• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perlindungan anak dalam proses pemeriksaan penyidikan

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Perlindungan anak dalam proses pemeriksaan penyidikan

Setelah adanya laporan atau pengaduan dari masyarakat, seseorang telah melakukan tindak pidana, selanjutnya berdasarkan laporan dan pengaduan tersebut dilakukan penyelidikan/penyidikan.

Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang dilakukan undang-undang (Pasal 1 butir 5 KUHAP).Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyelidikan untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara-cara yang diatur undang-undang.48 Tindakan tersebut dapat meliputi pemanggilan dan pemeriksaan saksi-saksi, penyitaan alat-alat bukti, penggeledahan, pemanggilan dan pemeriksaan tersangka, melakukan penangkapan, dan penahanan.

Penyidikan terhadap anak nakal adalah berlangsung dalam suasana kekeluargaan, berarti tidak ada pemaksaan/intimidasi. Untuk itu wajib minta pertimbangan/saran dari pembimbing kemasyarakatan (Pasal 42 UU Pengadilan Anak). Dalam suasana kekeluargaan juga berarti petugas penyidik tidak memakai pakaian seragam/dinas dan melakukan pendekatan efektif, aktif dan simpatik. Selain itu apabila perlu penyidik dapat meminta pertimbangan atau saran dari para ahli pendidikan, ahli kesehatan jiwa, ahli agama atau petugas kemasyarakatan lainnya (pekerja sosial dari Departemen Sosial maupun pekerja sosial sukarela dari orgnisasi sosial kemasyarakatan).

Penyidikan perkara pidana yang tersangkanya anak-anak wajib dirahasiakan (Pasal 42 ayat (3) UU Pengadilan Anak). Setiap anak sejak ditangkap/ditahan berhak mendapat bantuan hukum dari seorang, atau lebih penasehat hukum (Pasal 51 (1) UU Pengadilan Anak), bantuan hukum itu diberikan selama dalam waktu dan setiap tingkat pemeriksaan menurut tata cara yang ditentukan. Untuk itu pejabat yang melakukan penangkapan atau penahanan wajib memberitahukan kepada tersangka/terdakwa, orang tua, wali, orang tua asuh mengenai hak memperoleh bantuan hukum.

Tugas-tugas penyidik yang berhubungan proses peradilan dan sisi-sisi penegakan hak-hak asasi anak, meliputi :

48Hamzah, Andi, 1985, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Ghalia Indonesia, 1985, h. 161.

a. Penangkapan

Penangkapan adalah suatu tindakan berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka/terdakwa dengan menempatkan pada rumah tahanan negara. Wewenang penangkapan dan penahanan terhadap anak menurut ketentuan pasal Pasal 43 UU Pengadilan Anak menentukan bahwa kegiatan yang berhubungan dengan penangkapan dan penahanan mengikuti ketentuan KUHAP sebagai peraturan umumnya (lex generalis derogat lex spesialis). Wewenang penangkapan harus dilengkapi surat perintah penangkapan dan menyerahkan surat perintah tersebut kepada tersangka dan tembusannya kepada keluarga.

Perintah penangkapan dilakukan terhadap seorang anak yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup (Pasal 17 KUHAP).

Apabila seseorang anak nakal tertangkap tangan, maka penangkapannya tidak dilakukan dengan surat perintah. Demikian pula yang melakukan penangkapan tidak harus penyidik anak. Penangkap harus segera menyerahkan tertangkap beserta barang bukti yang ada kepada penyidik atau penyidik pembantu yang terdekat. (Pasal 18 ayat (2) KUHAP)).

Namun demikian tindakan penangkapan tetap harus memperhatikan kedudukan anak yang memiliki ciri yang khusus. Menurut Maulana Hasan Wadong menyebutkan bahwa penangkapan terhadap anak dilakukan sebagai berikut :

1) terhadap keluarga anak sebagai tersangka untuk wajib diberitahukan terlebih dahulu baik melalui surat maupun lisan sebelum proses penangkapan dilakukan;

2) penangkapan terhadap anak tidak bolehkan dengan menggunakan alat atau senjata sebagai upaya paksa, atau wewenang paksa;

3) tersangka anak harus segera mendapat bantuan hukum secara wajib dan cuma-cuma (dalam penangkapan penyidik dan penuntut umum harus mengikutsertakan seorang pengacara yang kelak akan menjad penasehat hukum anak tersebut);

4) tersangka anak atau orang yang belum dewasa harus segera mendapat proses pemeriksaan;

5) hak untuk mendapat atau menuntut ganti rugi, sebagai akibat dari kesalahan penangkapan, penahanan atau hal-hal lain yang menghilangkan penderitaan fisik dan moril anak tersebut.49

