PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY TERHADAP SIKAP ILMIAH SISWA KELAS V
PADA MATA PELAJARAN IPA DI SDN TRIWIDADI
TUGAS AKHIR SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan
Oleh: Restu Waras Toto NIM 13108241031
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY TERHADAP SIKAP ILMIAH SISWA KELAS V
PADA MATA PELAJARAN IPA DI SDN TRIWIDADI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran guided discovery terhadap sikap ilmiah siswa kelas V pada mata pelajaran IPA di SDN Triwidadi.
Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan bentuk nonequivalent control group design. Populasi subjek penelitian ini adalah 34 siswa kelas V tahun ajaran 2016/2017 yang terbagi ke dalam dua kelas. Kelas V A sebagai kelompok kontrol dan kelas V B sebagai kelompok eksperimen dengan jumlah masing-masing siswa setiap kelas adalah 17 siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket dan observasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan rata-rata skor sikap ilmiah awal dan akhir kedua kelompok.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran guided discovery terhadap sikap ilmiah siswa kelas V pada mata pelajaran IPA di SDN Triwidadi. Rata-rata perolehan skor hasil angket sikap ilmiah awal siswa kelompok kontrol dan eksperimen secara berturut-turut adalah 64,29 (kategori B) dan 64,47 (kategori B), sedangkan rata-rata perolehan skor hasil angket sikap ilmiah akhir siswa kelompok kontrol dan eksperimen secara berturut-turut adalah 64,12 (kategori B) dan 72,74 (kategori A). Rata-rata perolehan skor hasil observasi sikap ilmiah awal siswa kelompok kontrol dan eksperimen secara berturut-turut adalah 57,65 (kategori B) dan 56,35 (kategori B), sedangkan rata-rata perolehan skor hasil observasi sikap ilmiah akhir siswa kelompok kontrol dan eksperimen secara berturut-turut adalah 60,03 (kategori B) dan 72,65 (kategori A).
THE EFFECT OF GUIDED DISCOVERY LEARNING MODEL
APPLICATION TOWARDS THE FIFTH GRADERS’
SCIENTIFIC ATTITUDES ON SCIENCE IN SDN TRIWIDADI
discovery learning model affects the fifth graders‟ scientific attitudes on science
in SDN Triwidadi.
This research was a quasi-experimental research in a form of nonequivalent control group design. The population of this research subjects were 34 fifth graders in the academic year of 2016/2017 divided into two classes. Class V A as the control group and class V B as the experimental group each with the same number of 17 students. The data was collected through questionnaire and observation. The data analysis was done by comparing the mean of the initial and final scientific attitudes scores of both groups.
The results of the research show the effect of guided discovery learning
model application towards the fifth graders‟ scientific attitudes on science in SDN
Triwidadi. The average scores acquired using questionnaire on the students‟ initial scientific attitudes of the control and experimental group are 64.29 (B category) and 64.47 (B category) respectively, whereas the average scores acquired using questionnaire on the students‟ final scientific attitudes of the control and experimental group are 64.12 (B category) and 72.74 (A category) respectively. The average scores acquired using observation on the students‟ initial scientific attitudes of the control and experimental group are 57.65 (B category) and 56.35 (B category) respectively, whereas the average scores acquired using observation on the students‟ final scientific attitudes of the control and experimental group are 60.03 (B category) and 72.65 (A category) respectively.
HALAMAN MOTTO
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini kupersembahkan untuk :
1. Ibu, Bapak, Mbak Heni, Mas Suryo, Dek Nia, dan segenap keluarga besar
yang tidak henti-hentinya memberikan doa dan motivasi dalam penyelesaian Tugas Akhir Skripsi ini.
2. Almamaterku, Universitas Negeri Yogyakarta.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan karunia-Nya, Tugas Akhir Skripsi dalam rangka untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan dengan judul “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Guided Discovery terhadap Sikap Ilmiah Siswa Kelas V pada Mata Pelajaran IPA di SDN Triwidadi” dapat disusun sesuai dengan harapan. Tugas Akhir Skripsi ini dapat diselesaikan tidak lepas dari bantuan dan kerjasama dengan pihak lain. Berkenaan dengan hal tersebut, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Ikhlasul Ardi Nugroho, M.Pd selaku Dosen Pembimbing TAS yang telah banyak memberikan semangat, dorongan, dan bimbingan selama penyusunan Tugas Akhir Skripsi ini.
2. Bapak Ikhlasul Ardi Nugroho, M.Pd selaku Validator instrumen penelitian TAS yang memberikan saran/masukan perbaikan sehingga penelitian TAS dapat terlaksana sesuai dengan tujuan.
3. Bapak Ikhlasul Ardi Nugroho, M.Pd, Ibu Rahayu Condro Murti, M.Si, dan Ibu Dr. Insih Wilujeng, M.Pd selaku Ketua Penguji, Sekretaris, dan Penguji yang sudah memberikan koreksi perbaikan secara komprehensif terhadap TAS ini.
4. Bapak Drs. Suparlan, M.Pd.I selaku Ketua Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar beserta dosen dan staf yang telah memberikan bantuan dan fasilitas selama proses penyusunan pra proposal sampai dengan selesainya TAS ini.
5. Bapak Dr. Haryanto, M.Pd selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan yang memberikan persetujuan pelaksanaan Tugas Akhir Skripsi.
6. Bapak Drs. Agus Slamet Riyadi selaku Kepala SDN Triwidadi yang telah memberi izin dan bantuan dalam pelaksanaan penelitian Tugas Akhir Skripsi ini.
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN... v
LEMBAR PENGESAHAN ... vi
HALAMAN MOTTO. ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN. ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I. PENDAHULUAN
BAB II. KAJIAN TEORI A. Tinjauan tentang Pembelajaran IPA ... 9
1. Hakikat IPA ... 9
2. Komponen-Komponen IPA ... 11
3. Pembelajaran IPA di SD ... 16
4. Tujuan Pembelajaran IPA di SD ... 20
B. Tinjauan tentang Karakteristik Siswa SD ... 22
C. Tinjauan tentang Sikap Ilmiah ... 26
1. Hakikat Sikap Ilmiah ... 26
2. Sikap Ilmiah Siswa SD ... 29
3. Pengembangan Sikap Ilmiah ... 31
4. Pengukuran Sikap Ilmiah ... 33
D. Tinjauan tentang Model Pembelajaran Guided Discovery ... 36
1. Hakikat Model Pembelajaran Guided Discovery ... 36
2. Landasan Pemikiran Model Pembelajaran Guided Discovery . 39 3. Prinsip Dasar Model Pembelajaran Guided Discovery ... 44
5. Penerapan Model Pembelajaran Guided Discovery dalam
Mata Pelajaran IPA Materi Pesawat Sederhana ... 57
E. Kajian Penelitian yang Relevan ... 59
F. Kerangka Berpikir ... 60
G. Hipotesis Penelitian ... 62
BAB III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian ... 63
B. Desain Penelitian ... 63
C. Tempat dan Waktu Penelitian ... 66
D. Populasi Penelitian ... 66
E. Definisi Operasional Variabel ... 67
F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ... 68
G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 76
H. Teknik Analisis Data ... 80
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 83
B. Deskripsi Hasil Penelitian ... 84
1. Data Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Siswa... 84
a. Data Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Siswa Kelompok Kontrol ... 84
b. Data Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Siswa Kelompok Eksperimen ... 93
2. Data Hasil Angket dan Observasi Sikap Ilmiah Siswa ... 102
a. Data Hasil Angket Sikap Ilmiah Siswa Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen ... 103
b. Data Hasil Observasi Sikap Ilmiah Siswa Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen ... 107
C. Hasil Uji Hipotesis ... 112
D. Pembahasan ... 114
E. Keterbatasan Penelitian ... 130
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan... 132
B. Implikasi ... 132
C. Saran ... 133
DAFTAR PUSTAKA ... 134
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Sintesis Peneliti terkait Sikap Ilmiah Siswa SD... 31
Tabel 2. Dimensi dan Indikator Sikap Ilmiah ... 34
Tabel 3. Sintaks Model Pembelajaran Guided Discovery Menurut Jamil Suprihatiningrum (2012) ... 49
Tabel 4. Sintaks Model Pembelajaran Guided Discovery Menurut Syah ... 53
Tabel 5. Populasi Siswa Kelas V SDN Triwidadi Tahun Ajaran 2016/2017 .. 67
Tabel 6. Kisi-Kisi Lembar Angket Sikap Ilmiah Sebelum Uji Coba ... 70
Tabel 7. Kisi-Kisi Lembar Angket Sikap Ilmiah Setelah Uji Coba ... 71
Tabel 8. Kisi-Kisi Awal Lembar Observasi Sikap Ilmiah ... 73
Tabel 9. Kisi-Kisi Akhir Lembar Observasi Sikap Ilmiah ... 74
Tabel 10. Kisi-Kisi Lembar Observasi Aktivitas Siswa ... 75
