• Tidak ada hasil yang ditemukan

Landasan dan Asas Koperasi di Indonesia

BAB II PENGATURAN KOPERASI SIMPAN PINJAMN DI

B. Landasan dan Asas Koperasi di Indonesia

Untuk mendirikan koperasi yang kokoh perlu adanya landasan tertentu.

Landasan ini merupakan suatu dasar tempat berpijak yang memungkinkan koperasi untuk tumbuh dan berdiri kokoh serta berkembang dalam pelaksanaan usaha-usahanya untuk mencapai tujuan dan cita-citanya. Faktor utama yang menentukan terbentuknya koperasi adalah adanya sekelompok orang yang telah seia sekata untuk mengadakan kerja sama. Oleh karena itu landasan koperasi terutama terletak pada anggota-anggotanya. Dalam sistem hukum di Indonesia, koperasi telah mendapatkan tempat yang pasti, sehingga landasan hukum koperasi di Indonesia sangat kuat. Namun demikian perlu disadari bahwa perubahan sistem hukum dapat berjalan lebih cepat dari pada perubahan alam pikiran dan kebudayaan masyarakat sehingga koperasi dalam kenyataannya belum berkembang secepat yang diinginkan meskipun memiliki landasan hukum yang kuat.46

1. Landasan Idiil

Pasal 2 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian menyatakan, Koperasi berlandaskan atas:

Yang dimaksud dengan landasan idiil koperasi adalah dasar atau landasan yang digunakan dalam usaha untuk mencapai cita-cita

45Ibid, hlm. 26.

46Pandji Anoraga, Ninik Widiyanti, Op. Cit, hlm. 8.

koperasi47. Sesuai dengan Bab II Undang-Undang No.25 Tahun 1992, Landasan idil Koperasi Indonesia adalah Pancasila.Penempatan Pancasila sebagai landasan Koperasi Indonesia ini didasarkan atas pertimbangan bahwa Pancasila adalah pandangan hidup dan ideologi bangsa Indonesia. Ia merupakan jiwa dan semangat bangsa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta merupakan nilai-nilai luhur yang ingin diwujudkan oleh bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-harinya.48Dengan berdasarkan pada Pancasila, maka dapat dijabarkan masing-masing sila dari Pancasila tersebut dalam kaitannya dengan Koperasi Indonesia, seperti berikut:49

a. Sila Ke-Tuhanan Yang Maha Esa

Sila pertama mengandung makna bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang percaya bahwa adanya Tuhan Yang Maha Esa.

Inti dari ajaran ini manifestasinya adalah cinta kasih terhadap sesama. Barang siapa mencintai sesamanya berarti mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Tuhan.50

a) Keanggotaan koperasi terbuka untuk semua penganut agama/kepercayaan dan semua golongan serta tiap anggota koperasi wajib menghormati agama atau kepercayaan yang dianut oleh masing-masing anggota lainnya.

Penerapan sila Ke-Tuhanan Yang Maha Esa dalam koperasi dapat dijabarkan seperti berikut:

47Ibid.

48Revrisond Baswir,Koperasi Indonesia, (Yogyakarta: BPFE, 2000), hlm. 36.

49R.T. Sutantya Rahadja Hadhikusuma, Op. Cit., hlm. 32.

50Nindyo Pramono, Beberapa aspek koperasi pada umumnya dan koperasi indonesia di dalam perkembangan, (Yogyakarta: TPK Gunung Mulia, 1986), hlm. 78.

b) Koperasi sangat mendambakan dan mementingkan kejujuran.

Baik Pengurus, Badan Pemeriksa, Anggota Koperasi, sebagai wujud dari pengamalan sila Ke-Tuhanan Yang Maha Esa harus melakukan kujujuran dalam koperasi

c) Koperasi harus menentang semua tindakan atau praktek-praktek yang bertentangan dengan ajaran cinta kasih atau perbuatan yang tidak manusiawi.

b. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Rasa kemanusiaan adalah sangat penting bagi manusia dalam hidup bermasyarakat. Mereka harus saling menghargai diantara sesamanya, sesuai dengan harkat martabatnya.Pengamalan danpenerapan sila Kemanusiaan yangAdil dan Beradab dalam koperasi, dapat diuraikan seperti berikut:

a) Koperasi tidak membedakan kedudukan sosial agamaserta golongan dari masing-masing anggotanya.

b) Semua anggota koperasi berhak mendapat perlakuan yang sama secara idiil.

c. Sila Persatuan Indonesia

Persatuan dan kesatuan dikembangkan atas dasar Bhineka Tunggal Ika dengan memajukan pergaulan antara sesama manusia Indonesia.

