Tinjauan Pustaka
1. Prestasi Belajar Matematika a. Prestasi
Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie.
Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi” yang berarti hasil usaha. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 2002: 896) dinyatakan bahwa “Prestasi adalah hasil yang telah dicapai”. Zainal Arifin (1990: 3) mengemukakan bahwa prestasi adalah hasil dari kemampuan, keterampilan, dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal.
Dari berbagai pendapat tentang pengertian prestasi di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha dengan kemampuan yang dimilikinya.
b. Belajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 17) disebutkan bahwa belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; berlatih;
berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.
Sardiman A. M (2004: 50) menyatakan: “belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan diri seseorang.”
Dalam teori konstruktivisme, belajar adalah kegiatan aktif dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Agar pengetahuan siswa menjadi bermakna, maka siswa harus memproses sendiri informasi yang diperoleh, menstruktur kembali dan mengintegrasikan dengan pengetahuan yang dimilikinya. Guru tidak dapat begitu saja memberikan pengetahuannya kepada siswa, guru hanya berperan sebagai fasilitator dan mediator dalam proses pembentukan pengetahuan tersebut.
commit to user
Menurut Paul Suparno (1997: 61), belajar merupakan suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya, yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori. Proses interaksi itu sendiri meliputi dua hal, yaitu:
1) Proses internalisasi dari sesuatu ke dalam diri pebelajar.
2) Dilakukan secara aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.
Proses internalisasi dan keaktifan pebelajar dengan segenap panca indera perlu ada pengembangannya yakni melalui proses yang disebut dengan sosialisasi yaitu menginteraksikan atau menularkan ke pihak lain. Dalam proses sosialisasi, karena berinteraksi dengan pihak lain tentu akan melahirkan suatu pengalaman. Proses belajar yang terjadi merupakan proses aktif dimana individu menerapkan pengetahuan yang dimilikinya. Proses belajar bukan semata-mata terjadi karena adanya hubungan antara stimulus dan respon tetapi lebih merupakan hasil dari kemampuan individu dalam mengembangkan potensi dalam dirinya.
Proses belajar yang terjadi bercirikan antara lain sebagai berikut:
1) Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh pebelajar dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. Konstruksi arti itu dipengaruhi oleh pengertian yang telah ia punyai.
2) Konstruksi arti itu adalah proses yang terus menerus. Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau persoalan yang baru, diadakan rekonstruksi, baik secara kuat maupun lemah.
3) Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, melainkan suatu perkembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru.
4) Proses belajar yang sebenarnya terjadi saat seseorang dalam keraguan.
5) Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya.
6) Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui si pebelajar: konsep-konsep, tujuan, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari.
(Paul Suparno, 1997: 61).
commit to user
Hudoyo (1997: 107) mengemukakan bahwa : “ belajar merupakan suatu proses aktif dalam memperoleh pengalaman atau pengetahuan baru sehingga timbul perubahan kemampuan, misalnya setelah belajar seorang mampu mendemonstrasikan dan keterampilan dimana sebelumnya siswa tidak dapat melakukannya”.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses aktivitas siswa dalam interaksinya dengan lingkungan, sehingga menyebabkan terjadinya perubahan sebagai akibat dari pengalaman dan hasil interaksi dengan lingkungan.
c. Prestasi Belajar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 895) prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.
Sutratinah Tirtonegoro (2001: 43) menyatakan: “prestasi adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar mengajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang dicapai dalam periode tertentu”. Dan Purwodarminto (1998: 86) mengemukakan: “Prestasi adalah hasil yang telah dicapai atau dilakukan, dikerjakan dan sebagainya”.
Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai setelah mengikuti serangkaian proses belajar yang dinyatakan dalam angka atau simbol.
d. Matematika
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 723) disebutkan bahwa matematika adalah ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan.
commit to user
Purwoto (2003: 4) menyatakan bahwa: ”Matematika adalah pengetahuan tentang pola keteraturan, pengetahuan tentang struktur terorganisasikan, mulai dari unsur yang tidak didefinisikan ke unsur-unsur yang didefinisikan ke aksioma dan postulat dan akhirnya ke dalil”.
