BAB 6 PEMBAHASAN
6.12. Lama Rawatan Rata-Rata Berdasarkan Sumber Biaya
Lama rawatan rata-rata berdasarkan sumber biaya penderita PPOK yang rawat inap di RS Martha Friska tahun 2010-2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 6.16. Diagram Bar Lama Rawatan Rata-Rata Berdasarkan Sumber Biaya di RS Martha Friska Medan Tahun 2010-2011
Berdasarkan gambar 6.16 dapat dilihat bahwa lama rawatan rata-rata penderita PPOK dengan menggunakan Askes adalah 9,19 hari, lama rawatan penderita PPOK dengan menggunakan Perusahaan adalah 8,38 hari, lama rawatan penderita PPOK dengan menggunakan Jamkesmas adalah 7,25 hari, dan lama rawatan penderita PPOK dengan menggunakan biaya sendiri adalah 5,47 hari.
Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Kruskal Wallis diperoleh p<0,05 artinya ada perbedaan yang signifikan antara lama rawatan rata-rata berdasarkan sumber biaya. Lama rawatan rata-rata penderita PPOK yang menggunakan biaya sendiri relatif lebih singkat (5,47 hari) dibandingkan Jamkesmas (7,25 hari), Perusahaan (8,38 hari) dan Askes (9,19 hari). Hal ini kemungkinan karena keluarga ingin merawat pasien di rumah saja dan biaya rumah sakit yang mahal. Penderita PPOK yang menggunakan Askes lebih lama dirawat hal ini kemungkinan karena penderita yang berobat dengan Askes dapat memanfaatkan pelayanan
kesehatan yang optimal dengan lama rawatan yang lebih lama dibandingkan penderita yang datang dengan biaya sendiri.
6.13. Lama Rawatan Rata-Rata Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang
Lama rawatan rata-rata berdasarkan keadaan sewaktu pulang penderita PPOK yang rawat inap di RS Martha Friska tahun 2010-2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 6.17. Diagram Bar Lama Rawatan Rata-Rata Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di RS Martha Friska Medan Tahun 2010-2011 Berdasarkan gambar 6.17 dapat dilihat bahwa lama rawatan rata-rata penderita PPOK yang meninggal adalah 5,9 hari, lama rawatan rata-rata penderita PPOK yang Pulang Atas Permintaan Sendiri (PAPS) adalah 8,18 hari, dan lama rawatan rata-rata penderita PPOK yang Pulang Berobat Jalan (PBJ) adalah 8,61 hari.
Analisis statistik dengan menggunakan uji Anova diperoleh p>0,05 yang berarti secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama rawatan rata-rata berdasarkan proporsi keadaan sewaktu pulang.
BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan
7.1.1. Proporsi umur penderita PPOK tertinggi pada kelompok umur 65-73 tahun 35,3% dengan proporsi laki-laki 29,3% dan perempuan 6%, proporsi suku Batak 52,1%, proporsi agama Islam 55,1%, proporsi pendidikan SLTA 58,1%, proporsi pekerjaan PNS/TNI/Pensiunan 63,4%, dan proporsi daerah asal dari kota Medan 86,2%.
7.1.2. Proporsi penderita PPOK berdasarkan riwayat penyakit sebelumnya yang tercatat lebih tinggi adalah asma bronkial 67,7 %.
7.1.3. Proporsi penderita PPOK berdasarkan riwayat merokok yang tercatat adalah 87,5%.
7.1.4. Proporsi penderita PPOK berdasarkan keluhan tertinggi adalah batuk 91%. 7.1.5. Lama rawatan rata-rata penderita PPOK 8 hari.
7.1.6. Proporsi penderita PPOK berdasarkan sumber pembiayaan tertinggi askes 63,4%.
7.1.7. Proporsi penderita PPOK berdasarkan keadaan sewaktu pulang tertinggi adalah pulang berobat jalan 80,8%.
7.1.8. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara umur penderita PPOK berdasarkan riwayat merokok (p=0,499).
7.1.9. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara jenis kelamin penderita PPOK berdasarkan riwayat merokok (p=0,504).
7.1.10. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara jenis kelamin penderita PPOK berdasarkan riwayat penyakit sebelumnya (p=0,245).
7.1.11. Ada perbedaan yang bermakna antara proporsi riwayat merokok penderita PPOK berdasarkan riwayat penyakit sebelumnya (p=0,005).
7.1.12. Ada perbedaan yang signifikan antara lama rawatan rata-rata berdasarkan sumber biaya (p=0,003).
7.1.13. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama rawatan rata-rata berdasarkan keadaan sewaktu pulang (p=0,083).
7.2. Saran
7.2.1. Diharapkan kepada pihak RS Martha Friska Medan dapat lebih melengkapi pencatatan data riwayat penyakit sebelumnya, riwayat merokok dan tingkat keparahan pada kartu status.
