commit to user i
EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN STRUKTURAL “THINK-PAIR-SHARE”
PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINIER DUA VARIABEL DITINJAU DARI AKTIVITAS BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI
BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII
SMP MUHAMMADIAH 10 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012
SKRIPSI oleh :
M PIOUS MUTA AFIF X1307020
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2013
commit to user ii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanggung jawab dibawah ini :
Nama : M Pious Muta Afif
NIM : X1307020
Jurusan / Program Studi : P.MIPA / Pendidikan Matematika
Menyatakan bahwa sekripsi saya berjudul “ EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PEDEKATAN STRUKTURAL THINK PAIR SHARE PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINIER DUA VARIABEL DITINJAU DARI AKTIVITAS BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP MUHAMMADIYAH 10 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012 “ ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan sekripsi ini hasil jiplakan saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.
Surakarta,
Yang membuat pernyataan
M Pious Muta Afif
commit to user iii
EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN STRUKTURAL “THINK-PAIR-SHARE”
PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINIER DUA VARIABEL DITINJAU DARI AKTIVITAS BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI
BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII
SMP MUHAMMADIAH 10 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012
Oleh :
M PIOUS MUTA AFIF X1307020
SKRIPSI
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Matematika Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2013
commit to user iv
PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing skripsi untuk dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Program Pendidikan Matematika jurusan P.MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas sebelas Maret Surakarta.
Hari :
Tanggal :
Persetujuan Pembimbing
Pembimbing 1 Pembimbing 2
Drs. Bambang Sugiarto, M.Pd Ira Kurniawati, S.Si, M.Pd NIP: 19490501 198103 1 001 NIP : 19720106 199802 2 001
commit to user v
PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Diterima untuk memenuhi persyaratan mendapat gelar Sarjanah Pendidikan.
Hari :
Tanggal :
Tim Penguji Skripsi :
Ketua : Dr. Budi Usodo, M.Pd ( ………)
Sekretaris : Drs. Suyono, M.Si ( ………)
Anggota I : Drs. Bambang Sugiarto, M.Pd ( ………)
Anggota II : Ira Kurniawati, S.Si, M.Pd ( ………)
Disahkan oleh
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta Dekan
Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd NIP. 19600727 198702 1 001
commit to user vi ABSTRAK
M Pious Muta Afif. EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN STRUKTURAL THINK PAIR SHARE PADA MATERI SISTEM PERSAAAM LINIER DUA VARIABEL DITINJAU DARI AKTIFITAS BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR
MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP MUHAMMADIAH 10
SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret, 2013.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) apakah model pembelajaran matematika dengan pendekatan struktural Think Pair Share menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, (2) manakah yang menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik antara siswa dengan aktivitas belajar tinggi, sedang, dan rendah pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, (3) Apakah untuk siswa dengan aktivitas belajar tinggi dengan model pembelajaran matematika dengan pendekatan struktural “Think-Pair-Share” menghasilkan prestasi belajar matematika yang sama baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. Demikian juga untuk siswa dengan aktivitas belajar matematika sedang dan rendah apakah penerapan model pembelajaran dengan pendekatan struktural “Think-Pair-Share”
menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik jika dibanding dengan model pembelajaran konvensional pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental semu. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Muhammadiah 10 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012. Sampel penelitian ini diambil secara cluster random sampling, diperoleh 2 kelas yaitu, kelas VIIIB sebagai kelas eksperimen sebanyak 30 siswa dan kelas VIIIA sebagai kelas kontrol sebanyak 30 siswa. Uji coba instrument dilaksanakan di MTs Negeri 1 Surakarta. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, metode angket, metode tes. Teknik analisa data yang digunakan adalah analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama yang dilakukan setelah dilakukan uji normalitas dengan metode Liliefors dan uji homogenitas dengan metode Barlett.
Berdasarkan hasil perhitungan pada analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh hasil: (1) pembelajaran dengan model pembelajaran Think Pair Share memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dari pada model pembelajaran konvensional pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, (2) siswa dengan aktivitas belajar matematika tinggi memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar matematika sedang dan rendah. Sedangkan siswa yang memiliki aktivitas belajar matematika sedang mempunyai prestasi belajar matematika yang sama baik dengan siswa yang mempunyai aktivitas belajar matematika rendah, (3) siswa yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Think Pair Share maupun pendekatan konvensional mempunyai prestasi yang sama untuk setiap tingkat aktivitas belajar siswa. Selain itu, siswa dengan tingkat aktivitas belajar tinggi, sedang, maupun
commit to user vii
rendah memiliki prestasi belajar yang sama baik untuk pendekatan Think Pair Share maupun pendekatan konvensional.
Kata kunci : Think Pair Share (TPS), Aktivitas Belajar, Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, Prestasi Belajar.
commit to user viii ABSTRACT
M. Pious Muta Afif. THE EXPERIMENTATION OF MATHEMATICS LEARNING USING THINK PAIR SHARE STUCTURAL APPROACH IN TWO VARIABLES LINIER EQUATION SYSTEM VIEWED FROM THE ACHIEVEMENT OF STUDENTS’ ACTIVITY OF THE VIII GRADE OF SMP MUHAMMADIYAH 10 SURAKARTA IN THE ACADEMIC YEAR OF 2011/2012. Thesis, Surakarta : Teacher Training and Education Faculty of Sebelas Maret University, 2013.
The objectives of the research are: (1) to identify whether the mathematics learning model by using Think Pair Share structural approach is better than that by using convensional in the material of two variables linier equivalence system, (2) to identify which one having better mathematics learning achievement, the students with high, medium or low learning activity in the material of two variables linier equivalence system , (3) is for students with high learning activities with mathematical learning model with a structural approach
"Think-Pair-Share" generate the same mathematics achievement well compared with conventional learning models. Similarly, for students with mathematics learning activities are low and whether the application of the learning model with a structural approach "Think-Pair-Share" produce better math achievement when compared with the conventional model of learning materials System of Linear Equations in Two Variables.
