HASIL DAN PEMBAHASAN
3 Laki-laki + Perempuan
a. Makanan (Kal) 1558 ± 792 1460 ± 552 1510 ± 685 b. Minuman (Kal) 420 ± 406 450 ± 382 525 ± 620 Total konsumsi (Kal) 1978 ± 925 1919 ± 689 2035 ± 948 Kebutuhan energi (Kal) 2879 ± 537 2081 ± 312 2484 ± 594
Tingkat konsumsi (%) 68.7 92.2 81.9
Kontribusi minuman terhadap
total konsumsi (%) 21.2 23.4 25.8
Pada remaja laki-laki, konsumsi energi yang berasal dari makanan sebesar 1645 ± 902 Kal dan dari minuman sebesar 455 ± 431 Kal, sehingga total konsumsi sehari pada subjek remaja laki-laki sebesar 2098 ± 1043 Kal. Tingkat konsumsi pada remaja laki-laki sebesar 67.5%. Total konsumsi pada remaja perempuan lebih rendah dari pada remaja laki-laki yaitu 1859 ± 775 Kal, namun tingkat konsumsi remaja perempuan lebih besar dibanding remaja laki-laki yaitu 70.1%. Pada subjek dewasa, tingkat konsumsi laki-laki (86.1%) lebih kecil dibanding perempuan (99.0%), dengan total konsumsi untuk dewasa laki-laki sebesar 2012 ± 734 Kal dan perempuan sebesar 1839 ± 637. Tingkat konsumsi dewasa laki-laki lebih rendah karena kebutuhan energi antara laki-laki dan perempuan berbeda. Tingkat konsumsi subjek laki-laki lebih kecil dibanding dengan subjek perempuan yaitu masing-masing sebesar 79.6% dan 84.6%. Secara keseluruhan tingkat konsumsi remaja dan dewasa yaitu sebesar 81.9%.
Konsumsi energi dari minuman berkalori juga ikut berkontribusi dalam total konsumsi energi sehari pada remaja dan dewasa. Diperkirakan, selama ini, setiap hari konsumsi minuman berkalori di Amerika Serikat meningkat sebesar 83 Kal per orang. Energi dalam minuman kurang diperhitungkan dibandingkan dengan energi dari makanan padat (Bleich et al. 2009). Padahal efek fisiologis asupan energi terhadap kekenyangan terlihat berbeda antara makanan padat dan cairan. Energi dari minuman berkalori (yang umumnya memiliki kandungan gula tinggi) kurang dirasakan dibandingkan asupan energi dari makanan padat karena berkurangnya penggelembungan lambung dan waktu transit yang lebih cepat (Gibney et al. 2008).
Jika kalori yang ditambahkan ke makanan khas AS tanpa mengurangi asupan dari sumber lain, minuman berkalori bisa menyebabkan kenaikan berat badan 6.75 kg dalam satu tahun (Malik et al. 2006). Pada penelitian ini, konsumsi minuman berkalori pada remaja lebih kecil dibanding dewasa, ini bertentangan dengan pernyataan dari Mann dan Stewart (2007) yang menyatakan bahwa kelompok usia tertentu seperti remaja memiliki konsumsi minuman berkalori yang tinggi.
Minuman berkalori yang dikonsumsi oleh subjek selama satu minggu dikategorikan menjadi 17 kelompok yaitu jus/sari buah tanpa kemasan, sari buah kemasan, aneka es buah/campur/kelapa, minuman serbuk, minuman jelly, susu tanpa kemasan, susu kemasan, yogurt/probiotik, susu kedelai, teh tanpa kemasan, kopi tanpa kemasan, teh kemasan, kopi kemasan, minuman berkarbonasi, sirup, minuman elektrolit, dan minuman lainnya (bir dan minuman beralkohol; jamu dan minuman herbal).
