BAB II KAJIAN TEORITIK
E. KURIKULUM MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak secara otomatis langsung dapat diterima di lingkup lembaga perguruan tinggi, namun masih diperlukan adaptasi dan penyesuaian terhadap adanya perkembangan IPTEK tersebut melalui penyesuaian metode pembelajaran. Pada perguruan tinggi metode pembelajaran ìI lecture sangat mewarnai saat proses pembelajaran.
pa. Tokoh sentral pada pembelajaran tersebuta adalah dosen, kurang lebih 80%
kegiatan belajar mengajar digunakan untuk untuk memindahkan (transfer) ilmunya secara konvensional (one-way traffic), sedangkan mahasiswa hanya mendengarkan penjelasan dosen dengan aktivitas minimal tanpa mengaktifkan prior knowledge yang relevan dengan pokok bahasan. Pada metode pengajaran one-way traffic sikap apatis dan tidak tertarik terhadap proses pembelajaran ditunjukkan oleh mahasiswa, selain itu kemampuan konseptualisasi sebagian besar mahasiswa menjadi terbatas dikarenakan belajar dalam struktur dan pengarahan yang kaku, mahasiswa tidak dapat think outside the box.
40 ibid
41 ibid
Metode 2 One-way traffic terjadi di dalam paradigma teacher-centered learning (TCL). Mahasiswa cenderung menjadi receiver, kurang berperan sebagai transformer dan/atau explorer pada penerapan metode pembelajaran tersebut, di samping itu mahasiswa masuk ke dalam situasi rote learning, bukan meaningful learning. Materi kuliah yang bersifat konseptual memperkuat situasi demikian. Mahasiswa merupakan sekelompok manusia yang beranjak dewasa dengan berbagai macam perubahan fisik, sosial dan psikologik. pada tahapan mahasiswa, seseorang sudah mulai dapat berpikir kritis, dapat menentukan keinginannya dan menetapkan prioritas. Teacher Centred Learning untuk mahasiswa tidak lagi sesuai karena membuat proses pembelajaran lamban dan mahasiswa tidak memiliki peluang untuk memilih ìmenuî yang sesuai.
Kelambanan proses pembelajaran selama penerapan metode TCL akan menyebab-kan peserta didik selalu tertinggal, tidak dapat segera menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman. Kelambanan dan ketertinggalan penerapan metode pembelajaran dapat diatasi dengan merubah proses pembelajaran dari one-way traffic menjadi two-way traffic dan interaktif. Pembelajaran interaktif mengajak mahasiswa bersamasama secara aktif untuk mencari, menemukan, mengolah, membangun dan memaknai ilmu pengetahuan. Pembelajaran interaktif merupakan salah satu karakteristik student-centered learning (SCL).
Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka dimana berisi beragam bentuk pembelajaran diluar program studi merupakan perwujudan dari model pembelajaran Student Centre Learning (SCL) yang sangat esensial dalam Buku Panduan MBKM tahun 2020. Bentuk pembelajaran tersebut memberikan tantangan dan kesempatan kepada mahasiswa untuk pengembangan inovasi, kreativitas, kapasitas dan kepribadian (intra dan interpersonal skills), serta mengembangkan kemandirian dalam mencari, menemukan dan mengkonstruksikan pengetahuan pada dunia nyata.
Dalam Standar Nasional-Pendidikan Tinggi (SN-Dikti) pasal 14 disebutkan beberapa metode pembelajaran, yang intinya adalah berpusat pada mahasiswa yaitu dalam bentuk diskusi kelompok, simulasi, studi kasus, pembelajaran kolaboratif, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis
proyek, pembeajaran berbasis masalah, atau metode pembelajaran lain, yang dapat secara efektif memfasilitasi pemenuhan capaian pembelajaran lulusan.
