KAJIAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori .1 Kemiskinan .1 Kemiskinan
Kemiskinan menurut World Bank didefinisikan sebagai The denial of choice and opportunities most basic for human development to lead a long healthy, creative life and enjoy a decent standard of living freedom, selfesteem and the respect of other. Kemiskinan sering dipahami sebagai keadaan kekurangan uang dan barang untuk menjamin kelangsungan hidup. Menurut BPS, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran (BPS, 2012).
Dari definisi di atas kemiskinan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan seperti pangan, perumahan, pakaian, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Pada dasarnya definisi kemiskinan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu:
a. Kemiskinan absolut
Kemiskinan yang dikaitkan dengan perkiraan tingkat pendapatan dan kebutuhan yang hanya dibatasi pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar minimum yang memungkinkan seseorang untuk hidup secara layak. Dengan demikian kemiskinan diukur dengan membandingkan tingkat pendapatan orang dengan tingkat pendapatan yang dibutuhkan untuk memperoleh kebutuhan dasarnya yakni makanan, pakaian dan perumahan agar dapat menjamin kelangsungan hidupnya.
b. Kemiskinan relatif
Kemiskinan dilihat dari aspek ketimpangan sosial, karena ada orang yang sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar minimumnya tetapi masih jauh lebih rendah dibanding masyarakat sekitarnya (lingkungannya). Semakin besar ketimpangan antara tingkat penghidupan golongan atas dan golongan bawah maka akan semakin besar pula jumlah penduduk yang dapat
14
dikategorikan miskin, sehingga kemiskinan relatif erat hubungannya dengan masalah distribusi pendapatan. (Todaro, 1995) menyatakan bahwa variasi kemiskinan di negara berkembang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: (1) luasnya negara, (2) perbedaan sejarah, sebagian dijajah oleh negara yang berlainan, (3) perbedaan kekayaan sumber daya alam dan kualitas sumber daya manusianya, (4) relatif pentingnya sektor publik dan swasta, (5) perbedaan struktur industri.
Penyebab kemiskinan bisa datang dari diri sendiri (faktor alamiah), dan dari lingkungan sekitar (faktor non alamiah). Dimensi-dimensi kemiskinan termanifestasikan dalam bentuk kekurangan gizi, air, perumahan yang sehat, perawatan kesehatan yang kurang baik, dan tingkat pendidikan yang rendah.
Selain itu, dimensi-dimensi kemiskinan saling berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga kemiskinan juga menjadi sebuah hubungan sebab akibat dan terdapatnya hubungan kausalitas yang membentuk sebuah lingkaran paradigma kemiskinan. Penyebab kemiskinan bermuara pada teori lingkaran setan kemiskinan. Lingkaran paradigma kemiskinan ini menggambarkan bahwa kemiskinan disebabkan karena kemiskinan itu sendiri “ The vicious circle of Poverty”. Adanya keterbelakangan, ketidaksempurnaan pasar, dan kurangnya modal menyebabkan rendahnya produktivitas. Rendahnya produktivitas menyebabkan rendahnya pendapatan yang mereka terima.
Rendahnya pendapatan akan berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi.
Rendahnya investasi berakibat pada keterbelakangan, dan seterusnya.
Sumber : Ragnar Nurkse (1953) dalam Mudrajat Kuncoro (2000) Gambar 2.1
Paradigma - Lingkaran Kemiskinan
15
Sedangkan paradigma kemiskinan baru (modern) merupakan gambaran perkembangan pemikiran kemiskinan, dimana definisi kemiskinan bukan hanya dilihat berdasarkan kondisi fisik seseorang.
sumber : Ragnar Nurkse (1953) dalam Mudrajat Kuncoro (2000), Edi Suharto PHD, Sukidjo 2009, WorldBank
Gambar 2.2
Paradigma Baru Kemiskinan Beberapa contoh paradigma kemiskinan baru :
a. Keamanan, tenaga kerja akan bekerja secara produktif apabila lingkungan pekerjaannya aman (tidak terjadi perang atau kerusuhan) sehingga memungkinkan seseorang memenuhi kebutuhan hidupnya.