Penerapan sila Persatuan Indonesia didalam koperasi Indonesia tidak mengenal perbedaan agama, suku, politik atau status sosial anggota koperasi untuk bersatu dalam wadah koperasi. Koperasi harus

mampu menempatkan rasa solidaritas tanpa memandang asal-usul, kaya miskin bagi para anggotanya.

d. Sila kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalamPermusyawaratan/Perwakilan.

Penerapan sila keempat dari Pancasila di dalam koperasi adalah bahwa dalam perkumpulan koperasi sistem musyawarah untuk mufakat, harus sepenuhnya dilaksanakan dan menjadi landasan setiap tindakan atau kebijaksanaan dalam koperasi Indonesia.

Seandainya terdapat suatu perbedaan pendapat atau perselisihan pendapat, maka hal tersebut harus dipecahkan atau diselesaikan melalui musyawarah atau mufakat dlam suatu rapat anggota.

e. Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat indonesia.

Yang dimaksud dengan keadilan sosoal adalah keadilan yang berlaku dalam masyarakat. Masyarakat perlu dibangun oleh manusia sebagai bagian atau anggota dari masyarakat itu sendiri.

Pembangunan dan penikmatan pembangunan masyarakat perlu dibagi secara adil. Adil disini dilihat dari sudut atau kacamata/

persepsi masyarakat. Keadilan sosial ialah keadilan yang memberikan kepada masing-masing bagiannya, dalam segala hasil kegiatan kebudayaan dalam masyarakat51

Adapun penerapan atau pelaksanaan sila keadilan sosial dalam koperasi tercermin dalam hal antara lain:Koperasi tidak hanya

.

51Notohamidjojo, Rahasia Hukum, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1973), hlm. 13.

bekerja untuk kepentingan anggota, tetapi diharapkan juga dapat berperan dalaam menunjang kepentingan masyarakat sekitarnya.

2. Landasan Strukturil

Pada Bab II UU No.25 Tahun 1992 menempatkan UUD 1945 sebagai landasan strukturil Koperasi Indonesia. Yang dimaskud dengan landasan Strukturiil Koperasi adalah tempat berpijak koperasi dalam susunan hidup bermasyarakat52.Di Indonesia berlaku UUD 1945 yang merupakan ketentuan atau tata tertib dasar yang mengatur terelenggaranya falsafah hidup dan moral cita-cita suatu bangsa dan karena Koperasi di Indonesia adalah Undang-Undang Dasar 1945.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, salah satu bagian yang penting adalah kehidupan ekonomi yaitu segala kegiatan dan usaha untuk mengatur dan mencapai atau memenuhi kebutuhan dan keperluan hidup.

Segala kegiatan dan usaha ini juga telah diatur dalam UUD 1945 pada Pasal 33 ayat 1 yang berbunyi : “ Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan”. Dan didalam penjelasan Pasal 33 ayat 1 UUD 1945 disebutkan bahwa bangun usaha yang sesuai dengan itu ialah koperasi. Dengan demikian Koperasi merupakan perwujudan dari Pasal 33 ayat 1 UUD 1945 tersebut.53

3. Landasan Mental Koperasi Indonesia

Landasan Mental koperasi Indonesia adalah kawan dan kesadaran berpribadi.Rasa setia telah ada dalam masyarakat Indonesia sejak dulu dan merupakan sifat asli bangsa Indonesia.Sifat ini tercermin

52Pandji Anoraga dan Ninik Widiyanti, Op. Cit., hlm. 8.