Tabel 11. Kisi-Kisi Lembar Observasi Aktivitas Guru ... 76
Tabel 12. Hasil Uji Validitas Instrumen Angket ... 78
Tabel 13. Interpretasi Nilai r ... 79
Tabel 14. Pengkategorian Rata-Rata Perolehan Skor Hasil Angket dan Observasi Sikap Ilmiah Siswa ... 81
Tabel 15. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok Kontrol Pertemuan Pertama ... 85
Tabel 16. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Kontrol Pertemuan Pertama ... 86
Tabel 17. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok Kontrol Pertemuan Kedua ... 88
Tabel 18. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Kontrol Pertemuan Kedua ... 89
Tabel 19. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok Kontrol Pertemuan Ketiga ... 91
Tabel 20. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Kontrol Pertemuan Ketiga ... 92
Tabel 21. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok Eksperimen Pertemuan Pertama ... 94
Tabel 22. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Eksperimen Pertemuan Pertama ... 95
Tabel 23. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok Eksperimen Pertemuan Kedua ... 97
Tabel 24. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Eksperimen Pertemuan Kedua ... 98
Tabel 25. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok Eksperimen Pertemuan Ketiga ... 100
Tabel 26. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Eksperimen Pertemuan Ketiga ... 101
Tabel 28. Rekapitulasi Perolehan Skor Angket Sikap Ilmiah Kelompok
Eksperimen. ... 105 Tabel 29. Rekapitulasi Perolehan Skor Observasi Sikap Ilmiah Kelompok
Kontrol. ... 108 Tabel 30. Rekapitulasi Perolehan Skor Observasi Sikap Ilmiah Kelompok
Eksperimen ... 109 Tabel 31. Rekapitulasi Data Hasil Penelitian Sikap Ilmiah Kelompok Kontrol
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Siklus Model Pembelajaran Guided Discovery menurut Carin &
Sund (1989) ... 54 Gambar 2. Bagan Kerangka Pikir Penelitian ... 61 Gambar 3. Skema Nonequivalent Control Group Design ... 64 Gambar 4. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok
Kontrol Pertemuan Pertama ... 85 Gambar 5. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok
Kontrol Pertemuan Pertama ... 87 Gambar 6. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok
Kontrol Pertemuan Kedua ... 88 Gambar 7. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok
Kontrol Pertemuan Kedua ... 90 Gambar 8. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok
Kontrol Pertemuan Ketiga ... 91 Gambar 9. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok
Kontrol Pertemuan Ketiga ... 93 Gambar 10. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok
Eksperimen Pertemuan Pertama ... 94 Gambar 11. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok
Eksperimen Pertemuan Pertama ... 96 Gambar 12. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok
Eksperimen Pertemuan Kedua ... 97 Gambar 13. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok
Eksperimen Pertemuan Kedua ... 99 Gambar 14. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok
Eksperimen Pertemuan Ketiga ... 100 Gambar 15. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok
Eksperimen Pertemuan Ketiga ... 102 Gambar 16. Diagram Kategori Skor Hasil Pengukuran Sikap Ilmiah Awal
melalui Angket pada Kelompok Kontrol dan Kelompok
Eksperimen ... 106 Gambar 17. Diagram Kategori Skor Hasil Pengukuran Sikap Ilmiah Akhir
melalui Angket pada Kelompok Kontrol dan Kelompok
Eksperimen ... 107 Gambar 18. Diagram Kategori Skor Hasil Pengukuran Sikap Ilmiah Awal
melalui Observasi pada Kelompok Kontrol dan Kelompok
Eksperimen ... 110 Gambar 19. Diagram Kategori Skor Hasil Pengukuran Sikap Ilmiah Akhir
melalui Observasi pada Kelompok Kontrol dan Kelompok
Gambar 20. Diagram Rata-Rata Perolehan Skor Hasil Pengukuran Sikap Ilmiah Awal melalui Angket pada Kelompok Kontrol maupun Kelompok Eksperimen ... 117 Gambar 21. Diagram Rata-Rata Perolehan Skor Hasil Pengukuran Sikap
Ilmiah Awal melalui Observasi pada Kelompok Kontrol maupun Kelompok Eksperimen ... 118 Gambar 22. Diagram Rata-Rata Perolehan Skor Hasil Pengukuran Sikap
Ilmiah Akhir melalui Angket pada Kelompok Kontrol maupun Kelompok Eksperimen ... 123 Gambar 23. Diagram Rata-Rata Perolehan Skor Hasil Pengukuran Sikap
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol... 139
Lampiran 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen.155 Lampiran 3. Pedoman Langkah Percobaan. ... 183
Lampiran 4. Lembar Kerja. ... 187
Lampiran 5. Materi Ajar. ... 199
Lampiran 6. Lembar Angket Sikap Ilmiah Sebelum Uji Coba. ... 203
Lampiran 7. Lembar Angket Sikap Ilmiah Setelah Uji Coba. ... 206
Lampiran 8. Pedoman Observasi Sikap Ilmiah Awal. ... 208
Lampiran 9. Pedoman Observasi Sikap Ilmiah Akhir. ... 214
Lampiran 10. Lembar Observasi Sikap Ilmiah Awal... 219
Lampiran 11. Lembar Observasi Sikap Ilmiah Akhir. ... 222
Lampiran 12. Data Hasil Uji Coba Angket. ... 224
Lampiran 13. Hasil Uji Validitas Instrumen Angket. ... 226
Lampiran 14. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Angket. ... 228
Lampiran 15. Data Hasil Observasi Aktivitas Guru Kelompok Kontrol. .. 229
Lampiran 16. Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Kontrol. . 232
Lampiran 17. Data Hasil Observasi Aktivitas Guru Kelompok Eksperimen. ... 235
Lampiran 18. Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Eksperimen. ... 238
Lampiran 19. Data Hasil Perolehan Skor Angket Sikap Ilmiah Awal Siswa Kelompok Kontrol (Pertemuan Pertama). ... 241
Lampiran 20. Data Hasil Perolehan Skor Angket Sikap Ilmiah Akhir Siswa Kelompok Kontrol (Pertemuan Kedua). ... 242
Lampiran 21. Data Hasil Perolehan Skor Angket Sikap Ilmiah Akhir Siswa Kelompok Kontrol (Pertemuan Ketiga). ... 243
Lampiran 22. Data Hasil Perolehan Skor Observasi Sikap Ilmiah Awal Kelompok Kontrol (Pertemuan Pertama). ... 244
Lampiran 23. Data Hasil Perolehan Skor Observasi Sikap Ilmiah Akhir Kelompok Kontrol (Pertemuan Kedua). ... 245
Lampiran 24. Data Hasil Perolehan Skor Observasi Sikap Ilmiah Akhir Kelompok Kontrol (Pertemuan Ketiga). ... 246
Lampiran 25. Data Hasil Perolehan Skor Angket Sikap Ilmiah Awal Kelompok Eksperimen (Pertemuan Pertama). ... 247
Lampiran 26. Data Hasil Perolehan Skor Angket Sikap Ilmiah Akhir Kelompok Eksperimen (Pertemuan Kedua). ... 248
Lampiran 27. Data Hasil Perolehan Skor Angket Sikap Ilmiah Akhir Kelompok Eksperimen (Pertemuan Ketiga) ... 249
Lampiran 28. Data Hasil Perolehan Skor Observasi Sikap Ilmiah Awal Kelompok Eksperimen (Pertemuan Pertama). ... 250
Lampiran 30. Data Hasil Perolehan Skor Observasi Sikap Ilmiah Akhir
Kelompok Eksperimen (Pertemuan Ketiga). ... 252
Lampiran 31. Contoh Pengerjaan Lembar Kerja oleh Siswa. ... 253
Lampiran 32. Contoh Pengerjaan Angket Sikap Ilmiah oleh Siswa. ... 257
Lampiran 33. Contoh Pengerjaan Soal Latihan oleh Siswa. ... 263
Lampiran 34. Daftar Siswa Kelas V SDN Triwidadi Tahun Ajaran 2016/2017 ... 265
Lampiran 35. Foto-Foto Dokumentasi Penelitian. ... 267
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran adalah mata rantai dari proses penyelenggaraan pendidikan. Tingkat keberhasilan dari satuan pendidikan dalam menyongsong tercapainya tujuan pendidikan tak lepas dari proses belajar mengajar. Siswa
mempelajari sejumlah mata pelajaran untuk mengakomodasi usaha untuk mengembangkan kompetensi mereka pada ranah sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang dimanifestasikan sebagai suatu pokok bahasan terstruktur berdasarkan bidang kajian tertentu.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau sains adalah salah satu mata pelajaran
utama di Sekolah Dasar (SD). Objek kajian dari mata pelajaran IPA meliputi seluruh benda hidup dan tak hidup yang ada di jagat raya. Dalam pembelajaran
IPA yang ideal, siswa tidak sebatas menjalani aktivitas kognitif saja. Idealisme dalam pembelajaran IPA ini sejalan dengan pendapat Bundu (2006: 11) bahwa IPA memiliki tiga komponen, yaitu (1) proses ilmiah, misalnya mengamati,
mengklasifikasi, memprediksi, merancang dan melaksanakan eksperimen, (2) produk ilmiah, misalnya prinsip, hukum, dan teori, serta (3) sikap ilmiah,
misalnya sikap ingin tahu, hati-hati, jujur, dan objektif. Siswa harus dibekali dengan pengalaman belajar yang berisi aktivitas penyelidikan untuk menghimpun pengetahuan baru, yang disebut dengan proses IPA. Langkah-langkah yang
individu maupun kelompok. Oleh karena itu, siswa harus mampu menunjukkan sikap-sikap yang mengedepankan empirisme dan objektivitas dalam menjalani
proses IPA, yaitu sikap ilmiah (scientific attitudes).
