Pada bab V merupakan penutup tulisan yang berisi kesimpulan dan saran mengenai analisa yang telah dilakukan sehingga dapat
memberikan suatu rekomendasi sebagai masukan ataupun perbaikan bagi pihak perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
BAB II
TINJ AUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Penjadwalan Pr oduksi
Pembahasan yang akan diambil dalam penulisan skripsi ini adalah tentang penjadawalan produksi, maka demi lancarnya pembuatan skripsi yang akan dijalankan diperlukan beberapa teori penunjang yang sekiranya perlu dicantumkan di bab ini yang diharapkan dapat digunakan sebagai pembanding antara teori dan kenyataan ataupun digunakan untuk memecahkan masalah yang terjadi di perusahaan. Beberapa teori yang akan diulas di dalam bab ini adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penjadwalan produksi dan berbagai macam jenis penjadwalan serta metode-metode yang digunakan dalam pembuatan skripsi ini.
Penjadwalan adalah aspek yang penting dalam pengendalian operasi baik dalam industri manufaktur atau jasa, dalam usaha meningkatkan pasar dan volume produksi untuk meningkatkan kepuasan terhadap konsumen, dengan penjadwalan yang efektif dapat meningkatkan keuntungan dalam fungsi operasi di waktu yang akan datang.
Penjadwalan adalah suatu proses pengambilan keputusan yang memainkan peranan penting dalam kebanyakan bidang manufaktur dan pelayanan industri, penjadwalan digunakan dalam pengadaan bahan dan produksi dalam bidang transportasi dan distribusi serta dalam proses informasi dan komunikasi. Penjadwalan didefinisikan sebagai pengaturan waktu dari suatu kegiatan yang mencakup kegiatan mengalokasikan fasilitas, peralatan atau tenaga kerja bagi
suatu kegiatan operasi dan menentukan urutan pelaksanaan kegiatan operasi. Penjawalan juga dapat diartikan sebagai proses pengalokasian sumber-sumber guna melaksanakan sekumpulan tugas dalam jangka waktu tertentu.
Kebanyakan perusahaan menyelesaikan pekerjaan secara bersamaan, karena itu perlu menggabungkan beberapa jadwal kerja. Penggabungan ini dimungkinkan apabila tanggal penyerahan atau selesai untuk setiap pekerjaan dapat diketahui dan seluruh penggabungan tersebut akan dilaksanakan oleh setiap bagian proses sepanjang periode yang direncanakan. Proses penggabungan ini disebut Penjadwalan (scheduling) dan hasilnya secara sederhana disebut jadwal (schedule) atau jadwal produksi (production schedul ) secara keseluruhan. Salah satu kunci keberhasilan dalam meningkatkan efisiensi dalam unit operasi adalah kemampuan untuk menyusun jadwal secara efektif (Adiaksa, 2010).
Namun dalam menyusun jadwal secara efektif terdapat beberapa kesulitan, yaitu :
1. Kesulitan dalam mengidentifikasi tujuan dari jadwal yang sedang dilaksanakan.
2. Jumlah yang sangat besar dari jadwal yang mungkin.
Ada beberapa tipe berbeda dari masalah penjadwalan yang dihadapi oleh perusahaan adalah sebagai berikut :
1. Job Shop Scheduling
Job shop scheduling secara umum dikenal sebagai shopfloor control yang
merupakan kegiatan penyusunan input (memasang yang diperlukan) menjadi
2. Personal Scheduling
Personal Scheduling adalah hal yang penting dalam industri manufaktur dan
jasa, walaupun penjadwalan pembagian waktu dalam lantai produksi lebih diutamakan dari pengendalian dalam lantai produksi itu sendiri, tenaga kerja juga merupakan masalah yang besar, sebagai contoh adalah penjadwalan tenaga medis di dalam rumah sakit, penentuan waktu seperti jam kerja penuh,
shift pagi atau malam serta sub kontrak menjadi masalah dalam penjadwalan
tenaga kerja ini.
3. Facilities Scheduling
Penjadwalan ini menjadi sangat penting ketika fasilitias menjadi hal yang utama, sebagai contoh adalah penjadwalan ruang operasi pada rumag sakit untuk meningkatkan pelayanan kesehatan. Beberapa rumah sakit menggunakan fasilitas ini.
4. Vehicle Scheduling
Perusahaan manufaktur harus mengirim produk mereka dengan biaya dan waktu yang efisien, contoh dari penjadwalan ini adalah penjadwalan pengiriman peralatan, pos, jasa pengantaran bank, pengiriman untuk pelanggan ditempat yang berbeda
5. Vendor Scheduling
Perusahaan dengan system JIT (Just In Time) dimana penjadwalan adalah hal yang penting. Bagian penjualan harus mengkoordinasikan dengan sistem jumlah produk yang akan dikirim untuk menjamin bahwa JIT berfungsi dengan efisien.
