BAB III MANAJEMEN AKADEMIK
3.2. Kurikulum
3.2.1. Kurikulum Berbasis Luaran
Kurikulum yang digunakan oleh semua Program Studi yang ada dalam lingkup Universitas Trisakti adalah kurikulum yang berbasis pada luaran atau outcome based sesuai profil lulusan yang ditetapkan. Kurikulum ini tetap mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) sesuai dengan Level/Jenjang Pendidikan, dengan karakteristik dalam proses pembelajaran yang sudah ditentukan Capaian Pembelajarannya untuk setiap mata kuliah.
Setiap program studi wajib memiliki dokumen Kurikulum Operasional yang ditinjau dan diperbarui paling sedikit setiap dua (2) tahun sekali (perubahan minor). Kurikulum Operasional disahkan oleh Rektor Universitas Trisakti.
Dokumen Kurikulum Operasional harus memuat hal-hal sebagai berikut :
1. Mekanisme penyusunan/peninjauan kurikulum dilengkapi dengan data pelaksanaan kegiatan tersebut
2. Analisis yang mencakup:
a. Hasil evaluasi kurikulum yang sedang berjalan b. Hasil benchmarking
c. Analisis kebutuhan pasar dan pemangku kepentingan d. Analisis perkembangan keilmuan
e. Analisis kebutuhan kualifikasi nasional dan internasional f. Kesesuaian kurikulum dengan Visi - Misi universitas dan fakultas 3. Capaian Pembelajaran Lulusan Berdasarkan KKNI
4. Capaian Pembelajaran Lulusan Operasional, yaitu CPL KKNI yang diringkas atau disesuaikan dengan CPL dari Prodi sejenis, standar internasional, dll
5. Pemetaan CPL Operasional terhadap CPL KKNI 6. Kerangka kurikulum
7. Pemetaan CPL Operasional terhadap mata kuliah 8. Program Merdeka Belajar - Kampus Merdeka 9. Metode Pembelajaran dan Metode Asesmen
10. Sistem Evaluasi dan penilaian CPL yang menunjukkan bobot kontribusi setiap mata kuliah terhadap CPL
11. Kualifikasi dosen sesuai standar nasional dikti (antara lain : dosen mengajar sesuai bidang ilmu), kualifikasi tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, dan ketentuan transisi 12. Lampiran berisi:
a. Tabel konversi MK dari kurikulum lama ke kurikulum baru
b. Bukti-bukti kegiatan seperti kegiatan benchmarking, pertemuan dengan pengguna, pertemuan dengan alumni, pertemuan dengan asosiasi profesi
c. Hasil tracer study
d. Berita Acara Pengesahan Kurikulum oleh Senat Fakultas e. Rencana Pembelajaran Semester (RPS)
3.2.2 Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU)
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 Pasal 35 Ayat 3 menyatakan bahwa kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat mata kuliah Agama, Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa
Indonesia untuk Program Sarjana dan Diploma. Selanjutnya agar pelaksanaan mata kuliah tersebut berjalan lancar maka Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Hal menerbitkan keputusan Nomor 84/E/KPT/2020 Tanggal 19 Oktober 2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Mata Kuliah Wajib pada Kurikulum Pendidikan Tinggi yang kemudian dijadikan acuan dalam penerbitan Peraturan Rektor Universitas Trisakti Nomor 625 Tahun 2021 Tanggal 17 Juni 2021 tentang Pedoman Pelaksanaan Mata Kuliah Wajib pada Kurikulum Program Studi dalam Lingkup Universitas Trisakti.
Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) terdiri atas MKWU nasional yang ditujukan untuk membangun karakter manusia Indonesia melalui mencapai capaian pembelajaran sikap yang ditentukan dalam KKNI dan tujuan Universitas Trisakti dalam menghasilkan lulusan yang berbudi pekerti luhur, berpengetahuan luas, cerdas, sehat, mandiri, inovatif, mampu berkomunikasi dan bekerjasama;
sedangkan MKWU universitas bertujuan untuk mendukung tercapainya lulusan
yang mampu mengembangkan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship), menghormati kemajemukan bangsa yang memiliki semangat Kampus Pejuang Reformasi mampu berkarya di dalam maupun di luar negeri.
