Draft Awal Laporan NASKAH AKADEMIK

182 

Teks penuh

(1)

Draft Awal Laporan NASKAH AKADEMIK

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN

BOYOLALI TENTANG PENANGGULANGAN

TUBERKOLUSIS DAN HUMAN IMMUNODEFICIENCY

VIRUS / ACQUIRED IMMUNODEFICIENCY

SYNDROME

Disiapkan Oleh: TIM PENDAMPING

Komisi I DPRD KABUPATEN BOYOLALI

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

KABUPATEN BOYOLALI

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan kegiatan penyusunan draft Naskah Akademik: Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali tentang Penanggulangan Tuberkolusis Dan Human Immunodeficiency Virus

/ Acquired Immunodeficiency Syndrome.

Naskah Akademik ini merupakan suatu hasil kajian dari aspek akademis mengenai beberapa hal yang berhubungan dengan tema sentral yaitu Pencegahan dan Penanggulangan Tuberkolusis Dan Human Immunodeficiency Virus / Acquired

Immunodeficiency Syndrome di Kabupaten Boyolali melalui

pengaturan dalam Peraturan Daerah. Berangkat dari studi literatur dan focus group discussion serta studi lapangan maka tersusunlah pokok-pokok pikiran yang terwujud dalam tulisan ini.

Atas selesainya penyusunan draft Naskah Akademik ini, tidak lupa penyusun mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ketua DPRD Kabupaten Boyolali, atas kepercayaan dan kerjasamanya; dan

2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyiapan sampai pembuatan naskah akademik ini.

Penyusun sadar bahwa Naskah Akademik ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saran, kritik, masukan guna penyempurnaannya sangat dibutuhkan. Akhirnya kami berharap semoga karya sederhana bermanfaat bagi institusi yang memerlukannya.

Boyolali, Mei 2019 Tim Penyusun

(3)

iii

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul ………... i KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI ………….. ... iii BAB I : PENDAHULUAN ... I-1 A. Latar Belakang ... I-1 B. Identifikasi Masalah ... I-6 C. Maksud, Tujuan, dan Target Penelitian ... I-15 D. Kegunaan ... I-16 E. Metode Penelitian ... I-16 BAB II : KAJIAN TEORETIS DAN PRAKTIS EMPIRIS ... II-1 A. Kajian Teoretis ... II-1

1. Tinjauan UU No 36 Tahun 2009 tentang

Kesehatan ... II-1 2. Tinjauan tentang Tuberkulosis ... II-9

a. Pengertian ... II-9 b. Penyebab ... II-11 c. Diagnosis ... II-12 d. Pengobatan ... II-13 e. Pencegahan ... II-14 f. Pengendalian di Indonesia ... II-15 g. Rumitnya Pengangan TBC di Indonesia .. II-16 3. Tinjauan tentang HIV/AIDS ... II-17

a. Pengertian HIV-AIDS ... II-17 b. Penyebab HIV-AIDS ... II-17 c. Gejala Infeksi HIV-AIDS ... II-18 d. Cara Penularan ... II-20 e. Manifestasi Klinis HIV-AIDS ... II-23 f. Implikasi HIV-AIDS ... II-25 g. Upaya Penanggulangan ... II-26 h. Kewaspadaan Umum Mencegah

Tuberkulosis dan Infeksi HIV/AIDS ... II-30 i. Dampak Sosial dan Ekonomi HIV/AIDS ... II-31 j. Pencegahan HIV/AIDS ... II-35.

(4)

iv

4. Tinjauan tentang Komisi Penaggulangan AIDS (KPA) ... II-37 B. Kajian Terhadap Asas Terkait dengan Penyusunan

Norma ... II-42 C. Kajian Umum Terhadap Penyelenggaraan

Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS Di Kabupaten Boyolali dan Permasalahan Yang Dihadapi ... II-48 D. Kajian Implikasi Penerapan Sistem Baru terhadap

Aspek Kehidupan Masyarakat dan Beban Keuangan Daerah ... II-85 BAB III : EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG- UNDANGAN TERKAIT ... III-1 BAB IV : LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGI DAN YURIDIS .. IV-1

A. Landasan Filosofis ... IV-1 B. Landasan Sosiologis ... IV-5 C. Landasan Yuridis ... IV-6 BAB V : JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN DAN RUANG

LINGKUP MATERI MUATAN PERATURAN DAERAH ... V-1 A. Jangkauan dan Arah Pengaturan ... V-1 B. Ketentuan Umum ... V-1 C. Materi Muatan Yang Akan Diatur ... V-8 D. Ketentuan Sanksi ... V-15 E. Ketentuan Penutup ... V-16 F. Penjelasan ... V-16 BAB IV : PENUTUP ... VI-1 A. Kesimpulan ... VI-1 B. Saran ... VI-2

LAMPIRAN

A. Daftar Keputakaan

B. Daftar Inventarisasi Peraturan Perundang-undangan

C. Draft Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS.

(5)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tujuan pembentukan negara Indonesia adalah

“melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial” (Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945). Tujuan tersebut merupakan cita-cita bangsa Indonesia yang sekaligus merupakan tujuan nasional bangsa Indonesia. Untuk mencapai

tujuan nasional tersebut diselenggarakanlah upaya

pembangunan yang berkesinambungan yang merupakan suatu rangkaian pembangunan yang menyeluruh terarah dan terpadu, termasuk diantaranya pembangunan kesehatan. Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteran yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.

Salah satu indikator kesejahteraan menurut Human

Development Indeks adalah pelayanan kesehatan. Oleh karena

itu berdasarkan Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 disebutkan:

setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

(6)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-2 Dalam konsep Negara kesejahteraan (welfare state) sebagaimana yang dianut oleh Indonesia, negara bertanggung jawab untuk mensejahterakan masyarakat. Kesejahteraan adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial baik material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketenteraman lahir batin yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan pemenuhan kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga, serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak dan kewajiban asasi manusia sesuai dengan Pancasila.

Kesehatan merupakan Hak Asasi Manusia. Hal ini tegas dinyatakan dalam Pasal 28H UUD 1945 dan Pasal 9 Undang-Undang No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusi. Berdasarkan ketentuan tersebut disebutkan bahwa: “hak

hidup sejahtera lahir batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang

menyebabkan AIDS. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh yang proses penularannya sangat sulit dipantau, sehingga dapat mengancam derajat kesehatan masyarakat dan kelangsungan peradaban manusia. Sedangkan Acquired

Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu kumpulan

gejala berkurangnya kemampuan pertahanan diri yang disebabkan oleh masuknya virus HIV dalam tubuh seseorang. Selanjutnya Tuberkulosis atau lazim disingkat TB/TBC adalah penyakit infeksi menular langsung yang disebabkan kuman

(7)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-3 dahak yang dikeluarkan dari mulut dan hidung pasien Tuberkulosis BTA positif saat bicara, batuk maupun bersin.

Negara Indonesia hingga saat ini masih menghadapi masalah kesehatan yang sangat kompleks dan menjadi beban ganda dalam pembiayaan bidang kesehatan. Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat Indonesia sebagian besar adalah penyakit infeksi menular salah satunya HIV/AIDS dan/atau TBC.

Seseorang yang terinfeksi virus HIV atau menderita AIDS sering disebut dengan ODHA yang merupakan singkatan dari orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Penyakit HIV/AIDS telah menjadi pandemi yang mengkhawatirkan masyarakat dunia, karena di samping belum ditemukan obat dan vaksin untuk pencegahan juga memiliki “window period” dan fase asimptomatik (tanpa gejala) yang relatif panjang dalam perjalanan penyakitnya. Sehingga pola perkembangan penyakit HIV/AIDS seperti fenomena gunung es. Tidak ada negara yang tidak terkena dampaknya yang dari tahun ke tahun terus meningkat jumlah kasusnya dengan berbagai upaya preventif yang terus dilakukan.

