• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN TEOR

D. Tinjauan tentang Model Pembelajaran Guided Discovery

2. Landasan Pemikiran Model Pembelajaran Guided Discovery

Pemikiran konstruktivis yang dicetuskan oleh Dewey, Vygotsky, Piaget, dan Bruner melandasi model pembelajaran guided discovery. Secara umum, dalam penerapan model pembelajaran guided discovery, siswa terlihat lebih aktif, orientasi induktif lebih ditekankan daripada deduktif, kemudian siswa menemukan

atau mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri (Suprihatiningrum, 2012: 242). Berikut ini adalah penjelasan terkait pandangan konstruktivisme dan kaitannya dengan pembelajaran guided discovery menurut beberapa tokoh peletak dasar paham konstruktivisme.

a. Konstruktivisme dalam Guided Discovery menurut Dewey

Dewey adalah peletak dasar paham konstruktivisme, sehingga dikenal sebagai bapak konstruktivisme. Ide-ide Dewey digunakan sebagai dasar metode konstruktivisme dan discovery learning (Sugihartono, dkk, 2013: 108). Guru bertindak sebagai fasilitator, mengambil bagian sebagai anggota kelompok dan diadakan kegiatan diskusi dan review oleh teman. Dewey menganjurkan agar bentuk isi pelajaran hendaknya dimulai dari pengalaman siswa dan berakhir pada pola struktur mata pelajaran dan terdapat pengujian hipotesis, sehingga mirip dengan penelitian ilmiah (Trianto, 2009: 32).

b. Konstruktivisme dalam Guided Discovery menurut Piaget

Dalam teori belajar konstruktivisme yang menjiwai model pembelajaran guided discovery, terdapat tiga prinsip fundamental yang harus dipertimbangkan dalam pembelajaran sebagaimana diungkapkan oleh Piaget. Abruscato & Derosa (2010: 29) dan Sugihartono, dkk (2013: 109 – 110) secara bersamaan memaparkan bahwa tiga prinsip fundamental konstruktivisme, meliputi (1) konsepsi naif atau naïve conception, (2) asimilasi atau assimilation, dan (3) akomodasi atau accomodation.

Konsepsi naif merupakan keyakinan yang dibangun siswa atas suatu fenomena. Keyakinan tersebut belum tentu benar karena bisa saja dipengaruhi

oleh asumsi-asumsi yang bersifat subjektif sehingga memaksa siswa untuk mendalami tahap lebih lanjut, yaitu asimilasi. Asimilasi adalah usaha untuk memahami pengetahuan-pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan-pengetahuan dalam skemata (struktur pemikiran) yang sudah lebih dulu ada. Apabila pengetahuan-pengetahuan baru dan skemata yang ada tidak menunjukkan hubungan yang logis, maka akomodasi harus ditempuh. Akomodasi adalah mengubah skemata yang ada dengan skemata baru yang diperoleh dari situasi baru yang logis dan empiris.

Piaget (Santrock, 2009: 41) juga menambahkan prinsip disequilibrium dan equilibrium di samping tiga prinsip fundamental yang sebelumnya telah diuraikan sebelumnya dalam pendapat berikut.

A mechanism that Piaget proposed to explain how children shift from one stage of thought to the next. The shift occurs as children experience cognitive conflict, or disequilibrium in trying to understand the world. Eventually, they resolve the conflict and reach a balance, or equilibrium, of thought.

Prinsip disequilibrium dan equilibrium adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Disequilibrium terjadi ketika pengetahuan baru yang dikenal tidak cocok dengan struktur kognitif yang sudah ada, sedangkan proses restrukturisasi struktur kognitif untuk disesuaikan dengan pengetahuan baru, sehingga pengetahuan baru tersebut dapat diakomodasi dan selanjutnya diasimilasikan menjadi skemata baru disebut equilibrium (Sugihartono, dkk, 2013: 110).

c. Konstruktivisme dalam Guided Discovery menurut Vygotsky

Pokok pikiran paham konstruktivisme yang dikembangkan oleh Vygotsky berbeda dengan konstruktivisme kognitif Piaget. Konstruktivisme sosial dilaksanakan agar kegiatan belajar anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik, sehingga discovery lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya (Sugihartono, dkk, 2013: 113).

Pelaksanaan guided discovery tak pernah lepas dari bimbingan guru. Bimbingan ini sejalan dengan prinsip scaffolding dalam teori konstruktivisme Vygotsky. Bimbingan guru merupakan wujud scaffolding agar siswa selalu berada dalam alur pembelajaran yang sedang dan akan dijalani. Westwood (2008: 4)

mengungkapkan bahwa “in addition, giving students support in the form of hints

and advice has become known as „scaffolding‟.” Scaffolding diberikan agar siswa

tidak mengalami kesulitan atau kebingungan di tengah pembelajaran. d. Konstruktivisme dalam Guided Discovery menurut Bruner

Bruner secara lebih lanjut menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep dan prinsip dalam siswa adalah dengan mengonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari (Sugihartono, dkk, 2013: 111). Belajar adalah proses yang bersifat aktif terkait dengan ide discovery learning, yaitu siswa berinteraksi dengan lingkungannya melalui eksplorasi dan manipulasi objek, membuat pertanyaan, serta menyelenggarakan eksperimen (Sugihartono, dkk, 2013: 111).

