Berdasarkan profil kesehariannya, para responden dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu: responden institusi formal dan responden institusi informal. Responden institusi formal adalah mereka yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di salah satu dinas Pemerintah Kabupaten/Kota setempat. Sedangkan responden institusi informal adalah mereka yang profesinya sebagai pengusaha swasta dalam bidang daur ulang sampah, pengurasan tangki septik atau sebagai subkontraktor jasa pengelolaan sanitasi (misalnya kebersihan kota) yang mendapat pekerjaan dari salah satu dinas Pemerintah Kabupaten/Kota setempat. Dalam pelaksanaan kunjungan dan wawancara, masing-masing membutuhkan gaya pendekatan berbeda.
Responden institusi formal
Kelompok responden institusi formal biasanya akan lebih baik bila dihadapi dengan sikap dan penampilan yang lebih formal. Karakteristik responden institusi formal biasanya ditandai hal-hal sebagai berikut:
1. Memiliki dokumentasi data sekunder yang terstruktur dan relatif lengkap, sehingga selama survei/observasi berlangsung relatif tidak perlu banyak membuat catatan.
2. Data yang diperoleh dari wawancara lebih banyak bersifat penjelasan tambahan atas apa yang terdapat pada dokumen data sekunder.
3. Lebih berhati-hati dalam menyampaikan data/informasi, baik data berupa dokumen maupun lisan.
Responden institusi informal: Wiraswasta
Kelompok responden institusi informal, khususnya wiraswastawan, biasanya akan lebih baik bila dihadapi dengan sikap dan penampilan yang lebih santai. Karakteristik responden institusi informal biasanya mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Sangat berhati-hati pada saat permulaan, terutama mengenai identitas dan tujuan kedatangan pewawancara. Mereka harus diyakinkan bahwa tujuan dari survei/observasi tidak akan merugikan kepentingan bisnis mereka. Namun demikian, mereka secara bertahap akan lebih terbuka bila suasana pembicaraan makin mencair dan akrab.
2. Kurang memiliki dokumentasi data sekunder bahkan kadang tidak punya sama sekali, sehingga perlu lebih banyak membuat catatan.
3. Data/informasi yang diperoleh dari wawancara merupakan data/informasi utama yang harus dicatat saksama, kalau perlu disiapkan alat perekam. Seringkali akurasi data yang disampaikannya tidak bisa diandalkan. Dalam hal demikian, data atau informasi yang diperoleh lebih banyak bersifat indikasi.
4. Tidak terlalu peduli/berhati-hati dalam menyampaikan data/informasi, baik data berupa dokumen maupun lisan.
Responden institusi informal: Tokoh Masyarakat/KSM
Responden berikutnya adalah mereka yang berasal dari kelompok masyarakat tertentu (tokoh masyarakat) atau Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), yang telah menjalankan aktivitas pengelolaan sanitasi. Kelompok responden ini biasanya diwakili oleh pimpinannya yang cenderung tampil lebih menonjol. Mereka juga lebih suka bila dihadapi dengan sikap dan penampilan yang santai. Karakteristik kelompok responden ini biasanya mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Sangat ramah dan lebih terbuka, terutama bila sudah mengetahui identitas dan tujuan kedatangan pewawancara. Mereka akan dengan senang hati dan bangga berbagi pengalaman selama menjalankan aktivitas pengelolaan sanitasi (pengomposan sampah atau pengelolaan Sanimas) dan memperlihatkan objek garapan mereka. Kunci penting dalam menghadapi responden tokoh masyarakat adalah tampil penuh perhatian, sederhana dan bersikap rendah hati (low profile).
2. Dokumentasi data sekunder relatif lebih baik dibanding responden wiraswasta, tapi biasanya tidak fokus. Kadang tersedia brosur sederhana yang menerangkan identitas, sejarah singkat dan profil objek garapan mereka. Untuk data spesifik tertentu bisa dengan mudah ditanyakan dan perlu sedikit membuat catatan.