53Ibid, hlm. 9.

dalam bentuk perbuatan dan tingkah laku yang nyata sebagai kegiatan gotong-royong.Tetapi landasan setia kawan saja hanya dapat memelihara persekutuan dalam masyarakat yang statis bukan dinamis dan karenanya tidak dapat mendorong kemajuan. Oleh sebab itu rasa setia kawan haruslah disertai dengan kesadaran akan harga diri berpribadi, keinsafan akan harga diri sendiri dan percaya pada diri sendiri adalah mutlak untuk menaikkan derajat penghidupan dan kemakmuran. Oleh karena itu dalam Koperasi harus tergabung ke dua landasan mental di atas, yaitu setia kawan dan kesadaran berpribadi sebagai dua unsur yang dorong-mendorong, hidup-menghidupi dan awas mengawasi54

Koperasi Indonesia berasaskan kekeluargaan, hal ini secara jelas tertuang di dalam ketentuan Bab II, Bagian Pertama, Pasal20 UU.25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.Asas kekeluargaan ini adalah asas yang memang sesuai dengan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia dan telah berurat-berakar dalam jiwa bangsa Indonesia.

. Asas Koperasi Indonesia

55

Koperasi sebagai suatu usaha bersama, harus mencerminkan ketentuan-ketentuan seperti lazimnya dalam suatu kehidupan keluarga.Di dalam suatu keluarga, terlihat bahwa segala sesuatu yang dikerjakansecara bersama-sama adalah ditujukan untukkepentingan berwsama seluruh anggota keluarga.Usaha

54Ibid, hlm.9-10.

55R.T. Sutantya Rahadja Hadhikusuma, Op. Cit., hlm.37.

bersama berdasarkan asas kekeluargaan ini biasanya disebut dengan istilah gotong royong, yang mencerminkan semangat kebersamaan.56

Gotong royong dalam pengertian kerja sama pada koperasi mempunyai mempunyai pengertian luas, yaitu:57

a. Gotong royong dalam ruang lingkup organisasi.

b. Bersifat terus-menerus dan dinamis.

c. Dalam bidang atau hubungan ekonomi.

d. Dilaksanakan dengan terencana dan berkesinambungan.

Dengan demikian, meskipun koperasi merupakan usaha bersama, namun hal ini lain dengan maatschap seperti diatur dalam Kitab Undang-Undang Perdata (KUHPer). Sebab maatschap pada umumnya didasarkan pada suatu perikatan atau sudah diatur bentuknya, seperti misalnya Indonesische Maatschappijop Aandelen (IMA), dan merupakan usaha bersama berdasarkan atas perseorangan atau individualistik.58

Dalam koperasi, yang dimaksudkan dengan usaha bersama di sini adalah berdasarkan kekeluargaan, dengan pengertian bukan merupakan asas keakraban.Istilah asas kekeluargaan secara historis di dalam siding-sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) dan Panitia Persiapa Kemerdekaan Indonesia, diperlawankan dengan perseorangan.Istilah asas perseorangan adalah istilah Indonesiauntuk pengertian individualistik,

56Ibid, hlm. 38.

57Nindyo Pramono,Op. Cit., hlm. 18.

58 Padmo Wahjono, Dasar-dasar Demokrasi Ekonomi Kita, (Suatu tinjauan dari segi Ketatanegaraan), Makalah, disampaikan dalam Panel Diskusi di FH UNTAR, Jakarta, 20 Mei 1990.

sedangkan asas kekeluargaan adalah untuk menerjemahkan istilah integralistik atau non-individualistik.59

C. Bentuk dan Jenis Koperasi Indonesia 1. Bentuk Koperasi Indonesia

Ketentuan Pasal 15 Undang-Undang No.25 Tahun 1992 menyatakan bahwa Koperasi dapat berbentuk Koperasi Primer atau Koperasi Sekunder.Koperasi Sekunder, menurut Penjelasan dari Undang-Undang tersebut, adalah meliputi semua koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan Koperasi Primer dan/atau Koperasi Sekunder. Berdasarkan kesamaan kepentingan dan tujuan efisiensi, Koperasi Sekunder dapat didirikan oleh koperasi sejenis maupun berbagai jenis atau tingkatan. Dalam hal koperasi mendirikan Koperasi Sekunder dalam berbagai tingkatan, seperti yang selam ini dikenal sebagai Pusat, Gabungan, dan Induk, maka jumlah tingkatan maupun penamaannya diatur sendiri oleh Koperasi yang bersangkutan.60

Jika dilihat kembali ketentuan Pasal 15 dan 16 Undang-Undang No.12 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Koperasi beserta penjelasannnya, maka dapat diketahui adanya empat tingkatan organisasi koperasi yang didasarkan atau disesuaikan dengan tingkat daerah administrasi pemerintahan. Empat tingkatan koperasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:61

a. Induk Koperasi, terdiri dari sekurang-kurangnya 3 (tiga) gabungan koperasi yang berbadan hukum. Induk Koperasi ini daerah

59Ibid.

