TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Kualitas Tidur .1 Pengertian .1Pengertian
Tidur adalah tidur berasal dari kata bahasa Latin “somnus” yang berarti alami periode pemulihan, keadaan fisiologi dari istirahat untuk tubuh dan pikiran. Tidur adalah status perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun (Nurul, 2007).
Tidur merupakan keadaan hilangnya kesadaran secara normal dan periodik (Lanywati, 2001). Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar yang dialami seseorang yang dapat dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Guyton, 2001). Tidur dikarakteristikkan dengan aktivitas fisik yang minimal, tingkat kesadaran yang bervariasi, perubahan proses fisiologi tubuh, dan
14
penurunan respon terhadap stimulus eksternal merupakan keadaan yang tenang, relaks tanpa tekanan emosional dan bebas dari kegelisahan (Nurul, 2007).
Enam ciri yang dialami seseorang berkaitan dengan istirahat, yaitu (Nurul, 2007) :
a. Merasa bahwa segala sesuatu dapat diatasi. b. Merasa diterima.
c. Mengetahui apa yang sedang terjadi.
d. Bebas dari gangguan dan ketidaknyamanan.
e. Mempunyai rencana-rencana kegiatan yang memuaskan. f. Mengetahui adanya bantuan sewaktu memerlukan. 2.2.2 Fisiologi tidur
Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua sistem pada batang otak, yaitu
Reticular Activating System (RAS) dan Bulbar Synchronizing Region (BSR). RAS
di bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang dapat mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran; memberi stimulus visual, pendengaran, nyeri, dan sensori raba; serta emosi dan proses berpikir. Pada saat sadar RAS melepaskan katekolamin, sedangkan pada saat tidur terjadi pelepasan serum serotonin dari BSR (Nurul 2007).
2.2.3 Ritme sirkadian
Setiap makhluk hidup memiliki bioritme (jam biologis) yang berbeda. Pada manusia, bioritme ini dikontrol oleh tubuh dan disesuaikan dengan faktor lingkungan (cahaya, kegelapan, grafitasi dan stimulus elektrodinamik). Bentuk bioritme yang paling umum adalah ritme sirkadian yang melengkapi siklus selama
15
24 jam. Dalam hal ini, fluktuasi denyut jantung, tekanan darah, temperatur tubuh, sekresi hormon, metabolisme dan penampilan serta perasaan individu bergantung pada ritme sirkadiannya. Tidur adalah salah satu irama biologis tubuh yang sangat kompleks. Sinkronisasi sirkadian terjadi jika individu memiliki pola tidur-bangun yang mengikuti jam biologisnya: individu akan bangun pada saat ritme fisiologis dan psikologis paling tinggi atau paling aktif dan akan tidur pada saat ritme tersebut paling rendah (Nurul, 2007).
2.2.4 Siklus tidur
Selama tidur, individu melewati tahap tidur Non Rapid Eye Movement
(NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). Siklus tidur yang komplek normalnya berlangsung, selama 1,5 jam, dan setiap orang biasanya melalui 4 hingga 5 siklus selama 7 sampai 8 jam tidur. Siklus tersebut dimulai dari tahap NREM yang berlanjut ke tahap REM. Tahap NREM I – III berlangsung selama 30 menit, kemudian diteruskan ke tahap IV selama kurang lebih 20 menit. Setelah itu, individu kembali ke tahap III dan II selam 20 menit. Tahap I REM muncul sesudahnya dan berlangsung selama 10 menit (Nurul, 2007).
2.2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur
Menurrut Nurul (2007) ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas tidur seseorang antara lain:
a. Penyakit
Penyakit dapat menyebabkan nyeri atau distress fisik yang dapat menyebabkan gangguan tidur. Individu yang sakit membutuhkan waktu tidur yang
16
banyak daripada biasanya. Di samping itu siklus bangun-tidur selama sakit dapat mengalami gangguan.
b. Lingkungan
Lingkungan dapat membantu sekaligus menghambat proses tidur. Tidak adanya stimulus tertentu atau adanya stimulus yang asing yang dapat menghambat upaya tidur.
c. Kelelahan
Kondisi tubuh yang lelah dapat mempengaruhi pola tidur seseorang. Semakin lelah seseorang, semakin pendek siklus REM yang dilaluinya. Setelah beristirahat biasanya siklus REM akan kembali memanjang.
d. Gaya hidup
Individu yang sering berganti jam kerja harus mengatur aktivitasnya agar bisa tidur dalam waktu yang tepat.
e. Stres emosional
Anxietas (kegelisahan) dan depresi seringkali mengganggu tidur seseorang. Kondisi anxietas dapat meningkatkan kadar norepinefrin darah melalui stimulus saraf simpatis. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya siklus REM tahap IV dan tidur REM serta seringnya terjaga saat tidur.
f. Stimulan dan alkohol
Kafein yang terkandung dalam beberapa minuman dapat merangsang SSP (Sistem Saraf Pusat) sehingga dapat mengganggu pola tidur. Sedangkan konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menganggu siklus tidur REM. Ketika pengaruh alkohol telah hilang, individu sering mengalami mimpi buruk.
