• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY TERHADAP SIKAP ILMIAH SISWA KELAS V PADA MATA PELAJARAN IPA DI SDN TRIWIDADI.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY TERHADAP SIKAP ILMIAH SISWA KELAS V PADA MATA PELAJARAN IPA DI SDN TRIWIDADI."

Copied!
293
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY TERHADAP SIKAP ILMIAH SISWA KELAS V

PADA MATA PELAJARAN IPA DI SDN TRIWIDADI

TUGAS AKHIR SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana

Pendidikan

Oleh: Restu Waras Toto NIM 13108241031

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

(2)

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY TERHADAP SIKAP ILMIAH SISWA KELAS V

PADA MATA PELAJARAN IPA DI SDN TRIWIDADI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran guided discovery terhadap sikap ilmiah siswa kelas V pada mata pelajaran IPA di SDN Triwidadi.

Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan bentuk nonequivalent control group design. Populasi subjek penelitian ini adalah 34 siswa kelas V tahun ajaran 2016/2017 yang terbagi ke dalam dua kelas. Kelas V A sebagai kelompok kontrol dan kelas V B sebagai kelompok eksperimen dengan jumlah masing-masing siswa setiap kelas adalah 17 siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket dan observasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan rata-rata skor sikap ilmiah awal dan akhir kedua kelompok.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran guided discovery terhadap sikap ilmiah siswa kelas V pada mata pelajaran IPA di SDN Triwidadi. Rata-rata perolehan skor hasil angket sikap ilmiah awal siswa kelompok kontrol dan eksperimen secara berturut-turut adalah 64,29 (kategori B) dan 64,47 (kategori B), sedangkan rata-rata perolehan skor hasil angket sikap ilmiah akhir siswa kelompok kontrol dan eksperimen secara berturut-turut adalah 64,12 (kategori B) dan 72,74 (kategori A). Rata-rata perolehan skor hasil observasi sikap ilmiah awal siswa kelompok kontrol dan eksperimen secara berturut-turut adalah 57,65 (kategori B) dan 56,35 (kategori B), sedangkan rata-rata perolehan skor hasil observasi sikap ilmiah akhir siswa kelompok kontrol dan eksperimen secara berturut-turut adalah 60,03 (kategori B) dan 72,65 (kategori A).

(3)

THE EFFECT OF GUIDED DISCOVERY LEARNING MODEL

APPLICATION TOWARDS THE FIFTH GRADERS’

SCIENTIFIC ATTITUDES ON SCIENCE IN SDN TRIWIDADI

discovery learning model affects the fifth graders‟ scientific attitudes on science

in SDN Triwidadi.

This research was a quasi-experimental research in a form of nonequivalent control group design. The population of this research subjects were 34 fifth graders in the academic year of 2016/2017 divided into two classes. Class V A as the control group and class V B as the experimental group each with the same number of 17 students. The data was collected through questionnaire and observation. The data analysis was done by comparing the mean of the initial and final scientific attitudes scores of both groups.

The results of the research show the effect of guided discovery learning

model application towards the fifth graders‟ scientific attitudes on science in SDN

Triwidadi. The average scores acquired using questionnaire on the students‟ initial scientific attitudes of the control and experimental group are 64.29 (B category) and 64.47 (B category) respectively, whereas the average scores acquired using questionnaire on the students‟ final scientific attitudes of the control and experimental group are 64.12 (B category) and 72.74 (A category) respectively. The average scores acquired using observation on the students‟ initial scientific attitudes of the control and experimental group are 57.65 (B category) and 56.35 (B category) respectively, whereas the average scores acquired using observation on the students‟ final scientific attitudes of the control and experimental group are 60.03 (B category) and 72.65 (A category) respectively.

(4)
(5)
(6)
(7)

HALAMAN MOTTO

(8)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan untuk :

1. Ibu, Bapak, Mbak Heni, Mas Suryo, Dek Nia, dan segenap keluarga besar

yang tidak henti-hentinya memberikan doa dan motivasi dalam penyelesaian Tugas Akhir Skripsi ini.

2. Almamaterku, Universitas Negeri Yogyakarta.

(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan karunia-Nya, Tugas Akhir Skripsi dalam rangka untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan dengan judul “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Guided Discovery terhadap Sikap Ilmiah Siswa Kelas V pada Mata Pelajaran IPA di SDN Triwidadi” dapat disusun sesuai dengan harapan. Tugas Akhir Skripsi ini dapat diselesaikan tidak lepas dari bantuan dan kerjasama dengan pihak lain. Berkenaan dengan hal tersebut, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Ikhlasul Ardi Nugroho, M.Pd selaku Dosen Pembimbing TAS yang telah banyak memberikan semangat, dorongan, dan bimbingan selama penyusunan Tugas Akhir Skripsi ini.

2. Bapak Ikhlasul Ardi Nugroho, M.Pd selaku Validator instrumen penelitian TAS yang memberikan saran/masukan perbaikan sehingga penelitian TAS dapat terlaksana sesuai dengan tujuan.

3. Bapak Ikhlasul Ardi Nugroho, M.Pd, Ibu Rahayu Condro Murti, M.Si, dan Ibu Dr. Insih Wilujeng, M.Pd selaku Ketua Penguji, Sekretaris, dan Penguji yang sudah memberikan koreksi perbaikan secara komprehensif terhadap TAS ini.

4. Bapak Drs. Suparlan, M.Pd.I selaku Ketua Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar beserta dosen dan staf yang telah memberikan bantuan dan fasilitas selama proses penyusunan pra proposal sampai dengan selesainya TAS ini.

5. Bapak Dr. Haryanto, M.Pd selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan yang memberikan persetujuan pelaksanaan Tugas Akhir Skripsi.

6. Bapak Drs. Agus Slamet Riyadi selaku Kepala SDN Triwidadi yang telah memberi izin dan bantuan dalam pelaksanaan penelitian Tugas Akhir Skripsi ini.

(10)
(11)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN... v

LEMBAR PENGESAHAN ... vi

HALAMAN MOTTO. ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN. ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I. PENDAHULUAN

BAB II. KAJIAN TEORI A. Tinjauan tentang Pembelajaran IPA ... 9

1. Hakikat IPA ... 9

2. Komponen-Komponen IPA ... 11

3. Pembelajaran IPA di SD ... 16

4. Tujuan Pembelajaran IPA di SD ... 20

B. Tinjauan tentang Karakteristik Siswa SD ... 22

C. Tinjauan tentang Sikap Ilmiah ... 26

1. Hakikat Sikap Ilmiah ... 26

2. Sikap Ilmiah Siswa SD ... 29

3. Pengembangan Sikap Ilmiah ... 31

4. Pengukuran Sikap Ilmiah ... 33

D. Tinjauan tentang Model Pembelajaran Guided Discovery ... 36

1. Hakikat Model Pembelajaran Guided Discovery ... 36

2. Landasan Pemikiran Model Pembelajaran Guided Discovery . 39 3. Prinsip Dasar Model Pembelajaran Guided Discovery ... 44

(12)

5. Penerapan Model Pembelajaran Guided Discovery dalam

Mata Pelajaran IPA Materi Pesawat Sederhana ... 57

E. Kajian Penelitian yang Relevan ... 59

F. Kerangka Berpikir ... 60

G. Hipotesis Penelitian ... 62

BAB III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian ... 63

B. Desain Penelitian ... 63

C. Tempat dan Waktu Penelitian ... 66

D. Populasi Penelitian ... 66

E. Definisi Operasional Variabel ... 67

F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ... 68

G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 76

H. Teknik Analisis Data ... 80

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 83

B. Deskripsi Hasil Penelitian ... 84

1. Data Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Siswa... 84

a. Data Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Siswa Kelompok Kontrol ... 84

b. Data Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Siswa Kelompok Eksperimen ... 93

2. Data Hasil Angket dan Observasi Sikap Ilmiah Siswa ... 102

a. Data Hasil Angket Sikap Ilmiah Siswa Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen ... 103

b. Data Hasil Observasi Sikap Ilmiah Siswa Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen ... 107

C. Hasil Uji Hipotesis ... 112

D. Pembahasan ... 114

E. Keterbatasan Penelitian ... 130

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan... 132

B. Implikasi ... 132

C. Saran ... 133

DAFTAR PUSTAKA ... 134

(13)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Sintesis Peneliti terkait Sikap Ilmiah Siswa SD... 31

Tabel 2. Dimensi dan Indikator Sikap Ilmiah ... 34

Tabel 3. Sintaks Model Pembelajaran Guided Discovery Menurut Jamil Suprihatiningrum (2012) ... 49