R. Soejadi (2000: 11) mengemukakan bahwa ada beberapa definisi dari matematika, yaitu sebagai berikut:
1) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik.
2) Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.
3) Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.
4) Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.
5) Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.
6) Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak tentang bilangan, penalaran, logika, fakta-fakta kuantitatif, masalah ruang dan bentuk, aturan-aturan yang ketat, dan pola keteraturan-aturan serta tentang struktur yang terorganisir.
e. Prestasi Belajar Matematika
Berdasarkan pengertian prestasi belajar dan matematika yang telah diuraikan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi belajar matematika adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa dalam mengikuti pelajaran matematika yang mengakibatkan perubahan pada diri seseorang berupa penguasaan dan kecakapan baru yang ditunjukkan dengan hasil yang berupa angka atau nilai.
f. faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa secara global dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
commit to user
1) Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa) yaitu keadaan atau kondisi jasmani/ rohani siswa. Factor ini meliputi 2 aspek yaitu :
a) Aspek fisiologis (jasmaniah)
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas dalam mengikuti pelajaran.
b) Aspek psikologis (rohaniah)
Meliputi : intelegensi, sikap, bakat, minat, dan motivasi siswa.
2) Faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa) yaitu kondisi lingkungan di sekitar siswa. Faktor ini meliputi 2 aspek yaitu :
a) Faktor lingkungan sosial yang meliputi kondisi lingkungan sekolah, masyarakat, tetangga, orang tua, dan keluarga siswa itu sendiri.
b) Faktor lingkungan nonsosial seperti, letak dan bangunan sekolah, rumah tempat tinggal, peralatan belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar siswa.
3) Faktor pendekatan mengajar (approach to learning) yaitu segala jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran.
(Muhibbin Syah, 2006: 144) Dapat disimpulkan faktor internal, faktor eksternal, dan faktor pendekatan belajar di atas juga mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar penting sekali dalam rangka membantu siswa mencapai prestasi belajar yang tinggi. Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yang dibahas dalam penelitian ini adalah aktivitas belajar siswa dan model pembelajaran yang digunakan guru.
commit to user 2. Model Pembelajaran
Untuk mengatasi berbagai problematika dalam pelaksanaan pembelajaran diperlukan model-model pembelajaran yang dipandang mampu mengatasi kesulitan guru melaksanakan tugas mengajar dan kesulitan belajar siswa. Syaiful Sagala (2007:176) juga menyebutkan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan dalam pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran bagi para guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu prosedur sistematis yang digunakan oleh guru sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Model pembelajaran yang berkaitan dengan penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural “Think-Pair- Share” dan model pembelajaran konvensional.
a. Model Pembelajaran Kooperatif Dengan Pendekatan Struktural “ Think-Pair-Share “
Pendekatan struktural “Think-Pair-Share” merupakan salah satu model cooperative learning. Oleh karena itu sebelum membahas tentang pendekatan struktural “Think-Pair-Share”, akan dibahas dulu mengenai cooperative learning.
Manuel D. Rossetti dan Harriet Black Nembhard (1998: 68) menyatakan bahwa “Cooperative learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang dirancang untuk memotivasi minat siswa dan membantu mengingat tentang gagasan-gagasan atau ide yang dilakukan di antara sesame dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih”. Jadi keberhasilan mengajar dalam pendekatan ini bukan hanya ditentukan oleh kemampuan individu secara utuh, melainkan perolehan
commit to user
itu akan baik bila dilakukan secara bersama-sama dalam kelompok kecil yang terstruktur dengan baik.
Beberapa karakteristik cooperative learning menurut Manuel D.