Sikap ilmiah penting untuk dikembangkan karena cara berpikir, sikap
ilmiah, dan minat juga diperoleh dan dikembangkan selama belajar di sekolah, dan aspek-aspek ini yang justru akan menetap dalam diri siswa (Bundu, 2006: 39). Sikap ilmiah tetap efektif dan dapat teramati jauh sesudah berbagai mata pelajaran
telah disampaikan atau bahkan ketika substansi kognitif dari pembelajaran sudah dilupakan siswa.
Pembelajaran yang berbasis pada penyelidikan dan penemuan mendorong siswa agar proaktif mencari penjelasan atas suatu fenomena, bukan sekedar menerima pengetahuan baru dengan menyimak penjelasan guru atau membaca
literatur. Melalui aktivitas penyelidikan menuju pada suatu penemuan, siswa mengalami proses bagaimana pengetahuan baru dapat terhimpun. Sikap ilmiah
siswa lebih optimal jika model pembelajaran yang diterapkan mampu mengakomodasi proses penyelidikan dan penemuan.
Pemilihan model pembelajaran adalah salah satu aspek yang perlu
dipertimbangkan sejak rencana pembelajaran disusun. Terdapat banyak model pembelajaran yang dapat diterapkan. Setiap model pembelajaran memiliki
terhadap tujuan pengembangan sikap ilmiah siswa, model pembelajaran yang diterapkan harus berpengaruh positif terhadap sikap ilmiah siswa.
Model pembelajaran penemuan terbimbing atau guided discovery merupakan salah satu model pembelajaran. Model pembelajaran guided discovery
adalah suatu model pembelajaran di mana siswa menemukan konsep-konsep atau hubungan-hubungan secara mandiri tetapi bimbingan guru masih diberikan agar aktivitas lebih terarah dan mencapai tujuan yang diinginkan. Guru memberikan
petunjuk, anjuran, dan atau pertanyaan agar siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti alur pembelajaran. Model pembelajaran guided discovery
dilandasi oleh paham konstruktivisme bahwa dalam belajar, siswa secara aktif terlihat, orientasi induktif lebih ditekankan daripada deduktif, kemudian siswa menemukan atau mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri.
Siswa kelas tinggi juga cenderung menunjukkan minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret (Yusuf, 2004: 24). Dengan demikian, paham
konstruktivisme memiliki ketersinambungan dengan tuntutan pembelajaran IPA agar sesuai dengan tingkat perkembangan siswa SD kelas tinggi – bahwa dalam membangun pengetahuannya sendiri, siswa harus dilibatkan pada aktivitas
langsung pada objek konkret yang dikaji.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap guru kelas VA dan V
B SDN Triwidadi, diperoleh informasi bahwa model pembelajaran guided discovery belum pernah diterapkan. Pembelajaran dengan metode ceramah masih dominan diterapkan untuk materi-materi pada mata pelajaran IPA yang
diarahkan agar siswa dapat menemukan dan membangun pengetahuan baru. Selain itu, penggunaan buku paket dan buku latihan soal menjadi acuan utama
dalam pembelajaran IPA. Akibatnya, sikap ilmiah siswa belum muncul secara optimal saat pembelajaran IPA di kelas V A dan V B SDN Triwidadi.
Fakta-fakta terkait pelaksanaan pembelajaran IPA di kelas VA dan V B SDN Triwidadi SDN Triwidadi menunjukkan bahwa model pembelajaran guided discovery merupakan model pembelajaran nonkonvensional pada lingkup kedua
kelas tersebut. Dengan demikian, pengaruh penerapan model pembelajaran guided discovery terhadap sikap ilmiah siswa belum pernah digali dan diketahui di SDN
Triwidadi. Oleh karena itu, perlu diadakan pembuktian secara empiris melalui penelitian.
Berdasarkan idealisme pembelajaran IPA, pentingnya sikap ilmiah, hasil
observasi dan wawancara, serta belum diketahuinya pengaruh penerapan model pembelajaran guided discovery terhadap sikap ilmiah siswa kelas V pada mata
pelajaran IPA di SDN Triwidadi, maka peneliti melakukan penelitian ini. Peneliti melakukan penelitian dengan judul penelitian, yaitu “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Guided Discovery Terhadap Sikap Ilmiah Siswa Kelas V pada Mata
Pelajaran IPA di SDN Triwidadi”.
B. Identifikasi Masalah
1. Pembelajaran dengan metode ceramah dan berpusat pada buku paket masih
diterapkan pada materi-materi pada pembelajaran IPA di SDN Triwidadi
yang sebenarnya dapat melibatkan siswa untuk melakukan aktivitas langsung kemudian dibimbing agar siswa dapat menemukan dan membangun
pengetahuan baru.
2. Belum diketahuinya pengaruh penerapan model pembelajaran guided
discovery terhadap sikap ilmiah siswa kelas V pada mata pelajaran IPA di
SDN Triwidadi.
C. Pembatasan Masalah
Berdasaran identifikasi masalah, peneliti membatasi permasalahan dalam penelitian ini, yaitu belum diketahuinya pengaruh penerapan model pembelajaran
guided discovery terhadap sikap ilmiah siswa kelas V pada mata pelajaran IPA di SDN Triwidadi.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi, dan pembatasan masalah, maka rumusan masalah penelitian ini, yaitu “apakah model pembelajaran guided
E. Tujuan Penelitan
Berdasarkan uraian pembatasan masalah, tujuan penelitian ini adalah
mengetahui pengaruh model pembelajaran guided discovery terhadap sikap ilmiah siswa kelas V pada mata pelajaran IPA di SDN Triwidadi.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini secara umum diharapkan dapat memberikan manfaat teoretis
dan manfaat praktis bagi peneliti, siswa, serta guru. 1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat teoretis sebagai berikut.
a. Mengembangkan pembelajaran yang bermakna.
b. Memberikan informasi bahwa ada model pembelajaran pembelajaran
nonkonvensional yang dapat diterapkan dalam pembelajaran IPA, yaitu
model pembelajaran guided discovery.
c. Memberikan informasi terkait penggunaan model pembelajaran guided
discovery dalam pembelajaran IPA di SDN Triwidadi.
d. Memberikan informasi terkait pengukuran sikap ilmiah dalam pembelajaran
IPA.
e. Memberikan informasi terkait pengaruh penerapan model pembelajaran
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat praktis kepada
peneliti, siswa, dan guru. a. Bagi Peneliti
Bagi peneliti, manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Menambah pengalaman dalam melakukan penelitian.
2) Hasil penelitian diharapan memberikan sumbangan pemikiran maupun
masukkan bagi peneliti lain. b. Bagi Siswa
Bagi siswa, manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Menyadarkan siswa terhadap haknya untuk mendapatkan pembelajaran IPA
yang dapat mengakomodasi pengembangan sikap ilmiahnya.
2) Membantu siswa dalam mengembangkan sikap ilmiahnya sebagai bekal
kecakapan siswa dalam kehidupan nyata.
