a. Pengertian Demokrasi Pancasila
Istilah ―demokrasi‖ berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem
―demokrasi‖ di banyak negara.
Kata ―demokrasi‖ berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara.47 (Sejarah dan Perkembangan Demokrasi, http://www.wikipedia.org).
47 https://jariqas.wordpress.com/2010/03/13/artikel-tentang-demokrasi/
Menurut Wikipedia Indonesia, demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
Demokrasi yang dianut di Indonesia, yaitu demokrasi berdasarkan Pancasila, masih dalam taraf perkembangan dan mengenai sifat-sifat dan ciri-cirinya terdapat berbagai tafsiran serta pandangan. Tetapi yang tidak dapat disangkal ialah bahwa beberapa nilai pokok dari demokrasi konstitusionil cukup jelas tersirat di dalam Undang Undang Dasar 1945. Selain dari itu Undang-Undang Dasar kita menyebut secara eksplisit 2 prinsip yang menjiwai naskah itu dan yang dicantumkan dalam penjelasan mengenai Sistem Pemerintahan Negara, yaitu:
1) Indonesia ialah negara yang berdasarkan atas hukum (Rechstaat).
Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (Rechstaat), tidak berdasarkan kekuasaan belaka (Machstaat).
2) Sistem Konstitusionil.
3) Pemerintahan berdasarkan atas Sistem Konstitusi (Hukum Dasar), tidak bersifat Absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas).
Berdasarkan 2 istilah Rechstaat dan sistem konstitusi, maka jelaslah bahwa demokrasi yang menjadi dasar dari Undang-Undang Dasar 1945, ialah demokrasi konstitusionil. Di samping itu corak khas demokrasi Indonesia, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilana, dimuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar.
Dengan demikian demokrasi Indonesia mengandung arti di samping nilai umum, dituntut nilai-nilai khusus seperti nilai-nilai yang memberikan pedoman tingkah laku manusia Indonesia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia, tanah air dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, pemerintah dan masyarakat, usaha dan krida manusia dalam mengolah lingkungan hidup. Pengertian lain dari demokrasi Indonesia adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan bertujuan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (demokrasi pancasila). Pengertian tersebut pada dasarnya merujuk kepada ucapan Abraham Lincoln, mantan presiden Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa demokrasi suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, berarti pula demokrasi adalah suatu bentuk kekuasaan dari rakyat oleh untuk rakyat. Menurut konsep demokrasi, kekuasaan menyisratkan arti politik dan pemerintahan, sedangkan rakyat beserta warga masyarakat didefinisikan sebagai warga negara. Kenyataannya, baik dari segi konsep maupun praktik, demos menyiratkan makna diskriminatif. Demos bukan untuk rakyat keseluruhan, tetapi populus tertentu, yaitu mereka yang berdasarkan
tradisi atau kesepakatan formal memiliki hak preogratif forarytif dalam proses pengambilan/pembuatan keputusan menyangkut urusan publik atau menjadi wakil terpilih, wakil terpilih juga tidak mampu mewakili aspirasi yang memilihnya. (Idris Israil, 2005:51)
Secara ringkas, demokrasi Pancasila memiliki beberapa pengertian sebagai berikut:
1. Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang berdasarkan kekeluargaan dan gotong-royong yang ditujukan kepada kesejahteraan rakyat, yang mengandung unsur-unsur berkesadaran religius, berdasarkan kebenaran, kecintaan dan budi pekerti luhur, berkepribadian Indonesia dan berkesinambungan.
2. Dalam demokrasi Pancasila, sistem pengorganisasian negara dilakukan oleh rakyat sendiri atau dengan persetujuan rakyat.
3. Dalam demokrasi Pancasila kebebasan individu tidak bersifat mutlak, tetapi harus diselaraskan dengan tanggung jawab sosial.