Rossetti dan Harriet Black Nembhard (1998: 68) antara lain:
1) Positive interdependence, adalah sifat yang menunjukkan saling ketergantungan satu terhadap yang lain dalam kelompok serta positif.
2) Face-to-Face Promotive Interaction, proses yang melibatkan siswa dalam proses belajar yang mengharuskan siswa untuk belajar dengan satu sama lain.
3) Individual accountability/Personal Responsibility, yaitu setiap individu dalam kelompok mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi kelompok.
4) Collabortive Skills, yaitu suatu kebutuhan untuk mengajarkan kepada siswa tentang bagaimana siswa berfungsi dalam suatu kelompok. Siswa harus mempunyai pemahaman berkelompok, metode pendengaran yang aktif, pengendalian konflik, dan ketrampilan sosial lainnya agar diskusi berlangsung secara efektif.
5) Group processing, proses perolehan jawaban permasalahan dikerjakan oleh kelompok secara bersama-sama.
Adapun langkah-langkah cooperative learning adalah sebagai berikut.
1) Guru merancang pengajaran, mempertimbangkan dan menetapkan target pengajaran yang ingin dicapai.
2) Guru merancang lembar observasi kegiatan siswa dalam belajar secara bersama-sama dalam kelompok kecil.
3) Guru mengarahkan dan membimbing siswa baik secara individual maupun secara kelompok, dalam pemahaman materi maupun mengenai sikap dan perilaku siswa selama kegiatan belajar mengajar.
4) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil kerjanya.
commit to user
Menurut Arend,R.I (2001: 322-326) pembelajaran kooperatif mempunyai 4 variasi, yaitu:
1) STAD (StudentTeams-Achievement Divisions)
Dalam penerapan STAD, guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam kelompok untuk memastikan anggota kelompok telah menguasai materi tersebut. Akhirnya, seluruh siswa diberi kuis dengan materi yang sama. Pada waktu kuis, siswa tidak dapat saling membantu satu sama lain, dan nilai kuis tersebut yang dipakai untuk menentukan skor individu maupun kelompok.
2) Jigsaw
Dalam penerapan Jigsaw, siswa dibagi dalam kelompok kecil yang heterogen dengan menggunakan kelompok ‘asal’ dan kelompok ‘ahli’.
Setiap kelompok ‘asal’ diberi tugas untuk mempelajari bagian tertentu yang berbeda dari materi yang diberikan. Kemudian setiap siswa yang mempelajari topik yang sama saling bertemu dan membentuk kelompok
‘ahli’ untuk bertukar pendapat dan informasi. Setelah itu siswa tersebut kembali ke kelompok ‘asal’ untuk menyampaikan informasi yang diperoleh. Akhirnya setiap siswa diberi kuis secara individu. Penilaian dan penghargaan yang digunakan pada Jigsaw sama dengan STAD.
3) Grup Investigation (GI).
Grup Investigation (Investigasi Kelompok) adalah metode pembelajaran kooperatif di mana setiap siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk menyelidiki topik tertentu yang dipilih. Tipe ini merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling kompleks yang paling sulit untuk diterapkan. Setiap kelompok membuat rencana kegiatan pembelajaran dan kemudian melaksanakannya. Akhirnya setiap kelompok mempresentasikan hasilnya. Dalam teknik ini, penghargaan tidak diberikan.
4) Structural Approach (Pendekatan Struktural).
Setelah guru menyajikan materi pelajaran, setiap kelompok mengerjakan lembar kerja siswa, saling mengajukan pertanyaan dan belajar bersama
commit to user
dalam kelompok. Pendekatan struktural dikembangkan oleh Spencer Kagan. Pendekatan tersebut memberikan penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola kreatif siswa.
