• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi: Environmental Health Risk Assessment (EHRA)

Dalam dokumen Penilaian dan Pemetaan Situasi Sanitasi (Halaman 102-105)

BB-03

Hasil yang akan dicapai melalui proses ini adalah:

Laporan EHRA: data primer kondisi sanitasi rumah tangga yang memiliki konsekuensi pada risiko kesehatan lingkungan.

Pembangunan sanitasi butuh pendekatan yang sesuai dengan kondisi wilayah setempat. Tujuannya agar dapat menentukan isu sanitasi yang perlu diprioritaskan dan model pembangunan sanitasi yang dikedepankan. Tanpa pemahaman akurat tentang suatu wilayah, pembangunan sanitasi berpotensi menjadi pengeluaran yang tidak mendatangkan manfaat bagi warga.

EHRA dirancang untuk mendapatkan data representatif tentang deskripsi kondisi sanitasi tingkat kota dan kecamatan, sekaligus dapat dijadikan panduan dasar bagi pemahaman kondisi tingkat kelurahan. Perolehan data primer di tingkat kelurahan memiliki berbagai keuntungan sebagai berikut:

1) Pembangunan sanitasi dapat mengakomodasi perbedaan-perbedaan/pengelompokan-pengelompokan yang muncul antarkelurahan, sehingga pendekatan/model yang diterapkan dapat disesuaikan,

2) Pembangunan sanitasi dapat memiliki tolok ukur (benchmark) yang dapat diuji oleh warga atau pemangku kepentingan (stakeholder) di tingkat kelurahan, yang dengan mudah mengobservasi pencapaian pembangunan. Di sini secara tidak langsung, pemangku kepentingan tingkat kelurahan, termasuk warga, telah dibekali amunisi berupa data tentang kondisi lingkungan. Hal ini dapat digunakan dalam proses advokasi, baik ke tingkat lebih tinggi (kecamatan atau kota) ataupun secara horizontal pada sesama warga atau pemangku kepentingan di tingkat kelurahan.

Studi EHRA mendalami kondisi sanitasi dan perilaku yang berhubungan dengan sanitasi di tingkat rumah tangga. Hal yang ingin diketahui mencakup akses dan kondisi sarana sanitasi yang telah ada, antara lain air bersih, jamban, air buangan dan saluran pembuangan air, serta jasa pengumpulan limbah padat. Studi EHRA juga mengamati perilaku anggota rumah tangga dalam menggunakan fasilitas yang ada, dan mempelajari perilaku mereka dalam hubungannya dengan risiko kesehatan lingkungan.

Data EHRA dapat menjadi panduan untuk menggambarkan kondisi sanitasi di tingkat kelurahan. Selain itu, data EHRA juga menyediakan informasi yang melengkapi dan memverifikasi penelitian yang sudah ada sebelumnya, termasuk melengkapi data-data untuk pembuatan buku putih kota. Apabila data kuantitatif yang terkumpul handal, maka data EHRA dapat membantu penentuan prioritas isu dalam penyusunan strategi sanitasi kota.

Di samping itu , partisipasi petugas lapangan yang berasal dari masyarakat setempat memberi ruang cukup luas untuk akuntabilitas sosial. Hal ini dapat membentuk kepedulian masyarakat menyangkut masalah pembangunan sanitasi.

Siapa yang melaksanakan?

Pokja Sanitasi Kota melakukan koordinasi dan pengorganisasian survei EHRA, dibantu oleh Tim Pelaksana di tiap wilayah.

mengapa ehRa?

1. Pembangunan sanitasi membutuhkan pemahaman kondisi wilayah yang akurat. 2. Data terkait sanitasi terbatas. Data

tersedia umumnya tidak bisa dipecah sampai tingkat kelurahan dan data tidak terpusat pada satu instansi, tetapi berada di berbagai instansi berbeda.

3. EHRA adalah studi yang menghasilkan data representatif di tingkat kota dan kecamatan, serta dapat dijadikan panduan dasar di tingkat kelurahan. 4. EHRA menggabungkan informasi yang

selama ini menjadi indikator sejumlah sektor pemerintahan secara eksklusif. 5. EHRA secara tidak langsung memberi

‘amunisi’ bagi stakeholders dan warga di tingkat kelurahan untuk melakukan kegiatan advokasi ke tingkat yang lebih tinggi. Termasuk advokasi horizontal ke sesama warga atau stakeholders

kelurahan, berkenaaan pembangunan di bidang sanitasi.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan?

Berdasarkan pengalaman, lama waktu pelaksanaan EHRA adalah sekitar 42 hari kerja, dengan perincian di halaman berikut.

Langkah-langkah pelaksanaan

1. Diskusi Pokja Sanitasi Kota.

2. Memperbaiki desain dan instrumen sesuai hasil diskusi. 3. Persiapan logistik dan kontrak.

4. Melatih enumerator dan supervisor. 5. Mengoordinasi kerja lapangan. 6. Melatih tim entri data. 7. Melakukan entri data.

8. Mengirim database elektronik dan kuesioner. 9. Pembersihan data (data cleaning).

10. Pemrosesan data (data processing), analisis dan laporan awal. 11. Umpan balik untuk Pokja Sanitasi Kota.

12. Umpan balik bagi enumerator & kelurahan/kecamatan. 13. Mengembangkan laporan berdasarkan umpan balik. 14. Distribusi laporan final EHRA.

Referensi terkait

Tujuan dan manfaat

1. Tujuan utama Riset EHRA adalah untuk mendapatkan data primer tentang kondisi sanitasi suatu kota, khususnya yang memiliki konsekuensi pada risiko kesehatan lingkungan.

2. Di tingkat kecamatan atau kelurahan, data EHRA dimanfaatkan sebagai salah satu bahan urun rembug dan pengambilan keputusan -sekaligus tolok ukur keberhasilan program sanitasi. 3. Di tingkat kota, Riset EHRA dimanfaatkan

sebagai salah satu bahan penyusunan Buku Putih Sanitasi Kota, perencanaan program-program pengembangan sanitasi di kota dan tolok ukur keberhasilan program sanitasi.

4. Di tingkat nasional, EHRA jadi salah satu bahan pengambilan keputusan.

Langkah-langkah pelaksanaan

Langkah 1

Diskusi Pokja Sanitasi Kota

Tujuan utama diskusi Pokja Sanitasi Kota adalah untuk mendapatkan masukan bagi pengembangan desain dan instrumen EHRA, sehingga kekhasan kota dapat digambarkan secara optimum melalui Studi EHRA. Selain itu, diskusi juga penting sebagaiLangkah awal untuk koordinasi.

Agenda diskusi yang dapat diangkat mencakup antara lain: 1. Perkenalan.

2. Presentasi EHRA yang mencakup tujuan, manfaat EHRA, desain dan instrumen EHRA. 3. Umpan balik pada desain dan instrumen EHRA.

4. Diskusi.

5. Membuat kesepakatan tentang jadwal penyelenggaraan. 6. Membuat kesepakatan tentang pengorganisasian kerja.

Untuk melancarkan diskusi, perlu disiapkan dokumen EHRA yang mencakup manual dan bahan presentasi EHRA. Untuk mendalami latar belakang mengenai EHRA, para anggota Pokja Sanitasi Kota dapat membaca Lampiran BB-03_1, ‘Kerangka Kerja Konseptual dan Variabel EHRA.’

Diskusi Pokja Sanitasi Kota merupakan tahap penting untuk mengembangkan desain dan instrumen EHRA, sehingga pencatatan atas masukan-masukan perlu dilakukan secara saksama. Fasilitator diskusi diharapkan membuka ruang partisipasi yang luas bagi semua partisipan yang hadir, dan dapat mengembangkan dialog konstruktif.

Pokok-pokok bahasan yang perlu dibahas lebih dalam oleh Pokja Sanitasi Kota bisa dibaca pada Lampiran BB-03_2.

Langkah 2

Dalam dokumen Penilaian dan Pemetaan Situasi Sanitasi (Halaman 102-105)

Dokumen terkait