• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

1. Kurikulum SD 2013

BAB II

LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka

1. Kurikulum SD 2013

Kurinasih (2014:3) menjelaskan bahwa pengertian kurikulum secara etimologis adalah tempat berlari dengan kata yang berasal dari bahasa latincurir yaitu pelari, dan curere yang artinya tempat berlari. Pengertian kurikulum dalam pasal 1 butir 19 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Edwar A. Krug (dalam Kurinasih 2014:5) mengungkapkan bahwa kurikulum terdiri dari cara yang digunakan untuk mencapai atau melaksanakan tujuan yang diberikan sekolah.

Kurinasih (2014:3) mengungkapkan bahwa, terlepas dari silang pendapat di tengah masyarakat dan parah ahli, kurikulum 2013 merupakan serentetan rangkaian penyempurnaan terhadap kurikulum yang telah dirintis tahun 2004 yang berbasis kompetensi lalu diteruskan dengan kurikulum 2006 (KTSP). Kurikulum 2013 merupakan tindak lanjut dari kurikulum berbasis kompetensi (KBK) 2004.KBK atau

(Competency Based Curriculum) dijadikan acuan dan pedoman bagi pelaksanaan

pendidikan untuk mengembangkan berbagai ranah pendidikan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) dalam seluruh jenjang dan jalur pendidikan, khususnya pada jalur pendidikan sekolah. Mulyasa (2014:66)

Dari pengertian para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kurikulum 2013 merupakan sebuah kurikulum hasil dari penyempurnaan kurikulum 2004 berbasis kompetensi dan kurikulum 2006 (KTSP) yang lebih menekankan berbagai ranah mulai dari kognitif, afektif dan psikomotorik demi mempersiapkan lulusan pendidikan yang unggul menghadapi era globalisasi.

Alasan terjadinya perubahan kurikulum, dari kurikulum KTSP 2006 menjadi kurikulum 2013;

Mulyasa (2014:60) merumuskan bahwa, perlunya perubahan kurikulum juga karena adanya beberapa kelemahan yang ditemukan dalam KTSP 2006 sebagai berikut; (diadaptasi dari materi sosialisasi Kurikulum 2013)

1) Isi dan pesan-pesan kurikulum masih terlalu padat, yang ditunjukan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan kesukarannyamelampui tingkat perkembangan usia anak.

2) Kurikulum belum mengembangkan kompetensi secara utuh sesuai dengan visi, dan tujuan pendidikan nasional.

3) Kompetensi yang dikembangakan lebih didominasi oleh aspek pengetahuan, belum sepenuhnya menggambarkan pribadi peserta didik (pengetahuan, keterampilan, dan sikap)

4) Berbagai kompetensi yang diperlukan sesuai dengan perkembangan masyarakat, seperti pendidikan karakter, kesadaran lingkungan, pendekatandan

metode pembelajaran konstruktufistik, keseimbangan soft skills and hard skills ,serta jiwa kewirausahaan, belum terakomodasi di dalam kurikulum.

5) Kurikulum belumpeka dan tanggap terhadap berbabagi perubahan social yang terjadi pada tingkat local, nasional, maupun global.

6) Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru.

7) Penilaian belum menggunakan standar penilaian berbasis kompetensi, serta belum tegas memberikan layanan remedias dan pengayaan secara berkala. Di samping beberapa kelemahan sebagaimana dikemukakan di atas, perubahan dan pengembangan kurikulmu diperlukan karena adanya beberapa kesenjangan kurikulum yang sedang berlaku sekarang (KTSP). Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni yang berlangsung cepat dalam era global dewasaini, dapat diidentifikasi beberapa kesenjangan kurikulum sebagai berikiut;

