BAB II : TINJAUAN PUSATAKA
A. Landasan Teori
3. Laba
Menurut Sofyan Safri Harahap (1999:151), laba akuntansi adalah perbedaan antara penghasilan yang berasal dari transaksi perusahaan pada priode tertentu dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan.
1) Konsep Laba
Laba menurut akuntansi adalah selisih pengukuran antara pendapatan biaya. Besar kecilnya laba sebagai pengukur kenaikan aktiva sangat tergantung pada ketepatan pengukuran pendapatan dan biaya. Laba hanya merupakan angka artikulasi dan tidak didefinisikan secara ekonomik seperti aktiva atau hutang. IAI tidak menterjemahkan income dengan istilah laba, tetapi dengan istilah penghasilan yaitu : kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal. Konsep laba tersebut adalah:
a) Pendapatan/laba fisik (phisical income). Menunjukkan konsumsi barang/jasa yang dapat mempengaruhi kepuasan dan keinginan individu.
b) Pendapatan/laba nyata (real income). Menunjukkan kenaikan dalam kemakmuran ekonomi yang ditunjukkan oleh kenaikan cost of living.
c) Pendapatan/laba uang (money income). Menunjukkan kenaikan nilai moneter sumber-sumber ekonomi yang digunakan untuk konsumsi dengan biaya hidup (cost of living).
Gambar 2.1 Konsep Laba *Sumber : Suhendah (2005)
Laba akuntansi memiliki karakteristik sebagai berikut (1) didasarkan pada transaksi aktual yang berasal dari penjualan barang dan jasa, (2) Mengacu pada kinerja perusahaan selama periode tertentu, (3) Didasarkan pada prinsip pendapatan yang memerlukan pemehaman khusus tentang definisi, pengukuran dan pengakuan pendapatan, (4) memerlukan pengukuran biaya yang relevan.
2) Agency Relationship and Costs
Hubungan antara pemilik perusahaan sebagai pihak yang melimpahi wewenang (principal) dan manajemen sebagai pihak penerima wewenang (agent) dinamakan principal-agent relationship. Pemilik sebagai principal memberikan wewenang kepada manajemen untuk menjalankan kegiatan operasional sehari-hari, dan menajemen sebagai penerima wewenang tersebut diharapkan dapat bertindak sesuai
Konseonsep Laba
dengan keinginan para pemilik perusahaan. Karena kepemilikan sebuah perusahaan besar dapat disebarkan diantara banyak shareholders, maka berarti pemegang saham tidak dapat mengawasi secara teratur dan efektif jalannya operasional perusahaan. Agency problem muncul karena adanya conflict of interest antara principal dan agent. Biaya-biaya yang ditimbulkan oleh adanya conflict of interest ini dinamakan agency costs. Agency costs dapat berupa monitoring costs yaitu biaya untuk mengontrol dan memonitor kegiatan operasi perusahaan akibat adanya informasi yang tidak seimbang antara pemilik dan manajemen, dan residual losses yaitu kerugian yang diderita pemilik perusahaan akibat dari kelakuan manajemen yang menyimpang.
3) Manajemen Laba
Manajemen laba adalah konsep yang dilakukan oleh perusahaan dalam mengelola laporan keuangan supaya laporan keuangan tampak memiliki kualitas (quality financial reporting). Suhendah (2005) laporan keuangan yang paling sering dimanipulasi oleh perusahaan adalah laporan rugi laba. Perusahaan cenderung mengelola bottom line dari laporan rugi laba karena investor akan melihat bottom line laporan rugi laba sebagai usaha memperoleh EPS (earning per share/laba perlembar saham) yang dapat menunjukan tingkat pengembalian (return) dari investasi.
Manajemen laba merupakan suatu proses yang disengaja, menurut standar akuntansi keuangan untuk mengarah pelaporan laba pada tingkat tertentu. Menurut Suhendah (2005) yang termasuk kategori manajemen laba adalah (1) Rekayasa kebijakan Akuntansi akrual (discretionary Accrual), (2) Praktik Penataran Laba (income smoothing), (3) Manipulasi alokasi pendapatan dan biaya (4) Perubahan akuntansi struktur modal. Manajemen laba memiliki cakupan luas di bandingkan dengan income smoothing karena manajemen percaya reaksi pasar didasarkan atas pada pengungkapan informasi akuntansi sehingga prilaku laba merupakan aspek penentuan resiko pasar usaha.