This research employed quasi-experimental research. The population of this research was all students in VIII graders of SMP Muhammadiyah 10 Surakarta in the academic year of 2011/2012. The sample of this research was taken by using cluster random sampling consisting of two classes : students of VIII B class were as the experiment class and students of VIII A class were as the control class. Each of them consisted of 30 students. The instrument of this research was conducted in MTs N 1 Surakarta. The techniques of collecting the data used were documentation, questionare and test. The technique of analyzing the data used was a two-way variance analysis with different cells. It was conducted after normality test with Liliefors method and homogenity test with Barlett method.
Based on the result of calculation in two-way variance analysis with different cells, the following results could be found. (1) the model of learning using Think Pair Share provided better mathematics learning achievement than that using convensional in the material of two variables linier equivalence System, (2) the students with high mathematic learning activity had better math learning achievement than those with medium and low learning activity. Meanwhile, the students with medium mathematic learning activity had the same math learning achievement as those with low learning activity, (3) students who take the approach of learning by Think Pair Share and conventional approaches have the same performance for every level of student learning activities. Additionally, students with higher levels of learning activity, moderate, or low has the same achievement for both approaches Think Pair Share and conventional approaches.
commit to user ix
Keywords: Think Pair Share (TPS), Learning Activity, Two Variables Systems of Linear Equations, Learning Achievement.
commit to user x
MOTTO
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri
(Q.S Ar-Ra’d :11)
”Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan lain dan
hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”
(Qs. Al Insyirah: 6-8)
“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah sebaik-baik Pelindung”
(Q.S Al-Imron:173)
Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya
dia dengan kemajuan selangkah pun.
(Soekarno)
commit to user xi
PERSEMBAHAN
Karya ini penulis persembahkan kepada:
v Bapak dan Ibu tercinta, terima kasih atas doa dan kasih sayang yang terus mengalir.
v Teman-teman program pendidikan matematika angkatan 2007.
v Sahabat Sejatiku dimanapun kalian berada.
v Semua pihak yang membuat semangat dalam penulisan karya ini.
v Almamater.
commit to user xii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul "Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Struktural Think Pair Share Pada Materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel Ditinjau Dari Aktifitas Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Muhammadiah 10 Surakarta Tahun Ajaran 2011/2012”
sebagai persyaratan mendapatkan gelar Sarjanah Pendidikan pada Program Pendidikan Matematika Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Selain karena kemudahan yang telah diberikan oleh-Nya, keberhasilan penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada :
1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan izin untuk menulis skripsi ini.
2. Sukarmin, M.Si, Ph.D, Ketua Jurusan P.MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan izin untuk menulis skripsi ini.
3. Dr. Budi Usodo, M.Pd, Ketua Program Pendidikan Matematika Jurusan P.MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan izin untuk menulis skripsi ini.
4. Drs. Bambang Sugiarto, M.Pd sebagai dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan motivasi selama penyusunan sekripsi ini.
5. Ira Kurniawati, S.Si, M.Pd sebagai dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan motivasi selama penyusunan sekripsi ini.
6. Drs. Mahmud Hasni. Kepala SMP Muhammadiyah 10 Surakarta yang telah memberikan izin melakukan penelitian.
commit to user xiii
7. Siswadi, S.Ag. Kepala MTs Negeri 1 Surakarta yang telah memberikan izin melakukan try out
8. Kedua orang tua penulis yang tak henti-hentinya mendoakan dan memotivasi penulis dala menyelesaikan skripsi ini.
9. Seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu.
Semoga amal kebaikan semua pihak tersebut diatas mendapatkan imbalan dari Allah SWT. Penulis berharap penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya bagi dunia pendidikan dan pembaca pada umumnya.
Surakarta, Maret 2013
Penulis
commit to user xiv DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERNYATAAN ... ii
HALAMAN PENGAJUAN ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... v
HALAMAN ABSTRAK ... vi
HALAMAN MOTTO ... x
HALAMAN PERSEMBAHAN ... xi
KATA PENGANTAR ... xii
DAFTAR ISI ... xiv
DAFTAR TABEL ... xvii
DAFTAR GAMBAR ... xviii
DAFTAR LAMPIRAN ... xix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. LatarBelakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 4
C. Pembatasan Masalah ... 5
D. PerumusanMasalah ... 6
E. TujuanPenelitian... 6
F.ManfaatPenelitian ... 7
BAB II LANDASAN TEORI ... 8
A. Tinjauan Pustaka ... 8
1. Prestasi Belajar Matematika ... 8
2.Model Pembelajaran ... 13
3. Aktivitas Belajar ... 21
4. Tinjauan Materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel .... 23
B. Kerangka Berfikir ... 32
C. Perumusan Hipotesis... 35
commit to user xv
BAB III METODE PENELITIAN ... 36
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 36
B. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 37
1. Jenis Penelitian ... 37
2. Rancangan Penelitian... 37
C. Populasi dan Sampel ... 38
1. Populasi Penelitian ... 38
2. Sampel Penelitian... 39
D. Teknik Pengambilan Sampel... 39
E. Pengumpulan Data ... 40
1. Variabel Penelitian ... 40
2. Metode Pengumpulan Data ... 41
F. Teknik Analisis Data ... 49
1.Uji Pendahuluan ... 49
