Langkah 4: Konsultasikan Kolega, Termasuk Ulama
4. Langkah-Langkah dan Pr oses Konseling Qur’ani
Langkah-langkah dan proses bimbingan konseling antara lain dapat di dasarkan pada QS. Yunus [10]: 57 yang artinya :
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57).
Ayat di atas menegaskan adanya empat fungsi Al-Qur‟an, yaitu:
pengajaran, obat, petunjuk dan rahmat. Penerapan terhadap empat fungsi ini, dapat dibentangkan secara bertahap bahwa pengajaran Al-Qur‟an untuk
pertamakalinya menyentuh hati yang masih diselubungi oleh kabut keraguan, kelengahan dan aneka sifat kekurangan. Dengan sentuhan pengajaran itu, keraguan berangsur sirna dan berubah menjadi keimanan, kelengahan beralih sedikit demi sedikit menjadi kewaspadaan. Demikian pula dari saat ke saat yang akan datang, sehingga ayat-ayat Al-Qur‟an menjadi obat bagi aneka ragam
penyakit ruhani. Dari sini, jiwa manusia akan menjadi lebih siap meningkat dan meraih petunjuk tentang pengetahuan yang benar dan makrifat tentang Allah.
Al-Alusi dalam tafsirnya mengatakan bahwa ayat di atas adalah mengisyaratkan pada jiwa manusia akan mencapai derajat dan keuntungan secara sempurna bila berpegang teguh pada al-Qur‟an melalui empat tahapan, yaitu:
1. Tahap dan proses membersihkan segala aktivitas yang tampak dengan meninggalkan berbagai tindakan yang tidak patut dilakukan sebagaimana di isyaratkan dalam kata al-mau`idhah.
2. Membersihkan prilaku psikologis dari berbagai keruskan akidah dan dari
berbagai prangai yang tercela sebagaimana diisyaratkan dalam ayat syifa‟ lima fi
33 3. Menghiasi jiwa dengan akidah yang benar dan akhlak terpuji. Hal ini tidak bisa didapatkan kecuali dengan hidayah.
4. Pemusatan terhadap cahaya rahmat ilahiah dengan jiwa yang sempurna dan siap menerima kesempurnaan lahir maupun batin.
Keempat langkah yang terkait dengan langkah-langkah konseling sebagaimana di atas sebenarnya dapat disederhanakan menjadi tiga tahap. Yakni : 1. proses takhalli, yaitu pembersihan terhadap hal-hal yang bersifat lahiriah, sperti prilaku, tindakan dan aktivitas yang menyimpang (mauidhah) dan bersifat batiniah, seperti kekeliruan akidah, dan akhlak yang tercela (syifa‟).
2. proses tahalli, yaitu pemberian dan pengisian jiwa yang bersih dengan akidah yang benar dan akhlak terpuji (hidayah).
3. proses tajalli, yaitu pemusatan ruhaniah atau spiritual tertinggi menuju tinggkatan rabbaniah dan ilahiah (yang disebut sebagai rahmat).
Jika konseling merujuk pada nilai-nilai yang terkandung dalam kitab suci dan sunnah rasul, maka diyakini hasilnya lebih optimal. Namun demikian, dalam
konseling Qur‟ani ini tidak dilarang menggunakan rujukan ilmu pengetahuan, sejauh tidak bertentangan dengan tuntunan agama (Aswadi, 2012).
5. Hal - hal yang Perlu Diperhatikan Konselor dalam Menerapkan Konseling Qur’ani
Dalam mengaplikasikan pendekatan ini, perlu diingat bahwa :
1. Konselor harus muslim dan individu yang dibimbing pun harus muslim. Jika konselornya bukan pemeluk agama islam, maka dikhawatirkan akan terkesalahan-kesalahan dalam memahami dan memaknai informasi yang bersumber dari agama 2. Individu yang dibimbing juga harus muslim, jika bukan orang muslim seyogyanya tidak digunakan, sebab saran-saran yang harus diikuti dalam pendekatan inni bermuatan ibadah. Tidak akan mungkin ibadah didirikan jika tidak ada fondasi iman dibawahnya. Namun demikian, dalam hal-hal yang bersifat umum (bukan bermuatan ibadah) bisa juga model ini digunakan pada konseli non-muslim.
34 Konselor bukan hanya sekadar apa yang diucapkan tetapi lebih dari itu adalah apa yang ditampilkan oleh diri dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya konselor dalam melaksanakan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling harus :
1. Sudah sewajarnya dan bahkan seharusnya menjadikan Al-Qur‟an sebagai
pedoman hidup bagi diri sendiri, anggota keluarga dan individu yang dibimbingnya meskipun ada orang lain yang tidak menyukainya
2. Kewajiban seorang muslim jika ajaran Al Qur‟an telah sampai padanya maka ia sami‟na wa atho‟ na (saya mendengar dan saya patuh)
3. Hanya dengan rajin membaca dan memelajari dan mematuhi tuntutan Al Qur‟an, kehidupan diri dan keluarga akan tentram dan patut diteladani
orang yang dibimbing
Dengan mendalami Al Qur‟an secara benar, dimungkinkan akan
menambah profesionalitas konselor karena lebih mampu menjawab masalah sepanjang zaman. Hal hal yang dapat dilakukan oleh konselor yang ingin menekuni pendekatan ini, yakni sebagai berikut :
a. Yakinlah bahwa Al Qur‟an adalah rujukan yang paling kokoh
disepanjang zaman untuk membimbing manusia di alam semesta ini, ia adalah panduan yang dibuat oleh Dzat Maha Menciptakan manusia guna keselamatan manusia di dunia dan akhirat.
b. Diperlukan waktu panjang untuk bisa memahami kandungan Al-Qur‟an
secara benar, oleh sebab itu perlu menyisihkan waktu khusus dengan niat tulus untuk secara rutin belajar bahasa Al-Qur‟an.
c. Bagi yang belum bisa membaca AL-qur‟an dengan lancar, perlu
membaca Al-qur‟an secara benar, banyak media yang bisa dimanfaatkan untuk belajar Al-Qur‟an antara lain menggunakan aplikasi Holy Qur‟an.
Kalau orang buta dan anak-anak saja banyak yang mampu menghafal ayat-ayat Al-Qur‟an secara baik, bukankah orang dewasa dan bisa
membaca lebioh mungkin untuk memahami dan menghafal ayat-ayat
Al-Qur‟an. Oleh sebab itu, jangan pesimis, tetapi yakinlah bahwa Allah
35 d. Ada baiknya secara bertahap belajar tafsir Al-qur‟an baik langsung
kepada ahlinya maupun melalui buku-buku tafsir Al-Qur‟an dan juga
buku-buku yang ditulis dengan mendasarkan Al-qur‟an sekalipun hanya
setengah jam dalam sehari.
e. Jauhi tindakan maksiat sekecil apapun sebab ilmu Allah tidak mau melekat pada ahli maksiat.
f. Jauhi pula makanan dan minuman yang haram agar jiwa selalu bersih dan tenang.
g. Biasakan bergaul dengan orang-orang shaleh agar diri selalu terjaga (Sutoyo, 2009).