macam kegiatan yang dapat dikembangkan pada stasiun 2 dan 3 ini adalah rekreasi memancing, penyebaran benih ikan, serta kegiatan pengambilan

Dokumen terkait