Transaksi hukum gadai dalam fikih Islam disebut al-rahn. Kata al-rahn berasal dari bahasa Arab “rahana-yarhanu-rahnan” yang berarti menetapkan sesuatu. Secara bahasa menurut Abu Zakariyya Yahya bin Sharaf al-Nawawi (w. 676 H) pengertian al-rahn adalah al-subut wa al-Dawam yang berarti “tetap” dan “kekal”. Meurut Taqiyyuddin Abu Bakar al-Husaini (w. 829 H), al-rahn adalah al-subut “sesuatu yang tetap” dan al-Ihtibas “menahan sesuatu”. Bagi Zakariyya al-Anshary (w.936 H), al-rahn adalah al-subut yang berarti “tetap”. Pengertian “tetap” dan “kekal” dimaksud, merupakan makna yang tercakup dalam kata al-Habsu wa al-Luzum “menahan dan menetapkan sesuatu”. Dengan demikian, pengertian al-rahn secara bahasa seperti yang terungkap di atas adalah tetap, kekal dan menahan suatu barang sebagai pengikat utang (dalam Mulazid, 2016:1).
Secara istilah menurut Ibn Qudamah (w.629 H), pengertian al-rahn adalah al-mal al-ladhi yuj’alu wathiqatan bidaynin yustaufa min thamanihi in ta’adhara istifa’uhu mimman huwa ‘alayh “suatu benda yang dijadikan kepercayaan atas hutang, untuk dipenuhi dari harganya, bila yang berutang tidak sanggup membayar hutangnya”. Taqiyyuddin (w. 829 H) menyatakan bahwa al-rahn adalah ja’ala al-mal wathiqatan bidaynin “menjadikan sesuatu barang sebagai jaminan utang”. Menurut Zakariyya al-Anshary (w. 936 H), al-rahn adalah ja’lu ‘ayni malin wathiqatan bidaynin yustaufa minha ‘inda ta’adhuri wafa’ihi “menjadikan suatu barang yang mempunyai nilai harta benda sebagai jaminan utang yang dipenuhi dari harganya ketika utang tersebut tidak bisa dibayar”. Ia menyatakan bahwa tujuan rahn adalah menyerahkan barang jaminan yang
dimiliki dan berpindah kepemilikannya itu ketika rahin tidak mampu membayar dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Karena itu, jenis barang yang dijaminkan adalah berupa harta benda yang dapat diperjualbelikan (dalam Mulazid, 2016:2).
Dalam fiqhi islam lembaga gadai dikenal dengan “rahn”, yaitu perjanjian menahan sesuatu barang. Barang atau bukti harta tetap milik peminjam yang ditahan merupakan jaminan atau sebagai tanggungan hutang sehingga barang jaminan menjadi hak yang diperoleh kreditur yang dijadikan sebagai jaminan pelunasan hutang.
Muhammad (2007:64) rahn (gadai) adalah menahan salah satu harta milik sesesorang (peminjam) sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Barang yang ditahan tersebut memiliki nilai ekonomis. Dengan demikian pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk dapat mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya.
Sayyid Sabiq (dalam Mulazid, 2016:3) menambahkan bahwa rahn adalah menjadikan suatu barang yang mempunyai nilai harta dalam pandangan shara’ sebagai jaminan utang, yang memungkinkan untuk mengambil seluruh atau sebagian utang dari barang tersebut.
2. Dasar Hukum Pegadaian Syari’ah
Islam dengan ajarannya yang komit dan luas membenarkan adanya praktek utang piutang yang menjadi inti praktek lembaga pegadaian. Praktek ini secara normatif dapat digali dalam surat Al-Baqarah ayat 282 yang mengajarkan perjanjian hutang piutang yang perlu diperkuat dengan catatan dan melibatkan saksi-saksi.
A. Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 282 ditegaskan:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun dari pada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan diantara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu
kefasikan pada dirimu. Dan bertaqwalah kepada Allah, Allah mengajarmu, dan Allah maha mengetahui segala sesuatu”. (Al-Baqarah:282).
Sedangkan Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 283 secara tegas diperbolehkan meminta jaminan barang atas hutang.
“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertkwa kepada Allah Tuhannya: dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian, dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya: dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Baqarah:283).
