BAB IV : RELEVANSI PENDIDIKAN SOSIAL DALAM SURAT AT-TAUBAH AYAT 71 TERHADAP
LANDASAN TEOR
A. Sosial
1. Pengertian Sosial
Ilmu sosial adalah ilmu yang bertujuan untuk mengembangkan kepribadian manusia sebagai makhluk sosial yang berwawasan luas dan kritis serta dapat menyelesaikan sebuah masalah dengan baik, memahami konsep-konsep dasar tentang manusia sebagai makhluk sosial.
Sosial merupakan hal yang begitu penting dalam kehidupan manusia, dengan adanya hubungan sosial seseorang akan lebih banyak memiliki jangkauan terhadap orang lain, oleh karenanya begitu penting hubungan sosial masyarakat satu dengan yan lainnya.
Hubungan-hubungan itu pada awalnya merupakan proses penyesuaian nilai-nilai sosial dalam kehidupan masyarakat. Perkembangan inilah yang merupakan dinamika yang tumbuh dari pola-pola perikelakuan manusia yang berbeda menurut situasi dan kepentingannya masing-masing, yang diwujudkan dalam proses hubungan sosial. Terjadinya intraksi sosial sebagaimana dimaksud, karena adanya saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing- masing pihak dalam suatu hubungan sosial. (Abdul Syani, 2002: 151)
Dalam kamus sosiologi dan kependudukan mendefinisikan sosial adalah hubungan seorang individu dengan lainnya dari jenis yang sama atau pada sejumlah individu untuk membentuk lebih banyak atau lebih sedikit, kelompok yang terorganisir, juga tentang kecenderungan- kecenderungan dan implus-implus yang berhubungan dengan lainnya. Kata sosial dihubungkan dengan pengertian hiburan atau sesuatu yang menyenangkan. Sebagai contoh, bila dikaitkan dengan kehidupan seseorang dalam memenuhi kebutuhan untuk lebih meningkatkan kegiatan sosial dalam suatu lingkungan tertentu terutama komunitas. Kata sosial mempunyai kecenderungan kearah pengertian kelompok orang, yang berkonotasi „masyarakat‟ dan „warga‟ (Diana Convers, 1991: 10).
Dasar yuridis tentang Hak Asasi Manusia pada BAB XA (Perubahan Kedua) pasal 28A yang berbunyi “setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Sedangkan landasan yuridis yang membicarakan tentang kesejahteraan sosial yaitu pada BAB XIV pasal 34 (Perubahan Keempat) yang berbunyi (1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara. (2) Negara mengembangkan system jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. (3) Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan
fasilitas pelayanan umum yang layak (Undang-Undang Dasar, 2016: 153,166).
Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia sebagai individu tidak mampu hidup sendiri dan berkembang sempurna tanpa hidup bersama dengan individu manusia lainnya. Manusia harus hidup bermasyarakat saling berhubungan dan berinteraksi satu sama lain dalam kelompoknya dan juga dengan individu di luar kelompoknya guna memperjuangkan dan memenuhi kepentingan (Lies Sudibyo, 2013: 5).
Jadi, sosial adalah humanisasi yang dipengaruh kondisi dan situasi dimana hubungan seorang individu dengan lainnya dari jenis yang sama atau pada sejumlah individu untuk membentuk lebih banyak atau lebih sedikit, kelompok yang terorganisir, juga tentang kecenderungan- kecenderungan dan implus-implus yang berhubungan dengan lainnya. 2. Tujuan Sosial
Banyak sekali masalah sosial yang timbul di permukaan dari berbagai keadaan. Bahkan kadang-kadang berupa potensi yang belum digarap dengan seksama. Suatu potensi yang terkadang dalam satu masyarakat tentu perlu peggarapan agar dapat dimanfaatkan dalam kehidupannya. Begitu juga masalah yang timbul diupayakan tidak menjadi hambatan dan kendala bagi perkembangan kehidupannya. Tujuan dari sosial antara lain:
a. Memahami dan menyadari adanya kenyataan-kenyataan sosial dan masalah-masalah sosial yang ada dalam masyarakat.
b. Peka terhadap masalah sosial dan tanggap untuk ikut serta dalam usaha menanggulanginya.
c. Menyadari bahwa setiap masalah sosial yang timbul dalam masyarakat selalu bersifat kompleks dan hanya dapat mendekatinya (Mahfudh Shalahuddin, 1991: 5)
3. Fungsi Pendidikan Sosial
Tugas pendidikan dimulai dari keluarga yang berkewajiban mentransfer pengalaman kepada anak untuk selanjutnya dapat membuka jalan hidupnya sendiri. Namun, pengalaman itu kemudian berakumulasi, dan kebudayaan yang hendak ditransfer sangat banyak dan kompleks akibat berinteraksinya keluarga-keluarga dalam bentuk masyarakat dengan segala wataknya yang khas.