Tabel 4. Sintaks Model Pembelajaran Guided Discovery Menurut Syah ... 53

Tabel 5. Populasi Siswa Kelas V SDN Triwidadi Tahun Ajaran 2016/2017 .. 67

Tabel 6. Kisi-Kisi Lembar Angket Sikap Ilmiah Sebelum Uji Coba ... 70

Tabel 7. Kisi-Kisi Lembar Angket Sikap Ilmiah Setelah Uji Coba ... 71

Tabel 8. Kisi-Kisi Awal Lembar Observasi Sikap Ilmiah ... 73

Tabel 9. Kisi-Kisi Akhir Lembar Observasi Sikap Ilmiah ... 74

Tabel 10. Kisi-Kisi Lembar Observasi Aktivitas Siswa ... 75

Tabel 11. Kisi-Kisi Lembar Observasi Aktivitas Guru ... 76

Tabel 12. Hasil Uji Validitas Instrumen Angket ... 78

Tabel 13. Interpretasi Nilai r ... 79

Tabel 14. Pengkategorian Rata-Rata Perolehan Skor Hasil Angket dan Observasi Sikap Ilmiah Siswa ... 81

Tabel 15. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok Kontrol Pertemuan Pertama ... 85

Tabel 16. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Kontrol Pertemuan Pertama ... 86

Tabel 17. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok Kontrol Pertemuan Kedua ... 88

Tabel 18. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Kontrol Pertemuan Kedua ... 89

Tabel 19. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok Kontrol Pertemuan Ketiga ... 91

Tabel 20. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Kontrol Pertemuan Ketiga ... 92

Tabel 21. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok Eksperimen Pertemuan Pertama ... 94

Tabel 22. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Eksperimen Pertemuan Pertama ... 95

Tabel 23. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok Eksperimen Pertemuan Kedua ... 97

Tabel 24. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Eksperimen Pertemuan Kedua ... 98

Tabel 25. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok Eksperimen Pertemuan Ketiga ... 100

Tabel 26. Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Eksperimen Pertemuan Ketiga ... 101

(14)

Tabel 28. Rekapitulasi Perolehan Skor Angket Sikap Ilmiah Kelompok

Eksperimen. ... 105 Tabel 29. Rekapitulasi Perolehan Skor Observasi Sikap Ilmiah Kelompok

Kontrol. ... 108 Tabel 30. Rekapitulasi Perolehan Skor Observasi Sikap Ilmiah Kelompok

Eksperimen ... 109 Tabel 31. Rekapitulasi Data Hasil Penelitian Sikap Ilmiah Kelompok Kontrol

(15)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Siklus Model Pembelajaran Guided Discovery menurut Carin &

Sund (1989) ... 54 Gambar 2. Bagan Kerangka Pikir Penelitian ... 61 Gambar 3. Skema Nonequivalent Control Group Design ... 64 Gambar 4. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok

Kontrol Pertemuan Pertama ... 85 Gambar 5. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok

Kontrol Pertemuan Pertama ... 87 Gambar 6. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok

Kontrol Pertemuan Kedua ... 88 Gambar 7. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok

Kontrol Pertemuan Kedua ... 90 Gambar 8. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok

Kontrol Pertemuan Ketiga ... 91 Gambar 9. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok

Kontrol Pertemuan Ketiga ... 93 Gambar 10. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok

Eksperimen Pertemuan Pertama ... 94 Gambar 11. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok

Eksperimen Pertemuan Pertama ... 96 Gambar 12. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok

Eksperimen Pertemuan Kedua ... 97 Gambar 13. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok

Eksperimen Pertemuan Kedua ... 99 Gambar 14. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Guru Kelompok

Eksperimen Pertemuan Ketiga ... 100 Gambar 15. Diagram Perolehan Skor Observasi Aktivitas Siswa Kelompok

Eksperimen Pertemuan Ketiga ... 102 Gambar 16. Diagram Kategori Skor Hasil Pengukuran Sikap Ilmiah Awal

melalui Angket pada Kelompok Kontrol dan Kelompok

Eksperimen ... 106 Gambar 17. Diagram Kategori Skor Hasil Pengukuran Sikap Ilmiah Akhir

melalui Angket pada Kelompok Kontrol dan Kelompok

Eksperimen ... 107 Gambar 18. Diagram Kategori Skor Hasil Pengukuran Sikap Ilmiah Awal

melalui Observasi pada Kelompok Kontrol dan Kelompok

Eksperimen ... 110 Gambar 19. Diagram Kategori Skor Hasil Pengukuran Sikap Ilmiah Akhir

melalui Observasi pada Kelompok Kontrol dan Kelompok

(16)

Gambar 20. Diagram Rata-Rata Perolehan Skor Hasil Pengukuran Sikap Ilmiah Awal melalui Angket pada Kelompok Kontrol maupun Kelompok Eksperimen ... 117 Gambar 21. Diagram Rata-Rata Perolehan Skor Hasil Pengukuran Sikap

Ilmiah Awal melalui Observasi pada Kelompok Kontrol maupun Kelompok Eksperimen ... 118 Gambar 22. Diagram Rata-Rata Perolehan Skor Hasil Pengukuran Sikap

Ilmiah Akhir melalui Angket pada Kelompok Kontrol maupun Kelompok Eksperimen ... 123 Gambar 23. Diagram Rata-Rata Perolehan Skor Hasil Pengukuran Sikap

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol... 139

Lampiran 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen.155 Lampiran 3. Pedoman Langkah Percobaan. ... 183

Lampiran 4. Lembar Kerja. ... 187

Lampiran 5. Materi Ajar. ... 199

Lampiran 6. Lembar Angket Sikap Ilmiah Sebelum Uji Coba. ... 203

Lampiran 7. Lembar Angket Sikap Ilmiah Setelah Uji Coba. ... 206

Lampiran 8. Pedoman Observasi Sikap Ilmiah Awal. ... 208

Lampiran 9. Pedoman Observasi Sikap Ilmiah Akhir. ... 214

Lampiran 10. Lembar Observasi Sikap Ilmiah Awal... 219

Lampiran 11. Lembar Observasi Sikap Ilmiah Akhir. ... 222

Lampiran 12. Data Hasil Uji Coba Angket. ... 224

Lampiran 13. Hasil Uji Validitas Instrumen Angket. ... 226

Lampiran 14. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Angket. ... 228

Lampiran 15. Data Hasil Observasi Aktivitas Guru Kelompok Kontrol. .. 229

Lampiran 16. Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Kontrol. . 232

Lampiran 17. Data Hasil Observasi Aktivitas Guru Kelompok Eksperimen. ... 235

Lampiran 18. Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Eksperimen. ... 238

Lampiran 19. Data Hasil Perolehan Skor Angket Sikap Ilmiah Awal Siswa Kelompok Kontrol (Pertemuan Pertama). ... 241

Lampiran 20. Data Hasil Perolehan Skor Angket Sikap Ilmiah Akhir Siswa Kelompok Kontrol (Pertemuan Kedua). ... 242

Lampiran 21. Data Hasil Perolehan Skor Angket Sikap Ilmiah Akhir Siswa Kelompok Kontrol (Pertemuan Ketiga). ... 243

Lampiran 22. Data Hasil Perolehan Skor Observasi Sikap Ilmiah Awal Kelompok Kontrol (Pertemuan Pertama). ... 244

Lampiran 23. Data Hasil Perolehan Skor Observasi Sikap Ilmiah Akhir Kelompok Kontrol (Pertemuan Kedua). ... 245

Lampiran 24. Data Hasil Perolehan Skor Observasi Sikap Ilmiah Akhir Kelompok Kontrol (Pertemuan Ketiga). ... 246

Lampiran 25. Data Hasil Perolehan Skor Angket Sikap Ilmiah Awal Kelompok Eksperimen (Pertemuan Pertama). ... 247

Lampiran 26. Data Hasil Perolehan Skor Angket Sikap Ilmiah Akhir Kelompok Eksperimen (Pertemuan Kedua). ... 248

Lampiran 27. Data Hasil Perolehan Skor Angket Sikap Ilmiah Akhir Kelompok Eksperimen (Pertemuan Ketiga) ... 249

Lampiran 28. Data Hasil Perolehan Skor Observasi Sikap Ilmiah Awal Kelompok Eksperimen (Pertemuan Pertama). ... 250

(18)

Lampiran 30. Data Hasil Perolehan Skor Observasi Sikap Ilmiah Akhir

Kelompok Eksperimen (Pertemuan Ketiga). ... 252

Lampiran 31. Contoh Pengerjaan Lembar Kerja oleh Siswa. ... 253

Lampiran 32. Contoh Pengerjaan Angket Sikap Ilmiah oleh Siswa. ... 257

Lampiran 33. Contoh Pengerjaan Soal Latihan oleh Siswa. ... 263

Lampiran 34. Daftar Siswa Kelas V SDN Triwidadi Tahun Ajaran 2016/2017 ... 265

Lampiran 35. Foto-Foto Dokumentasi Penelitian. ... 267

(19)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Proses pembelajaran adalah mata rantai dari proses penyelenggaraan pendidikan. Tingkat keberhasilan dari satuan pendidikan dalam menyongsong tercapainya tujuan pendidikan tak lepas dari proses belajar mengajar. Siswa

mempelajari sejumlah mata pelajaran untuk mengakomodasi usaha untuk mengembangkan kompetensi mereka pada ranah sikap, pengetahuan, dan

keterampilan yang dimanifestasikan sebagai suatu pokok bahasan terstruktur berdasarkan bidang kajian tertentu.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau sains adalah salah satu mata pelajaran

utama di Sekolah Dasar (SD). Objek kajian dari mata pelajaran IPA meliputi seluruh benda hidup dan tak hidup yang ada di jagat raya. Dalam pembelajaran