Ayat-ayat tersebut oleh Komisi Dewan Fatwa Majelis Ulama Indonesia dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk menetapkan fatwa yang membolehkan praktek rahn (gadai). Dalam dasar pertimbangan Dewan Fatwa dikemukakan beberapa butir, yaitu: (a) Salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan utang, (b) Lembaga keuangan syariah perlu merespon kebutuhan masyarakat dalam berbagai produknya, (c) Agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah (Muhammad, 2007:67).
B. Al-Hadits (dalam Antonio, 2001:129)
1) “Aisyah r.a berkata bahwa Rasulullah membeli makanan dari seseorang Yahudi dan menjaminkan kepadanya baju besi”. (HR Bukhari No. 1926, kitab al-Buyu, dan Muslim).
2) “Anas r.a berkata Rasulullah menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi di Madinah dan mengambil darinya gandum untuk keluarga beliau”. (HR Bukhari No. 1927, kitab al-Buyu, Ahmad, Nasa’I, dan Ibnu Majah). 3) “Abi Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, Apabila ada
ternak digadaikan, punggungnya boleh dinaiki (oleh orang yang menerima gadai) karena ia telah mengeluarkan biaya (menjaga)nya. Apabila ternak itu digadaikan, air susunya yang deras boleh diminum (oleh orang yang menerima gadai) karena ia telah mengeluarkan biaya (menjaga)nya. Kepada orang yang naik dan minum, ia harus mengeluarkan biaya (perawatan)nya”. (HR Jamaah kecuali Muslim dan Nasa’i, Bukhari No. 2329, kitab ar-Rahn). 4) “Abu hurairah r.a berkata bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, Barang
yang digadaikan itu tidak boleh ditutup dari pemilik yang menggadaikannya. Baginya adalah keuntungan dan tanggung jawabnyalah bila ada kerugian (atau biaya)”. (HR Syafi’I dan Daruqutni).
Selain dua landasan diatas, praktek gadai juga didasarkan pada konsensus atau Ijma’ ulama yang menetapkan hukumnya mubah (boleh) melakukan perjanjian gadai. Ijtihad para ulama ini terutama sekali menyangkut segi-segi teknis, seperti ketentuan tentang siapa yang harus menanggung biaya pemeliharaan selama marhun berada di tangan murtahin dan tata cara penentuan biaya dan sebagainya.
Dengan beberapa landasan tersebut, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia memutuskan dan menetapkan hukum rahn mubah dengan ketentuan-ketentuan, yaitu ketentuan umum dan ketentuan penutup.
Ketentuan Umum:
Dalam ketentuan umum tentang rahn ini terdapat beberapa butir yang ditetapkan oleh Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yaitu:
1) Mutahin (penerima barang) mempunyai hak untuk menahan barang (marhun) sampai semua hutang rahin (yang menyerahkan barang) di lunasi.
2) Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik rahin. Pada prinsipnya, Marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh murtahin kecuali seizing rahin, dengan tidak mengurangi nilai marhun dan pemanfaatannya itu sekedar pengganti biaya pemeliharaan dan perawatannya.
3) Pemeliharaan dan penyimpanan marhun pada dasarnya menjadi kewajiban rahin, namun dapat dilakukan juga oleh murtahin, sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban rahin.
4) Besar biaya pemeliharaan dan penyimpaan marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman
5) Penjualan marhun
a) Apabila jatuh tempo, murtahin harus memperingatkan rahin untuk segera melunasi hutangnya.
b) Apabila rahin tetap tidak dapat melunasi utangnya, maka marhun dijual paksa/dieksekusi melalui lelang sesuai syariah.
c) Hasil penjualan marhun digunakan untuk melunasi hutang, biaya pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penjualan.
d) Kelebihan hasil penjualan menjadi miik rahin dan kekurangannya menjadi kewajiban rahin.
Ketentuan Penutup:
Ketentuan penutup ini menyangkut persoalan teknis penyelesaian perkara tentang selisih rahn yang harus dilakukan oleh kedua belah pihak, rahin dan murtahin apabila terjadi sengketa. Dalam ketentuan penutup dikemukakan, diantaranya bahwa jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan antara keduanya, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah (BASYAR) setelah tidak tercapai kesepakatan secara musyawarah (Muhammad, 2007:69).