Tabel 1. Kesenjangan Kurikulum

KONDISI SAAT INI KONSEP IDEAL

A. KOMPETENSI LULUSAN A. KOMPETENSI LULUSAN

1. Belum sepenuhnya menekankan pendidikan karakter

1. Berkarakter mulia 2. Belum menghasilkan keterampilan

sesuai kebutuhan

2. Keterampilan yang relevan 3. Pengetahuan-pengetahuan lepas 3. Pengetahuan-pengetahuan terkait B. MATERI PEMBELAJARAN B. MATERI PEMBELAJARAN 1. Belum relevan dengan kompetensi

yang dibutuhkan

1. Relevan dengan materi yang dibutuhkan

2. Beban belajar terlalu berat 2. Materi esensial 3. Terlalu luas, kurang mendalam 3. Sesuai dengan tingkat

perkembangan anak

C. PROSES PEMBELAJARAN C. PROSES PEMBELAJARAN 1. Berpusat pada guru 1. Berpusat pada peserta didik 2. Proses pembelajaran berorientasi

pada buku teks

2. Sifat pembelajaran yang kontekstual

3. Buku teks hanya memuat materi bahasan

3. Buku teks memuat materi dan proses pembelajaran, system penilaian serta kompetensi yang diharapkan

D. PENILAIAN D. PENILAIAN

1. Menekankan aspek kognitif 1. Menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik secara proporsional 2. Tes menjadi cara penilaian yang

dominan

2. Penilaian tes pada portofolio saling melengkapi

E. PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

E. PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

1. Memenuhi kompetensi profesi saja 1. Memenuhi kompetensi profesi, pedagogi, sosial, dan personal 2. Fokus pada ukuran kinerja PTK 2. Motivasi mengajar

F. PENGELOLAAN KURIKULUM PENGELOLAAN KURIKULUM

1. Satuan Pendidikan mempunyai pembebasan dalam pengelolaan kurikulum

1. Pemerintah pusat dan daerah memiliki kendali kualitas dalam pelaksanaankurikulum di tingkat satuan pendidikan

2. Masih terdapat kecendruan satuan pendidikan menyusun kurikulum tanpa mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah

2. Satuan pendidikan mampu menyusun kurikulumdengan mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan pesrta didik, dan potensi daerah

3. Pemerintah hanya menyiapkan sampai standar isi mata pelajaran

3. Pemerintah menyiapkan semua komponen kurikulum sampai buku teks dan pedoman

Mohamad dalam buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013, merumuskan bahwa Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi yang dirancang untuk mengantisipasikebutuhan kompetensi Abad 21. Pada abad ini, sebagaimana dapat kita bersama saksikan, kemampuankreativitas dan komunikasi akan menjadi sangat penting. Sejalan dengan itu, rumusan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dipergunakan dalam Kurikulum 2013 mengedepankan pentingnya kreativitas dan komunikasi.

a. Rasional dan elemen perubahan Kurikulum SD 2013

Permendikbud kurikulum 2013 merumuskan rasional dan elemen perubahan kurikulum SD 2013 sebagai berikut;

1) Rasional Kurikulum 2013 (a) Tantangan internal

(1) Tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 standar Nasional Pendidikan yang meliputi Standar Pengelolahan, Standar Biaya, Standar Sarana prsarana, Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Penialaian, dan Standar Kompetensi Lulusan.

(2) Tantangan internal lainnya terkait dengan faktor perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif.

(b) Tantangan Eksternal Tantangan Masa Depan

(2) Masalah lingkungan hidup. (3) Kemajuan teknologi informasi. (4) Konvergensi ilmu dan teknologi. (5) Ekonomi berbasis pengetahuan.

(6) Kebangkitan industri kreatif dan budaya. (7) Pergeseran kekuatan ekonomi dunia. (8) Pengaruh dan imbas teknosains.

(9) Mutu, investasi dan transformasi pada sektor pendidikan. (10) Materi TIMSS dan PISA.

Kompetensi Masa Depan

(1) Kemampuan berkomunikasi.

(2) Kemampuan berpikir jernih dan kritis.

(3) Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan. (4) Kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab.