Struktur yang dikembangkan oleh Kagan tersebut menghendaki siswa bekerja sama saling membantu dalam kelompok kecil. Ada dua tipe yang dikembangkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu:
a) Think-Pair-Share, yaitu suatu pendekatan yang bertujuan member siswa lebih banyak waktu untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Pendekatan ini mempunyai tiga tahapan penting, yaitu berpikir (Thinking), berpasangan (Pairing), dan berbagi (Sharing). Informasi lebih lanjut mengenai tipe ini akan dibahas pada paragraph selanjutnya.
b) Number-Head-Together, yaitu suatu pendekatan yang melibatkan banyak siswa dalam menelaah materi pelajaran. Pendekatan ini bertujuan mengecek pemahaman siswa terhadap isi pelajaran tersebut.
Pendekatan struktural Nurmber-Head-Together terdiri dari empat langkah utama, yaitu: penomoran, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama, dan menjawab.
Salah satu struktur yang dikembangkan untuk meningkatkan penguasaan akademis siswa terhadap materi yang diajarkan adalah pendekatan struktural “Think-Pair-Share”. Model tersebut dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Universitas Maryland. Pendekatan struktural “Think-Pair-Share” memberikan kepada siswa waktu untuk berpikir dan merespon serta saling membantu satu sama lain.
Dalam menerapkan pendekatan struktural “Think-Pair-Share”, Frank Lyman dalam Arend, R.I (2001: 325-326) menggunakan langkah-langkah sebagai berikut.
1) Thinking (berpikir)
Guru memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan pelajaran, kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
commit to user 2) Pairing (berpasangan)
Guru meminta siswa untuk berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada langkah pertama.
Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau ide jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru memberikan waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
3) Sharing (berbagi)
Guru meminta pasangan-pasangan siswa tersebut untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka diskusikan dengan cara bergantian pasangan demi pasangan atau melaporkan hasil diskusi di depan kelas. Jumlah pasangan tersebut paling tidak seperempat dari jumlah pasangan di kelas, tetapi juga disesuaikan dengan waktu yang tersedia. Pada langkah ini akan menjadi efektif apabila guru berkeliling kelas dari pasangan yang satu ke pasangan yang lain.
Berdasarkan langkah-langkah di atas peneliti menggunakan langkah-langkah pengembangan sebagai berikut.
1) Guru mengorganisasi kelas untuk belajar dan mengarahkan siswa untuk mempersiapkan materi yang telah dipelajari di rumah.
2) Guru mengingatkan siswa pada materi prasarat dan memberikan penjelasan seperlunya yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari siswa.
3) Guru membagikan LKS yang berisi pertanyaan atau masalah dan mengarahkan siswa untuk mengerjakan LKS, menjawab pertanyaan, menyelesaikan masalah, melakukan aktivitas, atau mengerjakan tugas secara mandiri.
4) Guru membagi siswa membentuk kelompok yang terdiri dari dua orang (berpasangan).
5) Siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan jawaban dari pertanyaan guru berdasarkan jawaban yang telah mereka peroleh secara mandiri.
commit to user
6) Guru menunjuk kelompok tertentu dan meminta kelompok tersebut mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya kepada teman-teman sekelas. Kegiatan ini dilanjutkan dengan menunjuk beberapa kelompok lagi dan disesuaikan dengan waktu kegiatan belajar mengajar.
7) Guru bersama-sama dengan siswa untuk membahas dan menyimpulkan materi yang telah dipelajari
8) Guru memberikan evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam memahami materi
9) Guru menutup pelajaran dan memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah.
Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural “Think-Pair Share” adalah sebagai berikut.
Kelebihan:
1) Adanya interaksi antara siswa melalui diskusi untuk menyelesaikan masalah akan meningkatkan ketrampilan sosial siswa.
2) Baik siswa yang pandai maupun siswa yang kurang pandai sama-sama memperoleh manfaat melalui aktivitas belajar kooperatif.
3) Kemungkinan siswa lebih mudah memahami konsep dan memperoleh kesimpulan.
4) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ketrampilan bertanya, berdiskusi, dan mengembangkan bakat kepemimpinan.
