• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Landasan Umum Keperluan Penangguhan Penahanan

Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa penahanan dilakukan untuk kepentingan proses peradilan pidana. Sedangkan disisi yang lain perlindungan terhadap masyarakat tidak dapat dikorbankan untuk keinginan yang berlebihan terhadap pembelaan hak kebebasan individu. Tidak juga dapat disangkal bahwa untuk tujuan preventif penahanan sangat diperlukan jika tersangka/terdakwa dalam segala kemungkinannya mempengaruhi saksi, menghilangkan barang bukti atau mengganggu proses pemeriksaan atau mengulangi kejahatan.

Walaupun demikian perlu juga diakui bahwa kejahatan seharusnya dicegah dengan ancaman pemidanaan sebagai vonis akhir daripada penahanan sementara, bagaimanapun penahanan bukanlah vonis akhir. Hal ini adalah menghindari segala kemungkinan dari pencegahan terhadap penangkapan atau penahanan yang sewenang-wenang atas dasar tujuan yang preventif tersebut. Sebagaimana Pasal 9 ayat (3) Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik menyebutkan bahwa :

Setiap orang yang ditangkap atau ditahan berdasarkan tuduhan pidana, wajib segera dihadapkan ke depan pengadilan atau pejabat lain yang diberi kewenangan oleh hukum untuk menjalankan kekuasaan peradilan, dan berhak untuk diadili dalam jangka waktu yang wajar, atau dibebaskan. Bukan merupakan suatu ketentuan umum bahwa orang yang menunggu diadili harus ditahan, tetapi pembebasan dapat diberikan atas jaminan untuk hadir pada waktu sidang, pada setiap tahap pengadilan, dan pada pelaksanaan putusan, apabila diputuskan demikian.

40Harahap, M. Yahya, , 2000, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP (Penyidikan dan Penuntutan), Edisi Kedua, Sinar Grafika, Jakarta, hal 209

Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Proses Peradilan Pidana

Titik tolak pendekatan perlindungan terhadap anak berorientasi pada masalah kesejahteraan dan kepentingan anak. Hal ini memerlukan pendekatan, pelayanan, perlakuan, perawatan serta perlindungan yang khusus bagi anak dalam upaya memberikan perlindungan hukum terhadap anak dalam proses peradilan anak.

Pelayanan, perlakuan dan perlindungan yang khusus diterapkan terhadap anak berdasarkan beberapa pertimbangan, yaitu sebagai berikut :

1. Didasarkan atas pandangan hidup dan falsafah hidup kemanusiaan (humaniter) terhadap pribadi anak-anak;

2. Kebutuhan akan perawatan dan perlindungan terhadap anak-anak nakal yang bermasalah dan menjadi masalah sosial, disebabkan oleh ketidakdewasaan mereka;

3. Untuk menggolongkan anak delikuen (anak nakal) tersebut kedalam satu kategori yang berbeda dengan kategori kriminalitas orang dewasa;

4. Untuk menerapkan prosedur-prosedur peradilan, penghukuman, penyembuhan dan rehabilitasi yang khusus terutama sekali untuk menghindari anak-anak dari pengalaman traumatis yang tidak perlu, serta melindungi mereka dari tindakan-tindakan manipulatif oleh orang-orang dewasa;

5. Adanya tugas parents patriae sebagai orang tua atau bapak oleh orang dewasa, masyarakat, serta khususnya oleh negara untuk ikut bertanggung jawab memikul beban memelihara dan melindungi anak-anak yang terhalang proses perkembangan mentalnya dan cacat secara sosial.41

Hak-hak anak harus diperhatikan dalam proses peradilan anak karena dalam pelaksanaan proses peradilan ada kalanya terjadi hal-hal tertentu yang mengakibatkan anak-anak tidak mendapatkan hak-haknya secara baik, seimbang dan manusiawi. Hak-hak anak-anak dalam proses peradilan pidana diatur UU Pengadilan Anak antara lain dalam Pasal 50 ayat (6) yaitu hak untuk mengajukan keberatan terhadap perpanjangan penahanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dari pasal tersebut; Pasal 51 yaitu hak untuk mendapatkan bantuan hukum dari penasehat hukum; Pasal 57 yaitu hak untuk didampingi oleh orang tua atau wali dalam sidang pengadilan.

Hukum positif yang mengatur menjamin hak-hak anak tersebut, sudah sepatutnya hak-hak anak tersebut diperhatikan, dijamin dan diupayakan pelaksanaannya dalam rangka

41 Kartono, Kartini, 2003, Patologi Sosial 2 : Kenakalan Remaja, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 10-11.

terciptanya perlindungan hukum terhadap anak pada setiap tahap proses peradilan. Adapun perlindungan hukum bagi mereka yang berusia muda ini dibagi dua, yaitu :

1. Hukum perlindungan dalam arti luas yaitu segala aturan hidup yang memberikan perlindungan kepada mereka yang belum dewasa dan memberi kemunginan bagi mereka untuk berkembang.