Pendidikan Mempunyai Dua Fungsi:
a. Memilih warisan budaya yang relevan bagi zaman ketika pendidikan itu berlangsung, sehingga bentuk dan kepribadian masyarakat dapat terpelihara.
b. Memperhitungkan semangat zaman dalam melakukan perubahan dan pembaharuan yang terus-menerus, serta mempersiapkan generasi sesuai dengan prinsip “Yang ada bukanlah tetap yang terus-menerus, melainkan perubahan yang terus-menerus” (Herry Noer Aly, Munzier, 2003: 196).
Fungsi pendidikan sosial adalah kegunaan sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat yaitu memberikan pemahaman terhadap masyarakat akan pentingnya hubungan sosial dengan sesama, saling membantu, gotong royong, serta peka terhadap lingkungan sekitar, dan mengajak banyak orang untuk melakukan suatu kebaikan serta mencegah kemunkaran.
B.Nilai-Nilai Sosial dalam Pendidikan Islam 1. Nilai-nilai Sosial
Nilai adalah gambaran dari apa yang diinginkan, yang pantas, dan yang berharga serta yang mempengaruhi tingkah laku seseorang. Dengan kata lain, nilai-nilai adalah standard-sandard di mana pendukung-pendukung suatu kebudayaan mendefinisikan apa yang diinginkan dan tidak diinginkan, apa yang baik dan tidak baik, apa yang indah dan jelek. Karena itu, nilai-nilai adalah semacam evaluasi atau pertimbangan tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh menurut kebudayaan tertentu. Prinsip-prinsip ini tercemin di dalam setiap aspek kehidupan manusia.
Nilai merupakan konstruksi masyarakat yang tercipta melalui interaksi di antara para anggota masyarakat. Nilai tercipta secara sosial bukan secara biologis atau bawaan sejak lahir (Abdul Syani, 2002: 50).
Istilah “Sosial” (social) pada ilmu-ilmu sosial mempunyai arti yang berbeda dengan misalnya istilah sosialisme atau istilah sosial pada Departemen Sosial. Apabila istilah “sosial” pada ilmu-ilmu sosial
menunjukkan pada objeknya, yaitu masyarakat, sosialisme adalah ideologi yang berpokok pada prinsip pemilikan umum (atas alat-alat produksi dan jasa-jasa dalam bidang ekonomi. Sedangkan istilah “sosial pada Departemen sosial, menunjukkan pada kegiatan-kegiatan di lapangan sosial, artinya kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat dalam bidang kesejahteraan, seperti misalnya tuna karya, tuna susila, orang jompo, yatim piatu dan lain sebagainya, yang ruang lingkupnya adalah pekerjaan ataupun kesejahteraan sosial (Soerjono Soekanto, 1986: 11). Nilai-nilai sosial antara lain:
a. Stratifikasi sosial: perbedaan (diferensasi) yang berhubungan dengan pengertian perbedaan tingkat, dimana anggota masyarakat berada di dalamnya (Abdul Syani, 2002: 83).
b. Demokratis: cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
c. Bersahabat dan komunikatif: sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk membangun suasana persaudaraan dan relasi dengan orang-orang lain.
d. Cinta damai: sikap dan tindakan yang mendorong untuk tidak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan tetapi melalui dialog.
e. Peduli lingkungan: sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan lingkungan alam di sekitarnya, dan
mengembangkan upaya-upaya umtuk memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi.
f. Peduli sosial: sikap dan tindakan yang selalu memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan (Bernard Raho, 2016: 132-133).
g. Norma sosial: kekuatan dari serangkaian peraturan umum, baik tertulis maupun tidak tertulis, mengenai tingkah laku atau perbuatan manusia yang menurut penilaian anggota kelompok masyarakatnya sebagai sesuatu yang baik atau buruk, pantas atau tidak pantas (Abdul Syani, 2002: 55).