4. Dalam demokrasi Pancasila, keuniversalan cita-cita demokrasi dipadukan dengan cita-cita hidup bangsa Indonesia yang dijiwai oleh semangat kekeluargaan, sehingga tidak ada dominasi mayoritas atau minoritas.
b. Demokrasi di Lingkungan Masyarakat Cirukem.
Dalam kehidupan sehari-hari mereka menerapkan budaya demokrasi di lingkungan kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa dapat di wujudkan dalam bentuk sebagai berikut:
1. Besedia menerima kesalahan atau kekalahan secara dewasa dan ikhlas;
2. Kesediaan para pemimpin untuk senantiasa mendengar dan menghargai pendapat warganya;
3. Memiliki kejujuran dan integritas;
4. Memiliki rasa malu dan bertanggung jawab kepada publik;
5. Menghargai hak-hak kaum minoritas;
6. Menghargai perbedaan yang ada pada rakyat;
7. Mengutamakan musyawarah untuk kesepakatan bersama untuk menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatan melalui pemerintahan desa.
Hal ini pula, menurut hemat penulis dapat disaksikan dari kesehari-harian mereka selalu bersama-sama menjaga kedamaian masyarakat.
Kemudian dalam menjalankan keorganisasian masyarakat, mereka berusaha mengatasi masalah yang timbul dengan cara pemikiran yang jernih, warganya pun ta‘at mengikuti kegiatan kerja bakti yang diadakan oleh desa dengan memberikan usulan demi kemajuan masyarakat. Bahkan saling tenggang rasa sesama warga guna menghargai pendapat orang lain. Walau tak sedikit banyak warga memberikan usul, kritik, dan saran untuk kesejahteraan desa dengan cara musyawarah mufakat.
1. Toleransi.
Sikap toleransi antar umat beragama bisa dimulai dari hidup bertentangga baik dengan tetangga yang seiman dengan kita maupun tidak.
Sikap toleransi itu direfleksikan dengan cara saling menghormati saling memuliakan dan saling tolong-menolong. Tolerasi hak dan kewajiban dalam
umat beragama telah tertanam dalam nilai-nilai yang ada pada pancasila.
Indonesia adalah Negara majemuk yang terdiri dari berbagai macam etnis dan agama, tanpa adanya sikap saling menghormati antara hak dan kewajiban maka akan dapat muncul berbagai macam gesekan-gesekan antar umat beragama. Masyarakat Cirukem merupakan masyarakat yang multi agama namun kehidupan mereka seolah tidak ada konflik. Kedamaian dan kebersamaan begitu terasa mewarnai kehidupan mereka yang beragam keyakinan. Artinya bahwa masyarakat Cirukem membentuk pola toleransi antar ummat beragama yang sangat kuat. Masyarakat lebih mengedepankan unsur persaudaraan dibandingkan kepentingan pribadinya sebagai pemeluk agama.48 Hal ini penulis melihat saat di Cibunut ada salah seorang warga non muslim meninggal dunia dari muslim sebagai tetangganya menghadiri mengikuti upacara pelepasan jenazah non muslim. Bahkan tidak hanya menghadirinya saja namun kelompok muslim ikut menggalikan tanah kuburan jenazah non muslim. Ini menunjukan adanya kerja sama, kegotong royongan, diantara sesama warga masyarakat dalam menjalankan hak dan kewajibanya.49 Oleh karena itu hemat analisis penulis dalam toleransi sesama muslim perilaku yang tidak sepaham diantara mereka, maka tidak sepatutnya menyebabkan perpecahan karena mengingat masyarakat multikultural agama dan berbudaya terlebih dalam konteks menjaga kebhinekaan masyarakat Cirukem salah satu bagian dari wilayah kecamatan Garawangi yang dikatakan sebagai miniatur Indonesia dalam masyarakat
48 Syaripullah, ―Kebersamaan dalam Perbedaan (studi kasus masyarakat Cigugur Kab. Kuningan Jawa Barat‖, sosio Didaktika, vol.1 no.1 mei 2014, hal. 77.