Di Indonesia, sejak kasus AIDS pertama kali ditemukan Tahun 1987 sampai 30 September 2014 jumlah komulatif pengidap infeksi HIV dilaporkan mencapai 150,296 kasus dan AIDS 55,799 penderita dengan jumlah meninggal 9,796 orang. (Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia: Direktorat Jenderal

Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan

Kementerian Kesehatan, 30 September 2012 dalam http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr).

Sebagai salah satu wilayah di Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Boyolali termasuk salah satu wilayah penyebaran

(8)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-4 TBC maupun HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Boyolali dari tahun ke tahun terus meningkat, hingga 2017 mencapai 423 orang, 83 orang di antaranya meninggal dunia (Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Boyolali, Tahun 2018). Urutan jumlah penderita terbanyak per kecamatan adalah: kesatu, Kecamatan Boyolali dengan jumlah 29 pasien); kedua, Kecamatan Ampel dengan jumlah 25 orang;

ketiga, Kecamatan Mojosongo dan Banyudono masing-masing

dengan jumlah 19 orang. Penderita terendah berada di Kecamatan Selo yaitu 2 orang. Berdasarkan jenis kelamin, jumlah penderita HIV/AIDS di wilayah Boyolali adalah laki-laki sebanyak 61% dan perempuan sebanyak 39% dari total penderita.

Penularan HIV/AIDS semakin meluas, tanpa mengenal status sosial, batas usia dan wilayah, dengan peningkatan yang sangat signifikan, sehingga dipandang perlu adanya penanggulangan secara melembaga sistematis komprehensif partisipatif dan berkesinambungan.

Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia (HAM). Terhadap HAM ini maka Negara bertanggung jawab untuk menghormati (to respect), melindungi (to protect), dan memenuhi (to fulfill). Oleh karena itu, peningkatan kesejahteraan umum adalah tanggung jawab negara, baik untuk pemerintah, pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten.

Selanjutnya dalam rangka mewujudkan tanggung jawab negara dalam rangka meningkatkan upaya pencegahan, pengendalian dan penanggulangan AIDS Pemerintah dengan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2006 tentang

(9)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-5 membentuk Komisi Penanggulangan AIDS di pusat dan di daerah dibentuk Komisi Penanggulangan AIDS Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Keberadaan Komisi tersebut diperlukan guna melakukan langkah-langkah strategis untuk pencegahan dan penanggulangan AIDS serta menghindari dampak yang lebih besar di bidang kesehatan, sosial, politik dan ekonomi serta dalam rangka meningkatkan efektivitas koordinasi penanggulangan AIDS sehingga lebih intensif, menyeluruh dan terpadu.

HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang proses penularannya sangat sulit dipantau. Keberadaannya dapat mengancam derajat kesehatan

masyarakat dan kelangsungan peradaban manusia.

Berdasarkan fakta penularan HIV/AIDS diperkirakan semakin meluas, tanpa mengenal status sosial, batas usia dan wilayah. Melihat kondisi ini guna menekan dan mencegah peningkatan jumlah penderita TBC dan HIV/AIDS maka dipandang perlu adanya upaya penanggulangan yang diselenggarakan secara

melembaga, sistematis, komprehensif, partisipatif dan

berkesinambungan.

Meningkatnya jumlah kasus TBC dan HIV/AIDS di Kabupaten Boyolali sampai saat ini membuat epidemi TBC dan HIV/AIDS semakin ditakuti di kalangan masyarakat. Adanya peningkatan tersebut Pemerintah Kabupaten Boyolali harus mampu merespon serta menyelenggarakan pencegahan dan pelayanan penanggulangan TBC dan HIV/AIDS yang memadai baik dalam hal pencegahan, perawatan serta pengobatan dalam upaya menekan laju perkembangan HIV/AIDS yang terdapat di Kabupaten Boyolali.

(10)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-6 Dalam rangka mewujudkan hal tersebut diperlukan adanya payung hukum berupa regulasi daerah yang dapat dijadikan pedoman bagi pihak-pihak terkait dalam upaya penanggulangan TBC dan HIV/AIDS. Oleh karena itu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Boyolali melalui hak inisiatifnya menginisiasi

adanya Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali tentang

Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, guna terwujudnya produk hukum daerah yang baik dilakukanlah kegiatan berupa Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali tentang Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS.

B. Identifikasi Masalah

Sebagaimana dikemukakan di atas HIV adalah virus penyebab AIDS yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia sehingga tidak mampu melindungi dari serangan penyakit lain. HIV merupakan virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia. AIDS adalah kumpulan dari beberapa gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. AIDS merupakan sekumpulan gejala yang diakibatkan oleh menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia karena terinfeksi HIV. AIDS juga merupakan gangguan immunodefisiensi sekunder yang disebabkan oleh retrovirus (HIV) yang telah terisolasi dalam cairan tubuh orang yang terinfeksi (C.Long Barbara, 1996: 572).

Sesuai dengan sifat-sifat AIDS maka kelompok risiko tinggi ini harus mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:

(11)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-7 1. Aktif dalam perilaku seksual menyimpang. Makin aktif,

makin tinggi risikonya. Golongan yang sangat aktif adalah WTS (Wanita Tuna Susila), PTS (Pria Tuna Susila), dan pencari kepuasan seksual (pelanggan WTS atau PTS). Ditinjau dari usianya yang mempunyai kemungkinan tertinggi untuk berperilaku seksual aktif adalah orang remaja ke atas.

2. Kaum biseksual maupun homoseksual.

3. Mereka yang suka/pernah melakukan hubungan seksual dengan orang yang berasal dari daerah-daerah dimana insiden AIDS tinggi. Mereka tinggal di daerah tujuan wisata atau yang senang melayani wisatawan mempunyai peluang yang lebih besar (Depkes RI, 2002: 62).

TBC masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Daerah yg berpotensi menimbulkan kesakitan, kecacatan, dan kematian yang tinggi sehingga perlu dilakukan upaya penanggulangan. Peningkatan kejadian HIV dan AIDS di Daerah yang bervariasi mulai dari epidemi rendah, epidemi terkonsentrasi dan epidemi meluas, perlu dilakukan upaya penanggulangan HIV dan AIDS secara terpadu, menyeluruh dan berkualitas.

Tren Penderita TBC maupun HIV/AIDS di Kabupaten Boyolali dari tahun ke tahun terus meningkat. Untuk memberikan gambaran perkembangan penderita TBC maupun HIV/AIDS berikut disajikan matrik perkembangan TBC dan HIV/AIDS di Kabupaten Boyolali sejak Tahun 2005 sampai dengan Tahun 2018.

(12)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-8 Gambar: Matrik Perkembangan TBC dan HIV/AIDS di Kabupaten Boyolali 2005 s.d 2018

(Sumber: Dinas Kesehatan Kab Boyolali, Tahun 2019).

360 294 340 328 265 309 271 221 213 232 488 487 568 618 1 1 3 9 2 13 25 50 34 73 71 68 70 67 0 100 200 300 400 500 600 700 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Kumulasi Kasus TBC HIV/AIDS

(13)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-9 Data jumlah penderita TBC maupun HIV/AIDS tersebut di atas adalah data yang terlaporkan, ada kemungkinan masih banyak kasus yang belum sempat tercatat, ibarat

fenomena gunung es sesungguhnya yang nampak di

permukaan belum semua dapat dilihat. Oleh karena itu diharapkan dapat betul-betul cair, sehingga angka penularan TBC dan HIV/AIDS di Kabupaten Boyolali betul-betul sudah tidak ada yang belum terekam. Memperhatikan kondisi tersebut maka diperlukan upaya penanggulangan penyebaran penyakit yang menyerang fungsi kekebalan tubuh ini. Mengingat bila tidak segera mendapat penanganan, jumlah penderita akan semakin bertambah dan merusak generasi muda mendatang.

