• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Pertumbuhan Mutlak dan Laju Pertumbuhan Terumbu

4.3.2. Laju pertumbuhan

Karang dengan life form berbeda akan memiliki laju pertumbuhan (Linear

extension) yang berbeda pula. Karang branching dengan polipnya yang kecil,

memiliki struktur rangka yang berongga sehingga mudah patah. Untuk pertumbuhan karang jenis ini umumnya cenderung vertikal. Karang dengan polip besar seperti karang masif dimana strukturnya lebih padat dan kuat, memiliki pertumbuhan yang cenderung horisontal tetapi tingkat pertambahan volumenya lebih besar dari karang branching (Pratama 2005).

Acropora spp. pada bulan Maret 2009-Mei 2009 memiliki laju pertumbuhan

panjang sebesar 19 mm/2 bulan dan 15 mm/2 bulan untuk tinggi. Pada pengamatan di bulan Mei 2009-Juli 2009 dibandingkan dengan laju pertumbuhan di bulan Maret 2009-Mei 2009 didapat hasil terjadi penurunan laju pertumbuhan karang baik untuk panjang dan tinggi. Untuk laju pertumbuhan panjang karang didapat laju sebesar 17 mm/2 bulan dan untuk laju pertumbuhan tinggi karang didapat laju pertumbuhan sebesar 12 mm/2 bulan. Laju tersebut kemudian kembali meningkat pada pengamatan di bulan Juli 2009-September 2009 yakni menjadi 20 mm/2 bulan untuk panjang dan 13 mm/2 bulan untuk tinggi. Berdasarkan pengamatan selama enam bulan tersebut didapat rata-rata pertumbuhan yang terjadi adalah sebesar 19 mm/2 bulan untuk panjang dan 14 mm/2 bulan untuk tinggi (Gambar 20. dan Gambar 21.).

Penelitian lain yang lebih spesifik mengenai Acropora telah umum dilakukan, diantaranya oleh Yarmanti (2002). Salah satu jenis karang Acropora yang sering dijadikan bahan penelitian adalah Acropora formosa. Yarmanti (2002) melakukan perlakuan terhadap kedalaman, yakni pada kedalaman 3 meter dan 10 meter. Pada kedalaman 3 meter didapatkan laju pertambahan lebar rata-rata mencapai 18,8 mm/bulan dan laju pertambahan tinggi rata-rata 11,4 mm/bulan. Pada kedalaman 10 meter didapatkan pertambahan lebar rata-rata sebesar 11,5 mm/bulan dan 7,60 mm/bulan untuk pertambahan tinggi rata-ratanya.

Gambar 20. Laju pertumbuhan rata-rata panjang (Y ± SE).

Gambar 21. Laju pertumbuhan rata-rata tinggi (Y ± SE).

Laju pertumbuhan karang jenis Hydnopora rigida selama enam bulan, sejak Maret 2009 hingga September 2009, rata-rata mencapai 17 mm/2 bulan untuk tingkat pencapaian panjang dan 11 mm/2 bulan untuk tingkat pencapaian tinggi (Gambar 20. dan Gambar 21.). Penelitian Alhusna (2003) terhadap

Hydnopora rigida mendapatkan laju pertumbuhan panjang rata-rata adalah

sebesar 5,4 mm/bulan, 6,1 mm/bulan untuk laju pertambahan lebar I rata-rata, dan 5,1 mm/bulan untuk laju pertumbuhan lebar II. Sementara Prawidya (2003) mengungkapkan laju pertumbuhan rata-rata yang terjadi adalah sebesar

0 5 10 15 20 25 30 35

Maret 2009-Mei 2009 Mei 2009-Juli 2009 Juli 2009-September 2009

P e rt u m b u h a n ( m m / 2 b u la n ) Waktu Pengamatan

Acropora Hydnopora rigida Pocillopora verrucosa

0 5 10 15 20 25 30 35

Maret 2009-Mei 2009 Mei 2009-Juli 2009 Juli 2009-September 2009

P e rt u m b u h a n m m / 2 b u la n ) Waktu Pengamatan

7,19 mm/bulan untuk laju pertumbuhan tinggi rata-rata dan 9,60 mm/bulan untuk laju pertambahan lebar rata-rata.

Nilai laju pertumbuhan panjang tertinggi karang jenis Hydnopora rigida terjadi pada bulan Mei 2009 hingga Juli 2009 sebesar 24 mm/2 bulan dan nilai terendah terjadi pada bulan Juli 2009 hingga September 2009 sebesar 11 mm/2 bulan. Laju pertambahan tertinggi dan terendah juga terjadi pada bulan Mei 2009 hingga Juli 2009 dan Juli 2009 hingga September 2009 sebesar 14 mm/2 bulan untuk tertinggi dan 7 mm/2 bulan untuk terendah (Gambar 20. dan Gambar 21.). Meningkatnya nilai laju pertumbuhan panjang dan tinggi pada bulan Mei 2009 hingga Juli 2009 dianggap dapat menunjukan parameter lingkungan pada saat itu sangat mendukung pertumbuhan fragmen karang tersebut, diduga pula kemampuan adaptasi dari fragmen karang terhadap lingkungannya saat tersebut telah meningkat.