Kurikulum pada Program Studi Diploma dan Sarjana wajib memuat bahan kajian/mata kuliah Agama, Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia yang masing-masing memiliki bobot minimal setara 2 sks. Apabila disajikan dalam bentuk mata kuliah, maka kode yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 3.2 (untuk jenjang sarjana/KKNI 6).
Mata Kuliah/Bahan Kajian Wajib Umum Universitas Trisakti memiliki bobot 2-3 sks:
a. Kadeham, berupa bahan kajian yang dimasukkan kedalam mata kuliah wajib Kewarganegaraan b. Kewirausahaan
c. Bahasa Inggris
Tabel 3.2. Mata Kuliah Wajib Umum Nasional dan Kode
No Kode MK Nama Mata Kuliah sks
1 Agama 2
UAG 6201 Pendidikan Agama Islam UAG 6202 Pendidikan Agama Kristen UAG 6203 Pendidikan Agama Katolik UAG 6204 Pendidikan Agama Budha UAG 6205 Pendidikan Agama Hindu UAG 6206 Pendidikan Agama Kong Hu Cu
2 UPA 6200 Pancasila 2
3 UKD 6200 Kewarganegaraan, Kebangsaan, Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (Kewarganegaraan dan Kadeham)
2
4 UBN 6200 Bahasa Indonesia 2
Jumlah 8 Penyelenggaan MKWU pada kurikulum Program studi mengandung muatan yang aktual dan kontektual. Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) serta Bahan Kajian Mata Kuliah Wajib Umum ditentukan sendiri oleh Fakultas masing-masing selama belum diatur di tingkat universitas.
3.2.3 Kebijakan Merdeka Belajar
Universitas Trisakti mendukung kebijakan Merdeka Belajar - Kampus Merdeka yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Tahun 2020 dengan menerbitkan Peraturan Rektor tentang Merdeka Belajar - Kampus Merdeka dan Pedoman Pelaksanaan Merdeka Belajar - Kampus Merdeka Tahun 2020. Universitas Trisakti berkomitmen memfasilitasi “hak belajar tiga semester di luar program studi” untuk meningkatkan kompetensi lulusan, baik soft maupun hard skills, agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman, menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berkepribadian. Hak belajar tiga semester di luar program studi dapat digunakan untuk:
a. Mengambil sks di luar perguruan tinggi paling lama 2 semester atau setara dengan 40 sks;
b. Mengambil sks di program studi yang berbeda di perguruan tinggi yang sama sebanyak 1 semester atau setara dengan 20 sks.
Pelaksanaan merdeka belajar dilaksanakan secara bertahap dengan opsi-opsi kegiatan sebagai berikut:
1. Pertukaran mahasiswa baik antar program studi di Universitas Trisakti maupun dengan PT lain,
2. Magang/praktik kerja,
3. Asistensi mengajar di satuan pendidikan, 4. Penelitian/riset,
5. Proyek kemanusiaan, 6. Kegiatan wirausaha, 7. Studi/proyek independen,
8. Membangun desa/kuliah kerja nyata tematik.
Pelaksanaan pertukaran mahasiswa antar program studi dalam lingkup Universitas Trisakti maupun dengan perguruan tinggi mitra dapat dilakukan secara luring maupun daring sebagai berikut:
1. Fakultas membuat perjanjian kerja sama dengan mitra untuk menyepakati mata kuliah yang ditawarkan, kuota, dan pendanaan. Proses pembuatan perjanjian kerja sama disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
2. Fakultas mensosialisasikan program pertukaran mahasiswa kepada dosen dan mahasiswa.
3. Mahasiswa berkonsultasi dengan ketua program studi dan atau dosen pembimbing akademik 4. Mahasiswa mendaftar untuk mengikuti program pertukaran mahasiswa dan mengunggah
persetujuan orang tua dan ketua program studi.