Nur, 2005 (Suprihatiningrum, 2012: 248) mengemukakan bahwa guru yang menganut tujuan pokok Bruner, yaitu menjadikan siswa mampu berdiri sendiri,

harus mendorong siswa agar memiliki kemandirian sedini mungkin dari awal sekolah. Peningkatan kemandirian siswa yang sesuai dengan penerapan guided discovery adalah memberikan siswa kebebasan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya atau menemukan sendiri melalui kegiatan berbasis kelompok. Guru bukan hanya sekedar secara langsung memberitahu jawaban dari penyelesaian masalah yang dihadapi siswa, sehingga kemandirian dan kemampuan analitis siswa untuk menyelesaikan permasalahannya sendiri tidak berkembang.

Berdasarkan pendapat-pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa landasan model pembelajaran guided discovery adalah paham konstruktivisme. Empat tokoh pioner dan peletak dasar paham konstruktivisme, yaitu Dewey, Vygotsky, Piaget, serta Bruner mendukung penerapan guided discovery dalam pembelajaran. Siswa harus didorong untuk secara aktif membangun pengetahuannya sendiri dengan bimbingan guru, terutama bagi siswa SD, sehingga siswa tidak mengalami kebingungan dalam mengikuti alur pembelajaran. Pembelajaran yang penuh dengan aktivitas langsung menjadi ekosistem yang baik agar sikap ilmiah siswa dapat muncul dan berkembang. Penerapan pembelajaran kooperatif sebagai wujud konstruktivisme sosial dapat membangkitkan sikap kerja sama. Kegiatan siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri juga membangkitkan sikap ingin tahu, sikap berpikir kritis, sikap tekun, sikap kreatif dan penemuan, sikap respek terhadap data, serta sikap sensitif terhadap lingkungan.

3. Prinsip Dasar Model Pembelajaran Guided Discovery

Model pembelajaran guided discovery sering dikacaukan dengan asas

pendekatan berbasis penemuan “murni”, yang tidak terstruktur (pure,

unstructured discovery), di mana siswa mengidentifikasi pola dan hubungan tanpa bimbingan guru. Clark & Mayer, 2003 (Eggen, Jacobsen & Kauchak, 2009: 209) mengungkapkan bahwa sebuah penelitian telah mengindikasikan bahwa model pembelajaran penemuan yang tak tersusun, kurang efektif daripada model pembelajaran penemuan terbimbing karena waktu tidak dimanfaatkan dengan efektif, dan tanpa bimbingan guru, siswa sering kali tersesat dan frustrasi, serta kebingungan ini dapat menggiring pada kesalahpahaman. Akibatnya, penemuan yang tak tersusun kini sangat jarang terlihat di dalam kelas.

Clark & Mayer, 2003; Moreno, 2004 (Eggen, Jacobsen & Kauchak, 2009: 211) mengungkapkan bahwa prinsip dalam penerapan model pembelajaran guided discovery, yaitu guru menyajikan contoh-contoh pada siswa, memandu mereka saat mereka berusaha menemukan pola-pola dalam dalam contoh-contoh tersebut, dan memberikan semacam penutup ketika siswa telah mampu mendeskripsikan gagasan yang diajarkan guru. Penutup berguna sebagai klarifikasi atas pola-pola atau hubungan antarkonsep yang telah ditemukan siswa melalui penyelidikan.

Perbandingan antara model pengajaran langsung dan model pembelajaran guided discovery adalah tahap-tahap perencanaan untuk kedua pembelajaran tersebut identik satu sama lain. Sama halnya dengan pengajaran langsung, perencanaan untuk model pembelajaran guided discovery juga diawali dengan mengidentifikasi suatu topik dan membuat satu sasaran. Pertimbangan akan latar

belakang pengetahuan siswa juga sangat penting dalam dua pembelajaran tersebut. Namun, pemilihan contoh-contoh secara umum jauh lebih penting dalam model pembelajaran guided discovery karena siswa harus mengandalkan data atau contoh-contoh untuk membentuk abstraksi yang sudah diajarkan. Dalam pelajaran-pelajaran pengajaran langsung, guru dapat mengatasi contoh-contoh yang kurang memadai dengan menjelaskan abtraksi secara lebih menyeluruh, meskipun guru yang terlalu banyak bicara dalam kelas menjadi masalah yang berkelanjutan. Jika contoh-contoh tersebut tidak memadai dalam pelaksanaan model pembelajaran guided discovery, mempelajari abstraksi menjadi jauh lebih sulit.

Moreno & Duran, 2004 (Eggen, Jacobsen & Kauchak, 2009: 210) mengemukakan bahwa penggunaan model pembelajaran guided discovery mungkin memerlukan waktu yang kurang atau lebih banyak daripada pembelajaran ekspositori, tergantung pada tugas yang diberikan, tetapi model pembelajaran penemuan terbimbing cenderung untuk menghasilkan ingatan dan transfer jangka panjang yang lebih baik dari pembelajaran ekspositori. Belajar harus luwes dan bersifat menyelidiki atau penemuan. Jika siswa tampak berusaha dengan menghadapi suatu masalah, berikan mereka waktu untuk mencoba sendiri memecahkan masalah tersebut sebelum memberikan pemecahannya.