2.Uji Prasyarat Analisis ... 50
3.Uji Hipotesis ... 53
4.Uji Komparasi Ganda ... 58
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 61
A.Deskripsi Data ... 61
1. Data Nilai Rapor Matematika ... 61
2. Data Hasil Uji Coba Instrumen ... 61
3. Data Skor Aktivitas Belajar Matematika... 64
4. Data Skor Prestasi Belajar Matemattika ... 65
B. Pengujian Prasyarat Analisis ... 66
1. Hasil Uji Keseimbangan ... 66
2. Hasil Uji Persyaratan Analisis ... 67
C. Hasil Pengujian Hipotesis... 68
1. Analisis Variansi Dua Jalan dengan Sel Tak Sama ... 68
2. Hasil Uji Komparasi Ganda ... 69
D. Pembahasan Hasil Analisis Data ... 71
1. Hipotesis Pertama ... 71
commit to user xvi
2. Hipotesis Kedua ... 71
3. Hipotesis Ketiga ... 72
BAB V PENUTUP ... 74
A. Kesimpulan... 74
B. Implikasi ... 74
1. Implikasi Teoritis... 75
2. Implikasi Praktis ... 75
C. Saran ... 76
1. Bagi Guru ... 76
2. Bagi Para Peneliti... 76
3. Bagi Siswa ... 76
DAFTAR PUSTAKA ... 77
LAMPIRAN... 79
commit to user xvii
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1.1 Rata-rata nilai UAN Matematika SMP dan MTs 1 Tabel 3.1 Data Amatan ,rataan, dan Jumlah Kuadrat Deviasi 54
Tabel 3.2 Rataan dan Jumlah Rataan 55
Tabel 3.3 Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan 58 Tabel 4.1 Deskripsi Data Nilai Rapor Matematika 61 Tabel 4.2 Penentuan Kategori Angket Aktifitas Belajar Matematika 64 Tabel 4.3 Sebaran Kategori Aktifitas Belajar Matematika 64 Tabel 4.4 Deskripsi Data Skor Aktivitas Belajar Matematika Siswa 64 Tabel 4.5 Deskripsi Data Skor Prestasi Belajar Matematika
Berdasarkan Model Pembelajaran Matematika 65 Tabel 4.6 Deskripsi Data Skor Prestasi Belajar Matematika
Berdasarkan Aktivitas Belajar Siswa 65
Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Keadaan Awal 66
Tabel 4.8 Hasil Analisis Uji Normalitas 67
Tabel 4.9 Hasil AnalisisUji Homogenitas 68
Tabel 4.10 Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan dengan Sel Tak Sama 68
Tabel 4.11 Tabel Rataan dan Rataan Marginal 70
Tabel 4.12 Rangkuman Hasil Uji Komparasi Ganda Antar Kolom 70
commit to user xviii
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 Paradigma Penelitian ... 34 Gambar 3.1 Rancangan Penelitian ... 38
commit to user xix
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen ... 79
Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Konvensional... 91
Lampiran 3 Lembar Kerja Siswa Kelas Eksperimen Pertemuan 1 ... 101
Lampiran 4 Lembar Kerja Siswa Kelas Eksperimen Pertemuan 2 ... 107
Lampiran 5 Pembahasan Lembar Kegiatan Siswa ... 111
Lampiran 6 kisi Angket Try Out………... 119
Lampiran 7 Angket Aktivitas Try Out ... 120
Lampiran 8 Lembar Jawab Angket Try Out ... 125
Lampiran 9 Angket Aktivitas Eksperimen ... 126
Lampiran 10 Lembar Jawab Angket Eksperimen ... 130
Lampiran 11 Kisi-Kisi Tes Prestasi Belajar... 131
Lampiran 12 Soal Tes Prestasi Belajar Try Out ... 132
Lampiran 13 Lembar Jawab Tes Prestasi Belajar (Try Out) ... 139
Lampiran 14 Pembahasan Soal Tes Prestasi Belajar (Try Out) ... 140
Lampiran 15 Soal Tes Prestasi Belajar Eksperimen ... 156
Lampiran 16 Lembar Jawab Tes Prestasi Belajar Eksperimen ... 161
Lampiran 17 Pembahasan Soal Tes Prestasi Belajar Eksperimen ... 162
Lampiran 18 Lembar Validitas Isi Angket Prestasi Belajar Siswa ... 172
Lampiran 19 Lembar Validitas Isi Tes Prestasi Belajar Siswa... 181
Lampiran 20 Konsistensi Internal Angket aktivitas Belajar Siswa ... 187
Lampiran 21 Uji Reliabilitas Angket Aktivitas Belajar Siswa ... 189
Lampiran 22 Uji Daya Beda dan Tingkat Kesukaran Tes Prestasi Belajar Siswa... 191
Lampiran 23 Reliabilitas Tes Prestasi Belajar Siswa ... 192
Lampiran 24 Tabel Pembentukan Kelompok Kelas Eksperimen ... 193
Lampiran 25 Data Induk Penelitian ... 194
Lampiran 26 Uji Normalitas Kemampuan Awal Kelas Eksperimen (Kelas VIIIB) ... 196
commit to user xx
Lampiran 27 Uji Normalitas Kemampuan Awal Kelas Kontrol
(Kelas VIIIA) ... 198
Lampiran 28 Uji keseimbangan Kemampuan awal Antara Kelas Kontrol dan kelas Eksperimen ... 200
Lampiran 29 Uji Normalitas Kelas Dengan Model Pembelajaran TPS ... 202
Lampiran 30 Uji Normalitas Kelas Dengan Model Konvensional ... 204
Lampiran 31 Uji Normalitas Kelompok dengan Aktivitas Tinggi ... 206
Lampiran 32 Uji Normalitas Kelompok dengan Aktivitas Sedang ... 208
Lampiran 33 Uji Normalitas Kelompok dengan Aktivitas Rendah ... 210
Lampiran 34 Uji Homogenitas Antar Baris (Prestasi Belajar Ditinjau dari Model Pembelajaran) ... 212
Lampiran 35 Uji Homogenitas Antar Kolom (Prestasi Belajar Ditinjau dari Aktivitas Belajar Siswa ... 214
Lampiran 36 Analisis Variansi Dua Jalan dengan Sel Tak Sama ... 216
Lampiran 37 Uji Komparasi Ganda Antar Kolom ... 220
Lampiran 38 Tabel Statistika ... 222
Lampiran 39 Perijinan ... 225
commit to user 1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu sektor kehidupan yang sangat penting. Oleh karena itu pendidikan seharusnya mendapatkan perhatian dari berbagai pihak baik pemerintah, kalangan akademis maupun masyarakat umum. Salah satu cabang ilmu pengetahuan yang dipelajari dalam proses pendidikan adalah matematika. Matematika mempunyai peran strategis dalam proses pendidikan karena banyak cabang ilmu lain yang memanfaatkan matematika.
Dalam pembelajaran di sekolah baik tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun Sekolah Menengah Atas (SMA) seringkali matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dipelajari. Banyak siswa yang merasa terbebani jika harus berhadapan dengan matematika di sekolah. Hal ini disebabkan mereka sudah beranggapan bahwa ilmu matematika ini rumit, membingungkan dan banyak siswa juga yang merasa pesimis dahulu sebelum mereka berjuang untuk belajar matematika. Akhirnya siswa hanya menghafal materi pelajaran matematika untuk memenuhi syarat ujian saja. Akibatnya sering terjadi kekeliruan dalam pemahaman konsep dan berdampak prestasi belajar matematika yang dicapai siswa masih tergolong rendah.
Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai Ujian Akhir Nasional untuk mata pelajaran matematika di Kota Surakarta sebagai berikut dalam 5 tahun terakhir (belum termasuk tahun ajaran 2008/2009):
Tabel 1.1 Rata-rata nilai UAN Matematika SMP dan MTs Se-Kota Surakarta
Tahun 2003/2004 2004/2005 2005/2006 2006/2007 2007/2008
Rata-rata 5,69 6,05 6,22 5,78 6,46
(Sumber: Dikpora Kota Surakarta tahun 2009)
commit to user
Dari nilai rata-rata tersebut mengindikasikan bahwa masih banyak siswa yang kesulitan dalam mempelajari matematika, sehingga mengakibatkan rendahnya prestasi belajar matematika yang dicapai oleh siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kota Surakarta.
Kesulitan dalam mempelajari matematika untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) melingkupi beberapa materi. Salah satu materi yang dirasa sulit oleh siswa kelas VIII semester I adalah materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) ini membahas tentang cara menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel dan menyelesaikan model matematikanya. Untuk menyelesaikan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) siswa harus memahami empat metode yaitu metode grafik, metode eliminasi, metode substutusi, dan metode gabungan. Pada umumnya kesulitan yang dihadapi siswa yaitu pada soal cerita, karena pada soal cerita siswa harus bisa menerapkan pada kehidupan sehari-harinya, selain itu siswa hanya mengorganisir sendiri apa yang diperoleh tanpa mengkomunikasikan dengan siswa lain atau guru yang mengajar. Oleh karena itu diperlukan keaktifan siswa selama proses belajar mengajar. Siswa yang cerdas dapat membantu proses pemahaman bagi siswa yang kurang cerdas..
Sebagai tindak lanjut dari adanya masalah tersebut, dapat kita evaluasi proses pembelajaran yang dialami oleh siswa. Dalam pembelajaran Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) guru lebih sering menggunakan model pembelajaran konvensional dengan model ceramah atau ekspositori. Guru memberikan informasi materi pelajaran, siswa mendengarkan, memperhatikan dan mencatat. Kemudian oleh siswa, materi atau rumus yang dianggap penting dihafalkan. Dalam pembelajaran dengan model tersebut, guru bertindak aktif sedangkan siswa cenderung pasif. Padahal dengan model ini siswa menjadi kehilangan keberanian untuk mengemukakan pendapat dan tidak tahu jika guru melakukan kesalahan. Selain itu siswa akan menjadi lebih individualistis, tidak peduli dengan siswa lain yang belum memahami materi karena mereka beranggapan bahwa memahamkan siswa
commit to user
adalah kewajiban guru. Oleh karena itu, proses alur pembelajaran yang demikian harus diubah, tidak harus selalu dari guru ke siswa. Siswa juga bisa saling mengajar dengan sesama siswa lainnya. Bahkan banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif dari pada pengajaran oleh guru.
Pembelajaran dengan model konvensional tersebut seharusnya diubah karena pada dasarnya belajar matematika merupakan penanaman konsep. Hal yang terpenting bagi siswa adalah bagaimana siswa dengan mudah memahami konsep-konsep dasar dan siswa dapat lebih aktif dalam kelas. Model pembelajaran yang dapat digunakan sebagai solusi untuk penanaman konsep pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) adalah cooperative learning.
Salah satu model dalam cooperative learning adalah dengan pendekatan struktural “Think-Pair-Share” (TPS). Pendekatan struktural TPS merupakan suatu model mengajar yang memberikan penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola kreatif siswa, dan memberikan waktu kepada siswa untuk berpikir dan merespon serta saling membantu antara satu dengan yang lain dalam menyelesaikan permasalahan tertentu. Model pembelajaran ini dapat meningkatkan penguasaan akademis siswa. Selain itu, dengan model pembelajaran ini siswa tidak akan cepat merasa bosan dalam belajar matematika.
Fakta-fakta yang dikemukakan di atas disebabkan karena kesulitan siswa dalam belajar matematika. Penggunaan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural TPS ini dapat membantu mengurangi kesulitan belajar siswa yang telah dikemukakan di atas. Pada model ini siswa diarahkan untuk berdiskusi dengan teman pasangannya sehingga mereka dapat saling membantu satu sama lain untuk mengatasi kesulitan belajar. Selain itu siswa pun dapat berbagi dengan teman sekelasnya mengenai permasalahan yang diberikan. Oleh sebab itu, model ini juga dapat mengatasi kesulitan siswa dalam mempelajari materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV).
Dengan penggunaan model pembelajaran ini, siswa dapat memikirkan secara
commit to user
mandiri terlebih dahulu untuk menyelesaikan sebuah persoalan dalam materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) untuk kemudian didiskusikan dengan pasangannya. Dalam pembelajaran ini benar-benar ada keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Sehingga model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural TPS sangat efektif untuk membantu mengatasi kesulitan belajar siswa dan diharapkan permasalahan-permasalahan diatas pun dapat diatasi.
Keberhasilan prestasi belajar selain dipengaruhi oleh model pembelajaran yang dipakai guru, juga dipengaruhi oleh aktivitas belajar siswa.
Aktivitas belajar siswa merupakan faktor penting dalam kegiatan belajar mengajar. Penggunaan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural TPS memerlukan aktivitas belajar siswa yang aktif untuk berpikir mengenai permasalahan yang diberikan oleh guru. Aktivitas siswa dalam berpasangan dengan teman lain untuk mendiskusikan permasalahan yang diberikan juga dapat mempengaruhi keberhasilan prestasi belajar siswa.
Aktivitas siswa dalam berbagi kepada teman-teman lainnya mengenai penyelesaian dari permasalahan yang diberikan juga dapat meningkatkan pemahaman konsep dari siswa itu sendiri serta dapat membantu siswa lain yang mengalami kesulitan pada permasalahan yang diberikan tadi. Selain itu aktivitas belajar yang dilakukan siswa baik di sekolah ataupun di rumah juga mempengaruhi keberhasilan siswa. Sehingga dengan demikian tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal.