3) Melatih kemampuan siswa untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi
di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah. c. Bagi Guru
Bagi guru, manfaat praktis yang diharapkan dari terlaksananya penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Memotivasi guru agar menggunakan model pembelajaran yang mampu
2) Memberikan pengetahuan guru terkait penerapan model pembelajaran guided
discovery dalam pembelajaran IPA.
3) Memberikan pengetahuan terkait pengukuran sikap ilmiah siswa pada
BAB II KAJIAN TEORI
A. Tinjauan tentang Pembelajaran IPA 1. Hakikat IPA
Sains atau IPA berasal dari akar frasa dalam bahasa Inggris, yaitu natural science. Bundu (2006: 9) mengungkapkan bahwa natural artinya alamiah dan berhubungan dengan alam, sedangkan science artinya ilmu pengetahuan, sehingga
IPA atau sains secara harfiah dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang alam atau yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam. Pendapat
senada juga diungkapkan oleh Samatowa (2010: 3) yang menjelaskan bahwa IPA merupakan ilmu pengetahuan yang membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis dengan didasarkan pada hasil percobaan dan
pengamatan yang dilakukan oleh manusia.
Jika ditinjau dari fisiknya, IPA adalah suatu ilmu pengetahuan yang objek
telaahnya adalah alam dengan segala isinya, meliputi manusia, hewan, dan tumbuhan, termasuk juga bumi (Daryanto, 2014: 160). Abruscato & Derosa (2010: 11) mengungkapkan pendapat serupa bahwa “science seeks explanation of
the natural world”. IPA berusaha untuk menggali atau menghimpun penjelasan logis dan empiris yang melatarbelakangi terjadinya fenomena alam yang menjadi
objek kajian. Selain itu, Wonorahardjo (2011: 12) menjelaskan bahwa IPA atau sains adalah sekumpulan pengetahuan yang diperoleh melalui metode tertentu di mana proses penyelidikan ilmiah yang dilaksanakan telah diuji kebenarannya
IPA sangat menjunjung tinggi empirisme dalam memahami suatu gejala alam. Empirisme dalam IPA didukung oleh Chalmers (2013: 1) yang mengungkapkan
bahwa, “science is to be based on what we can see, hear, and touch rather than on personal opinions or speculative imagings”. Dengan demikian, segala sesuatu
yang tidak dapat diindera oleh manusia bukanlah objek kajian sains. IPA sama sekali tidak didasarkan pada opini-opini pribadi atau gambaran spekulatif.
Kober (1993: 13) mengemukakan pendapat yang berbeda bahwa, “…science is more than a body of knowledge; it is a way of looking at the world
and ordering one's experience”. IPA bukanlah sekedar sekumpulan pengetahuan.
Namun, IPA juga merupakan cara pandang seseorang terhadap fenomena yang terjadi di dunia untuk mengolah pengalaman seseorang dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi suatu pengetahuan yang dipahami. Kober (1993: 13) juga
mengemukakan bahwa, “the study of science presents an incomparable opportunity to open young minds to new vistas and to equip them with intellectual
tools that will guide learners for the rest of their lives”. Dengan mempelajari IPA memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk membuka pemikiran terhadap pandangan-pandangan baru dan memberikan bekal intelektual kepada pembelajar
sebagai petunjuk sepanjang sisa kehidupannya.
Berdasarkan pendapat-pendapat ahli yang telah diuraikan, dapat
disimpulkan bahwa IPA merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala alam secara empiris, rasional, dan objektif. Penjelasan logis, empiris, dan rasional atas gejala-gejala alam tersebut dihimpun melalui proses pengamatan dan
tidak didasarkan pada opini-opini pribadi atau gambaran spekulatif manusia. IPA bukan sekedar kumpulan pengetahuan akan gejala alam tetapi juga tentang proses
mencari tahu hingga pengetahuan baru dapat terhimpun. IPA menjadi bekal bagi seseorang untuk menjalani kehidupan sepanjang hayatnya.
2. Komponen-Komponen IPA
Abruscato & Derosa (2010: 11) menjelaskan bahwa IPA tediri dari dua komponen, yaitu “a systematic quest for explanations” dan “the dynamic body of
knowledge generated through quest for explanations”. Proses mencari penjelasan logis dan empiris melalui metode ilmiah dijalankan secara sistematis. Dengan
demikian, IPA merupakan serangkaian proses yang diwujudkan dalam metode ilmiah yang digunakan untuk menghimpun kebenaran dan memahami alam semesta dengan segala isinya. Produk IPA tidaklah muncul secara instan
melainkan melalui dihasilkan dari penyelidikan (proses IPA) yang dilaksanakan secara empiris, sistematis, dan terstruktur melalui metode-metode ilmiah, bukan
berdasarkan atas asumsi-asumsi pribadi maupun kelompok yang tentunya dipengaruhi subjektivitas.
Hungerford, Vold & Ramsey, 1990 (Fatonah & Prasetyo, 2014: 7)
mengungkapkan bahwa IPA meliputi beberapa komponen, yaitu proses memperoleh informasi melalui metode empiris, informasi yang diperoleh melalui
penyelidikan yang telah ditata secara logis dan sistematis, dan suatu kombinasi proses berpikir kritis sebagai sikap yang menghasilkan informasi yang dapat dipercaya dan valid. Hungerford, Vold & Ramsey (Fatonah & Prasetyo, 2014: 7)
produk yang saling mengisi dalam derap kemajuan dan perkembangan IPA. Keberadaan metode empiris yang merupakan ciri khas dari IPA berguna untuk
menjamin agar kesimpulan dari penyelidikan tidak bersifat bisa dan terbebas dari asumsi-asumsi subjektif atas kehendak individu maupun kelompok.
Trowbridge & Bybee, 1990 (Fatonah & Prasetyo, 2014: 7) mengemukakan bahwa, “science is manifestation of the extent body of scientific knowledge, the values of science, and the methods and processes of science”. IPA merupakan
perwujudan dari tiga komponen, meliputi produk IPA, nilai-nilai IPA, dan metode-metode dan proses-proses IPA. Pandangan ini lebih luas daripada
pengertian yang dikemukakan Hungerford, Volk & Ramsey (1990) karena Trowbridge & Bybee (1990) selain memandang IPA sebagai proses dan metode (process and method) serta produk IPA (body of scientific knowledge), tetapi juga
melihat bahwa IPA memuat seperangkat nilai. Hal ini diperkuat oleh Bundu (2006: 11) bahwa IPA memiliki tiga komponen, yaitu (a) proses ilmiah, misalnya
mengamati, mengklasifikasi, memprediksi, merancang dan melaksanakan eksperimen, (b) produk ilmiah, misalnya prinsip, hukum, dan teori, serta (c) sikap ilmiah, misalnya sikap ingin tahu, hati-hati, jujur, dan objektif.
Pendapat di atas mengimplikasikan beberapa hal, yaitu (a) IPA merupakan proses mengumpulkan informasi tentang alam sekitar, (b) IPA juga merupakan
pendapat Carin & Sund (Samatowa, 2010: 20) bahwa IPA merupakan kesatuan dari tiga komponen yaitu, produk, proses, dan sikap.
a. IPA sebagai produk
Pengetahuan-pengetahuan bersifat teoretis maupun praktis yang dipelajari
manusia merupakan produk IPA. Iskandar (Bundu, 2006: 11) mengemukakan bahwa IPA sebagai produk merupakan kumpulan hasil kegiatan empirik dan analitis yang dilakukan para ilmuwan dalam bentuk fakta-fakta, konsep-konsep,
prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan teori-teori IPA.
1) Fakta; fakta merupakan kebenaran-kebenaran terhadap objek kajian dan
sudah dibuktikan secara objektif dan teruji.
2) Konsep; konsep merupakan hubungan antara fakta-fakta yang saling
berkorespondensi.
3) Prinsip; prinsip merupakan generalisasi tentang hubungan konsep-konsep. 4) Hukum; hukum merupakan prinsip-prinsip yang sudah diterima kebenarannya
secara luas bersifat tentantif, tetapi memiliki daya uji yang kuat sehingga dapat bertahan dalam waktu yang relatif lama.
5) Teori; teori merupakan kerangka hubungan yang lebih luas antara fakta,
konsep, prinsip, dan hukum, berupa gambaran yang dibuat para ilmuwan untuk menjelaskan gejala alam.