6. Project scheduling
Sebuah proyek dapat menjadi suatu set tugas yang saling berinterelasi, walaupun beberap tugas dapat dikerjakan bersama-sama tetapi beberapa tugas tidak dapat dikerjakan hingga tugas yang sebelumnya selesai.
Secara umum penjadwalan merupakan suatu proses dalam perencanaan dan pengendalian produksi yang merencanakan produksi serta pengalokasian sumber daya pada suatu waktu tertentu dengan memperhatikan kapasitas sumber daya yang ada.
2.2 Tujuan Penjadwalan
Tujuan penjadwalan yaitu (Ariyani, 2008) :
1. Meningkatkan penggunaan sumber daya atau mengurangi waktu tunggunya suatu proses sehingga total waktu proses dapat berkurang dan produktivitas dapat meningkat.
2. Mengurangi persedian dalam proses atau meminimasi waktu pekerjaan yang ada dalam sistem.
3. Mengurangi beberapa keterlambatan pada pekerjaan yang mempunyai batas waktu penyelesaian sehingga akan meminimasi penalty cost (biaya kelambatan) atau meminimasi keterlambatan.
2.3 Fungsi Penjadwalan
Penjadwalan produksi memiliki beberapa fungsi dalam sistem produksi, aktifitas fungsi tersebut adalah (Adiaksa, 2010) :
diminta dengan kapasitas untuk mementukan fasilitas, operator dan peralatan.
2. Sequencing (penentuan urutan) bertujuan membuat prioritas urutan
pengerjaan dalam pemrosesan order-order yang masuk.
3. Dispathing, pemberian perintah-perintah kerja ketiap mesin atau fasilitas
lainnya.
4. Pengendalian kinerja penjadwalan
5. Updating schedule, pelaksanan jadwal selalu ada masalah baru yang berbeda
dalam proses pembuatan jadwal
Input tersebut harus dilengkapi dengan parameter pembatas kapasitas, yaitu: 1. Teknologi pemrosesan (urutan aktifitas)
2. Limit Kapasitas (kapasitas normal dan kemampuan maksimal) 3. Rencana Agregrat untuk :
• Persediaan
• Jumlah tenaga kerja
• Batasan lembur, subkontrak,dll. 4. Kebutuhan pemeliharaan
5. Kelayakan dan jumlah persediaan antar tingkat
Variabel keputusan dalam penjadwalan produksi dalam penyiapan, pengendalian, updating jadwal memuat:
1. Kuantitas pasti dari tenaga kerja yang digunakan harian.
2. Setting adjustable tingkat produksi aktual untuk overtime dan undertime.
3. Alokasi spesifik dari permintan ke sumber daya (tenaga kerja, mesin, dll) 4. Urutan, time phasing, dari pesanan sampai unit produksi.
2.4 Klasifikasi Penjadwalan Pr oduksi
Penjadwalan produksi dapat berbeda-beda dilihat dari kondisi yang mendasarinya. Beberapa model penjadwalan sering terjadi di dalam proses produksi berdasarkan beberapa keadaan antara lain :
1. Berdasarkan mesin yang dipergunakan dalam proses : a. Penjadwalan pada mesin tunggal (Single Machine Shop). b. Penjadwalan pada mesin jamak (m machine)
2. Berdasarkan pola aliran proses : a. Penjadwalan Flow Shop
Proses produksi dengan aliran flow shop berarti proses produksi dengan pola aliran identik dari satu mesin ke mesin lain. Dalam flow shop setiap pekerjaan dari n job harus diproses melalui m machine untuk permintaan yang sama dan setiap job diproses satu kali untuk setiap mesin. Walaupun pada flow shop semua tugas akan mengalir pada jalur produksi yang sama atau bisa diartikan setiap pekerjaan akan melewati setiap mesin yang terdapat pada aliran proses yang sama, yang biasanya dikenal sebagai pure
flow shop, tetapi dapat pula berbeda dalam dua hal. Pertama, jika flow shop
dapat menangani tugas yang bervariasi. Kedua, jika tugas yang datang ke dalam flow shop tidak harus dikerjakan pada semua jenis mesin. Jenis flow seperti ini disebut general flow shop.