Berikut ini contoh pemilihan bentuk, metode,dan penugasan pembelajaran ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 1 Contoh Pemilihan Bentuk, Metode,dan Penugasan Pembelajaran
No Bentuk
4 Praktikum Kelompok kerja dan diskusi
Melaksanakan kegiatan dan pelaporan hasil kerja praktikum
2. DASAR PENERAPAN KURIKULUM DILINGKUNGAN PERGURUAN TINGGI
Indonesia mengalami perjalanan pendidikan yang menyebabkan adanya pergeseran ttujuan pendidikan nasional akibat pengaruh perubahan zaman. Abad ke 21 merupakan zaman globalisasi, pada tahapan abad ini tujuan pendidikan nasional tidak hanya bertumpu pada mencerdaskan sdan memerdekakan kehidupan bangsa, namun juga mengarah pada anggapan pendidikan sebagai komoditas karena adanya titik focus pada penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS) yang bersifat materialis dan pragmatis. Berdasarkan UU No 20 Tahun 2003, Pasal 3, tujuan Pendidikan Nasional tidak hanya berorientasi pada pragmatis dan materialism, namun memiliki tujuan membentuk manusia. Hal ini tentu menjadi perhatian kita semua mengingat tujuan Pendidikan Nasional yang tercantum tidak hanya berorientasi terhadap yang memiliki iman dan taqwa (IMTAQ) serta menguasai IPTEKS. Terjadinya krisis karakter di bidang pendidikan menjadikan semakin terasanya pergeseran tujuan pendidikan nasional. Adanya pragmatism dalam merespon kebutuhan pasar kerja lebih menekankan pada hal-hal yang bersifat materialisme sehingga semangat kebangsaan, keadilan sosial dan sifat-sifat kemanusiaan yang mengandung moral luhur terlupakan.
Ruh dari program pembelajaran adalah kurikulum, sehingga keberadaannya memerlukan rancangan, pelaksanaan serta evaluasi secara berkelanjutan sesuai dengan perkembangan dan perubahan zaman, kompetensi yang dibutuhkan oleh masyarakat, maupun pengguna lulusan perguruan tinggi, serta kebutuhan IPTEKS. Selama kurun waktu 6 tahun Standar Pendidikan Tinggi (SN-Dikti) mengalami 3 kali perubahan mengikutipola perkembangan IPTEKS. Tiga Perubahan tersebut adalah perubahan Permenristekdikti No 49
tahun 2014 menjadi Permenristekdikti No 44 tahun 2015, dan terakhir diubah menjadi Permendikbud No 3 tahun 2020 seiring dengan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).
Adanya perubahan SN-Dikti bagi khalayak umum seringkali dipersepsikan secara keliru, bahwa setiap adanya pergantian menteri pendidikan, maka berubah pula kurikulum pendidikannya. pada hakikatnya perubahan kurikulum merupakan suatu keniscayaan sepanjang tidak bertentangan dengan filosofi pendidikan serta peraturan yang berlaku, sebagaimana hakekat pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantoro, bahwa hakekat pendidikan dan strategi untuk mencapai hasil pendidikan harus sesuai dengan budaya Indonesia.
Diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), serta Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, menginisiasi semua perguruan tinggi untuk menyesuaikan diri terhadap ketentuan tersebut. Pada kurikulum KKNI penjenjangan kualifikasi SDM Indonesia didasarkan pada tingkat kemampuan yang dinyatakan dalam learning outcomes (rumusan capaian pembelajaran).
Lembaga perguruan tinggi merupakan penghasil SDM yang berpendidikan, sehingga perlu menetapkan standar ukur kemampuan yanag dirumuskan dalam jenjang kualifikasi KKNI. Standar Nasional Pendidikan Tinggi dan KKNI merupakan acuan wajib dalam menyusun pengembangan kurikulumdi perguruan tinggi. Perkembangan era Industri 4.0 menuntut perguruan tinggi mampu menghasilkan SDM yang memiliki kemapuan literasi baru meliputi literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia yang berakhlak mulia berdasarkan keyakinan agama yang dianut. Hal tersebut mengakibatkan perlunya perguruan tinggi melakukan reorientasi pengembangan kurikulum yang dapat menjawab tantangan tersebut. Kurikulum pendidikan tinggi merupakan program untuk menghasilkan lulusan, sehingga program tersebut seharusnya menjamin lulusan yang dihasilkan memiliki kualifikasi yang setara dengan kualifikasi yang disepakati dalam KKNI.