Dengan demikian, hak-hak anak yang menjadi sorotan utama pada proses ini adalah :

49Wadong, Maulana Hasan, Op.cit, hal 65-66

1) hak-hak anak yang bersandar pada asas praduga tidak bersalah dan hak untuk dihormati sesuai dengan harkat dan martabat anak sebagai kelompok yang tidak mampu atau belum mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.;

2) hak dari keluarga anak untuk mendapat pemberitahuan sebelum upaya penangkapan dilakukan;

3) hak anak yang diperoleh sebagai tindakan perlindungan terhadap tindakan yang merugikan (fisik, psikologis dari kekerasan), dalam hal ini yakni hak untuk tidak ditangkap dengan menggunakan alat atau senjata sebagai upaya paksa;

4) hak untuk didamping pengacara;

5) hak untuk mendapat fasilitas dan prioritas utama untuk segera mendapat proses pemeriksaan.

b. Penahanan

Tindakan penahanan terhadap anak harus mencerminkan perlindungan hukum.

Perlindungan hukum terhadap anak sangat penting karena merupakan suatu tindakan yang berkaitan dengan kepastian dan ketertiban hukum. Perlindungan secara hukum dalam proses penahanan selain bertujuan untuk melindungi anak dari penyalahgunaan wewenang dalam proses peradilan juga bertujuan untuk melindungi anak dari tindakan balas dendam korban atau tindakan kekerasan masyarakat yang mengancam keselamatan anak. Penahanan dapat menjadi upaya perlindungan hukum manakala ada ancaman keselamatan terhadap anak akibat adanya keinginan balas dendam dari korban atau kekerasan dari masyarakat yang ingin menghakimi (menghukum) dengan caranya sendiri. Untuk memberikan memperlindungan hukum dalam proses peradilan pidana maka ditentukan bahwa upaya penahanan trhadap anak memiliki klasifikasi yang khusus.

Penahanan terhadap tersangka yang digolongkan oleh KUHAP dengan tahanan Rumah Tahanan Negara, tahanan rumah (keluarga), dan tahanan kota mendapat dispensasi dari ketentuan yang dirumuskan dalam Pasal 44 UU Pengadilan Anak, yaitu penahanan anak yang melakukan tindak pidana harus diletakkan di tempat khusus di lingkungan Rumah Tahanan Negara, atau Cabang Rutan dan atau diperbolehkan di tempat tertentu yang disediakan untuk itu.

Perbedaan status tahanan anak yang melakukan tindak pidana dengan orang dewasa yang melakukan tindak pidana, dapat juga pada lamanya penahanan anak di rumah tahanan pada waktu pemeriksaan. Jangka waktu penahanan anak tidak sama dengan yang ditetapkan KUHAP, dengan batas waktu 20 hari (Pasal 44 ayat (2) UU Pengadilan Anak)). Apabila

pemeriksaan belum selesai, maka penyidik anak dapat meminta perpanjangan penahanan kepada penuntut umum paling lama 10 hari. Apabila dalam jangka 30 hari pemeriksaan belum selesai, maka tersangka harus dikeluarkan dari tahanan demi hukum. Jika dibandingkan dengan penahanan orang dewasa waktunya lebih pendek 30 hari, ini berarti sidang pemeriksaan kasus tindak pidana anak diklasifikasikan perkara SUMIR. Dengan demikian, demi kepentingan hak-hak anak dan perkembangan pendidikan maka terhadap kasus tindak pidana anak untuk secepatnya dan diprioritaskan terlebih dahulu pemeriksaannya. Hal tersebut dimaksudkan agar anak tidak terlalu lama dalam tahanan, yang dapat mengganggu pertumbuhan fisik dan mentalnya.

Selanjutnya dalam UU Pengadilan anak juga ditentukan bahwa penahanan terhadap anak hanya dilakukan setelah dengan sungguh-sunguh mempertimbangkan kepentingan anak atau masyarakat (Pasal 45 ayat (1) UU Pengadilan Anak). Hal ini berarti penahanan terhadap anak harus memperhatikan kepentingan yang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan anak baik fisik, mental maupun sosial anak. Selain itu juga mempertimbangkan kepentingan masyarakat misalnya dengan ditahannya tersangka anak akan membuat masyarakat aman dan tentram.50 Alasan demikian harus dinyatakan secara tegas dalam Surat Perintah Penahanan (Pasal 45 ayat (2) UU Pengadilan Anak). Demikian juga tempat tahanan anak harus dipisahkan dari tempat tahan orang dewasa (Pasal 45 ayat (3) UU Pengadilan Anak). Selama ditahan kebutuhan jasmani, rohani dan sosial anak harus tetap terpenuhi (Pasal 45 ayat (4) UU Pengadilan Anak).

Dokumen terkait