• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Kelangsungan Hidup (survival rate/SR) Karang

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Tingkat Kelangsungan Hidup (survival rate/SR) Karang

Pada ketiga jenis karang yang ditransplantasikan di perairan Pulau Kelapa selama enam bulan pengamatan menunjukan nilai yang berbeda satu sama lainnya. Meski ketiga jenis karang tersebut ditransplantasikan bersamaan, karena adanya perbedaan sifat hidup masing-masing jenis karang sehingga dapat juga memicu tingkat tekanan yang berbeda pada masing-masing karang terhadap lingkungan mereka yang baru. Tingkat tekanan inilah yang kemudian mempengaruhi metabolisme karang tersebut untuk dapat beradaptasi.

Gambar 18. Tingkat kelangsungan hidup Acropora spp., Hydnopora rigida, dan

Pocillopora verrucosa. 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Acropora Hydnopora rigida Pocillopora verrucosa

S

R

(

%)

Terumbu Karang yang Ditransplantasikan

Tingkat kelangsungan hidup paling besar hingga akhir pengamatan pada bulan September 2009 dimiliki oleh karang Acropora spp. dengan kelangsungan hidup sebesar 78,44%, diikuti Hydnopora rigida dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 74,19%, sedangkan tingkat kelangsungan hidup terendah dimiliki oleh karang jenis Pocillopora verrucosa sebesar 61,11% (Gambar 18.).

Dari pengamatan per dua bulan, tingkat kelangsungan hidup Acropora spp. merupakan yang paling tinggi hingga akhir pengamatan. Kelangsungan hidup Acropora spp. adalah sebesar 92,38% pada bulan Mei 2009, 84,60% pada bulan Juli 2009, dan 78,44% pada akhir pengamatan di bulan September 2009.

Hydnopora rigida memiliki tingkat kelangsungan hidup tertinggi kedua

selama pengamatan. Kelangsungan hidup Hydnopora rigida mencapai 96,77% pada pengamatan di bulan Mei 2009, 77,42% pada bulan Juli 2009, dan 74,19% pada pengamatan di bulan September 2009.

Tingkat kelangsungan hidup Pocillopora verrucosa adalah yang paling rendah dibandingkan karang lainnya pada akhir pengamatan. Kelangsungan hidup Pocillopora verrucosa adalah sebesar 77,78% pada bulan Mei 2009, 62,96% pada bulan Juli 2009, dan 61,11% pada akhir pengamatan di bulan September 2009. Kematian Pocillopora verrucosa, dibandingkan dengan dua jenis karang lainnya merupakan yang terbesar terbesar bagi Pocillopora

verrucosa pada tiap pengamatan. Namun kematian terbesar karang ini terjadi

pada bulan Mei 2009. Kematian yang terjadi di bulan ini bahkan merupakan kematian terbesar dibandingkan karang lainnya pada seluruh pengamatan.

Kondisi perairan yang berbeda dengan kondisi habitat asal fragmen turut memacu tekanan lingkungan pada karang yang ditransplantasikan. Tekanan lingkungan adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pengaruh faktor eksternal maupun internal yang dipengaruhi oleh kondisi fisiologis dan aktivitas yang berpengaruh terhadap struktur dan proses-proses dalam populasi, komunitas, dan ekosistem terumbu karang akan mengalami tekanan lingkungan akan mengalami perubahan-perubahan dalam metabolisme, pertumbuhan, respon tingkah laku terhadap lingkungan dan biologi reproduksinya (Arafat 2005).

Keberadaan makroalga yang tumbuh di sekitar fragmen dan modul juga mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup karang. Selain itu, dari pengamatan didapat bahwa kematian terbesar selama enam bulan pengamatan berupa death

coral with algae (DCA) (Lampiran 2 dan 3). Sedimentasi dan eutrofikasi

(penambahan nutrien) diduga menjadi penyebab utama dari degradasi terumbu karang di seluruh dunia (Ginsburg 1993 in McClanahan & Obura 1997).

Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa makroalga dapat melebihi pertumbuhan karang, dan kompetisi diantara keduanya biasanya dimenangkan oleh alga (Chadwick 1988; Hughes 1989; in Tanner 1995). Energi yang dipakai karang dapat meningkat untuk memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh alga, seperti jaringan yang luka (Coyer et al. 1993 in Tanner 1995), atau dari pengeluaran energi secara aktif bersaing dengan alga, dan mencegah pertumbuhan alga menutupi karang (de Ruyter van Steveninck et al. 1988 in Tanner 1995).

