Tes Formatif 1
1. C Salah satu factor yang sangat penting yang akan mengantarkan keberhasilan umat manusia pada
abad informasi dan teknologi canggih seperti sekarang ini ialah kepemilikan sumber daya manusia.
2. A Pada tataran yang lebih rendah membaca diidentidifikasi sebagai proses kegiatan mencocokan lambang-lambang bunyi bahasa. Pendapat ini dikemukakan oleh Anderson.
3. D Faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi kemampuan membaca, antara lain motivasi, persepsi, dan kondisi social ekonomi. Kondisi penglihatan termasuk factor sensoris
4. A Dalam dunia pendidikan kemahiran membaca merupakan hal yang sangat penting, sebab proses belajar hampir dapat dikatakan
tidak mungkin dilepaskan dari kegiatan membaca. Kedua pernyataan menunjukkan hubungan sebab-akibat.
5. B Di samping objektif dan bertahap, keterampilan membaca itu bersifat tergeneralisasikan. Keterampilan dasar dalam membaca dapat digeneralisasikan sehingga anak yang telah dapat menguasai keterampilan tersebut dituntut untuk dapat menarapkannya kapan saja dan dimana saja jika situasi dan kondisi menghendakinya penggeneralisaian itu.
Kedua pernyataan tersebut benar akan tetapi keduanya tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat.
6. B Pada awalnya membaca itu merupakan proses sensoris. Proses sensoris bukan merupakan proses memberi makna terhadap kata-kata yang dibaca akan tetapi proses melihat.
Pernyataan pertama benar sedangkan pernyataan kedua salah. 7. A Membaca merupakan prosese interaksi antara penulis dan
pembaca dan bersifat tidak langsung.
8. B Kesiapan membaca itu dimulai dari, melihat bagi yang normal dan meraba bagi yang buta.
9. D Sebagai guru kita harus yakin bahwa keterampilan membaca itu harus diajarkan kepada para siswa dan bukanlah bawaan alami serta tidak terjadi dengan sendirinya.
10. D Persepsi seorang anak dalam membaca berpengaruh dan dipengaruhi oleh factor-faktor kebudayaan dan pengalaman, emosi dan kematangan, serta kepribadian atau watak.
Tes Formatif 2
1. B Kaum behavioristik beranggapan bahwa factor yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca seaseorang adalah factor-faktor yang bersifat ekstrinsik.
2. A Penjelasan sam dengan nomor
3. D Faktor sosial ekonomi termasuk kedalam komponen kesiapan membaca (reading readness).
4. A Yap mengatakan bahwa kemampuan membaca seseorang itu diibaratkan seperti, kemampuan seorang penerbang: semakin banyak terbangnya maka akan semakin piawailah kemampuan terbangnya.Untuk memperkuat pendapatnya itu Yap mengemukakan hasil penelitiannya bahwa hamper 65% kemampuan membaca seseorang itu ditentukan oleh kuantitas membacanya.
5. B Burmeinster serta beberapa pakar lainnya mengatakan bahwa kemampuan membaca seseorang itu ditentukan oleh intelegensinya (IQ). Harris juga mengatakan bahwa IQ yang dimiliki seseorang memang sangat besar pengaruhnya dalam menentukan kemampuan membaca seseorang, namun IQ bukanlah segalanya.Ia hanyalah merupakan salah satu dari sekian banyak factor yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar membaca. Kedua pernyataan tersebut benar namun tidaksaling menunjukkan hubungan sebab-akibat.
6. A Status sosial ekonomi seseorang berkorelasi dengan kemampuan membaca seseorang
7. A Beberapa faktor lain yang juga merupakan faktor penyebab rendahnya kemampuan membaca bangsa kita antara lain, pertama, tradisi kelisanan (orality) masih menjadi semacam penyumbat dalam kantong memori linguistik masyarakat kita, kedua, akibat sistem persekolahan kita yang kurang memberikan peluang yang cukup bagi hadirnya tradisi keberaksaraan (literacy) atau tradisi membaca kepada para peserta didik.
8. C Faktor-faktor ekstrinsik yang mempengaruhi kemampuan membaca dibagi menjadi dua katagori, yakni unsur-unsur yang berasal dari dalam teks bacaan (keterbacaan dan organisasi teks), kedua unsur-unsur yang berasal dari lingkungan baca (fasilitas, guru, model pengajaran dan lain-lain).
