• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah-Langkah Metode Bermain Peran

Dalam dokumen Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar IPS me (Halaman 39-44)

BAB II LANDASAN TEOR

8. Langkah-Langkah Metode Bermain Peran

Keberhasilan model pembelajaran melalui bermain peran tergantung pada kualitas permainan peran (enactment) yang diikuti dengan analisis terhadapnya. Di samping itu, tergantung pula pada persepsi siswa tentang peran yang dimainkan terhadap situasi yang nyata (real life situation). Uno Hamzah (dalam Dedi Rizkia Saputra, 2015: 31) menyebutkan prosedur bermain peran terdiri atas sembilan langkah, yaitu (1) pemanasan (warming up), (2) memilih partisipan, (3) menyiapkan pengamat (observer), (4) menata panggung, (5) memainkan peran (manggung), (6) diskusi dan evaluasi, (7) memainkan peran ulang (manggung ulang), (8) diskusi dan evaluasi kedua, (9) berbagai pengalaman dan kesimpulan.

Sedangkan menurut Miftahul Huda (dalam Dedi Rizkia Saputra, 2015: 31) menjelaskan esensi role pla ying adalah keterlibatan partisipan dan peneliti dalam situasi permasalahan dan adanya keinginan untuk memunculkan resolusi damai serta memahami apa yang dihasilkan dari keterlibatan langsung ini. Bermain peran berfungsi untuk mengeksplorasi perasaan siswa, mentranfer dan mewujudkan pandangan mengenai perilaku, nilai dan persepsi siswa, mengembangkan skill pemecahan masalah dan tingkah laku dan mengekplorasi materi pelajaran dengan cara yang berbeda.

Selanjutnya, sintak atau langkah-langkah dalam menerapkan bermain peran terdiri dari tahap-tahap :

a. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan

b. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang ingin dicapai

c. Guru memberikan skenario untuk dipelajar

d. Guru menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario

dalam waktu beberapa hari sebelum KBM (Kegiatan Belajar Mengajar)

e. Guru menunjuk beberapa peserta didik untuk memainkan peran sesuai dengan tokoh yang terdapat pada skenario

f. Peserta didik yang telah ditunjuk bertugas memainkan peran maju dan bermain peran di depan peserta didik lainnya

g. Peserta didik yang tidak bermain peran berada dalam

kelompoknya sambil mengamati skenario yang diperagakan, mengamati kejadian khusus dan mengevaluasi peran peran masing-massing tokoh

h. Setelah selesai ditampilkan, masing-masing peserta didik

diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan masing- masing kelompok

i. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya

j. Peserta didik merefleksi kegiatan bersama-sama

k. Guru memberikan kesimpulan secara umum (Ridwan Abdullah

Sani, 2013: 171)

9. Alasan Bermain Peran Digunakan di Kelas

Menurut Hisyam Zaini (2008: 100), alasan digunakan metode role playing di dalam kelas antara lain adalah:

a. Mendemonstrasikan pengetahuan, keterampilan dan

kemampuan yang diperoleh

b. Mendemonstrasikan integrasi pengetahuan praktis

c. Membandingkan dan mengkontraskan posisi-posisi yang diambil dalam pokok permasalahan

d. Menerapkan pengetahuan dan pemecahan masalah

e. Menjadikan problem yang abstrak menjadi kongkrit f. Membuat spekulasi terhadap ketidakpastian yang meliputi

pengetahuan

g. Melibatkan peserta didik dalam pembelajaran yang langsung dan eksperiensial

h. Mendorong peserta didik memanipulasi pengetahuan dalam

i. Mendorong pembelajaran seumur hidup

j. Mempelajari bidang tertentu dari kurikulum secara selektif k. Memfasilitasi ekspresi sikap dan perasaan peserta didik dengan

sah

l. Mengembangkan pemahaman yang empatik

m.Memberi feedback yang segera bagi pelajar dan peserta didik

Dengan demikian, penggunaan metode bermain peran (role playing) untuk menambah motivasi belajar siswa sehingga kemampuan siswa menyelesaikan soal evaluasi akan menigkat dan berdampak positif pada hasil belajar siswa. Dalam permainan peran, pemeran maupun tokoh disesuaikan dengan usia anak dan permasalahannya. Melalui metode bermain peran, siswa akan tertarik, senang dan bersemangat mengerjakan soal yang diberikan karena dapat menyerap konsep pembelajaran dengan mudah.