Sepuluh jenis produk minuman berkalori yang paling banyak dikonsumsi oleh subjek (remaja dan dewasa) yaitu Teh Kotak (18.4%), agar-agar (aneka es buah/campur/kelapa) (16.3%), Ultramilk (16.3%), air kelapa (aneka es buah/campur/kelapa) (15.7%), daging kelapa (aneka es buah/campur/kelapa) (15.4%), Coca Cola (14.3%), Buavita (13.3%), Okky Jelly Drink (12.0%), Teh Botol Sosro (11.3%), dan Fanta (11.3%). Pada masing-masing subjek remaja dan dewasa, sepuluh jenis produk minuman yang paling banyak dikonsumsi pada remaja yaitu agar-agar (aneka es buah/campur/kelapa) (32.3%), Teh kotak (30.7%), daging kelapa (aneka es buah/campur/kelapa) (29.5%), air kelapa (aneka es buah/campur/kelapa) (29.4%), Ultramilk (28.2%), Okky Jelly Drink (21.0%), Coca Cola (18.8%), Fanta (15.5%), Pop Ice (14.5%) dan Buavita
(13.7%), sedangkan pada subjek dewasa yaitu Buavita 12.8, Kapal api 11.4, Teh Botol Sosro (10.9%), Coca Cola (9.6%), Nutrisari (9.1%), Nescafe (9.1%), Pocari Sweat (7.9%), Bendera (7.7%), Fanta (7.1%), dan Abc (kopi kemasan) (6.1%). Jenis produk minuman berkalori berdasarkan jumlah subjek (remaja dan dewasa) terdapat pada Lampiran 4, untuk subjek remaja pada Lampiran 5, dan subjek dewasa pada Lampiran 6.
Tabel 13 menunjukkan sebaran subjek berdasarkan konsumsi minuman berkalori pada remaja dan dewasa. Jenis minuman berkalori yang paling banyak dikonsumsi oleh remaja laki-laki selama satu minggu yaitu teh tanpa kemasan sebanyak 65.8%, kemudian susu kemasan (59.4%), minuman serbuk aneka rasa (46.2%), minuman berkarbonasi (42.2%), serta aneka es buah/campur/kelapa (39.2%). Sedangkan pada remaja perempuan, minuman berkalori yang paling banyak dikonsumsi yaitu susu kemasan (60.3%), teh tanpa kemasan (59.3%), minuman serbuk aneka rasa (49.8%), aneka es buah/campur/kelapa (43.9%), dan jus/sari buah tanpa kemasan (43.6%). Secara keseluruhan, jenis minuman berkalori yang paling banyak dikonsumsi selama satu minggu oleh subjek remaja yaitu teh tanpa kemasan (62.5%), susu kemasan (62.5%), minuman serbuk aneka rasa (48.0%), aneka es buah/campur/kelapa (41.6%), serta minuman berkarbonasi (40.8%).
Jenis minuman berkalori yang paling banyak dikonsumsi pada dewasa laki-laki selama satu minggu yaitu jus/sari buah tanpa kemasan, susu kemasan, teh tanpa kemasan, aneka es buah/campur/kelapa, dan kopi tanpa kemasan, sedangkan dewasa perempuan yaitu jus/sari buah tanpa kemasan, teh tanpa kemasan, susu kemasan, aneka es buah/campur/kelapa, dan jus/sari buah kemasan. Secara keseluruhan, konsumsi minuman kalori pada subjek dewasa terbanyak yaitu jus/sari buah tanpa kemasan, teh tanpa kemasan, susu kemasan, aneka es buah/campur/kelapa, dan jus/sari buah kemasan.
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Barquera et al. (2008) menyebutkan bahwa jenis minuman berkalori yang banyak dikonsumsi oleh subjek di Meksiko yaitu minuman berkarbonasi, susu, jus, teh, dan sari buah kemasan untuk remaja sedangkan untuk dewasa yaitu minuman berkarbonasi, susu, teh, kopi, dan jus tanpa kemasan. Ini kemungkinan dikarenakan kebiasaan konsumsi minum minuman berkalori di Indonesia berbeda dengan di negara lain, dimana Indonesia sendiri sebagian besar penduduknya lebih menyukai teh dan kopi dengan penambahan gula.