5. Ketua program studi melaksanakan seleksi peserta jika diperlukan
6. Mahasiswa mengikuti perkuliahan/dosen melaksanakan perkuliahan dan asesmen
7. Ketua program studi dan Wakil Dekan I melaksanakan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program
8. Mahasiswa memperoleh nilai dari perguruan tinggi mitra
9. Ketua program studi melakukan rekognisi mata kuliah dan melaporkan ke PDDikti melalui SIS
3.3 Sistem Pembelajaran
Sistem pendidikan seluruh Program Studi di lingkup Universitas Trisakti adalah Sistem Kredit Semester (SKS), yang dapat didefinisikan sebagai sistem penyelenggaraanpendidikan yang menggunakan satuan kredit semester (sks) untuk menyatakan beban studi mahasiswa, pengalaman belajar mahasiswa, beban kerja dosen dan beban penyelenggaraan program.
3.3.1 Bentuk Program Pembelajaran
Universitas Trisakti mengenal 3 jenis program dalam melaksanakan bentuk kegiatan pembelajarannya yaitu program reguler, program perbaikan dan program percepatan.
3.3.1.1 Program Reguler
Program reguler adalah program pembelajaran yang membagi satu tahun akademik menjadi 2 (dua) semester, yaitu semester Gasal dan Genap. Program ini juga dikenal sebagai program perkuliahan biasa dan dilakukan pada semua perguruan tinggi. Program ini disebut sebagai semester reguler, beberapa Fakultas menyelenggarakan program semester reguler pada pagi dan sore hari.
Dalam setiap semester diatur jadwal pelaksanaan kegiatan akademik minimal selama 16 (enam belas) minggu dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap program studi (PS). Termasuk dalam kurun waktu tersebut adalah pelaksanaan perkuliahan, praktikum, kegiatan pendukung akademik lainnya serta dan kegiatan penilaian atau evaluasi.
3.3.1.2 Program Remedial
Program remedial adalah program untuk meningkatkan prestasi mahasiswa sehingga memenuhi capaian pembelajaran yang ditetapkan. Program ini bertujuan memberi kesempatan kepada mahasiswa agar dapat lulus tepat waktu dan meningkatkan indeks prestasinya.
Pelaksanaan program remedial adalah sebagai berikut:
1. Dapat dilaksanakan pada setiap akhir semester gasal dan atau genap;
2. Dilakukan untuk mata kuliah yang sedang dilaksanakan pada semester berjalan kecuali praktikum;
3. Dapat dilaksanakan dalam bentuk ujian saja atau dalam bentuk perkuliahan diikuti dengan ujian;
4. Nilai maksimal yang dapat diperoleh mahasiswa adalah B+; dan
5. Biaya remedial ditetapkan dalam Keputusan Dekan dengan mempetimbangkan jumlah tatap muka dan ujian.
Persyaratan peserta remedial:
1. Mahasiswa aktif semester berjalan;
2. Telah memperoleh nilai minimum D;
3. Mengisi KRS Remedial; dan
4. Menyelesaikan persyaratan administratif dan keuangan yang ditetapkan.
Pelaksanaan dan ketentuan teknis diatur oleh Fakultas masing-masing disesuaikan dengan kalender akademik yang berlaku.
3.3.1.3 Program Percepatan (Semester Antara)
Program percepatan ini diselenggarakan untuk melaksanakan Pasal 16 Ayat (3) Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 yaitu satu tahun akademik terdiri atas dua semester dan perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester antara.
Penyelenggaraan semester antara ini terkait dengan program percepatan masa studi atau akselerasi bagi mahasiswa yang mempunyai kemampuan di atas ratarata, meskipun demikian masa studi minimal pada program sarjana reguler adalah 7 semester.
Pelaksanaan semester antara hanya dilakukan satu kali pada setiap tahun akademik berada pada akhir semester genap dalam tahun akademik yang sama.
Program ini tidak berlaku untuk program pendidikan profesi, magister dan doktor.
Adapun persyaratan pelaksanaan semester antara adalah sebagai berikut:
1. Waktu pelaksanaan minimal 8 (delapan) minggu.
2. Beban belajar mahasiswa paling banyak 9 (sembilan) sks.
3. Apabila dilaksanakan dalam bentuk perkuliahan maka tatap muka minimal adalah 16 kali termasuk UTS dan UAS.
4. Mahasiswa yang dapat mengikuti semester antara antara adalah mahasiswa kelas reguler (bukan kelas ekstensi) yang sedang berada pada semester ke-4, 6, dan seterusnya.