Kelemahan:
1) Siswa yang pandai cenderung mendominasi sehingga dapat menimbulkan sikap minder dan pasif dari siswa yang kurang pandai.
2) Diskusi tidak akan berjalan lancar jika siswa hanya menyalin pekerjaan siswa yang pandai.
3) Pengelompokan siswa membutuhkan tempat duduk berbeda dan membutuhkan waktu.
Kelebihan tersebut dapat terjadi apabila ada tanggung jawab individual anggota kelompok, artinya keberhasilan kelompok ditentukan oleh hasil belajar individual semua anggota kelompok. Selain itu diperlukan adanya
commit to user
pengakuan kepada kelompok yang kinerjanya baik sehingga anggota kelompok tersebut dapat melihat bahwa kerjasama untuk saling membantu teman dalam satu kelompok sangat penting. Sedangkan kelemahan yang ada dapat diminimalisir dengan peran guru yang senantiasa meningkatkan motivasi siswa yang lemah agar dapat berperan aktif, meningkatkan tanggung jawab siswa untuk belajar bersama, dan membantu siswa yang mengalami kesulitan.
b. Model Pembelajaran Konvensional
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:459) menyatakan konvensional adalah tradisional, sedangkan tradisional sendiri diartikan sebagai sikap dan cara berpikir dan bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun temurun. Dalam observasi yang dilakukan sebelum penelitian, ditemukan bahwa model pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru adalah model pembelajaran dengan metode ceramah. Oleh karena itu model pembelajaran konvensional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah model pembelajaran dengan metode ceramah.
Menurut Purwoto (2003:67) metode ceramah adalah suatu cara penyampaian informasi dengan lisan dari seseorang kepada sejumlah pendengar di suatu ruangan, penceramah mendominasi seluruh kegiatan sedang pendengar hanya memperhatikan dan membuat catatan seperlunya.
Sedangkan menurut Muhibbin Syah (2006:203) menyebutkan bahwa metode ceramah adalah sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Dalam pengajaran menggunakan metode ceramah perhatian terpusat pada guru sedangkan siswa hanya menerima secara pasif.
Syaiful Sagala (2007:202) menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan oleh guru dalam metode ceramah adalah sebagai berikut.
1) Menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta didik.
2) Mengemukakan pokok-pokok materi yang akan dibahas.
commit to user
3) Memancing pengalaman peserta didik yang cocok dengan materi yang akan dipelajarinya.
4) Menyajikan materi dengan ceramah.
5) Menutup pelajaran dengan pada akhir pelajaran yaitu dengan mengambil kesimpulan dari semua pelajaran yang telah diberikan dan member kesempatan kepada peserta didik untuk menanggapi materi yang telah diberikan dan melaksanakan penilaian untuk mengukur perubahan tingkah laku peserta didik.
Mulyani Sumantri dan Johar Permana (2001: 118) mengemukakan bahwa metode ceramah mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut.
1) Kelebihan
a) Murah dalam arti efisien dalam pemanfaatan waktu dan menghemat biaya pendidikan dengan seorang guru yang menghadapi banyak peserta didik.
b) Mudah dalam arti materi dapat disesuaikan dengan keterbatasan perlatan dapat disesuaikan dengan jadwal guru terhadap ketidaktersediaan bahan-bahan tertulis.
c) Meningkatkan daya dengar peserta didik dan menumbuhkan minat belajar dari sumber lain.
d) Memperoleh penguatan bagi guru dan peserta didik yaitu guru memperoleh penghargaan, kepuasan dan sikap percaya diri dari peserta didik atas perhatian yang ditunjukkan peserta didik dan peserta didik merasa senang dan menghargai guru bila ceramah guru meninggalkan kesan dan berbobot.
e) Ceramah memberikan wawasan yang luas dari sumber lain, karena guru dapat menjelaskan topik dengan mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
2) Kekurangan
a) Dapat menimbulkan kejenuhan kepada peserta didik apabila guru kurang dapat mengorganisasikannya.