Tabel 13 Sebaran subjek berdasarkan konsumsi minuman berkalori pada remaja dan dewasa menurut jenis kelamin
No Jenis Minuman Remaja Dewasa Total
n (%) n (%) n (%)
Laki-laki
1 Teh tanpa kemasan 198 (65.8) 107 (38.6) 305 (52.8)
2 Susu kemasan 179 (59.4) 111 (40.1) 299 (51.7)
3 Jus/sari buah tanpa kemasan 98 (32.6) 121 (43.7) 219 (37.9) 4 Minuman serbuk aneka rasa 139 (46.2) 52 (18.8) 191 (33.0) 5 Aneka es buah/campur/kelapa 118 (39.2) 71 (25.6) 189 (32.7) 6 Minuman berkarbonasi 127 (42.2) 51 (18.4) 178 (30.8) 7 Jus/sari buah kemasan 86 (28.6) 45 (16.2) 131 (22.7)
8 Teh kemasan 102 (33.9) 27 (9.7) 129 (22.3)
9 Kopi tanpa kemasan 38 (12.6) 62 (22.4) 100 (17.3)
10 Kopi kemasan 48 (15.9) 37 (13.4) 85 (14.7)
11 Minuman jelly 71 (23.6) 10 (3.6) 81 (14.0)
12 Sirup 53 (17.6) 27 (9.7) 80 (13.8)
13 Minuman lainnya 16 (8.6) 45 (16.2) 71 (12.3)
14 Susu tanpa kemasan 32 (10.6) 36 (13.0) 68 (11.8) 15 Minuman elektrolit 28 (9.3) 31 (11.2) 59 (10.2)
16 Susu kedelai 6 (2.0) 10 (3.6) 16 (2.8)
17 Yogurt/probiotik 12 (4.0) 3 (1.1) 15 (2.6)
Perempuan
1 Teh tanpa kemasan 181 (59.3) 152 (47.9) 333 (53.5)
2 Susu kemasan 184 (60.3) 133 (42.0) 317 (51.0)
3 Jus/sari buah tanpa kemasan 133 (43.6) 156 (53.1) 289 (46.5) 4 Aneka es buah/campur/kelapa 134 (43.9) 90 (30.6) 224 (36.0) 5 Minuman serbuk aneka rasa 152 (49.8) 36 (12.2) 188 (30.2) 6 Minuman berkarbonasi 120 (39.3) 63 (21.4) 183 (29.4) 7 Jus/sari buah kemasan 100 (32.8) 70 (23.8) 170 (27.3)
8 Teh kemasan 125 (41.0) 32 (10.1) 157 (25.2)
9 Sirup 70 (23.0) 36 (12.2) 106 (17.0)
10 Jamu dan minuman herbal 26 (8.5) 58 (19.7) 84 (13.5) 11 Susu tanpa kemasan 34 (11.1) 49 (16.7) 83 (13.3)
12 Minuman jelly 60 (19.7) 8 (2.7) 68 (10.9)
13 Kopi kemasan 18 (5.9) 42 (13.2) 60 (9.6)
14 Kopi tanpa kemasan 19 (6.2) 37 (11.7) 56 (9.0)
15 Minuman lainnya 22 (7.3) 34 (11.6) 56 (9.0)
16 Yogurt/probiotik 15 (4.9) 15 (4.7) 30 (4.8)
17 Susu kedelai 2 (0.7) 11 (3.5) 13 (2.1)
Laki-laki + Perempuan
1 Teh tanpa kemasan 379 (62.5) 259 (43.6) 638 (53.2)
2 Susu kemasan 363 (60.0) 244 (41.1) 607 (50.6)
3 Jus/sari buah tanpa kemasan 231 (38.1) 277 (46.6) 508 (42.3) 4 Aneka es buah/campur/kelapa 252 (41.6) 161 (27.1) 413 (34.4) 5 Minuman serbuk aneka rasa 291 (48.0) 88 (14.8) 379 (31.6) 6 Minuman berkarbonasi 247 (40.8) 114 (19.2) 361 (30.1) 7 Jus/sari buah kemasan 186 (30.7) 115 (19.4) 301 (25.1)
8 Teh kemasan 227 (37.5) 59 (9.9) 286 (23.8)
9 Sirup 123 (20.3) 63 (10.6) 186 (15.5)
