• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku dalam jenis Acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad, SAW

a. Pengertian Maulid Nabi Muhammad saw27

Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk cinta kepada Rasulullah Shollallahu ‗alaihi wasallam.

27http://www.blogger.com

Bahkan tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai Nabi Shollallahu ‗alaihi wasallam, melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anak-anaknya, bahkan seluruh manusia. Nabi Shollallahu ‗alaihi wasallam bersabda :

Artinya : ―Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai dari pada orang tuanya, anak-anaknya, dan seluruh manusia.‖ [HR.

Bukhariy (15), dan Muslim (44)].

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafizhahullah berkata, ―Hadits ini memberikan faedah kepada kita bahwasanya keimanan tidak akan sempurna hingga seseorang mencintai Rasulullah Shollallahu ‗alaihi wasallam melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.‖28

Ada kekeliruan umum dalam penyebutan kelahiran Nabi Muhammad saw, yaitu „maulud‟. Peringatan tentang kelahiran Nabi Muhammad saw yang bertolak dari kesalahan penyebutan ini berlanjut kepada penamaan peringatan itu, yaitu ‗Peringatan Maulud Nabi saw‟ atau disingkat ‗mauludan‘, atau „muludan‟. Secara leksikal, kata ‗maulud‟ berarti ‗yang dilahirkan‘.

Sementara itu yang dimaksud dengan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw, bukan ‗yang dilahirkan‘, melainkan menyangkut berbagai hal tentang kelahiran beliau, seperti: hari kelahirannya itu sendiri, sejarahnya,

28 (Lihat Minhajul Firqatun Najiyah, hal. 111)

perilakunya semasa hidup, kematiannya, hingga pengaruhnya dalam masyarakat dunia dari generasi ke generasi.

Kata yang tepat untuk tujuan adalah „maulid‟ dan lengkapnya:

―Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw‟. Kata ‗maulid‘ terambil dari perpindahan kata „walada, yu>ladu, maulidan‟, yang arti kata

‗maulidan‟ adalah kelahiran.

‗Maulid Nabi Muhammad saw‟ berarti kelahiran Nabi Muhammad saw.

Secara praktis bukan hanya memperingati ‗hari‘ kelahiran Nabi Muhammad saw, melainkan juga berbagai hal yang berkenaan dengan eksistensi Nabi Muhammad saw sejak dari peristiwa-peristiwa berkenaan dengan sebelum maupun saat-saat kelahirannya hingga pengaruhnya dalam peradaban dunia setelah beliau wafat. Pribadi Nabi Muhammad saw adalah orang yang paling berpengaruh di dunia hingga sekarang (Hart, 1988 : 1).29

Pada hari Sabtu tanggal 10 Desember 2016 waktunya sore jam 17.00 penulis berkunjung ke desa Cirukem Kecamatan Garawangi kabupaten Kuningan bersama 12 orang siswa-siswi SMPN 2 Garawangi, tempat yang pertama kali penulis disinggahi adalah mesjid Jami‘ (mesjid Desa) dan melaksanakan sholat berjama‘ah magrib dan sholat Isa‘ bersama penduduk masyarakat Cirukem, guna menghadiri acara peringatan maulid Nabi, SAW yang dilaksanakan ba‘da sholat Isa. Acara peringatan maulid Nabi ini dilaksanakan dilanggar/mushola RT.01/01 blok wage desa Cirukem.

29https://ronawajah.wordpress.com/2009/03/09/maulud-rasulullah-saw-dan-perilaku-sosial masyarakat/

Observasi yang dilakukan penulis di lingkungan mushola Rt.01/Rw.01 blok pahing30 menemukan beberapa kenyataan terkait perilaku masyarakat muslim Cirukem terhadap acara maulid. Usai melaksanakan sholat Isa’ penulis dan siswa siswi SMPN 2 Garawangi disambut oleh kepanitiaan dan warga masyarakat setempat. Karena kapasitas dari penulis sebagai tamu undangan guna untuk ikut serta memeriahkan acara peringatan itu, ya’ni penampilan anak didik penulis dengan mengisi marawis dan ceramahan.