Meskipun di Kabupaten Boyolali sudah terbentuk Komisi Penanggulangan HIV-AIDS (KPA) Daerah, namun jumlah penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun tetap meningkat. Program penanggulangan penyebaran HIV/AIDS yang sudah dilakukan antara lain penyuluhan-penyuluhan di kalangan pelajar dan ibu-ibu yang tergabung dalam PKK Kabupaten Boyolali. Di samping juga pendampingan terhadap kelompok masyarakat yang memiliki potensi besar terhadap penularan penyakit, diantaranya adalah PSK, Mucikari Waria dan para pelanggan PSK. Dalam kelompok masyarakat tersebut memiliki potensi menularkan dan menyebarkan virus HIV/AIDS.

Esensi Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia

(14)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-10 sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945. Penyelenggaraan pemerintahan daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, dan kekhasan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berdasarkan ketentuan Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015, salah satu urusan pemerintahan konkuren yang bersifat wajib dan berkaitan dengan pelayanan dasar adalah urusan kesehatan.

Urusan Pemerintahan Wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh semua Daerah. Pelayanan Dasar adalah pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan dasar Warga Negara, meliputi: penyediaan barang dan/atau jasa kebutuhan dasar yang berhak diperoleh oleh setiap Warga Negara secara minimal.

Pemberian otonomi yang seluas-luasnya kepada

Daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya

kesejahteraan masyarakat atau kesejahteraan rakyat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat.

Upaya percepatan terwujudnya kesejahteraan

masyarakat atau kesejahteraan rakyat tersebut dalam lingkungan strategis globalisasi dengan menggunakan prinsip pemerataan dan keadilan salah satunya diwujudkan melalui penetapan dan penerapan standar pelayanan minimal

(15)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-11 (SPM). Secara definisi SPM adalah ketentuan mengenai Jenis dan Mutu Pelayanan Dasar yang merupakan Urusan Pemerintahan Wajib yang berhak diperoleh setiap Warga Negara secara minimal.

SPM tidak lagi dimaknai dalam kontekstual sebagai norma, standar, prosedur, dan kriteria. Batasan pengertian SPM secara tekstual memang tidak berubah, yaitu bahwa SPM merupakan ketentuan mengenai Jenis Pelayanan Dasar dan Mutu Pelayanan Dasar yang berhak diperoleh setiap Warga Negara secara minimal, namun terdapat perubahan mendasar dalam pengaturan mengenai Jenis Pelayanan Dasar dan Mutu Pelayanan Dasar, kriteria penetapan SPM, dan mekanisme penerapan SPM.

Saat ini telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2018 tentang SPM. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2018 tersebut diatur mengenai SPM bidang kesehatan, yang secara singkat diuraikan sebagai berikut:

1. Jenis Pelayanan Dasar pada SPM bidang Kesehatan Daerah kabupaten/kota terdiri atas:

a. pelayanan kesehatan ibu hamil; b. pelayanan kesehatan ibu bersalin; c. pelayanan kesehatan bayi baru lahir; d. pelayanan kesehatan balita;

e. pelayanan kesehatan pada usia pendidikan; f. pelayanan kesehatan pada usia produktif; g. pelayanan kesehatan pada usia lanjut; h. pelayanan kesehatan penderita hipertensi;

(16)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-12 j. pelayanan kesehatan orang dengan gangguan jiwa

berat;

k. pelayanan kesehatan orang terduga tuberkulosis; dan l. pelayanan kesehatan orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan daya tahan tubuh manusia (Human Immunodeficiency Virus/HIV),

yang bersifat peningkatan/promotif dan

pencegahan/preventif.

2. Mutu Pelayanan Dasar untuk setiap Jenis Pelayanan Dasar sebagaimana dimaksud ditetapkan dalam standar teknis, yang sekurang-kurangnya memuat:

a. standar jumlah dan kualitas barang dan/atau jasa; b. standar jumlah dan kualitas personel/sumber daya

manusia kesehatan; dan

c. petunjuk teknis atau tata cara pemenuhan standar. 3. Penerima Pelayanan Dasar untuk setiap Jenis Pelayanan

Dasar (JPD) sebagaimana dimaksud yaitu Warga Negara dengan ketentuan:

a. penduduk terdampak krisis kesehatan akibat bencana dan/atau berpotensi bencana untuk JPD pelayanan kesehatan bagi penduduk terdampak krisis kesehatan akibat bencana dan/atau berpotensi bencana;

b. penduduk pada kondisi kejadian luar biasa provinsi untuk JPD pelayanan kesehatan bagi penduduk pada kondisi kejadian luar biasa provinsi;

c. ibu hamil untuk JPD pelayanan kesehatan ibu hamil; d. ibu bersalin untuk JPD pelayanan kesehatan ibu

bersalin;

e. bayi baru lahir untuk JPD pelayanan kesehatan bayi baru lahir;

(17)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-13 f. balita untuk JPD pelayanan kesehatan balita;

g. usia pendidikan dasar untuk JPD pelayanan kesehatan pada usia pendidikan dasar;

h. usia produktif untuk JPD pelayanan kesehatan pada usia produktif;

i. usia lanjut untuk JPD pelayanan kesehatan pada usia lanjut;

j. penderita hipertensi untuk JPD pelayanan kesehatan penderita hipertensi;

k. penderita DM untuk JPD pelayanan kesehatan penderita DM;

l. orang dengan gangguan jiwa berat untuk JPD pelayanan kesehatan orang dengan gangguan jiwa berat;

m. orang terduga TBC untuk JPD pelayanan kesehatan orang terduga TBC; dan

n. orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan daya tahan tubuh manusia (HIV) untuk JPD pelayanan kesehatan orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan daya tahan tubuh manusia (HIV).

Berdasarkan uraian di atas diantara jenis pelayanan Dasar di bidang kesehatan pemerintah kabupaten/kota adalah: 1) pelayanan kesehatan orang terduga tuberkulosis; dan 2) pelayanan kesehatan orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan daya tahan tubuh manusia (Human

Immunodeficiency Virus/HIV), yang bersifat peningkatan/promotif dan pencegahan/preventif.

Daerah Otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang

(18)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-14 mengatur dan mengurus Urusan Pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai daerah Otonom, maka Pemerintahan Daerah Kabupaten Boyolali berwenang mengatur penyelenggaraan urusan kesehatan yang menjadi kewenangannya dalam sebuah Peraturan Daerah.

Peraturan Daerah hakekatnya adalah kebijakan publik untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah dan Tugas Pembantuan. Peraturan Daerah dibentuk selaras atau dalam kerangka mewujudkan tujuan otonomi daerah. Selanjutnya sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Pasal 236 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 dan Pasal 4 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 120 Tahun 2018, disebutkan bahwa Peraturan Daerah memuat materi muatan:

a. penyelenggaraan Otonomi Daerah dan Tugas

Pembantuan; dan

b. penjabaran lebih lanjut ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Selain materi muatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Peraturan Daerah dapat memuat materi muatan lokal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(19)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-15 Dalam rangka penyelenggaraan kewenangan daerah di bidang kesehatan sesuai dengan SPM tersebut dan sekaligus menjadi atas permasalahan di daerah (local problem solving) terkait penanggulangan TBC dan HIV/AIDS, dipandang perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS.