2. Pengertian Pendidikan Islam
Kata pendidikan dalam bahasa Arab tarbiyah dengan kata kerja rabba. Kata pengajaran dalam bahasa Arabnya adalah “ta‟lim” dengan kata kerjanya “ ‟allama”. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa Arabnya “tarbiyah wa ta‟lim” sedangkan “pendidikan Islam” dalam bahasa Arabnya “Tarbiyah Islamiyah”.
Kata kerja rabba (mendidik) sudah digunakan pada zaman Nabi Muhammad SAW seperti terlihat dalam ayat al-Qur‟an dan Hadits Nabi. Dalam ayat al-Qur‟an kata ini digunakan dalam susunan sebagai berikut:
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh
kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Q.S. al-Isra‟: 24).
Dalam bentuk kata benda, kata “rabba” ini digunakan juga untuk “Tuhan”, mungkin karena Tuhan juga bersifat mendidik, mengasuh, memelihara, malah mencipta.
Kata lain yang mengandung arti pendidikan ialah
َبَّدَا
seperti sabda Rasul:ونع وّللا يضر سنأ نعو(
لاق دقو فيك )ًاقلخ سانلا نسحأ وّللا لوسر ناك :لاق
«
بييدأت نسحأف بير نيبدأ
»
حيحص هانعمو فيعض هدنس بييدأت نسحأف بير نيبدأ
Dari Anas r.a berkata: Rosulullah SAW bersabda: “Tuhan telah mendidikku, maka Ia sempurnakan pendidikanku”
(Muhammad bin Darways bin Muhammad, Juz 1 : 35)
Kata “ta‟lim” dengan kata kerjanya “ „allama” juga sudah digunakan pada zaman Nabi. Baik dalam al-Qur‟an, Hadits atau pemakaiannya sehari-hari, kata ini lebih banyak digunakan dari pada kata “tarbiyah” tadi (Zakiah Daradjat, 2011: 25-26).
Jadi, pendidikan Islam menurut istilah adalah system pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupan sesuai dengan cita-cita Islam, karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya.
Menurut Zakiah Daradjat, landasan pendidikan Islam terdiri dari
al-Qur‟an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW yang dapat
dikembangkan dengan ijtihad, al-maslahah al mursalah, istihsan, qiyas, dan sebagainya.
a. Al-Qur‟an
Al-Qur‟an adalah firman Allah berupa wahyu yang
disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad. Ajaran yang terkandung dalam al-Qur‟an itu terdiri dari dua prinsip besar, yaitu berhubungan dengan masalah keimanan yang disebut aqidah, dan yang berhubungan dengan amal yang disebut syariat (Zakiah Daradjat, 2011: 19).
b. As-Sunnah
As-Sunnah adalah perkataan, perbuatan, maupun pengakuan Rosulullah SAW. Yang dimaksud dengan pengakuan itu ialah kejadian atau perbuatan orang lain yang diketahui Rosulullah dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan. Sunnah merupakan sumber ajaran kedua setelah al- Qur‟an. Seperti al-Qur‟an Sunnah juga berisi aqidah dan syariat. Sunnah berisi petunjuk (pedoman) untuk kemaslahatan hidup
manusia dalam segala aspeknya, untuk membina umat menjadi manusia seutuhnya dan muslim yang bertaqwa (Zakiah Daradjat, 2011: 20).
c. Ijtihad
Ijtihad adalah istilah para fuqaha, yaitu berpikir dengan menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh ilmuan syariat Islam untuk menetapakan/menentukan suatu hukum syariat Islam dalam hal-hal yang ternyata belum ditegaskan hukumnya oleh al-Qur‟an dan as-Sunnah. Ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan, tetapi tetap berpedoman pada al-Qur‟an dan as-Sunnah. Namun demikian, ijtihad harus mengikuti kaidah-kaidah yang diatur oleh para mujtahid tidak boleh bertentangan dengan isi al-Qur‟an dan as- Sunnah tersebut (Zakiah Daradjat. 2011: 21).
4. Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam berhubungan erat dengan agama Islam itu sendiri, lengkap dengan aqidah, syariat dan sistem pendidikannya. Keduanya ibarat dua kendaraan yang berjalan diatas dua jalur seimbang, baik dari segi tujuan maupun rambu-rambunya yang disyariatkan kepada hamba Allah yang membekali diri dengan takwa, ilmu, hidayah, serta akhlak untuk menempuh perjalanan hidup.
