ORANG SHALIH?
Masalah tabarruk dengan orang shalih adalah masalah umum yang tidak bisa dihukumi kecuali jika diperinci. Jika yang dimaksud tabarruk dengan orang shalih adalah tabarruk dengan dzat mereka, keringat mereka, air bekas minum/wudhu mereka, pakaian mereka, tempat yang mereka singgahi, dsb maka hal ini adalah perkara yang batil. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan para salaf tidak pernah memerintahkan hal tersebut, dan sebagai orang beriman, kita diwajibkan mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap perintah dan larangannya, yaitu dengan melaksanakan perintah beliau sebagaimana yang beliau
lakukan dan perintahkan. Demikian pula dalam menyikapi setiap larangan, kita harus
meninggalkan apa yang beliau tinggalkan dan beliau larang.
Kalau ada yang mengatakan: “Kami mendapat berkahnya Si Fulan” atau “Sejak Si Fulan datang kami mendapat berkah”, maka perkataan ini bisa benar bisa salah. Yang benar ialah jika maksudnya bahwa Si Fulan menunjukkan kami dan mengajari kami serta memerintahkan kami kepada yang ma’ruf dan melarang kami dari yang munkar, maka berkat mengikuti dan menaatinya kami mendapat banyak kebaikan seperti ini. Sebagaimana penduduk Madinah yang mendapat berkah saat kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika mereka beriman dan menaati beliau. Lalu berkat itu semua mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Demikian pula setiap mukmin yang beriman dan menaati beliau akan mendapat berkah karenanya. Ia akan mendapat banyak kebaikan di dunia dan akhirat yang hanya Allah yang tahu berapa besarnya.
Demikian pula jika yang dimaksud bahwa atas berkat doa dan keshalihan Si Fulan, Allah menolak kejahatan dari kita dan kita mendapat rezeki dan kemenangan, maka ini pun sesuatu yang haq. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ْﻢِﻬِﺻَﻼْﺧِإَو ْﻢِﻬِﺗَﻼَﺻَو ْﻢِﻬِﺗَﻮْﻋَﺪِﺑ ﺎَﻬِﻔﻴِﻌَﻀِﺑ َﺔﱠﻣُْﻷا ِهِﺬَﻫ ُﻪﱠﻠﻟا ُﺮُﺼْﻨَﻳ ﺎَﻤﱠﻧِإ
“Allah menolong umat ini tidak lain ialah karena orang-orang lemah diantara mereka, (yaitu) berkat doa, shalat dan keikhlasan mereka”.191
Jadi, yang dimaksud dengan berkahnya para wali Allah dan kaum shalihin itu ialah manfaat
yang mereka berikan kepada umat lewat doa mereka untuk kebaikan kaum muslimin dan
ajakan mereka agar manusia taat kepada Allah. Termasuk juga ketika Allah menurunkan
190 Apalagi jika termasuk bagian tauhid Islam seperti anggapan Novel. 191 HR. Nasa’i no 3178, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani.
rahmat-Nya atau menghindarkan siksa-Nya tersebab mereka, ini termasuk sesuatu yang haq dan memang ada. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan tabarruk dengan orang-orang shalih.192 Kesalahan besar ketiga ialah saat Novel mengatakan bahwa “mencari keberkahan majelis, keberkahan kaum sholihin, dan keberkahan napak tilas dan peninggalan orang-orang saleh… dst adalah murni ajaran Islam dan upaya yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan penerus mereka”. Jelas sekali di sini bahwa Novel kembali mencampuradukkan antara tabarruk yang haq dengan yang batil, yang menujukkan kejahilannya akan hal tersebut. Kemudian ia melengkapi kejahilannya tadi dengan kedustaan yang diatas namakan ajaran Islam, dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Laa haula walaa quwwata illa billaah. Alangkah buruknya apa yang dilakukan Novel, lebih-lebih jika mengingat bahwa dirinya termasuk ahlul bait, padahal disebutkan dalam kitab: Al Masyra’ur Rawiy fie Manaqibi Aal Abi ‘Alawiy (1/58):
!ﻲﻨﺑ ﺎﻳ ،- ﺎﻤﻬﻨﻋ ﷲا ﻰﺿر – ﷲا ﺪﺒﻋ ﻪﻨﺑﻻ سﺎﺒﻌﻟا لﺎﻗ اﺬﻬﻟو ،ﻢﻫﺮﻴﻏ ﻲﻓ ﻪﻨﻣ ﺢﺒﻗأ ﺖﻴﺒﻟا ﻞﻫأ ﻦﻣ ﺢﻴﺒﻘﻟا نإ
ﻚﺘﻴﺑ ﻞﻫﺄﺑو ﻚﺑو ﻲﺑ ﻪﻨﻣ ﺢﺒﻗأ ﺔﻣﻷا هﺬﻫ ﻦﻣ ﺢﺒﻗأ ٍﺪﺣﺄﺑ ﺲﻴﻟ بﺬﻜﻟا نإ
“Suatu kejelekan yang berasal dari ahlul bait adalah lebih jelek jika dibandingkan dengan yang berasal dari selain mereka. Karenanya, Abbas berkata kepada Abdullah puteranya –semoga Allah meridhai mereka berdua-: “Wahai puteraku, sesungguhnya tidak ada kedustaan yang dilakukan seseorang dari umat ini, yang lebih jelek daripada kedustaan yang berasal dariku, darimu dan dari ahli baitmu”.