Sekalipun awalnya mereka dari kepanitian yang di ketuai oleh bapak Oom S. Permadi,S.Pd. dkk, diantara mereka dari kepanitiaan untuk siang harinya sudah mengadakan berbagai jenis kegiatan lomba. Seperti halnya jenis lomba sholawatan, lomba hapalan surat pendek, asma‘ul husna, adzan, lomba bawa kelereng, balap lari, sepak bola dan lain sebagainya. Oleh karenanya, sehingga cukup padat untuk kegiatan di malam harinya, dengan berbagai penampilan-penampilan menarik pula termasuk adanya sandiwara bermain peran dengan judul ―Anak durhaka kepada orang tuanya‖. Peringatan maulid ini dilaksanakan oleh semua elemen masyarakat termasuk oleh tokoh ulama‘, umaro‘, ibu-ibu muslimat desa Cirukem, para pelajar baik tingkat SD, SLTP, SLTA dan para mahasiswa yang ada di lingkungan mushola Rt.01/Rw.01 blok pahing. Hal ini menunjukan perilaku keberagamaan mereka cukup antusias dalam rangka mencintai Nabi Muhammad, SAW.

30 Hasil Observasi dilapangan

Untuk menjaga agar perayaan maulid Nabi tidak melenceng dari aturan agama yang benar, sebaiknya perlu di ikuti oleh hal-hal yang mereka telah melaksanakan sebagai berikut:

a. Mengisi dengan bacaan-bacaan shalawat kepada Rasulullah SAW oleh para kiai, tokoh masyarakat, generasi muda-mudi dengan berjalan baik sekali sehingga sangat mengharukan penulis. Hal ini sesuai

dengan firman Allah, SWT dalam surat Al-Ahzab.

ِّيِبَّْىا ﻰَيَع َُُّ٘يَصُي َُٔخَنِئلٍََ َٗ َ َّللَّا َُِّإ اًَيِيْظَح اَُِّ٘يَط َٗ ِْٔيَيَع اُّ٘يَص اٍَُْ٘آ َِيِذَّىا اَُّٖيَﺃ اَي

Artinya : Allah SWT berfirman:"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yangberiman!

Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". ( QS.Al-Ahzab:56.)

b. Berdzikir dan meningkatkan ibadah kepada Allah. Syekh Husnayn Makhluf berkata: "Perayaan maulid harus dilakukan dengan berdzikir kepada Allah SWT, mensyukuri kenikmatan Allah SWT atas kelahiran Rasulullah SAW, dan dilakukan dengan cara yang sopan, khusyu' serta jauh dari hal-hal yang diharamkan dan bid'ah yang munkar".

c. Membaca sejarah Rasulullah s.a.w. dan menceritakan kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan beliau. Memberi sedekah kepada yang membutuhkan atau fakir miskin. Dari kegiatan peringatan mauled Nabi ini mereka para panitia sudah bekerja keras dengan para donutur - donatur sehingga untuk mensejahtrakan orang yang tidak mampu melalui berbagai kegitan kegiatan termasuk adanya pembagian hadiah-hadiah.

d. Meningkatkan silaturrahmi.

e. Menunjukkan rasa gembira dan bahagia dengan merasakan senantiasa kehadiran Rasulullah SAW. ditengah-tengah kita.

f. Mengadakan pengajian atau majlis ta'lim yang berisi anjuran untuk kebaikan dan mensuri tauladani Rasulullah s.a.w.31

Al–hamdulillah,32 kalimat yang terungkap ketua panitia pelaksana peringatan mauled Nabi di mushola Rt.01/01 blok pahing. Dari kegiatan peringatan maulid Nabi ini, menurutnya, ternyata dapat mempererat jalinan antara para kiai setempat, karena disana terdapat perkumpulan para kiai dengan eratnya membacakan sholawat secara bersamaan, diantara mereka ada ustadz Maskur, ustadz M. Fadli, ustadz Hendrik dari tokoh ulama‘ sedangkan dari tokoh umaro‘ adanya bapak Asikin sebagai kesra di desa Cirukem. Bahkan tidak hanya kekompakan para tokoh-tokoh baik Ulama‘ maupun Umaro‘, ujar ketua panitia saat penulis mewancarainya, bahwa banyaknya para donatur yang mengulurkan tangan untuk memperingati maulid Nabi dan di luar dugaan hati kami(para panitia). Hal ini terjadi karena mungkin Allah SWT sudah menggerakan hati hambaNya kepada bapak Tarkim, yaitu: seorang yang menghibahkan sebidang tanah untuk sarana kepentingan pendidikan agama di tempat tersebut.