10 Kopi tanpa kemasan 57 (9.4) 99 (16.7) 156 (13.0) 11 Susu tanpa kemasan 66 (10.9) 85 (14.3) 151 (12.6)
12 Minuman jelly 131 (21.6) 18 (3.0) 149 (12.4) 13 Kopi kemasan 66 (10.9) 79 (13.2) 145 (12.1) 14 Minuman lainnya 54 (9.9) 103 (17.3) 157 (13.1) 15 Minuman elektrolit 48 (7.9) 65 (10.9) 113 (9.4) 16 Yogurt/probiotik 27 (4.5) 18 (3.0) 45 (3.8) 17 Susu kedelai 8 (1.3) 21 3.5) 29 (2.4)
Tabel 14 Kontribusi energi minuman berkalori pada remaja dan dewasa menurut jenis kelamin
No Jenis Minuman Remaja Dewasa Total
Kal (%) Kal (%) Kal (%)
Laki-laki
1 Teh tanpa kemasan 112 (24.6) 151 (32.5) 149 (25.1)
2 Susu kemasan 105 (23.1) 92 (19.6) 98 (16.5)
3 Kopi tanpa kemasan 15 (3.3) 63 (13.5) 52 (8.8)
4 Jus/sari buah tanpa kemasan 22 (4.8) 35 (7.5) 34 (5.7) 5 Aneka es buah/campur/kelapa 32 (7.0) 16 (3.4) 30 (5.1)
6 Kopi kemasan 22 (4.8) 33 (7.1) 30 (5.1)
7 Minuman berkarbonasi 33 (7.3) 11 (2.4) 30 (5.1)
8 Sari buah kemasan 21 (4.6) 7 (1.5) 20 (3.4)
9 Susu tanpa kemasan 19 (4.2) 17 (3.7) 20 (3.4)
10 Minuman serbuk aneka rasa 21 (4.6) 12 (2.6) 19 (3.2)
11 Sirup 16 (3.5) 9 (1.9) 16 (2.7) 12 Teh kemasan 21 (4.6) 1 (0.2) 15 (2.5) 13 Minuman lainnya 6 (1.3) 9 (1.9) 8 (1.3) 14 Minuman jelly 5 (1.1) 1 (0.2) 5 (0.8) 15 Minuman elektrolit 3 (0.7) 4 (0.9) 4 (0.6) 16 Susu kedelai 2 (0.4) 5 (0.9) 3 (0.5) 17 Yogurt/probiotik 2 (0.4) 1 (0.2) 1 (0.2) Total 455 (100.0) 465 (100.0) 593 (100.0) Perempuan
1 Teh tanpa kemasan 90 (23.3) 182 (41.6) 156 (33.8)
2 Susu kemasan 106 (2.8) 75 (17.2) 91 (19.6)
3 Jus/sari buah tanpa kemasan 26 (6.7) 29 (6.6) 28 (6.1) 4 Aneka es buah/campur/kelapa 34 (8.8) 13 (3.0) 25 (5.4)
5 Kopi kemasan 4 (1.0) 42 (9.6) 24 (5.2)
6 Teh kemasan 22 (5.7) 13 (3.0) 18 (3.9)
7 Minuman berkarbonasi 23 (6.0) 9 (2.1) 18 (3.9)
8 Kopi tanpa kemasan 6 (1.6) 25 (5.7) 17 (3.7)
9 Susu tanpa kemasan 16 (4.1) 15 (3.4) 17 (3.7)
10 Jus/sari buah kemasan 19 (4.9) 10 (2.3) 16 (3.5) 11 Minuman serbuk aneka rasa 16 (4.1) 8 (1.8) 13 (2.8)
12 Sirup 11 (2.8) 7 (1.6) 11 (2.4) 13 Minuman elektrolit 2 (0.5) 6 (1.4) 4 (0.9) 14 Minuman jelly 4 (1.0) 1 (0.2) 3 (0.6) 15 Minuman lainnya 4 (1.0) 2 (0.5) 3 (0.6) 16 Susu kedelai 1 (0.3) 4 (0.8) 3 (0.6) 17 Yogurt/probiotik 2 (0.4) 3 (0.5) 2 (0.4) Total 386 (100.0) 437 (100.0) 462 (100.0) Laki-laki + Perempuan
1 Teh tanpa kemasan 105 (25.0) 177 (39.3) 151 (28.8)
2 Susu kemasan 106 (25.2) 83 (18.5) 91 (17.3)
3 Kopi tanpa kemasan 11 (2.5) 44 (9.8) 35 (6.7)
4 Kopi kemasan 13 (3.1) 41 (9.1) 35 (6.7)