9. D Salah satu penyebab kesulitan memahami bacaan antara lain berakar pada kebiasaan baca yang salah. Kebiasaan-kebiasaan
dimaksud meliputi (1) terlalu banyak memperhatikan butir demi butir informasi sehingga gagal memberi makna pada teks, (2) kurang memberi perhatian kepada detail, sehingga meskipun maksud umum bacaan tertangkap secara utuh namun gagal dalam memahami butir-butir tertentu, (3) terlalu imajinatif, terutama bila pembaca menganggap telah mengetahui topik tertentu yang dibicarakan dalam bahan bacaan atau mempunyai pendapat yang kuat tentang topik tersebut, (4) kalimat-kalimat yang tersaji di dalam teks mempunyai tingkat kompleksitas yang tinggi, (5) gaya penulisan yang bertipe mengulang-ulang gagasan dengan ungkapan-ungkapan dan kata- kata yang fundamen (6) gaya pengungkapan pokok pikiran penting yang tidak langsung sehingga mengharuskan pem baca mengambil
inferensi atas informasi-informasi yang tidak tersurat dalam bacaan, (7) penggunaan kosakata yang tidak akrab dengan pembaca.
10. D Guru sebaiknya berpihak kepada kaum prosedural sebab dengan demikian mereka akan dapat bersikap arif dan bijaksana dalam melihat keberbagian kemampuan yang dimiliki oleh para siswa serta dapat melakukan penilaian yang objektif kepada para siswa. Dengan perkataan lain dapat mendudukan posisi anak secara proporsional.
Tes Forrnatif 3
1. A Lamanya seorang pembaca melakukan aktivitas membaca dalam setiap harinya sangat bergantung pada tuntutan kebutuhan orang tersebut (profesi yang mereka sandang) serta kecepatan membaca yang dimilikinya.
2. B Menurut penelitian banyaknya volume bacaan yang harus dilahap oleh seorang mahasiswa pada setiap minggunya harus mencapai 850.000 kata.
3. D Menurut penelitian Edward Kimman (1984) aktivitas membaca masyarakat Indonesia beserta jenis bacaan yang mereka lahap secara garis besar dapat dipilah ke dalam empat katagori. Pertama, kelompok orang yang hanya sekali-kali saja melakukan aktivitas membaca. Artinya kelompok orang tersebut hanya akan melakukan aktivitas membaca kala ada tuntutan harus membaca, seperti kala menerima surat misalnya. Karena frekuensinya tidak pasti maka menurut Kimman jenis bacaan yang mereka baca pun menjadi sulit diidentifikasi. Jumlah masyarakat kita yang termasuk kelompok ini diperkirakan meliputi sepertiga dan komunitas bangsa Indonesia.
4. B Menurut para pakar psikologi perkembangan penciptaan minat baca harus diupayakan sejak kecil dan harus dimulai dari lingkungan rumah atau keluarga. Mereka juga menyatakan bahwa penanaman aneka kebiasaan pada masa anak-anak akan sangat besar pengaruhnya pada masa-masa selanjutnya. Kedua pernyataan tersebut benar akan tetapi keduanya.tidak saling
menunjukkan sebab akibat.
5. A Menurut Donna Norton (1989), seorang pakar membaca dari Universitas Texas mengatakan sesungguhnya merupakan sebuah persepsi yang salah jika banyak orang tua yang mengatakan bahwa anak-anak itu tidak memiliki kesenangan membaca buku. Menurut hasil-hasil penelitian yang ia lakukan, dia berkesimpulan bahwa pada dasarnya semua anak senang melakukannya. Hanya saja syaratnya pihak orang tua harus mau menyediakan buku-buku bacaan yang memang cocok dengan kondisi mereka, baik dari segi isi maupun bahasanya. Oleh karena itu menurutnya untuk
menanamkan kebiasaan membaca pada anak-anak salah satu caranya sediakan saja bacaan yang mereka sukai, pasti anak-anak dengan penuh suka cita akan melakukannya. Donna N. Norton mengatakan bahwa adalah sebuah persepsi yang salah jika banyak orang tua yang menganggap seolah-olah anak-anak itu tidak memiliki kesenangan membaca buku. Dengan perkataan lain membaca harus dapat menyenangkan dan rnenggembirakan anak-anak.
6. B Mendongeng sangat baik sebagai alat untuk menumbuhkan minat baca anak Dongeng juga merupakan cerita untuk rnengembangkan daya imajinasi anak-anak. Tapi kedua pernyataan tersebut tidak saling menunjukkan hubungan sebab akibat.
7. C Salah satu bentuk pelibatan anak-anak dengan kegiatan membaca di lingkungan rumah antara lain dengan mengajak mereka saat anggota keluarga Iainnya tengah melakukan membaca serta janganlah mereka dihardik saat mereka ikut serta membaca bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya.
8. D Bentuk-bentuk pemberantasan kegiatan pembajakan buku, mendirikan perpustakaan di daerah-daerah terpencil serta pencanangan program KMD (koran masuk desa) merupakan bentuk-bentuk dukungan pemerintah dalam mengupayakan penumbuhan minat baca masyarakat.
9. C Mahasiswa dan Pelajar SLTA oleh Edward Kimman digolongkan sebagai kelompok orang yang melakukan aktivitas membaca karena didorong oleh kebutuhan ingin mendapatkan informasi. Jenis bacaan mereka terutama surat kabar, majalah berita, jurnal berkala serta buku-buku ilmu pengetahuan (khususnya buku-buku teks atau buku pelajaran). Jumlah kelompok ini menurut Kimman diperkirakan sekitar 15% dan komunitas bangsa kita.
10. D Kebutuhan terhadap informasi, kesenangan atau hobi membaca, serta pengaruh budaya keluarga termasuk faktor-faktor yang turut mempengaruhi minat baca seseorang.
DAFTARPUSTAKA
Bwialster L.E. (1978), Reading Strategies for Middler and
Secondary School, California: Addison-Wesley Publishing
Company.
Eddie William, (1984), Reading in the Language Classroom, London: Macmillam Publishing Ltd.
Harris, L. Theodore (et.al) (ed): 1983, Dictionary of Reading
and Related Term, London: International Reading
Asociation.
Tarigan, H.G.: 1986, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan
Berbahasa, Bandung: Angkasa.
Smith, Frank, 1987 Understanding Reading: a Psikolinguistic
Analysis of Reading and Learning to Read, London:
Lawrence Erlbaum Asociates Publisher.
Smith, Carl B. (et all), Teaching Reading in Secondary School
Content Subject: Bookthinking Process, NewYork: Holt,
Rinehart and Wiston.
Nurhadi, 1987, Membaca Cepat dan Efektif (Teori dan
Latihan), Bandung: penerbit CV. Sinar Baru.
Harjasujana, A. (dkk.), 1988, Materi Pokok Membaca, Jakarta: Universitas Terbuka
Harjasujana, A, 1988, Nusantara yang Literat: Secercah
Sumbangsaran terhadap Upaya Pengingkatan Mutu Pendidikan di Indonesia. (Pidato Pengukuhan Jabatan
Guru Besar pada FPBS IKIP Bandung).
Tampubolon D.P, 1989, Kemampuan Membaca Teknik Membaca
Mulyati, Yeti, 1994, Model Pelatihan dalam Bimbingan
Membaca Sebagai Upaya untuk Meningkatkan Pemahaman Bacaan, Tesis Pascasarjana IKIP Bandung.
Widyamartaya A., 1992, Seni Membaca Untuk Studi, Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Olson, R. David (et.al) (ed.), 1983, Literacy, Language, and
Learning, London: Cambridge University.
Richard T. Vacca and Jo Annel Vacca, 1987, Content Area
Reading, Boston: Scott, Foresman and Company.
Burnes Don and Glenda Page (ed.), 1985, Insight and Strategies
for Teaching Reading, Sydney: Harcourt Brace
Jovanovich Group.
Harras K.A, 1993, Mengembangkan Bahasa Anak-anak Melalui
Bacaan Sastra dalam Sastra dan Perkembangan Insani Anak-anak (H.G. Tarigan dan Kholid A. Harras ed),
Bandung: Penerbit Mimbar Pendidikan Bahasa dan Seni.
Harras K.A, 1995, Membaca Minat Baca Masyarakat Kita dalam
jurnal Mimbar Bahasa dan Seni No.XXII 1995.
Hafni, 1981, Pemilihan dan Pengembangan Bahan Pengajaran
Membaca, Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan
Guru.
Norton, Donna, 1988, Through the Eyes of a Child: An
Introduction to Children Literature, Colombus, Toronto:
Charles E. Merril Publishing Company.
Rosidi, Ajip, 1973, Pembinaan Minat Baca, Apresiasi, dan
Penelitian Sastra, Jakarta: Panitia Tahun Buku
Tarigan, H.G., Kholid dan A. Ruhendi Saefullah (ed), 1989,
Membaca dalarn Kehidupan, Bandung: Angkasa.