5. Mata kuliah yang diambil adalah mata kuliah baru atau mata kuliah lama untuk memperbaiki nilai.
6. Sistem penilaian mengikuti penilaian pada semester reguler.
7. Memenuhi persyaratan administrasi.
Teknis penyelenggaraan program percepatan diatur oleh masing-masing Program Studi/Fakultas.
3.3.2 Beban Belajar
Beban belajar mahasiswa dalam satu semester adalah jumlah sks yang dapat diambil oleh mahasiswa dalam semester yang berjalan. Semester merupakan satuan waktu proses pembelajaran efektif selama 16 minggu termasuk ujian tengah semester (UTS) dan ujian akhir semester (UAS).
Pada semester pertama dan kedua, mahasiswa wajib mengambil seluruh beban belajar yang tersaji sebagai paket yang telah ditetapkan. Sedangkan untuk semester selanjutnya, beban belajar mahasiswa ditentukan oleh Indeks Prestasi Semester (IPS) yang diperoleh pada semester sebelumnya. Besarnya beban belajar yang diambil sesuai IPS dapat dilihat pada Tabel 3.3.
Setiap mahasiswa harus dapat menyelesaikan sejumlah beban yang telah ditetapkan oleh masing-masing program studi untuk dapat mencapai gelar kesarjanaan.
Tabel 3.3. Maksimum Beban Belajar terhadap IPS Perolehan IPS Maksimum Beban Belajar
Semester (sks)
≥ 3,00 24
2,50 - 2,99 22
2,00 - 2,49 20
1,50 - 1,99 18
1,00 - 1,49 16
< 1,00 14
3.3.3 Karakteristik Pembelajaran
Mengacu pada SN-Dikti 2020, proses pembelajaran dilakukan secara interaktif, holistik, integratif, saintifik, kontekstual, tematik efektif, kolaboratif dan berpusat pada mahasiswa atau Student Centered Learning (SCL) yang diuraikan sebagai berikut:
1. Interaktif: capaian pembelajaran lulusan diraih dengan mengutamakan proses interaksi dua arah antara mahasiswa dan dosen;
2. Holistik: proses pembelajaran mendorong terbentuknya pola pikir yang komprehensif dan luas dengan menginternalisasi keunggulan dan kearifan lokal maupun nasional;
3. Integratif: capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang terintegrasi untuk memenuhi capaian pembelajaran lulusan secara keseluruhan dalam satu kesatuan program melalui pendekatan antardisiplin dan multidisiplin;
4. Saintifik: capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang mengutamakan pendekatan ilmiah sehingga tercipta lingkungan akademik yang berdasarkan sistem nilai, norma, dan kaidah ilmu pengetahuan serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan kebangsaan;
5. Kontekstual: capaian pembelajaran lulusandiraih melalui proses pembelajaran yang disesuaikan dengan tuntutan kemampuan menyelesaikan masalah dalam ranah keahliannya;
6. Tematik: capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik keilmuan Program Studi dan dikaitkan dengan permasalahan nyata melalui pendekatan transdisiplin;
7. Efektif: capaian pembelajaran lulusan diraih secara berhasil guna dengan mementingkan internalisasi materi secara baik dan benar dalam kurun waktu yang optimum;
8. Kolaboratif: capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran bersama yang melibatkan interaksi antar individu pembelajar untuk menghasilkan kapitalisasi sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
9. Berpusat pada mahasiswa: capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang mengutamakan pengembangan kreativitas, kapasitas, kepribadian, dan kebutuhan mahasiswa, serta mengembangkan kemandirian dalam mencari dan menemukan pengetahuan.
3.3.4 Bentuk Pembelajaran
Berdasarkan Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 Pasal 14(5) yang termasuk dalam bentuk pembelajaran adalah sebagai berikut: kuliah; responsi dan tutorial; seminar; praktikum, praktik studio, praktik bengkel, praktik lapangan, praktik kerja; penelitian, perancangan, atau pengembangan; pelatihan militer; pertukaran pelajar; magang; wirausaha; dan/atau bentuk lain pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, bagi program pendidikan, Sarjana, Magister wajib ditambah dengan bentuk pembelajaran berupa penelitian, perancangan atau pengembangan.