IPA yang ideal, siswa tidak sebatas menjalani aktivitas kognitif saja. Idealisme dalam pembelajaran IPA ini sejalan dengan pendapat Bundu (2006: 11) bahwa IPA memiliki tiga komponen, yaitu (1) proses ilmiah, misalnya mengamati,

mengklasifikasi, memprediksi, merancang dan melaksanakan eksperimen, (2) produk ilmiah, misalnya prinsip, hukum, dan teori, serta (3) sikap ilmiah,

misalnya sikap ingin tahu, hati-hati, jujur, dan objektif. Siswa harus dibekali dengan pengalaman belajar yang berisi aktivitas penyelidikan untuk menghimpun pengetahuan baru, yang disebut dengan proses IPA. Langkah-langkah yang

(20)

individu maupun kelompok. Oleh karena itu, siswa harus mampu menunjukkan sikap-sikap yang mengedepankan empirisme dan objektivitas dalam menjalani

proses IPA, yaitu sikap ilmiah (scientific attitudes).

Sikap ilmiah penting untuk dikembangkan karena cara berpikir, sikap

ilmiah, dan minat juga diperoleh dan dikembangkan selama belajar di sekolah, dan aspek-aspek ini yang justru akan menetap dalam diri siswa (Bundu, 2006: 39). Sikap ilmiah tetap efektif dan dapat teramati jauh sesudah berbagai mata pelajaran

telah disampaikan atau bahkan ketika substansi kognitif dari pembelajaran sudah dilupakan siswa.

Pembelajaran yang berbasis pada penyelidikan dan penemuan mendorong siswa agar proaktif mencari penjelasan atas suatu fenomena, bukan sekedar menerima pengetahuan baru dengan menyimak penjelasan guru atau membaca

literatur. Melalui aktivitas penyelidikan menuju pada suatu penemuan, siswa mengalami proses bagaimana pengetahuan baru dapat terhimpun. Sikap ilmiah

siswa lebih optimal jika model pembelajaran yang diterapkan mampu mengakomodasi proses penyelidikan dan penemuan.

Pemilihan model pembelajaran adalah salah satu aspek yang perlu

dipertimbangkan sejak rencana pembelajaran disusun. Terdapat banyak model pembelajaran yang dapat diterapkan. Setiap model pembelajaran memiliki

(21)

terhadap tujuan pengembangan sikap ilmiah siswa, model pembelajaran yang diterapkan harus berpengaruh positif terhadap sikap ilmiah siswa.

Model pembelajaran penemuan terbimbing atau guided discovery merupakan salah satu model pembelajaran. Model pembelajaran guided discovery

adalah suatu model pembelajaran di mana siswa menemukan konsep-konsep atau hubungan-hubungan secara mandiri tetapi bimbingan guru masih diberikan agar aktivitas lebih terarah dan mencapai tujuan yang diinginkan. Guru memberikan

petunjuk, anjuran, dan atau pertanyaan agar siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti alur pembelajaran. Model pembelajaran guided discovery

dilandasi oleh paham konstruktivisme bahwa dalam belajar, siswa secara aktif terlihat, orientasi induktif lebih ditekankan daripada deduktif, kemudian siswa menemukan atau mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri.

Siswa kelas tinggi juga cenderung menunjukkan minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret (Yusuf, 2004: 24). Dengan demikian, paham

konstruktivisme memiliki ketersinambungan dengan tuntutan pembelajaran IPA agar sesuai dengan tingkat perkembangan siswa SD kelas tinggi – bahwa dalam membangun pengetahuannya sendiri, siswa harus dilibatkan pada aktivitas

langsung pada objek konkret yang dikaji.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap guru kelas VA dan V

B SDN Triwidadi, diperoleh informasi bahwa model pembelajaran guided discovery belum pernah diterapkan. Pembelajaran dengan metode ceramah masih dominan diterapkan untuk materi-materi pada mata pelajaran IPA yang

(22)

diarahkan agar siswa dapat menemukan dan membangun pengetahuan baru. Selain itu, penggunaan buku paket dan buku latihan soal menjadi acuan utama

dalam pembelajaran IPA. Akibatnya, sikap ilmiah siswa belum muncul secara optimal saat pembelajaran IPA di kelas V A dan V B SDN Triwidadi.

Fakta-fakta terkait pelaksanaan pembelajaran IPA di kelas VA dan V B SDN Triwidadi SDN Triwidadi menunjukkan bahwa model pembelajaran guided discovery merupakan model pembelajaran nonkonvensional pada lingkup kedua

kelas tersebut. Dengan demikian, pengaruh penerapan model pembelajaran guided discovery terhadap sikap ilmiah siswa belum pernah digali dan diketahui di SDN

Triwidadi. Oleh karena itu, perlu diadakan pembuktian secara empiris melalui penelitian.

Berdasarkan idealisme pembelajaran IPA, pentingnya sikap ilmiah, hasil

observasi dan wawancara, serta belum diketahuinya pengaruh penerapan model pembelajaran guided discovery terhadap sikap ilmiah siswa kelas V pada mata

pelajaran IPA di SDN Triwidadi, maka peneliti melakukan penelitian ini. Peneliti melakukan penelitian dengan judul penelitian, yaitu “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Guided Discovery Terhadap Sikap Ilmiah Siswa Kelas V pada Mata

Pelajaran IPA di SDN Triwidadi”.

B. Identifikasi Masalah

(23)

1. Pembelajaran dengan metode ceramah dan berpusat pada buku paket masih

diterapkan pada materi-materi pada pembelajaran IPA di SDN Triwidadi

yang sebenarnya dapat melibatkan siswa untuk melakukan aktivitas langsung kemudian dibimbing agar siswa dapat menemukan dan membangun

pengetahuan baru.

2. Belum diketahuinya pengaruh penerapan model pembelajaran guided

discovery terhadap sikap ilmiah siswa kelas V pada mata pelajaran IPA di

SDN Triwidadi.

C. Pembatasan Masalah

Berdasaran identifikasi masalah, peneliti membatasi permasalahan dalam penelitian ini, yaitu belum diketahuinya pengaruh penerapan model pembelajaran

guided discovery terhadap sikap ilmiah siswa kelas V pada mata pelajaran IPA di SDN Triwidadi.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi, dan pembatasan masalah, maka rumusan masalah penelitian ini, yaitu “apakah model pembelajaran guided

(24)

E. Tujuan Penelitan

Berdasarkan uraian pembatasan masalah, tujuan penelitian ini adalah

mengetahui pengaruh model pembelajaran guided discovery terhadap sikap ilmiah siswa kelas V pada mata pelajaran IPA di SDN Triwidadi.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini secara umum diharapkan dapat memberikan manfaat teoretis

dan manfaat praktis bagi peneliti, siswa, serta guru. 1. Manfaat Teoretis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat teoretis sebagai berikut.

a. Mengembangkan pembelajaran yang bermakna.

b. Memberikan informasi bahwa ada model pembelajaran pembelajaran

nonkonvensional yang dapat diterapkan dalam pembelajaran IPA, yaitu

model pembelajaran guided discovery.

c. Memberikan informasi terkait penggunaan model pembelajaran guided

discovery dalam pembelajaran IPA di SDN Triwidadi.

d. Memberikan informasi terkait pengukuran sikap ilmiah dalam pembelajaran

IPA.

e. Memberikan informasi terkait pengaruh penerapan model pembelajaran

(25)

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat praktis kepada

peneliti, siswa, dan guru. a. Bagi Peneliti

Bagi peneliti, manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Menambah pengalaman dalam melakukan penelitian.

2) Hasil penelitian diharapan memberikan sumbangan pemikiran maupun

masukkan bagi peneliti lain. b. Bagi Siswa

Bagi siswa, manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Menyadarkan siswa terhadap haknya untuk mendapatkan pembelajaran IPA

yang dapat mengakomodasi pengembangan sikap ilmiahnya.

2) Membantu siswa dalam mengembangkan sikap ilmiahnya sebagai bekal

kecakapan siswa dalam kehidupan nyata.

3) Melatih kemampuan siswa untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi

di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah. c. Bagi Guru

Bagi guru, manfaat praktis yang diharapkan dari terlaksananya penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Memotivasi guru agar menggunakan model pembelajaran yang mampu

(26)

2) Memberikan pengetahuan guru terkait penerapan model pembelajaran guided

discovery dalam pembelajaran IPA.