3. Syarat Dan Rukun Rahn (Gadai)
Sebagai sebuah bentuk transaksi muamalah, rahn dalam fikhi islam memiliki rukun dan syarat yang mengikat keabsahan legalitas prakteknya. Menurut Pasaribu, Chaeruddin dan K. Lubis,S. 1994, (dalam Muhammad, 2007:71) mengemukakan beberapa syarat sahnya transaksi gadai, yaitu:
1) Adanya lafadz, yaitu pernyataan adanya perjanjian gadai.
Lafadz dapat saja dilakukan secara tertulis maupun lisan, yang penting didalamnya terkandung maksud adanya perjanjian gadai diantara pihak yang berkepentingan.
2) Adanya pemberi dan penerima gadai.
Pemberi dan penerima gadai haruslah orang yang berakal dan balig sehingga dapat dianggap cakap untuk melakukan suatu perbuatan hukum sesuai dengan ketentuan syari’at islam.
3) Adanya barang yang digadaikan.
Barang yang digadaikan harus ada pada saat dilakukan perjanjian gadai dan barang itu adalah milik si pemberi gadai, barang gadaian itu kemudian berada dibawah pengasaan penerima gadai.
4) Adanya utang/hutang.
Hutang yang terjadi haruslah bersifat tetap, tidak berubah dengan tambahan bunga atau mengandung unsur riba.
Akad rahn dapat berjalan di atas dua akad transaksi, yaitu akad rahn dan akad ijarah. Akad rahn adalah akad yang bertujuan untuk menahan barang/harta milik rahun (penggadai/nasabah) sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya. Dengan akad ini pegadaian (rahn) menahan barang bergerak sebagai jaminan atas hutang.
Sedangkan akad ijarah adalah pemindahan hak guna (manfaat) atas barang atau jasa melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barangnya sendiri.
4. Prinsip-Prinsip Pembiayaan Gadai Syariah
Secara substansif, Pegadaian Syariah memiliki tiga prinsip yang bersumberkan pada kajian ekonomi Islam. Mannan berpendapat bahwa prinsip pengembangan ekonomi tidak saja mengacu pada proses di mana msyarakat dari suatu Negara memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk menghasilkan kenaikan produksi barang dan jasa secara terus-menerus. Akan tetapi, Islam memiliki prinsip-prinsip pengembangan yang dibingkai dengan kerangka
hubungan dengan Allah dan menyeimbangkan antar-kehidupan di dunia dan di akhirat. Di antara prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
a) Prinsip Tauhid (Tawhid)
Gadai dengan prinsip tawhid dapat mengukuhkan konsep non-materialistik dan dipahami sebagai triangle, di mana ketaatan kepada Tuhan diletakkan pada posisi puncak, Sedangkan manusia dan alam diletakkan pada posisi sejajar yang saling membutuhkan. Manusia diberikan amanat untuk memanfaatkan alam (sebagai resources) dan di dorong untuk menghasilkan output yang dapat bermanfaat bagi semua pelaku ekonomi. Output itu sendiri tidak mutlak dimilikinya karena pada harta yang dimilikinya ada hak orang lain yang membutuhkan.
Studi tentang pembiayaan tidak lepas dari kegiatan yang dilakukan untuk memanfaatkan dan menggambarkan harta. Pengembangan kekayaan dalam ekonomi konvensional menganut prinsip yang mengacu pada teori bunga. Ajaran Islam memandang bahwa harta serta pengembangannya tidak bisa diakumulasi dengan cara riba sebagaimana teori bunga. Pada saat yang sama, kebiasaan untuk mendiamkan harta yang diperoleh tidak pula dianjurkan dalam Islam. Ketika seseorang memiliki harta kemudian mendiamkannya (idle assets), maka akan menyebabkan harta tersebut hanya dimiliki oleh segelintir orang kaya. Pada akhirnya, jurang antara si kaya dan si miskin akan semakin menganga. Padahal, dalam harta milik seseorang (property rights) ada hak milik orang lain. Ini menunjukkan bahwa Islam menghendaki terjadinya perputaran kepemilikan harta secara lebih merata.