Bentuk pembelajaran berupa Pengabdian kepada Masyarakat wajib ditambahkan sebagai bentuk pembelajaran bagi program pendidikan, Sarjana.
Adapun padanan beban belajar 1 (satu) sks dalam masing-masing bentuk pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 3.4.
Tabel 3.4. Padanan Beban Belajar 1 sks dan Estimasi Waktu Pembelajaran Bentuk Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Estimasi Waktu
(menit/minggu/
semester) Kuliah, responsi atau tutorial Kegiatan proses belajar 50
Kegiatan penugasan terstruktur 60 170
Kegiatan Mandiri 60
Seminar atau bentuk lain yang
sejenis Kegiatan proses belajar 100 170
Kegiatan Mandiri 70
Praktikum, Praktik Studio, Praktik Bengkel, Praktik Lapangan, Praktik Kerja, Penelitian, Perancangan atau Pengembangan, Pelatihan Militer.
Di luar program studi-merdeka belajar: pertukaran pelajar, magang/ 170 praktik kerja, kegiatan wirausaha, asistensi mengajar di satuan pendidikan, penelitian/riset di lembaga penelitian, studi/proyek independen, membangun desa/KKN tematik atau proyek kemanusiaan.
Perhitungan beban belajar dalam sistem blok, modul dan/atau bentuk lain ditetapkan sesuai dengan kebutuhan dalam memenuhi capaian pembelajaran.
3.3.5 Metode Pembelajaran
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, dinyatakan bahwa Pembelajaran adalah interaksi antara pendidik, peserta didik, dan sumber belajar, di dalam Iingkungan belajar tertentu.
Proses pembelajaran melalui kegiatan kurikuler wajib diIakukan secara sistematis dan terstruktur melalui berbagai mata kuliah dengan beban belajar yang terukur dan menggunakan metode pembelajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata kuliah. Di dalam SN-Dikti pasal 14 disebutkan beberapa metode pembelajaran, yang intinya adalah berpusat pada mahasiswa, yaitu diskusi kelompok, simulasi, studi kasus, pembelajaran kolaboratif, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, atau metode pembelajaran lain, yang dapat secara efektif memfasilitasi pemenuhan capaian pembelajaran lulusan.
Dalam menentukan metode pembelajaran, perlu diperhatikan:
1. Capaian pembelajaran mata kuliah;
2. Tingkat keluasan dan kedalaman mata kuliah;
3. Sumber daya yang dimiliki;
4. Rasio dosen mahasiswa per kelas;
5. Jumlah mahasiswa dalam satu kelas;
6. Ketersediaan sarana dan prasarana.
Metode yang digunakan berbasis pada Student Learning Center (SCL) untuk mengembangkan kemandirian belajar dalam hidupnya, mengembangkan daya kreativitas dan semangat belajar, meningkatkan kekritisan dan kemampuan berkomunikasi. Dengan mengacu Kurikulum, dosen dapat memilih bentuk dan metode pembelajaran yang paling sesuai dengan karakteristìk dan capaian pembelajaran mata kuliahnya. Contoh bentuk, metode dan penugasan pembelajaran diperlihatkan
Tabel 3.5 Contoh Pemilihan Bentuk, Metode, dan Penugasan Pembelajaran Bentuk Pembelajaran Metode Pembelajaran Contoh Penugasan Kegiatan Proses Belajar • Presentasi mahasiswa
dalam kelas
• Diskusi kelompok
• Debat
Tugas Pemecahan masalah (Problem-solving), Tugas kesenjangan informasi (information-gap task), Tugas kesenjangan penalaran (reasoning-gap task), tugas kesenjangan pendapat (opinion-gap task), atau minute paper.