(5) Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda.

(6) Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal. (7) Memiliki minat luas dalam kehidupan.

(8) Memiliki kesiapan untuk bekerja.

(9) Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya. (10) Memiliki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan.

(c) Pola pikir perumusan kurikulum

Tabel 2. Perumusan Kurikulum 2004, 2006, Dan Kurikulum 2013 No KBK 2004 KTSP 2006 Kurikulum 2013 1. Standar Kompetensi Lulusan p

diturunkan dari Standar Isi

Standar Kompetensi Lulusan

diturunkan dari kebutuhan 2. Standar Isi dirumuskan berdasarkan

Tujuan Mata Pelajaran (Standar Kompetensi Lulusan Mata Kompetensi Lulusan melalui Pelajaran) yang dirinci menjadi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran

Standar Isi diturunkan dari Standar Kompetensi Lulusan melalui Kompetensi Inti yang bebas mata pelajaran

3. Pemisahan antara mata pelajaran pembentuk sikap, pembentuk keterampilan, dan pembentuk pengetahuan

Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan

4. Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran

Mata pelajaran diturunkan dari

kompetensi yang ingin dicapai

5. Mata pelajaran lepas satu dengan yang lain, seperti sekumpulan mata

pelajaran terpisah

Semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti (tiap kelas) Semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti (tiap kelas) Sumber: Modul Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Kurikulum 2013 b. Elemen perubahan kurikulum 2013

Uji Publik Kurikulum 2013 dalam Mulyasa (2012:77) merumuskan bahwa, dalam rangka pengembangan kurikulum 2013, pada tingkat nasional dilakukan penataan terhadap Standar Nasional Pendidikan (SNP), terutama pada Standar

Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian, yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013. Elemen perubahan tersebut dapat dilihat dalam diagramberikut ini;

Tabel 3.Diagram Elemen Perubahan

ELEMEN

Deskripsi

SD SMP SMA SMK

Kompetensi Lulusan

Adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan

pengetahuan Kedudukan

Mata Pelajaran

Kompetensi yang semula diturunkan dari mata pelajaran berubah menjadi mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi

Pendekatan (isi) Tematik Integratif dalam semua mata pelajaran Mata pelajaran Mata pelajaran wajib dan pilihan Mata pelajaran wajib, pilihan, dan vokasi Struktur Kurikulum (mata pelajaran dan alokasi waktu) isi -Holistik dan integratif berfokus kepada alam, sosial dan budaya -Pembelajara n dilaksanakan dengan pendekatan sains -jumlah mata pelajaran dari 10 -TIK menjadi media semua mata pelajaran -pengembanga n diri terintegrasi pada setiap mata pelajaran dan ekstrakulikule r -jumlah mata pelajaran dari 12 menjadi 10 -jumlah jam -perubahan sistem ada pada mata pelajaran wajib dan ada pada mata pelajaran pilihan -terjadi pengurangan mata pelajaran yang seharusnya diikuti siswa -jumlah jam bertambah 2 -penyesuaian jenis keahlian berdasarkan spectrum kebutuhan saat ini -penyeragaman mata pelajaran dasar umu -produktif disesuaikan dengan tren perkembangan industry - pengelompoka

menjadi 6 -jumlah jam bertambah 4 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajara n bertambah 6 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajarana n matapelajaran produktif sehingga tidak terlalu rinci pembagiannya. ELEMEN Deskripsi SD SMP SMA SMK Proses pembelajaran

 Standar kompetensi yang semula terfokus pada

eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dilengkapi dengan mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta.

 Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat.

 Guru bukan satu-satunya sumber belajar.

 Sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan.