Penetapan profil lulusan yang dijabarkan menjadi rumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) langkah awal yang harus dilakukan dalam penetapan kurikulum berdasarkan konsep yang dikembangkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Capaian pembelajaran (terjemahan dari learning outcomes) adalah rumusan kemampuan pada deskriptor KKNI, didalam capaian pembelajaran terdapat kompetensi dan merupakan bagian dari capaian pembelajaran (CP). Pada Permendikbud No. 3 Tahun 2020 tentang SN-DIKTI pasal 5, ayat (1), dinyatakan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan kriteria minimal tentang kualifikasi kemampuan lulusan mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dinyatakan dalam rumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Terdapat 4 unsur dalam mendeskripsi capaian pembelajaran dalam KKNI, yaitu sikap dan tata nilai, unsur kemampuan kerja, unsur penguasaan keilmuan, dan unsur kewenangan dan tanggung jawab.
Rumusan CPL pada SN-Dikti tercakup dalam salah satu standar yaitu Standar Kompetensi Lulusan (SKL). CPL dalam SN-Dikti, meliputi unsur sikap, keterampilan umum, keterampilan khusus, dan pengetahuan. Lampiran SN-Dikti tercantum rumusan unsur sikap dan keterampilan umum, adapun unsur keterampilan khusus dan pengetahuan harus dirumuskan oleh forum program studi sejenis yang merupakan ciri lulusan prodi tersebut.
3. STRATEGI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA
Adanya perubahan mendasar terhadap pelaksanaan pendidikan ke arah yang lebih baik, berkualitas serta dapat memberikan manfaat pada zaman modern mendasar terhadap pelaksanaan pendidikan ke arah yang lebih baik, berkualitas dan memberikan kemanfaatan yang nyata bagi peserta didik. Aliran progresivisme menekankan pentingnya dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada peserta didik. Peserta didik diberikan keleluasaan untuk mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat aturan-aturan formal yang terkadang justeru membelenggu kreativitas dan daya pikirnya untuk menjadi lebih baik. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, konsep
“merdeka belajar” yang dicanangkan oleh Mendikbud RI yang baru dinilai sebagai kebijakan besar untuk menjadikan pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik dan semakin maju. Selain itu, konsep “merdeka belajar” memiliki arah dan tujuan yang sama dengan konsep aliran filsafat pendidikan progresivisme John Dewey. Keduanya sama-sama menawarkan kemerdekaan dan keleluasaan kepada lembaga pendidikan untuk mengekplorasi potensi peserta didiknya secara maksimal dengan menyesuaikan minat, bakat serta kecendrungan masing-masing peserta didik. Dengan kemerdekaan dan kebebasan ini, diharapkan pendidikan di Indonesia menjadi semakin maju dan berkualitas, yang ke depannya mampu memberikan dampak positif secara langsung terhadap kemajuan bangsa dan negara.
Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). penerapan MBKM tersebut merupakan bagian dari pembekalan bagi mahasiswa untuk masuk didunia kerja setelah menyelesaikan program kesarjanaan, pada kurikulum tersebut mahasiswa berhak mendapat pembelajaran selama 3 semester diluar program studi mereka.
Pengalaman mahasiswa saat diimplementasikan MBKM dapat menunjang serta memperkuat kesiapan lulusa dalam bersinergi dengan perkembangan lingkungan kerja, kehidupan di masyarakat Di samping itu, pengalaman yang diperoleh akan memperkuat kesiapan lulusan dalam beradaptasi dengan perkembangan dunia kerja. Penerapan program MBKM, pembelajaran bauran, dan/atau pembelajaran daring menjadi salah satu strategi pembelajaran yang efektif untuk memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan diluar prodi atau erguruan tinggi tempat belajarnya.
kebijakan pemerintah tentang kurkulum MBKM mendorong perguruan tinggi untuk mendesain ulang kurikulum pada program studinya masing-masing menjadi kurikulum MBKM sebagaimana yang telah ditetapkan pemerintah.
pelaksanaan kurikulum MBKM dilakukan pada semester 5 dan 7 atau disesuaikan dengan program studinya masing-masing.
Pemerintah menetapkan 8 bentuk kegiatan perkuliahan diluar kampus atau program studi yang dapat diikuti mahasiswa, yaitu : pertukaran pelajar, magang atau praktik kerja, asistensi mengajar di satuan pendidikan, penelitian atau riset, proyek kemanusiaan, kegiatan wirausaha, studi atau proyek independen, membangun desa atau kuliah kerja nyata tematik. perguruan tinggi dapat memilih beberapa bentuk kegiatan perkuliahan untuk ditetapkan sebagai kegiatan perkuliahan dan dikembangkan pada program studi perguruan tinggi.
Pemerintah berharap implementasi MBKM yang akan dilaksanakan akan semakin luas dan sangat bermanfaat bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan minat serta bakatnya melalui kurikulum MBKM. keberhasilan pelaksanaan program MBKM dapat optimal untuk seluruh civitas akademika terutama para mahasiswa dengan adanya kerjasama setiap lini kehidupan kampus.
A. Tujuan Pelaksanaan MBKM
1. Meningkatkan jumlah mata kuliah yang melaksanakan program MBKM;
2. Fasilitasi program studi untuk mengembangkan kurikulum sesuai pedoman MBKM;
3. Perluasan kerjasama kurikulum dengan mitra sebagai bagian dari implementasi kurikulum program MBKM;
4. Memperoleh model kerjasama antara kursus dan mitra dalam implementasi kebijakan MBKM sebagai acuan;
5. Menghasilkan pengalaman yang baik (good practice) di perguruan tinggi dalam pengembangan dan implementasi kurikulum program MBKM yang memuat hasil belajar bagi lulusan sesuai KKNI dan SNDikti.
6. Program studi dan universitas memungkinkan percepatan pencapaian KPI melalui pelaksanaan program MBKM, minimal 2,6 dan 7.
B. Beberapa Tujuan dari pendanaan program ini adalah untuk mendukung
program studi untuk menyempurnakan kurikulum dan melaksanakan bentuk kerjasama yang berbeda dengan mitra yang mendukung pelaksanaan program MBKM dan mempercepat pencapaian KPI. Program ini ditujukan kepada program yang telah atau akan melakukan upaya dan tindakan nyata untuk reorientasi kurikulum program mereka
C. Manfaat
Pelaksanaan program MBKM untuk mendukung kerjasama dan implementasi kurikulum bertujuan untuk memberikan manfaat bagi siswa, guru, program studi, universitas dan mitra.
1. Bagi mahasiswa: Mahasiswa dapat memaksimalkan potensinya untuk mencapai 4.444 hasil belajar lulusan dan memperoleh tambahan 4.444 kompetensi melalui kegiatan belajar dan pengalaman yang diperoleh di 4.444 program studi dan di luar program studinya paling lama 4.444 tiga semester; Pedoman Kerjasama, Program dan Pelaksanaan Kurikulum Merdeka Learning Campus Merdeka 2021
2. Bagi Guru: Sebagai guru penggerak, Anda berkesempatan untuk memperdalam ilmu yang mendukung konten pembelajaran terkini dan berkualitas tinggi serta Tri Dharma. menyelenggarakan pendidikan tinggi yang diperoleh melalui kerjasama dengan berbagai pihak;
3. Untuk program studi: program studi memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas pelatihannya melalui kurikulum yang dikembangkan dan untuk meningkatkan penerimaan lulusan ke dunia kerja;
4. Bagi Perguruan Tinggi: Perguruan Tinggi berpeluang untuk meningkatkan kualitas Tri Dharma dan kualitas kerjasama dengan mitra kerja yang 4.444 tertaut dan terkoordinasi (link and match), mempercepat pencapaian KPI dan 4.444 meningkatkan citra perguruan tinggi;
5. Bagi mitra: Sebagai lulusan, mitra industri memiliki peluang untuk memperoleh lulusan yang berkualitas sesuai dengan bidang yang dibutuhkan. Bagi institusi pendidikan, melalui program pertukaran pelajar atau pembelian pinjaman online, Anda dapat meningkatkan pemerataan
kualitas dan kompetensi siswa yang diperoleh dari berbagai universitas mitra.