5 Aneka es buah/campur/kelapa 34 (8.1) 13 (2.9) 31 (5.9) 6 Jus/sari buah tanpa kemasan 28 (6.7) 29 (6.4) 31 (5.9)
7 Teh kemasan 21 (5.0) 12 (2.7) 21 (4.0)
8 Minuman berkarbonasi 23 (5.5) 9 (2.0) 20 (3.8)
9 Sari buah kemasan 21 (5.0) 10 (2.2) 19 (3.6)
10 Susu tanpa kemasan 16 (3.8) 15 (3.3) 17 (3.2)
11 Sirup 11 (2.6) 7 (1.6) 15 (2.9)
12 Minuman serbuk aneka rasa 16 (3.8) 8 (1.8) 14 (2.7)
13 Minuman elektrolit 2 (0.5) 6 (1.3) 11 (2.1) 14 Minuman lainnya 6 (1.5) 3 (0.6) 5 (1.0) 15 Minuman jelly 4 (1.0) 1 (0.2) 4 (0.8) 16 Susu kedelai 2 (0.5) 4 (0.9) 3 (0.6) 17 Yogurt/probiotik 3 (0.7) 2 (0.4) 2 (0.3) Total 420 (100.0) 450 (100.0) 525 (100.0)
Energi minuman berkalori sangat beragam, tabel diatas merupakan kontribusi energi pada minuman berkalori pada remaja dan dewasa. Konsumsi energi minuman berkalori untuk remaja yang tertinggi yaitu susu kemasan (25.2%) sebesar 106 Kal, teh tanpa kemasan sebesar 105 Kal (25.0%), aneka es buah/campur/kelapa (8.1%) sebesar 34 Kal, jus/sari buah tanpa kemasan (6.7%) sebesar 28 Kal, dan minuman berkarbonasi (5.5%) menyumbang kalori sebesar 23 Kal. Pada remaja laki-laki, kontribusi kalori tertinggi dari minuman berkalori yaitu teh tanpa kemasan, susu kemasan, minuman berkarbonasi, aneka es buah/campur/kelapa, jus/sari buah tanpa kemasan yang masing-masing memliki kontribusi energi sebesar 112 Kal, 105 Kal, 33 Kal, dan 32 Kal. Subjek remaja perempuan hampir sama dengan remaja laki-laki dalam hal konsumsi minuman berkalori, tertinggi pada konsumsi minuman berkalori jenis susu kemasan, selanjutnya minuman teh tanpa kemasan, aneka es buah/campur/kelapa, jus/sari buah tanpa kemasan dan minuman berkarbonasi yang masing-masing menyumbang kalori sebesar 106 Kal, 90 Kal, 34 Kal, 26 Kal, dan 23 Kal.
Total konsumsi minuman berkalori pada dewasa sebagian besar berasal dari teh tanpa kemasan dengan sumbangan kalori sebesar 177 Kal, kemudian jenis minuman berkalori seperti susu kemasan sebesar 83 Kal, kopi tanpa kemasan sebesar 44 Kal, kopi kemasan sebesar 41 Kal, dan jus/sari buah tanpa kemasan 29 Kal. Total konsumsi minuman berkalori untuk dewasa yaitu 450 Kal. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bleich et al. (2009) menunjukkan bahwa minuman bergula merupakan sumber kalori minuman tertinggi dibandingkan minuman lainnya. Ini sesuai dengan penelitian ini, kontribusi kalori yang tertinggi terdapat pada konsumsi minuman berkalori (penambahan gula) yaitu teh tanpa kemasan.