2. hukum perlindungan dalam arti sempit yaitu perlindungan hukum yang termasuk dalam :

a. ketentuan hukum perdata b. ketentuan hukum pidana c. ketentuan hukum acara.42

Berdasarkan hal tersebut diatas maka patut disadari bahwa masalah perlindungan anak adalah masalah kompleks dan usaha-usaha perlindungan anak tidak bisa dipandang sebagai tanggung jawab satu pihak saja, namun merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah demi kesejahteraan anak.Menurut Barda Nawawi Arief perlindungan bagi anak dapat diartikan sebagai upaya perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi manusia (fundamental rights and freedoms of children) serta berbagai kepentingan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak.43

Perlindungan terhadap anak secara hukum sangat penting karena berbagai macam tindakan usaha perlindungan anak merupakan suatu tindakan yang membawa akibat hukum serta berkaitan dengan kepastian dan ketertiban hukum, selain itu perlindungan secara hukum juga bertujuan untuk melindungi anak dari penyalahgunaan kekuasaan dari mereka yang terlibat dalam pelaksanaan sistem peradilan anak maupun tindakan kekerasan dari masyarakat atau tindakan balas dendam dari korban yang mengancam keselamatan anak.

Menurut Arief Gosita, ruang lingkup perlindungan anak meliputi kegiatan perlindungan anak yang merupakan suatu tindakan hukum yang membawa akibat hukum.

Lebih lanjut beliau menyebutkan bahwa perlu adanya jaminan hukum bagi kegiatan perlindungan anak tersebut.Kepastian hukumnya perlu diusahakan demi kelangsungan kegiatan perlindungan anak dan mencegah penyelewengan yang membawa akibat negatif yang tidak diingini dalam pelaksanaan kegiatan perlindungan anak.44

42 Soemitro, Irma Setyowati, 1990, Aspek Hukum Perlindungan Anak, Bina Aksara, Jakarta, hal. 15-16.

43 Salam, Moch. Faisal, 2005, Hukum Acara Peradilan Anak di Indonesia, Mandar Maju, Bandung, hal. 3.

44Gosita, Arief, Op.cit, hal 18.

Perlindungan hukum terhadap anak dalam proses peradilan dimulai sejak dilakukan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di sidang pengadilan sampai pada pelaksanaan dari putusan pengadilan tersebut. Tahap pemeriksaan telah diatur dalam UU Pengadilan Anak, namun jika tidak diatur dalam UU Pengadilan Anak maka digunakanlah KUHAP. Tahap pemeriksaan diatur sangat rinci dalam KUHAP yang pada prinsipnya memberikan kewenangan tertentu kepada lembaga (administratif-birokratis) untuk melaksanakan sistem, mekanisme aturan, serta menjamin hak tersangka dalam proses pemeriksaan.45

KUHAP merupakan landasan umum bagi terselenggaranya proses peradilan pidana yang memberikan perlindungan hukum terhadap harkat dan martabat tersangka, tertuduh atau terdakwa sebagai manusia. Konteks inilah dibahas tentang mekanisme peradilan pidana sebagai suatu proses atau "Criminal justice process". Hagan seperti yang dikutif oleh Romli Atmasasmita membedakan pengertian antara "criminal justice process " dan "criminal justice system ". Criminal Justice Process adalah setiap tahap dari suatu putusan yang menghadapkan seseorang tersangka ke dalam proses yang membawanya kepada penentuan pidana baginya. Sedangkan criminal justice system adalah interkoneksi antara keputusan dari setiap instansi yang terlibat dalam proses peradilan pidana.46

Criminal Justice Process dimulai dari proses penangkapan, penggeledahan, penahanan, penuntutan dan pemeriksaan di muka sidang pengadilan, serta diakhiri dengan pelaksanaan pidana di lembaga pemasyarakatan.47

Selama proses peradilan tersebut, hak-hak anak diakui dan dilindungi oleh hukum yang berlaku dan oleh karena itu harus dilakukan secara konsekuen oleh para pihak yang terkait dengan penyelesaian masalah anak nakal (pelaku tindak pidana) hal tersebut dimulai dari :

45Susanto, Anthon F., 2004, Wajah Peradilan Kita, Refika Aditama, Bandung, hal. 82.

46Atmasasmita, Romli, 1996, Sistem Peradilan Pidana Perspektif Eksistensialisme dan Labosionalisme, Bina Cipta, Bandung, hal. 14

47Atmasasmita, Romli, 1983, Bunga Rampai Hukum Acara Pidana, Bina Cipta, Bandung, hal 33.

Dokumen terkait