Manajemen usaha juga dapat diartikan macam – macam dalam oleh Suhendah (2005) dapat diartikan bermacam – macam, tergantung dari sisi perspektif atau cara pandang. Beberapa definisi tentang manajemen laba adalah :
a) Dari sudut etika menurut Rockness et, al (1994) manajemen laba diartikan sebagai “Any action on the part of mananjemen which affect reported income and which provides no true economics advantage to the organization and may in fact the long term be detrimental”.
b) Ayeress (1994) mengartikan manajemen laba sebagai “an intentional structuring of reporting or production/investments decisions around the bottom impact. It encompasses income smoothing behavior but also includes any attempt to alter reported income that would not
occour unless manajemen was concerned with financial reporting implications”.
c) Schipper (1989) mengartikan manajemen laba sebagai “disclosure management in the sense of purposeful intervention in the eksternal reporting process, with intent of obtaining some private gain”. d) Fischer et, al (1994) mengartikan manajemen laba sebagai “the
actions of manager that are intended to increase (decrease) current reported earning of the unit for which the manager is responsible without generating a corresponding increase decrease) in the long term of economic profitability of the unit”.
e) Securities Exchange Commission (SEC) mengartikan manajemen laba sebagai “practive by which reflect the desires of management rather than the under lying financial performance of the company “. f) Wahlen et, al (1999) mengartikan manajemen laba sebagai “earning
management occours when managers use judgement in financial reporting and in structuring transaction to alter financial report to either mislead some stakeholders about underlying economics performance of the company or to influence actual outcomes that depend on reperted accounting numbers”.
Definisi keenam dari manajemen laba diatas memiliki arti yang luas dibandingkan definisi-definisi lainnya, karena mengandung tiga aspek penting yaitu (1) ada banyak alasan atau justifikasi yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi laporan keuangan perusahaan (2)
manajemen laba digambarkan sebagai sesuatu yang tidak sebenarnya kepada pemegang saham tentang kinerja ekonomi perusahaan dan justifikasi yang digunakan manajemen laba pada manfaat dan biaya.
1) Pola Manajemen Laba
Menurut Scott (2006:345) Manajemen mungkin melakukan bebagai pola untuk melakukan manajemen laba, namun pada umumnya berpola sebagai berikut:
a) Taking a bath, pola ini dilakukan ketika pada priode reorganisasi suatu perusahaan. Apabila manajemen akan melaporkan suatu kerugian, lebih baik melaporkannya dalam jumlah besar sebagai akibatnya hal ini akan meningkatkan kemungkinan keuntungan yang besar di kemudian hari disebabkan oleh penarikan beban-beban pada priode mendatang.
b) Income minization, pola ini dilakukan ketika suatu perusahaan memiliki keuntungan yang besar, sehingga perusahaan cenderung melakukan pembenanan pada biaya yang dapat dikapitalisasi, menghitung rugi selisih kurs namun tidak menghitung juga laba selisih kurs perusahaan perubahan penggunaan metode akuntansi seperti depresiasi, sebagai akibatnya meskipun laba kas perusahaan tinggi namun pajak perusahaan dapat ditekan.
c) Income maximation, Berdasarkan pada positive accounting theory manajemen melakukan pola peningkatan laba bersih perusahaan atas tujuan bonus.
d) Income Smoothing, pola ini dilakukan manajemen dengan mengatur beban antar priode pelaporan akuntansi sehingga laba dapat dipertahankan stabil.
2) Celah dan teknik manajemen laba
Penyusunan laporan ini tidak terlepas dari berbagai asumsi-asumsi akuntansi. Adanya asumsi-asumsi-asumsi-asumsi tersebut memberikan kesempatan untuk dilakukannya manajemen laba. Manajemen laba mungkin terjadi dalam rangka manipulasi laporan keuangan yang berbentuk laporan laba rugi dengan tujuan meningkatkan laba. Diantara asumasi-asumsi akuntansi mungkin adanya manajemen laba adalah :
a) Pemilihan dan perubahan kebijakan akuntansi dan estimasi. Hal ini berkaitan dengan metode kebijakan akuntansi yang dipilih oleh perusahaan dengan bebas sepanjang tidak menyimpang dari standar akuntansi keuangan. Pemilihan persedian perusahaan yang menginginkan laba yang tinggi pada awal tahun dapat menggunakan metode penyusutan garis lurus (straight line method). Perbedaan dalam metode penilaian persediaan seperti FIFO, LIFO Average akan berpengaruh pada
harga pokok penjualan dan laba bersih perusahaan. Kebijakan estimasi dapat diaplikasi dengan mengatur masa manfaat suatu aktiva, misalnya suatu aktiva memiliki masa manfaat 5 tahun dan bukannya 3 tahun.
b) Pengakuan pendapatan (revenue) dan beban (expense). Konsep ini mengacu pada konsep matching principle dimana expense ditandingkan dengan konsep revenue. Laporan keuangan dalam akuntansi disusun atas dasar akrual (accrual basis) sehingga revenue diakui pada saat dihasilkan dan expense diakui pada saat terjadi karena perusahaan bebas menentukan kapan ingin mengakui pendapatan (revenue) dan beban (expense), misalnya perubahan dapat menghapus piutang pada periode tahun buku sekarang (current period) atau pada saat tahun.