Sistem pembiayaan gadai yang dianut ekonomi Islam selama ini di dasarkan pada dua sifat, yaitu: (1) konsumtif; dan (2) produktif. Pembiayaan konsumtif dapat dilakukan dengan pendekatan: (a) sistem margin (keuntungan) melalui akad al-murabahah (jual-beli tangguh); dan (b) sistem pinjaman tanpa bunga melalui akad al-qard al-hasan atau yang lebih dikenal dengan pinjaman kebajikan. Adapun pembiayaan produktif dapat dilakukan dengan pendekatan sistem bagi hasil (profit and loss-sharing) melalui akad al-mudarabah (kemitraan pasif); dan akad al-musharakah (kemitraan aktif) dalam (Mulazid, 2016:23). b) Prinsip Tolong-Menolong (Ta’awun)
Abu Yusuf (w. 182 H) dalam al-Kharaj menyebutkan bahwa prinsip yang harus diletakkan dalam transaksi gadai adalah ta’awun (tolong-menolong), yaitu prinsip saling membantu antar sesama dalam meningkatkan taraf hidup melalui mekanisme kerja sama ekonomi dan bisnis. Hal ini sesuai dengan anjuran Al-Qur’an “Dan tolong-menolonglah kamu dan berbuat kebajikan dan takwa serta janganlah bertolong-menolong dalam berbuat keji dan permusuhan” (QS. al-Maaidah (4):2). Realitas prinsip ta’awun pada transaksi gadai mengindikasikan ikatan kuat antara tradisi manusia dengan agama yang muncul akibat konsekuensi logis terhadap berkembangnya aktivitas manusia yang bergerak secara cepat. Prinsip ini juga telah disampaikan Abu ‘Ubaid (w. 224 H) dalam al-amwal. Ia berpandangan bahwa prinsip ta’awun sesama manusia dapat meningkatkan taraf hidup. Menurut Sa’id Sa’ad Martan, prinsip ini berorientasi pada sosial adalah usaha seseorang untuk membantu meringankan beban saudaranya yang ditimpah kesulitan melaui gadai syariah (dalam Mulazid, 2016:25).
c) Prinsip Bisnis (Tijarah)
Afzalur Rahman menyatakan bahwa bisnis (perdagangan) adalah suatu kegiatan yang dianjurkan dalam Islam. Nabi sering kali menekankan pentingnya bisnis dalam kehidupan manusia. Namun demikian, dalam mencari laba harus dengan cara yang dibanarkan oleh syariah. Hal ini bertujuan agar kesejahteraan manusia, baik di duniawi maupun kebahagiaan akhirat dapat tercapai. Umar Chapra menyebutnya dengan istilah al-Falah. Muhammad Syafi’I Antonio berpendapat dalam kacamata Islam tidak ada dikotomi antara usaha-usaha untuk pembangunan ekonomi maupun sektor-sektor lainnya dengan persiapan untuk kehidupan di akhirat nanti. Karena itu, kegiatan bisnis gadai syariah, tanpa mengikuti aturan-aturan syariah, maka akan membawa kehancuran.
Prinsip-prinsip bisnis di atas, menjadi pedoman dalam usaha pegadaian sepanjang masa. Karena itu, prinsip-prinsip usaha pegadaian ialah: (1) harus didasari sikap saling ridha di antara kedua belah pihak, sehingga para pihak tidak merasa dirugikan atau dizalimi; (2) menegakkan prinsip keadilan dalam proporsi keuntungan; (3) kegiatan bisnis tidak melakukan investasi pada usaha yang diharamkan seperti usaha-usaha yang merusak mental dan moral; (4) bisnis harus terhindar dari praktik gharar (ketidakpastian), tadlis (penipuan) dan maysir (judi); serta (5) dalam kegiatan bisnis, baik utang-piutang maupun bukan, hendaklah dilakukan pencatatan (akuntansi).
Dengan demikian, ketiga prinsip di atas menjadi acuan dasar dalam pengembangan pegadaian syariah, serta penerapannya dalam kehidupan sosio-ekonomi. Kurang kuatnya salah satu dasar tersebut, maka akan menyebabkan
lambatnya gerak pengembangan lembaga bisnis itu sendiri, serta tidak akan mampu mencapai kesejahteraan hidup (dalam Mulazid, 2016:26).