D. Bentuk-Bentuk Pelaksanaan
Pelaksanaan Program Pembinaan dan Pelaksanaan Kerjasama Kurikuler MBKM terdiri dari kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1. Perumusan kebijakan di tingkat perguruan tinggi dalam kaitannya dengan Program kerjasama kurikuler dan pelaksanaan MBKM berupa ordinansi, dekrit dan lain-lain;
2. Pembuatan pedoman/pedoman yang menjadi acuan kurikulum dan pelaksanaan program kerjasama MBKM di tingkat program gelar;
3. Pengembangan kurikulum yang meliputi perencanaan, 4.444 proses pembelajaran, 4.444 penilaian dan evaluasi pembelajaran termasuk mekanisme dan tata cara konversinya, serta 4.444 penjaminan mutu berdasarkan hasil belajar 4.444 Lulusan program;
4. Penyusunan SOP bagi siswa, guru, 4.444 pengawas lapangan dan pengawas program MBKM di luar mata kuliah selama tiga semester, baik di luar mata kuliah di PT maupun di luar mata kuliah di PT untuk mendukung kebijakan MBKM, termasuk prosedur konversi dan pengakuan kredit ;
5. Pengembangan model kerjasama kurikuler antara program studi dan berbagai bagian, yang meliputi:
a. Kerjasama kurikuler dengan program studi lain dari universitas yang sama; Pedoman Program Kerjasama Kurikuler dan Pelaksanaannya Belajar Mandiri Kampus Mandiri 2021
b. Kerjasama kurikulum dengan program studi yang sama di universitas yang berbeda;
c. Kerjasama kurikuler dengan program studi lain di berbagai universitas;
d. Kerjasama kurikuler dengan lembaga non universitas.
6. Pelaksanaan program MBKM untuk pelaksanaan kegiatan pembelajaran di 4.444 program studi non-perguruan tinggi dan paling sedikit 3 (tiga)
modalitas dari 4.444 kegiatan pembelajaran disertai dengan tujuan dan kinerja dalam KPI, yaitu dari 4.444 perguruan tinggi dan program studi.
Peraturan dan Persyaratan
Dalam melaksanakan program untuk mendukung kerjasama kurikuler dan pelaksanaan MBKM, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh pelamar sebagai sebagai berikut:
1. Universitas pengusul terakreditasi;
2. Program gelar pelamar memiliki setidaknya akreditasi B;
3. Perguruan tinggi pengusul tergantung pada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan;
4. Program studi pemohon adalah program sarjana pendidikan akademik non-kesehatan ;
5. Proposal ditulis untuk setiap mata kuliah dan dikirimkan beserta surat pengantar dari pimpinan universitas;
6. Melampirkan draft atau dokumen perjanjian kerjasama kurikuler dengan universitas lain atau mitra non universitas terkait;
7. Melampirkan rancangan atau dokumen peraturan studi, rencana studi dan penjaminan mutu sesuai dengan pedoman MBKM yang disetujui oleh perguruan tinggi (ditunjukkan dalam pendapat Rektor/direktur 4.444 perguruan tinggi);
8. Kewajiban program studi yang diusulkan dan perguruan tinggi untuk melaksanakan usulan peraturan studi rencana studi dan penjaminan mutu pada semester gasal tahun ajaran 2021/2022, sebagaimana ditetapkan dalam pernyataan program studi dan oleh pimpinan universitas ;
9. Mata kuliah yang diusulkan tidak pernah mendapat dana program MBKM dan tidak diusulkan dalam Program Kompetisi Kampus Mandiri (PKKM) yang diselenggarakan oleh Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Hasil yang Diharapkan
Hasil yang Diharapkan dari Kurikulum MBKM dan Program Kerjasama Pelaksanaan meliputi:
1. Dokumen kurikulum, terdiri atas:
a. identitas kursus; lahir Evaluasi kurikulum dan studi tindak lanjut b. Platform untuk perencanaan dan pengembangan rencana studi;
c. Perumusan visi, misi, tujuan, strategi dan nilai universitas; hal. Misalnya profil lulusan;
d. Prestasi Belajar Pascasarjana (CPL); gram Penentuan bahan kajian; jam pembentukan mata kuliah (MK) dan penetapan bobot Tsks; saya. Kartu dan matriks kurikulum;
e. Rencana Pembelajaran Semester (RPS);
f. Rencana pelaksanaan kualifikasi masuk perguruan tinggi maksimal 3 semester di luar mata kuliah;
g. Manajemen dan mekanisme pelaksanaan kurikuler.