3) Memberikan pengetahuan terkait pengukuran sikap ilmiah siswa pada

(27)

BAB II KAJIAN TEORI

A. Tinjauan tentang Pembelajaran IPA 1. Hakikat IPA

Sains atau IPA berasal dari akar frasa dalam bahasa Inggris, yaitu natural science. Bundu (2006: 9) mengungkapkan bahwa natural artinya alamiah dan berhubungan dengan alam, sedangkan science artinya ilmu pengetahuan, sehingga

IPA atau sains secara harfiah dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang alam atau yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam. Pendapat

senada juga diungkapkan oleh Samatowa (2010: 3) yang menjelaskan bahwa IPA merupakan ilmu pengetahuan yang membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis dengan didasarkan pada hasil percobaan dan

pengamatan yang dilakukan oleh manusia.

Jika ditinjau dari fisiknya, IPA adalah suatu ilmu pengetahuan yang objek

telaahnya adalah alam dengan segala isinya, meliputi manusia, hewan, dan tumbuhan, termasuk juga bumi (Daryanto, 2014: 160). Abruscato & Derosa (2010: 11) mengungkapkan pendapat serupa bahwa “science seeks explanation of

the natural world”. IPA berusaha untuk menggali atau menghimpun penjelasan logis dan empiris yang melatarbelakangi terjadinya fenomena alam yang menjadi

objek kajian. Selain itu, Wonorahardjo (2011: 12) menjelaskan bahwa IPA atau sains adalah sekumpulan pengetahuan yang diperoleh melalui metode tertentu di mana proses penyelidikan ilmiah yang dilaksanakan telah diuji kebenarannya

(28)

IPA sangat menjunjung tinggi empirisme dalam memahami suatu gejala alam. Empirisme dalam IPA didukung oleh Chalmers (2013: 1) yang mengungkapkan

bahwa, “science is to be based on what we can see, hear, and touch rather than on personal opinions or speculative imagings”. Dengan demikian, segala sesuatu

yang tidak dapat diindera oleh manusia bukanlah objek kajian sains. IPA sama sekali tidak didasarkan pada opini-opini pribadi atau gambaran spekulatif.

Kober (1993: 13) mengemukakan pendapat yang berbeda bahwa, “…science is more than a body of knowledge; it is a way of looking at the world

and ordering one's experience”. IPA bukanlah sekedar sekumpulan pengetahuan.

Namun, IPA juga merupakan cara pandang seseorang terhadap fenomena yang terjadi di dunia untuk mengolah pengalaman seseorang dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi suatu pengetahuan yang dipahami. Kober (1993: 13) juga

mengemukakan bahwa, “the study of science presents an incomparable opportunity to open young minds to new vistas and to equip them with intellectual

tools that will guide learners for the rest of their lives. Dengan mempelajari IPA memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk membuka pemikiran terhadap pandangan-pandangan baru dan memberikan bekal intelektual kepada pembelajar

sebagai petunjuk sepanjang sisa kehidupannya.

Berdasarkan pendapat-pendapat ahli yang telah diuraikan, dapat

disimpulkan bahwa IPA merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala alam secara empiris, rasional, dan objektif. Penjelasan logis, empiris, dan rasional atas gejala-gejala alam tersebut dihimpun melalui proses pengamatan dan

(29)

tidak didasarkan pada opini-opini pribadi atau gambaran spekulatif manusia. IPA bukan sekedar kumpulan pengetahuan akan gejala alam tetapi juga tentang proses

mencari tahu hingga pengetahuan baru dapat terhimpun. IPA menjadi bekal bagi seseorang untuk menjalani kehidupan sepanjang hayatnya.

2. Komponen-Komponen IPA

Abruscato & Derosa (2010: 11) menjelaskan bahwa IPA tediri dari dua komponen, yaitu “a systematic quest for explanations” dan “the dynamic body of

knowledge generated through quest for explanations”. Proses mencari penjelasan logis dan empiris melalui metode ilmiah dijalankan secara sistematis. Dengan

demikian, IPA merupakan serangkaian proses yang diwujudkan dalam metode ilmiah yang digunakan untuk menghimpun kebenaran dan memahami alam semesta dengan segala isinya. Produk IPA tidaklah muncul secara instan

melainkan melalui dihasilkan dari penyelidikan (proses IPA) yang dilaksanakan secara empiris, sistematis, dan terstruktur melalui metode-metode ilmiah, bukan

berdasarkan atas asumsi-asumsi pribadi maupun kelompok yang tentunya dipengaruhi subjektivitas.

Hungerford, Vold & Ramsey, 1990 (Fatonah & Prasetyo, 2014: 7)

mengungkapkan bahwa IPA meliputi beberapa komponen, yaitu proses memperoleh informasi melalui metode empiris, informasi yang diperoleh melalui

penyelidikan yang telah ditata secara logis dan sistematis, dan suatu kombinasi proses berpikir kritis sebagai sikap yang menghasilkan informasi yang dapat dipercaya dan valid. Hungerford, Vold & Ramsey (Fatonah & Prasetyo, 2014: 7)

(30)

produk yang saling mengisi dalam derap kemajuan dan perkembangan IPA. Keberadaan metode empiris yang merupakan ciri khas dari IPA berguna untuk

menjamin agar kesimpulan dari penyelidikan tidak bersifat bisa dan terbebas dari asumsi-asumsi subjektif atas kehendak individu maupun kelompok.

Trowbridge & Bybee, 1990 (Fatonah & Prasetyo, 2014: 7) mengemukakan bahwa, “science is manifestation of the extent body of scientific knowledge, the values of science, and the methods and processes of science”. IPA merupakan

perwujudan dari tiga komponen, meliputi produk IPA, nilai-nilai IPA, dan metode-metode dan proses-proses IPA. Pandangan ini lebih luas daripada

pengertian yang dikemukakan Hungerford, Volk & Ramsey (1990) karena Trowbridge & Bybee (1990) selain memandang IPA sebagai proses dan metode (process and method) serta produk IPA (body of scientific knowledge), tetapi juga

melihat bahwa IPA memuat seperangkat nilai. Hal ini diperkuat oleh Bundu (2006: 11) bahwa IPA memiliki tiga komponen, yaitu (a) proses ilmiah, misalnya

mengamati, mengklasifikasi, memprediksi, merancang dan melaksanakan eksperimen, (b) produk ilmiah, misalnya prinsip, hukum, dan teori, serta (c) sikap ilmiah, misalnya sikap ingin tahu, hati-hati, jujur, dan objektif.

Pendapat di atas mengimplikasikan beberapa hal, yaitu (a) IPA merupakan proses mengumpulkan informasi tentang alam sekitar, (b) IPA juga merupakan

(31)

pendapat Carin & Sund (Samatowa, 2010: 20) bahwa IPA merupakan kesatuan dari tiga komponen yaitu, produk, proses, dan sikap.

a. IPA sebagai produk

Pengetahuan-pengetahuan bersifat teoretis maupun praktis yang dipelajari

manusia merupakan produk IPA. Iskandar (Bundu, 2006: 11) mengemukakan bahwa IPA sebagai produk merupakan kumpulan hasil kegiatan empirik dan analitis yang dilakukan para ilmuwan dalam bentuk fakta-fakta, konsep-konsep,

prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan teori-teori IPA.

1) Fakta; fakta merupakan kebenaran-kebenaran terhadap objek kajian dan

sudah dibuktikan secara objektif dan teruji.

2) Konsep; konsep merupakan hubungan antara fakta-fakta yang saling

berkorespondensi.

3) Prinsip; prinsip merupakan generalisasi tentang hubungan konsep-konsep. 4) Hukum; hukum merupakan prinsip-prinsip yang sudah diterima kebenarannya

secara luas bersifat tentantif, tetapi memiliki daya uji yang kuat sehingga dapat bertahan dalam waktu yang relatif lama.

5) Teori; teori merupakan kerangka hubungan yang lebih luas antara fakta,

konsep, prinsip, dan hukum, berupa gambaran yang dibuat para ilmuwan untuk menjelaskan gejala alam.

Rezba, Sprague, McDonnough et al (2007: 11) mengungkapkan bahwa “scientific knowledge is never proven, it is tentative but durable”. Pendapat serupa

diungkapkan oleh Abruscato & Derosa (2010: 11) bahwa “the scientific body of

(32)

bersifat tentatif atau dinamis, sehingga produk IPA yang sudah ada dapat direvisi atau bahkan tidak berlaku lagi jika ditemukan suatu hasil penelitian atau temuan

baru yang berlawanan dengan produk IPA yang sudah lebih dahulu ada. b. IPA sebagai proses

Dalam melaksanakan penyelidikan untuk menggali pengetahuan baru berdasarkan fenomena alam yang sedang dikaji. Proses IPA merupakan perwujudan nyata dari metode ilmiah sehingga kegiatan penyelidikan

dilaksanakan secara sistematis, empiris, dan terencana. Penguasaan proses IPA adalah perubahan dalam dimensi afektif dan psikomotor dengan mengetahui

sejauh mana siswa mengalami kemajuan dalam keterampilan proses IPA.