Kegiatan Penugasan
Terstruktur • Pembelajaran berbasis proyek
• Pembelajaran berbasis kasus
• Pembelajaran kolaboratif
Membuat proyek, mendiskusikan kasus tertentu yang dikerjakan secara kolaboratif
Kegiatan mandiri • Tinjauan pustaka (literature review)
• Meringkas (summarizing)
Membuat portfolio aktivitas mandiri
Praktikum Kelompok kerja dan diskusi Melaksanakan kegiatan dan pelaporan hasil kerja praktikum
3.3.6 Pembelajaran Bauran (Blended Learning)
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dapat dimanfaatkan untuk membantu mahasiswa mencapai capaian pembelajaran yang telah ditetapkan baik dalam kegiatan pembelajaran pada umumnya, khususnya dalam kondisi darurat. Salah satu caranya adalah dengan penerapan pembelajaran bauran atau blended learning.
Pembelajaran bauran memungkinkan mahasiswa terlibat (engage) dalam pembelajaran secara aktif, dan dengan demikian pembelajaran berpusat pada mahasiswa (SCL). Di dalam implementasi program MBKM, pembelajaran bauran menjadi salah satu strategi pembelajaran yang efektif untuk memfasilitasi mahasiswa pada saat mengikuti proses pembelajaran di luar program studinya.
Dalam pembelajaran bauran, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar saat didampingi dosen di kelas ataupun di luar kelas, namun juga mendapatkan pengalaman belajar yang lebih luas secara mandiri. Saat belajar di kelas bersama dosen, mahasiswa mendapatkan materi pembelajaran dan pengalaman belajar (orientasi, latihan dan umpan balik), praktik baik, contoh, dan motivasi langsung dari dosen. Sedangkan pada saat belajar secara daring mahasiswa akan dapat mengendalikan sendiri waktu belajarnya, dapat belajar di mana saja, kapan saja dan tidak terikat dengan metode pengajaran dosen.
Mahasiswa dapat belajar secara mandiri atau berinteraksi baik dengan dosen maupun sesama mahasiswa serta memiliki akses ke berbagai sumber belajar daring yang dapat diperoleh dengan menggunakan gawai dan aplikasi-aplikasi yang ada dalam genggamannya secara mudah. Ragam objek pembelajaran lebih kaya, dapat berupa buku-buku elektronik atau artikel-artikel elektronik, simulasi, animasi, augmented reality (AR), virtual reality (VR), video-video pembelajaran atau multimedia lainnya yang dapat diakses secara daring.
Blended learning ini dapat diatur dengan proporsi pembelajaran daring 30-79% daring. Secara substansial proporsi penyampaian materi pembelajaran dan proses pembelajaran, termasuk asesmen dilaksanakan secara daring (Panduan Penyusunan KPT 2020).
Pembelajaran bauran dalam pelaksanaanya, baik dalam perspektif dosen maupun mahasiswa, memiliki beberapa model praktik baik. Program studi dapat menerapkan berbagai model pembelajaran bauran, salah satu model rotasi (rotation model), yaitu flipped learning dilaksanakan dengan cara mahasiswa belajar dan mengerjakan tugas-tugas sesuai dengan rencana pembelajaran yang diberikan oleh dosen secara daring di luar kelas. Kemudian saat berikutnya mahasiswa belajar tatap muka di kelas, mahasiswa melakukan klarifikasiklarifikasi dengan kelompok belajarnya apa yang telah dipelajari secara daring, dan juga mendiskusikannya dengan dosen.
Tujuan model flipped learning ini untuk mengaktifkan kegiatan belajar mahasiswa di luar kelas, mahasiswa akan didorong untuk belajar menguasai konsep dan teori-teori materi baru di luar kelas dengan memanfaatkan waktu 2x60 menit penugasan terstruktur dan belajar mandiri setiap satu sks nya. Belajar di luar kelas dilakukan oleh mahasiswa dengan memanfaatkan teknologi informasi, misalnya menggunakan learning management system (LMS).