Tematik dan terpadu

IPA dan IPS masing-masing diajarkan secarah terpadu Adanya mata pelajaran wajib pilihan sesuai bakat dan minatny a Kompetensi keterampilan yang sesuai dengan standar industry

Penilaian  Penilaian berbasis kompetensi

 Pergeseran dari penilaian melalui tes (mengukur

kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja), menuju penilaian otentik (mengukur semua kompetensi sikap, ketermpilan dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil)

pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap skor ideal (maksimal)

 Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga pada kompetensi inti dan SKL

 Mendorong pemanfaattan portofolio yang dibuat siswa sebagai insrumen utama penilaian

Ekstrakurikule r  Pramuka (wajib)  UKS  PMR  B. Inggris  Pramuka  UKS  PMR  Dll Perlunya ekstrakurikuler partisipasi aktif siswa dalam permasalahan

kemasyarakatan (menjadi bagian dari pramuka) Sumber: Uji Publik Kurikulum 2013 (dalam Mulyasa2012:77)

Di samping penataan terhadap SNP di atas, juga dilakukan penataan terhadap mata pelajaran yakni: Agama, PPKN, Matematika, dan Bahasa Indonesia. Pada tingkat nasional, pengembangan kurikululum meliputi jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah, baik secarah vertical maupun horizontal dalam rangka merealisaikan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan pembelajaransecara berjenjang dan berkesenambungan.Sedangkan jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan pembelajaran yang tidak harus berjenjang dan berkesenambungan, termasuk pendidikan keluarga (UUSPN).

Secara vertical berkaitan dengan kontinuitas pengembangan kurikulum antara berbagai jenjang pendidikan (pendidikan dasar, menengah,

dan pendidikan tinggi).Sedangkan secara horisontal berkaitan dengan keselarasan antar berbagai jenis pendidikan dalam berbagai jenjang.Jenis pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas pendidikan umum, pendidikan kejujuran, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik, dan pendidikan profesional. c. Pendidikan karakter

1) Pengertian

Maksudin (2013:51), merumuskan kembali dari para aktivis pendidikan karakter yang mencoba melukiskan pilar-pilar penting dalam pendidikan karakter meliputi 9 pilar yang kait mengait, yaitu (1) responsibility (tanggung jawab), (2) respect (rasa hormat), (3) fairness (keadilan), (4) courage (keberanian), (5) honesty (kejujuran), (6) citizenship (kewarganegaraa), (7)

self- discipline (disiplin diri), (8) caring (peduli), (9) perseverance

(ketekunan). Dalam uraian tersebut, dijelaskan bahwa nilai-nilai dasar kemanusiaan yang harus dikembangkan melalui pendidikan bervariasi antara lima sampai sepuluh aspek. Di samping itu, pendidikan karakter memang harus mulai dibangun dirumah, dan dikembangkan di lembaga pendidikan sekolah bahkan diterapkan secara nyata di dalam masyarakat. Pendidikan karakter sangat penting diterapkan dengan alasan (1) karakter adalah bagian esensial manusia dan karenanya harus dididikkan, (2) saat ini karakter generasi mudah (bahkan juga generasi tua) mengalami erosi, pudar, dan kering

keberadaanya, (3) terjadi detolisasi kehidupan yang diukur denga uang yag dicari dengan menghalalkan segalah cara, dan (4) karakter merupakan salah satu bagian manusia yang menentukan kelangsungan hidup dan perkembangan warga bangsa.

Ratna Megawangi (dalam Kesuma,dkk. 2011:5) mengungkapkan bahwa pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijakdan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi positif kepada lingkungannya. Defenisi lainnya dikemukakan oleh Fakry Gaffer 2010 “sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu.

Koesoema (2007:44) mengungkapkan bahwa, jika dilihat dari pengelaman sejarah bangsa, pendidikan karakter sesunggunya bukan hal baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia.Beberapa pendidik Indonesia modern yang kita kenal, seperti R. A. Kartini, Ki Hadjar Dewantara, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Moh. Natsir, dll, telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa sesuai dengan konteks dan situasi yang mereka alami.Pendidikan karakter secara sistematis diterapkan dalam pendidikan dasar dan menengah merupakan sebuah daya tawar berharga bagi seluruh komunitas.Para siswa

mendapatkan keuntungan dengan memproleh perilaku dan kebiasaan positif yang mampu meningkatkan rasa percaya diri mereka, membuat hidup mereka lebih bahagia dan lebih produktif.