Keterampilan proses sains terdikotomi menjadi dua kelompok, yaitu keterampilan proses IPA dasar dan keterampilan proses IPA terintegrasi (Rezba,

Sprague, McDonnough et al, 2007: 4 – 5). Keterampilan proses IPA dasar kecakapan yang digunakan ketika melaksanakan kegiatan berbasis IPA.

Keterampilan proses IPA dasar secara urut, meliputi (a) mengamati, (b) mengomunikasikan, (c) mengklasifikasikan, (d) mengukur secara metris, (e) menginferensi, dan (f) memprediksi. Keterampilan proses IPA terintegrasi

bergantung pada keterampilan proses IPA dasar. Keterampilan proses IPA dasar menyediakan dasar bagi keterampilan proses IPA terintegrasi yang lebih

kompleks. Keterampilan proses IPA terintegrasi secara urut, meliputi (a) mengidentifikasi variabel, (b) menyusun tabel data, (c) menyusun grafik, (d) menggambarkan hubungan-hubungan antar variabel-variabel, (e) menghimpun

(33)

mendefinisikan variabel-variabel secara operasional, (i) merancang eksperimen, serta (j) melaksanakan eksperimen.

c. IPA sebagai sikap

Dawson (Sarkim, 2009: 134) mengelompokkan sikap ke dalam dua

kelompok besar yaitu seperangkat sikap yang apabila diikuti akan membantu proses pemecahan masalah dan seperangkat sikap yang menekankan sikap tertentu terhadap IPA sebagai suatu cara memandang dunia serta dapat berguna bagi

pengembangan karir di masa mendatang. Sikap yang termasuk pada kelompok pertama, meliputi (1) kesadaran akan perlunya bukti ketika mengemukakan suatu

pernyataan, (2) kemauan untuk mempertimbangkan interpretasi atau pandangan lain, (3) kemauan untuk melakukan eksperimen atau percobaan dengan hati-hati, dan (4) menyadari keterbatasan dalam penemuan keilmuan.

Sikap yang termasuk pada kelompok dua, meliputi (1) rasa ingin tahu terhadap dunia fisik dan biologis serta cara kerjanya, (2) pengakuan bahwa IPA

dapat membantu pemecahan masalah individu dan global, (3) memiliki rasa antusiasme untuk menguasai pengetahuan dengan metode ilmiah, (4) pengakuan pentingnya pemahaman keilmuan, (5) pengakuan bahwa IPA merupakan aktivitas

manusia, dan (6) pemahaman hubungan antara IPA dengan bentuk aktivitas manusia yang lain. Sikap-sikap tersebut sangat jelas berhubungan dengan IPA dan

potensial untuk dikembangkan dalam pembelajaran IPA.

Nilai-nilai yang menjadi ciri khas IPA, yaitu (1) kebenaran atau truth, (2) kebebasan atau freedom, (3) keragu-raguan atau skepticism, (4) urutan atau order,

(34)

& Derosa, 2010: 14). Nilai-nilai tersebut harus dimunculkan dalam setiap kegiatan dalam menggali dan menyimpulkan penjelasan atas fenomena-fenomena yang

terjadi di alam. Wujud konkret dari tertanamnya nilai-nilai tersebut tercermin dari sikap ilmiah yang ditunjukkan oleh individu sebagai pelaku IPA.

Berdasarkan pendapat para pakar yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen IPA, meliputi produk-produk IPA, proses IPA, dan sikap IPA atau sikap ilmiah. Ketiga komponen tersebut saling berhubungan satu

sama lain. Gejala-gejala alam yang menjadi objek IPA diselidiki dengan melaksanakan proses IPA dengan menerapkan keterampilan proses dan

menjunjung sikap ilmiah sehingga terhimpun pengetahuan-pengetahuan baru sebagai produk IPA yang yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

3. Pembelajaran IPA di SD

Pembelajaran IPA sebagai disiplin ilmu dan penerapannya dalam masyarakat membuat pendidikan IPA penting, tetapi penyajian pembelajaran IPA

perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa, prinsip ini berlaku dalam pembelajaran IPA di jenjang SD (Samatowa, 2010: 5). Prinsip ini menjadi pertimbangan karena struktur pemikiran siswa SD tidak dapat disamakan dengan

struktur pemikiran ilmuwan atau orang dewasa.

Empat dimensi umum yang harus hadir dalam pembelajaran IPA, meliputi

IPA sebagai cara berpikir (science as a way of thinking), IPA sebagai cara melakukan penyelidikan (science as a way of investigating), IPA sebagai produk (science as a body of knowledge), dan IPA beserta interaksinya dengan teknologi

(35)

(Chiappetta & Koballa, 2010: 105). Siswa harus dilibatkan dalam pembelajaran IPA yang mampu mengakomodasi keempat dimensi tersebut, sehingga dapat

diperoleh pengalaman belajar yang utuh.

Bambang Suminto (Fatonah & Prasetyo, 2014: 11) mengemukakan bahwa

pengajaran IPA sebagai mata pelajaran di sekolah akan mempunyai dampak yang penting karena hal ini berhubungan erat dengan keberlangsungan umat manusia di dunia, khususnya yang berhubungan dengan pilihan tindakan yang bijak terhadap

isu-isu global (pemanasan global, rekayasa genetik, dll) dan tuntutan angkatan kerja dalam lingkungan ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan serta teknologi

(knowledge based economy). Oleh karena itu, pembelajaran IPA melatih siswa untuk memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam menangani sumber daya di sekitarnya dengan mempertimbangkan keselarasan antara alam dan

keberadaan manusia.

Pembelajaran IPA harus melibatkan siswa untuk mengikuti alur dalam

proses IPA hingga menemukan pengetahuan baru terkait fenomena yang ada. Hal ini didukung oleh Kober (1993: 13) yang mengemukakan bahwa, “In the effective science classroom, the activity of finding out is as important as knowing the

answer”. Dalam pembelajaran IPA, aktivitas siswa untuk mencari tahu penjelasan atas fenomena melalui penyelidikan sama pentingnya dengan jawaban dari

kegiatan penyelidikan sebagai pengetahuan baru.

Samatowa (2010: 10) mengemukakan bahwa terdapat beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan guru dalam memberdayakan siswa dalam

(36)

memulai kegiatan pembelajaran, siswa telah memiliki berbagai konsepsi, pengetahuan yang relevan dengan apa yang akan mereka pelajari, (b) aktivitas

anak melalui berbagai kegiatan nyata dengan alam menjadi hal utama dalam pembelajaran IPA, (c) dalam setiap pembelajaran IPA, kegiatan bertanya menjadi

bagian yang penting, bahkan menjadi bagian yang paling utama dalam pembelajaran, serta (d) pembelajaran IPA memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dalam menjelaskan suatu

masalah.

Sesuai uraian sebelumnya, siswa telah memiliki konsepsi awal yang

berkaitan dengan apa yang akan mereka pelajari. Konsepsi awal tersebut bisa saja mengandung miskonsepsi. Osborne (Fatonah & Prasetyo, 2014: 10) menyarankan beberapa hal yang berkaitan dengan upaya mengubah gagasan awal siswa, yaitu

(a) menemukan dan mengidentifikasi pengetahuan awal yang dimiliki oleh siswa tentang suatu fenomena dan atau suatu situasi, hal yang mereka pikirkan,

alasannya, serta penjelasannya; (b) menangani pengetahuan awal siswa dengan serius kemudian memberikan siswa kesempatan untuk menguji pengetahuan awal melalui penyelidikan atau pengamatan objek atau situasi tertentu; (c) mengajak

siswa berdiskusi tentang temuan yang mereka peroleh; (d) melaksanakan diskusi kelas untuk memperoleh pendapat yang berbeda tentang hal yang sama; (e)

memberi kesempatan siswa untuk memperhatikan pendapat yang bebeda dengan pendapatnya sendiri; (f) menawarkan pandangan ilmiah kepada siswa untuk mengupayakan agar mereka dapat menggali sendiri nilai yang terkandung dalam

(37)

pengetahuannya untuk memecahkan masalah baru atau memperoleh pengalaman baru.

Guru memiliki peran sentral dalam pembelajaran IPA. Peran guru dalam pembelajaran IPA SD secara lengkap telah dikemukakan oleh Abruscato &

Derosa (2010: 11) dalam pendapat berikut.

As an elementary school science teacher, you will teach process skills, values, and attitudes associated with seeking scientific explanations as well as the body of knowledge that constitutes current scientific explanations of natural phenomenon.