Gambar 2.1 Jalur Proses Flow Shop
Gambar 2.2 Aliran Pure Floor Shop
Gambar 2.3 Aliran General Flow Shop
b. Penjadwalan Job Shop
Proses produksi dengan aliran job shop berarti proses produksi dengan pola aliran atau rute proses pada tiap mesin yang spesifik untuk setiap pekerjaan dan mungkin berbeda untuk tiap job Akibat aliran proses yang tidak searah ini, maka setiap job yang akan diproses pada satu mesin dapat merupakan
diasumsikan akan tepat satu kali menerima m operasi, dan untuk beberapa pekerjaan membutuhkan beberapa operasi dalam sebuah mesin.
Gambar 2.4 Jalur Proses Job Shop 3. Berdasarkan pola kedatangan job
a. Penjadwalan statis yaitu job yang datang bersamaan dan siap dikerjakan pada mesin yang tidak bekerja, dimana tidak ada job yang datang pada saat jadwal dilaksanakan
b. Penjadwalan Dinamis kedatangan job yang tidak menentu dimana ada job yang datang pada saat jadwal dilaksanakan sehingga perlu dibuatkan jadwal baru
4. Berdasarkan sifat informasi yang diterima a. Penjadwalan Deterministik
Informasi yang diperoleh pasti, misalnya informasi tentang pekerjaan dan mesin seprti waktu kedatangan pekerjaan dan waktu proses.
b. Penjadwalan Stokastik
Informasi yang diperoleh tidak pasti tetapi memiliki kecenderungan yang jelas atau menyangkut adanya distribusi probabilitas tertentu.
5. Berdasarkan Product Positioning
a. Make to Order
konsumen, dimana salah satu tujuannya adalah untuk mengurangi biaya simpan.
b. Make to Stock
Jumlah dan jenis produk terus menerus dibuat untuk disimpan sebagai persediaan.
Jumlah job yang datang mungkin terdiri dari 1,2,3, sampai n job demikian juga dengan jumlah mesin yang dapat digunakan. Jenis dari aliran proses produksi yang digunakan sangat mempengaruhi permasalahan yang akan terjadi pada saat tahap penjadwalan produksi. Karena penjadwalan digunakan untuk mengatur aliran kerja yang melalui suatu sistem, maka faktor kunci yang mendominasi strategi penjadwalan adalah jenis aliran dari desain prosesnya.
2.5 Istilah-Istilah Dalam Penjadwalan Pr oduksi
Secara umum penjadwalan produksi dapat dijelaskan sebagai berikut, jika ada n job {j1 , j2 , … jn} harus diproses pada m mesin {m1 , m2 , … mn } Proses pengerjaan j1 disebut dengan operasi Oij. Waktu yang diperlukan untuk memproses operasi Oij pada mesin mj adalah tij. Beberapa job mungkin memiliki saat pengerjaan paling awal atau saat kedatangan job ke shop yang disebut release date (rj), yang mungkin tidak sama dengan noldan juga batas penyelesaian yang disebut
due date (dj).
Dalam membahas masalah penjadwalan biasanya akan dijumpai beberapa variabel dan istilah, dalam penulisan ini digunakan variabel j = job dan i = operasi.
meliputi juga perkiraan waktu set up yang dibutuhkan. Simbol yang digunakan untuk waktu proses pekerjaan i adalah tij.
2. Makespan (Ms)
Adalah jangka waktu penyelesaian suatu penjadwalan yang merupakan jumlah seluruh waktu proses.
Ms = S ti
3. Ready Time (Rij)
Menyatakan job j operasi ke I siap untuk dijadwalkan.
4. Waiting Time (Wj)
Adalah waktu tunggu seluruh operasi dari suatu job. Wj = S Wij
5. Flow Time (waktu alir)
Merupakan rentang waktu saat pekerjaan tersedia (dapat dimulai) dan saat pekerjaan selesai. Waktu alir sama dengan waktu proses ditambah waktu tunggu sebelum pekerjaan diproses. Simbol yang digunakan untuk flow time adalah Fj.
Fj = tj + Wj
6. Completion Time (waktu penyelesaian)
Merupakan rentang waktu antara saat pekerjaan dimulai (t = 0), sampai dengan pekerjaan itu selesai. Disimbolkan dengan Cj.
7. Rata-rata Flow Time Fs = Fi
8. Due Date (batas waktu)
Merupakan waktu maksimal yang dapat diterima untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut, kelebihan waktu dari waktu yang telah ditetapkan merupakan suatu kelambatan. Batas waktu ini disimbolkan sebagai dj.