Rezba, Sprague, McDonnough et al (2007: 11) mengungkapkan bahwa “scientific knowledge is never proven, it is tentative but durable”. Pendapat serupa
diungkapkan oleh Abruscato & Derosa (2010: 11) bahwa “the scientific body of
bersifat tentatif atau dinamis, sehingga produk IPA yang sudah ada dapat direvisi atau bahkan tidak berlaku lagi jika ditemukan suatu hasil penelitian atau temuan
baru yang berlawanan dengan produk IPA yang sudah lebih dahulu ada. b. IPA sebagai proses
Dalam melaksanakan penyelidikan untuk menggali pengetahuan baru berdasarkan fenomena alam yang sedang dikaji. Proses IPA merupakan perwujudan nyata dari metode ilmiah sehingga kegiatan penyelidikan
dilaksanakan secara sistematis, empiris, dan terencana. Penguasaan proses IPA adalah perubahan dalam dimensi afektif dan psikomotor dengan mengetahui
sejauh mana siswa mengalami kemajuan dalam keterampilan proses IPA.
Keterampilan proses sains terdikotomi menjadi dua kelompok, yaitu keterampilan proses IPA dasar dan keterampilan proses IPA terintegrasi (Rezba,
Sprague, McDonnough et al, 2007: 4 – 5). Keterampilan proses IPA dasar kecakapan yang digunakan ketika melaksanakan kegiatan berbasis IPA.
Keterampilan proses IPA dasar secara urut, meliputi (a) mengamati, (b) mengomunikasikan, (c) mengklasifikasikan, (d) mengukur secara metris, (e) menginferensi, dan (f) memprediksi. Keterampilan proses IPA terintegrasi
bergantung pada keterampilan proses IPA dasar. Keterampilan proses IPA dasar menyediakan dasar bagi keterampilan proses IPA terintegrasi yang lebih
kompleks. Keterampilan proses IPA terintegrasi secara urut, meliputi (a) mengidentifikasi variabel, (b) menyusun tabel data, (c) menyusun grafik, (d) menggambarkan hubungan-hubungan antar variabel-variabel, (e) menghimpun
mendefinisikan variabel-variabel secara operasional, (i) merancang eksperimen, serta (j) melaksanakan eksperimen.
c. IPA sebagai sikap
Dawson (Sarkim, 2009: 134) mengelompokkan sikap ke dalam dua
kelompok besar yaitu seperangkat sikap yang apabila diikuti akan membantu proses pemecahan masalah dan seperangkat sikap yang menekankan sikap tertentu terhadap IPA sebagai suatu cara memandang dunia serta dapat berguna bagi
pengembangan karir di masa mendatang. Sikap yang termasuk pada kelompok pertama, meliputi (1) kesadaran akan perlunya bukti ketika mengemukakan suatu
pernyataan, (2) kemauan untuk mempertimbangkan interpretasi atau pandangan lain, (3) kemauan untuk melakukan eksperimen atau percobaan dengan hati-hati, dan (4) menyadari keterbatasan dalam penemuan keilmuan.
Sikap yang termasuk pada kelompok dua, meliputi (1) rasa ingin tahu terhadap dunia fisik dan biologis serta cara kerjanya, (2) pengakuan bahwa IPA
dapat membantu pemecahan masalah individu dan global, (3) memiliki rasa antusiasme untuk menguasai pengetahuan dengan metode ilmiah, (4) pengakuan pentingnya pemahaman keilmuan, (5) pengakuan bahwa IPA merupakan aktivitas
manusia, dan (6) pemahaman hubungan antara IPA dengan bentuk aktivitas manusia yang lain. Sikap-sikap tersebut sangat jelas berhubungan dengan IPA dan
potensial untuk dikembangkan dalam pembelajaran IPA.
Nilai-nilai yang menjadi ciri khas IPA, yaitu (1) kebenaran atau truth, (2) kebebasan atau freedom, (3) keragu-raguan atau skepticism, (4) urutan atau order,
& Derosa, 2010: 14). Nilai-nilai tersebut harus dimunculkan dalam setiap kegiatan dalam menggali dan menyimpulkan penjelasan atas fenomena-fenomena yang
terjadi di alam. Wujud konkret dari tertanamnya nilai-nilai tersebut tercermin dari sikap ilmiah yang ditunjukkan oleh individu sebagai pelaku IPA.
Berdasarkan pendapat para pakar yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen IPA, meliputi produk-produk IPA, proses IPA, dan sikap IPA atau sikap ilmiah. Ketiga komponen tersebut saling berhubungan satu
sama lain. Gejala-gejala alam yang menjadi objek IPA diselidiki dengan melaksanakan proses IPA dengan menerapkan keterampilan proses dan
menjunjung sikap ilmiah sehingga terhimpun pengetahuan-pengetahuan baru sebagai produk IPA yang yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
3. Pembelajaran IPA di SD
Pembelajaran IPA sebagai disiplin ilmu dan penerapannya dalam masyarakat membuat pendidikan IPA penting, tetapi penyajian pembelajaran IPA
perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa, prinsip ini berlaku dalam pembelajaran IPA di jenjang SD (Samatowa, 2010: 5). Prinsip ini menjadi pertimbangan karena struktur pemikiran siswa SD tidak dapat disamakan dengan
struktur pemikiran ilmuwan atau orang dewasa.
Empat dimensi umum yang harus hadir dalam pembelajaran IPA, meliputi
IPA sebagai cara berpikir (science as a way of thinking), IPA sebagai cara melakukan penyelidikan (science as a way of investigating), IPA sebagai produk (science as a body of knowledge), dan IPA beserta interaksinya dengan teknologi
(Chiappetta & Koballa, 2010: 105). Siswa harus dilibatkan dalam pembelajaran IPA yang mampu mengakomodasi keempat dimensi tersebut, sehingga dapat
diperoleh pengalaman belajar yang utuh.
Bambang Suminto (Fatonah & Prasetyo, 2014: 11) mengemukakan bahwa
pengajaran IPA sebagai mata pelajaran di sekolah akan mempunyai dampak yang penting karena hal ini berhubungan erat dengan keberlangsungan umat manusia di dunia, khususnya yang berhubungan dengan pilihan tindakan yang bijak terhadap
isu-isu global (pemanasan global, rekayasa genetik, dll) dan tuntutan angkatan kerja dalam lingkungan ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan serta teknologi
(knowledge based economy). Oleh karena itu, pembelajaran IPA melatih siswa untuk memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam menangani sumber daya di sekitarnya dengan mempertimbangkan keselarasan antara alam dan
keberadaan manusia.
Pembelajaran IPA harus melibatkan siswa untuk mengikuti alur dalam
proses IPA hingga menemukan pengetahuan baru terkait fenomena yang ada. Hal ini didukung oleh Kober (1993: 13) yang mengemukakan bahwa, “In the effective science classroom, the activity of finding out is as important as knowing the
answer”. Dalam pembelajaran IPA, aktivitas siswa untuk mencari tahu penjelasan atas fenomena melalui penyelidikan sama pentingnya dengan jawaban dari
kegiatan penyelidikan sebagai pengetahuan baru.
Samatowa (2010: 10) mengemukakan bahwa terdapat beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan guru dalam memberdayakan siswa dalam
memulai kegiatan pembelajaran, siswa telah memiliki berbagai konsepsi, pengetahuan yang relevan dengan apa yang akan mereka pelajari, (b) aktivitas
anak melalui berbagai kegiatan nyata dengan alam menjadi hal utama dalam pembelajaran IPA, (c) dalam setiap pembelajaran IPA, kegiatan bertanya menjadi
bagian yang penting, bahkan menjadi bagian yang paling utama dalam pembelajaran, serta (d) pembelajaran IPA memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dalam menjelaskan suatu
masalah.
Sesuai uraian sebelumnya, siswa telah memiliki konsepsi awal yang
berkaitan dengan apa yang akan mereka pelajari. Konsepsi awal tersebut bisa saja mengandung miskonsepsi. Osborne (Fatonah & Prasetyo, 2014: 10) menyarankan beberapa hal yang berkaitan dengan upaya mengubah gagasan awal siswa, yaitu
(a) menemukan dan mengidentifikasi pengetahuan awal yang dimiliki oleh siswa tentang suatu fenomena dan atau suatu situasi, hal yang mereka pikirkan,
alasannya, serta penjelasannya; (b) menangani pengetahuan awal siswa dengan serius kemudian memberikan siswa kesempatan untuk menguji pengetahuan awal melalui penyelidikan atau pengamatan objek atau situasi tertentu; (c) mengajak
siswa berdiskusi tentang temuan yang mereka peroleh; (d) melaksanakan diskusi kelas untuk memperoleh pendapat yang berbeda tentang hal yang sama; (e)
memberi kesempatan siswa untuk memperhatikan pendapat yang bebeda dengan pendapatnya sendiri; (f) menawarkan pandangan ilmiah kepada siswa untuk mengupayakan agar mereka dapat menggali sendiri nilai yang terkandung dalam
pengetahuannya untuk memecahkan masalah baru atau memperoleh pengalaman baru.