c) Discretionary items. Berkenaan dengan cara perusahaan dalam mengelola pengeluaran-pengeluaran yang akan membawa manfaat di masa depan. Contoh discretionary items yang dapat dikelola perusahaan adalah biaya penelitian pengembangan (research and development cost), biaya perawatan mesin dan peralatan, (peralatan and maintenance cost), biaya pemasaran dan iklan (marketing and advertising expense). Perusahaan dapat menunda atau mengurangi suatu biaya jika ingin memperoleh laba yang lebih besar dari suatu periode akuntansi.
d) Nonrecurring and non operating items. Hal ini berkaitan dengan jenis pendapatan dan pengeluaran/beban yang bukan berasal dari kegiatan operasional normal suatu perusahaan dan transaksi ini jarang terjadi (non recurring) contoh non recurring items adalah perusahaan memperoleh keuntungan (gain) dengan menjual aktivanya.
Menurut Merchant yang dikutip oleh Baharudin (2004), manajemen laba dapat diklasifikasikan dalam operating manipulations and accounting manipulations. Manipulasi operasi berkaitan dengan usaha untuk merubah keputusan operasionil yang mempengaruhi aliran dana dan pendapatan bersih untuk suatu periode. Manipulasi akuntansi berkenaan dengan penggunaan fleksibilitas dalam standar akuntansi keuangan untuk merubah besarnya pendapatan. Instrumen yang dikembangkan oleh Merchant (1998) yaitu 13 skenario manajemen laba, terdiri dari 6 manipulasi operasionil dan 7 manipulasi akuntansi.
A. Manipulasi operasionil:
a) Masukan pengeluaran yang sebelumnya direncanakan untuk tahun depan ke tahun sekarang, karena laba tahun pengeluaran yang tidak penting sehingga perusahaan terlihat mempunyai laba pada tahun sekarang.
b) Menunda pengeluaran dari Februari dan Maret sampai April untuk memenuhi target perkuartalan.
c) Menunda pengeluaran dari November dan Desember ke Januari tahun berikutnya untuk memenuhi target perkuartalan.
d) Menawarkan kondisi penjualan yang menarik pada akhir tahun untuk menarik penjualan tahun depan ke tahun sekarang agar memenuhi target penjualan sekarang.
e) Memproduksi dengan lembur untuk sedapat mungkin mengirim produk sebelum akhir tahun.
f) Menjual asset yang berlebih untuk memperoleh tambahan laba.
B. Manipulasi akuntansi
a) Tidak melakukan pembelian yang diterima dalam bulan Desember sampai Februari tahun depan.
b) Bila laba melebihi target tahun ini, manajer memutuskan untuk membayar di muka pengeluaran tahun depan dan mencatatnya sebagai pengeluaran tahun ini.
c) Bila laba melebihi target tahun ini, maka manajer memutuskan untuk menghapuskan inventori yang sebetulnya dapat dijual pada masa mendatang dengan harga wajar.
d) Di tahun depan, inventori yang sudah dihapus tersebut itu ada yang membeli. Manajer mengabaikan penghapusan
terdahulu agar dapat melaksanakan proyek pengembangan yang mungkin telah ditunda karena keterbatasan anggaran. e) Sama seperti no (d) tetapi untuk alasan memenuhi target
laba.
f) Untuk memenuhi target laba, manajer meminta konsultan yang saat ini melakukan konsultasi pada perusahaan untuk tidak mengirimkan tagihan sampai tahun depan walaupun jumlah tagihan tidak seberapa.
g) Sama seperti no (f) tetapi jumlah tagihan yang cukup signifikan.
Gambar.2.2
Celah-Celah Manajemen Laba * Sumber : Suhendah (2005)
Asumsi-asumsi akuntasi
• Pemilihan dan perubahan kebijakan akuntansi, estimasi • Pengkuan pendapatan dan beban
• Pengluaran yang memberikan manfaat di masa depan
• Pendapatan dan beban yang bukan berasal dati operasi normal perusahaan
Tingkah laku manajer
Manajemen laba
3) Manajemen Laba dan Asimetri Informasi
Menurut Scott yang dikutip oleh Suhendah (2005) jika beberapa pihak yang terkait dalam transaksi bisnis memiliki lebih banyak informasi dibanding dengan pihak lainnya maka kondisi seperti itu dinamakan sebagai asimetri informasi (information asymetri). Manajer sebagai penyaji laporan keuangan memiliki informasi yang lebih dibandingkan dengan para pemilik dan pemakai laporan keuangan lainnya.