Tujuan pendidikan Islam sinkron dengan tujuan agama Islam, yaitu berusaha mendidik individu mukmin agar tunduk, bertakwa, dan beribadah dengan baik kepada Allah, sehingga memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Untuk merealisasi tujuan tersebut, Allah mengutus para Rasul untuk menjadi guru dan pendidik serta menurunkan kitab samawi.
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Q.S al-Jumu‟ah, 62:2) (Herry Noer Aly, 2003: 138-142).
Tujuan umum pendidikan Islam harus dikaitkan pula dengan tujuan pendidikan Nasional Negara tempat pendidikan Islam itu dilaksanakan dan harus dikaitkan pula dengan tujuan institusional lembaga yang yang menyelenggarakan pendidikan itu. Tujuan umum itu tidak dapat dicapai kecuali setelah melalui proses pengajaran, pengalaman, pembiasaan, penghayatan dan keyakinan akan kebenarannya (Zakiah Daradjat, 2011: 30).
b. Tujuan Khusus
Menurut pendapat Herry Noer Aly dan Munzier dari tujuan umum pendidikan Islam yang berpusat pada ketakwaan dan
kebahagiaan tersebut dapat digali tujuan-tujuan khusus sebagai berikut:
1.) Mendidik individu yang shaleh dengan memperhatikan segenap dimensi perkembangannya: rohaniah, emosional, sosial, intelektual, dan fisik.
2.) Mendidik anggota kelompok sosial yang shaleh, baik dalam keluarga maupun masyarakat muslim.
3.) Mendidik manusia shaleh bagi masyarakat insani yang besar. Pendidikan Islam mendidik individu agar berjiwa suci dan bersih. Dengan jiwa yang demikian, individu akan hidup dalam ketenangan bersama Allah, teman, keluarga, masyarakat dan umat manusia di seluruh dunia. Dengan demikian, pendidikan Islam telah ikut andil dalam mewujudkan tujuan-tujuan khusus agama Islam, yaitu menciptakan kebaikan umum bagi individu, keluarga, masyarakat, dan umat manusia.
Dalam pendidikan aspek rohani, sebagian ahli ilmu juga mengesampingkannya dan berpendapat bahwa pertumbuhan hanya terdapat pada empat aspek, yaitu emosional, sosial, intelektual dan fisik. Pendapat tersebut jelas keliru. Pertumbuhan aspek rohani merupakan kebutuhan primer setiap individu. Kebutuhan akan pertumbuhan rohani lebih kuat dibanding kebutuhan akan pertumbuhan apa pun. Sayangnya, kebutuhan tersebut telah tertutup oleh materialism.
Dalam pendidikan aspek emosional, Islam berupaya mengantar individu untuk mencapai kematangan emosional. Islam mengakui bahwa manusia memiliki emosi seperti kasih sayang, sedih, gembira, dan marah. Emosi tersebut merupakan sesuatu yang alami pada manusia. Namun, Islam memperlakukan emosi tersebut secara seimbang dengan memenuhi tuntutannya tanpa berlebihan ataupun kekurangan. Ibadah-ibadah dalam Islam, umpamanya, jika dilaksanakan secara benar, akan mengantar seseorang kepada kematangan emosional. Zakat akan menumbuhkan rasa cinta berbuat baik dan membatasi rasa cinta memiliki. Ibadah haji akan menambah kepekaan untuk rendah hati dan menguatkan makna-makna kasih-sayang.
Dalam pendidikan aspek sosial, Islam berupaya mendidik individu agar insyaf akan hak-hak. Individu akan dimintai pertanggungjawaban sehubungan dengan sikap dan tindakannya terhadap hak-hak itu.
Dalam pendidikan aspek intelektual, Islam berupaya agar individu memiliki intelektualitas yang sehat. Untuk itu, Islam membebaskan akal dari berbagai ikatan dan memberinya kebebasan berpikir tentang segala sesuatu, kecuali hal-hal gaib yang memang bukan lapangan akal; dan sekiranya akal terus menyelaminya, niscaya akan tersesat dan kehabisan tenaga secara sia-sia. Manusia hendaknya cukup berpikir tentang tanda-tanda
kekuasaan Allah, baik kealaman, sosial, ataupun kejiwaan, kemudian mengambil hikmah dari semua itu.
