• Tidak ada hasil yang ditemukan

Landasan Teori

Dalam dokumen PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO (Halaman 25-29)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

Bagian ini akan dijelaskan mengenai teori yang melandasi penelitian.

Beberapa teori berikut juga digunakan sebagai acuan dalam menentukan arah penelitian dan menganalisis keadaan di dunia nyata dengan teori yang ada. Hal ini dilakukan agar dapat membantu peneliti untuk menganalisis penelitian yang dilakukan

2.1.1 Pecking Order Theory

Teori pecking order ditemukan oleh Donaldson pada tahun 1984 yang kemudian disempurnakan oleh Myers dan Majluf dalam Journal of Finance volume 39 dengan judul “The Capital Structure Puzzle” (1984) dimana mereka berpendapat bahwa ekuitas adalah sebuah hal yang kurang diminati dalam hal meningkatkan modal dengan mengeluarkan ekuitas yang baru (Liang, 2009). Teori ini merupakan salah satu teori yang berkaitan dengan struktur modal perusahaan, yaitu berkaitan dengan asset utang dan modal dalam sebuah perusahaan. Struktur modal disini berbicara mengenai persentase antara jumlah utang dengan modal dengan tingkat laba atau keuntungan yang maksimal. Teori pecking order menyatakan bahwa perusahaan cenderung mencari sumber pendanaan yang minim risiko. Teori pecking order lebih menyukai pendanaan dari internal perusahaan.

Tidak ada struktur modal yang optimal dalam teori ini karena pemilihan pendanaan perusahaan didasarkan pada urutan preferensi (hierarki) risiko. Hal pertama yang dilakukan perusahaan menurut teori ini adalah perusahaan akan lebih memilih menggunakan keuangan internal mereka, kemudian meminjam uang/berutang, dan kemudian menerbitkan modal mereka sebagai usaha terakhir (Berzkalneet al, 2014). Pendanaan jangka panjang perusahaan setidaknya bisa diperoleh dari 3 sumber yaitu laba ditahan, utang, dan ekuitas berupa penerbitan saham. Berdasarkan pada tingkatan risiko sesuai teori pecking order perusahaan akan menempatkan laba ditahan sebagai sumber pendanaan pada opsi pertama karena memiliki risiko yang paling kecil diantara sumber pendanaan lainnya. Laba ditahan berasal dari laba perusahaan periode sebelumnya yang tidak dibagikan kepada pemegang saham sebagai deviden. Apabila laba ditahan tidak mencukupi opsi kedua yang akan dipilih yaitu pendanaan yang berasal dari eksternal prusahaan yaitu utang. Risiko atau beban dari utang yaitu perusahaan harus membayar bunga. Selanjutnya opsi terakhir dalam pendanaan perusahaan sesuai teori ini yaitu pendanaan dari ekuitas atau penerbitan saham baru. Teori ini beranggapan penerbitan saham baru lebih beresiko dibandingkan dengan penggunaan utang.

Pecking order theory melihat bahwa perusahaan cenderung memilih pendanaan sesuai risiko. Ide dasar teori ini adalah perusahaan membutuhkan dana eksternal hanya apabila dana internal tidak cukup dan sumber dana yang diutamakan adalah utang, bukan saham (Sandi, 2016). Bagaimanapun,

investor akan melihat apakah manajer mempunyai akses ke informasi yang lebih sehingga mampu membawa perilaku yang dilakukan oleh manajer untuk memiliki efek signal terhadap pasar (Skoogh dan Sward, 2015).

Pecking order theory menyarankan hal yang berbeda dengan teori trade-off bahwa tidak ada nilai optimal dari utang. Sebagai gantinya, teori ini menyarankan bahwa perusahaan yang memiliki profit sebaiknya mendanai perusahaan mereka secara internal sampai ke retained earnings.

Ini berarti persentase utang di struktur modal akan menurun sejak pendanaan internal menaikkan nilai ekuitas (Skoogh dan Sward, 2015).

Pendanaan yang dilakukan perusahaan akan berpengaruh terhadap struktur modal perusahaan. Perubahan struktur modal dalam perusahaan dapat terjadi ketika perusahaan tersebut membutuhkan pendanaan jangka panjang yang bisa berasal dari internal atau eksternal perusahaan. Dengan bertambahnya modal dapat mempengaruhi struktur modal perusahaan yang juga akan berimbas pada laba per saham nantinya. Efek yang diberikan dapat berdampak positif atau negatif terhadap nilai laba per saham.

2.1.2 Trade Off Theory

Trade-off theory pertama kali diusungkan oleh Modligiani dan Miller dalam sebuah artikel American Economic Review 53 (1963) yang berjudul

“Corporate Income Taxes on the Cost of Capital : A Correction”. Teori trade-off menyatakan bahwa sebuah perusahaan memilih baik utang dan modal dengan menyeimbangkan keuntungan dan biaya utang (Berzkalne et

al, 2014). Dalam teori ini menjelaskan bahwa berapa banyak utang perusahaan dan berapa banyak ekuitas perusahaan sehingga terjadinya keseimbangan antara biaya dan keuntungan. Teori ini menyatakan bahwa perusahaan menukar pajak dari pendanaan utang dengan masalah yang ditimbulkan oleh potensi kebangkrutan. Dari model ini dapat dinyatakan bahwa perusahaan yang tidak menggunakan pinjaman sama sekali dan perusahaan yang menggunakan biaya investasinya dengan pinjaman seluruhnya adalah buruk.

Sebuah perusahaan yang mengikuti teori trade-off membuat sebuah target rasio nilai terhadap utang dan secara bertahap bergerak menuju target.

Teori ini menjelaskan semakin tinggi utang maka semakin tinggi nilai perusahaan. Namun, setelah mencapai titik maksimum, penggunaan utang oleh perusahaan menjadi tidak menarik (Sandi, 2016). Dalam teori static trade-off, nilai perusahaan akan meningkat seiring dengan peningkatan penggunaan leverage akibat perlindungan bunga pajak (interest tax shield).

Sampai pada biaya keagenan (agency cost), biaya tekanan finansial (financial distress cost), atau biaya kebangkrutan (bankruptcy cost) lebih besar daripada interest tax shield sehingga mengurangi nilai perusahaan (Fuad, 2015).

Teori ini melihat dari sisi internal perusahaan, dimana perusahaan memiliki potensi untuk bangkrut dengan melihat harga saham perusahaan per lembar. Bringham (2014) menyatakan bahwa dalam perusahaan yang memiliki kemungkinan bangkrut, biaya-biaya yang berkaitan akan

berkurang, namun tidak secara sepenuhnya mengimbangi keuntungan pajak atas utang tersebut. Sejauh manfaat lebih besar, tambahan utang masih diperkenankan. Penggunaan utang 100% sulit dijumpai dalam praktik dan hal tersebut ditentang dalam trade-off theory.

Trade-off theory berasumsi bahwa adanya manfaat pajak akibat penggunaan utang, sehingga perusahaan akan menggunakan utang sampai titik tertentu untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Esensi dari trade-off theory dalam struktur modal adalah menyeimbangkan manfaat dan pengorbanan yang timbul sebagai akibat dari penggunaan utang. Sejauh menfaat lebih besar, tambahan utang masih diperkenankan (Berzkalne et al, 2014).

Dalam dokumen PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO (Halaman 25-29)

Dokumen terkait