BAHAN DAN ALAT
C. KEMASAN DAN PELABELAN 1. Kemasan
2. Label Dan Informasi Nilai Gizi Good Time Cookies
Label yang tertera pada kemasan Good Time cookies sudah memenuhi Undang-Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang pangan. Dalam undang-undang tersebut, dinyatakan bahwa label sekurang-kurangnya memuat keterangan nama produk, daftar bahan yang digunakan, berat bersih, nama dan alamat produsen, keterangan halal, serta keterangan tentang waktu kadaluarsa.
Label kemasan Good Time cookies juga mencantumkan informasi nilai gizi produk atau nutrition fact. Pencantuman informasi nilai gizi pada kemasan Good Time cookies hingga saat ini masih bersifat voluntary
labeling. Hal ini dikarenakan Good Time cookies belum mencantumkan klaim nutrisi (kandungan gizi dan atau klaim perbandingan) atau kesehatan pada kemasan. Informasi nilai gizi yang dicantumkan pada kemasan Good
Time cookies hanya sebatas untuk memberikan informasi kandungan gizi produk. Oleh karena itu, informasi yang tercantum pada kemasan tersebut masih terbatas pada kandungan gizi yang wajib dicantumkan (mandatory) seperti terlihat pada Gambar 13.
Gambar 13. Informasi nilai gizi pada kemasan C2 dan C3
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan, pada pasal 32 menyatakan bahwa pencantuman keterangan tentang kandungan gizi pangan pada label wajib dilakukan bagi pangan yang disertai pernyataan (klaim) bahwa pangan mengandung vitamin, mineral, dan atau zat gizi lainnya yang ditambahkan. Pencantuman pernyataan pada label bahwa pangan merupakan sumber suatu zat gizi tidak dilarang sepanjang jumlah zat gizi dalam pangan tersebut sekurang-kurangnya 10-19% dari jumlah kecukupan zat gizi (AKG) sehari yang dianjurkan dalam satu takaran saji bagi pangan tersebut (LIPI, 2004). Pencantuman keterangan kandungan gizi secara sukarela juga tidak dilarang, sepanjang hal tersebut benar dilakukan pada saat pengolahan pangan tersebut, dan tidak menyesatkan.
Pada penelitian ini dilakukan perhitungan ulang kandungan gizi makro produk yang disesuaikan dengan standar nilai acuan kecukupan gizi tahun 2007. Hal ini dikarenakan nilai AKG kandungan gizi yang dicantumkan pada kemasan produk Good Time cookies masih menggunakan standar nilai acuan kecukupan gizi tahun 2003. Hasil
perkiraan kandungan gizi pada Good Time cookies C2 dan C3 berdasar AKG 2003 dan 2007 tersaji pada Tabel 14.
Tabel 14.Hasil perhitungan nilai AKG Good Time Cookies berdasar AKG 2003 dan 2007
Komponen nutrisi
Good Time Chocochip Cookies
Good Time Chococ hip Chocolate Cookies Jumlah/ 28.5 gram %AKG (2003) %AKG (2007) Jumlah/ 28.5 gram %AKG (2003) %AKG (2007) Karbohidrat 142.41 5.76 (6) 6.24 (6) 19.4 5.96 (6) 6.47 (6) Lemak 18.72 12.18 (12) 10.7 (11) 5.82 10.58 (11) 9.39 (9) Protein 1.81 3.62 (4) 3.02 (3) 2.08 4.16 (4) 3.48 (3) Natrium 113.71 4.73 (5) 4.94 (5) 139.08 5.79 (6) 6.05 (6) ( ) AKG setelah pembulatan
D. PEMASARAN
Good Time cookies merupakan cookies dengan taburan butiran cokelat pertama yang ada di Indonesia. Good Time cookies sudah cukup dikenal oleh konsumen karena produk tersebut sudah lama ada di pasaran. Oleh karena itu, produk Good Time cookies sudah mempunyai kesan atau citra yang kuat bagi konsumen. Segmen konsumen dari Good Time cookies adalah keluarga, konsumen dengan usia 20 - 40 tahun, dan tingkat perekonomian menengah ke atas untuk Good Time regular dan menengah ke bawah untuk Good Time mini. Good Time cookies merupakan produk yang mengutamakan kualitas. Hal ini terlihat dari mottonya yaitu ‘there is no substitutes for quality’.