3. Data/informasi yang diperoleh dari wawancara saling melengkapi dengan data/informasi dari dokumentasi. Biasanya akurasi data yang disampaikan kurang bisa diandalkan sehingga lebih banyak bersifat indikasi.
4. Tidak terlalu peduli/berhati-hati dalam menyampaikan data/informasi, baik data berupa dokumen maupun lisan. 5. Bisa terjadi salah persepsi pada pihak kelompok responden ini. Mereka boleh jadi beranggapan pewawancara datang
dari lembaga yang bisa mendatangkan bantuan modal atau fasilitas. Hal ini harus dihindari dengan menerangkan secara jelas siapa dan apa tujuan kedatangan pewawancara sejak awal.
Pada dasarnya kelompok responden punya kesamaan karakteristik, yaitu cenderung suka memperlebar topik pembicaraan. Pada responden tertentu, mereka senang bercerita tentang hal-hal yang menonjolkan pengalaman istimewanya, walaupun kurang relevan dengan topik utama yang direncanakan. Pewawancara harus berusaha mengendalikan pembicaraan agar tetap pada topik yang direncanakan tanpa menyinggung perasaan responden. Mereka juga bisa dijadikan referensi untuk mendapatkan responden lain yang masih diperlukan dan dianggap representatif. Referensi tersebut juga biasanya akan membuat responden baru lebih mudah diakses dan lebih kooperatif.
Daftar pertanyaan yang telah disiapkan diperlukan sebagai panduan mengenai topik yang harus dibicarakan, dan untuk menentukan apakah data/informasi yang diperlukan sudah mencukupi.
Agar pihak responden, terutama para pengusaha swasta, lebih kooperatif dan komunikatif, akan sangat membantu apabila pewawancara memiliki pengetahuan dan wawasan yang relevan dengan usaha mereka. Biasanya mereka akan sangat tertarik terhadap informasi yang berkaitan dengan jaringan usaha yang bisa mendorong pengembangan bisnisnya, misalnya potensi pasar, sumber permodalan alternatif, partner potensial yang bisa diajak bersinergi, dan lain-lain.
Langkah 6:
Buat laporan
Setelah diperoleh data/informasi dari hasil survei/observasi, maka dapat dibuat analisis dan rekomendasi yang dituangkan dalam laporan Kajian dan Studi Kasus Partisipasi Sektor Swasta (Private Sector Participation) dalam Pengelolaan Sistem Sanitasi. Secara garis besar, lingkup analisis akan meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Evaluasi pelaksanaan survei/observasi secara umum, terutama membandingkan antara rencana dan realisasi pelaksanaannya.
domestik berdasarkan model peta yang telah dibuat.
3. Identifikasi segmen aktivitas yang saat ini telah ditangani oleh sektor publik, sektor swasta dan/atau kelompok swadaya masyarakat (KSM atau LSM).
4. Identifikasi pola keterkaitan/sinergi yang telah terjalin, baik secara formal maupun informal.
5. Identifikasi kesempatan peningkatan kualitas dan kuantitas sinergi antar para pihak yang terlibat (sektor publik, sektor swasta dan/atau masyarakat/LSM).
6. Identifikasi kesempatan pihak lain yang sebaiknya terlibat, misalnya lembaga keuangan. 7. Rekomendasi:
a. Strategi untuk menjalin sinergi yang lebih intensif dan lebih luas, sehingga sedapat mungkin bisa mengatasi sebesar-besarnya permasalahan sanitasi dari sisi peran sektor swasta dan/atau masyarakat/LSM.
b. Program sosialisasi dan implementasi strategi di setiap kabupaten/kota.
Selama proses penyusunan laporan, sering dibutuhkanan data/informasi tambahan. Untuk itu, bisa saja dilakukan wawancara tambahan dengan responden yang pernah dikunjungi. Biasanya wawancara untuk melengkapi kekurangan data/informasi ini bisa dilakukan per telepon.
C. Partisipasi Masyarakat, Jender dan Kemiskinan (PMJK)
Langkah 1: