F. PERMENDIKNAS No. 22 Tahun 2006
2. Lagi: Muatan KTSP
a. Tentang muatan KTSP selain yang terdahulu sudah dibahas, penulis ”Krisis Identitas” melontarkan lagi hal-hal berikut:
• ”Isi pendidikan menurut Permendiknas No. 22/2006
adalah (i) muatan lokal (ii) kelompok mata pelajaran, (iii) materi pengembangan diri, dengan dampak: (a) memaksa konselor ke wilayah guru mata pelajaran dalam rangka penyampaian materi pengembangan diri, (b) menafi kan kontribusi guru mata pelajaran dalam pengembangan diri, dan (c) mencederai pencapaian misi KTSP untuk mendekatkan peserta didik pada lingkungannya, karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran” (hlm.20-21).
• ”Muatan lokal dipisahkan dari kelompok materi pelajaran sehingga tampil lebih sebagai bagian dari menata lahan garapan yang telah dirintis sejak tahun 1995” (hlm.21)
71
Tugas profesi guru: wilayah untukberdedikasi atau lahan garapan untuk investasi?
Inilah tanggapannya:
1) Penulis “Krisis Identitas” tidak mau mengerti bahwa komponen muatan KTSP yang diberi nama “pengembangan diri” itu meliputi dua sub-komponen, yaitu sub-komponen pelayanan konseling (atau mau disebut BK?; boleh juga) dan sub-komponen kegiatan
ekstra kurikuler. Apa alasannya, dan pola pikir yang
bagaimana, konselor yang melaksanakan pelayanan
konseling meluncur ke wilayah guru yang mengajar?
Itu bukan pekerjaan konselor profesional. Kalau profesional dia, pasti tahu arah, daerah dan batas-batas wilayah pelayanan konseling; dan tahu juga wilayah kerja guru, sehingga ia tidak akan merambah wilayah kerja profesional lain, dalam hal ini guru. 2) Menafi kan kontribusi kerja guru dalam pengembangan
diri? Lagi-lagi pengembangan diri. Sekali lagi, perhatikan dua sub-komponen pengembangan diri dalam KTSP. Guru punya tugas, yaitu dalam bidang pengajaran mata pelajaran bidang studi, dan konselor punnya tugas dalam konseling. Kalau keduanya profesional pasti tahu tugas masing-masing, dan lagi, pasti tahu pula bagaimana bekerjasama di antara keduanya. Mengapa mesti repot-repot mengingat-ngingatkan ”jangan-jangan sumbangan kerjasama dari guru tidak dimanfaatkan”. Didik saja kedua tenaga profesional itu dengan baik; mereka pasti bisa bekerja sama secara profesional pula.
3) Merugikan peserta didik karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran? Dalam hal ini penulis ”Krisis Identitas” juga tidak tahu salah satu ketentuan dari KTSP, yaitu muatan lokal dapat menjadi bagian dari
71
materi mata pelajaran yang ada; dan kalau tidak bisa diintegrasikan atau menjadi bagian dari mata pelajaran yang ada, maka ia menjadi mata pelajaran sendiri. Dalam hal ini dapat dimengerti bahwa kelompok mata pelajaran dalam KTSP adalah sejumlah mata pelajaran wajib untuk semua jenis satuan pendidikan yang sama, sedangkan muatan lokal adalah materi pelajaran pilihan yang setiap satuan pendidikan boleh tidak sama. Dan ada satu lagi. Kalau mau membaca dan mencermati kalimat-kalimat dalam Permendiknas No. 22/2006, khususnya tentang prinsip penyelenggaraan kurikulum, akan dijumpai prinsip alam takambang jadi guru27). Apa lagi? Dengan prinsip itu, guru atau pendidik siapapun, termasuk konselor dapat memanfaatkan alam lingkungan peserta didik untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta didik.
Ternyata: mau merebut lahan garapan!
4) Nah, yang terakhir ini lebih asyik dan dahsyat. Rupanya penulis ”Krisis Identitas” memulai tulisannya dan mengakhirinya dengan kata-kata motif altruistik (hlm.1 dan hlm.22). Lihat kutipan butir 2 di atas tentang lahan
garapan. Dengan pencantuman dua kata itu di awal
dan di akhir karangan, agaknya seluruh tulisan yang ada itu dilandasi oleh pemikiran tentang bagaimana mendapatkan lahan garapan. Hal itulah kiranya yang memicu berkembangnya motif altruistik28). Bayangan yang ada barangkali tentang lahan garapan dari tahun 1995 sampai sekarang atau bahkan sampai waktu-waktu yang akan datang.