Selanjutnya berdasarkan kondisi tersebut di atas dan sejalan dengan tujuan penulisan ini maka dapat dirumuskan masalah yang perlu dijawab dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Apakah pembentukan Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali tentang Penanggulangan HIV/AIDS memiliki

kelayakan secara akademis sehingga dapat

dipertanggungjawabkan secara ilmiah, filosofis, yuridis dan sosiologis?

2. Bagaimana pokok-pokok pengaturan yang perlu dirumuskan dalam draft Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali tentang Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS yang dapat diterima masyarakat.

C. Maksud, Tujuan dan Target Penelitian 1. Maksud Kegiatan

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan menginventarisasi beberapa permasalahan yang ada terkait dengan Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS di Kabupaten Boyolali.

2. Tujuan Kegiatan

Tujuan yang diharapkan dari kegiatan Penyusunan Naskah Akademis Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali

(20)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-16 tentang Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS adalah sebagai berikut.

a. Untuk menyiapkan rumusan konsep Rancangan

Peraturan Daerah (Raperda) yang komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara filosofis, yuridis dan sosiologis, sehingga peraturan daerah yang akan diberlakukan dapat efektif dan efisien serta dapat diterima masyarakat.

b. Menghasilkan dokumen Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali tentang Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS yang aspiratif dan partisipatif.

3. Target Kegiatan

Target dari kegiatan Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali tentang Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS adalah sebagai berikut. a. Tersusunnya naskah akademik Rancangan Peraturan

Daerah Kabupaten Boyolali tentang Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS;

b. Rencana tindak lanjut dalam proses pembentukan

peraturan daerah sesuai Program Pembentukan

Peraturan Daerah (Propemperda) yang disiapkan. D. Kegunaan

Sedangkan kegunaan dari kegiatan Penyusunan Naskah Akademis Rancangan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali tentang Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS adalah sebagai dokumen resmi yang menyatu dengan konsep Rancangan Peraturan Daerah terkait.

(21)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-17 E. Metode Penulisan

1. Metode Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif. Yuridis normatif dimaksudkan bahwa untuk melihat permasalahan terkait Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS di Kabupaten Boyolali digunakan pendekatan normatif yaitu pengkajian studi dokumen terhadap peraturan perundang-undangan dan berbagai kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pokok permasalahan yaitu yang berhubungan dengan Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS dan laporan hasil dari berbagai pertemuan. Di samping juga dilakukan Focus

Group Discussion (FGD) dan konsultasi publik (public hearing).

2. Jenis dan Sumber Data

Sebagaimana dikemukakan bahwa pendekatan

penelitian ini adalah yuridis normatif maka data utama yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder yaitu data digunakan untuk mendukung dan melengkapi data primer yang berhubungan dengan masalah penelitian. Menurut Soerjono Soekanto (1986) data sekunder digunakan dalam penelitian meliputi tiga bahan hukum yaitu :

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer ialah bahan hukum yang menjadi dasar pedoman penelitian. Adapun yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

(22)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-18 2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang

Wabah Penyakit Menular;

3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika

4) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;

5) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;

6) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika;

7) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;

8) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

9) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang Penangulangan Wabah Penyakit;

10) Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2011 tentang Pelayanan Darah;

11) Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2011

tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu

Narkotika;

12) Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif;

13) Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2006 tentang Komisi Penanggulangan HIV/AIDS sebagaimana

(23)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-19 telah diubah dengan Peraturan Presiden No 124 Tahun 2016;

14) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembentukan Komisi

Penanggulangan AIDS dan Pemberdayaan

Masyarakat Dalam Rangka Penanggulangan HIV dan AIDS di Daerah;

15) Peraturan Menteri Koordinator Kesejahteraan

Rakyat Nomor 02/PER/MENKO/KESRA/I/2007

tentang Kebijakan Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS Melalui Pengurangan Dampak Buruk Penggunaan Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) Suntik;

16) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS;

17) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 51 Tahun 2013 tentang Pedoman Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak;

18) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 45 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan; 19) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 82 Tahun 2014

tentang Penanggulangan Penyakit Menular;

20) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan dan Masa Sesudah

Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan

Kontrasepsi, serta Pelayanan Kesehatan Seksual; 21) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 67 Tahun 2016

(24)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-20 22) Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi

Nomor 68/MEN/IV/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja;

23) Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Penanggulangan HIV-AIDS; 24) Peraturan Bupati Boyolali Nomor 5 Tahun 2017

tentang Penanggulangan HIV dan AIDS;

25) Keputusan Bupati Boyolali Nomor 443.22/384

Tahun 2017 tentang Pembentukan Komisi

Penanggulangan HIV/AIDS Kab Boyolali Masa Bhakti 2017-2022.

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Adapun yang digunakan dalam penelitian ini adalah jurnal, literatur, buku, internet, laporan penelitian dan

sebagainya berkaitan Penanggulangan TBC dan

HIV/AIDS.

c. Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier yakni bahan yang

memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder (Soerjono Soekanto,1986:52). Bahan hukum tersier seperti Kamus

Besar Bahasa Indonesia, Kamus Hukum, dan

Ensiklopedi.

Di samping itu guna melengkapi informasi dan memperkuat kesimpulan dalam kajian ini digunakan pula data primer. Data Primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber pertama. Data primer dalam

(25)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-21 penelitian ini diperoleh dari Pejabat yang terkait dengan penanggulangan TBC dan HIV/AIDS.

3. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data dilakukan melalui 3 (tiga) cara sebagai berikut:

a. Studi kepustakaan,

Studi kepustakaan yaitu suatu bentuk

pengumpulan data dengan cara membaca buku literatur, hasil penelitian terdahulu, dan membaca dokumen, peraturan perundang-undangan, yang berhubungan dengan obyek penelitian.

b. Wawancara

Wawancara merupakan proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan antara dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara

langsung informasi-informasi atau

keterangan-keterangan (Cholid Narbuko dan Abu Achmadi,2004: 83).

c. Focus Group Disscussion (FGD)

FGD diselenggarakan untuk merumuskan dan

menyelesaikan persoalan-persoalan krusial dalam

penyusunan peraturan perundang-undangan sehingga memperoleh kesepahaman diantara stakeholder yang ada.

4. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan proses mengumpulkan dan mengolah data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar, sehingga dengan analisis data akan menguraikan dan memecahkan masalah yang diteliti berdasarkan data yang

(26)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019.

I-22 diperoleh. Dalam penelitian ini digunakan teknik analisis kualitatif. Model analisis kualitatif digunakan model analisis interaktif, yaitu model analisis yang memerlukan tiga komponen berupa reduksi data, sajian data, serta penarikan kesimpulan/verifikasi dengan menggunakan proses siklus (H.B. Sutopo, 1998:48). Dalam menggunakan analisis kualitatif, maka interprestasi terhadap apa yang ditentukan dan merumuskan kesimpulan akhir digunakan logika atau penalaran sistematik. Ada 3 (tiga) komponen pokok dalam tahapan analisa data, yaitu:

a. Data Reduction merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan dan abstraksi data kasar yang ada dalam field note. Reduksi data dilakukan selama

penelitian berlangsung, hasilnya data dapat

disederhanakan dan ditransformasikan melalui seleksi, ringkasan serta penggolongan dalam suatu pola.

b. Data Display adalah paduan organisasi informasi yang memungkinkan kesimpulan riset yang dilakukan, sehingga peneliti akan mudah memahami apa yang terjadi dan harus dilakukan.

c. Conclution Drawing adalah berawal dari pengumpulan data peneliti harus mengerti apa arti dari hal-hal yang ditelitinya, dengan cara pencatatan peraturan, pola-pola, pernyataan konfigurasi yang mapan dan arahan sebab akibat, sehingga memudahkan dalam pengambilan kesimpulan.