49 Wawancara dengan Ebo Bukhori, hari sabtu 22 April 2017.
berdemokrasi. Maka perbedaan itu, melahirkan tidak ada jalinan kasih sesama saudara baik sekandung ataupun seakidah dan di nilai sebagai masyarakat intolerasi.50
2. Gotong Royong
Gotong Royong adalah satu buah aktivitas sosial yang jadi ciri khas bangsa Indonesia dari jaman dahulu kala sampai waktu ini. Layaknya yang tertuang dalam pancasila adalah sila ke- 3 ―Persatuan Indonesia‖. Tabiat gotong royong yang sudah dipunyai Bangsa Indonesia sejak dulu. Gotong royong ialah keperibadian bangsa dan budaya yang sudah berakar kuat dalam kehidupan penduduk masyarakat Cirukem. Gotong royong tumbuh dari kita sendiri, perilaku dari penduduk. Rasa kebersamaan ini muncul, dikarenakan adanya sikap sosial tidak dengan pamrih dari masing-masing individu untuk menunjang beban yang sedang dipikul. Cuma di Indonesia, kita sanggup menemukan sikap gotong royong ini sebab di negeri lain tak ada sikap ini karena saling acuh tidak acuh kepada lingkungan di sekitarnya.51
Ini yakni sikap positif yang mesti di lestarikan biar bangsa Indonesia jadi bangsa yang kokoh dan kuat di segala lini.Tak cuma dipedesaan dapat kita jumpai sikap gotong royong, melainkan di daerah perkotaan pula sanggup kita jumpai bersama gampang. Sebab dengan cara culture, budaya tersebut benar-benar telah di tanamkan sifat ini sejak mungil sampai
50 Qoyum Ridwan,dkk, Tim Bahtsul Masail HIMASAL, “Fikih Kebangsaan Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan”. PT. Lirboyo Press dan LTN Himasal Pusat, Cetakan Pertama : Pebruari 2018. ISBN: 978-602-1207-99-0.
51https://anomika-edu.blogspot.co.id/2016/05/artikel-kegotongroyongan-di-masyarakat.html.
dewasa. Di karenakan ini yaitu salah satu cermin yang menciptakan Indonesia bersatu dari sabang sampai merauke, biarpun tidak sama agama, suku dan warna kulit namun kita masih jadi kesatuan yang kokoh. Inilah salah satu budaya bangsa yang menciptakan Indonesia, di puja dan puji oleh bangsa lain lantaran budayanya yang unik dan penuh toleransi antar sesama manusia.
Gotong royong merupakan sikap hidup, kiat kerja, dan adat yang telah dikenal bangsa Indonesia dengan cara turun-temurun sejak era dulu. Dalam gotong royong, orang menyelesaikan satu buah aktivitas dengan cara bersama-sama, saling sharing pekerjaan dan saling tolong membantu.
Dengan bergotong royong, tidak sedikit factor yang sudah dilakukan di masyarakat Cirukem dari dulu, mulai sejak dari mendirikan rumah, mengerjakan sawah, menunjang tetangga yang sedang berduka, tetangga yang masuk rumah sakit, dan masih banyak perilaku positif yang mereka lakukan. Semisal kunjungan ke rumah sakit, mereka secara bersama-sama mengadakan penjengukan dengan cara penyewaan kendaraan mobil kolbak, secara berduyun duyun. Mereka bersama-sama bergotong royong menuju rumah sakit dimana orang sakit menemptinya, Intinya seluruh pekerjaan berat dapat jadi lebih ringan.52 Bentuk kebersamaan yang lainya dengan suka rela menolong tetangganya dilakukan tanpa pamrih demi menegakan rasa persaudaraan mereka sesama masyarakat Cirukem meski mereka saling berbeda keyakinan.