b. Kebijakan, kebijakan yang diambil oleh pemerintah mempengaruhi kemiskinan yang ada, apabila kebijakannya tidak sesuai dengan kondisi lingkungan akan mengakibatkan ketidak tepat sasaran target yang diinginkan.
c. Kebebasan, tenaga kerja yang diberikan kebebasan dalam bekerja dan memilih pekerjaannya, akan lebih produktif dan lebih memungkinkan adanya inovasi dibandingkan dengan yang bekerja dalam tekanan.
d. Sumber Daya, daerah yang tidak memiliki sumber daya yang mencukupi akan tertinggal dengan daerah lain, karena tidak mampunya bersaing.
e. Aksesbilitas, penduduk yang tidak memiliki atau jauhnya akses untuk menuju tempat dimana terdapat barang kebutuhan hidup, infrastruktur
16
sosial, dan informasi akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
f. Politik, daerah dengan kondisi politik yang tidak baik, dapat menimbulkan ketidaknyamanan dengan adanya kekacauan dan terbentuknya berbagai macam kubu.
g. Ketimpangan, penduduk masyarakat dengan ketimpangan yang tinggi dimana tidak terjadi pemerataan akan menimbulkan kemiskinan relatif.
h. Sosial, kondisi lingkungan sosial dalam masyarakat juga mempengaruhi kemiskinan yang ada dalam masyarakat, apabila kondisi masyarakatnya buruk (penduduk peminum, penjudi, dll) akan mengakibatkan buruknya kondisi sosial yang pasti akan menimbulkan permsalahan kemiskinan.
2.1.2 Pengaruh Angka Harapan Hidup terhadap Tingkat Kemiskinan
Kesehatan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kemiskinan.
Beberapa alasan meningkatnya beban penyakit pada penduduk miskin adalah:
pertama, penduduk miskin lebih rentan terhadap penyakit karena terbatasnya akses terhadap air bersih dan senitasi serta kecukupan gizi. Kedua, penduduk miskin cenderung enggan mencari pengobatan walaupun sangat membutuhkan karena kesenjangan yang besar dengan petugas kesehatan, terbatasnya sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan terbatasnya pengetahuan untuk menghadapi serangan penyakit.
Konsekuensi ekonomi jika terjadi serangan penyakit pada anggota keluarga merupakan bencana jika biaya penyembuhannya mengharuskan menjual asset yang mereka miliki atau berhutang. Hal ini akan menyebabkan keluarga jatuh dalam kemiskinan dan jika bias keluar dari hal ini akan menggangu tingkat kesejahteraan seluruh anggota keluarga bahkan generasi berikutnya. Penyakit dapat memelaratkan keluarga melalui menurunya pendapatan, menurunnya angka harapan hidup, dan menurunnya kesejahteraan psikologis. Hal ini sependapat dengan penelitian Bimo Rizki dan Samsubar Saleh (2007) konsep pembangunan manusia juga merupakan konsep ekonomi, karena salah satu strategi dalam
17
pembangunan ekonomi adalah peningkatan mutu modal manusia melalui kesehatan, pendidikan, dan rasa aman.
2.1.3 Pengaruh Rata-rata Lama Sekolah terhadap Tingkat Kemiskinan Rata-rata lama sekolah mengindikasikan makin tingginya pendidikan yang dicapai oleh masyarakat suatu daerah. Semakin tinggi rata-rata lama sekolah berarti semakin tinggi jenjang pendidikan yang dijalani. Asumsi yang berlaku secara umum bahwa semkain tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula kualitas seseorang, baik pola pikir maupun pola tindakannya (Tobing, dalam Hastarini 2005). Rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk berusia lima belas tahun keatas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani. Batas maksimum untuk rata-rata lama sekolah adalah lima belas tahun dan batas minimum sebesar nol tahun (standar UNDP). Batas maksimum lima belas tahun mengindikasikan tingkat pendidikan maksimum yang ditargetkan adalah setara Sekolah Menengah Atas (SMA).