Produk IPA atau pengetahuan baru hanya sebatas hasil akhir dari rangkaian

kegiatan yang dijalani siswa selama pembelajaran IPA. Peran guru SD dalam pembelajaran IPA adalah mengajarkan keterampilan proses IPA, nilai-nilai, dan

sikap-sikap yang diasosiasikan dengan pencarian atas penjelasan-penjelasan ilmiah atau produk IPA yang tentang penjelasan-penjelasan ilmiah terkini dari

gejala alam.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa penyajian pembelajaran IPA di SD perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa.

Pembelajaran IPA di SD harus menghadirkan aktivitas langsung siswa untuk menghimpun pengetahuan baru dengan menerapkan keterampilan proses.

Aktivitas siswa untuk menghimpun pengetahuan sama pentingnya dengan pengetahuan baru itu sendiri. Dalam menjalankan aktivitas langsung tersebut, sikap ilmiah perlu untuk ditunjukkan agar pengetahuan baru yang diperoleh

bersifat empiris, objektif, dan logis. Guru berperan untuk mengajarkan keterampilan proses IPA, nilai-nilai, dan sikap-sikap. Dengan demikian, guru

(38)

langsung yang cenderung bersifat klasikal jika pokok bahasan memungkinkan untuk disajikan melalui aktivitas langsung agar siswa mendapatkan pengalaman

belajar yang lebih baik dan bermakna.

4. Tujuan Pembelajaran IPA di SD

Tujuan pembelajaran IPA di SD merupakan pencapaian dari segi produk, proses, dan sikap keilmuan (Bundu, 2006: 18). Berikut adalah penjelasannya. a) Dari segi produk, siswa diharapkan dapat memahami konsep-konsep IPA dan

keterkaitannya dalam kehidupan sehari-hari.

b) Dari segi proses, siswa diharapkan memiliki kemampuan untuk

mengembangkan pengetahuan, gagasan, serta mengaplikasikan konsep yang diperoleh untuk menjelaskan dan memecahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari hari.

c) Dari segi sikap dan nilai, siswa diharapkan mempunyai minat untuk

mempelajari benda-benda di lingkungannya, bersikap ingin tahu, tekun, kritis,

mawas diri, bertanggung jawab, dapat bekerjasama dan mandiri, serta mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga menyadari keagungan Tuhan Yang Maha Esa.

Yager, 1996 (Fatonah & Prasetyo, 2014: 10) mengemukakan bahwa terdapat lima domain yang harus dikembangkan dalam pembelajaran IPA, yaitu

(39)

a) Menguasai pengetahuan tentang berbagai jenis dan perangai lingkungan alam dan lingkungan buatan dalam kaitan dengan pemanfaatannya bagi kehidupan sehari-hari;

b) Mengembangkan keterampilan proses sains;

c) Mengembangkan wawasan, sikap, dan nilai-nilai yang berguna bagi siswa untuk meningkatkan kualitas hidup sehari-hari;

d) Mengembangkan kesadaran tentang keterkaitan yang saling mempengaruhi antara kemampuan sains dan teknologi dengan keadaan lingkungan serta pemanfaatannya bagi kehidupan nyata sehari-hari; dan

e) Mengembangkan kemampuan siswa untuk menerapkan iptek serta keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi.

Harlen & Qualter (2004: 10) juga mengungkapkan pendapat berikut.

The overall goal of primary science is to help children to make sense of the phenomena and events in the world around, so it is important for the children (and not just the teacher) to see that what is being investigated helps in understanding their everyday experiences.

Dalam kehidupan sehari-hari, siswa menemui berbagai fenomena di alam sekitar. Namun, siswa kadang belum memiliki atau mampu memberikan

penjelasan yang masuk akal tentang bagaimana fenomena tersebut dapat terjadi. Keseluruhan tujuan pembelajaran IPA di SD adalah membangkitkan keikutsertaan

penuh antara siswa dan guru untuk memahami secara nyata objek yang sedang diselidiki membantu mereka dalam memahami pengalaman-pengalaman sehari-hari.

Aspek lain yang perlu dipertimbangkan dalam pembelajaran IPA adalah upaya agar semua domain yang ada dalam pembelajaran sains yang terdiri atas

(40)

memiliki andil dalam memahami konsep melalui pengalaman langsung, menggali informasi, mengorganisasikan informasi, dan menguji pendapat.

Berdasarkan pendapat-pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran IPA di SD meliputi, meningkatan kognisi, keterampilan

proses, aplikasi IPA, sikap ilmiah, dan pengembangan kreativitas IPA. Objek IPA adalah gejala-gejala alam yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Siswa didorong untuk memahami objek yang sedang dikaji, sehingga membantu mereka

dalam memahami pengalaman-pengalaman sehari-hari.

B. Tinjauan tentang Karakteristik Siswa SD

Izzaty, dkk (2013: 110) menjelaskan bahwa emosi kebahagiaan, rasa ingin tahu, suka cita, tidak saja membantu perkembangan anak tetapi merupakan

sesuatu yang sangat penting dan dibutuhkan bagi perkembangan anak. Rasa ingin tahu sebagai salah satu sikap ilmiah menjadi modal awal dalam pengembangan

sikap ilmiah karena rasa ingin tahu yang tinggi adalah bentuk motivasi siswa untuk mempelajari suatu hal secara lebih jauh. Rasa ingin tahu tak lepas dari aktivitas pengamatan oleh anak. Stern (Ahmadi & Sholeh, 2005: 115) membagi

pengamatan anak ke dalam empat masa, meliputi (1) masa mengenal benda (sampai usia 8 tahun), di mana pengamatannya masih bersifat global, tetapi telah

dapat membedakan benda tertentu; (2) masa mengenal perbuatan (8-9 tahun), di mana anak telah memperhatikan perbuatan manusia dan hewan; (3) masa mengenal hubungan (9-10 tahun), di mana anak mulai mengenal sifat benda,

(41)

masa mengenal sifat (10 tahun ke atas), di mana anak mulai menganalisis pengamatannya, sehingga ia mengenal sifat-sifat benda, manusia, dan hewan.

Sumantri & Sukmadinata (2008: 6.4) mengungkapkan bahwa bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih mudah dipahami jika anak

melakukan sendiri, sama halnya dengan pemberian contoh pada orang dewasa, sehingga guru hendaknya merancang pembelajaran yang melibatkan anak agar terlibat langsung selama proses belajar mengajar. Keterlibatan anak secara

langsung tentu mendukung pengembangan sikap ilmiah. Guru perlu menerapkan model pembelajaran yang sesuai, sehingga siswa dapat memahami makna dari

pembelajaran secara utuh.

Sumantri & Sukmadinata (2008: 6.4) mengemukakan bahwa anak usia SD senang bekerja dalam kelompok. Melalui interaksinya dengan teman sebaya, anak

belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, yaitu belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak bergantung pada orang

dewasa, belajar bekerja sama, mempelajari perilaku yang dapat diterima oleh lingkungannya, belajar tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sportif, serta belajar keadilan dan demokrasi.

Wilayah perkembangan siswa yang berada pada jenjang SD sering disebut sebagai masa intelektual atau masa usia yang sesuai untuk bersekolah. Yusuf

(2004: 24) membagi menjadi dua fase, yaitu masa kelas-kelas awal SD dan masa kelas-kelas akhir SD.

1. Masa kelas-kelas awal SD, yaitu usia 6 atau 7 tahun sampai umur 9 atau 10

(42)

yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi (apabila jasmaninya sehat maka banyak prestasi yang diperoleh; (b) Sikap tunduk kepada

peraturan-peraturan permainan tradisional; (c) Adanya kecenderungan memuji diri sendiri (menyebut nama sendiri); (d) Suka membanding-bandingkan dirinya

dengan anak yang lain; (e) Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting; (f) Pada kurun waktu 6 – 8 tahun, anak menghendaki nilai rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya

memang diberi nilai baik atau tidak.

