H. RAKERNAS ABKIN DAN UPAYA “PENATAAN”
4. Pelibatan Otoritas Birokrasi
Otoritas birokrasi, dikritik dan dikejar.
Terbaca, penulis “Krisis” Identitas mengkritik keterlibatan otoritas birokrasi berlawanan dengan profesionalisasi BK (hal 8 dan 18), namun ternyata dalam mengupayakan terwujudnya produk-produk yang digambarkan di atas otoritas birokrasi di atas justru diharapkan dan dikejar untuk merestui dan mendukungnya.
a. Dari Gagal Audiensi sampai Produk Tandingan
Meskipun gagal beraudiensi kepada Dirjen Dikti, pimpinan Raker tanggal 7 Januari 2007 merasa bangga atas kunjungan Bapak Dirjen Dikti itu. Tanpa memperhatikan peringatan Dirjen bahwa “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan”, pimpinan Raker menganggap kunjungan Dirjen itu sebagai restu dan dukungan penuh atas hasil-hasil Raker nantinya dan segala sesuatu yang dari ABKIN. Peringatan atau pesan Dirjen itu tentunya dimaksudkan agar Raker itu dan kegiatan-kegiatan selanjutnya berjalan lancar, terbuka, transparan, harmonis, kolegial, keilmuan dan sebagainya, untuk mencapai hasil yang terbaik. Kenyataannya berbeda, bahkan sebaliknya dan yang dipesankan itu. Sepertinya, apa yang dilakukan untuk mengejar produk-produk yang dimaksud, segalanya sudah dipolakan “dari atas” sehingga masukan-masukan dianggap sebagai gangguan, bahkan dianggap tandingan. Pertemuan-pertemuan kerja tim, bahkan Konvensi Nasional pun diperlakukan hanya sekedar sebagai formalitas saja, sehingga hasil-hasilnya bisa dikesampingkan begitu saja dan diganti dengan naksah lain yang disiapkan “dari atas”. Pernyataan dari Dewan Pembina pun tidak
99
diacuhkan, sampai-sampai anggota Dewan Pembina itu tidak dilibatkan lagi dalam berbagai kegiatan.
Hasil produk telah dipolakan “dari atas”, masukan dianggap tandingan; peringatan, kepercayaan, dan dukungan dari birokrasi dicederai; mengejar lahan
garapan mejadi motivasi dasar.
Produk-produk terakhir ditentukan oleh para elit “dari atas” dengan arah yang sudah dipolakan sejak awal. Tidak ada telaah yang intensif, tidak ada verivikasi, tidak ada pembahasan kolegial yang terbuka, sanctioning atau uji publik, apalagi uji coba, sehingga kenyataan pelanggaran terhadap aturan acuan yang sudah ada dan arah-arah tandingan menjadi terpateri di dalam produk-produk itu.Yang penting adalah, produk harus selesai, dan mengejar lahan garapan dengan kedok manis “motif altruistik”.
Upaya “kejar tayang” membuahkan hasil. Tujuh naskah (tandingan) siap di bawa ke otoritas birokrasi (tu
kan, otoritas birokrasi juga). Rupanya dirasakan juga bahwa
tanpa tanda tangan dan cap dari birokrasi produk-produk itu tidak bisa dipasarkan. Produk-produk itu tidak memiliki kekuatan atau nilai instrinsik untuk pengembangan profesi BK di tanah air. Oleh karenanya tanda tangan dan cap harus diperoleh, bagaimanapun juga caranya.
Dibubuhkan tanda tangan dan cap Dirjen pada produk-produk tersebut merupakan bukti bahwa Bapak Dirjen memang menghargai dan mempercaya ABKIN. Hal itu memang tidak diragukan lagi. Kenyataan menunjukkan bahwa Bapak Dirjen (Prof. Dr. Ir. Satriyo Brojonegoro) selama belasan tahun menjabat di Dikti bersama dengan Bapak Direktur PPTK-KTP (Prof. Dr. Sukamto, M.Sc) sangat
101
besar perhatian dan jasa beliau untuk pengembangan keprofesian BK. Untuk itu seluruh masyarakat BK di tanah air mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.Dengan demikian, yang dipersoalkan di sini bukanlah tanda tangan Bapak Dirjen dan cap Dikti, melainkan substansi produk-produk itu yang diakui sendiri oleh penulis buku “Krisis Identitas” memang ada ketidak sesuaian dan bahkan pelanggaran terhadap berbagai aturan resmi yang diberlakukan oleh pemerintah. Dan lagi, produk-produk itu justru merupakan produk-produk-produk-produk tandingan yang minimal dapat merancukan, membahayakan dan mengkedalai kondisi lapangan dan pelaksanaan pelayanan konseling, khususnya di sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan formal lainnya. Dalam pada itu, memang ada pertanyaan bagaiman legitimasi dari Dikti itu bisa diperoleh mengingat pada waktu itu sedang terjadi mutasi cukup menyeluruh di lingkungan Dikti dan juga PMPTK.
b. Dari Produk Tandingan sampai Intervensi Kelembagaan.