Biomassa makroalga yang besar dapat menutupi karang sehingga memiliki efek seperti halnya penutupan karang oleh partikel sedimen yang besar (Rachmawati 2001). Untuk membersihkan diri dari sedimentasi, karang akan mengeluarkan mukus secara terus menerus. Akibatnya karang tersebut harus mengeluarkan energi untuk membersihkan diri. Apabila kecepatan sedimentasi lebih tinggi daripada kemampuan karang membersihkan diri akhirnya karang akan mati (LIPI 2008).

Selain karena alga, kematian juga terjadi akibat patahnya fragmen karang yang ditransplantasikan pada fragmen karang Acropora spp. Karang dengan life

form branching seperti Acropora memiliki struktur yang berongga sehingga

mudah patah apabila menghadapi gelombang yang kuat.

Pada pengamatan selama enam bulan tersebut juga ditemukan bahwa terdapat empat buah fragmen yang terlepas atau hilang dari modul. Kejadian tersebut diduga diakibatkan oleh metode penempelan fragmen yang kurang baik pada substrat sehingga ketika terjadi gelombang di lokasi tersebut, fragmen tersebut terlepas dari substrat yang terbuat dari beton tersebut.

Menurut Harriot & Fisk (1988) secara umum transplantasi karang dinyatakan sukses dari sudut pandang biologis, dengan tingkat ketahanan hidup pada kasus berkisar antara 50-100%. Berdasarkan pengamatan, ketiga jenis karang tersebut sesuai untuk ditransplantasikan di perairan tersebut. Apabila dilihat dari tingkat kelangsungan hidupnya, meskipun karang jenis Pocillopora merupakan jenis oportunis yang mampu bertahan pada zona yang selalu bergejolak, nyatanya memiliki tingkat kelangsungan hidup yang terendah dibandingkan karang lainnya. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa karang jenis Pocillopora verrucosa belum bisa beradaptasi dengan baik untuk hidup pada lingkungan di perairan tersebut. Indikasi yang sama juga terlihat pada karang jenis Acropora spp. dan Hydnopora rigida yang masih terus mengalami kematian tiap pengamatannya.

Pengamatan lain (Yudhasakti PK, 23 November 2009, komunikasi pribadi) pada lokasi dan waktu bersamaan dilakukan penelitian terhadap Montipora spp.,

Porites spp., dan Stylophora pistillata. Pada akhir pengamatan di bulan

September 2009, karang jenis Montipora spp. memiliki tingkat kelangsungan hidup sebesar 53,33%, 76,12% untuk Porites spp., dan 63,41% untuk

Stylophora pistillata. Dibandingkan dengan pengamatan tersebut, didapatkan

tingkat kelangsungan hidup tertinggi dicapai oleh Acropora spp. dan yang terendah dicapai oleh Montipora spp.

Faktor lain adalah adanya keberadaan ikan predator yang merupakan ikan indikator kondisi terumbu karang. Hourigan et al. (1988) menyatakan ikan kepe-kepe sangat mungkin untuk menjadi indikator lingkungan terumbu karang karena hubungannya sangat erat dengan substrat karang hidup. Menurut Crosby and Reese (1996), Chaetodontidae pemangsa karang merupakan indikator yang ideal karena ikan ini memangsa karang secara langsung. Lebih lanjut, ikan kepe-kepe menujukkan tingkat kesukaan pada spesies karang tertentu sehingga akan sangat sensitif apabila terjadi perubahan suatu sistem terumbu karang. Selain itu, karena ikan kepe-kepe sangat teritorial maka akan sangat mudah memantaunya secara periodik. Namun, tidak semua jenis Chaetodontidae dapat dijadikan biota indikator. Misalnya yang bersifat planktivor tidak sensitif terhadap perubahan terumbu karang, atau omnivor memakan invertebrata selain karang dan alga sehingga sangat susah untuk mendeteksi kebiasaan makananya yang selalu berubah dan oportunis (Reese 1995).