Kesuma,dkk. (2011:5) mendefinisikan pendidikan karakter dalam seting sekolah sebagai “pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujukoleh sekolah.” Definisi ini mengndung makna:

(a) Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang terintegrasi dengan pembelajaran yang terjadi pada semua mata pelajaran

(b) Diarahkan pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh. Asumsi anak merupakan organisme manusia yang memililki potensi untuk dikuatkan dan dikembangkan

(c) Penguatan dan pengembangan perilaku didasari oleh nilai yang dirujuk sekolah (lembaga)

`Dari pendapat parah ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan sebuah proses yang terjadi dalam pembelajaran yaitu proses mendidik agar siswa dapat memetik nilai-nilai kebenaran dan membentuk sikap atau karakter baik agar siswa dapat menerapkan dalam kehidupannya sehari-hari dan membawa dampak positif di lingkungan sekitarnya. Dengan adanya pendidikan karkter diharapkan dapat membentuk

karakter generasi mudah menjadi lebih baik, sehingga terhindar dari berbagai hal negative dan membawa dampak positif bagi bangsa Indonesia.

2) Tujuan pendidikan karakter dalam sekolah adalah sebagai berikut;

(a) Menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian/kepemilikan peserta didik yang khas sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan.

(b) Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah.

(c) Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pemdidikan karakter secara umum. Kesuma,dkk. (2011:6) mengungkapkan bahwa, tujuan pertama pendidikan adalah memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak, baik ketika proses sekolah maupun setelah proses sekolah (setelah lulus dari sekolah).

d. Pendekatan tematik integratif 1) pengertian

Depdiknas 2006 (dalam Trianto 2011: 147) mengungkapkan bahwa pembelajaran tematik sebagai model pembelajaran termasuk salah satu tipe/jenis daripada model pembelajaran terpadu.Istilah pembelajaran tematik pada dasarnya adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan

pengelaman bermakna kepada siswa. Istilah model pembelajaran terpadu sebagai konsep sering dipersamakan dengan integrated teaching and learning, integrated curriculum approach, a coherent curriculum

approach.Jadi berdasarkan istilah tersebut, maka pembelajaran terpadu pada

dasarnya lahir salah satunya dari pola pendekatan kurikulum yang terpadu

(integratedcurriculum approach).

Ahmadi, amri (2014: 94) mengungkapkan bahwa, pembelajaran tematik integratif adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengelaman bermakna kepada siswa.

Kurikulum SD/MI menggunakan pendekatan pembelajaran tematik integratif dari kelas I sampai kelas VI.Pembelajaran tematik integratif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Pengintegrasian tersebut dilakukan dalam dua hal, yaitu integrasi sikap, keterampilan dan pengetahuan dalam proses pembelajaran dan integrasi berbagai konsep dasar yang berkaitan. Tema merajut makna berbagai konsep dasar sehingga peserta didik tidak belajar konsep dasar secara parsial.Dengan demikian pembelajarannya memberikan makna yang utuh kepada peserta didik seperti tercermin pada berbagai tema yang tersedia.

Dalam pembelajaran tematik integratif, tema yang dipilih berkenaan dengan alam dan kehidupan manusia. Untuk kelas I, II, dan III, keduanya merupakan pemberi makna yang substansial terhadap mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni-Budaya dan Prakarya, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Di sinilah Kompetensi Dasar dari Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial yang diorganisasikan ke mata pelajaran lain memiliki peran penting sebagai pengikat dan pengembang Kompetensi Dasar mata pelajaran lainnya. Dari sudut pandang psikologis, peserta didik belum mampu berpikir abstrak untuk memahami konten mata pelajaran yang terpisah kecuali kelas IV, V, dan VI sudah mulai mampu berpikir abstrak.Pandangan psikologi perkembangan dan Gestalt memberi dasar yang kuat untuk integrasi Kompetensi Dasar yang diorganisasikan dalam pembelajaran tematik. Dari sudut pandang transdisciplinarity maka pengotakan konten kurikulum secara terpisah ketat tidak memberikan keuntungan bagii kemampuan berpikir.