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasikan beberapa masalah berikut.
1. Banyak siswa yang menganggap matematika itu rumit, membingungkan, sehingga siswa hanya menghafal materi pelajaran untuk memenuhi syarat ujian. Hal ini berakibat sering terjadi kekeliruan dalam pemahaman konsep dan berdampak prestasi belajar matematika siswa rendah.
commit to user
2. Kemungkinan kurang tepatnya model pembelajaran yang digunakan selama ini menyebabkan rendahnya prestasi belajar matematika dan siswa mengalami kesulitan, kususnya pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.
3. Siswa tidak banyak berperan aktif dalam pembelajaran sehingga perlu digunakan model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif.
4. Aktivitas belajar siswa dapat menyebabkan perbedaan prestasi belajar.
Aktivitas belajar siswa dimungkinkan menjadi faktor pendukung dalam kegiatan belajar siswa baik di sekolah maupun di rumah. Oleh karena itu perlu dikaji lebih lanjut mengenai aktivitas belajar siswa dalam menentukan hasil prestasi belajar.
C. Pembatasan Masalah
Untuk lebih memfokuskan penelitian, maka peneliti membatasi masalah penelitian. Hal ini bertujuan agar masalah yang ada dapat dikaji lebih mendalam untuk memperoleh hasil yang maksimal, maka penelitian ini dibatasi pada hal-hal berikut.
1. Model pembelajaran yang digunakan dibatasi pada pembelajaran matematika dengan pendekatan struktural “Think-Pair-Share” untuk kelas eksperimen dan model pembelajaran konvensional untuk kelas kontrol. Untuk kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional dengan model pembelajaran langsung yaitu guru memberikan informasi materi pelajaran, siswa mendengarkan, memperhatikan dan mencatat.
2. Aktivitas belajar siswa dibatasi pada aktivitas belajar matematika yang meliputi pemanfaatan waktu belajar, keaktifan mengikuti pelajaran, cara belajar, keaktifan mengerjakan tugas, dan ketersediaan sumber belajar.
Aktivitas belajar siswa dibedakan dalam tiga kategori yaitu aktivitas belajar siswa tinggi, sedang dan rendah.
3. Prestasi belajar dalam penelitian ini dibatasi pada prestasi belajar matematika kelas VIII semester I SMP Muhammadiyah 10 Surakarta pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.
commit to user D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang telah dikemukakan, permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah penerapan model pembelajaran matematika dengan pendekatan struktural “Think-Pair-Share” menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik jika dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel?
2. Apakah prestasi belajar matematika siswa yang melakukan aktivitas belajar matematika tinggi lebih baik daripada siswa yang melakukan aktivitas belajar matematika sedang dan prestasi belajar matematika siswa yang melakukan aktivitas belajar sedang lebih baik dari pada siswa yang melakukan aktivitas belajar matematika rendah dalam pembelajaran pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel?
3. Apakah untuk siswa dengan aktivitas belajar tinggi dengan model pembelajaran matematika dengan pendekatan struktural “Think-Pair-Share”
menghasilkan prestasi belajar matematika yang sama baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. Demikian juga untuk siswa dengan aktivitas belajar matematika sedang dan rendah apakah penerapan model pembelajaran dengan pendekatan struktural “Think-Pair-Share” menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik jika dibanding dengan model pembelajaran konvensional pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel?
E. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika dengan model pembelajaran matematika dengan pendekatan struktural “Think-Pair Share”
menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik jika dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.
commit to user
2. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa yang melakukan aktivitas belajar matematika tinggi lebih baik dari pada siswa yang melakukan aktivitas belajar matematika sedang dan prestasi belajar matematika siswa yang melakukan aktivitas belajar sedang lebih baik daripada siswa yang melakukan aktivitas belajar matematika rendah dalam pembelajaran pada sub pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.
3. Untuk mengetahui siswa dengan aktivitas belajar tinggi dengan model pembelajaran matematika dengan pendekatan struktural “Think-Pair-Share”
menghasilkan prestasi belajar yang sama baik dibandingkan dengan model pembelajaran langsung. Demikian juga untuk siswa dengan aktivitas belajar matematika sedang dan rendah apakah model pembelajaran matematika dengan pendekatan struktural “Think-Pair-Share” menghasilkan prestasi dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.
F. Manfaat Penelitian
Dalam menyusun penelitian ini, diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat berikut :
1. Memberi masukan kepada guru atau calon guru matematika dalam menentukan alternatif model pembelajaran yang tepat untuk suatu kompetensi dasar agar dapat meningkatkan aktifitas dan prestasi belajar matematika siswa.
2. Memberikan informasi kepada guru matematika tentang pentingnya aktivitas belajar siswa yang maksimal dalam proses pembelajaran matematika sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.
3. Menjadi pertimbangan dan masukan dan menumbuhkan motivasi untuk meneliti pada mata pelajaran lain yang prosedur penelitiannya hampir sama.
commit to user 8
BAB II
LANDASAN TEORI
Tinjauan Pustaka
1. Prestasi Belajar Matematika a. Prestasi
Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie.
Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi” yang berarti hasil usaha. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 2002: 896) dinyatakan bahwa “Prestasi adalah hasil yang telah dicapai”. Zainal Arifin (1990: 3) mengemukakan bahwa prestasi adalah hasil dari kemampuan, keterampilan, dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal.
Dari berbagai pendapat tentang pengertian prestasi di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha dengan kemampuan yang dimilikinya.
b. Belajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 17) disebutkan bahwa belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; berlatih;
berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.
Sardiman A. M (2004: 50) menyatakan: “belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan diri seseorang.”