Pendidikan aspek jasmani termasuk salah satu aspek yang mendapat perhatian Islam dalam mendidik individu. Kebutuhan fisik seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan seks, diperhatikan dan dipenuhi dalam batas-batas yang seimbang dengan kemaslahatan umum masyarakat. Untuk itu, Islam meletakkan aturan yang menjamin terpeliharanya kesehatan dan keselematan jasmani, memperhatikan kebiasaan-kebiasaan yang bermanfat, dan mengubah tenaga vital yang berlebihan di dalam tubuh menjadi berguna bagi kebahagiaan hakiki individu dan masyarakat.
Tujuan khusus pendidikan Islam yang kedua, setelah mempersiapkan individu muslim yang memiliki perkembangan secara sempurna, ialah mempersiapakan individu yang shaleh bagi masyarakat dengan menanamkan kepedulian sosial serta membekali keterampilan mental atau kerja atau keduanya, sehingga menjadi anggota yang berguna bukan yang menjadi beban bagi masyarakat (Herry Noer Aly, Munzier, 2003: 138-148). c. Tujuan Akhir
Pendidikan Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir pula. Tujuan umum yang berbentuk insan kamil dengan
pola takwa dapat mengalami perubahan naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai. Orang yang sudah bertakwa dalam bentuk Insan Kamil, masih perlu mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurang- kurangnya pemeliharaan supaya tidak luntur dan berkurang, meskipun pendidikan oleh diri sendiri dan bukan dalam pendidikan formal. Tujuan akhir pendidikan Islam itu dapat dipahami dalam firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu
mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam”. (Q.S. Ali Imron: 102)
Mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah sebagai muslim yang merupakan ujung dari takwa sebagai akhir dari proses hidup jelas berisi kegiatan pendidikan. Inilah akhir dari proses pendidikan itu yang dapat dianggap dari tujuan akhirnya. Insan Kamil yang mati dan akan menghadap Tuhannya merupakan
tujuan akhir dari proses pendidikan Islam. (Zakiah Daradjat, 2011: 31).
5. Bentuk Nilai Sosial dalam Pendidikan Islam
Seperti dijelaskan pada pembahasan di atas. Bahwa nilai sosial adalah gambaran dari apa yang diinginkan, yang pantas, dan yang berharga serta yang mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam bersosial dengan baik, serta berhubungan dengan individu lain sesuai dengan norma dan aturan.
Nilai sosial dalam pendidikan Islam adalah pertimbangan tentang apa yang boleh dan tidak boleh menurut ajaran Islam. Prinsip-prinsip ini tercermin dalam setiap aspek kehidupan manusia, antara lain sebagai berikut:
a. Tolong Menolong
Setiap manusia hendaknya mempunyai perasaan yang serba baik terhadap orang-orang lain, seperti perasaan mencintai, belas kasihan, bergaul dengan penuh kesopanan, dan harmonis, bergotong royong dalam menyempurnakan kehidupan, dikala suka dan duka. (Musthafa Husni, 1993: 30). Dalam hal ini Rosulullah bersabda:
للها ىلص للهلاوسر لاق ةريرى بىا نع
مّلسو ويلع
َا
َكِسْفَ نِل ُّبُِتُ اَم ِسَّنلِل َّبِح
ًانمؤم نكت
Dari Abu Hurairoh berkata: Rosulullah SAW bersabda:
“Cintailah manusia sebagaiman kamu mencintai dirimu sendiri maka kamu menjadi seorang mukmin” (H.R. Ibnu Majah).
b. Amar Ma‟ruf Nahi Munkar
Islam menganggap bahwa masyarakat itu wajib bertanggungjawab mengenai terpeliharanya akhlak di kalangan ummat, sebab ini lah yang dapat menjamin untuk menghindarkan kehancuran, kemerosotan kebinasaan dan kemunduran. Oleh sebab itu masyarakat wajib mengingatkan kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran akhlak ataupun kesopanan lain-lainnya. Oleh Islam hal itu tidak dianggap sebagai bertentangan terhadap kemerdekaan perorangan, sebab kebinasaan dan kemungkaran itu pasti akan menghancurkan bangunan yang didirikan oleh ummat (Musthafa Husni, 1993: 31).