Nuryana dalam majalah Fahma mengungkapkan bahwa, Pada jenjang SD, terdapat dua pendekatan untuk mengorganisasikan pengalaman belajar, yaitu pendekatan mata pelajaran (subject-matter approach), dan pendekatan tematik (thematic approach). Selama ini rancangan kurikulum yang berlaku di Indonesia, tampaknya menggunakan pendekatan mata pelajaran di mana

peserta didik secara terstruktur dan terpisah belajar mata pelajaran tertentu, seperti bahasa Indonesia, matematika, IPS, IPA dan lain sebagainya. Pendekatan ini menyebabkan peserta didik banyak mengalami kesulitan ketika diminta menjelaskan koneksi antara mata pelajaran satu dengan mata pelajaran lain yang mereka pelajari.Pendekatan kurikulum tematik integratif ini memberi peluang kepada sekolah dan komite sekolah untuk secara intensif dan ekstensif memasukkan visi-misi sekolah ke dalam proses pembelajaran yang mereka selenggarakan. Sehingga peserta didik memiliki nilai tambah, keunggulan, atau kekhasan yang sangat kuat, selain tentu saja kompetensi dasar lulusan yang harus dikuasai.

2) Kelebihan Pembelajaran Tematik Integratif

Hosnan (2014:366) merumuskan kelebihan pembelajaran tematik sebagai berikut;

(a) Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar

(b) Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa

(c) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lama, membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa

(d) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya

(e) Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.

Ahmadi(2014: 95) mengungkapkan bahwa, pembelajaran tematik integratif mempunyai kelebihan sebagai berikut;

(a) Menyenangkan

(b) Memberikan pengelaman

(c) Hasil belajar dapat bertahan lama, berkesan, dan bermakna (d) Mengembangkan keterampilan berpikir anak

(e) Menumbuhkan keterampilan sosial

(f) Menumbuhkan sikap toleransi, komunkasi, dan tanggap (g) Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata

3) Karakteristik Pembelajaran Tematik

Hosnan (2014:366) merumuskan karakteristik pembelajaran tematik sebagai berikut;

(a) Berpusat pada siswa. Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student

centered), hal ini sesuai dengan pendekatan pembelajaran modern yan

lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar, sedang guru lebuh banyak berperan sebgai fasilitator, yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.

(b) Memberikan pengelaman langsung. Pembelajaran tematik bisa memberikan pengelaman langsung kepada siswa. Dengan pengelaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkret) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.

(c) Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas. Dalam pembelajaran tematik, pemisahan antar mata pelajatran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan siswa sesuai dengan kurikulum.

(d) Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran. Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

(e) Bersifat fleksibel. Pembelajaran tematik bersifat fleksibel dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan pelajaran lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan di mana sekolah dan siswa berada.

(f) Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Siswa diberikan kesempata untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebuhannya.

(g) Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan. Pembelajaran di kelas tidak hanya diarahkan pada prinsip belajar konvensional, yang lebih banyak mengggunakan teknik mengajar ceramah, tetapi guru lebih utama menggunakan teknik bermain yang membuat suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan.

e. Pendekatan saintifik 1) Pengertian

Hosnan (2014:34) mengungkapkan bahwa implementasi kurikulum 2013 dengan menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach) adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengongstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan. Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan sainstifik merupakan proses pembelajaran yang menggunakan cara ilmiah yang melibatkan siswa secara langsung untuk melalui tahapanpembelajaran

Dokumen terkait