17
g. Diet
Penurunan berat badan dikaitkan dengan penurunan waktu tidur dan seringnya terjaga disaat malam hari.
h. Merokok
Nikotin yang terkandung dalam rokok memiliki efek stimulasi pada tubuh. Akibatnya, perokok sering kali kesulitan untuk tidur dan mudah terbangun di malam hari.
i. Medikasi
Obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Hiptonik dapat mengganggu tahap III dan IV tidur NREM, betabloker dapat menyebabkan
insomnia dan mimpi buruk, sedangkan narkotik (misalnya, meperidin hidroklorida
dan morfin) diketahui dapat menekan tidur REM dan menyebabkan seringnya terjaga di malam hari.
j. Motivasi
Keinginan untuk tetap terjaga terkadang dapat menutupi perasaan lelah seseorang. Sebaliknya, perasaan bosan atau tidak adanya motivasi untuk terjaga sering kali dapat mendatangkan kantuk
2.2.5 Dampak kualitas tidur yang buruk
Kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk dapat memberi efek pada kehidupan seseorang, antara lain (Nurul, 2007) :
a. Efek fisiologis, karena kebanyakan insomnia diakibatkan oleh stress
b. Efek psikologis, dapat berupa gangguan memori, gangguan berkonsentrasi, kehilangan motivasi, depresi dan lain-lain.
18
c. Efek fisik/somatik, dapat berupa kelelahan, nyeri otot, hipertensi dan sebagainya.
d. Efek sosial, dapat berupa kualitas hidup yang terganggu, seperti susah mendapat promosi pada lingkungan kerjanya, kurang bisa menikmati hubungan sosial dan keluarga.
e. Kematian orang yang tidur kurang dari lima jam semalam memiliki angka harapan hidup lebih sedikit dari orang yang tidur 7-8 jam semalam. Hal ini mungkin disebabkan karena penyakit yang mengindiksi insomnia yang memperpendek angka harapan hidup atau karena high arousal state yang terdapat pada insomnia. Selain itu, orang yang menderita insomnia memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk mengalami kecelakaan lalu lintas jika dibandingkan dengan orang yang normal
2.2.6 Penilaian kualitas tidur
Tidur yang berkualitas merupakan hal yang esensial khususnya bagi para pekerja. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penilaian terhadap kualitas tidur seseorang khususnya bagi orang dewasa dan usia produktif sehingga dapat membantu sebuah perusahaan untuk menentukan shift kerja yang baik bagi pekerjanya. Menurut Wicken, (2004) (dalam Setyawati, 2007) Penilaian kualitas tidur dilakukan dengan menggunakan sebuah metode yang bernama PSQI (The Pittsburgh Sleep Quality Index). PSQI sendiri ialah suatu metode penilaian yang berbentuk kuesioner yang digunakan untuk mengukur kualitas tidur dan gangguan tidur orang dewasa dalam interval satu bulan. Dari penilaian kualitas tidur dengan menggunakan metode PSQI ini akan didapatkan outputan berupa Sleeping Index.
19
Sleeping Index merupakan suatu skor atau nilai yang didapatkan dari pengukuran
kualitas tidur seseorang yang pengurkurannya dicari dengan cara mengisi kuesioner PSQI dengan pembobotan tertentu. Index atau nilai tersebut yang nantinya akan menggambarkan seberapa baikkah kualitas dari tidur seseorang.
Dalam PSQI ini terdapat tujuh skor yang digunakan sebagai parameter penilaiannya. Tujuh skor tersebut yaitu : Kualitas tidur, Latensi tidur, Durasi tidur, Kebiasaan tidur, Gangguan tidur, Penggunaan obat tidur (yang berlebihan) dan Disfungsi siang hari selama satu bulan terakhir. PSQI terdiri dari 19 kuesioner untuk penilaian individu, akan digrupkan kedalam 7 komponen skor, yang tiap itemnya dibobotkan dengan bobot seimbang dalam rentang skala 0-3. Ketujuh komponen tersebut pada akhirnya akan dijumlahkan sehingga didapatkan skor global PSQI yang memiliki rentang skor 0-21 dan dapat dikatagorikan menjadi dua yaitu kualitas tidur baik jika skor antara 0-10 dan kualitas tidur buruk jika skor 11-21, semakin tinggi skor yang didapatkan seseorang menandakan bahwa orang tersebut mengalami kualitas tidur terburuk (Setyawati, 2007). Banyak penelitian tentang gangguan tidur yang menggunakan metode PSQI, hal tersebut dikarenakan PSQI memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi dengan hasil uji pada penelitian sebelumnya didapatkan r hitung > r tabel untuk taraf signifikansi 5% dengan N=20, dimana nilai r hitung yang didapatkan antara 0,567 sampai dengan 0,980 dengan rtabel 0,359. Namun metode PSQI ini juga memiliki kekurangan yaitu pengisian kuesioner PSQI dapat memperoleh hasil yang kurang akurat dikarenakan keterbatasan dan kesulitan klien untuk memahami pertanyaan sehingga perlu untuk dipandu dalam pengisiannya (Utami, 2012).