Seperti sabda Rosulullah SAW:
ويلع للها ىلص للها لوسر تعسم : لاق ويلع للها يضر يردلخا ديعس بيا نع
( : ملسو
ْنِاَف ِوِناَسِلِبَف ْعِطَتْسَي َْلَ ْنِاَف ِهِدَيِب ُهْرِّ يَغُ يْلَ ف اًرَكْنُم ْمُكْنِم ىَاَر ْنَم
ْعِطَتْسَي َْلَ
ِناَْيِْْلاا ُفَعْضَاَكِلاَذَو ِوِبْلَقِبَف
)
Dari ibu Sa‟id Al-Khudri r.a berkata: aku mendengar Rosulullah
SAW bersabda:“Barangsiapa diantara kamu semua ada yang
melihat kemunkaran, hendaknya mengubahnya itu dengan kekuasaan tangannya, jikalau tidak dapat, hendaklah memberi nasihat dengan lisannya jikalau masih tidak dapat juga, maka hendaklah mengingkari dalam hatinya. Yang sedemikian ini adalah selemah-lemahnya keimanan” (H.R. Muslim, Tirmidzi, Nasa‟i). c. Zakat
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang
lurus” (Al-Bayyinah: 5).
Ayat di atas itu menjelaskan bahwa perintah berzakat itu merupakan salah satu wasiat yang diberikan oleh Allah pada seklian Nabi dan hamba-hamba-Nya, juga merupakan wasiat- wasiat para Nabi itu sendiri kepada ummatnya masing-masing. Jelaslah kiranya bahwa kewajiban zakat itu, dengan mengikuti cara-cara yang diajarkan oleh Islam, adalah merupakan suatu hal yang amat baru, yang belum pernah ada sebelumnya di dalam syariat manapun juga. Oleh sebab itu pengertian zakat dalam ayat- ayat itu mengandung makna berbuat kebaikan, membelanjakan harta kepada faqir miskin dan orang-orang yang berhajat atau sangat memerlukan (Musthafa Husni Assiba‟i, 1993: 32).
d. Shodaqoh dan Infak
Dalam ajaran Islam, selain dari lembaga zakat, dikenal juga dengan lembaga infak dan shodaqoh. Infak dan shodaqoh adalah harta kekayaan yang dikeluarkan untuk kebaikan dan kemaslahatan masyarakat tanpa syarat nisab dan haul. Walaupun tujuannya sama dengan zakat, namun di antaranya juga terdapat perbedaan. Perbedaannya itu antara lain terletak dalam hal bahwa zakat lebih bersifat kewajiban sedang infak dan shodaqoh menunjukkan sifat kesukarelaan dan orang yang memberinya akan dibalas Allah dengan pahala sunnat (Mohammad Daud Ali, 1998: 274).
e. Silaturahim
Kehidupan atau kebutuhan hidup memang bergandengan erat dengan dengan pengayoman masyarakat terhadaap kehidupan golongan yang kekurangan supaya memperoleh kehidupan yang layak dan mulia, sesuai dengan kedudukannya sebagai manusia yang berhak memiliki kemuliaan diri. Kewajiban seseorang kepada orang lain antara lain memberikan perlindungan kepada kaum fakir miskin, orang-orang yang dalam kekurangan, orang-orang sakit dan orang-orang yang mempunyai keperluan (Musthafa Husni, 1998: 218).
C. Al-Qur‟an Surat at-Taubah
1. Asbabun Nuzul Surat at-Taubah
Asbabun Nuzul tidak bisa diketahui semata-mata dengan akal (rasio), melainkan berdasarkan riwayat yang shohih dan didengar langsung dari orang-orang yang mengetahui turunnya al-Qur‟an, atau dari orang-orang yang memahami Asbabun Nuzul (Muhammad Ali ash-Shabuni, 2001: 50).
Surat ini berisi 129 ayat, semuanya Madinah, kecuali ayat 113 dan dua ayat terakhir, yaitu ayat 128 dan 129 menurut sebagian ulama adalah Makiyyah karena diturunkan di Makkah. Menurut pendapat sebagian besar ulama tafsir (jumhur), semua ayat itu tanpa ada yang dikecualikan adalah Madaniyah karena berdasarkan pendapat yang masyhur bahwa ayat yang diturunkan setelah Nabi Muhammad SAW
hijrah ke Madinah dinamakan Madaniyah sekalipun diturunkan di Makkah.
Surah ini mempunyai banyak nama, tidak ada surah dalam al- Qur‟an yang lebih banyak namanya dari surah ini dan surah al-Fatihah, akan tetapi yang paling masyhur dari semua namanya adalah
“Bara‟ah” dan “at-Taubah”.
Dinamakan bara‟ah karena surat ini dimulai dengan kata