Guru memiliki peran sentral dalam pembelajaran IPA. Peran guru dalam pembelajaran IPA SD secara lengkap telah dikemukakan oleh Abruscato &
Derosa (2010: 11) dalam pendapat berikut.
As an elementary school science teacher, you will teach process skills, values, and attitudes associated with seeking scientific explanations as well as the body of knowledge that constitutes current scientific explanations of natural phenomenon.
Produk IPA atau pengetahuan baru hanya sebatas hasil akhir dari rangkaian
kegiatan yang dijalani siswa selama pembelajaran IPA. Peran guru SD dalam pembelajaran IPA adalah mengajarkan keterampilan proses IPA, nilai-nilai, dan
sikap-sikap yang diasosiasikan dengan pencarian atas penjelasan-penjelasan ilmiah atau produk IPA yang tentang penjelasan-penjelasan ilmiah terkini dari
gejala alam.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa penyajian pembelajaran IPA di SD perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa.
Pembelajaran IPA di SD harus menghadirkan aktivitas langsung siswa untuk menghimpun pengetahuan baru dengan menerapkan keterampilan proses.
Aktivitas siswa untuk menghimpun pengetahuan sama pentingnya dengan pengetahuan baru itu sendiri. Dalam menjalankan aktivitas langsung tersebut, sikap ilmiah perlu untuk ditunjukkan agar pengetahuan baru yang diperoleh
bersifat empiris, objektif, dan logis. Guru berperan untuk mengajarkan keterampilan proses IPA, nilai-nilai, dan sikap-sikap. Dengan demikian, guru
langsung yang cenderung bersifat klasikal jika pokok bahasan memungkinkan untuk disajikan melalui aktivitas langsung agar siswa mendapatkan pengalaman
belajar yang lebih baik dan bermakna.
4. Tujuan Pembelajaran IPA di SD
Tujuan pembelajaran IPA di SD merupakan pencapaian dari segi produk, proses, dan sikap keilmuan (Bundu, 2006: 18). Berikut adalah penjelasannya. a) Dari segi produk, siswa diharapkan dapat memahami konsep-konsep IPA dan
keterkaitannya dalam kehidupan sehari-hari.
b) Dari segi proses, siswa diharapkan memiliki kemampuan untuk
mengembangkan pengetahuan, gagasan, serta mengaplikasikan konsep yang diperoleh untuk menjelaskan dan memecahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari hari.
c) Dari segi sikap dan nilai, siswa diharapkan mempunyai minat untuk
mempelajari benda-benda di lingkungannya, bersikap ingin tahu, tekun, kritis,
mawas diri, bertanggung jawab, dapat bekerjasama dan mandiri, serta mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga menyadari keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
Yager, 1996 (Fatonah & Prasetyo, 2014: 10) mengemukakan bahwa terdapat lima domain yang harus dikembangkan dalam pembelajaran IPA, yaitu
a) Menguasai pengetahuan tentang berbagai jenis dan perangai lingkungan alam dan lingkungan buatan dalam kaitan dengan pemanfaatannya bagi kehidupan sehari-hari;
b) Mengembangkan keterampilan proses sains;
c) Mengembangkan wawasan, sikap, dan nilai-nilai yang berguna bagi siswa untuk meningkatkan kualitas hidup sehari-hari;
d) Mengembangkan kesadaran tentang keterkaitan yang saling mempengaruhi antara kemampuan sains dan teknologi dengan keadaan lingkungan serta pemanfaatannya bagi kehidupan nyata sehari-hari; dan
e) Mengembangkan kemampuan siswa untuk menerapkan iptek serta keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi.
Harlen & Qualter (2004: 10) juga mengungkapkan pendapat berikut.
The overall goal of primary science is to help children to make sense of the phenomena and events in the world around, so it is important for the children (and not just the teacher) to see that what is being investigated helps in understanding their everyday experiences.
Dalam kehidupan sehari-hari, siswa menemui berbagai fenomena di alam sekitar. Namun, siswa kadang belum memiliki atau mampu memberikan
penjelasan yang masuk akal tentang bagaimana fenomena tersebut dapat terjadi. Keseluruhan tujuan pembelajaran IPA di SD adalah membangkitkan keikutsertaan
penuh antara siswa dan guru untuk memahami secara nyata objek yang sedang diselidiki membantu mereka dalam memahami pengalaman-pengalaman sehari-hari.
Aspek lain yang perlu dipertimbangkan dalam pembelajaran IPA adalah upaya agar semua domain yang ada dalam pembelajaran sains yang terdiri atas
memiliki andil dalam memahami konsep melalui pengalaman langsung, menggali informasi, mengorganisasikan informasi, dan menguji pendapat.
Berdasarkan pendapat-pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran IPA di SD meliputi, meningkatan kognisi, keterampilan
proses, aplikasi IPA, sikap ilmiah, dan pengembangan kreativitas IPA. Objek IPA adalah gejala-gejala alam yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Siswa didorong untuk memahami objek yang sedang dikaji, sehingga membantu mereka
dalam memahami pengalaman-pengalaman sehari-hari.
B. Tinjauan tentang Karakteristik Siswa SD
Izzaty, dkk (2013: 110) menjelaskan bahwa emosi kebahagiaan, rasa ingin tahu, suka cita, tidak saja membantu perkembangan anak tetapi merupakan
sesuatu yang sangat penting dan dibutuhkan bagi perkembangan anak. Rasa ingin tahu sebagai salah satu sikap ilmiah menjadi modal awal dalam pengembangan
sikap ilmiah karena rasa ingin tahu yang tinggi adalah bentuk motivasi siswa untuk mempelajari suatu hal secara lebih jauh. Rasa ingin tahu tak lepas dari aktivitas pengamatan oleh anak. Stern (Ahmadi & Sholeh, 2005: 115) membagi
pengamatan anak ke dalam empat masa, meliputi (1) masa mengenal benda (sampai usia 8 tahun), di mana pengamatannya masih bersifat global, tetapi telah
dapat membedakan benda tertentu; (2) masa mengenal perbuatan (8-9 tahun), di mana anak telah memperhatikan perbuatan manusia dan hewan; (3) masa mengenal hubungan (9-10 tahun), di mana anak mulai mengenal sifat benda,
masa mengenal sifat (10 tahun ke atas), di mana anak mulai menganalisis pengamatannya, sehingga ia mengenal sifat-sifat benda, manusia, dan hewan.
Sumantri & Sukmadinata (2008: 6.4) mengungkapkan bahwa bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih mudah dipahami jika anak
melakukan sendiri, sama halnya dengan pemberian contoh pada orang dewasa, sehingga guru hendaknya merancang pembelajaran yang melibatkan anak agar terlibat langsung selama proses belajar mengajar. Keterlibatan anak secara
langsung tentu mendukung pengembangan sikap ilmiah. Guru perlu menerapkan model pembelajaran yang sesuai, sehingga siswa dapat memahami makna dari
pembelajaran secara utuh.
Sumantri & Sukmadinata (2008: 6.4) mengemukakan bahwa anak usia SD senang bekerja dalam kelompok. Melalui interaksinya dengan teman sebaya, anak
belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, yaitu belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak bergantung pada orang
dewasa, belajar bekerja sama, mempelajari perilaku yang dapat diterima oleh lingkungannya, belajar tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sportif, serta belajar keadilan dan demokrasi.
Wilayah perkembangan siswa yang berada pada jenjang SD sering disebut sebagai masa intelektual atau masa usia yang sesuai untuk bersekolah. Yusuf
(2004: 24) membagi menjadi dua fase, yaitu masa kelas-kelas awal SD dan masa kelas-kelas akhir SD.
1. Masa kelas-kelas awal SD, yaitu usia 6 atau 7 tahun sampai umur 9 atau 10
yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi (apabila jasmaninya sehat maka banyak prestasi yang diperoleh; (b) Sikap tunduk kepada
peraturan-peraturan permainan tradisional; (c) Adanya kecenderungan memuji diri sendiri (menyebut nama sendiri); (d) Suka membanding-bandingkan dirinya
dengan anak yang lain; (e) Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting; (f) Pada kurun waktu 6 – 8 tahun, anak menghendaki nilai rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya
memang diberi nilai baik atau tidak.