10.Kelebihan dan Kelemahan Metode Bermain Peran

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Zain (dalam Tri Haryanto, 2014: 23- 24) menyatakan bahwa:

a. Kelebihan metode bermain peran meliputi: 1) Siswa melatih dirinya

untuk melatih, memahami dan mengingat isi bahan yang akan didramakan. Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa, 2) Siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif. Pada waktu memainkan drama para pemain dituntut untuk menggunakan pendapat. Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias, 3) Bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni drama dari sekolah, 4) Kerja sama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik- baiknya, 5) Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya, 6) Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami oleh orang lain.

b. Kelemahan metode bermain peran meliputi: 1) Sebagian besar anak

yang tidak ikut bermain peran mereka kurang kreatif, memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun

siswa, 2) Bermain peran memerlukan waktu yang relatif panjang atau banyak, 3) Memerlukan tempat yang luas, 4) Sering kelas lain terganggu oleh suara pemain dan para penonton yang kadang-kadang bertepuk tangan sehingga menggangu kelas lain.

11.Prinsip-Prinsip Bermain Peran

Menurut Suwardi (dalam Ahmidatur Rahmawati, 2015)

prinsip dasar dalam pembelajaran bermain sebagai berikut:

a. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung

jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam

kelompoknya.

b. Setiap anggota kelompok (siswa) harus

mengetahui bahwa semua anggota adalah tim.

c. Kelompok mempunyai tujuan yang sama.

d. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya. e. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.

f. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.

g. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta

mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok bermain.

Menurut Uno Hamzah B (dalam Dalyana, 2012) proses simulasi tergantung pada peran guru/fasilitator. Ada empat prinsip yang harus dipegang oleh fasilitator/guru, yakni sebagai berikut:

a. Penjelasan. Untuk melakukan simulasi pemain harus benar- benar memahami aturan main. Oleh karena itu, guru/fasilitator hendaknya memberikan penjelasan dengan sejelas-jelasnya tentang aktivitas yang harus dilakukan berikut konsekuensi- konsekuensinya.

b. Mengawasi (refereeing). Simulasi dirancang untuk tujuan tertentu dengan aturan dan prosedur main tertentu. Oleh karena itu guru/fasilitator harus mengawasi jalannya simulasi sehingga berjalan sebagaimana seharusnya.

c. Melatih (coaching). Dalam simulasi, pemain/peserta akan mengalami kesalahan. Oleh karena itu, guru/fasilitator harus

memberikan saran, petunjuk atau arahan sehingga

d. Diskusi. Dalam simulasi, refleksi menjadi bagian penting. Oleh karena itu, setelah simulasi selesai, fasilitator harus mendiskusikan beberapa hal seperti: kesulitan-kesulitan,

hikmah yang bisa diambil, bagaimana memperbaiki

kekurangan simulasi dan sebagainya. 12.Tujuan Penerapan Metode Bermain Peran

Secara garis besar pembelajaran bermain peran bertujuan untuk mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai masalah yang sedang dihadapinya. Melalui bermain peran dalam pembelajaran, peserta didik juga dapat mengekplorasi perasaannya, memperoleh wawasan tentang sikap, nilai dan persepsinya mengenai suatu hal, mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah yang dihadapi dan mengekplorasi inti permasalahan yang diperankan melalui berbagai cara.

Kemudian menurut Vera (2012: 128-129), metode bermain peran memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut:

a. Dapat menjabarkan pengertian (konsep) dalam bentuk praktik dan contoh-contoh yang menyenangkan.

b. Dapat menanamkan semangat peserta didik dalam memecahkan

masalah ketika memerankan sekenario yang dibuat.

c. Dapat membangkitkan minat peserta didik terhadap materi pelajaran yang diajarkan.

d. Permainan peran bisa pula memupuk dan mengembangkan suatu

rasa kebersamaan dan kerjasama antar peserta didik ketika memainkan sebuah peran.

e. Keterlibatan para peserta permainan peran bisa menciptakan baik perlengkapan emosional maupun intelektual pada masalah yang dibahas.

Dalam dokumen Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar IPS me (Halaman 39-44)

Dokumen terkait