60 T. Sutantya Rahadja Hadhikusuma, Op. Cit., hlm.59.

61Ibid, hlm.60.

kerjanya adalah Ibu Kota Negara Reoublik Indonesia (tingkat Nasional).

b. Gabungan Koperasi, terdiri dari sekurang-kurangnya 3 (tiga) Pusat Koperasi yang berbadan hukum. Gabungan koperasi ini daerah kerjanya adalah Daerah Tingkat I (tingkat Provinsi).

c. Pusat koperasi, terdiri dari sekurang-kurangnya 5 (lima) Koperasi Primer yang berbadan hukum. Pusat Koperasi ini daerah kerjanya adalah Daerah tingkat II (Tingkat kabupaten).

d. Koperasi Primer, terdiri dari sekurang-urangnya 20 (dua puluh) orang yang telah memenuhi syarat-syarat keanggotaan sebagaimana ditentukan dalam undang-undang.

Dengan tingkatan organisasi koperasi seperti tersebut, maka koperasi tingkat atas mempunyai kewajiban memberi bimbingan dan pula mempunyai kewajiban memberi bimbingan dan pula mempunyai wewenang untuk mengadakan pemeriksaan pada koperasi tingkat bawah, dengan tanpa mengurangi hak koperasi tingkat bawah.

Adanya kerja sama yang baik di dalam organisasi koperasi dari tingkat Pusat sampai pada tingkat daerah, atau dari tingkat atas sampai pada tingkat bawah, akan dapat memajukan usaha koperasi secara keseluruhan62

Pemusatan koperasi menjadi empat tingkat organisasi dalam kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan ini, mempunyai beberapa keuntungan, yaitu:

.

63

a. Menghilangkan atau menekan kemungkinan persaingan yang tidak sehat di antara koperasi-koperasi yang ada.

62Nindyo Pramono, Op. Cit., hlm. 113.

63 Tom Gunadi, Sistem Perekonomian menurut Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, (Bandung: Angjkasa, 1981), hlm. 244.

b. Diantara koperasi-koperasi tersebut, ada hubungan saling melengkapi dalam suasana asas kekeluargaan, beban diperingan, biaya usaha dapat dikurangi, dan harga dapat ditekan serendah mungkin.

c. Dengan bekerjanya asas kebebasan yang bertanggung jawab (subsiaritas) dijamin sehatnya sector koperasi dari sudut kehidupan organisasi dan usaha :

a) Koperasi primer atau salah satu tingkat organisasi lain yang kuat, dapat terus maju dengan tenaganya sendiri dan menjadi dasar yang sehat bagi tingkat organisasi di atasnya, sedangkan yang lemah dibantu oleh tingkat organisasi di atasnya (permodalan, administrasi dan manajemen).

b) Masalah-masalah dalam koperasi dapat di atasi dalam lingkungan kerja samanya sendiri, dan ini berarti berkurangnya atau hilangnya gantungan pada perusahaan atau badan lain diluarnya atau bahkan dari sektor lain.

2. Jenis-Jenis Koperasi Indonesia

Secara umum, jenis-jenis koperasi di Indonesia telah diatur oleh Undang-undang, namun dalam kenyataannya jenis koperasi yang ada cukup beraneka ragam.Dalam ketentuan Pasal 82 ayat (2) Undang-Undang No.17 Tahun 2012 tentang Perkoperasianmenyatakan bahwa jenis koperasi didasarkan pada kesamaan kegiatan usaha dan/atau kepentingan ekonomi Anggota.

Sedangkan dalam Pasal 83 Undang-Undang No.17 Tahun 2012 tentang

Perkoperasian menyatakan bahwa64

a. Koperasi Konsumen

: “Jenis Koperasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 terdiri dari: a. Koperasi konsumen; b. Koperasi produsen; c.

Koperasi jasa; dan d. Koperasi Simpan Pinjam”.Untuk koperasi-koperasi yang dibentuk oleh golongan fungsional seperti pegawai negeri, anggota ABRI, karyawan dan sebagainya, bukanlah merupakan suatu jenis koperasi tersendiri.