Dalam teori konstruktivisme, belajar adalah kegiatan aktif dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Agar pengetahuan siswa menjadi bermakna, maka siswa harus memproses sendiri informasi yang diperoleh, menstruktur kembali dan mengintegrasikan dengan pengetahuan yang dimilikinya. Guru tidak dapat begitu saja memberikan pengetahuannya kepada siswa, guru hanya berperan sebagai fasilitator dan mediator dalam proses pembentukan pengetahuan tersebut.
commit to user
Menurut Paul Suparno (1997: 61), belajar merupakan suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya, yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori. Proses interaksi itu sendiri meliputi dua hal, yaitu:
1) Proses internalisasi dari sesuatu ke dalam diri pebelajar.
2) Dilakukan secara aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.
Proses internalisasi dan keaktifan pebelajar dengan segenap panca indera perlu ada pengembangannya yakni melalui proses yang disebut dengan sosialisasi yaitu menginteraksikan atau menularkan ke pihak lain. Dalam proses sosialisasi, karena berinteraksi dengan pihak lain tentu akan melahirkan suatu pengalaman. Proses belajar yang terjadi merupakan proses aktif dimana individu menerapkan pengetahuan yang dimilikinya. Proses belajar bukan semata-mata terjadi karena adanya hubungan antara stimulus dan respon tetapi lebih merupakan hasil dari kemampuan individu dalam mengembangkan potensi dalam dirinya.
Proses belajar yang terjadi bercirikan antara lain sebagai berikut:
1) Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh pebelajar dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. Konstruksi arti itu dipengaruhi oleh pengertian yang telah ia punyai.
2) Konstruksi arti itu adalah proses yang terus menerus. Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau persoalan yang baru, diadakan rekonstruksi, baik secara kuat maupun lemah.
3) Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, melainkan suatu perkembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru.
4) Proses belajar yang sebenarnya terjadi saat seseorang dalam keraguan.
5) Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya.
6) Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui si pebelajar: konsep-konsep, tujuan, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari.
(Paul Suparno, 1997: 61).
commit to user
Hudoyo (1997: 107) mengemukakan bahwa : “ belajar merupakan suatu proses aktif dalam memperoleh pengalaman atau pengetahuan baru sehingga timbul perubahan kemampuan, misalnya setelah belajar seorang mampu mendemonstrasikan dan keterampilan dimana sebelumnya siswa tidak dapat melakukannya”.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses aktivitas siswa dalam interaksinya dengan lingkungan, sehingga menyebabkan terjadinya perubahan sebagai akibat dari pengalaman dan hasil interaksi dengan lingkungan.
c. Prestasi Belajar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 895) prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.
Sutratinah Tirtonegoro (2001: 43) menyatakan: “prestasi adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar mengajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang dicapai dalam periode tertentu”. Dan Purwodarminto (1998: 86) mengemukakan: “Prestasi adalah hasil yang telah dicapai atau dilakukan, dikerjakan dan sebagainya”.
Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai setelah mengikuti serangkaian proses belajar yang dinyatakan dalam angka atau simbol.
d. Matematika
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 723) disebutkan bahwa matematika adalah ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan.
commit to user
Purwoto (2003: 4) menyatakan bahwa: ”Matematika adalah pengetahuan tentang pola keteraturan, pengetahuan tentang struktur terorganisasikan, mulai dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan ke unsur- unsur yang didefinisikan ke aksioma dan postulat dan akhirnya ke dalil”.
R. Soejadi (2000: 11) mengemukakan bahwa ada beberapa definisi dari matematika, yaitu sebagai berikut:
1) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik.
2) Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.
3) Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.
4) Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.
5) Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.
6) Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak tentang bilangan, penalaran, logika, fakta-fakta kuantitatif, masalah ruang dan bentuk, aturan- aturan yang ketat, dan pola keteraturan serta tentang struktur yang terorganisir.
e. Prestasi Belajar Matematika
Berdasarkan pengertian prestasi belajar dan matematika yang telah diuraikan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi belajar matematika adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa dalam mengikuti pelajaran matematika yang mengakibatkan perubahan pada diri seseorang berupa penguasaan dan kecakapan baru yang ditunjukkan dengan hasil yang berupa angka atau nilai.
f. faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa secara global dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
commit to user
1) Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa) yaitu keadaan atau kondisi jasmani/ rohani siswa. Factor ini meliputi 2 aspek yaitu :
a) Aspek fisiologis (jasmaniah)
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas dalam mengikuti pelajaran.
b) Aspek psikologis (rohaniah)
Meliputi : intelegensi, sikap, bakat, minat, dan motivasi siswa.
2) Faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa) yaitu kondisi lingkungan di sekitar siswa. Faktor ini meliputi 2 aspek yaitu :
a) Faktor lingkungan sosial yang meliputi kondisi lingkungan sekolah, masyarakat, tetangga, orang tua, dan keluarga siswa itu sendiri.
b) Faktor lingkungan nonsosial seperti, letak dan bangunan sekolah, rumah tempat tinggal, peralatan belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar siswa.
3) Faktor pendekatan mengajar (approach to learning) yaitu segala jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran.
(Muhibbin Syah, 2006: 144) Dapat disimpulkan faktor internal, faktor eksternal, dan faktor pendekatan belajar di atas juga mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar penting sekali dalam rangka membantu siswa mencapai prestasi belajar yang tinggi. Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yang dibahas dalam penelitian ini adalah aktivitas belajar siswa dan model pembelajaran yang digunakan guru.
commit to user 2. Model Pembelajaran
Untuk mengatasi berbagai problematika dalam pelaksanaan pembelajaran diperlukan model-model pembelajaran yang dipandang mampu mengatasi kesulitan guru melaksanakan tugas mengajar dan kesulitan belajar siswa. Syaiful Sagala (2007:176) juga menyebutkan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan dalam pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran bagi para guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu prosedur sistematis yang digunakan oleh guru sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Model pembelajaran yang berkaitan dengan penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural “Think-Pair- Share” dan model pembelajaran konvensional.
a. Model Pembelajaran Kooperatif Dengan Pendekatan Struktural “ Think- Pair-Share “
Pendekatan struktural “Think-Pair-Share” merupakan salah satu model cooperative learning. Oleh karena itu sebelum membahas tentang pendekatan struktural “Think-Pair-Share”, akan dibahas dulu mengenai cooperative learning.