Tiga komponen analisis data di atas membentuk interaksi dengan proses pengumpulan yang berbentuk siklus (diagram flow) (HB Sutopo, 1998:37).

(27)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 1

BAB II

KAJIAN TEORETIS DAN PRAKTIK

EMPIRIS

A. Kajian Teoretis

1. Tinjauan tentang Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

a. Politik Hukum Undang-Undang Kesehatan

Politik Hukum dari Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan meliputi 5 dasar pertimbangan, yaitu:

1) kesehatan adalah hak asasi dan salah satu unsur kesejahteraan;

2) prinsip kegiatan kesehatan yang nondiskriminatif,

partisipatif dan berkelanjutan; 3) kesehatan adalah investasi;

4) pembangunan kesehatan adalah tanggung jawab

pemerintah dan masyarakat; dan

5) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan, tuntutan dan kebutuhan hukum dalam masyarakat.

Undang-undang tentang Kesehatan ini terdiri dari 22 Bab dan 205 pasal. Sebagaimana disebutkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tercantum jelas cita-cita bangsa Indonesia yang sekaligus merupakan tujuan nasional bangsa Indonesia. Tujuan nasional tersebut adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum,

(28)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 2 mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan

ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan

perdamaian abadi serta keadilan sosial. Untuk mencapai

tujuan nasional tersebut diselenggarakanlah upaya

pembangunan yang berkesinambungan yang merupakan suatu rangkaian pembangunan yang menyeluruh terarah dan terpadu, termasuk di antaranya pembangunan kesehatan. Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Berdasarkan pokok pikiran tersebut,

sesungguhnya telah terjadi perubahan paradigma dalam pembangunan bidang kesehatan. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan menggunakan paradigma yang digunakan paradigma sakit. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 menggunakan paradigma sehat. Oleh karena itu persoalan kesehatan sebagai suatu faktor utama dan investasi berharga dalam pelaksanaan pembangunan. Paradigma kesehatan yang mengutamakan upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan kuratif dan rehabilitatif.

Dalam perspektif perlindungan hukum, maka perangkat hukum kesehatan termasuk Undang-Undang harus bisa menguraikan secara rinci tentang segala hak dasar manusia yang merupakan dasar bagi hukum kesehatan. Oleh karena itu dalam rangka implementasi paradigma sehat, dibutuhkan sebuah Undang-Undang yang

berwawasan sehat, bukan Undang-Undang yang

(29)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 3 Pada sisi lain, perkembangan ketatanegaraan bergeser dari sentralisasi menuju desentralisasi yang ditandai dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah. Ada konsep baru karena Undang-Undang kesehatan terbaru ini

jelas dianggap mampu menjawab kompleksitas

pembangunan kesehatan yang tidak terdapat (tertampung lagi) dalam Undang kesehatan yang lama. Undang-Undang tersebut memuat ketentuan yang menyatakan bahwa bidang kesehatan sepenuhnya diserahkan kepada daerah masing-masing yang setiap daerah diberi kewenangan untuk mengelola dan menyelenggarakan seluruh aspek kesehatan. Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.

Oleh karena itu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan perlu disesuaikan dengan semangat otonomi daerah yang didasarkan pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut. UU Kesehatan baru merupakan kebijakan umum kesehatan yang harus dapat dilaksanakan oleh semua pihak dan sekaligus dapat menjawab tantangan era globalisasi dan semakin kompleksnya permasalahan kesehatan

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 ini merupakan landasan Hukum Kesehatan di Indonesia. Secara

(30)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 4 konseptual Undang-Undang ini telah mencerminkan adanya asas hukum kesehatan yang bertumpu pada hak atas pemeliharaan kesehatan sebagai hak dasar sosial (the right

to health care) yang ditopang oleh 2 (dua) hak dasar

individual yang terdiri dari hak atas informasi (the right to

information) dan hak untuk menentukan nasib sendiri (the right of self determination). Sejalan dengan hal tersebut,

maka Undang-Undang ini juga telah mentautkan bahwa Hukum Kesehatan dengan hak untuk sehat. Disebutkan bahwa hak atas pemeliharaan kesehatan mencakup berbagai aspek yang merefleksikan pemberian perlindungan dan pemberian fasilitas dalam pelaksanaannya. Untuk

merealisasikan hak atas pemeliharaan bisa juga

mengandung pelaksanaan hak untuk hidup, hak atas privasi, dan hak untuk memperoleh informasi.

Dari sudut pandang materi muatan yang ada dapat dikatakan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 mengandung 4 (empat) obyek, yaitu:

1. pengaturan yang berkaitan dengan upaya kesehatan; 2. pengaturan yang berkaitan dengan tenaga kesehatan; 3. pengaturan yang berkaitan dengan sarana kesehatan;

dan

4. pengaturan yang berkaitan dengan komoditi kesehatan. b. Hak-hak terkait Kesehatan dalam UU Kesehatan

Kesehatan merupakan hak setiap warga Negara, bahkan berdasarkan Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 dinyatakan sebagai HAM. Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 dikenal beberapa hak terkait dengan kesehatan yaitu:

(31)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 5 2. Hak atas pembangunan kesehatan dengan berasaskan

perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, pelindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender dan nondiskriminatif dan norma-norma agama. 3. Hak mencapai kondisi sehat, baik secara fisik, mental,

spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

4. Hak untuk mendapatkan layanan dana, tenaga, perbekalan kesehatan, sediaan farmasi dan alat kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan dan teknologi yang dimanfaatkan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau dengan bantuan partisipatif masyarakat.

5. Hak memperoleh sumberdaya yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi sehat.

6. Hak memperoleh memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan.

7. Hak untuk turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial.

8. Hak untuk mendapatkan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan yang memenuhi kualitas minimum.

9. Hak mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan, baik pemerintah maupun swasta, bagi penyelamatan nyawa pasien dan pencegahan kecacatan terlebih dahulu.

10. Hak mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan, baik pemerintah maupun swasta dilarang menolak pasien dan/atau meminta uang muka dalam keadaan darurat (yang mengancam nyawa/menyebabkan gagal vital).

(32)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 6 11. Hak terjaminnya ketersediaan obat keadaan darurat,

Pemerintah dapat melakukan kebijakan khusus untuk pengadaan dan pemanfaatan obat dan bahan yang berkhasiat obat.

12. Hak memberikan/menolak persetujuan sadar atas uji coba/penelitian dalam bidang kesehatan.

13. Hak mendapatkan akses terhadap penyelenggaraan upaya kesehatan:

a. pelayanan kesehatan;

b. pelayanan kesehatan tradisional;

c. peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit; d. penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan; e. kesehatan reproduksi;

f. keluarga berencana; g. kesehatan sekolah; h. kesehatan olahraga;

i. pelayanan kesehatan pada bencana; j. pelayanan darah;

k. kesehatan gigi dan mulut;

l. penanggulangan gangguan penglihatan dan

gangguan pendengaran; m. kesehatan matra;

n. pengamanan dan penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan;

o. pengamanan makanan dan minuman; p. pengamanan zat adiktif; dan/atau q. bedah mayat.

14. Penyelenggaraan upaya kesehatan sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 47 dilaksanakan melalui kegiatan: 15. Hak atas rahasia kondisi kesehatan pribadi kecuali pada

(33)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 7 pengadilan; izin yang bersangkutan; kepentingan masyarakat; atau kepentingan orang tersebut.