9. Lateness (kelambatan)
Merupakan penyimpangan antara waktu penyelesaiaan pekerjaan dengan batas waktu. Suatu pekerjaan akan mempunyai kelambatan positif jika diselesaikan sesudah batas waktu yang ditentukan dan mempunyai kelambatan negatif jika diselesaikan sebelum batas waktu yang ditentukan, simbol kelambatan ini adalah Lj.
Lj = Cj - dj
Lj < 0, jika penyelesaiaan memenuhi batas akhir Lj > 0, jika penyelesaiaan melewati batas akhir 10. Earliness (Ej)
Adalah saat penyelesaian terlalu awal yaitu sebelum earlines juga disebut sebagai lateness negative.
Ej = min {Lj, 0} 11. Rata-rata Lateness
Ls = (Gi) - di
12. Tardiness (ukuran kelambatan)
Merupakan ukuran untuk kelambatan positif. Jika suatu pekerjaan diselesaikan lebih cepat dari batas waktu yang ditetapkan maka mempunyai nilai kelambatan negatif tetapi jika diselesaikan melewati batas watu yang
ditetapkan maka mempunyai nilai kelambatan positif, ukuran ini disimbolkan dengan Tj dimana Tj adalah maksimum dari (0, Lj)
Tj = max {0, Lj} 13. Rata-rata Tardiness Ts = Tj 14. Number of Tardiness NT = dj dj = 1, jika Tj > 0 dj = 0, jika Tj < 0 15. Slack (kelonggaran)
Merupakan ukuran yang digunakan untuk melihat selisih waktu antara waktu proses dengan batas waktu yang sudah ditetapkan. Slack dinotasikan sebagai Sj dan dihitung dengan persamaan Sj = dj - tj
16. Utilitas Mesin (U)
Adalah rasio dari seluruh proses yang dibebankan pada mesin dengan rentang waktu untuk menyeesaikan seluruh tugas pada semua mesin.
max U =
∗
Dimana m = mesin
Fmax = Flow Time maximum 17. T max atau L max
T max = max {0, Lmax} Lmax = max {Lj}
18. Critical Ratio
CR = ( ) aj (t) = dj – t
dimana aj (t) = allowance dj = due date
Pj = waktu untuk menyelesaikan operasi j
Pada saat permintaan tiba maka kegiatan pertama dari penjadwalan adalah menugaskan order-order tersebut kepada bermacam-macam pusat kerja untuk diproses. Setelah menugaskan permintaan tersebut maka langkah selanjutnya adalah menetukan urut-urutan prosesnya. Pemrosesan order merupakan hal yang penting karena mempengaruhi lamanya suatu job akan diproses dalam sistem tertentu. Lamanya job dalam proses ini akan mempengaruhi batas waktu janji pengiriman kepada konsumen. Begitu juga dengan pengurutan pengerjaan merupakan problem yang cukup penting dalam analisis produksi, problem yang dihadapi karena adanya banyaknya job dan ketersediaan mesin yang terbatas. Job Sequencing bertujuan mencapai kriteria performance tertentu yang optimal (Baroto, 2002). Aturan-aturan prioritas sequencing diaplikasikan untuk seluruh job yang sedang menunggu dalam antrian, bila pusat kerja telah lowong untuk satu job baru, maka job dengan prioritas terdahulu akan diproses. Beberapa kriteria yang sering dipakai dalam pengurutan job antara lain (Baroto, 2002) :
1. Mean Floe Time (MFT) atau rata-rata waktu pekerjaan dalam sistem.
2. Idle Time atau waktu menganggur dari mesin.
4. Mean Number Job in The System (WIP) atau rata-rata jumlah job dalam
mesin.
5. Makespan atau total penyelesaian seluruh job.
6. Jumlah job yang terlambat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pelayanan suatu job (Baroto, 2002) : 1. Jumlah job yang harus dijadwalkan.