Pada uji t menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara konsumsi energi minuman berkalori antara remaja dan dewasa (p>0.05). Pada remaja perempuan dan laki-laki terdapat perbedaan yang signifikan (p<0.05), namun pada dewasa laki-laki dan perempuan, tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.05).
Tabel 15 Sebaran subjek berdasarkan penambahan gula pada jenis minuman teh, kopi, susu, dan jus pada remaja dan dewasa
Remaja Dewasa Total
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Remaja Dewasa Teh n (%) 180 (59.8) 174 (57.0) 97 (35.0) 148 (46.7) 354 (58.4) 245 (41.2) x ±SD (gram) 12.8 ± 5.9 11.0 ± 12.2 10.4 ± 2.7 12.5 ± 3.2 11.1 ± 6.9 11.3 ± 5.4 x ±SD (Kal) 47 ± 21 43 ± 44 38 ± 27 46 ± 26† 40 ± 32 41 ± 27† Kopi n (%) 38 (12.6) 19 (6.2) 51 (18.4) 29 (9.1) 57 (9.4) 80 (13.5) x ±SD (gram) 4.1 ± 9.8 2.7 ± 0.5 14.3 ± 1.1 6.9 ± 2.6 3.9 ± 7.1 10.3 ± 3.3 x ±SD (Kal) 15 ± 32 6 ± 5 52 ± 40 25 ± 34† 11 ± 23 38 ± 34† Susu n (%) 32 (10.6) 31 (10.2) 59 (21.3) 64 (20.2) 63 (10.4) 123 (20.7) x ±SD (gram) 2.0 ± 6.1 12.9 ± 14.1 1.9 ± 3.4 2.2 ± 3.0 1.1 ± 4.4 3.0 ± 6.3 x ±SD (Kal) 4 ± 6 2 ± 6 7 ± 11 8 ± 10 4 ± 16 8 ± 23 Jus n (%) 13 (4.3) 16 (5.2) 23 (8.3) 30 (9.5) 29 (4.8) 53 (8.9) x ±SD (gram) 1.5 ± 1.9 1.7 ± 8.9 1.1 ± 3.8 1.8 ± 9.4 1.8 ± 8.3 1.4 ± 7.9 x ±SD (Kal) 2 ± 11 4 ± 28† 4 ± 19 6 ± 21† 3 ± 24 5 ± 28 Teh + kopi + susu + jus
n (%) 261 (86.7) 240 (78.7) 230 (83.0) 271 (85.5) 503 (83.0) 501 (84.3) x ±SD (gram) 12.6 ± 8.7 11.1 ± 8.9 10.3 ± 7.5 12.9 ± 7.4 12.8 ± 9.8 12.7 ± 8.6 x ±SD (Kal) 48 ± 32 42 ± 30 39 ± 27 43 ± 27 45 ± 32 47 ± 20† Keterangan: † = berbeda nyata pada p<0.05
Gula merupakan salah satu kandungan dari minuman berkalori untuk pembuatan minuman teh, kopi, susu, dan jus pada penelitian ini. Tabel 15 menunjukkan sebaran subjek berdasarkan penambahan gula pada jenis minuman teh, kopi, susu, dan jus pada remaja dan dewasa. Pada remaja, rata- rata penambahan gula pada teh, kopi, susu, dan jus sebesar 12.6 ± 8.7 gram untuk laki-laki dan 11.1 ± 8.9 gram untuk perempuan, sedangkan pada dewasa rata-rata penambahan gula sebesar 10.3 ± 3.4 gram, dan 12.8 ± 5.8 gram sedangkan dewasa yaitu 10.3 ± 7.5 gram untuk laki-laki dan 12.9 ± 7.4 gram untuk perempuan. Rata-rata penambahan gula pada teh, kopi, susu, dan jus pada subjek remaja lebih tinggi dibandingkan dengan subjek dewasa.