Positioning produk adalah ‘high quality product with reasonable price’. Semakin banyaknya produk sejenis Good Time akan menciptakan persaingan di pasaran. Oleh karena itu diperlukan strategi pemasaran yang tepat, kreatif, dan efektif merupakan kunci dari suksesnya produk di pasar.
Strategi pemasaran produk Good Time perlu dievaluasi kembali untuk menyesuaikan keinginan konsumen dan tren yang berkembang. Perubahan perilaku mengkonsumsi snack, isu-isu terkini, dan perkiraan perkembangan tren dapat menjadi masukkan untuk mengarahkan product existing Good Time
agar lebih mendekati keinginan konsumen sekarang. Hal-hal tersebut juga dapat dijadikan sebagai acuan untuk upaya repositioning produk. Saat ini tren konsumsi produk snack adalah snack yang sehat, aman, menawarkan kepraktisan dan kenyamanan, dan snack dengan kemasan yang ramah lingkungan.
Repositioning produk perlu dilakukan agar posisi produk lebih jelas dan menjadi lebih tepat sasaran ataupun sekedar untuk peremajaan merek. Menurut Anonimn (2007), repositioning produk dapat dilakukan ketika produk kompetitor terdekat memberi pengaruh kurang menguntungkan terhadap peluang pasar, ketika preferensi konsumen berubah, penemuan preferensi baru dari konsumen yang menjanjikan peluang lebih baik, dan ketika terdapat kesalahan pada positioning pada produk sebelumnya. Menurut Anonimn (2007), tidak mudah untuk mereposisi produk yang sudah menjadi preferensi konsumen sehingga harus ditemukan aspek-aspek yang memenuhi kriteria konsumen. Langkah yang dapat digunakan untuk mereposisi produk berdasarkan kriteria segmen yang dituju menurut Anonimn (2007), yaitu dengan mengkomunikasikan kembali kegunaan, keistimewaan, keunggulan dari produk, mempromosikan kegunaan alternatif dari produk tersebut, mengarahkan produk untuk dapat memiliki fungsi yang berbeda bagi masing-masing konsumen baru, dan dengan melakukan pencarian alternatif kegunaan potensial yang belum tereksplorasi. Reposisi produk dapat dilakukan antar konsumen yang sudah ada dan reposisi produk antar konsumen baru.
Good Time cookies mini 25 gr merupakan ukuran kemasan produk
Good Time dalam porsi terkecil. Selain berat sajiannya lebih sedikit, produk di dalamnya juga berukuran lebih kecil berdiameter ± 2 cm, dan jumlah cookies perkemasannya sebanyak 12 - 13 buah. Kualitas organoleptik keseluruhan sama dengan Good Time Chocochip chocolate regular, yang membedakan keduanya hanya ukuran cookies dan ukuran kemasan.
Good Time mini ini ditujukan untuk target pasar tradisional, sehingga komunikasi promosi lebih menekankan pada aspek keekonomisan (harga). Harga perkemasan Good Time mini kurang lebih Rp. 1200. Konsep cookies dengan ukuran mini ini dibuat dengan pertimbangan ukuran cookies yang
lebih kecil akan membuat isi cookies perkemasannya menjadi lebih banyak. Harga murah dan terkesan banyak merupakan hal yang identik dengan konsumen untuk pasar tradisional. Namun, sepertinya produk Good Time mini ini kurang mendapat respon positif oleh konsumen pasar tradisional. Hal ini dikarenakan persaingan produk-produk snack di pasar tradisional sangat ketat. Selain konsumennya sangat sensitif terhadap harga, persaingan masih didominasi produk seharga Rp. 500-an. Oleh sebab itu masih diperlukan
positioning produk yang lebih tepat terkait target pasar.
Di balik keekonomisannya, produk Good Time cookies mini sebenarnya juga memiliki nilai kepraktisan. Ukuran kemasan kecil (renceng) akan memudahkan konsumen membawa produk ketika berpergian (adventure
pack), terutama ketika terburu-buru (on the go packaging), ketika tidak cukup
space untuk menaruh produk yang dikemas dalam ukuran besar (pocket size).
