Halaman
1. Jumlah Mahasiswa Program Sarjana Phasing Out Berdasarkan
Tahun Masuk dan Jenis Kelamin ... 99 2. Jumlah Mahasiswa Program Sarjana Mayor-Minor Tahun Masuk 2005
Berdasarkan Jenis Kelamin ... 100 3. Jumlah Persentase Mahasiswa Asal Daerah Program Sarjana
Tahun Masuk 2001 s/d 2005 ... 101 4. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi kurikulum ... 102 5. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi sistem penerimaan
mahasiswa baru ... 102 6. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi dosen ... 103 7. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi proses
belajar mengajar ... 104 8. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi proses belajar mengajar
Tingkat Persiapan Bersama (TPB) ... 104 9. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi KKP/KKN/PL/ Magang . 105 10. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi penyelesaian studi ... 105 11. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi tugas akhir ... 106 12. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi ujian akhir ... 106 13. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi proses
penyelesaian akhir ... 107 14. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi wisuda ... 107 15. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi
pembimbingan akademik ... 108 16. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi fasilitas ruang kuliah... 108 17. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi fasilitas praktikum
laboratorium ... 109 18. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi fasilitas
praktikum lapangan ... 109 19. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi perpustakaan ... 110
20. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi evaluasi hasil belajar .... 110 21. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi layanan administrasi
pendidikan ... 111 22. Diagram Kartesius atribut-atribut pada dimensi output ... 111
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Era globalisasi saat ini ditandai dengan berbagai perubahan yang serba cepat dalam bidang komunikasi, informasi, dan teknologi. Oleh karena itu, setiap organisasi baik yang bergerak dibidang manufaktur maupun jasa dapat bersaing secara global dalam meningkatkan kualitasnya. Upaya untuk mengevaluasi dan meningkatkan kualitas dan produktivitas suatu organisasi merupakan langkah yang baik untuk kemajuan suatu perusahaan.
Respon perubahan akan menentukan kemampuan organisasi memenangkan persaingan global. Menurut Cravens (1994), respon suatu organisasi terhadap perubahan pola-pola persaingan global biasanya dilakukan dalam bentuk-bentuk : (1) penyesuaian ukuran bisnis; (2) perubahan produk dan atau lingkup pasar, atau (3) penciptaan hubungan kerja yang baru dengan organisasi lain.
Pihak yang menentukan kualitas jasa pelayanan adalah pelanggan. Oleh karena itu, perusahan perlu mengetahui sejauh mana tingkat kepuasan pelanggan dan apa kebutuhan pelanggan yang perlu dipenuhi oleh perusahaan. Informasi mengenai jumlah pelanggan yang merasa puas dan tidak puas mencakup informasi tentang dalam hal apa ketidakpuasan itu terjadi, dapat diperoleh melalui survei kepuasan konsumen. Dengan mengetahui variabel- variabel yang menyebabkan kepuasan dan ketidakpuasan konsumen, pihak manajemen dapat mengantisipasi langkah-langkah yang perlu diambil perusahaan.
Konsumen akan memiliki harapan mengenai bagaimana produk tersebut seharusnya berfungsi (performance expectation), harapan tersebut adalah standar kualitas yang akan dibandingkan dengan fungsi atau kualitas produk yang sesungguhnya dirasakan konsumen. Fungsi produk yang sesungguhnya dirasakan konsumen (actual performance) sebenarnya adalah persepsi konsumen terhadap kualitas produk tersebut.
Mengukur kepuasan pelanggan sangat bermanfaat bagi perusahaan dalam rangka mengevaluasi posisi perusahaan saat ini dibandingkan dengan pesaing dan pengguna akhir, serta menemukan bagian mana yang membutuhkan peningkatan. Umpan balik dari pelanggan secara langsung atau dari focus group atau dari keluhan pelanggan merupakan alat untuk mengukur
kepuasan pelanggan (Rangkuti 2002). Pelanggan dalam menilai kualitas jasa/pelayanan menggunakan lima dimensi, yaitu: reliability, responsiveness, assurance, empathy, dan tangibles (Zeithaml et al. 1990).
Perguruan tinggi merupakan salah satu organisasi yang bergerak dalam bidang jasa pendidikan. Pada saat ini, di Indonesia terdapat 50 perguruan tinggi negeri dan 402 perguruan tinggi swasta (Wikipedia 2007). Persaingan yang semakin ketat antar perguruan tinggi tersebut mengharuskan perlunya peningkatan kualitas terutama kualitas penyelenggaraan akademik.
Tantangan pendidikan tinggi Indonesia diantaranya adalah adanya pergeseran tuntutan masyarakat akan kualitas lulusan perguruan tinggi yang memiliki knowledge dan skill. Semakin ketatnya kompetisi lulusan perguruan tinggi dalam memasuki dunia kerja membuat semakin ketat pula kompetisi perguruan tinggi dalam memperoleh calon mahasiswa, termasuk dengan perguruan tinggi asing.
Institut Pertanian Bogor (IPB) merupakan salah satu perguruan tinggi negeri terbesar di Indonesia. Pada tanggal 26 Desember 2000 melalui Peraturan pemerintah Nomor 154 IPB telah ditetapkan menjadi Institut Pertanian Bogor sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Dengan penetapan ini, IPB dalam menyelenggarakan kegiatannya bersifat otonom. BHMN adalah badan hukum yang bersifat nirlaba. Keuntungan yang dipakai dari usaha bisnis yang dijalankan harus dimanfaatkan sepenuhnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan tinggi ini dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing nasional secara global.
Perubahan kurikulum merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, pada tahun akademik 2005/2006 berdasarkan SK Rektor No.001/K13/PP/2005, IPB mulai menerapkan sistem Mayor-Minor. Sistem ini merupakan sistem kurikulum berbasis kompetensi yang dilaksanakan oleh departemen yang dapat memberikan keleluasaan dalam meramu mata ajaran untuk memperluas wawasan dan meningkatkan efisiensi penyelenggaraan, serta dapat meningkatkan mutu dan relevansi program pendidikan (Chozin 2006).
Untuk menyempurnakan kurikulum yang baru yaitu sistem Mayor-Minor, perlu dilakukan survei dengan membandingkan antara kepuasan mahasiswa
Penelitian ini dapat memberikan strategi dalam meningkatkan kepuasan pelayanan akademik kepada mahasiswa.
Tujuan Tujuan umum
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepuasan mahasiswa IPB terhadap penyelenggaraan akademik IPB serta strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepuasan mahasiswa.
Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi karakteristik sosial ekonomi mahasiswa IPB;
2. Mengidentifikasi atribut-atribut yang akan digunakan untuk mengukur kepuasan mahasiswa IPB terhadap penyelenggaraan akademik;
3. Menganalisis kepuasan mahasiswa IPB terhadap penyelenggaraan akademik;
4. Menganalisis perbedaan kepuasan mahasiswa phasing-out dan mayor- minor terhadap penyelenggaraan akademik; dan
5. Merumuskan strategi untuk meningkatkan kepuasan mahasiswa IPB terhadap penyelenggaraan akademik.
Kegunaan
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi mengenai tingkat kepuasan mahasiswa IPB terhadap penyelenggaraan akademik dan strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepuasan mahasiswa. Masukan ini menjadi bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan di IPB dalam mengambil kebijakan guna meningkatkan kualitas penyelenggaraan akademik.