Pada pengamatan terhadap ikan karang ditemukan adanya suksesi ikan pemangsa karang berupa spesies Chaetodon octofasciatus pada lokasi transplantasi di Pulau Kelapa ini (Utami TS, 25 Oktober 2009, komunikasi pribadi). Menurut Bawole et al. (1999) kehadiran yang dominan dari Chaetodon

octofaciatus mengidikasikan bahwa terumbu karang sudah mengalami

perubahan. Melalui pengamatan, terlihat bahwa populasi Chaetodon

octofaciatus pada bulan Maret 2009 terdapat 12 individu/100 m2 untuk pengamatan pada Stasiun I dan 5 individu/100 m2 untuk pengamatan pada Stasiun II. Pengamatan pada bulan Mei 2009 menunjukkan terjadinya penurunan kelimpahan Chaetodon octofaciatus menjadi 7 individu/ 100 m2 pada Stasiun I dan meningkat menjadi 7 individu/ 100 m2 pada Stasiun II. Turunnya kelimpahan ikan ini pada kedua stasiun terjadi pada pengamatan di bulan Juli 2009 menjadi 4 individu/100 m2 untuk Stasiun I dan 6 individu/100 m2 untuk Stasiun II. Kelimpahan Chaetodon octofaciatus pada pengamatan di bulan

September 2009 tetap 4 individu/100 m2 untuk pengamatan baik pada Stasiun I dan kembali menurun menjadi 4 individu/100 m2 untuk Stasiun II (Utami TS, 25 Oktober 2009, komunikasi pribadi). Adrim et al. (1991) menyatakan bahwa di Kepulauan Seribu, ikan yang memiliki nama lokal ikan strip delapan ini memiliki kelimpahan yang cukup tinggi dibandingkan dengan jenis lain dari famili Chaetodontidae.

Menurut Madduppa (2006), Chaetodon octofaciatus merupakan pemakan karang sejati (obligate coralivor). Penelitian yang dilakukannya di Pulau Petondan Timur, Kepulauan Seribu, menunjukkan bahwa jenis karang Acropora dan Pocillopora merupakan pilihan utama pemangsaan Chaetodon octofaciatus dengan Indeks Pilihan (E) lebih besar dari 0,5. Pengamatan terhadap tingkat pemangasaan tersebut juga menunjukkan ikan ini sangat menyukai karang

Acropora, yang artinya Chaetodon octofaciatus kemungkinan besar dapat

dijadikan indikator bagi area terumbu karang yang kaya akan keberadaan karang Acropora. Hal ini ditunjukkan dari hubungan antara kepadatan karang

Acropora dan pemangsaannya memberikan nilai koefisien determinasi sebesar

0,98 artinya hubungannya sangat kuat. Semakin padat karang Acropora maka makin tinggi pula pemangsaan yang dilakukan oleh Chaetodon octofaciatus.

Banyak penelitian yang dilakukan terhadap ikan karang jenis ini, termasuk Madduppa (2006) menyatakan adanya hubungan positif antara kelimpahan

Chaetodon octofaciatus dengan persentase karang hidup. Perbandingan yang

kontras, Roberts & Ormond (1987) menunjukkan bukti yang bertentangan pada penelitiannya dimana kelimpahan obligate corallivores memiliki korelasi yang rendah terhadap tutupan karang.

Salah satu faktor yang diduga menyebabkan kelimpahan ikan ini terus menurun adalah pengaruh sedimentasi di perairan ini. Melalui pengamatan terhadap faktor fisika diketahui bahwa nilai sedimentasi terus meningkat tiap pengamatannya. Sedimentasi yang terjadi dapat mempengaruhi ikan dalam mengenali mangsa, penyumbatan insang, bahkan dalam perilaku dan fisologi ikan tersebut (Dulvey et al. 1995 in Mottaqui-Tabar 2007).

Ghaffar et al. (2005) menduga bahwa terdegredasinya kualitas dari polip terumbu karang yang mengalami tekanan, akan menghasilkan menurunnya kelimpahan dan keberagaman dari berbagai spesies dan secara konsekuen, akan meningkatkan luasan wilayah, pola pemangsaan, tingkat pemangsaan dan menghadapi permasalahan ketika pasangannya mencoba mencukupi asupan nutrisi mereka dengan memperluas wilayahnya untuk mencakup lebih banyak koloni terumbu karang.

Berkurangnya ketersediaan makanan pilihan utamanya, terlebih Acropora spp. dengan bentuk pertumbuhan bercabang yang juga sebagai tempat yang aman bagi Chaetodon octofaciatus untuk hidup, menyebabkan terjadinya migrasi atau perluasan wilayah ke luar lokasi transplantasi sehingga kelimpahannya di lokasi transplantasi terus berkurang selama pengamatan berlangsung.

4.3. Pertumbuhan Mutlak dan Laju Pertumbuhan Terumbu Karang

Dokumen terkait