2. Masa kelas-kelas akhir SD, yaitu usia 9 atau 10 sampai 12 atau 13 tahun.

Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini, yaitu: (a) Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret, hal ini menimbulkan adanya kecenderungan untuk membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang

praktis; (b) Amat realistik, ingin mengetahui, ingin belajar; (c) Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal dan mata pelajaran khusus,

yang oleh para ahli yang mengikuti teori faktor ditafsirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor (bakat-bakat khusus); (d) Sampai kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk

menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Selepas umur ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk

(43)

Piaget (Izzaty, dkk, 2013: 104 – 105) mengungkapkan bahwa siswa yang berada pada usia 7 – 12 tahun berada pada tahap operasional konkret di mana

konsep yang semula samar-samar dan tidak jelas menjadi lebih konkret, mampu memecahkan masalah-masalah aktual, mampu berpikir logis. Ciri khas siswa SD

dibagi menjadi dua masa yaitu masa anak-anak yang berada di kelas rendah, dan masa anak-anak di kelas tinggi (Izzaty, dkk, 2013: 115). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Triwidadi, sehingga subjek tergolong dalam siswa

kelas tinggi. Adapun ciri-ciri anak di kelas tinggi, yaitu (1) perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari, (2) ingin tahu, ingin belajar, dan realistis,

(3) timbul minat kepada pelajaran-pelajaran khusus, (4) anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah, serta (5) anak-anak suka membentuk kelompok sebaya atau peergroup untuk bermain bersama,

mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya (Izzaty, dkk, 2013: 115). Pendapat tentang perkembangan siswa kelas tinggi juga diungkapkan oleh

Samatowa (2006: 6) bahwa pada masing-masing fase atau masa SD kelas tinggi memiliki karakteristik, yaitu (1) adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret, (2) amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar, (3) munculnya

minat khusus terhadap hal-hal atau mata pelajaran khusus, (4) pada masa ini anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah, (5)

anak-anak gemar membentuk kelompok sebaya, serta (f) peran manusia idola sangat penting pada masa ini. Karakteristik siswa kelas tinggi juga diuraikan oleh Asy’ari

(2006: 42) bahwa ciri-ciri siwa kelas atas yang berada pada kelas 4 sampai dengan

(44)

kelas tinggi, yaitu (1) dapat berpikir reversibel atau bolak-balik, (2) dapat mengelompokkan dan menentukan urutan, dan (3) mampu melakukan operasi

logis tetapi pengalaman yang dimiliki masih terbatas.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa karakteristik

yang dimiliki oleh siswa kelas tinggi antara, yaitu (1) mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, (2) muncul minat khusus pada hal-hal atau mata pelajaran khusus, (3) gemar membentuk kelompok sebaya, (4) membutuhkan benda-benda konkret

dalam pembelajaran, (5) rasa egoisnya masih tinggi, (6) berada pada taraf kognitif operasional konkret, (7) dapat mengelompokkan dan menentukan urutan, (8)

mampu melakukan operasi logis tetapi pengalaman yang dimiliki masih terbatas, (9) dapat berpikir reversibel, (10) adanya minat terhadap suatu hal, serta (11) anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat dan sebaik-baiknya

untuk mengukur prestasi di sekolah. Dengan memperhatikan karakteristik peserta didik dapat memberikan gambaran bagaimana proses pembelajaran yang tepat.

Selain itu, pengetahuan ini juga dapat memudahkan guru memilih pendekatan, metode, strategi dalam pembelajaran, dan memberikan rasa nyaman bagi siswa.

C. Tinjauan tentang Sikap Ilmiah 1. Hakikat Sikap Ilmiah

Penanaman sikap ilmiah siswa adalah salah satu fokus dalam pembelajaran IPA. Sikap ilmiah, sikap sains, atau sikap IPA (scientific attitudes) perlu dibedakan dengan sikap terhadap IPA (attitudes towards science). Sikap terhadap

(45)

sains, misalnya persepsi siswa bahwa IPA merupakan mata pelajaran yang dianggap sukar dipelajari, kurang menarik, membosankan, atau sebaliknya

(Bundu, 2006: 13). Sikap positif terhadap pembelajaran IPA tentunya memberikan kontribusi dalam pembentukan sikap ilmiah siswa tetapi masih ada

faktor-faktor lain yang turut menyumbangkan kontribusi.

Sikap ilmiah adalah sikap yang dimiliki para ilmuwan dalam mencari dan mengembangkan pengetahuan baru, misalnya objektif terhadap fakta, hati-hati,

bertanggung jawab, keterbukaan, semangat untuk selalu meneliti, dan sebagainya (Bundu, 2006: 13). Pendapat ini diperkuat oleh Hamdani (2011: 108) yang

menjelaskan bahwa sikap ilmiah adalah sikap yang harus ditunjukkan oleh ilmuwan dalam upaya mencapai suatu pengetahuan ilmiah sebagai suatu kebenaran bersifat objektif dari suatu permasalahan.

Tini Gantini (Hamdani, 2011: 150) menyebutkan delapan ciri dari sikap ilmiah, yaitu (a) mempunyai rasa ingin tahu yang mendorong untuk meneliti

fakta-fakta baru, (b) tidak berat sebelah (adil) dan berpandangan luas terhadap kebenaran, (c) terdapat kesesuaian antara apa yang diobservasi dengan laporannya, (d) keras hati dan rajin mencari kebenaran, (e) mempunyai sifat ragu

sehingga terus mendorong upaya pencarian kebenaran atau tidak pesimis, (f) rendah hati dan toleran terhadap hal yang diketahui dan tidak diketahui, (g)

kurang mempunyai ketakutan, serta (h) berpikiran terbuka terhadap kebenaran-kebenaran baru.

Sikap ilmiah meliputi beberapa aspek, yaitu (a) rasa ingin tahu atau

(46)

lanjut mengenai apa, bagaimana, dan mengapa peristiwa atau gejala tersebut terjadi; (b) tidak dapat menerima kebenaran tanpa bukti, setiap pendapat atau

gagasan harus disertai data dan cara data tersebut diperoleh sehingga dapat diverifikasi atau dicek kembali; (c) jujur, hasil pengamatan harus secara objektif;

(d) terbuka, mau menerima gagasan baru dan mengujinya sebelum menerima atau menolak gagasan tersebut; (e) toleran, mau menerima gagasan orang lain setelah diuji kebenarannya; (f) skeptis, bersikap hati-hati dan menyelidiki bukti-bukti

yang melatarbelakangi suatu kesimpulan; (g) optimis, selalu beranggapan baik akan kebenaran suatu teori; (h) pemberani, berani melawan ketidakbenaran

berdasarkan fakta-fakta; serta (i) kreatif dan swadaya, mengembangkan ketidaksempurnaan hasil teori yang telah diperolehnya dalam belajar (Ribkahwati dkk, 2012: 9).

Olasehinde & Olatoye (2014: 446) mengungkapkan bahwa, “to be scientific mean that one has such attitudes as curiosity, rationality, willingness to suspend

judgment, open-mindedness, critical mindedness, objectivity, honesty, and humility”. Sikap ilmiah yang harus dimiliki seseorang yaitu rasa ingin tahu, rasionalitas, kesediaan untuk menangguhkan keputusan, berpikir terbuka, berpikir

kritis, objektif, kejujuran, dan rendah hati.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap

ilmiah adalah sikap-sikap yang harus ditunjukkan oleh individu sebagai ilmuwan dalam mencapai atau mengembangkan pengetahuan ilmiah dengan senantiasa berlandaskan pada rasa ingin tahu, objektivitas, jujur, pemberani, optimis, rendah

(47)

toleran, menghormati etika, kreatif dan swadaya, serta semangat untuk meneliti. Sikap ilmiah berbeda dengan sikap terhadap IPA yang memiliki kecenderungan

terhadap minat terhadap IPA.

2. Sikap Ilmiah Siswa SD

Gega, 1977 (Bundu, 2006: 139) mengemukakan bahwa terdapat empat sikap utama yang harus dikembangkan dalam pembelajaran IPA di SD, meliputi (a) rasa ingin tahu atau curiosity, (b) sikap penemuan yang baru atau inventiveness, (c)

pemikiran kritis atau critical thinking, dan (d) tekun atau persistence. Keempat sikap tersebut memiliki hubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Sikap

ingin tahu (curiosity) mendorong suatu penemuan yang baru (inventiveness) melalui pemikiran kritis (critical thinking), sehingga meneguhkan pendirian (persistence) dan berani untuk memiliki pendapat yang berbeda karena memiliki

bukti berupa penjelasan berdasarkan proses IPA dengan menerapkan metode ilmiah.

Menurut de Boo (Loxley, Lyn, Nicholls, et al, 2010: 51), sikap ilmiah yang harus dikembangkan di SD, meliputi (a) perseverance atau sikap tekun, (b) cooperation atau sikap kerja sama, (c) respect for evidence atau sikap respek

terhadap bukti, (d) creativity and inventiveness atau sikap kreativitas dan penemuan, (e) open mindedness atau sikap berpikiran terbuka, serta (f) respect for

living things atau sikap respek terhadap makhluk hidup. Pendapat lebih lengkap dijabarkan oleh Harlen, 1989 (Fatonah & Prasetyo, 2014: 31 – 33) bahwa sikap ilmiah yang penting dimiliki oleh semua tingkatan pendidikan IPA di SD, yaitu

(48)

terhadap data, (c) critical reflection atau sikap refleksi kritis, (d) perseverance atau sikap ketekunan, (e) creativity and inventiveness atau sikap kreatif dan

penemuan, (f) open mindedness atau sikap berpikiran terbuka, (g) cooperation with others atau sikap kerja sama dengan siswa lain, (h) willingness to tolerate

atau sikap keinginan menerima ketidakpastian, serta (i) sensitivity to environment atau sikap sensitif terhadap lingkungan.

Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli yang telah dijelaskan terkait sikap

ilmiah siswa SD, penulis melakukan sintesis sebagai tolak ukur dalam pengukuran dan penilaian sikap ilmiah siswa SD dalam penelitian ini. Berikut ini adalah tabel

(49)

Tabel 1. Sintesis Peneliti terkait Sikap Ilmiah Siswa SD

(2006) Sintesis Peneliti

Sikap ingin tahu Rasa ingin tahu - Sikap ingin tahu

Sikap refleksi

kritis Pemikiran kritis -

Sikap berpikir kritis

Sikap kerja sama

dengan siswa lain - Sikap kerja sama Sikap kerja sama

Sikap ketekunan Sikap tekun Sikap tekun Sikap tekun Sikap kreatif dan

ketidakpastian - Sikap berpikir

terbuka Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sikap ilmiah yang harus dikuasai oleh siswa SD, meliputi sikap ingin tahu, sikap berpikir kritis, sikap kerja sama, sikap tekun, sikap kreatif dan penemuan, sikap respek terhadap data, sikap

berpikiran terbuka, serta sikap peka terhadap lingkungan.

3. Pengembangan Sikap Ilmiah

Sikap berkembang dari interaksi antarindividu dengan lingkungan masa lalu dan masa kini (Cassio & Gibson; Bundu, 2006: 138). Melalui proses kognisi dari integrasi dan konsistensi sikap dibentuk menjadi komponen kognisi, emosi, dan

kecenderungan bertindak. Setelah sikap terbentuk akan mempengaruhi perubahan lingkungan yang ada dan perubahan-perubahan yang terjadi menuntun pada

(50)

Sikap ilmiah menunjukkan bahwa arah tujuan yang hendak dicapai seseorang yang hendak menumbuhkan sikap ilmiah dirinya dan tidak ada seorang

pun dilahirkan dengan memiliki sikap ilmiah (Jasin, 2010: 54). Sikap ilmiah adalah aspek tingkah laku yang tidak dapat diajarkan melalui satuan pembelajaran

tertentu, tetapi merupakan tingkah laku (behavior) yang ditangkap melalui contoh-contoh positif yang harus didukung, dipupuk, dan dikembangkan, sehingga dapat dikuasai oleh siswa. Salah satu tujuan pengembangan sikap ilmiah

adalah untuk mencegah munculnya sikap negatif dalam diri siswa (Bundu, 2006: 42). Made Slamet Sugiartana, Dewa Nyoman Sudana, dan Ni Wayan Arini, 2012

(Samatowa, 2010: 56) mengemukakan bahwa penanaman sikap ilmiah pada siswa melalui pembelajaran IPA di sekolah dasar secara tidak langsung akan berpengaruh positif terhadap motivasi belajarnya serta meningkatkan kesadaran

siswa untuk menjadi pribadi yang berbudi pekerti baik.

Pemikiran tentang pembelajaran sains melalui pengembangan sikap ilmiah

merupakan alternatif yang sangat tepat berkenaan dengan kondisi negara saat ini (Samatowa, 2010: 96 – 97). Sikap ilmiah secara langsung berpengaruh pada budi pekerti individu yang bersangkutan karena sikap ilmiah meliputi sifat jujur,

terbuka, luwes, tekun, logis, kritis, dan kreatif adalah wajib untuk ditunjukkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sikap-sikap ini adalah

(51)

Berdasarkan pendapat-pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap ilmiah dapat dipupuk, didukung, dan dikembangkan, sehingga siswa dapat

menguasai sikap ilmiah. Pembelajaran IPA harus mampu mengakomodasi aktivitas langsung kegiatan belajar untuk mengkaji fenomena-fenomena alam di

lingkungan siswa karena sikap berkembang dari interaksi antarindividu dengan lingkungannya. Oleh karena itu, pembelajaran IPA menjadi wahana yang cocok dalam pembentukan dan pengembangan sikap ilmiah.

4. Pengukuran Sikap Ilmiah

Peneliti melakukan sintesis terhadap dimensi dan indikator sikap ilmiah

menurut Bundu (2006) dengan hasil sintesis dari dimensi-dimensi sikap ilmiah dari para ahli pada sub-subbab sebelumnya. Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan hasil sintesis peneliti terkait pengelompokkan/dimensi sikap ilmiah

(52)

Tabel 2. Dimensi dan Indikator Sikap Ilmiah

No Dimensi Indikator

1. Sikap ingin tahu

Perhatian pada objek yang diamati. Antusias pada proses sains.

Memperhatikan penjelasan guru.

2. Sikap respek terhadap data/fakta

Mengambil keputusan sesuai fakta. Tidak mencampur fakta dengan pendapat. Objektif/jujur.

3. Sikap berpikir kritis

Menanyakan setiap perubahan/hal baru. Tidak mengabaikan data meskipun kecil. Meragukan temuan teman

Meragukan anggapan/miskonsepsi umum

4. Sikap penemuan dan kreativitas

Menggunakan fakta-fakta untuk dasar kesimpulan.

Menunjukkan laporan berbeda dengan teman kelas.

Menguraikan kesimpulan baru hasil pengamatan. 5. Sikap berpikiran

terbuka

Menghargai pendapat teman/orang lain. Menerima bimbingan guru.

6. Sikap kerja sama Berpartisipasi aktif dalam kelompok Interaksi dengan anggota kelompok

7. Sikap tekun

Konsistensi melakukan kegiatan inkuiri.

Memeriksa langkah-langkah yang telah dilaksanakan.

Mengikuti petunjuk kerja sesuai arahan guru. Memeriksa kelengkapan hasil kerja.

8. Sikap peka terhadap lingkungan sekitar

Perhatian terhadap peristiwa sekitar. Partisipasi terhadap kegiatan sosial.

Seluruh dimensi sikap ilmiah diukur dalam penelitian ini. Bundu (2006: 142 – 149) mengemukakan bahwa sikap ilmiah dapat diukur dengan bentuk penilaian

nontes meliputi, pengamatan atau observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Berikut ini adalah penjelasan terkait metode-metode pengukuran

sikap ilmiah tersebut. a. Pengamatan (observasi)

Pengamatan adalah cara mengumpulkan data dengan mengadakan

(53)

Pengamatan dapat dilaksanakan secara partisipatif maupun nonpartisipatif. Keuntungan penilaian dengan pengamatan adalah data diperoleh secara langsung

sehingga lebih objektif menggambarkan keadaan yang sesunggunya dari objek atau subjek yang diamati. Pengolahan hasil juga lebih akurat karena hanya

terfokus pada sikap khusus masing-masing siswa. Kelemahan pengamatan adalah cenderung agak sulit dilaksanakan untuk jumlah siswa yang banyak karena memerlukan waktu yang lama dan sikap/perilaku yang diamati mungkin dapat

berubah dari waktu ke waktu. b. Wawancara (interview)

Wawancara adalah teknik pengumpulan data/informasi yang dilaksanakan dengan tanya jawab secara lisan. Terdapat dua jenis wawancara yaitu, wawancara terpimpin dan wawancara tidak terpimpin. Kelebihan yang dimiliki karena

guru/penilai atau pewawancara dapat berhubungan langsung dengan siswa/peserta didik sehingga dapat diperoleh hasil yang lengkap dan mendalam. Kelemahan dari

wawancara adalah sukar dan membutuhkan waktu yang lama untuk dilaksanakan pada penelitian yang memiliki banyak subjek.

c. Menyebarkan angket (kuesioner)

Angket hampir sama dengan wawanara terstruktur, hanya saja angket tidak perlu saling berhadapan (face to face) antara penilai (guru) dengan yang dinilai

(siswa). Meskipun tanpa berhadapan langsung, penggunaan angket lebih praktis, menghemat tenaga, dan waktu. Hanya saja angket perlu disusun sebaik mungkin agar dapat menjaring semua informasi/data yang diperlukan karena pertanyaan

Gambar

Tabel 2. Dimensi dan Indikator Sikap Ilmiah
Tabel 3.
Tabel 4. Sintaks Model Pembelajaran Guided Discovery Menurut Syah
Gambar 2. Bagan Kerangka Berpikir Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Group Investigation Melalui Media Berbasis Lingkungan Untuk Meningkatkan Sikap Ilmiah dan Hasil Belajar Siswa Kelas 3 SD Pada Mata Pelajaran IPA di.. SDN Tlekung

Peningkatan keterampilan proses dasar (basic skill) siswa kelas V terhadap mata pelajaran IPA setelah diterapkan metode pembelajaran discovery di SDN Dadaprejo 01 Batu

Penerapan Metode Inkuiri Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Materi Tanah di Sekolah Dasar (Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas V SDN

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode Discovery dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA materi Sifat-Sifat Cahayakelas V SDN

Tujuan penelitian yang telah dilaksanakan adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran IPA pada materi pesawat sederhana dengan menggunakan model

Berdasarakan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap siswa kelas V SD Negeri Bandungan 03 Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang pada mata pelajaran IPA dengan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA di kelas V SDN 14 Ampana pada

2015 “Penerapan model pembelajaran guided discovery dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPA pada siswa kelas IV SDN Kutowinangun 12 S alatiga Semester II