Dalam kesempatan yang lain, penulis juga mengadakan observasi di lingkungan mesjid blok Gamping Rt.06/Rw.02 pada hari Ahad, 25 Desember

31 https://ronawajah.wordpress.com/2009/03/09/maulud-rasulullah-saw-dan-perilaku-sosial-masyarakat/

32 Ketua panitia pelaksana mengucapkan Syukur saat di hubungi usai acara kegiatan peringatan mauled Nabi pada hari Senin 12 Desember 2016 di rumahnya.

2016. Adapun pelaksanaan peringatan maulid Nabi di tempat ini, malam harinya melaksanakan Cermahan agama dan pagi harinya mulai jam 08.00 hingga jam 12.00 mengadakan acara sholawatan gembyungan dan kegiatan gembyungan sudah merupakan tradisi dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, kemudiaan setelah sholat duhur berjamaah dilanjutkan dengan acara sholawatan membaca berjanji, debaiyah bersama seluruh lapisan masyarakat lingkungan setempat.

Penulis berkunjung ketempat itu saat sedang melaksanakan sholawatan gembyungan berada di mesjid Gamping Rt.06/Rw.02 saat itu masih melantunkan sholawatan dan bermusikan alat kendang, kecrek, bentuk rebana berbentuk besar.

Pada saat mereka ber istirahat, penulis langsung memperkenalkan diri dan memberikan sambutan kepada semua pihak, di antara mereka di ketuai tokoh Gembyungan, ketua pelaksana acara, ketua MUI desa, kaur Umum dari pemerintahan desa dan anggota masyarakat sekitarnya.

Adapun isi sambutan yang penulis sampaikan kepada mereka, antara lain:

a) Ucapan terima kasih dan menyampaikan tujuan penulis atas waktu yang telah di berikan sehingga dapat mengadakan reset lapangan dalam perilaku muslim dalam melaksanakan keberagamaan.

b) Mengajak kepada yang hadir khususnya, umumnya seluruh lapisan masyarakat senantisa mempertahankan nilai budaya baik yang sudah di miliki. Karena mempertahankan nilai kebudayaan yang sudah ada itu lebih sulit dari pada mengawalinya.

c) Perilaku keberagamaan yang baik akan berjalan, mana kala mampu mempertahankan rasa persatuan dan kesatuan di antara warga. Oleh

karena itu hendaklah melaksanakan satu kesatuan dalam menuju tujuan yang sama dengan mewujudkan adanya kebersamaan.

d) Berharap penuh untuk kegiatan gembyungan itu bisa di generasikan kepada generasi penerus agar senantiasa tidak hilang begitu saja.

b. Perilaku jenis Acara Halal bil Halal.

1) Pengertian Halal Bihalal dan Sejarahnya.

Secara bahasa, halal bihalal adalah kata majemuk dalam bahasa Arab dan berarti halal dengan halal atau sama-sama halal. Tapi kata majemuk ini tidak dikenal dalam kamus-kamus bahasa Arab maupun pemakaian masyarakat Arab sehari-hari. Masyarakat Arab di Makkah dan Madinah justru biasa mendengar para jamaah haji Indonesia –dengan keterbatasan kemampuan bahasa Arab mereka- bertanya ‗halal?‘ saat bertransaksi di pasar-pasar dan pusat perbelanjaan. Mereka menanyakan apakah penjual sepakat dengan tawaran harga yang mereka berikan, sehingga barang menjadi halal untuk mereka. Jika sepakat, penjual akan balik mengatakan ―halal‖. Atau saat ada makanan atau minuman yang dihidangkan di tempat umum, para jamaah haji biasa bertanya ―halal?‖ untuk memastikan bahwa makanan / minuman tersebut gratis dan halal untuk mereka.

Kata majemuk ini tampaknya memang ‗made in Indonesia‟. Kata halal bihalal justru diserap Bahasa Indonesia dan diartikan sebagai ―hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan, biasanya diadakan di

sebuah tempat (auditorium, aula, dsb) oleh sekelompok orang dan merupakan suatu kebiasaan khas Indonesia.‖ 33

Penulis Ayip Zaenal Aripin menyebutkan bahwa halal bihalal adalah suatu tradisi berkumpul sekelompok orang Islam di Indonesia dalam suatu tempat tertentu untuk saling bersalaman sebagai ungkapan saling memaafkan agar yang haram menjadi halal. Umumnya kegiatan ini diselenggarakan setelah melakukan salat Idul Fitri.34 Kadang-kadang, acara halal bihalal juga dilakukan di hari-hari setelah Idul Fitri dalam bentuk pengajian, ramah tamah atau makan bersama.

