• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengantar

2.4 Landasan konsep

Dalam menganalisis tradisi pemamanen „paman‟ menggunakan pendekatan Antropolinguistik. Performansi dalam Antropolinguistik mencakup tiga elemen yaitu teks, ko-teks dan konteks. Untuk menganalisis teks, digunakan teori struktur yang dikemukakan oleh van Dijk. Untuk menganalisis ko-teks pendapat Finnegan digunakan yang mencakup paralinguistik dan material/peralatan yang digunakan bersamaan pada saat teks diujarkan. Demikian pula halnya dengan konteks, peneliti juga menggunakan konteks yang dimaknai situasi oleh Finnegan.

2.4.1 Pendekatan Antropolinguistik

Antropolinguistik adalah interdisipliner antara ilmu antropologi dan linguistik. Ilmu antropologi yang fokus kepada perilaku manusia (termasuk berbahasa dan berbicara) melengkapi ilmu linguistik yang fokus kepada bahasa beserta elemen-elemen pendukungnya seperti suara, bentuk kata, struktur dan makna. Berbahasa tidak hanya memperhatikan kata-kata atau kalimat-kalimat yang diproduksi manausia, akan tetapi juga tidak kalah pentingnya mengetahui bagaimana ujaran tersebut dihasilkan. Keduanya menyatu dalam tampilan pada saat seseorang memproduksi ujaran. Adanya jeda, diiringi dengan isakan, tangisan, suara yang tinggi dimana semuanya memilki makna dan pola tersendiri dari suatu kelompok sosial atau guyub tutur. Dalam antropolinguistik, dua disiplin ilmu yang menjadi dasar yaitu antropologi linguistik dan linguistik antropologi.

Dalam hal ini peneliti akan menjelaskan terlebih dahulu konsep meneliti bahasa dari sisi antropologi linguistik dan linguistik antropologi (Folley, 1997).

Sibarani (2015: 92) menyatakan bahwa istilah antropolinguistik pertama sekali diperkenalkannya pada tahun 1993. Pada saat itu, antropolinguistik merupakan bidang interdisipliner yang mempelajari nama dan penamaan sebagai sumber budaya terutama kebudayaan mental yang ada pada komunitas lokal dalam memberikan nama kepada anak-anak mereka. antropolinguistik meneliti

27

hubungan antara bahasa dan budaya yang memiliki keterikatan satu sama lain.

Dari segi penamaan, antropolinguistik lahir beranalogikan kepada sosiolinguistik, psikolinguistik dan neurolinguistik. Ini menunjukkan bahwa antropolinguistik merupakan sub-ilmu dari linguistik. Kehadiran antropolinguistik dapat digunakan untuk menganalisis suatu peristiwa tutur (speech act) yang bersumber dari suatu peristiwa tutur (speech events).

Melalui konsep Antropolinguistik dengan tiga area utamanya yaitu teks, ko-teks dan konko-teks, akan menyatukan penelitian secara antropologi linguistik dan linguistik antropologi sekaligus dengan menjalankan parameter analisis antropolinguistiknya. Sebagai interdisipliner dari antropologi dan linguistik, antropolinguistik menggunakan area utama dalam antropologi linguistik dan makna budaya dalam Linguistik antropologi. Antropologi linguistik merupakan salah satu cabang dari antropologi sehingga performansi menjadi salah satu area utama yang penting untuk diteliti. Dalam linguistik antropologi, bahasa diteliti melalui makna budayanya dengan menitikberatkan kepada penggunaannya seperti kesalahgunaan dan ketidakgunaannya.