Pendidikan (formal dan non formal) biasanya berperan penting dalam mengurangi kemiskinan dalam jangka panjang, baik secara tidak langsung melalui pelatihan golongan miskin dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas mereka dan pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan mereka (Lincolin, 1999). Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka pengetahuan dan keahlian juga akan meningkat sehingga akan mendorong peningkatan produktivitas seseorang. Semakin tinggi kemampuan seseorang dalam meningkatkan produktivitas, maka perusahaan akan bersedia memberikan upah/gaji yang lebih tinggi kepada yang bersangkutan. Sehingga seseorang yang memiliki produktivitas yang tinggi akan memperoleh kesejahteraan yang lebih baik, yang dapat diperlihatkan melalui peningkatan pendapatan maupun konsumsinya.
18
2.1.4 Pengaruh Pengeluaran Per Kapita terhadap Tingkat Kemiskinan
Standar hidup layak menjadi salah satu dimensi yang dilihat dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM), di samping pengetahuan, serta dimensi umur panjang dan hidup sehat. Dimensi standar hidup layak direpresentasikan oleh pengeluaran per kapita disesuaikan. Menurut BPS sendiri yang dimaksud dengan Pengeluaran per kapita adalah biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi semua anggota rumah tangga selama sebulan dibagi dengan banyaknya anggota rumah tangga. Dengan begitu akan terdapat kesimpulan dimana pengeluaran yang dikeluarkan merupakan salah satu standar layak hidup dan dapat mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat.
Pengeluaran rumah tangga dibedakan menurut kelompok makanan dan bukan makanan. Perubahan pendapatan seseorang akan berpengaruh pada pergeseran pola pengeluaran. Semakin tinggi pendapatan, semakin tinggi pengeluaran bukan makanan. Dengan demikian, pola pengeluaran dapat dipakai sebagai salah satu alat untuk mengukur tingkat kesejahteraan penduduk, dimana perubahan komposisinya digunakan sebagai petunjuk perubahan tingkat kesejahteraan.
Dengan demikian, masyarakat yang tergolong miskin dapat didefinisikan sebagai masyarakat yang memiliki pengeluaran rill perkapita dibawah rata-rata pengeluaran rill pada umunya. Tentunya berbagai faktor seperti rendahnya pendapatan atau naik haraga-harga barang pokok sangat berperan sehingga pengeluaran yang dikeluarkan bersifat dinamis. Maka dari itu pengeluaran rill per kapita memiliki pengaruh dan kaitan dengan tingkat kemiskinan ditinjau dari pengeluaran dan konsumsi masyarakat. Sehingga jika semakin tinggi pengeluaran yang dikeluarkan masyarakat maka tingkat kesejahteraan bertambah dan mengurangi kemiskinan.
19
2.1.5 Pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka terhadap Tingkat ...Kemiskinan
Menurut Sadono Sukirno, pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja, yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu, tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkan (Sukirno, 2004). Dalam standar pengertian yang sudah ditentukan secara internasional, yang dimaksudkan dengan pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu, tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkannya.
Salah satu jenis pengangguran menurut Sadono Sukirno (Sukirno, 2004) berdasarkan cirinya yaitu Tingkat Pengangguran Terbuka. Pengangguran ini tercipta sebagai akibat dari pertumbuhan kesempatan kerja yangtidak sejalan dengan pertumbuhan tenaga kerja, akibatnya banyak tenaga kerjayang tidak memperoleh pekerjaan. BPS mendefinisikan pengangguran terbuka adalah penduduk yang telah masuk dalam angkatan kerja tetapi tidak memiliki pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, serta sudah memiliki pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.
Hubungan antara pengangguran dengan tingkat kemiskinan juga didukung oleh teori lingkaran setan kemiskinan Nurkse yang menggambarkan rendahnya produktivitas sebagai salah satu penyebab kemiskinan. Pengangguran bisa diartikan sebagai rendahnya produktivitas seseorang. Hal itu dikarenakan penganggur tidak melakukan pekerjaan apapun untuk menghasilkan upah yang nantinya digunakan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Semakin banyak pengangguran maka akan menyebabkan tingkat kemiskinan terus bertambah.