Konon, tradisi halal bihalal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I (lahir 8 April 1725), yang terkenal dengan sebutan ‗Pangeran Sambernyawa‟. Untuk menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam dengan istilah halal bihalal. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan halal bihalal, yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama.35

33 http://bahasakita.com/2009/08/23/halal-bi-halal2/

34 http://bahasakita.com/2009/08/23/halal-bi-halal2/

35 http://bahasakita.com/2009/08/23/halal-bi-halal2/

Halal bihalal dengan makna seperti di atas juga tidak ditemukan penyebutannya di kitab-kitab para ulama. Sebagian penulis dengan bangga menyebutkan bahwa halal-bihalal adalah hasil kreativitas bangsa Indonesia dan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Indonesia.36 Namun, dalam kaca mata ilmu agama, hal seperti ini justru patut dipertanyakan; karena semakin jauh suatu amalan dari tuntunan kenabian, ia akan semakin diragukan keabsahannya. Islam telah sempurna dan penambahan padanya justru mengurangi kesempurnannya. Tulisan pendek ini berusaha mengulas keabsahan tradisi halal bihalal menurut pandangan syari‘ah.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan halal bihalal bukanlah tradisi saling mengunjungi di hari raya Idul Fitri yang juga umum dilakukan di dunia Islam yang lain. Tradisi ini keluar dari pembahasan tulisan ini, meskipun juga ada acara bermaaf-maafan di sana.

2) Hari raya dalam Islam harus berlandaskan dalil (tauqifiy)

Hukum asal dalam bab ibadah adalah bahwa semua ibadah haram sampai ada dalilnya. Sedangkan dalam bab adat dan muamalah, segala perkara adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Perayaan hari raya („id) sebenarnya lebih dekat kepada bab mu‟amalah. Tapi masalah „id adalah pengecualian, dan dalil-dalil menunjukkan bahwa „id adalah tauqifiy (harus

36 http://bahasakita.com/2009/08/23/halal-bi-halal2/

berlandaskan dalil). Hal ini karena „id tidak hanya adat, tapi juga memiliki sisi ibadah. Asy-Syathibi mengatakan:

ٖيف تعذب لا تيداع يٕ ذيﺣ ٍِ ثايداﻌىا ُإٗ

عْضٗ عض ُْ٘ح ٗﺃ اٖب ذَّبﻌخُي ذيﺣ ٍِٗ ،ا

تعذبىا اٖيخذح ذُّبﻌخىا.

Artinya :

―Dan sungguh adat istiadat dari sisi ia adat, tidak ada bid‘ah di dalamnya. Tapi dari sisi ia dijadikan/diposisikan sebagai ibadah, bisa ada bid‘ah di dalamnya.‖37

Dan tauqifiy dalam perayaan „id memiliki dua sisi:

1. Tauqifiy dari sisi landasan penyelenggaraan, di mana Nabi–shallallah „alaih wasallam –membatasi hanya ada dua hari raya dalam satu tahun, dan hal ini berdasarkan wahyu.

ا ُهُ٘ط َر ًَِذَق :َهاَق ٍلِىاٍَ َِْب ِضََّﺃ َِْع ،اََِٖيِف َُُ٘بَﻌْيَي ُِاٍَ َْ٘ي ٌَُْٖى َٗ َتَْيِذََْىا ٌََّيَط َٗ ِْٔيَيَع ُ َّللَّا ﻰَّيَص ِ َّللَّ

ْىا يِف اََِٖيِف ُﺐَﻌْيَّ اَُّْم :اُ٘ىاَق ؟ُِاٍَ َْ٘يْىا ُِاَذَٕ اٍَ :ٌََّيَط َٗ ِْٔيَيَع ُ َّللَّا ﻰَّيَص ِ َّللَّا ُهُ٘ط َر َهاَقَف

ِتَّيِيِٕاَجَ . َُِّإ :َهاَق

ََّللَّا ِزْحَّْىا ًَ َْ٘ي َٗ ِزْطِفْىا ًَ َْ٘ي ؛اٍََُِْْٖ ا ًزْيَخ اََِِٖب ٌُْنَىَذْبَﺃ ْذَق َّوَج َٗ َّشَع .