Koperasi konsumen adalah koperasi yang anggota-anggotanya terdiri dari tiap-tiap orang yang mempunyai kepentingan langsung dalam lapangan konsumsi. Koperasi jenis ini biasanya menjalankan usaha untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari para anggotanya dan masyarakat sekitarnya65

b. Koperasi Produsen

.

Koperasi produsen menyelenggarakan kegiatan usaha pelayanan di bidang pengadaan sarana produksi dan pemasaran produksi yang dihasilkan Anggota kepada Anggota dan non-Anggota.

Koperasi Produksi yang berkembang saat ini bukanlah Koperasi Produksi menurut cita-cita aslinya (workshop), akan tetapi dapat disebut sebagai Koperasi Produsen, di mana produsen-produsen membentuk suatu Koperasi yang membantu anggota-anggotanya untuk mempelancar usaha produksinya dengan jalan menyediakan bahan-bahan baku, mesin, dan peralatan produksi lainnya, prasarana pemasaran, atau menyediakan fasilitas untuk mengadakan pengolahan hasil anggota. Sedangkan produksi

64 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2012 tentang Perkoperasian

65T. Sutantya Rahadja Hadhikusuma, Op. Cit., hlm.64.

“dasar” dan alat produksi “dasar” tetap dilakukan dan dikuasai oleh pemiliknya.66

c. Koperasi Jasa.

Koperasi Jasa merupakan koperasi yang mengkhususkan usahanya dalam memproduksi dan memasarkan kegiatan jasa tertentu.Koperasi ini memiliki tujuan utama yaitu untuk menyatukan potensi ekonomi yang dimiliki oleh masing-masing anggota. Dengan menyatukan potensi ekonominya, maka masing-masing anggota Koperasi jasa akan dapat mengembangkan potensi itu secara lebih optimal. Contoh koperasi jasa-jasa adalah Koperasi Kredit, Koperasi Jasa Angkutan, dan Koperasi Pemasaran67

d. Koperasi Simpan Pinjam

.

Koperasi Simpan Pinjam atau Koperasi Kredit adalah koperasi yang bergerak dibidang pemupukan simpanan dari para anggotanya, untuk kemudian dipinjamkan kembali kepada para anggota yang memerlukan bantuan modal.Selain bertujuan untuk mendidik anggotanya agara bersikap hemat serta gemar menabung.Koperasi kredit biasanya juga bertujuan untuk membebaskan para anggotanya dari oara renternir68

Dalam memberikan pelayanan itu pengurus Koperasi Simpan Pinjam selalu berusaha supaya ongkos (bunga) diterapkan serendah mungkin agar dirasakan ringan oleh para

.

66Pandji Anoraga dan Ninik Widiyanti, Op. Cit., hlm.24.

67Ibid, hlm. 80.

68 Notonagoro, Op. Cit., hlm. 76.

anggotanya.Selain itu berul-betul digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Koperasi Kredit atau Koperasi Simpan Pinjam ialah koperasi yang bergerak dalam lapangan usaha pembentukan modal melalui tabungan-tabungan para anggota secara teratur dan terus menerus untuk kemudian dipinjamkan kepada para anggota dengan cara mudah, murah, cepat, dan tepat untuk tujuan produktif dan kesejahteraan.

Tujuan Koperasi Kredit adalah :

a) Membantu keperluan kredit para anggota, yang sangat membutuhkan denga syarat-syarat yang ringan.

b) Mendidik kepada para anggota, supaya giat menyimpan secara teratur sehingga membentuk modal sendiri.

c) Mendidik anggota berhemat dengan menyisihkan sebagian dari pendapatan mereka.

d) Menambah pengetahuan tentang perkoperasian.

Untuk memperbesar modal koperasi, maka sebagian keuntungan tidak dibagikan kepada anggota dan dicadangkan.Bila modal koperasi besar, kemungkinan pemberian kredit kepada para anggota dapat diperluas.Untuk mencapai tujuan dari pemberian kredit, perlu adanya pengawasan terhadap penggunaan kredit yeng telah diberikan, sehingga penyelewenangan terhadap penggunaannya dapat dihindarkan.