16. Hak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya.

17. Hak memperoleh informasi, edukasi, dan konseling mengenai kesehatan reproduksi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

18. Hak mendapatkan sarana informasi dan sarana pelayanan kesehatan reproduksi yang aman, bermutu,

dan terjangkau masyarakat, termasuk keluarga

berencana.

19. Hak untuk melakukan aborsi dengan beberapa alasan sebagai berikut: indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan yang dilakukan melalui konseling yang baik, benar serta berkualitas terlebih dahulu.

20. Hak atas ketersediaan sumber daya, fasilitas, dan pelaksanaan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan berkesinambungan pada bencana yang dijaminkan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. 21. Hak atas transfusi darah yang aman (sehat – contoh

sudah melalui skrening anti HIV dan muatan virus VL, tes anyti Hepatitis B, Hepatitis C) sesuai menurut UU dan

(34)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 8 bebas dari transaksi jual beli dengan alasan apapun yang dilindungi hukum.

22. Hak bebas dari intimidasi dan penindasan struktural dikarenakan pengadaan, penyimpanan, pengolahan, promosi, dan pedaran obat dan bahan yang berkhasiat obat yang diselenggarakan oleh pihak yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan.

23. Hak untuk mengolah, memproduksi, mengedarkan, mengembangkan, meningkatkan, dan menggunakan obat tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya sesuai dengan Peraturan Pemerintah. 24. Hak untuk memproduksi, menyimpan, mengedarkan, dan

menggunakan narkotika dan psikotropika dengan wajib memenuhi standar dan/atau persyaratan tertentu sesuai aturan perundangan yang berlaku.

25. Hak untuk dilindungi dari kefarmasiaan yang meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

26. Hak bagi Ibu untuk menjaga kesehatan ibu sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas serta mengurangi angka kematian ibu termasuk sediaan

Parents to Child Transmission (PTCT)/Mother to Child Transmission (MTCT).

27. Hak bayi mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi

(35)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 9 medis yang jelas serta memberikan pilihan bagi Ibu dan Bayi.

28. Hak pemeliharaan kesehatan bayi dan anak harus ditujukan untuk mempersiapkan generasi yang akan datang yang sehat, cerdas, dan berkualitas serta untuk menurunkan angka kematian bayi dan anak yang dijaminkan oleh Pemerintah.

29. Hak kesehatan bagi Remaja.

30. Hak kesehatan bagi orang dengan kekhususan fungsi tubuh.

31. Hak atas perbaikan gizi. 32. Hak atas kesehatan jiwa.

33. Hak tetap sehat dengan adanya situasi dan kondisi terkait penyakit menular.

34. Hak mendapatkan kesehatan kerja.

35. Hak untuk mendapatkan bagian dalam layanan yang dibiayai melalui 5% APBN dengan alokasi utama bagi penduduk miskin, kelompok lanjut usia, dan anak terlantar.

36. Hak untuk mendapatkan bagian dalam layanan yang dibiayai melalui 10% APBD terutama bagi penduduk miskin, kelompok lanjut usia, dan anak terlantar.

2. Tinjauan tentang Tuberkolusis a. Pengertian Tuberkulosis

TBC (Tuberkulosis) yang juga dikenal dengan TB adalah penyakit paru-paru akibat kuman Mycobacterium tuberculosis. TBC akan menimbulkan gejala berupa batuk yang berlangsung lama (lebih dari 3 minggu), biasanya berdahak, dan terkadang mengeluarkan darah. Penderita TBC juga akan merasakan demam,

(36)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 10 lemas, berat badan turun, tidak nafsu makan, nyeri dada, dan berkeringat di malam hari.

Penyakit ini ditularkan dari percikan ludah yang keluar penderita TBC, ketika berbicara, batuk, atau bersin. Penyakit ini lebih rentan terkena pada seseorang yang kekebalan tubuhnya rendah, misalnya penderita HIV. TBC dapat dideteksi melalui pemeriksaan dahak. Beberapa tes lain yang dapat dilakukan untuk mendeteksi penyakit menular ini adalah foto Rontgen dada, tes darah, atau tes kulit (Mantoux). Penyakit ini dapat disembuhkan jika penderitanya patuh minum obat. Untuk mengatasi TBC, penderita perlu minum beberapa jenis obat untuk waktu yang cukup lama (minimal 6 bulan).

Selain menyerang paru-paru, kuman TBC juga bisa menyerang tulang, usus, atau kelenjar. Gejala-gejala TBC (tuberkulosis) yang muncul dapat berupa:

1) Batuk yang berlangsung lama (3 minggu atau lebih), biasanya berdahak.

2) Batuk mengeluarkan darah. 3) Berkeringat pada malam hari. 4) Penurunan berat badan. 5) Demam dan menggigil. 6) Lemas.

7) Nyeri dada saat bernapas atau batuk. 8) Tidak nafsu makan.

9) Lemas.

Tidak semua kuman TBC yang masuk ke paru-paru langsung menimbulkan gejala. Kuman TBC bisa saja hanya bersembunyi sampai suatu hari berubah menjadi aktif dan menimbulkan gejala. Kondisi ini dikenal sebagai TBC laten. Selain tidak menimbulkan gejala, TBC laten juga tidak menular.

(37)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 11 Selain menyerang paru-paru, kuman TBC juga dapat menyerang organ lainnya, seperti ginjal, usus, otak, atau TBC kelenjar. Penyakit TBC pada organ selain paru-paru sering terjadi pada orang dengan kekebalan tubuh rendah, misalnya penderita AIDS.

Berikut ini adalah contoh gejala yang muncul akibat penyakit TBC di luar paru-paru, menurut organ yang terkena:

1) Pembengkakan kelenjar getah bening bila terkena TBC kelenjar. 2) Kencing berdarah pada TBC ginjal.

3) Nyeri punggung pada TBC tulang belakang. 4) Sakit perut jika mengalami TBC usus.

5) Sakit kepala dan kejang bila terkena TBC di otak. b. Penyebab Tuberkulosis

TBC (tuberkulosis) disebabkan oleh infeksi kuman dengan nama yang sama, yaitu Mycobacterium tuberculosis. Kuman atau bakteri ini menyebar di udara melalui percikan ludah penderita, misalnya saat berbicara, batuk, atau bersin. Meski demikian, penularan TBC membutuhkan kontak yang cukup dekat dan cukup lama dengan penderita, tidak semudah penyebaran flu.

Makin lama seseorang berinteraksi dengan penderita TBC, semakin tinggi risiko untuk tertular. Misalnya, anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TBC.

Pada penderita TBC yang tidak menimbulkan gejala (TBC laten), kuman TBC tetap tinggal di dalam tubuhnya. Kuman TBC dapat berkembang menjadi aktif jika daya tahan tubuh orang tersebut melemah, seperti pada penderita AIDS. Namun, TBC laten ini tidak menular.

Seperti telah dikatakan sebelumnya, penularan TBC tidak semudah flu, sehingga tidak akan tertular TBC jika hanya sekadar

(38)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 12 berjabat tangan dengan penderita TBC. Namun, ada beberapa kelompok orang yang lebih mudah tertular penyakit ini, yaitu:

1) Orang yang tinggal di pemukiman padat dan kumuh.

2) Petugas medis yang sering berhubungan dengan penderita TBC. 3) Lansia dan anak-anak.

4) Pengguna NAPZA.

5) Orang yang kecanduan alkohol. 6) Perokok.

7) Penderita penyakit ginjal stadium lanjut.

8) Orang dengan kekebalan tubuh yang lemah, misalnya penderita AIDS, diabetes, kanker, serta orang yang kekurangan gizi.