Artinya : ― Dari Anas bin Malik berkata: ―Rasulullah-shallallah „alaih wasallam- datang ke Madinah dan penduduknya memiliki dua hari di mana mereka bermain di dalamnya. Maka beliau bertanya: ―Apakah dua hari ini?‖

Mereka menjawab: ―Dahulu kami biasa bermain di dua hari ini semasa Jahiliyah.‖ Beliaupun bersabda: ―Sungguh Allah telah menggantikannya

37 Al-I‟tisham, 2/98

dengan dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.‖ (HR Abu Dawud no. 1134, dihukumi shahih oleh al-Albani)38

Maka, sebagai bentuk pengalaman dari hadits ini, pada zaman Nabi – shallallah „alaih wasallam– dan generasi awal umat Islam tidak dikenal ada perayaan apapun selain dua hari raya ini,39 berbeda dengan umat Islam zaman ini yang memiliki banyak sekali hari libur dan perayaan yang tidak memiliki landasan syar‘i.

2. Tauqifiy dari sisi tata cara pelaksanaannya, karena dalam Islam, hari raya bukanlah sekedar adat, tapi juga ibadah yang sudah diatur tata cara pelaksanaannya. Setiap ibadah yang dilakukan di hari raya berupa shalat, takbir, zakat, menyembelih dan haramnya berpuasa telah diatur. Bahkan hal-hal yang dilakukan di hari raya berupa keleluasaan dalam makan minum, berpakaian, bermain dan bergembira juga tetap dibatasi oleh aturan-aturan syariat40.

Di satu sisi Islam telah menjelaskan tata cara perayaan hari raya, tapi di sisi lain tidak memberi batasan tentang beberapa sunnah dalam perayaan „id, seperti bagaimana menampakkan kegembiraan, bagaimana berhias dan berpakaian, atau permainan apa yang boleh dilakukan. Syariah Islam merujuk perkara ini kepada adat dan tradisi masing-masing.

38 Shahih Sunan Abi Dawud, 4/297

39 Iqtidha‟ ash-Shirath al-Mustaqim, 1/499

40 Mi‟yarul Bid‟ah hal. 262

Jadi, boleh saja umat Islam berkumpul, bergembira, berwisata, saling berkunjung dan mengucapkan selamat. Bahkan kegembiraan ini perlu ditekankan agar anggota keluarga merasakan hari yang berbeda dan puas karenanya, sehingga mereka tidak tergoda lagi dengan hari besar-hari besar yang tidak ada dasarnya dalam Islam41. Namun mengkhususkan hari Idul Fitri dengan bermaaf-maafan membutuhkan dalil tersendiri. Ia tidak termasuk dalam menunjukkan kegembiraan atau berhias yang memang disyariatkan di hari raya. Ia adalah wazhifah (amalan) tersendiri yang membutuhkan dalil.

Nabi-shallallah „alaih wasallam- dan para sahabat tidak pernah melakukannya, padahal faktor pendorong untuk bermaaf-maafan juga sudah ada pada zaman mereka. Para sahabat juga memiliki kesalahan kepada sesama, bahkan mereka adalah orang yang paling bersemangat utnuk membebaskan diri dari kesalahan kepada orang lain. Tapi hal itu tidak lantas membuat mereka mengkhususkan hari tertentu untuk bermaaf-maafan. Jadi, mengkhususkan Idul Fitri untuk bermaaf-maafan adalah penambahan syariah baru dalam Islam tanpa landasan dalil. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

ٍَ ٌََّيَط َٗ ِْٔيَيَع ُالله ﻰَّيَص ِالله ِه ُْ٘ط َر ِذَْٖع ﻰَيَع ِٔيْﻌفِى ي ِضَخْقَُىا ُُ ُْ٘نَي ٍزٍﺃ ُّوُنَف ٌَْى َٗ ًتَحَيْصٍَ َُاَم َْ٘ى ًاد ُْ٘ج ْ٘

ٍتَحَيْصََِب َضْيَى َُّّٔﺃ ٌَُيْﻌُي ،ْوَﻌْفُي.