7.2.2. Diharapkan kepada pemerintah melalui Dinas Kesehatan, Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan memberikan informasi tentang bahaya merokok dan mempersempit ruang untuk merokok.
DAFTAR PUSTAKA
1. Depkes RI, 1999. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. Jakarta.
2. Aditama, Tjandra Yoga, 2004. Beban Ganda Kesehatan.
3. Bustan, M.N., 2000. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Rineka Cipta, Jakarta.
4. Bahar, dkk., 2003. Cardiovascular Respiratory Immunology From Pathogenesis To Clinical Application 2003. Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Jakarta.
5. WHO, 2008. The Top Ten Causes of Death 2004. http://www.who.int/whr/ 6. WHO, 2007. Global Programme on Evidence for Health Policy World
Health Organization. http://www.who.int/health info/ statistic/ copd.
7. Amin, M., 1996. PPOM : Polusi Udara, Rokok dan Alfa–1 Antitripsin. Cetakan pertama, Airlangga University Press, Surabaya.
8. WHO, 2007. The Top Ten Causes of Death 2002. http://www.who.int/whr/ 9. Yunus, F., 2005. Masa Depan Tatalaksana Penyakit Obstruksi Saluran Napas
dengan Tinjauan Faal Paru dan Kualitas Hidup Penderita. Majalah Kedokteran Indonesia, Vol.55, No.9. Hal : 606-612.
10.Bahar, Asril., 2001. Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) Penatalaksanaan Paripurna. Bagian Internal FKUI, Jakarta.
11.Aditama, 2002. Paru Kita Masalah Kita. Majalah Kesehatan Medika Tahun XXVIII, No.11. Hal : 743-745, Jakarta.
12.Shinta, Dewi, 2008. Studi Penggunaan Antibiotik pada Eksaserbasi Akut Penyakit Paru Obstruktif Kronis: Studi pada Pasien IRNA Medik di Ruang Paru Laki dan Paru Wanita RSU Dr. Soetomo Surabaya. Airlangga University, Surabaya.
13.Hisyam, dkk., 2001. Pola Mikroba pada Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) Eksaserbasi di RS dr. Sardjito, Yogyakarta.
14.Chrysti, 2004. Karakteristik Penderita Penyakit Paru Obstruksi Kronik yang Dirawat di RS Haji Medan Tahun 2000-2002. Skripsi FKM Universitas Sumatera Utara, Medan.
15.Rolina, 2009. Karakteristik Penderita Penyakit Paru Obstruksi Kronik yang Rawat Jalan di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4) Medan Tahun 2004-2008. Skripsi FKM Universitas Sumatera Utara, Medan.
16.Syaifiddin, 2002. Struktur dan Komponen Tubuh Manusia. Widya Medika, Jakarta.
17.Amin, M, dkk., 1989. Pengantar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga University Press, Surabaya.
18.Rab, T., 1996. Ilmu Penyakit Paru. Universitas Riau, Pekanbaru.
19.Tierney, M, dkk., 2002. Diagnosis dan Terapi Kedokteran. Salemba Medika, Jakarta.
20.Soeparman, dkk., 1990. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
21.American Lung Association 2011. Trends In COPD (Chronic Bronchitis and Emphysema): Morbidity and Mortality.
http://www.lung.org/finding-cures/our-research/trend-reports/copd-traend-report
22.Katharina Sihombing., 2005. Strategi Penanggulangan Penyakit Paru Obstruksi Kronik yang Kambuh di RSU dr. Pirngadi Medan Tahun 2005: study cross-sectional.. Tesis Universitas Sumatera Utara, Medan. 23.Mukono, H.J., 2003. Pencemaran Udara dan Pengaruhnya terhadap
Gangguan Saluran Pernapasan. Airlangga University Press, Surabaya. 24.Alsagaff, Hood., 2005. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga
University Press, Surabaya.
25.Ikawati, Z., 2008. Farmakoterapi Penyakit Sistem Pernapasan. Pustaka Adipura, Yogyakarta.
26.Yunus, dkk., 2008. Proses Metabolisme pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), Majalah Resmi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Vol. 28, No. 3. Hal : 155-163.
27.Budiarto dkk., 2003. Pengantar Epidemiologi, Edisi Kedua. Penerbit: Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
28.Beaglehole,R, dkk., 1997. Dasar – dasar Epidemiologi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
29.Setiyanto, H., dkk., 2008. Pola Sensitiviti Kuman PPOK Eksaserbasi Akut yang Mendapat Pengobatan Echinacea Purpurea dan Antibiotik Siprofloksasin. Jurnal Respirologi Indonesia Vol. 28, No.3.
30.Depkes RI, 2002. Profil Kesehatan Indonesia 2001. Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS).