DAN ANAK
H. Lama Kegiatan Sosial (Jam/minggu)
a. Tidak ada 2 8 6 24 2 8 10 40
b. 2 - 4 1 4 6 24 6 24 13 52
c. 5 - 7 - - 1 4 1 4 2 8
Jumlah 3 12 13 52 9 36 25 100
Orang tua tunggal berusia 47-57 tahun terlihat hanya menggunakan komunikasi dua arah yaitu interaksi dan transaksi sedangkan pada dua kelompok usia di bawahnya masih terlihat digunakannya pola komunikasi linier. Dari temuan ini nampak bahwa seiring dengan bertambahnya usia membuat orang tua berkomunikasi secara lebih baik dengan anak-anaknya. Hal ini didasari oleh pengalaman mereka dalam hal cara mengasuh anak, baik yang dialami sendiri maupun dari melihat atau membaca informasi dari media massa tentang pola asuh anak. Hal tersebut terungkap dari wawancara dengan O1 dan O2 yang menyatakan bahwa mereka dididik secara otoriter oleh orang tua sehingga tidak ingin melakukan hal yang sama pada anak-anak mereka sekarang, karena itu mereka cenderung menggunakan pola komunikasi transaksi di dalam berkomunikasi dengan anak.
Hal menarik yang ditemukan di sini adalah orang tua tunggal dengan tiga anak atau lebih menggunakan pola komunikasi interaksi dan transaksi. Hal ini berbeda dengan pendapat Gunarsa (1991) yang menyatakan bahwa kepadatan di dalam keluarga menimbulkan kesulitan berkomunikasi sehingga pola hubungan menjadi otoriter yang berarti menunjukkan digunakannya pola komunikasi linier. Berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara dengan responden penelitian ini ternyata mereka memiliki anak-anak yang sudah dewasa bahkan ada yang sudah berkeluarga sehingga perhatian lebih banyak diarahkan kepada anak bungsu, yaitu yang menjadi subjek penelitian ini sehingga bisa berkomunikasi lebih baik.
Ketiga jenis pola komunikasi digunakan oleh orang tua tunggal yang berpendidikan SD dan SMU, tetapi mulai dari D1 hingga S2 hanya menggunakan komunikasi dua arah yaitu D1 sampai S1 menggunakan komunikasi interaksi
sedangkan S2 menggunakan komunikasi transaksi. Hal ini menguatkan anggapan
Widjaja (1989) dalam Rahmah (2004) yang mengungkapkan bahwa ibu yang
berpendidikan akan bersikap lebih baik kepada anak termasuk juga dalam berkomunikasi dengan anak yaitu cenderung menggunakan pola komunikasi dua arah.
Pekerjaan dan pendapatan merupakan indikator untuk melihat kelas sosial ekonomi seseorang. Hasil penelitian Olsen (1974) menunjukkan bahwa kelas sosial ekonomi bawah cenderung menggunakan komunikasi linier sementara kelas menengah menggunakan komunikasi dua arah. Data yang disajikan pada Tabel 9 menunjukkan bahwa pola komunikasi linier digunakan oleh semua jenis pekerjaan kecuali PNS dan hanya pada orang tua tunggal berpenghasilan lebih dari dua juta rupiah tidak ditemukan penggunaan pola komunikasi linier. Frekuensi penggunaan pola komunikasi interaksi dan transaksi lebih sering ditemukan pada kelas menengah meskipun pada kelas bawah juga ditemukan penggunaan pola komunikasi ini. Dengan demikian komunikasi dua arah cenderung digunakan oleh kelas sosial ekonomi menengah tetapi penggunaan pola komunikasi linier bukan kecenderungan dari kelas bawah.
Lebih dari setengah jumlah responden bekerja antara delapan sampai sepuluh jam sehari dan pada kelompok ini terlihat dominan penggunaan pola komunikasi interaksi. Dengan jam kerja yang tidak terlalu lama memungkinkan mereka mempunyai lebih banyak waktu untuk memperhatikan anak-anak mereka, termasuk juga mendengarkan cerita dan keluh kesahnya.
Pola komunikasi linier dan interaksi digunakan oleh orang tua tunggal yang bekerja lebih dari sepuluh jam sehari. Fakta ini berbeda dengan hasil penelitian Kohn (1963) dalam Chilman (1988) yang menyatakan bahwa lamanya waktu bekerja menyebabkan orang tua cenderung menuntut kepatuhan anak dan memaksakan kehendak dengan pola komunikasi linier. Berdasarkan pengamatan ternyata orang tua tunggal menggunakan pola komunikasi linier jika jam kerja lama dan tidak mendapat bantuan dari keluarga luas dalam pengasuhan anak. Hal ini bisa dimaklumi karena mereka sudah sangat lelah ketika sampai di rumah sehingga dalam berkomunikasi dengan anak lebih sering menggunakan teknik instruktif, infromatif dan persuasif yang merupakan ciri komunikasi linier.
Lama penggunaan media massa oleh orang tua tunggal sangat bervariasi. Hampir sepertiga dari mereka menggunakan media massa lebih dari tujuh jam seminggu. Jumlah yang sama juga menggunakan media massa antara satu sampai tiga jam seminggu. Frekuensi penggunaan pola komunikasi interaksi terlihat dominan pada kelompok yang terakhir ini. Hal ini tidak sejalan dengan pernyataan Mulyana (1999) yang menyatakan bahwa keterampilan berkomunikasi bisa diperoleh sebagai hasil dari akses terhadap media massa. Artinya, semakin lama seseorang mengakses media massa maka akan semakin terampil dalam berkomunikasi yang ditunjukkan dengan kecenderungan menggunakan komunikasi dua arah, yaitu interaksi dan transaksi. Ternyata yang ditemukan di sini, orang tua tunggal yang menggunakan media massa antara satu atau tiga jam seminggu, yang bisa dikategorikan rendah, justru menunjukkan penggunaan pola komunikasi interaksi yang dominan. Hal ini terjadi karena sebagian besar dari mereka menyukai jenis tontonan berita dan jenis bacaan surat kabar, yang tentu saja tidak berperan dalam peningkatan ketrampilan berkomunikasi melainkan hanya sebagai sarana menambah wawasan dan pengetahuan.
Kegiatan sosial menjadi sarana bagi orang tua tunggal untuk berinteraksi dengan komunitas di lingkungan sekitar maupun lingkungan profesi. Meskipun demikian lebih dari sepertiga di antara mereka tidak mengikuti kegiatan sosial. Padahal dengan mengikuti kegiatan sosial mereka bisa mendapatkan banyak teman yang siap menampung keluh kesahnya dan memberi banyak nasehat tentang pengasuhan anak. Alasan mereka tidak mengikuti kegiatan sosial adalah karena jam kerja yang panjang dan mempunyai kesibukan mengurus anak, terutama anak balita.
Dari data di atas terlihat dominan penggunaan pola komunikasi interaksi, baik pada mereka yang mengikuti kegiatan sosial maupun yang tidak. Pola komunikasi linier lebih banyak digunakan oleh mereka yang tidak mengikuti kegiatan sosial sebaliknya tidak terlihat digunakan oleh mereka yang mengikuti kegiatan sosial lebih lama, yaitu 5-7 jam seminggu. Kelihatannya partisipasi orang tua tunggal dalam kegiatan sosial mendorong mereka menggunakan pola komunikasi interaksi, tetapi lamanya mengikuti kegiatan sosial tidak menentukan digunakannya pola komunikasi tertentu.
Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana karakteristik orang tua tunggal
menentukan digunakannya suatu pola komunikasi maka ditunjukkan
kecenderungan pola komunikasi seperti pada Tabel 10.
Tabel 10. Karakteristik Orang Tua Tunggal dan Kecenderungan Pola Komunikasi Karakteristik Individu Rata-rata Skor
Pola Komunikasi Kategori Pola Komunikasi A. Usia (tahun) a. 30 - 35 2,2 Interaksi b. 36 - 46 2,1 Interaksi c. 47 - 57 2,5 Transaksi