2. Dokumen kerjasama kurikuler antara program studi dengan mitra/pihak lain terkait dengan pelaksanaan MBKM;
3. Dokumen lain (SK direksi dan standar prosedur/pedoman) yang mendukung pelaksanaan MBKM;
5. Dokumentasi pelaksanaan kegiatan MBKM, khususnya pembelajaran di luar program studi dan perguruan tinggi, paling sedikit bentuk kegiatan pembelajaran dengan bukti sertifikat pelaksanaan, dll.
6. Rangkuman dokumentasi video pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek atau pembelajaran berbasis kasus, baik yang dilakukan secara online maupun offline dan diunggah ke YouTube dengan ketentuan sebagai berikut:
• Durasi 5 iklan. 10 menit • Ukuran piksel minimum 720p • Rasio aspek 16:9
• Format lanskap
b. Video dokumentasi kegiatan belajar mahasiswa di luar kampus diunggah ke YouTube dengan ketentuan sebagai berikut:
• Durasi 5 a d. 10 menit
• Ukuran piksel minimum 720p • Rasio aspek 16: 9
• Format lanskap
BAB III
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Pengembangan Model Learn To Think (LTT) berbasis Integrated Twin Tower (ITT)
Model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan saintifik berbasis integrasi twin tower yang dinamakan model pembelajaran Learn To Think (LTT) berbasis Integrated Twin Tower (ITT) dirumuskan berdasarkan hasil kajian teori dan studi pendahuluan & pengembangan. Model pembelajaran Learn To Think (LTT) berbasis Integrated Twin Tower (ITT) dikembangkan mengacu pada ciri model pembelajaran menurut Arends (2012) seperti yang menyatakan bahwa terdapat empat ciri khusus model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif, yaitu rasional teoritik yang logis dari perancangngnya, tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, tingkah laku dosen dalam mengajar yang diperlukan agar pembelajaran dapat terlaksana, dan lingkungan belajar yang mendukung untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model Learn to Think (LTT) berbasis Integrated Twin Tower untuk meningkatkan kreativitas ilmiah dan spiritual mahasiswa PIAUD.
Model ini dikembangkan dengan memperbaiki kelemahan dari model LTT dan menambahkan Integrated Twin Tower dalam setiap sintaks berdasarkan kajian literatur yang telah dilakukan sebelumnya. Integrated Twin Tower merupakan suatu gagasan inovatif yang telah dikembangkan di FTK UINSA dengan landasan berpikir bahwa dalam proses pembelajaran tidak bisa saling lepas antara keilmuan core bidang kajian dengan nilai-nilai keislaman. Gagasan inovatif ini akan dijadikan dasar sebagai proses pembelajaran di kelas untuk meningkatkan kreativitas ilmiah dan spiritual mahasiswa PIAUD.
Setiap model pembelajaran memiliki karakteristik spesifik untuk mengajarkan hasil belajar tertentu, demikian juga dengan model pembelajaran yang akan dikembangkan.
Model pembelajaran yang dapat meningkatkan untuk meningkatkan kreativitas ilmiah dan spiritual mahasiswa PIAUD untuk menyiapkan menyiapkan mahasiswa PIAUD menjadi generasi emas tahun 2045 belum maksimal, sehingga pengembangan model ini dirancang untuk mengisi kekosongan tersebut.
Model pembelajaran yang dikembangkan melalui kajian teoritik dan empirik, diharapkan memberikan beberapa manfaat yang dapat diperoleh antara lain sebagai berikut:
1. Alternatif pilihan model pembelajaran yang dapat digunakan untuk melatihkan meningkatkan kreativitas ilmiah dan spiritual mahasiswa PIAUD.
2. Tersedianya model pembelajaran yang dapat menjembatani kreativitas ilmiah dan spiritual mahasiswa PIAUD menjadi generasi emas tahun 2045.
Bahan referensi dalam pengembangan model.
B. Validitas Model Pembelajaran LTT berbasis Integrated Twin Tower (ITT) Skor validitas Model Pembelajaran Learn To Think (LTT) berbasis Integrated Twin Tower (ITT) dari ketiga orang validator disajikan pada Tabel 3.2.
Tabel 2 Skor Validitas Model Pembelajaran Learn To Think (LTT) berbasis Integrated Twin Tower (ITT) Pembelajaran Learn To Think (LTT) berbasis Integrated Twin Tower (ITT)
3,80 SV
0,31 0.89
2. Kebaruan Model Pembelajaran Learn To Think (LTT) berbasis Integrated Twin Tower (ITT)
4,00 SV
3. Teori Pendukung Model Pembelajaran Learn To Think (LTT) berbasis Integrated Twin Tower (ITT)
4,00 SV
4. Perencanaan dan Implementasi 4,00 SV 5. Pengelolaan Lingkungan Belajar 3,50 SV Validitas Konstruk
1. Kebutuhan Pengembangan Model Pembelajaran Learn To Think (LTT) berbasis Integrated Twin Tower (ITT)
3,60 SV
0,28 0.90
2. Konstruksi Model Pembelajaran Learn To Think (LTT) berbasis Integrated Twin Tower (ITT)
4,00 SV
3. Teori Pendukung Model Pembelajaran Learn To Think (LTT) berbasis Integrated Twin Tower (ITT)
4,00 SV
4. Perencanaan dan Implementasi 4,00 SV 5. Pengelolaan Lingkungan Belajar 3,50 SV
Keterangan: r = Single measure interrater coeficient correlation; = Cronbach’s alpha ; SV = Sangat Valid
BAB IV PEMBAHASAN
A. Pengembangan Model LTT berbasis ITT
Model Learn to Think (LTT) berbasis Integrated Twin Tower untuk meningkatkan kreativitas ilmiah dan spiritual mahasiswa PIAUD. Model ini dikembangkan dengan memperbaiki kelemahan dari model LTT dan menambahkan Integrated Twin Tower dalam setiap sintaks berdasarkan kajian literatur yang telah dilakukan sebelumnya. Integrated Twin Tower merupakan suatu gagasan inovatif yang telah dikembangkan di FTK UINSA dengan landasan berpikir bahwa dalam proses pembelajaran tidak bisa saling lepas antara keilmuan core bidang kajian dengan nilai-nilai keislaman. Gagasan inovatif ini akan dijadikan dasar sebagai proses pembelajaran di kelas untuk meningkatkan kreativitas ilmiah dan spiritual mahasiswa PIAUD. Secara ringkas karakteristik model pembelajaran LTT berbasis ITT dapat dijelaskan sebagai berikut.
Karakteristik Model Pembelajaran 1. Tujuan Model Pembelajaran
Tujuan dari pengembangan Model BWML (Blended Web Mobile Learning) sebagaimana diuraikan pada Bab sebelumnya, bahwa model ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kreativitas ilmiah dan spiritual mahasiswa PIAUD dan tujuan-tujuan lain yaitu membangkitkan motivasi, aktivitas dan respon siswa dalam pembelajaran. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3 Sintaks Model Pembelajaran dan Indikator Keterampilan yang Dilatihkan
Orientasi Belajar Unusual uses; Problem finding; Product
Orientasi Belajar Unusual uses; Problem finding; Product