Uji t menunjukkan pada penambahan gula di jenis minuman teh, terdapat perbedaan yang signifikan pada remaja dan dewasa, namun laki-laki dan perempuan remaja tidak terdapat perbedaan, demikian juga pada laki-laki dan perempuan dewasa. Penambahan gula pada kopi tidak terdapat perbedaan antara remaja dan dewasa, begitu juga laki-laki dan perempuan remaja, namun laki-laki dan perempuan dewasa terdapat perbedaan. Penambahan gula pada susu tidak terdapat perbedaan antara remaja dan dewasa, demikian juga pada laki-laki dan perempuan remaja serta dewasa. Penambahan gula pada jus untuk remaja dan dewasa tidak terdapat perbedaan, namun pada laki-laki dan
perempuan remaja maupun dewasa terdapat perbedaan yang signifikan. Total penambahan gula pada teh, kopi, susu, dan jus pada pada remaja dan dewasa terdapat perbedaan, namun pada laki-laki dan perempuan remaja maupun dewasa tidak terdapat perbedaan.
Gula digunakan untuk mendeskripsikan karbohidrat sederhana, yaitu sukrosa. Sukrosa merupakan bentuk komersial dari gula tebu dan gula umbi serta gula yang biasanya untuk memasak. Secara kimia, sukrosa adalah disakarida yang terdiri dari dua monosakarida, yaitu fruktosa dan glukosa. Asupan gula pada orang amerika menyumbang sekitar 20% rata-rata asupan kalori. Salah satu alasan konsumsi gula yang tinggi adalah rasa yang manis (Mann & Stewart 2007).
Total konsumsi minuman berkalori pada remaja sebesar 420 Kal sedangkan untuk dewasa sebesar 450 Kal. Ini berbeda dengan hasil penelitian Bleich et al. (2009), pada tahun 1999-2004 dua pertiga orang dewasa (63%) mengkonsumsi minuman bergula dan memperoleh sumbangan energi 293 kalori tiap harinya. Pada periode tersebut, dewasa muda (dini) merupakan golongan prevalensi tertinggi (72%) yang mengkonsumsi minuman bergula dan memperoleh sumbangan energi 289 kalori tiap harinya. Kemungkinan karena penelitian tersebut sudah lama (5-10 tahun lalu) atau karena metode recall 24 jam, dimana minuman berkalori underestimated. Hal ini perlu diwaspadai karena ada kecenderungan peningkatan energi dari minuman berkalori di negara maju. Berdasarkan penelitian Malik et al. (2006) di Amerika selama lima tahun terakhir asupan energi dari minuman berkalori meningkat sebesar 83 Kal/orang, dimana 54 Kal/hari dari soda.
Hubungan Konsumsi Energi Minuman Berkalori dengan Total Konsumsi Energi pada Remaja dan Dewasa
Konsumsi minuman berkalori subjek pada penelitian ini dikelompokkan menjadi tiga, yaitu rendah (<100 Kal), sedang (100-200 Kal), dan tinggi (>200 Kal). Tabel 16 menunjukkan sebaran subjek berdasarkan konsumsi energi minuman berkalori pada remaja dan dewasa. Sebagian besar subjek mengkonsumsi minuman berkalori lebih dari 200 Kal baik pada remaja maupun dewasa. Uji t menunjukkan bahwa konsumsi minuman berkalori pada remaja dan dewasa baik laki-laki maupun perempuan, tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.05).
Tabel 16 Sebaran subjek berdasarkan konsumsi energi minuman berkalori pada remaja dan dewasa
Konsumsi minuman berkalori Remaja Dewasa
n (%) n (%) Laki-laki Rendah (<100 Kal) 45 (15.0) 48 (17.3) Sedang (100-200 Kal) 51 (16.9) 43 (15.5) Tinggi (>200Kal) 205 (68.1) 186 (67.2) Total 301 (100.0) 277 (100.0) Perempuan Rendah (<100 Kal) 46 (15.1) 52 (16.4) Sedang (100-200 Kal) 62 (20.3) 53 (16.7) Tinggi (>200 Kal) 197 (64.6) 212 (66.9) Total 305 (100.0) 317 (100.0) Laki-laki + Perempuan Rendah (<100 Kal) 91 (15.0) 100 (16.8) Sedang (100-200 Kal) 113 (18.6) 96 (16.2) Tinggi (>200 Kal) 402 (66.4) 398 (67.0) Total 606 (100.0) 594 (100.0)
Tingkat konsumsi energi pada subjek remaja dan dewasa dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu rendah (<85%), cukup (85-115%), dan tinggi (>115%). Tabel 17 menunjukkan hubungan minuman berkalori dengan konsumsi energi pada remaja dan dewasa.