Belajar di luar kelas juga dapat menggunakan video pembelajaran, buku elektronika, dan sumber-sumber belajar lainnya yang dapat diperoleh mahasiswa dari internet. Pada tahap selanjutnya mahasiswa akan belajar di dalam kelas mendemonstrasikan hasil belajar dari tahap sebelumnya, berdiskusi, melakukan refleksi, presentasi, mengklarifikasi, dan pendalaman dengan dosen dan teman belajar dengan memanfaatkan waktu 50 menit per satu sks. Model flipped learning ini dapat dilakukan untuk tiap tahapan belajar yang memerlukan waktu satu minggu, dua minggu, atau lebih sesuai dengan tingkat kesulitan pencapaian kemampuan akhir (Sub-CPMK). Ilustrasi mengenai model rotasi pembelajaran flipped learning dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Pelaksanaan wajib memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Dosen menyiapkan materi dalam bentuk modul mata kuliah audio visual, dapat dilengkapi dengan text dan/atau presentasi;
2. Ada interaksi dalam bentuk diskusi atau tanya jawab;
3. Ada produk hasil interaksi dalam bentuk laporan, presentasi dan produk lainnya yang dapat diakui sebagai karya ilmiah.
Pelaksanaan blended learning diatur oleh fakultas berkoordinasi dengan Pusat Pembelajaran Daring Universitas Trisakti (PPDT) sebagai penyedia fasilitas pembelajaran daring dan LMS di lingkup Universitas Trisakti.
3.3.7 Indeks Prestasi
Indeks Prestasi dinyatakan dalam bilangan dengan dua angka dibelakang koma, yang dihitung dengan menggunakan formula:
dengan K dan N masing-masing adalah bobot sks dan nilai dari setiap mata kuliah yang telah diselesaikan oleh mahasiswa. Jenis indeks prestasi:
1. Indeks Prestasi Semester (IPS). IPS merupakan indeks prestasi dari hasil kegiatan proses belajar-mengajar pada satu semester yang dihitung menggunakan rumus di atas dengan mata kuliah yang diperhitungkan hanyalah mata kuliah yang diambil pada semester tersebut.
2. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). IPK merupakan indeks prestasi dari hasil kegiatan proses belajar-mengajar sejak awal menjadi mahasiswa sampai pada saat evaluasi dilakukan atau sudah menyelesaikan program. Dengan demikian, IPK dihitung dengan menggunakan persamaan di atas. Dalam hal ini, nilai yang disertakan adalah nilai terbaik dari setiap mata kuliah yang pernah diambil.
3.3.8 Masa Belajar
Masa dan beban belajar penyelenggaraan program pendidikan berdasarkan Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 Pasal 17 dapat dilihat pada Tabel 3.6.
Perguruan Tinggi dapat menetapkan masa belajar program pendidikan kurang dari batas maksimum yang disampaikan pada Tabel 3.6.
Jika mahasiswa tidak dapat menyelesaikan jumlah beban belajar minimalnya, maka mahasiswa tersebut akan dinyatakan putus studi atau DO (drop out), yang secara rinci dapat dilihat pada sub bab Evaluasi Kelangsungan Pembelajaran.
Tabel 3.6 Jumlah Beban Belajar dan Masa Belajar (Masa Studi) Setiap Jenjang Program Pendidikan
Program Pendidikan Jumlah Beban Belajar
(Minimal) Maksimal
(termasuk cuti)
Sarjana 144 sks 14 semester/7 tahun
Magister* 39 sks 8 semester/4 tahun
*setelah menyelesaikan program Sarjana
3.3.9 Ketentuan Pelaksanaan Bentuk Kegiatan Pembelajaran
Ketentuan pelaksanaan bentuk kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Semua bentuk kegiatan pembelajaran seperti kuliah, asistensi, praktikum, dan lain sebagainya, wajib dilaksanakan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang berlaku
2. Kehadiran mahasiswa dalam semua bentuk pembelajaran adalah bagian dari proses pembelajaran itu sendiri, sehingga mahasiswa diwajibkan untuk hadir mengikuti semua bentuk pembelajaran sesuai yang tercantum dalam Kartu Rencana Studi (KRS) masing-masing.
Kehadiran mahasiswa tersebut dicatat dalam daftar hadir mahasiswa dan menjadi syarat untuk dapat mengikuti ujian akhir semester. Persentase kehadiran tatap muka minimal, diatur oleh
3. Ketua kelas dipilih dari salah satu mahasiswa untuk membantu kelancaran proses pembelajaran.
4. Pada kuliah pertama, Dosen menyampaikan rencana pembelajaran mata kuliah yang berisi
4. Pada kuliah pertama, Dosen menyampaikan rencana pembelajaran mata kuliah yang berisi