2. Masa kelas-kelas akhir SD, yaitu usia 9 atau 10 sampai 12 atau 13 tahun.
Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini, yaitu: (a) Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret, hal ini menimbulkan adanya kecenderungan untuk membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang
praktis; (b) Amat realistik, ingin mengetahui, ingin belajar; (c) Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal dan mata pelajaran khusus,
yang oleh para ahli yang mengikuti teori faktor ditafsirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor (bakat-bakat khusus); (d) Sampai kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk
menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Selepas umur ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk
Piaget (Izzaty, dkk, 2013: 104 – 105) mengungkapkan bahwa siswa yang berada pada usia 7 – 12 tahun berada pada tahap operasional konkret di mana
konsep yang semula samar-samar dan tidak jelas menjadi lebih konkret, mampu memecahkan masalah-masalah aktual, mampu berpikir logis. Ciri khas siswa SD
dibagi menjadi dua masa yaitu masa anak-anak yang berada di kelas rendah, dan masa anak-anak di kelas tinggi (Izzaty, dkk, 2013: 115). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Triwidadi, sehingga subjek tergolong dalam siswa
kelas tinggi. Adapun ciri-ciri anak di kelas tinggi, yaitu (1) perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari, (2) ingin tahu, ingin belajar, dan realistis,
(3) timbul minat kepada pelajaran-pelajaran khusus, (4) anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah, serta (5) anak-anak suka membentuk kelompok sebaya atau peergroup untuk bermain bersama,
mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya (Izzaty, dkk, 2013: 115). Pendapat tentang perkembangan siswa kelas tinggi juga diungkapkan oleh
Samatowa (2006: 6) bahwa pada masing-masing fase atau masa SD kelas tinggi memiliki karakteristik, yaitu (1) adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret, (2) amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar, (3) munculnya
minat khusus terhadap hal-hal atau mata pelajaran khusus, (4) pada masa ini anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah, (5)
anak-anak gemar membentuk kelompok sebaya, serta (f) peran manusia idola sangat penting pada masa ini. Karakteristik siswa kelas tinggi juga diuraikan oleh Asy’ari
(2006: 42) bahwa ciri-ciri siwa kelas atas yang berada pada kelas 4 sampai dengan
kelas tinggi, yaitu (1) dapat berpikir reversibel atau bolak-balik, (2) dapat mengelompokkan dan menentukan urutan, dan (3) mampu melakukan operasi
logis tetapi pengalaman yang dimiliki masih terbatas.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa karakteristik
yang dimiliki oleh siswa kelas tinggi antara, yaitu (1) mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, (2) muncul minat khusus pada hal-hal atau mata pelajaran khusus, (3) gemar membentuk kelompok sebaya, (4) membutuhkan benda-benda konkret
dalam pembelajaran, (5) rasa egoisnya masih tinggi, (6) berada pada taraf kognitif operasional konkret, (7) dapat mengelompokkan dan menentukan urutan, (8)
mampu melakukan operasi logis tetapi pengalaman yang dimiliki masih terbatas, (9) dapat berpikir reversibel, (10) adanya minat terhadap suatu hal, serta (11) anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat dan sebaik-baiknya
untuk mengukur prestasi di sekolah. Dengan memperhatikan karakteristik peserta didik dapat memberikan gambaran bagaimana proses pembelajaran yang tepat.
Selain itu, pengetahuan ini juga dapat memudahkan guru memilih pendekatan, metode, strategi dalam pembelajaran, dan memberikan rasa nyaman bagi siswa.
C. Tinjauan tentang Sikap Ilmiah 1. Hakikat Sikap Ilmiah
Penanaman sikap ilmiah siswa adalah salah satu fokus dalam pembelajaran IPA. Sikap ilmiah, sikap sains, atau sikap IPA (scientific attitudes) perlu dibedakan dengan sikap terhadap IPA (attitudes towards science). Sikap terhadap
sains, misalnya persepsi siswa bahwa IPA merupakan mata pelajaran yang dianggap sukar dipelajari, kurang menarik, membosankan, atau sebaliknya
(Bundu, 2006: 13). Sikap positif terhadap pembelajaran IPA tentunya memberikan kontribusi dalam pembentukan sikap ilmiah siswa tetapi masih ada
faktor-faktor lain yang turut menyumbangkan kontribusi.
Sikap ilmiah adalah sikap yang dimiliki para ilmuwan dalam mencari dan mengembangkan pengetahuan baru, misalnya objektif terhadap fakta, hati-hati,
bertanggung jawab, keterbukaan, semangat untuk selalu meneliti, dan sebagainya (Bundu, 2006: 13). Pendapat ini diperkuat oleh Hamdani (2011: 108) yang
menjelaskan bahwa sikap ilmiah adalah sikap yang harus ditunjukkan oleh ilmuwan dalam upaya mencapai suatu pengetahuan ilmiah sebagai suatu kebenaran bersifat objektif dari suatu permasalahan.
Tini Gantini (Hamdani, 2011: 150) menyebutkan delapan ciri dari sikap ilmiah, yaitu (a) mempunyai rasa ingin tahu yang mendorong untuk meneliti
fakta-fakta baru, (b) tidak berat sebelah (adil) dan berpandangan luas terhadap kebenaran, (c) terdapat kesesuaian antara apa yang diobservasi dengan laporannya, (d) keras hati dan rajin mencari kebenaran, (e) mempunyai sifat ragu
sehingga terus mendorong upaya pencarian kebenaran atau tidak pesimis, (f) rendah hati dan toleran terhadap hal yang diketahui dan tidak diketahui, (g)
kurang mempunyai ketakutan, serta (h) berpikiran terbuka terhadap kebenaran-kebenaran baru.
Sikap ilmiah meliputi beberapa aspek, yaitu (a) rasa ingin tahu atau
lanjut mengenai apa, bagaimana, dan mengapa peristiwa atau gejala tersebut terjadi; (b) tidak dapat menerima kebenaran tanpa bukti, setiap pendapat atau
gagasan harus disertai data dan cara data tersebut diperoleh sehingga dapat diverifikasi atau dicek kembali; (c) jujur, hasil pengamatan harus secara objektif;
(d) terbuka, mau menerima gagasan baru dan mengujinya sebelum menerima atau menolak gagasan tersebut; (e) toleran, mau menerima gagasan orang lain setelah diuji kebenarannya; (f) skeptis, bersikap hati-hati dan menyelidiki bukti-bukti
yang melatarbelakangi suatu kesimpulan; (g) optimis, selalu beranggapan baik akan kebenaran suatu teori; (h) pemberani, berani melawan ketidakbenaran
berdasarkan fakta-fakta; serta (i) kreatif dan swadaya, mengembangkan ketidaksempurnaan hasil teori yang telah diperolehnya dalam belajar (Ribkahwati dkk, 2012: 9).
Olasehinde & Olatoye (2014: 446) mengungkapkan bahwa, “to be scientific mean that one has such attitudes as curiosity, rationality, willingness to suspend
judgment, open-mindedness, critical mindedness, objectivity, honesty, and humility”. Sikap ilmiah yang harus dimiliki seseorang yaitu rasa ingin tahu, rasionalitas, kesediaan untuk menangguhkan keputusan, berpikir terbuka, berpikir
kritis, objektif, kejujuran, dan rendah hati.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap
ilmiah adalah sikap-sikap yang harus ditunjukkan oleh individu sebagai ilmuwan dalam mencapai atau mengembangkan pengetahuan ilmiah dengan senantiasa berlandaskan pada rasa ingin tahu, objektivitas, jujur, pemberani, optimis, rendah
toleran, menghormati etika, kreatif dan swadaya, serta semangat untuk meneliti. Sikap ilmiah berbeda dengan sikap terhadap IPA yang memiliki kecenderungan
terhadap minat terhadap IPA.
2. Sikap Ilmiah Siswa SD
Gega, 1977 (Bundu, 2006: 139) mengemukakan bahwa terdapat empat sikap utama yang harus dikembangkan dalam pembelajaran IPA di SD, meliputi (a) rasa ingin tahu atau curiosity, (b) sikap penemuan yang baru atau inventiveness, (c)
pemikiran kritis atau critical thinking, dan (d) tekun atau persistence. Keempat sikap tersebut memiliki hubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Sikap
ingin tahu (curiosity) mendorong suatu penemuan yang baru (inventiveness) melalui pemikiran kritis (critical thinking), sehingga meneguhkan pendirian (persistence) dan berani untuk memiliki pendapat yang berbeda karena memiliki
bukti berupa penjelasan berdasarkan proses IPA dengan menerapkan metode ilmiah.