Laju pertumbuhan panjang lebih besar dibandingkan dengan laju pertumbuhan tinggi karang Pocillopora verrucosa dalam kurun waktu pengamatan selama enam bulan, sejak Maret 2009 hingga September 2009. Laju pertumbuhan rata-rata mencapai 14 mm/2 bulan untuk tingkat pencapaian panjang dan 10 mm/2 bulan untuk tingkat pencapaian tinggi (Gambar 20. dan Gambar 21.). Laju pertumbuhan rata-rata karang Pocillopora verrucosa pada kedalaman yang sama di Pulau Karya dalam kurun waktu tiga bulan pengamatan adalah sebesar 4,94 mm/bulan untuk panjang karang dan 3,70 mm/bulan untuk tinggi karang (Wibowo 2009).

Pola yang terjadi pada laju pertumbuhan Pocillopora verrucosa adalah terus menurun baik untuk nilai panjang maupun tingginya. Laju pertumbuhan panjang dan tinggi tertinggi terjadi pada bulan Maret 2009 hingga Mei 2009 yakni 16 mm/2 bulan untuk panjang dan 13 mm/2 bulan untuk tinggi. Sejak bulan Mei 2009 hingga Juli 2009 dan Juli 2009 hingga September 2009, nilai laju pertumbuhan baik untuk panjang dan tingginya terus mengalami perlambatan hingga nilai laju pertumbuhan terendah pada bulan Juli 2009 hingga September 2009 yakni 11 mm/2 bulan untuk panjang dan 6 mm/2 bulan untuk tinggi (Gambar 20 dan Gambar 21).

Kondisi seperti ini diduga terjadi karena belum mampunya fragmen karang jenis ini untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi, mengingat perbedaan kualitas habitat antara habitat asalnya dan habitat lokasi transplantasi. Persaingan dengan makroalga yang melimpah di lokasi tersebut juga turut mempengaruhi kemampuan karang untuk bertumbuh secara maksimal dikarenakan energi yang dimiliki oleh karang sebagian besar

digunakan untuk membersihkan diri. Mc cook 2001 in Jompa & Mc cook 2003 menyatakan saat alga mendominasi ruang maka karang yang tumbuh akan sedikit, tetapi sebaliknya saat karang yang mendominasi ruang maka alga yang tumbuh akan sedikit.

Harrison & Ward (2001) juga menyatakan meningkatnya konsentrasi nutrien nitrogen dan phosphor dapat menyebabkan tekanan pada terumbu karang, menyebabkan perubahan kalsifikasi karang dan laju pertumbuhan, dan mengurangi kalsifikasi terumbu karang. Selain faktor tersebut, kematian karang yang sangat besar juga mempengaruhi nilai laju pertumbuhan rata-rata dari karang ini.

Dari pengamatan terhadap ketiga jenis karang tersebut, berdasarkan bentuk pertumbuhannya, Acropora yang didominasi life form Acropora

branching memiliki laju pertambahan panjang sebesar 19 mm/2 bulan, lebih

besar dibandingkan Hydnopora rigida yang memiliki life form coral branching dengan laju pertambahan panjang sebesar 17 mm/2 bulan. Sementara untuk bentuk pertumbuhan sub-massive, laju pertambahan rata-rata panjang

Pocillopora verrucosa hanya mencapai 14 mm/2 bulan. Dibandingkan di antara

ketiganya Acropora spp. merupakan karang yang memiliki laju pertumbuhan panjang terbesar dibandingkan kedua jenis karang lainnya.

Serupa dengan laju pertambahan panjang, laju pertambahan tinggi rata-rata terbesar diraih oleh Acropora spp. dengan 14 mm/2 bulan, lebih besar dibandingkan laju pertumbuhan tinggi rata-rata Hydnopora rigida yang hanya sebesar 11 mm/2 bulan dan Pocillopora verrucosa dengan pertambahan tinggi rata-rata terkecil dibandingkan dua karang jenis lainnya yakni hanya sebesar 10 mm/2 bulan.

Pengamatan terhadap karang jenis Montipora spp., Porites spp., dan

Stylophora pistillata juga dilakukan pada lokasi dan waktu yang sama dan

menunjukan pola yang berbeda dengan penelitian ini, bergantung kepada life

form masing-masing karang tersebut. Berdasarkan pengamatan tersebut,

karang jenis Montipora memiliki laju pertumbuhan rata-rata sebesar 13 mm/2 bulan untuk panjang dan 7 mm/2 bulan untuk tinggi. Karang jenis Porites mengalami laju pertumbuhan rata-rata sebesar 9 mm/2 bulan untuk panjang dan 8 mm/2 bulan untuk tinggi. Pengamatannya terhadap Stylophora pistillata menunjukkan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 13 mm/2 bulan untuk panjang dan 10 mm/2 bulan (Yudhasakti PK, 23 November 2009, komunikasi pribadi).

Dokumen terkait