• Tidak ada hasil yang ditemukan

Landasan Filosofis

Dalam dokumen Draft Awal Laporan NASKAH AKADEMIK (Halaman 151-155)

SOSIOLOGIS DAN YURIDIS

A. Landasan Filosofis

Peraturan perundang-undangan harus mendapatkan pembenaran yang dapat diterima secara filosofis (filsafat) yaitu berkaitan cita-cita kebenaran, keadilan dan kesusilaan. Filsafat atau pandangan hidup suatu bangsa berisi nilai moral dan etika dari bangsa tersebut. Moral dan etika pada dasarnya berisi nilai-nilai yang baik dan yang tidak baik. Nilai yang baik adalah nilai yang wajib dijunjung tinggi, di dalamnya ada nilai kebenaran, keadilan dan kesusilaan serta berbagai nilai lainnya yang dianggap baik. Pengertian baik, benar, adil dan susila tersebut menurut ukuran yang dimiliki bangsa yang bersangkutan. Hukum yang dibentuk tanpa memperhatikan moral bangsa akan sia-sia, kalau diterapkan tidak akan dipatuhi secara sempurna. Nilai yang ada nilai di Negara Indonesia tercermin dalam pandangan hidup, cita-cita bangsa, falsafah atau jalan kehidupan bangsa (way of life) yaitu Pancasila.

Oleh karena itu Pancasila merupakan landasan untuk membentuk hukum suatu bangsa. Dengan demikian hukum yang dibentuk harus mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Sehingga dalam penyusunan peraturan perundang-undangan termasuk Peraturan Daerah pun harus mencerminkan nilai-nilai Pancasila yaitu: nilai ketuhanan, nilai kemanusian, nilai persatuan dan nilai kerakyatan serta nilai kaedilan sosial. Di samping itu Peraturan Daerah juga harus mencerminkan nilai moral yang hidup di masyarakat (daerah) yang bersangkutan.

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. IV-2 Sebagai salah satu bentuk kebijakan Pemerintah Kabupaten Boyolali di bidang kesehatan adalah pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS menjadi salah satu prioritas karena di daerah ini merupakan epidemi HIV/AIDS, yang pada gilirannnya akan menimbulkan dampak buruk terhadap pembangunan secara keseluruhan karena selain berpengaruh terhadap kesehatan juga terhadap sosio ekonomi, politik dan pertahanan keamanan di daerah.

Sebagai salah satu wilayah di Propinsi Jawa Tengah, Kabupaten Boyolali termasuk salah satu wilayah penyebaran TBC maupun HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Boyolali dari tahun ke tahun terus meningkat, hingga 2017 mencapai 423 orang, 83 orang di antaranya meninggal dunia (Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Boyolali, tahun 2018). Urutan jumlah penderita terbanyak per kecamatan adalah: kesatu, Kecamatan Boyolali dengan jumlah 29 pasien); kedua, Kecamatan Ampel dengan jumlah 25 orang;

ketiga, Kecamatan Mojosongo dan Banyudono masing–masing

dengan jumlah 19 orang. Penderita terendah berada di Kecamatan Selo yaitu 2 org. Berdasarkan jenis kelamin, jumlah penderita HIV/AIDS di wilayah Boyolali adalah laki-laki sebanyak 61% dan perempuan sebanyak 39% dari total penderita.

Penularan HIV/AIDS semakin meluas, tanpa mengenal status sosial, batas usia dan wilayah, dengan peningkatan yang sangat signifikan, sehingga dipandang perlu adanya penanggulangan secara melembaga sistematis komprehensif partisipatif dan berkesinambungan.

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. IV-3 HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang proses penularannya sangat sulit dipantau. Keberadaannya dapat mengancam derajat kesehatan

masyarakat dan kelangsungan peradaban manusia.

Berdasarkan fakta penularan HIV/AIDS diperkirakan semakin meluas, tanpa mengenal status sosial, batas usia dan wilayah. Melihat kondisi ini guna menekan dan mencegah peningkatan jumlah penderita TBC dan HIV/AIDS maka dipandang perlu adanya upaya penanggulanagn yang diselenggarakan secara

melembaga, sistematis, komprehensif, partisipatif dan

berkesinambungan.