Perilaku disfungsional para manajer akibat adanya asimetri informasi akuntansi dalam penyajian laporan keuangan tidak terlepas dari pertimbangan konsekuensi ekonomi menurut zeff yang dikutip oleh Suhendah (2005) adalah dampak laporan akuntansi pada perilaku pengambilan keputusan bisnis atau pemerintah, perkumpulan atau investor dan kreditor. Tinjauan konsekuensi ekonomi terhadap pilihan alternatif prosedur akuntansi yang berbeda, berasal dari pengembangan beberapa faktor yang dapat menjelaskan perbedaan prosedur akuntansi diantara berbagai perusahaan, misalnya pajak, hubungan kontrak dan pengendalian kepemilikan merupakan faktor-faktor yang memotivasi manajer untuk memilih prosedur akuntansi yang dapat menambah atau mengurangi laba yang dilaporkan.
Salah satu bentuk perilaku disfungsional yang berkaitan dengan asimetri informasi adalah praktik perataan laba (income
smoothing). Perataan laba merupakan salah satu aspek dalam manajemen laba. Koch yang dikutip oleh Suhendah (2005) mengartikan perataan laba sebagai salah satu cara yang digunakan oleh manajemen untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan agar sesuai dengan target yang diinginkan melalui metode akuntansi (secara artificial) atau melalui transaksi (secara real).
Bentuk lain dari perilaku disfungsional manajer adalah melakukan pemilihan metode akuntansi. Manajer melakukan pemilihan metode depresiasi garis lurus atau yang dipercepat untuk menentukan besar atau kecilnya laba yang dilaporkan pada keuangan akuntansi baik secara efisien dapat memaksimalkan nilai suatu perusahaan atau secara oportunistik.
Gambar 2.3
Hubungan antara perilaku manajer dengan manajemen laba * Sumber : Suhendah (2005) Fungsional Perilaku Manajer Disfungsional Manajemen Laba Pemilihan Metode Akutandsi Efisien Oportunistik Konsekuensi Ekonomi Real Artificial
Praktik Penataan Laba (Income smooting)
Asimetri Informasi
4) Motivasi dan Sasaran manajemen laba
Menurut Healy et, al yang dikutip oleh Suhendah (2005) ada tiga motivasi atau alasan yang mendasari terjadinya manajemen laba, yaitu:
a) Motivasi Pasar Modal (capital market motivations). Motivasi yang dilakukan dengan alasan pasar modal disebabkan adanya anggapan bahwa laba merupakan salah satu sumber informasi penting yang digunakan oleh investor dalam menilai harga sahamnya. Oleh karen itu manajer berusaha membuat laporan keuangan dalam menilai harga saham. Oleh karena itu, manajer berusaha membuat laporan keuangan tampak sehat dan baik dengan maksud untuk mempengaruhi kinerja harga saham dalam jangka pendek.
b) Motivasi Kontrak (contracting motivations). Dikaitkan dengan kegunaan data akuntansi untuk membantu memonitor dan meregulasi kontrak manajemen secara implisit dan eksplisit berhubungan dengan kinerja perusahaan.
c) Motivasi peraturan (regulatory motivations). Bagi penerapan standar manajemen laba penting karena dapat mengarah kepada penyajian laporan keuangan yang tidak benar (missleading) dan mempengaruhi alokasi sumber-sumber yang ada.
Manajemen laba dapat terjadi karena adanya asimetri informasi antara investor dengan manajer yang membuka peluang untuk melakukan window dressing lewat pengaturan kebijakan akrual. Kebanyakan akrual digunakan sebagai ukuran rekayasa kebijakan yang mengarahkan suatu kepentingan pihak manajemen perusahaan.
Hal lain yang mendorong terjadinya manajemen laba adalah adanya teori keagenan yang menyatakan bahwa kontrak antara agen dengan principal sama-sama memberikan dorongan untuk menguntungkan diri sendiri sehingga menimbulkan konflik.
Praktik manajemen laba yang dilakukan mempunyai tiga sasaran, yaitu minimalisasi biaya politis (political cost minimization), maksimalisasi kesejahteraan para manajer (manager wealth maximizatiuon), minimisasi biaya finansial (manager of financing cost). Sasaran manajemen laba cukup komprehensif karena mencakup cukup banyak aspek dalam perusahaan baik demi keuntungan pribadi manajer atau perusahaan secara keseluruhan. Cormkier et, al yang dikutip oleh Suhendah (2005).
Gambar 2.4
Motivasi dan sasaran manajemen laba *Sumber : Suhendah (2005) Motivasi : • Pasar modal • Kontrak • Peraturan • Asimetri Informasi • Keagenan Manajemen laba
Minimisasi biaya Maksimasi kesejahteraan
manajer
Minimisasi biaya finansial