Manuel D. Rossetti dan Harriet Black Nembhard (1998: 68) menyatakan bahwa “Cooperative learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang dirancang untuk memotivasi minat siswa dan membantu mengingat tentang gagasan-gagasan atau ide yang dilakukan di antara sesame dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih”. Jadi keberhasilan mengajar dalam pendekatan ini bukan hanya ditentukan oleh kemampuan individu secara utuh, melainkan perolehan
commit to user
itu akan baik bila dilakukan secara bersama-sama dalam kelompok kecil yang terstruktur dengan baik.
Beberapa karakteristik cooperative learning menurut Manuel D.
Rossetti dan Harriet Black Nembhard (1998: 68) antara lain:
1) Positive interdependence, adalah sifat yang menunjukkan saling ketergantungan satu terhadap yang lain dalam kelompok serta positif.
2) Face-to-Face Promotive Interaction, proses yang melibatkan siswa dalam proses belajar yang mengharuskan siswa untuk belajar dengan satu sama lain.
3) Individual accountability/Personal Responsibility, yaitu setiap individu dalam kelompok mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi kelompok.
4) Collabortive Skills, yaitu suatu kebutuhan untuk mengajarkan kepada siswa tentang bagaimana siswa berfungsi dalam suatu kelompok. Siswa harus mempunyai pemahaman berkelompok, metode pendengaran yang aktif, pengendalian konflik, dan ketrampilan sosial lainnya agar diskusi berlangsung secara efektif.
5) Group processing, proses perolehan jawaban permasalahan dikerjakan oleh kelompok secara bersama-sama.
Adapun langkah-langkah cooperative learning adalah sebagai berikut.
1) Guru merancang pengajaran, mempertimbangkan dan menetapkan target pengajaran yang ingin dicapai.
2) Guru merancang lembar observasi kegiatan siswa dalam belajar secara bersama-sama dalam kelompok kecil.
3) Guru mengarahkan dan membimbing siswa baik secara individual maupun secara kelompok, dalam pemahaman materi maupun mengenai sikap dan perilaku siswa selama kegiatan belajar mengajar.
4) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil kerjanya.
commit to user
Menurut Arend,R.I (2001: 322-326) pembelajaran kooperatif mempunyai 4 variasi, yaitu:
1) STAD (StudentTeams-Achievement Divisions)
Dalam penerapan STAD, guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam kelompok untuk memastikan anggota kelompok telah menguasai materi tersebut. Akhirnya, seluruh siswa diberi kuis dengan materi yang sama. Pada waktu kuis, siswa tidak dapat saling membantu satu sama lain, dan nilai kuis tersebut yang dipakai untuk menentukan skor individu maupun kelompok.
2) Jigsaw
Dalam penerapan Jigsaw, siswa dibagi dalam kelompok kecil yang heterogen dengan menggunakan kelompok ‘asal’ dan kelompok ‘ahli’.
Setiap kelompok ‘asal’ diberi tugas untuk mempelajari bagian tertentu yang berbeda dari materi yang diberikan. Kemudian setiap siswa yang mempelajari topik yang sama saling bertemu dan membentuk kelompok
‘ahli’ untuk bertukar pendapat dan informasi. Setelah itu siswa tersebut kembali ke kelompok ‘asal’ untuk menyampaikan informasi yang diperoleh. Akhirnya setiap siswa diberi kuis secara individu. Penilaian dan penghargaan yang digunakan pada Jigsaw sama dengan STAD.
3) Grup Investigation (GI).
Grup Investigation (Investigasi Kelompok) adalah metode pembelajaran kooperatif di mana setiap siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk menyelidiki topik tertentu yang dipilih. Tipe ini merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling kompleks yang paling sulit untuk diterapkan. Setiap kelompok membuat rencana kegiatan pembelajaran dan kemudian melaksanakannya. Akhirnya setiap kelompok mempresentasikan hasilnya. Dalam teknik ini, penghargaan tidak diberikan.
4) Structural Approach (Pendekatan Struktural).
Setelah guru menyajikan materi pelajaran, setiap kelompok mengerjakan lembar kerja siswa, saling mengajukan pertanyaan dan belajar bersama
commit to user
dalam kelompok. Pendekatan struktural dikembangkan oleh Spencer Kagan. Pendekatan tersebut memberikan penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola kreatif siswa.
Struktur yang dikembangkan oleh Kagan tersebut menghendaki siswa bekerja sama saling membantu dalam kelompok kecil. Ada dua tipe yang dikembangkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu:
a) Think-Pair-Share, yaitu suatu pendekatan yang bertujuan member siswa lebih banyak waktu untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Pendekatan ini mempunyai tiga tahapan penting, yaitu berpikir (Thinking), berpasangan (Pairing), dan berbagi (Sharing). Informasi lebih lanjut mengenai tipe ini akan dibahas pada paragraph selanjutnya.
b) Number-Head-Together, yaitu suatu pendekatan yang melibatkan banyak siswa dalam menelaah materi pelajaran. Pendekatan ini bertujuan mengecek pemahaman siswa terhadap isi pelajaran tersebut.
Pendekatan struktural Nurmber-Head-Together terdiri dari empat langkah utama, yaitu: penomoran, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama, dan menjawab.
Salah satu struktur yang dikembangkan untuk meningkatkan penguasaan akademis siswa terhadap materi yang diajarkan adalah pendekatan struktural “Think-Pair-Share”. Model tersebut dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Universitas Maryland. Pendekatan struktural “Think-Pair- Share” memberikan kepada siswa waktu untuk berpikir dan merespon serta saling membantu satu sama lain.
Dalam menerapkan pendekatan struktural “Think-Pair-Share”, Frank Lyman dalam Arend, R.I (2001: 325-326) menggunakan langkah- langkah sebagai berikut.
1) Thinking (berpikir)
Guru memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan pelajaran, kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
commit to user 2) Pairing (berpasangan)
Guru meminta siswa untuk berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada langkah pertama.
Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau ide jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru memberikan waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
3) Sharing (berbagi)
Guru meminta pasangan-pasangan siswa tersebut untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka diskusikan dengan cara bergantian pasangan demi pasangan atau melaporkan hasil diskusi di depan kelas. Jumlah pasangan tersebut paling tidak seperempat dari jumlah pasangan di kelas, tetapi juga disesuaikan dengan waktu yang tersedia. Pada langkah ini akan menjadi efektif apabila guru berkeliling kelas dari pasangan yang satu ke pasangan yang lain.