Meningkatnya jumlah kasus TBC dan HIV/AIDS di Kabupaten Boyolali sampai saat ini membuat epidemi TBC dan HIV/AIDS semakin ditakuti di kalangan masyarakat. Adanya peningkatan tersebut Pemerintah Kabupaten Boyolali harus mampu merespon serta menyelenggarakan pencegahan dan pelayanan penanggulangan TBC dan HIV/AIDS yang memadai baik dalam hal pencegahan, perawatan serta pengobatan dalam upaya menekan laju perkembangan HIV/AIDS yang terdapat di Kabupaten Boyolali.

Dalam rangka mewujudkan pembangunan di Kabupaten Boyolali secara menyeluruh maka perlu adanya perencanaan strategis dalam segala sektor kehidupan, berdasarkan visi dan misi Kabupaten Boyolali. Demikian juga pengaturan terkait Penaggulangan TBC dan HIV/AIDS dalam Peraturan Daerah nantinya juga harus mencerminkan dan menjunjung norma serta tujuan Pembangunan Nasional berdasarkan visi dan misi setempat.

Pengaturan mengenai Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS harus sejalan dengan visi dan misi daerah serta

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. IV-4 harus memperhatikan karakteristik budaya masyarakat dan kearifan lokal yang ada di Kabupaten Boyolali.

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Boyolali Tahun 2016-2021, Kabupaten Boyolali memiliki arahan pengembangan pembangunan dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Dalam proses pembangunanya disusun berdasarkan pada arahan visi dan misi pembangunan daerah. Visi pembangunan Daerah Kabupaten Boyolali tahun 2016-2021 adalah Pro Investasi Mewujudkan Boyolali Yang Maju dan Lebih Sejahtera.

Dari visi tersebut selanjutnya dijalankan dengan berbagai misi Daerah Kabupaten Boyolali tahun 2016-2021 yaitu :

1. Boyolali, melanjutkan semangat Pro Investasi; 2. Boyolali membangun untuk perubahan;

3. Boyolali, bersih, berintegritas, sejahtera; 4. Boyolali, sehat, produktif dan berdaya saing; 5. Boyolali, lumbung padi dan pangan nasional;

6. Boyolali kota susu, produsen daging dan hasil

ternak/perikanan; dan

7. Boyolali, lebih maju dan berteknologi.

Terkait dengan penanggulangan TBC dan HIV/AIDS ini berkaitan dengan misi keempat, yaitu: “Boyolali, sehat, produktif dan berdaya saing”.

Tujuan misi ini adalah mewujudkan masyarakat yang

sehat, produktif, berdaya saing untuk mewujudkan

pembangunan manusia yang berkualitas. Fokus sasaran strategisnya adalah meningkatnya derajat kesehatan, tingkat pendidikan masyarakat, dan tingkat produktivitas warga antara lain melalui upaya fasilitasi pemerintah berupa modal,

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. IV-5 keterampilan sumber daya pelaku usaha, pengorganisasian kelompok usaha dan koperasi. Ketiga hal tersebut sebagai pilar utama daya saing daerah.

Akhirnya Peraturan Daerah tentang Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS ini dibentuk agar nantinya dapat

diberlakukan secara optimal. Oleh karena dalam

membentuknya harus memperhatikan nilai-nilai Pancasila, tujuan bernegara, visi-misi daerah dan kaerifan lokal Kabupaten Boyolali. Di samping itu keberadaan peraturan daerah ini nantinya harus mampu memberikan perlindungan bagi semua pihak baik penderita TBC maupun ODHA, masyarakat pada umumnya dan pemerintah daerah serta harus

mampu memberikan kontribusi dalam peningkatan

kesejahteraan masyarakat Kabupaten Boyolali.

Dalam dokumen Draft Awal Laporan NASKAH AKADEMIK (Halaman 151-155)