Antropolinguistik menggunakan konsep keduanya dimana kekuatan antropologi linguistik pada performansinya, sedangkan linguistik antropologi akan melengkapi makna bahasa dari koridir budaya dan sebagai bidang ilmu interdisipliner antara linguistik dan antropologi, ada tiga cakupan kajian antropolinguistik, yaitu mengenai bahasa, mengenai budaya, dan mengenai aspek-aspek lain kehidupan manusia. Ketiga bidang tersebut dipelajari dari kerangka kerja antara linguistik dan antropologi. Kerangka kerja linguistik berdasarkan pada kajian bahasa dan kerangka kerja antropologi berdasarkan pada kajian seluk-beluk kehidupan manusia. Maka,

Anthropolinguistics is the study of language within the framework of anthropology, the study of culture within the framework of linguistics, and the study of otheraspects of humankind within the interrelated framework of both anthropology and linguistics (Sibarani, 2012: 314).

(Sibarani, 2012: 314) Antropolinguistik adalah studi bahasa dalam kerangka kerja antropologi, studi kebudayaan dalam kerangka kerja linguistik, dan

28

studi aspek kehidupan manusia dalam kerangka kerja bersama antropologi dan linguistik.

Dengan kerangka antropolinguistik maka kajian tradisi lisan berfokus pada teks verbal, kemudian pada unsur-unsur non-verbal. berusaha mengkaji tradisi yang nonverbal, peneliti harus memasuki proses komunikatif tradisi itu sebagai pewarisan dari satu generasi ke generasi lain dengan media lisan. Adapun pengertian dari “lisan” pada tradisi lisan mengacu pada proses penyampaian sebuah tradisi dengan media lisan. Tradisi lisan bukan berarti tradisi itu terdiri atas unsur verbal saja, melainkan penyampaian tradisi tersebut secara turun-temurun secara lisan. Maka, tradisi lisan terdiri atas tradisi yang mengandung unsur verbal, sebagian verbal (partly verbal), atau nonverbal (non- verbal).

Konsep “tradisi lisan” mengacu pada tradisi yang disampaikan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi lain dengan media lisan yakni melalui

“mulut ke telinga”.

Tradisi lisan, terutama tradisi yang memiliki unsur verbal seperti tradisi bermantra, bercerita rakyat, berteka-teki, berpidato adat, berpantun, berdoa, dan permainan rakyat yang disertai nyanyian dapat dikaji dari pendekatan antropolinguistik. Tradisi lisan yang tidak terdiri atas unsur-unsur verbal seperti proses arsitektur, pengobatan tradisional, penampilan tari, bertenun, permainan rakyat, dan bercocok tanam tradisional dapat dikaji secara antropolinguistik dengan menjelaskan proses komunikatif tradisi itu dari satu generasi kepada generasi lain. Selanjutnya dari sudut antropolinguistik, semua ragam bahasa menggambarkan cara berpikir masyarakatnya dan berbicara sesuai dengan cara berpikirnya termasuk cara dalam seluk beluk kebudayaannya (Sibarani, 2004).

Asumsi tersebut mendorong peran antropolinguistik di kajian tradisi lisan khususnya yang memiliki unsur-unsur verbal. Melalui unsur-unsur verbal itu, antropolinguis membahas struktur bahasa tradisi lisan terutama untuk menemukan formula atau kaidah unsur-unsur verbal itu. Struktur itu boleh berupa struktur makro, struktur alur, dan struktur mikro. Di dalam tradisi lisan, sebuah teks seringkali didampingi oleh unsur-unsur nonverbal yang disebut dengan “ko-teks”

(co-text). Ko-teks mungkin berupa unsur paralinguistik, unsur proksemik, unsur

29

kinetik atau unsur material yang kesemuanya penting dipertimbangkan dalam menganalisis struktur teks. Ketika ada proses bermantra, bukan hanya struktur mantranya yang perlu dianalisis, tetapi juga struktur unsur nonverbalnya sebagai ko-teks seperti tekanan suara, tinggi rendahnya suara, penjagaan jarak antara pemantra dengan pendengar, gerak isyarat pemantra atau benda yang digunakan oleh pemantra. Keseluruhan teks dan ko-teks itu menjadi satu kesatuan dalam produksi dan distribusi performansi tradisi lisan.

Tabel 2.1 Analisis Antopolinguistik