Selain itu, sajian Good Time mini yang hanya satu sajian (single serve) dapat mempermudah konsumen memperkirakan nilai gizi dan mengontrol asupan kalori ketika mengkonsumsi produk Good Time cookies. Oleh karena itu Good
Time mini dapat juga dikomunikasikan sebagai solusi untuk dapat menikmati
cookies tanpa rasa takut kelebihan asupan kalori. Ukuran cookies yang lebih kecil juga memberi kenyamanan secara psikologis karena sesuai dengan keadaan psikologis dan mulut anak-anak dan wanita, ‘bite size cookies’ dapat meminimalisir terbentuknya remahan-remahan.
Good Time cookies ukuran mini ini sangat potensial untuk dikemas dalam kemasan renceng dan kemudian dikemas menjadi satu kemasan ukuran besar. Hal ini melihat perkembangan produk-produk snack (biscuit dan
cookies) di pasar, dimana banyak produk yang di buat dalam ukuran mini dan
dikemas dalam pouch dengan isi yang cukup banyak sehingga dapat ditujukan untuk konsumsi bersama-sama dengan teman.
Sebagai produk lama, eksistensi produk Good Time hingga saat ini tetap unggul dikarenakan kualitas produk tetap terjaga. Namun tetap diperlukan konsistensi dalam mengkomunikasikan brand personality dari produk, misalnya melalui kegiatan promosi dan iklan yang berkesinambungan. Menurut Anonimp (2008) komunikasi pemasaran di dalamnya mencakup
periklanan, yaitu suatu metode komunikasi non-personal dari sponsor teridentifikasi dengan menggunakan media massa untuk membawa pesan tentang produsen dan produk kepada pemirsa target. Selain itu, diperlukan juga brand maintenance agar citra merek produk dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan mengingat persaingan antar produsen dengan produk yang hampir sama semakin ketat. Komunikasi yang tepat tentang brand
personality yang dimiliki oleh Good Time cookies dapat meningkatkan
kembali brand awareness dan brand loyality konsumen terhadap produk. Periklanan melalui media massa saat ini cukup beragam dengan biaya bervariasi. Beriklan melalui media elektronik audiovisual memang memerlukan biaya yang tidak sedikit, namun untuk saat ini periklanan melalui media audiovisual tersebut dirasa paling efektif karena ditayangkan serempak pada waktu dan channel yang sama. Beberapa fakta yang teramati adalah terkadang produk baru dapat mengambil pangsa pasar produk lama hanya karena iklannya yang menarik, berkesinambungan, dan meyakinkan.
Beriklan atau berpromosi melalui media elektronik tidak hanya sebatas melalui media televisi dan radio. Saat ini media internet juga merupakan media iklan dan promosi elektronik yang cukup dapat diandalkan karena biayanya yang lebih murah dan lebih cepat dalam proses pembaharuan informasi. Pemanfaatan media ini dapat dengan membuat website dan blog sebagai media interaktif. Media ini juga dapat berlaku sepertihalnya layanan suara konsumen yang biasanya difasilitasi melalui telepon serta pemanfaatan lainnya.
Mengkomunikasikan produk berkualitas tentunya tidak hanya terpaku pada iklan yang mewah sepertihalnya iklan-iklan produk kecantikan. Mengkomunikasikan produk berkualitas juga dapat dikemas secara unik, atraktif-kreatif, dan tentunya harus orisinil (berbeda). Seperti iklan produk
cream sandwiched cookies “Oreo” yang diproduksi oleh suatu perusahaan yang juga menghasilkan produk bermutu. Iklannya dikemas sedemikian rupa sehingga aspek ‘pengalaman konsumsi’nya menarik perhatian pemirsa yang melihat iklan tersebut. Iklan produk tersebut menunjukkan cara makan produk yang unik ‘diputar, dijilat, trus dicelupin’ membuat setiap orang yang melihat
iklan tersebut pasti penasaran untuk mencobanya (product experience) sehingga tidak heran produk tersebut cepat menarik perhatian pasar. Cara tersebut tentunya dapat dijadikan contoh ide awal dalam mengkomunikasikan produk Good Time cookies.
Dari hasil evaluasi produk Good Time cookies sebelumnya, diketahui bahwa produk Good Time cookies memiliki cokelat butir lebih banyak dibandingkan dengan produk cookies dengan taburan cokelat butir lainya. Cokelat butir pada Good Time cookies tersebar di bagian dalam dan permukaan cookies. Dari aspek pemasaran produk, cokelat butir yang banyak pada Good Time cookies ini merupakan salah satu keunggulan dari Good Time