Menurut de Boo (Loxley, Lyn, Nicholls, et al, 2010: 51), sikap ilmiah yang harus dikembangkan di SD, meliputi (a) perseverance atau sikap tekun, (b) cooperation atau sikap kerja sama, (c) respect for evidence atau sikap respek
terhadap bukti, (d) creativity and inventiveness atau sikap kreativitas dan penemuan, (e) open mindedness atau sikap berpikiran terbuka, serta (f) respect for
living things atau sikap respek terhadap makhluk hidup. Pendapat lebih lengkap dijabarkan oleh Harlen, 1989 (Fatonah & Prasetyo, 2014: 31 – 33) bahwa sikap ilmiah yang penting dimiliki oleh semua tingkatan pendidikan IPA di SD, yaitu
terhadap data, (c) critical reflection atau sikap refleksi kritis, (d) perseverance atau sikap ketekunan, (e) creativity and inventiveness atau sikap kreatif dan
penemuan, (f) open mindedness atau sikap berpikiran terbuka, (g) cooperation with others atau sikap kerja sama dengan siswa lain, (h) willingness to tolerate
atau sikap keinginan menerima ketidakpastian, serta (i) sensitivity to environment atau sikap sensitif terhadap lingkungan.
Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli yang telah dijelaskan terkait sikap
ilmiah siswa SD, penulis melakukan sintesis sebagai tolak ukur dalam pengukuran dan penilaian sikap ilmiah siswa SD dalam penelitian ini. Berikut ini adalah tabel
Tabel 1. Sintesis Peneliti terkait Sikap Ilmiah Siswa SD
(2006) Sintesis Peneliti
Sikap ingin tahu Rasa ingin tahu - Sikap ingin tahu
Sikap refleksi
kritis Pemikiran kritis -
Sikap berpikir kritis
Sikap kerja sama
dengan siswa lain - Sikap kerja sama Sikap kerja sama
Sikap ketekunan Sikap tekun Sikap tekun Sikap tekun Sikap kreatif dan
ketidakpastian - Sikap berpikir
terbuka Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sikap ilmiah yang harus dikuasai oleh siswa SD, meliputi sikap ingin tahu, sikap berpikir kritis, sikap kerja sama, sikap tekun, sikap kreatif dan penemuan, sikap respek terhadap data, sikap
berpikiran terbuka, serta sikap peka terhadap lingkungan.
3. Pengembangan Sikap Ilmiah
Sikap berkembang dari interaksi antarindividu dengan lingkungan masa lalu dan masa kini (Cassio & Gibson; Bundu, 2006: 138). Melalui proses kognisi dari integrasi dan konsistensi sikap dibentuk menjadi komponen kognisi, emosi, dan
kecenderungan bertindak. Setelah sikap terbentuk akan mempengaruhi perubahan lingkungan yang ada dan perubahan-perubahan yang terjadi menuntun pada
Sikap ilmiah menunjukkan bahwa arah tujuan yang hendak dicapai seseorang yang hendak menumbuhkan sikap ilmiah dirinya dan tidak ada seorang
pun dilahirkan dengan memiliki sikap ilmiah (Jasin, 2010: 54). Sikap ilmiah adalah aspek tingkah laku yang tidak dapat diajarkan melalui satuan pembelajaran
tertentu, tetapi merupakan tingkah laku (behavior) yang ditangkap melalui contoh-contoh positif yang harus didukung, dipupuk, dan dikembangkan, sehingga dapat dikuasai oleh siswa. Salah satu tujuan pengembangan sikap ilmiah
adalah untuk mencegah munculnya sikap negatif dalam diri siswa (Bundu, 2006: 42). Made Slamet Sugiartana, Dewa Nyoman Sudana, dan Ni Wayan Arini, 2012
(Samatowa, 2010: 56) mengemukakan bahwa penanaman sikap ilmiah pada siswa melalui pembelajaran IPA di sekolah dasar secara tidak langsung akan berpengaruh positif terhadap motivasi belajarnya serta meningkatkan kesadaran
siswa untuk menjadi pribadi yang berbudi pekerti baik.
Pemikiran tentang pembelajaran sains melalui pengembangan sikap ilmiah
merupakan alternatif yang sangat tepat berkenaan dengan kondisi negara saat ini (Samatowa, 2010: 96 – 97). Sikap ilmiah secara langsung berpengaruh pada budi pekerti individu yang bersangkutan karena sikap ilmiah meliputi sifat jujur,
terbuka, luwes, tekun, logis, kritis, dan kreatif adalah wajib untuk ditunjukkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sikap-sikap ini adalah
Berdasarkan pendapat-pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap ilmiah dapat dipupuk, didukung, dan dikembangkan, sehingga siswa dapat
menguasai sikap ilmiah. Pembelajaran IPA harus mampu mengakomodasi aktivitas langsung kegiatan belajar untuk mengkaji fenomena-fenomena alam di
lingkungan siswa karena sikap berkembang dari interaksi antarindividu dengan lingkungannya. Oleh karena itu, pembelajaran IPA menjadi wahana yang cocok dalam pembentukan dan pengembangan sikap ilmiah.
4. Pengukuran Sikap Ilmiah
Peneliti melakukan sintesis terhadap dimensi dan indikator sikap ilmiah
menurut Bundu (2006) dengan hasil sintesis dari dimensi-dimensi sikap ilmiah dari para ahli pada sub-subbab sebelumnya. Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan hasil sintesis peneliti terkait pengelompokkan/dimensi sikap ilmiah
Tabel 2. Dimensi dan Indikator Sikap Ilmiah
No Dimensi Indikator
1. Sikap ingin tahu
Perhatian pada objek yang diamati. Antusias pada proses sains.
Memperhatikan penjelasan guru.
2. Sikap respek terhadap data/fakta
Mengambil keputusan sesuai fakta. Tidak mencampur fakta dengan pendapat. Objektif/jujur.
3. Sikap berpikir kritis
Menanyakan setiap perubahan/hal baru. Tidak mengabaikan data meskipun kecil. Meragukan temuan teman
Meragukan anggapan/miskonsepsi umum
4. Sikap penemuan dan kreativitas
Menggunakan fakta-fakta untuk dasar kesimpulan.
Menunjukkan laporan berbeda dengan teman kelas.
Menguraikan kesimpulan baru hasil pengamatan. 5. Sikap berpikiran
terbuka
Menghargai pendapat teman/orang lain. Menerima bimbingan guru.
6. Sikap kerja sama Berpartisipasi aktif dalam kelompok Interaksi dengan anggota kelompok
7. Sikap tekun
Konsistensi melakukan kegiatan inkuiri.
Memeriksa langkah-langkah yang telah dilaksanakan.
Mengikuti petunjuk kerja sesuai arahan guru. Memeriksa kelengkapan hasil kerja.
8. Sikap peka terhadap lingkungan sekitar
Perhatian terhadap peristiwa sekitar. Partisipasi terhadap kegiatan sosial.
Seluruh dimensi sikap ilmiah diukur dalam penelitian ini. Bundu (2006: 142 – 149) mengemukakan bahwa sikap ilmiah dapat diukur dengan bentuk penilaian
nontes meliputi, pengamatan atau observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Berikut ini adalah penjelasan terkait metode-metode pengukuran
sikap ilmiah tersebut. a. Pengamatan (observasi)
Pengamatan adalah cara mengumpulkan data dengan mengadakan
Pengamatan dapat dilaksanakan secara partisipatif maupun nonpartisipatif. Keuntungan penilaian dengan pengamatan adalah data diperoleh secara langsung
sehingga lebih objektif menggambarkan keadaan yang sesunggunya dari objek atau subjek yang diamati. Pengolahan hasil juga lebih akurat karena hanya
terfokus pada sikap khusus masing-masing siswa. Kelemahan pengamatan adalah cenderung agak sulit dilaksanakan untuk jumlah siswa yang banyak karena memerlukan waktu yang lama dan sikap/perilaku yang diamati mungkin dapat
berubah dari waktu ke waktu. b. Wawancara (interview)
Wawancara adalah teknik pengumpulan data/informasi yang dilaksanakan dengan tanya jawab secara lisan. Terdapat dua jenis wawancara yaitu, wawancara terpimpin dan wawancara tidak terpimpin. Kelebihan yang dimiliki karena
guru/penilai atau pewawancara dapat berhubungan langsung dengan siswa/peserta didik sehingga dapat diperoleh hasil yang lengkap dan mendalam. Kelemahan dari
wawancara adalah sukar dan membutuhkan waktu yang lama untuk dilaksanakan pada penelitian yang memiliki banyak subjek.
c. Menyebarkan angket (kuesioner)
Angket hampir sama dengan wawanara terstruktur, hanya saja angket tidak perlu saling berhadapan (face to face) antara penilai (guru) dengan yang dinilai
(siswa). Meskipun tanpa berhadapan langsung, penggunaan angket lebih praktis, menghemat tenaga, dan waktu. Hanya saja angket perlu disusun sebaik mungkin agar dapat menjaring semua informasi/data yang diperlukan karena pertanyaan