Selain penyakit, terdapat beberapa jenis obat-obatan yang dapat melemahkan kekebalan tubuh (obat imunosupresif). Obat-obatan tersebut umumnya digunakan untuk mengobati:

1) Lupus 2) Psoriasis

3) Rheumatoid arthritis 4) Penyakit Crohn

c. Diagnosis Tuberkulosis

Untuk mendeteksi TBC (tuberkulosis), pertama-tama dokter akan menanyakan keluhan dan penyakit yang pernah diderita. Kemudian dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama dengan mendengarkan suara napas di paru-paru menggunakan stetoskop. Dokter juga akan memeriksa ada tidaknya pembesaran kelenjar, bila dicurigai adanya TBC kelenjar.

Jika pasien diduga mengalami TBC, dokter akan meminta pasien melakukan pemeriksaan dahak yang disebut pemeriksaan BTA. Pemeriksaan BTA juga dapat dilakukan menggunakan sampel selain dahak, untuk kasus TBC yang terjadi bukan di paru-paru.

(39)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 13 Jika dokter membutuhkan hasil yang lebih spesifik, dokter akan menganjurkan pemeriksaan kultur BTA, yang juga menggunakan sampel dahak penderita. Tes kultur BTA dapat mengetahui efektif atau tidaknya obat TBC yang akan digunakan dalam membunuh kuman. Namun, tes ini memakan waktu yang lebih lama.

Selain pemeriksaan BTA, dokter dapat melakukan serangkaian pemeriksaan lain sebagai pendukung diagnosis, meliputi:

1) Foto Rontgen 2) CT scan

3) Tes kulit Mantoux atau Tuberculin skin test

4) Tes Darah IGRA (interferon gamma release assay). d. Pengobatan Tuberkulosis

Penyakit ini dapat disembuhkan dan jarang berakibat fatal jika penderita mengikuti saran dari dokter. Prinsip utama pengobatan TBC (tuberkulosis) adalah patuh untuk minum obat selama jangka waktu yang dianjurkan oleh dokter (minimal 6 bulan). Apabila berhenti meminum obat sebelum waktu yang dianjurkan, penyakit TBC yang Anda derita berpotensi menjadi kebal terhadap obat-obat yang biasa diberikan. Jika hal ini terjadi, TBC menjadi lebih berbahaya dan sulit diobati.

Obat yang diminum merupakan kombinasi dari isoniazid, rifampicin, pyrazinamide dan ethambutol. Sama seperti semua obat, obat TBC juga memiliki efek samping, antara lain:

1) Warna urine menjadi kemerahan

2) Menurunnya efektivitas pil KB, KB suntik, atau susuk 3) Gangguan penglihatan

4) Gangguan saraf 5) Gangguan fungsi hati

(40)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 14 Untuk penderita yang sudah kebal dengan kombinasi obat tersebut, akan menjalani pengobatan dengan kombinasi obat yang lebih banyak dan lebih lama. Lama pengobatan dapat mencapai 18-24 bulan. Selama pengobatan, penderita TBC harus rutin menjalani pemeriksaan dahak untuk memantau keberhasilannya.

d. Pencegahan Tuberkulosis

Salah satu langkah untuk mencegah TBC (tuberkulosis) adalah dengan menerima vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Di Indonesia, vaksin ini termasuk dalam daftar imunisasi wajib dan diberikan sebelum bayi berusia 2 bulan. Bagi yang belum pernah menerima vaksin BCG, dianjurkan untuk melakukan vaksin bila terdapat salah satu anggota keluarga yang menderita TBC.

TBC juga dapat dicegah dengan cara yang sederhana, yaitu mengenakan masker saat berada di tempat ramai dan jika berinteraksi dengan penderita TBC, serta sering mencuci tangan.

Walaupun sudah menerima pengobatan, pada bulan-bulan awal pengobatan (biasanya 2 bulan), penderita TBC juga masih dapat menularkan penyakit. Jika Anda menderita TBC, langkah-langkah di bawah ini sangat berguna untuk mencegah penularan, terutama pada orang yang tinggal serumah dengan Anda:

1) Tutupi mulut saat bersin, batuk, dan tertawa, atau kenakan Apabila menggunakan tisu untuk menutup mulut, buanglah segera setelah digunakan.

2) Tidak membuang dahak atau meludah sembarangan.

3) Pastikan rumah memiliki sirkulasi udara yang baik, misalnya dengan sering membuka pintu dan jendela agar udara segar serta sinar matahari dapat masuk.

4) Jangan tidur sekamar dengan orang lain, sampai dokter menyatakan TBC yang Anda derita tidak lagi menular (dr. Tjin

(41)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 15 Willy dalam https://www.alodokter.com/tuberkulosis diakses tanggal 10 Maret 2019 jam 22.00)

e. Pengendalian Tuberkulosis Di Indonesia

Meskipun Indonesia telah mencapai kemajuan luar biasa selama satu dekade terakhir, Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu dari empat penyebab teratas kematian di negara ini. Selain dari hasil survei prevalensi baru-baru ini yang menunjukkan prevalensi TBC jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya, peningkatan kasus TBC kebal obat (MDR-TBC - Multi Drug TBC Resistant), temuan kasus TBC dan MDR-TBC di rumah sakit umum dan swasta masih belum memadai, dan rendahnya notifikasi kasus TBC di penyedia pelayanan kesehatan sektor swasta yang menjadikannya sebagai salah satu tantangan signifikan bagi program TBC nasional.

Oleh karena itu, diperlukan investasi mendalam keterlibatan tenaga kesehatan sektor swasta lebih lanjut dalam menemukan kasus yang tidak dilaporkan dan memperkecil kesenjangan dengan kasus yang terdeteksi. Selain itu, akses terhadap pelayanan berkualitas di daerah perkotaan dan daerah terpencil, terutama untuk kelompok penduduk rentan (misalnya anak-anak, penduduk daerah kumuh, pasien diabetes, dan lain-lain) masih terbatas. Tantangan lainnya mencakup pemberian pelayanan kesehatan termasuk kualitas jaringan laboratorium, transportasi spesimen, rendahnya cakupan pelayanan bagi mereka yang terkena TBC dan HIV, rendahnya persentase MDR-TBC yang terdeteksi, belum selarasnya pencatatan dan pelaporan, kurangnya jaminan pembiayaan bagi pasien yang menjalani pengobatan jangka panjang (terutama untuk MDR-TB), dan rendahnya alokasi dana penanggulangan TBC oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.

(42)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 16 f. Rumitnya Penanganan Tuberkulosis di Indonesia

Indonesia merupakan negara dengan jumlah pengidap tuberkulosis nomor dua di dunia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengatakan hal ini menambah rumit penanganan tuberkulosis di Indonesia.

Menurut Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) Ketua PDPI Pusat Indonesia memiliki 3 permasalahan sekaligus terkait TB. Selain tuberkulosis klasik, Indonesia juga memiliki masalah multi-drug resistant (MDR-TBC) atau TBC kebal obat, serta TBC dengan infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Di Indonesia diperkirakan terdapat 647 kasus TBC setiap 100 ribu penduduk, dengan jumlah kasus baru mencapai 1 juta pertahun. Kematian akibat TBC mencapai 100 ribu per tahun. Masalahnya semakin berat dengan infeksi HIV yang mencapai 4,4 persen dari kasus TBC baru. TBC MDR juga masih tinggi dengan 2,8 persen dari kasus TBC baru dan mencapai 16 persen dari TBC yang pernah diobati sebelumnya.