27) Bahasa Minangkabau yang artinya menjadikan alam lingkungan sebagai sumber, alat
dan teladan dalam kegiatan belajar.
28) Padahal motif altruistik mestinya tidak membicarakan tentang bagaimana
mendapatkan lahan garapan, melainkan bagaimana memperlakukan lahan garapan (dalam hal ini klien, sasaran layanan) dengan tulus dan berdedikasi, menomorsatukan kepentingan klien dan meredam sampai sejauh dan serendah-rendahnya kepentingan pribadi sendiri (konselor)
73
Mungkin dalam bayangan penulis ”Krisis
Identitas”, untuk menghentikan ”krisis identitas” BK dewasa ini ialah dengan jalan merebut lahan garapan dari ”penguasa lahan” yang lama. Siapa itu ”penguasa lahan” yang lama? Apakah saya, Prayitno? Kalau ya, wah saya mengucapkan terima kasih dan merasa tersanjung. Saya ini bukan apa-apa lho, bukan Rektor, bukan pejabat di Jakarta atau di kota besar, paling-paling saya pejabat kecil/lokal di Padang yang tidak bisa menjadi terkenal melalui jabatan saya itu. Tetapi terus terang, saya memang hidup bahagia dengan lahan garapan saya yang saya pangku dengan penuh kemesraan, yang saya cintai dengan sepenuh hati, yang saya geluti dengan sepenuh tenaga dan daya, yang saya mau berkorban apa saja untuk dia; lahan garapan saya itu adalah pelayanan konseling dan pendidikan tempat bekerja, mengabdi dan berdedikasi. Saya menjelajahi Nusantara dan beberapa daerah luar negeri, bukan karena saya pejabat, tetapi karena konseling dan pendidikan. Saya menulis buku, benar sejak 1995, bahkan sejak jauh sebelumnya, karena dan untuk konseling dan pendidikan; tetapi saya tidak menjadi kaya dengan buku-buku yang saya tulis itu; saya ditugasi untuk kegiatan nasional tertentu, seperti banyak disebut-sebut dalam buku ”Krisis Identitas” itu, karena konseling dan pendidikan; saya dibayar karena konseling dan pendidikan, dan saya akan berkarya terus Insyaallah, karena dan demi konseling dan pendidikan. Itulah lahan garapan saya. Anda mau merebutnya? Silahkan; rebut pikiran dan ide-ide saya serta para penggunanya; rebut buku-buku saya dan para pembacanya; rebut produk-produk yang saya ada andil di dalamnya dan nikmatilah. Saya mohon maaf kalau apa yang saya kerjakan di lahan garapan saya itu mengganggu dan merancukan pikiran Anda sehingga timbul krisis identitas. Pikiran rancu dan krisis seperti itu memang tidak perlu dibeli dan diikuti.
73
Adalah benar-benar naif membayangkan saya
menata lahan garapan ketika membahas penyusunan
konsep komponen KTSP. Standar isi dengan KTSP-nya bukan karya pribadi, apalagi karya saya sendiri. Anggota BSNP 15 orang; anggota tim belasan orang; staf departemen, direktorat jenderal, direktorat, dan pejabat lainnya puluhan orang; kompoenen ahli dan praktisi lapangan ratusan orang, baik di Jakarta maupun di kota-kota laim di seluruh Indonesia. Semuanya ”menyeroyok” draf Standar Isi yang nantinya menjadi Permendiknas No.22/2006. Saya ini orang kecil yang kebetulan ditunjuk menjadi Ketua Tim, suruhan dari BSNP dan orang banyak untuk suksesnya Standar Isi. Di DSPK saya juga orang kecil suruhan Direktorat untuk suksesnya naskah yang dikehendaki itu. Saya berada di Puskur, di Parung dan lain-lain tempat adalah sebagai suruhan orang untuk konseling dan pendidikan. Dan untuk semuanya, saya adalah suruhan demi profesi saya, konseling dan pendidikan. Apakah dengan demikian saya melanggar asas profesi tentang motif
altruistik? Mudah-mudahan adalah salah kalau ada
anggapan bahwa di sana (penulis ”Krisis Identitas”) sekarang sedang terjadi gejala semacam ”proyeksi”-nya Sigmund Freud; ”diri sendiri yang ingin berbuat tetapi tidak bisa, orang lain dijadikan kambing hitam”. Apabila, di sana sedang terjadi krisis identitas, maka di sini dilancarkan upaya mengatasinya.