Smith (2012: 32) mengungkapkan pendapat sebagai berikut.

Some of the principles of Guided Discovery Learning are: (a) creating a climate in the classroom where there is freedom for learners to discover by doing experiments, (b) challenging learners to consider what has happened, to analyse it for relevance, do it and share it with others, (c) learners are led to analyse data and to form concepts, (d) the value of the learning experience is expressed through analysis of the created experience, (e) teachers „step back‟

and become available as coaches and stabilisers in learning activities by creating an intellectual climate in the classroom.

Prinsip-prinsip model pembelajaran guided discovery, yaitu (a) menciptakan iklim pembelajaran di mana ada kebebasan siswa untuk menemukan pengetahuan baru melalui kegiatan percobaan, (b) menantang siswa untuk memikirkan fenomena yang telah terjadi untuk dianalisis relevansinya kemudian melakukannya dan membaginya dengan siswa yang lain, (c) siswa dibimbing untuk menganalisis data dan membangun konsep-konsep, (d) nilai dari pengalaman belajar diungkapkan melalui analisis dari pengalaman yang tercipta, (e) guru berperan sebagai pelatih dan penstabil dalam aktivitas-aktivitas belajar dengan menciptakan iklim intelektual dalam pembelajaran di kelas.

Carin & Sund, 1989 (Suprihatiningrum, 2012: 246) mengemukakan bahwa ada tiga alasan untuk guru menggunakan model pembelajaran guided discovery, yaitu (a) mayoritas guru lebih nyaman menggunakan pendekatan ekspositori, mungkin karena sudah lama sekali dikenal dalam dunia pendidikan; (b) jika menginginkan siswa menjadi seorang saintis yang selalu mengikuti perkembangan teknologi dan mampu menyelesaikan masalah, siswa harus selalu berperan aktif dalam setiap tingkat kegiatan sains dengan petunjuk dan pendampingan guru. Penemuan terbimbing pada anak yang usianya lebih muda mengarahkan anak ke arah penemuan bebas atau inkuiri ketika anak menginjak masa remaja (adolescence) dan dewasa (adulthood); serta (c) pembelajaran dengan penemuan terbimbing mengembangkan kemampuan metode mengajar guru untuk mempertemukan berbagai macam tingkat pemahaman siswa dalam pembelajaran.

Carin, 1993 (Suprihatiningrum, 2012: 246) memberikan petunjuk dalam merencanakan dan menyiapkan model pembelajaran guided discovery learning meliputi, (a) menentukan tujuan yang akan dipelajari siswa, (b) memilih metode yang sesuai dengan kegiatan penemuan, (c) menentukan lembar pengamatan data untuk siswa, (d) menyiapkan alat dan bahan secara lengkap, (e) menentukan dengan cermat apakah siswa akan bekerja secara individu atau secara berkelompok yang terdiri dari 2 – 5 siswa, (f) mencoba terlebih dahulu kegiatan yang akan dikerjakan oleh siswa untuk mengetahui kesulitan yang mungkin timbul atau kemungkinan untuk modifikasi.

Agar tujuan tersebut dapat tercapai, Carin, 1993 (Suprihatiningrum, 2012: 246) juga menyarankan beberapa hal, meliputi (a) memberikan bantuan agar siswa memahami tujuan dan prosedur kegiatan yang harus dilakukan, (b) memeriksa bahwa semua siswa memahami tujuan dan prosedur kegiatan yang harus dilakukan, (c) sebelum kegiatan dilakukan, menjelaskan pada siswa tentang cara bekerja yang aman, (d) mengamati setiap siswa selama mereka melakukan kegiatan, (e) memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk mengembalikan alat dan bahan yang digunakan, dan (f) melakukan diskusi tentang kesimpulan untuk setiap jenis kegiatan.

Berdasarkan pendapat-pendapat ahli terkait prinsip model pembelajaran guided discovery di atas, peneliti menerapkan prinsip pembelajaran guided discovery menurut Smith (2012) karena keberadaan percobaan sejalan dengan paham konstruktivisme. Percobaan juga mampu melatih upaya pemerolehan fakta melalui aktivitas langsung, sehingga mampu mengakomodasi sikap ingin tahu,

sikap jujur, sikap kerja sama, sikap berpikir kritis, sikap tekun, sikap respek terhadap data/fakta, serta sikap penemuan dan kreativitas. Siswa dituntut untuk mengamati secara saksama, menghimpun data berdasarkan objek kajian, dan menyimpulkan pengetahuan baru secara objektif. Fakta-fakta yang diperoleh kemudian menjadi acuan siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri. Pengetahuan awal (prior knowledge) siswa dihadapkan pada fakta-fakta baru, sehingga proses asimiliasi, akomodasi, dan equilibrium serta disequilibrium dapat lebih bermakna melalui pengalaman belajar empiris.

Dokumen terkait