D. Aspek Yuridis Koperasi 1. Pendirian Koperasi

Koperasi pada hakekatnya merupakan satu perkumpulan orang-rang yang mempunyai satu kepentingan yaitu secara bersama-sama, bahu membahu penuh kegotongroyongan untuk mencapai satu tujuan bersama, yaitu peningkatan taraf hidup sesama anggotanya dan kalau mungkin peningkatan hidup masyarakat di lingkungan daerah kerjanya, yang sama-sama ekonominya (relative) lemah.69

Dapat dilihat betapa besarnya tugas yang dipikul oleh koperasi untuk menumbuhkan pengertian dan kepercayaan masyarakat terhadap arti pentingnya koperasi. Padahal masyarakat baru akan menerima dan berusaha mendirikan koperasi bila mereka telah memiliki pengertian yang jelas mengenai lembaga ini. Dengan demikian, agar masyarakat terdorong untuk mendirikan koperasi, kepada mereka perlu ditanamkan pengertian dan kegunaan koperasi, baik bagi perwujudan perekonomian nasional yang berasas kekeluargaan padaa umumnya maupun bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat golongan ekonomi lemah pada khususnya.70

Secara jelas, pendirian koperasi diatur di dalam Pasal 7-15 UU No 17 tahun 2012 tentang Perkoperasian. Dalam Pasal 7 dikatakan bahwa koperasi primer didirikan oleh paling sedikit 20 (dua puluh) orang perseorangan dengan memisahkansebagian kekayaan pendiri atau anggota sebagai modal awal

69 G. Kartasapoetra dkk, Koperasi Indonesia yang Berdasarkan Pancasila & UUD 1945 (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2001), hlm. 115.

70Revrisond Baswir, Op. Cit., hlm. 109.

koperasi, sedangkan koperasi sekunder didirikan oleh paling sedikit 3 (tiga) koperasi primer.71

Persyaratan untuk mendirikan koperasi yang biasanya telah tertuang dalan Undang-undang ataupun Peraturan Koperasi antara lain adalah seperti berikut:72

a. Orang-orang yang mendirikan koperasi harus mempunyai kepentingan ekonomi yang sama.

b. Orang-orang yang akan mendirikan koperasi harus mempunyai tujuan yang sama.

c. Harus memenuhi syarat jumlah minimum anggota, seperti telah ditentukan oleh pemerintah.

d. Harus telah dibuat konsep anggaran dasar koperasi.

Jika persyaratan tersebut telah ada, maka orang-orang yang memprakarsai pembentukan koperasi tersebut mengundang untuk rapat pertama, sebagai rapat pendirian koperasi.Konsep anggran dasar koperasi seharusnya telah dipersiapkan terlebih dahulu oleh Panitia Pendiri, yang nantinya dibahasa dan disahkandalam rapat pendirian.Dalam rapat pendirian ini selain disahkan anggaran dasar koperasi, juga dibentuk pengurus dan pengawas.Setelah perangkat organisasi koperasi terbentuk dalam rapat pendirian tersebut, maka untuk selanjutnya pengurus koperasi (yang juga pendiri) mempunyai kewajibaan mengajukan permohonan pengesahan kepada pejabat yang berwewenang secara tertulis disertai Akta Pendirian Koperasi dan Berita Acara Rapat Pendirian.Dalam Akta Pendirian koperasi ini tertuang

71Psl 7 UU No. 17 tahun 2012 tentang Perkoperasian.

72R.T. Sutantya Rahadja Hadhikusuma, Op. Cit., hlm.66-67.

Anggaran Dasar Koperasi yang telah disahkan dalam rapat pendirian, serta tertuang pula nama-nama anggota pengurus (yang pertama) yang diberi kewenangan untuk melakukan kepengurusan dan mengajukan permohonan pengesahan kepada pejabat yang berwewenang.73

Sebagai suatu badan usaha yang berstatus badan hukum (rechts person), maka keberadaan koperasi diakui seperti manusia/orang (person) atau subyek hukum yang memiliki kecakapan bertindak, memiliki wewenang untuk mempunyai dan mencari harta kekayaan, serta dapat melakukan perbuatan-perbuatan hukum seperti: membuat perjanjian-perjanjian apapun, menggugat dan digugat di muka pengadilan, dan sebagaainya.