52 Wawancara dengan Kepala Desa, Yayat dan Sekdes.
Kita hidup di dunia ini bukan seseorang diri, kita hidup dengan orang lain yang merupakan satu warga, satu bangsa, satu kesatuan hidup dalam masyarakat. Oleh karena itu untuk mendapatkan maksud tersebut sehingga kita seyogianya senantiasa siap untuk bekerja sama, sama bekerja dalam semangat bergotong royong. Bakal lebih banyak pekerjaan yang kita capai jika kita melaksanakan dengan gotong royong bersama orang lain.
Dengan Cara nyata, rutinitas gotong-royong sudah melembaga dan mengakar kuat. Ini diwujudkan dalam bermacam-macam gerakan keseharian penduduk Indonesia. Khususnya di pedesaan Cibunut Cirukem, praktek gotong-royong, meski condong mengalami penurunan baik dari segi pandang lingkup kegiatan ataupun jumlah orang yang terlibat—secara umum tetap meraih apresiasi positif dari masyarakat warga.
Factor ini tampaknya pun dipengaruhi oleh salah satu karakteristik khusus, merupakan keeratan jalinan sosial yang dipunyai oleh penduduk Jawa. Kegiatan gotong-royong dalam beragam dimensinya memberikan implikasi semangat dan value untuk saling memberikan jaminan (self-guarantying) atas hak dan kelangsungan hidup antar sesama masyarakat warga yang tetap melekat lumayan kuat di pedesaan. Perihal ini bisa juga dipacu sebagai salah satu taktik tradisional. Sample aktivitas yang sanggup dilakukan dengan cara bergotong royong antara lain pembangunan sarana umum dan membersihkan lingkungan lebih kurang.
Sikap gotong royong itu selayaknya dipunyai oleh seluruhnya factor atau lapisan warga yang ada di Kecamatan Garawangi Kabupaten Kuningan
khususnya warga masyarakat Cirukem. Dikarenakan, dengan adanya kesadaran tiap-tiap aspek atau lapisan warga laksanakan tiap-tiap aktivitas secara bergotong royong. Dengan begitu segala sesuatu yang dapat dikerjakan akan lebih enteng, serta-merta diselesaikan, tentunya pembangunan di daerah tersebut bakal makin tidak tersendat dan maju.
Bukan itu saja, tapi dengan adanya kesadaran tiap-tiap factor atau lapisan penduduk dalam mengaplikasikan tingkah laku gotong royong sehingga pertalian persaudaraan atau silaturahim bakal makin erat. Di Bandingkan bersama kiat individualisme yang mementingkan diri sendiri sehingga bakal memperlambat pembangunan di satu buah daerah. Lantaran individualisme itu akan memunculkan keserakahan dan kesenjangan diantara penduduk di daerah tersebut. Sifat gotong royong di daerah pedesaan lebih menonjol dalam pola kehidupan mereka, seperti memperbaiki dan membersihkan jalan, atau membangun/memperbaiki hunian. Sedangkan di daerah perkotaan gotong royong bisa dijumpai dalam aktivitas kerja bakti di RT/RW, di sekolah dan bahkan di kantor-kantor, contohnya terhadap dikala memperingati hari-hari akbar nasional dan keagamaan, mereka bekerja tidak dengan imbalan jasa, dikarenakan demi kebutuhan dengan.
Dari sini timbulah rasa kebersamaan, kekeluargaan, tolong menolong akan mempermudah segalanya. Maka akan terbina rasa kesatuan dan persatuan Nasional, Jika semangat gotong royong didorong oleh :
a. bahwa manusia tak hidup sendiri melainkan hidup dengan orang lain atau lingkungan sosial;
b. terhadap dasarnya manusia itu tergantung terhadap manusia yang lain;
c. manusia butuh menjaga jalinan baik bersama sesamanya; dan manusia butuh menyesuaikan dia dgn anggota penduduk yang lain.53
53 https://anomika-edu.blogspot.co.id/2016/05/artikel-kegotongroyongan-di-masyarakat.html