Lahan mulai digarap, melampaui peran dan etika kelembagaan
Merasa seperti mendapat modal dan peralatan yang cukup canggih, yaitu dengan adanya tanda legitimasi di atas produk-produk yang dihasilkan itu, pemilik produk mulai melangkah menggarap lahan yang di rasa telah direbutnya39). LPTK, khusus jurusan/prodi BK dimasukinya dengan arah pengembangan kurikulum, kegiatan akademik, dosen dan lain-lain, padahal undang-undang menyatakan (UU No. 20/ 2003 Pasal 38):
39) Direbut dari siapa? Diyakini, dalam hal-hal yang dipersoalkan itu, tidak ada pihak yang merasa bahwa lahan garapan telah direbut, kecuali orang yang mempersoalkannya seperti tersebut pada buku “Krisis Identitas” (hlm. 21)
101
Ayat (3) : Kurikulum perguruan tinggi dikembangkanoleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi Ayat (4) : Kerangka dasar dan struktur kurikulum
pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguaruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi
Tanpa izin dari Dikti atau Rektor misalnya 40) mereka “pemilik” produk-produk (tandingan) itu memanggili pemegang otoritas program di fakultas untuk bidang BK dalam rangka sosailisasi dan sekaligus implementasi produk-produk “tandingan” itu41). Kegiatan itu dikerjakan secara intensif, layaknya “kejar tayang” saja. Dalam suasana seperti itu, Rektor UNP bersama dua orang pimpinan BK/PPK diundang oleh Direktur Ketenagaan Dikti pada 19 Februari 2008 menghadiri pertemuan berkenaan dengan lulusan PPK/BK. Pada pertemuan resmi itu pemangku kepentingan produk-produk itu mengemukakan perihal telah disahkannya produk yang berbentuk tujuh buku itu, dan siap untuk disosialisasikan. Dua personalia PPK/BK dari UNP yang hadir, yang sangat berkepentingan dengan produk-produk ABKIN, merasa tidak tahu-menahu tentang pengesahan tersebut, . Kemudian terjadi perbincangan yang cukup intensif dan seru, dengan materi bahasan tentang bagaimana produk-produk itu bisa dibawa ke Dikti. Padahal sejak berakhirnya Konvensi Nasional di Palembang tidak terdengar beritanya. Tiba-tiba diedarkan buku-buku yang telah disahkan.
40) Tidak seperti DSPK, misalnya yang disusun dan disosialisasikan dan di-instruksikan oleh Dikti untuk digunakan oleh jurusan/prodi BK di LPTK, produk-produk (tandingan) itu tidak diinstruksikan oleh Dikti untuk di-implementasikan pada jurusan/prodi BK
41) Kondisi tandingan itu antara lain terhadap DSPK, program PPK, kurikulum BK, sertivikasi dosen dan PLBK
103
Akhirnya, pada waktu itu diusulkan agar ketujuh buku itu substansinya dibenahi dulu sebelum disosialisasikan. Rektor UNP dengan tekun mengikuti semua hal yang dibicarakan sehingga beliau tahu persis seluk-beluk ketujuh buku yang dipersoalkan itu.
Pada 14-15 Maret di Bandung diadakan Rakor untuk membahas (atau sekaligus mensosialisasikan?) ketujuh buku itu. Kembali usul perubahan terlebih dahulu diusulkan, agar substansi produk-produk itu secara mulus dipakai dan diterima oleh khalayak. Rupanya dengan semangat “kejar tayang” untuk menggarap lahan, ketujuh buku dengan format dan substansi tetap sebagaimana tampilannya dalam pembahasan di kantor Direktorat Ketenagaan, yang mana isi bahasan dan usul-usul dikemukakan di kantor tersebut, serta Rakor di Bandung, meminta untuk terlebih dahulu membenahi substansi buku-buku itu, diabaikan sama sekali, tahu-tahu buku-buku hasil ”penataan” tersebut disampaikan oleh pemangku ketujuh buku itu kepada Rektor-Rektor LPTK seluruh Indonesia.
Nah, Rektor UNP mengetahui permasalahan seluk-beluk ketujuh buku itu dan usul-usul perubahannya, sangat terkejut atas tindakan pemangku kepentingan produk-produk tandingan itu. Rektor UNP kemudian, dengan memperhatikan ketentuan pasal/ayat sebagaimana dikutip di atas, merespons. Tidaklah berlebihan apabila Rektor yang sangat memperhatikan dan merasa berkepentingan serta ikut bertanggungjawab atas perkembangan profesi BK, mengharapkan agar organisasi ABKIN (a) memperhatikan aturan perundangan yang berlaku, (b) tidak mencampuri urusan perguruan tinggi yang menjadi hak perguruan tinggi untuk mengurusnya, dan (c) menempuh strategi status quo untuk urusan BK yang menyangkut perguruan tinggi, artinya tidak menyodor-nyodorkan apalagi memaksakan produk-produk barunya itu42).
42) Untuk lahan garapan di satuan-satuan pendidikan, intervensi pemangku produk-produk tandingan itu tidak kurang gencarnya. Di sana ada peran Puskur, P4TK Penjas/BK, Bin Diklat/PMPTK, dan Ditjen Mandikdasmen yang akan menaggapi kegiatan merebut lahan itu.
103
Untuk respons yang wajar itu tentu saja didukung dan diamankan oleh Dekan FIP dan Ketua Jurusan BK UNP. Inilah hal yang dianggap sebagai gangguan akademik oleh penulis “Krisis Identitas” (hlm. 18).