2. Perangkat Organisasi Koperasi Indonesia

74

Sebagai suatu subyek hukum, koperasi adalah merupakan subyek hukum abstrak yang keberadaannya berdasar atas bentukan/rekayasa dari manusia/orang (person), untuk memenuhi kebutuhaan dari manusia itu sendiri dibidang ekonomi.Oleh karena koperasi adalah merupakan subyek hukum abstrak, maka untuk melaksanakan/menjalankan kegiatan usahanya atau untuk mengelola jalannya koperasi, perlu kehadiran subyek hukum manusia atau orang (person).Mereka ini disebut sebagai perangkat organisasi koperasi.75

a. Rapat Anggota

Didalam Undang-Undang No.25 Tahun 1992, ketentuan mengenai perangkat organisasi koperasi diatur dalamPasal 21 beserta penjelasannya, terdiri dari :

73Ibid, hlm. 67.

74Ibid, hlm.80.

75Ibid, hlm. 81.

Rapat Anggota merupakan Pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi, dan merupakan perwujudan kehendak dari para anggota koperasi untuk membicarakan segala sesuatu menyangkut kehidupan serta pelaksanaan koperasi.Dalam rapat anggota koperasi ini, para anggota koperasi bebas untuk berbicara, memberikan usul, pandangan dan tanggapan atau saran untuk kebaikan jalannya kehidupan koperasi.Keputusan-keputusan yang diambil dalam rapat anggota, harus diambil berdasarkan musyawarah untuk mencapai mufakat.Apabila keadaan memaksa karena tidak tercapainya mufakat, maka pengambilan keputusan berdasar atas suara terbanyak. Jika rapat anggota terpaksa mengambil keputusan dengan jalan pemungutan suara, maka hak suara setiap anggota adalah sama yaitu satu orang anggota satu suara. Bagi Koperasi Sekunder, ketentuan mengenai hak suara dalam pemungutan suara, ditentukan atau dilakukan secara berimbang. Perimbangan suara tersdebut ditentukan menurut pertimbangan jumlah anggota yang terhimpun oleh masing-masing koperasi dan jasa usaha koperasi-koperasi bersangkutan.Perimbangan suara ini, pengaturannya harus terlebih dahulu ditetapkan di dalam anggaran dasar koperasi bersangkutan.

Ketidakhadiran anggota koperasi di dalam Rapat Anggota yang diadakan, tidak dapat diwakilkan atau dikuasakan kepada orang lain.76

76T. Sutantya Rahadja Hadhikusuma, Op. Cit, hlm.81-82.

Rapat anggota menetapkan:77 a) Anggaran Dasar;

b) Kebijakan umum dibidang organisasi, manajemen, dan usaha Koperasi;

c) Pemilihan, pengangkatan, pemberhentian pengurus dan pengawas;

d) Rencana kerja, rencana anggaran pendapat dan belanja Koperasi, seta pengeswahan laporan keuangan;

e) Pengesahan pertanggungjawaban pengurus dalam pelaksanaan tugasnya;

f) Pembagian sisa hasil usaha;

g) Penggabungan, peleburan, pembagian, dan pembubaran Koperasi.

Didalam Undang-Undang No.25/1992 tentang Perkoperasian mengatur tentang rapat anggota dilakukan palin sedikit dalam 1 (satu) tahun.Rapat anggota untuk mengesahkan pertanggungjawaban pengurus diselenggarakan paling lama 6 (enam) bulan setelah tahun buku lampau.Selain Rapat Anggota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, koperasi dapat melakukan Rapat Anggota Luar Biasaapabila keadaan mengharuskan adanya keputusan segera yang wewenangnya ada pada Rapat Anggota.Rapat Anggota Luar Biasa dapat diadakan atas

Didalam Undang-Undang No.25/1992 tentang Perkoperasian mengatur tentang rapat anggota dilakukan palin sedikit dalam 1 (satu) tahun.Rapat anggota untuk mengesahkan pertanggungjawaban pengurus diselenggarakan paling lama 6 (enam) bulan setelah tahun buku lampau.Selain Rapat Anggota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, koperasi dapat melakukan Rapat Anggota Luar Biasaapabila keadaan mengharuskan adanya keputusan segera yang wewenangnya ada pada Rapat Anggota.Rapat Anggota Luar Biasa dapat diadakan atas

Dokumen terkait