Berdasarkan langkah-langkah di atas peneliti menggunakan langkah-langkah pengembangan sebagai berikut.
1) Guru mengorganisasi kelas untuk belajar dan mengarahkan siswa untuk mempersiapkan materi yang telah dipelajari di rumah.
2) Guru mengingatkan siswa pada materi prasarat dan memberikan penjelasan seperlunya yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari siswa.
3) Guru membagikan LKS yang berisi pertanyaan atau masalah dan mengarahkan siswa untuk mengerjakan LKS, menjawab pertanyaan, menyelesaikan masalah, melakukan aktivitas, atau mengerjakan tugas secara mandiri.
4) Guru membagi siswa membentuk kelompok yang terdiri dari dua orang (berpasangan).
5) Siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan jawaban dari pertanyaan guru berdasarkan jawaban yang telah mereka peroleh secara mandiri.
commit to user
6) Guru menunjuk kelompok tertentu dan meminta kelompok tersebut mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya kepada teman-teman sekelas. Kegiatan ini dilanjutkan dengan menunjuk beberapa kelompok lagi dan disesuaikan dengan waktu kegiatan belajar mengajar.
7) Guru bersama-sama dengan siswa untuk membahas dan menyimpulkan materi yang telah dipelajari
8) Guru memberikan evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam memahami materi
9) Guru menutup pelajaran dan memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah.
Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural “Think-Pair Share” adalah sebagai berikut.
Kelebihan:
1) Adanya interaksi antara siswa melalui diskusi untuk menyelesaikan masalah akan meningkatkan ketrampilan sosial siswa.
2) Baik siswa yang pandai maupun siswa yang kurang pandai sama-sama memperoleh manfaat melalui aktivitas belajar kooperatif.
3) Kemungkinan siswa lebih mudah memahami konsep dan memperoleh kesimpulan.
4) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ketrampilan bertanya, berdiskusi, dan mengembangkan bakat kepemimpinan.
Kelemahan:
1) Siswa yang pandai cenderung mendominasi sehingga dapat menimbulkan sikap minder dan pasif dari siswa yang kurang pandai.
2) Diskusi tidak akan berjalan lancar jika siswa hanya menyalin pekerjaan siswa yang pandai.
3) Pengelompokan siswa membutuhkan tempat duduk berbeda dan membutuhkan waktu.
Kelebihan tersebut dapat terjadi apabila ada tanggung jawab individual anggota kelompok, artinya keberhasilan kelompok ditentukan oleh hasil belajar individual semua anggota kelompok. Selain itu diperlukan adanya
commit to user
pengakuan kepada kelompok yang kinerjanya baik sehingga anggota kelompok tersebut dapat melihat bahwa kerjasama untuk saling membantu teman dalam satu kelompok sangat penting. Sedangkan kelemahan yang ada dapat diminimalisir dengan peran guru yang senantiasa meningkatkan motivasi siswa yang lemah agar dapat berperan aktif, meningkatkan tanggung jawab siswa untuk belajar bersama, dan membantu siswa yang mengalami kesulitan.
b. Model Pembelajaran Konvensional
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:459) menyatakan konvensional adalah tradisional, sedangkan tradisional sendiri diartikan sebagai sikap dan cara berpikir dan bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun temurun. Dalam observasi yang dilakukan sebelum penelitian, ditemukan bahwa model pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru adalah model pembelajaran dengan metode ceramah. Oleh karena itu model pembelajaran konvensional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah model pembelajaran dengan metode ceramah.
Menurut Purwoto (2003:67) metode ceramah adalah suatu cara penyampaian informasi dengan lisan dari seseorang kepada sejumlah pendengar di suatu ruangan, penceramah mendominasi seluruh kegiatan sedang pendengar hanya memperhatikan dan membuat catatan seperlunya.
Sedangkan menurut Muhibbin Syah (2006:203) menyebutkan bahwa metode ceramah adalah sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Dalam pengajaran menggunakan metode ceramah perhatian terpusat pada guru sedangkan siswa hanya menerima secara pasif.
Syaiful Sagala (2007:202) menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan oleh guru dalam metode ceramah adalah sebagai berikut.
1) Menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta didik.
2) Mengemukakan pokok-pokok materi yang akan dibahas.
commit to user
3) Memancing pengalaman peserta didik yang cocok dengan materi yang akan dipelajarinya.
4) Menyajikan materi dengan ceramah.
5) Menutup pelajaran dengan pada akhir pelajaran yaitu dengan mengambil kesimpulan dari semua pelajaran yang telah diberikan dan member kesempatan kepada peserta didik untuk menanggapi materi yang telah diberikan dan melaksanakan penilaian untuk mengukur perubahan tingkah laku peserta didik.
Mulyani Sumantri dan Johar Permana (2001: 118) mengemukakan bahwa metode ceramah mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut.
1) Kelebihan
a) Murah dalam arti efisien dalam pemanfaatan waktu dan menghemat biaya pendidikan dengan seorang guru yang menghadapi banyak peserta didik.
b) Mudah dalam arti materi dapat disesuaikan dengan keterbatasan perlatan dapat disesuaikan dengan jadwal guru terhadap ketidaktersediaan bahan-bahan tertulis.
c) Meningkatkan daya dengar peserta didik dan menumbuhkan minat belajar dari sumber lain.
d) Memperoleh penguatan bagi guru dan peserta didik yaitu guru memperoleh penghargaan, kepuasan dan sikap percaya diri dari peserta didik atas perhatian yang ditunjukkan peserta didik dan peserta didik merasa senang dan menghargai guru bila ceramah guru meninggalkan kesan dan berbobot.
e) Ceramah memberikan wawasan yang luas dari sumber lain, karena guru dapat menjelaskan topik dengan mengaitkan dengan kehidupan sehari- hari.
2) Kekurangan
a) Dapat menimbulkan kejenuhan kepada peserta didik apabila guru kurang dapat mengorganisasikannya.