Artinya : ―Maka setiap perkara yang faktor penyebab pelaksanaannya pada masa Rasulullah – shallallah „alaih wasallam – sudah ada jika itu

41 Iqtidha‟ ash-Shirath al-Mustaqim, 2/6

maslahat (kebaikan), dan beliau tidak melakukannya, berarti bisa diketahui bahwa perkara tersebut bukanlah kebaikan.‖42

 Analisa penulis dengan menyimak berbagai keterangan dan menyaksikan diberbagai lapangan pada beberapa masalah, diantaranya masalah serupa bersalam-salaman setelah shalat ‗ied dan mengkhususkan datang ke maqbaroh ziarah kubur di hari raya. Karena tidak dikenal selain di Indonesia dan baru muncul pada abad-abad terakhir ini, tidak banyak perkataan ulama yang membahas secara khusus tentang halal bihalal. Namun ada masalah lain yang memiliki kesamaan karakteristik dengan halal bihalal dan sudah banyak dibahas oleh para ulama sejak zaman dahulu, yaitu masalah berjabat tangan atau bersalam-salaman setelah shalat dan pengkhususan ziarah kubur di hari raya. Berjabat tangan adalah sunnah saat bertemu dengan orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

َفاَصَخَيَف ُِاَيِقَخْيَي ِِْيََِيْظٍُ ٍِِْ اٍَ ٌََّيَط َٗ ِْٔيَيَع ُ َّللَّا ﻰَّيَص ِ َّللَّا ُهُ٘ط َر َهاَق :َهاَق ِءا َزَبْىا َِِع اَََُٖى َزِفُُ َّلاِإ ُِاَح

َُْﺃ َوْبَق ََْاَق َّزَفَخَي

Artinya : ―Dari al-Bara‘ (bin ‗Azib) ia berkata: Rasulullah –shallallah

„alaih wasallam– bersabda: ―Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, melainkan keduanya sudah diampuni sebelum berpisah.‖ (HR. Abu Dawud no. 5.212 dan at-Tirmidzi no. 2.727, dihukumi shahih oleh al-Albani)43

42 Iqtidha‟ ash-Shirath al-Mustaqim, 2/101

43 As-Silsilah ash-Shahihah, 2/24 no. 52

Tapi ketika sunnah ini dikhususkan pada waktu tertentu dan diyakini sebagai sunnah yang dilakukan terus menerus setiap selesai shalat, hukumnya berubah; karena pengkhususan ini adalah tambahan syariah baru dalam agama.

Di samping itu, bersalama-salaman setelah shalat juga membuat orang tersibukkan dari amalan sunnah setelah shalat yaitu dzikir44. Ibnu Taimiyyah ditanya tentang masalah ini, maka beliau menjawab: ―Berjabat tangan setelah shalat bukanlah sunnah, tapi itu adalah bid‟ah, wallahu a‟lam‖.45 Lebih jelas lagi, para ulama menghitung pengkhususan ziarah kubur di hari raya termasuk bid‘ah46 , padahal ziarah kubur juga merupakan amalan yang pada dasarnya dianjurkan dalam Islam, seperti dijelaskan dalam hadits berikut:

ْىا ِة َراَي ِس َِْع ٌُْنُخْيََّٖ ُجُْْم يِِّّإ :ٌََّيَط َٗ ِْٔيَيَع ُ َّللَّا ﻰَّيَص ِ َّللَّا ُهُ٘ط َر َهاَق :َهاَق َةَذْي َزُب َِْع رُ٘بُق

إَٗ ُرٗ ُشَفُلاا

ُح اََِّّٖإَف؛ َرذ ة َز ِخ ْلْا ِّك

Artinya :‖Dari Buraidah (al-Aslami) ia berkata: Rasulullah - shallallah

„alaih wasallam- bersabda: ―Sungguh aku dulu telah melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah; karena ia mengingatkan akhirat.‖ (HR Ashhabus Sunan, dan lafazh ini adalah lafazh Ahmad (no.

23.055) yang dihukumi shahih oleh Syu‘aib al-Arnauth).

Demikian pula berjabat tangan dan bermaaf-maafan adalah bagian dari ajaran Islam. Namun ketika dikhususkan pada hari tertentu dan diyakini

44Fatawa Syaikh Abdullah bin „Aqiel, 1/141.

45 Majmu‟ Fatawa Ibnu Taimiyyah, 23/339

46 Al-A‟yad wa Atsaruha „alal Muslimin, hal. 247

sebagai sunnah yang terus menerus dilakukan setiap tahun, hukumnya berubah menjadi tercela.

C. Kultur Perilaku Sosial masyarakat Cirukem

Dokumen terkait