Data dari Kementerian Kesehatan menyebut pasien baru TBC di Indonesia mencapai 1.020.000 orang. Sekitar 420 ribu terdaftar dan teregistrasi dalam pengobatan di rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Sisanya 600 ribu disebut sebagai missing cases, karena belum tercatat dan tidak ditemukan.

Selanjutnya menurut Dr dr Erlina Burhan, SpP(K) Ketua Pokja TBC PDPI mengatakan missing cases lazimnya terjadi pada pasien yang berobat di klinik dan rumah sakit swasta. Masih ada pasien yang sudah didiagnosis TBC tapi tidak berobat, ada yang berobat tapi tidak selesai, ada yang sudah berobat sampai selesai tapi tidak dilaporkan. Kondisi tergolong sebagai missing cases. Untuk itu, dibutuhkan kerjasama dari berbagai stakeholder dan pihak-pihak terkait untuk bisa menyelesaikan permasalahan TBC di Indonesia. Pihak terkait tersebut antara lain dokter, tenaga kesehatan, pasien,

(43)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 17 keluarga pasien hingga dinas kesehatan setempat (dalam https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3932774/rumitnya-penanganan-tiga-masalah-tuberkulosis-di-indonesia diakses tanggal 10 Maret 2019 jam 22.10).

3. Tinjauan tentang HIV-AIDS a. Pengertian HIV/AIDS

AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit yang timbul akibat menurunnya kekebalan tubuh. Berkurangnya kekebalan tubuh itu sendiri disebabkan virus HIV (Human

Immunodeficiency Virus). Pada dasarnya HIV adalah jenis parasit obligate yaitu virus yang hanya dapat hidup dalam

sel atau media hidup. Virus ini ”senang” hidup dan berkembang biak pada sel darah putih manusia. HIV akan ada pada cairan tubuh yang mengandung sel darah putih, seperti darah, cairan plasenta, air mani atau cairan sperma, cairan sumsum tulang, cairan vagina, air susu ibu dan cairan otak. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut ”sel T – 4” atau disebut pula ”sel CD-4”. 1)

b. Penyebab Penyakit HIV/AIDS

Penyebab penyakit HIV/AIDS adalah infeksi oleh virus HIV, yang menyerang system kekebalan tubuh sehingga sel-sel pertahanan tubuh makin lama makin banyak yang rusak. Penderita infeksi HIV menjadi sangat rentan terhadap semua bentuk infeksi. Pada tahap akhir,

(44)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 18 penderita tidak bisa tahan terhadap kuman-kuman yang secara normal bisa dilawannya dengan mudah.

Infeksi HIV ditularkan melalui hubungan badan baik vagina, anus, dan kontak dengan darah penderita HIV, seperti lewat jarum suntik, bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi HIV, menerima transfusi darah yang terinfeksi, serta transplantasi organ tubuh.

Apabila anda merasa telah terkena infeksi HIV segeralah periksa ke dokter. Hindari tempat-tempat yang banyak serangan penyakit. Tidak melakukan hubungan badan dan mencegah kehamilan, serta jangan menjadi donor darah, sperma, ataupun organ tubuh.

Sebagai tambahan: infeksi HIV/AIDS tidak bisa ditularkan lewat kontak sosial biasa seperti berjabat tangan dan berpelukan, makanan atau alat-alat makan, toilet dan kolam renang, gigitan nyamuk atau serangga lain serta donor darah yang bebas virus HIV.

c. Gejala infeksi HIV/AIDS. 1) Gejala tahap awal

Sebagian besar orang yang terkena infeksi HIV tidak menyadari adanya gejala infeksi HIV tahap awal. Karena, tidak ada gejala mencolok yang tampak segera setelah terjadi infeksi awal, bahkan mungkin sampai bertahun-tahun kemudian. Meskipun infeksi HIV tidak disertai gejala awal, seseorang yang terinfeksi HIV akan membawa virus HIV dalam darahnya. Orang yang terinfeksi tersebut akan sangat mudah menularkan virus HIV kepada orang lain, terlepas dari apakah penderita tersebut kemudian terkena AIDS atau tidak. Untuk

(45)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 19 menentukan apakah virus HIV ada di dalam tubuh seseorang adalah dengan tes HIV.

2) Gejala tahap menengah

Gejala infeksi HIV pada tahap menengah sudah lebih

jelas, misalnya flu yang berulang-ulang: lesu, demam, berkeringat, otot sakit, pembesaran kelenjar limfe, batuk. Gejala infeksi HIV lainnya yaitu infeksi mulut dan kulit yang berulang-ulang, seperti sariawan, atau gejala-gejala dari infeksi umum lain yang selalu kambuh karena penurunan kekebalan tubuh.

3) Gejala tahap akhir

Gejala infeksi HIV tahap akhir disebut juga gejala AIDS, yaitu berat badan menurun dengan cepat, diare kronis, batuk, sesak nafas (infeksi paru-paru, tuberculosis yang telah meluas), bintik-bintik atau bisul berwarna merah muda atau ungu (kanker kulit yang disebut sarcoma

kaposi), pusing-pusing, bingung, infeksi otak.

Infeksi HIV tidak akan langsung memperlihatkan tanda atau gejala tertentu. Sebagian memperlihatkan gejala tidak khas pada infeksi akut, 3-6 minggu setelah terinfeksi. Setelah infeksi akut, dimulailah infeksi HIV asimptomatik (tanpa gejala). Masa tanpa gejala ini umumnya berlangsung selama 8-10 tahun. Tetapi ada sekelompok kecil orang yang perjalanan penyakitnya amat cepat, hanya sekitar 2 tahun, dan ada pula yang perjalanan lambat (non-progressor). Sifat asimptomatik ini menyebabkan orang yang terinfeksi HIV biasanya tidak tahu bahwa dirinya sudah terinfeksi HIV, sehingga dapat menyebarkan virus ini kepada orang lain. Maka tes HIV adalah satu- satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang sudah terinfeksi HIV. Seiring dengan makin

(46)

NA_Raperda Penanggulangan TBC dan HIV/AIDS_Byl_2019. II- 20

memburuknya kekebalan tubuh, ODHA mulai

menampakkan gejala-gejala akibat infeksi oportunistik seperti tuberkulosis, jamur di mulut dan tenggorokan, jamur di paru-paru, herpes zoster (dompo), herpes

genitalis (di kemaluan), kanker di kulit, sering biduren,

dan lain-lain. Infeksi tersebut yang menandai orang masuk dalam fase AIDS.

d. Cara Penularan HIV/AIDS

Menurut Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia (2006), sejak ditemukannya kasus AIDS

pertama kali di Indonesia pada Tahun 1987,

perkembangan kasus HIV/AIDS dilaporkan di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Seluruh provinsi yang ada di Indonesia sebagian penduduknya telah terjangkit HIV/AIDS. Prevalensi HIV/AIDS di Indonesia secara umum masih rendah tetapi Indonesia telah digolongkan sebagai negara dengan tingkat epdemi yang terkonsentrasi (concentrated level epidemic) yaitu adanya prevalensi lebih 5% pada sub populasi tertentu (misalnya pada penjaja seks atau penyalah guna NAPZA). Berdasarkan analisis situasi di Indonesia terdapat

beberapa kondisi potensial yang dapat memicu

penyebaran HIV/AIDS, yaitu:

1) Distribusi penyakit HIV/AIDS mengena pada laki-laki dan perempuan. Dari kasus AIDS yang dilaporkan, 82% kasus adalah laki-laki dan 18% kasus adalah perempuan. Meskipun jumlah penderita AIDS pada perempuan lebih sedikit daripada laki-laki dampak pada perempuan akan selalu lebih besar, baik dalam masalah kesehatan maupun di bidang ekonomi.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :