• Tidak ada hasil yang ditemukan

KURANG ENERGI DAN PROTEIN (KEP)

Dalam dokumen PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR (Halaman 87-91)

SITUASI UPAYA KESEHATAN

IV.5 PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

IV.5.1 KURANG ENERGI DAN PROTEIN (KEP)

Kurang Energi dan Protein (KEP) merupakan salah satu jenis gangguan kekurangan zat gizi, terutama zat gizi makro yang dapat memberikan gambaran tentang status gizi masyarakat. Status gizi masyarakat, pada umumnya dapat dilihat dari status gizi balita. Ada beberapa indikator yang dapat digunakan dalam hal ini, yaitu Berat Badan menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB).

IV.5.1.1 ANGKA STATUS GIZI BALITA BERDASARKAN BB/U

Gambaran status gizi balita berdasarkan Berat Badan menurut Umur (BB/U) di Jawa Timur Tahun 2012, dapat dilihat pada gambar 4.23 berikut ini. Dari gambar, diketahui bahwa berdasarkan indikator BB/U, persentase balita Gizi Buruk (BB Sangat Kurang) sebesar 1,15% dan persentase balita Gizi Kurang sebesar 5,71%, sehingga persentase balita kurang gizi (Gizi Kurang + Gizi Buruk) sebesar 6,86%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran Data Profil Kesehatan Tabel 27. Jika dibandingkan dengan target MDGs tahun 2014 sebesar 3.6%, maka angka prevalensi gizi buruk di Jawa Timur sudah

68

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2012

cukup aman (1,15%). Akan tetapi harus ditekankan bahwa semua kabupaten/kota yang ada harus tetap waspada dan terus mempertahankan agar prevalensi gizi buruknya tidak naik bahkan diupayakan agar semaksimal mungkin untuk berupaya menguranginya.

Gambar 4.23 Prevalensi Angka Kurang Energi dan Protein (KEP) Provinsi Jawa Timur Tahun 2012

Sumber : Seksi Gizi, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur

IV.5.1.2 ANGKA BALITA BAWAH GARIS MERAH (BGM)

Jika dilihat dari data balita BGM (Bawah Garis Merah) dibanding dengan balita yang ditimbang (D), tahun 2012 di Jawa Timur (Lampiran Data Profil Kesehatan Tabel 44) angkanya sebesar 25.182 balita (1,12%). Dibandingkan dengan persentase BGM pada 2 (dua) tahun sebelumnya, yakni tahun 2010 sebesar 44.449 balita (2,13%) dan tahun 2011 sebesar 30.449 balita (1,36%), maka terjadi penurunan secara berturut-turut, yaitu sebesar 1,01% tahun 2011 dan 0,24% pada tahun 2012. Untuk mengetahui data BGM/D menurut kabupaten/kota, dapat dilihat pada gambar 4.24 di bawah ini.

Penurunan ini menunjukkan bahwa upaya-upaya penanggulangan KEP yang dilakukan di Jawa Timur menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Upaya tersebut antara lain berupa : Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI), Pemberian Makanan Tambahan-Pemulihan (PMT-P), peningkatan Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi), peningkatan cakupan ASI Eksklusif, peningkatan konseling pertumbuhan dan lainnya.

69

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2012

Gambar 4.24 Persentase BGM/D Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2012

Sumber : Seksi Gizi, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur

IV.5.1.3 JUMLAH KASUS GIZI BURUK

Kasus Gizi Buruk dapat diperoleh dari indikator Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Data tersebut diperoleh dari laporan masyarakat, kader Posyandu, maupun kasus-kasus yang langsung dibawa ke tempat-tempat pelayanan kesehatan yang ada, seperti Puskesmas dan rumah sakit.

Gambar 4.25 Perkembangan Kasus Gizi Buruk Provinsi Jawa Timur Tahun 2010 – 2012

Sumber : Seksi Gizi, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur

Sejak tahun Tahun 2010 hingga tahun 2012, jumlah kasus gizi buruk di Jawa Timur terus meningkat, yaitu dari tahun 2010 sebesar 7.760 kasus meningkat menjadi 8.410 pada tahun 2011 dan meningkat lagi menjadi 11.056 pada tahun 2012. Data

70

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2012

kecenderungan menaiknya jumlah kasus gizi buruk tersebut dapat dilihat pada gambar 4.25 di atas.

Ada beberapa kemungkinan terjadinya kenaikan jumlah kasus tersebut, antara lain semakin gencarnya petugas gizi di masyarakat untuk menemukan secara dini kasus gizi buruk di lapangan. Kegiatan pelatihan pemantauan pertumbuhan bagi petugas gizi Puskesmas, peningkatan surveilans dan kegiatan bulan timbang merupakan upaya-upaya penemuan kasus gizi buruk secara dini yang cukup efektif. Dengan ditemukannya secara dini kasus-kasus gizi buruk di Jawa Timur, akan memudahkan petugas untuk melakukan intervensi secara langsung, sehingga diharapkan dalam waktu satu atau dua tahun kedepan, jumlah kasus gizi buruk di Jawa Timur sudah mulai menurun lagi.

IV.5.1.4 PENCAPAIAN PENIMBANGAN BALITA (D/S)

Partisipasi masyarakat dalam perbaikan gizi bagi balita dapat ditunjukkan dari indikator jumlah balita yang ditimbang dibagi jumlah sasaran balita (D/S). Tahun 2012, di Jawa Timur angka D/S tercatat sebesar 72,36% (Lampiran Data Profil Kesehatan Tabel

44). Pencapaian ini sedikit lebih rendah dibanding dengan pencapaian tahun 2011

sebesar 74,72%. Perbedaan ini disebabkan oleh karena sasaran yang digunakan pada tahun 2012 ini menggunakan angka proyeksi hasil Sensus Penduduk tahun 2010, yang jumlahnya lebih besar dari sasaran tahun 2011 yang menggunakan angka proyeksi dari Sensus Penduduk tahun 2000. Adapun cakupan per kabupaten/kota di Jawa Timur tahun 2012, dapat dilihat pada gambar 4.26 di bawah ini.

Gambar 4.26 Pencapaian Cakupan D/S Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2012

71

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2012

Dari gambar di atas terlihat bahwa pencapaian D/S di Jawa Timur hampir semua kabupaten/kota pencapaiannya di atas 60%, kecuali Kota Probolinggo, Kota Mojokerto dan Kabupaten Sidoarjo. Ketiga kabupaten/kota ini termasuk wilayah yang penduduknya banyak yang bergerak di bidang industri, sehingga orang tua sibuk mencari nafkah dan kurang memperhatikan anaknya termasuk dalam penimbangan di Posyandu. Selain itu di daerah ini juga berkembang sangat pesat program PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang belum terintegrasi dengan kegiatan Posyandu.

Dibandingkan tahun sebelumnya, pencapaian angka D/S menurun sebesar 2,36%. Keadaaan ini harus menjadi perhatian bagi para pengelola gizi karena target pada tahun 2014 ditetapkan sebesar 85%. Jika tidak ada kegiatan-kegiatan terobosan yang memberi daya tarik tersendiri kepada ibu dan balita, maka dikhawatirkan kegiatan ini akan berjalan di tempat dan pada tahun 2014 tidak akan memenuhi target yang ditetapkan. Untuk itu perlu dilakukan kegiatan terobosan, seperti meningkatkan integrasi dengan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Selain itu, pada tahun 2012 dan dilanjutkan tahun 2013 di Jawa Timur sedang diupayakan terbentuknya sekitar 10.000 Taman Posyandu, yaitu Posyandu dengan memberikan tambahan kegiatan berupa Bina Keluarga Balita (BKB) dan Stimulasi Dini Intervensi Deteksi Tumbuh Kembang (SDIDTK). Untuk itu para petugas gizi di lapangan perlu memanfaatkan kesempatan ini untuk mengungkit pencapaian angka D/S, sehingga pada tahun 2014 dapat mencapai target yang sudah ditetapkan.

Dalam dokumen PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR (Halaman 87-91)