Tabel 17 Hubungan minuman berkalori dengan konsumsi energi pada remaja dan dewasa
Remaja (%) Dewasa (%)
Intake Minuman berkalori
Konsumsi Energi Konsumsi Energi Rendah (<85%) Cukup (85-115%) Tinggi (>115%) Rendah (<85%) Cukup (85-115%) Tinggi (>115%) Laki-laki Rendah (<100 Kal) 17.3 9.3 4.8 24.5 11.2 8.2 Sedang (100-200 Kal) 20.8 7.4 0.0 23.7 5.6 10.2 Tinggi (>200 Kal) 61.9 83.3 95.2 51.8 83.2 81.6 Total 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 Perempuan Rendah (<100Kal) 20.3 1.9 0.0 27.1 13.3 8.9 Sedang (100-200 Kal) 24.3 13.2 3.3 24.3 19.4 7.1 Tinggi (>200Kal) 55.4 84.9 96.7 48.6 67.3 83.9 Total 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 Laki-laki + Perempuan Rendah (<100Kal) 18.8 5.6 2.0 25.6 12.3 8.7 Sedang (100-200 Kal) 22.5 10.3 2.0 24.0 12.8 8.1 Tinggi (>200Kal) 58.7 84.1 96.0 50.4 74.9 83.2 Total 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0
Remaja laki-laki yang konsumsi energinya rendah namun konsumsi minuman kalorinya tinggi sebanyak 61.9%, sedangkan konsumsi energi cukup namun konsumsi minuman kalorinya tinggi sebanyak 83.3%, begitu juga dengan konsumsi energi yang tinggi, konsumsi minuman berkalori juga tinggi sebesar 95.2%. Pada remaja perempuan tidak jauh berbeda, namun persentasenya lebih tinggi dibanding remaja laki-laki yaitu sebesar 96.7% untuk konsumsi minuman berkalori lebih dari 200 Kal dan tingkat konsumsinya tinggi. Total subjek remaja yang mengonsumsi minuman berkalori tinggi namun konsumsi energinya rendah
sebanyak 58.7%, sedangkan pada konsumsi energi cukup 84.1%, dan pada konsumsi energi tinggi sebesar 96.0%. Pada ketiga tingkat konsumsi energi (rendah, cukup, tinggi) sebagian besar mengonsumsi minuman berkalori lebih besar dari 200 Kal pada dewasa laki-laki maupun perempuan.
Uji pearson digunakan untuk melihat hubungan antara konsumsi konsumsi energi minuman berkalori dengan total konsumsi energi pada dewasa. Konsumsi minuman berkalori berhubungan positif dengan total konsumsi energi dewasa yang signifikan pada r= 0.51 (p<0.05), sedangkan pada remaja juga berhubungan positif dengan nilai r= 0.58 (p<0.05) (Lampiran 14 dan Lampiran 15). Secara keseluruhan, konsumsi energi minuman berkalori berhubungan positif dengan total konsumsi energi pada remaja dan dewasa yang signikan pada nilai r= 0.54 (p<0.05) (Lampiran 13). Pada remaja, kontribusi konsumsi minuman berkalori terhadap konsumsi energi sebesar 21.2%, sedangkan dewasa sebesar 23.4%. Persentase ini lebih tinggi dibandingkan dengan negara- negara seperti Meksiko dimana konsumsi minuman berkalori 20.1% untuk remaja dan 22.3% untuk dewasa dari asupan energi (Barquera et al. 2008).