Sebagai penutup, kami akan menjelaskan secara singkat alasan dilarangnya tabarruk dengan diri orang shalih atau bekas-bekas peninggalannya sebagai berikut:
Hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh para sahabat maupun para salaf terhadap orang-orang shalih diantara mereka. Adapun tabarruk para sahabat dengan diri dan peninggalan Rasulullah maka hal tersebut khusus berlaku bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, dan tidak boleh dikiaskan kepada selain beliau.
Bila dibiarkan, hal ini akan membawa kepada syirik. Oleh karenanya, sebagai tindakan preventif hal ini harus dilarang.
Keshalihan seseorang hanya bisa diketahui lewat wahyu mengingat letaknya di hati, sedangkan seseorang hanya bisa dinilai dari lahirnya. Padahal bisa saja seseorang kelihatan sebagai orang shalih tapi hatinya tidak seperti itu. Atau keadaannya berbalik menjelang matinya. Beda dengan orang yang dikabarkan oleh Allah sebagai orang-orang shalih yang telah diridhai-Nya, seperti para sahabat umpamanya. Mereka pasti benar-benar shalih, sebab Allah tidak mungkin mengabarkan sesuatu yang berbeda dengan kenyataannya, atau berubah setelah itu.
192 Demikian yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Lihat: Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 11/113-114.
Karenanya, jika ada yang mengatakan: “Ini termasuk tabarruk dengan orang shalih”, kita katakan: “Ini hanya bersifat dugaan yang tidak dapat dipastikan. Sedangkan dugaan tidak boleh jadi landasan hukum dalam masalah seperti ini”.
KHATIMAH
Demikianlah sedikit penjelasan yang dapat penulis sampaikan. Penulis hanya berharap agar tulisan ini dapat difahami dengan baik dan benar oleh para pembaca, tanpa meninggalkan syubhat sedikit pun dalam hati mereka. Sungguh demi Allah, seandainya bukan karena tanggung jawab besar yang Allah pikulkan kepada orang yang diberi ilmu untuk menyampaikan yang haq sepahit apa pun resikonya, niscaya buku ini takkan pernah ada… kami mencintai Saudara Novel sebagai seorang muslim dan ahlul bait, akan tetapi kebenaran lebih kami cintai dari siapa pun juga, dan dialah yang harus dibela.
Kami yakin bahwa pasti ada di antara tulisan ini yang tidak enak dibaca oleh sebagian kalangan, oleh karenanya kami mohon maaf. Namun, sebagaimana kata Imam Syafi’i:
ُكَرْﺪُﺗ َﻻ ٌُﺔَﻳﺎَﻏ ِسﺎﱠﻨﻟا ُءﺎَﺿْرِإ
Menyenangkan semua orang adalah tujuan yang tak bisa dicapai.
Karenanya, cukuplah bagi seorang mukmin menghendaki Ridha Allah saja dan bersabar menghadapi kemarahan manusia. Bukankah orang sebaik Rasulullah saja dimusuhi sedemikian rupa? Bahkan dijuluki penyihir, gila, pendusta dan lain sebagainya? Mengapa beliau dimusuhi oleh mereka? Tak bukan ialah karena beliau membawa kebenaran.
Semoga Allah membukakan hati kita untuk menerima kebenaran tersebut dan mengamalkannya dengan baik. Ya Allah, tunjukkanlah yang haq sebagai yang haq dan jadikan kami orang yang mengikutinya; dan tunjukkanlah yang batil sebagai yang batil dan jadikan kami orang yang menjauhinya.