2. Jumlah mesin yang tersedia.
3. Tipe manufaktur atau jenis aliran produksi (job shor or flow shop). 4. Pola kedatangan job (static atau dynamic).
2.6 Kr iter ia dalam Penjadwalan Pr oduksi
Kriteria dalam penjadwalan terdiri dari (Ariyani 2008) : 1. Kriteria berdasarkan complecion time
§ Minimasi maksimum flow time (minimasi Fmak)
§ Minimasi Cmak
§ Minimasirata-rata flow time (F)
§ Minimasi rata-rata complecion time (C)
2. Kriteria dengan dasar due date (batas waktu penyerahan)
§ Minimasi rata-rata lateness (L)
§ Minimasimaksimum lataeness (Lmak)
§ Minimasi rata-rata tardiness (T)
§ Minimasi maksimum tardiness (Tmak) 3. Kriteria dengan dasar penyimpanan dan ongkos
§ Minimasi rata-rata jumlah job yang menunggu pada mesin (Nw) yang berhubungan dengan in invetoty proses
§ Minimasi rata-rata jumlah job yang selesai dikerjakan (Nc)
§ Maksimasi rata-rata jumlah job yang selesai dikerjakan pada waktu tertentu (Np)
Tujuan dari kriteria ini adalah untuk meminimasi idle rata-rata (I) atau idle maksimum (Imak)
2.7 Penjadwalan Mesin
Penjadwalan mesin terdiri dari : 1. Penjadwalan n job pada 1 prosesor
Pengurutan pekerjaan disebuah prosesor digunakan untuk mencapai tujuan minimasi waktu alir rata-rata atau minimasi keterlambatan. Makespan penjadwalan pada satu prosesor selalu konstan besarnya. Walaupun penjadwalan satu prosesor tidak akan berpengaruh pada waktu alir rata-rata (mean flow time), kelambatan rata-rata-rata-rata (mean lateness) atau ukuran kelambatan rata-rata (mean tardiness). Perlu juga diperhatikan bahwa penjadwalan merupakan basis perencanaan ditingkat floor shop. Penjadwalan hanya dilakukan satu kali pada awal penugasan, jika muncul pekerjaan baru maka pekerjaan itu disimpan dalam daftar tunggu dan baru dijadwalkan bersama dengan pekerjaan lainnya setelah kumpulan penjadwalan pertama selesai diproses.
2. Penjadwalan n job pada m prosesor parallel
Pada penjadwalan prosesor jamak paralel, setiap pekerjaan hanya perlu memasuki salah satu prosesor. Dengan adanya prosesor jamak, pekerjaan penjadwalan menjadi agak sukar bila dibandingkan dengan penjadwalan pada prosesor tungga. Jika penjadwalan pada satu prosesor memiliki masalah pada bagaimana urutan pekerjaan yang akan memberikan hadil optimal, maka pada prosesor paralel masalah yang terjadi adalah urutan pekerjaan yang paling optimal dan prosesor manakah yang akan mengerjakan pekerjaan tersebut.
Gambar 2.5 Permasalahan Penjadwalan Prosesor Paralel 3. Penjadwalan n job pada m prosesor seri.
Permasalah penjadwalan selanjutnya dikembangkan lagi ke dalam bidang penjadwalan m prosesor seri. Jika pada m prosesor parallel satu pekerjaan cukup dikerjakan oleh salah satu prosesor maka pada penjadwalan prosesor seri, setiap pekerjaan harus dikerjakan oleh setiap prosesor secara berurutan.
Pada permassalahan penjadwalan m prosesor seri, metode yang menghasilkan solusi optimal hanya metode minimasi makespan dua atau lebih prosesor seri, sementara untuk tujuan penjadwalan lainnya sampai saat ini belum ditemukan metode heuristic yang cukup baik. Untuk memecahkan masalah-masalah penjadwalan dengan tujuan minimasi keterlambatan dan minimasi waktu alir rata-rata para peneliti menyaranjkan untuk menggunakan teknik simulasi komputer.
Gambar 2.6 Permasalahan Penjadwalan Prosesor Seri
2.8 Penjadwalan Flow Shop
Sistem penjadwalan dalam flow shop adalah penjadwalan dari seluruh job dengan urutan proses sama dan masing-masing job menuju ke masing-masing mesin dalam waktu tetentu. Sistem ini dapat digambarkan seperti urutan linear pada mesin-mesin seperti pada lini perakitan. Setiap job diproses sesuai dengan urutan prosesnya dan dari suatu mesin ke mesin lainnya. Penjadwalan yang memiliki urutan yang sama atas penggunaan masing-masing mesin disebut dengan permutation schedule. Dalam kriteria pengukuran diperlukan
penjadwalan yang terus berjalan tanpa adanya waktu menganggur. Perhitungan penjadwalan harus dipertimbangkan ketika didapatkan solusi yang optimal dengan meningkatkan jumlah job atau mesin.
Pada umumnya pada setiap operasi berikutnya berasal dari satu operasi yang mendahuluinya dan operasi kedua dari terakhir mempunyai satu operasi yang mengikutinya. Oleh karena itu setiap job memiliki urutan operasi yang spesifik untuk menyelesaikan job tersebut. Tipe struktur ini sering disebut sebagai linier precedence diagram. Lantai produksi terdiri dari m mesin berbeda, setiap job terdiri dari m operasi yang memerlukan mesin yang berbeda. Karakteristik flow shop dinyatakan dengan aliran pekerjaan yang terarah. Pada pekerjaan flow shop penomoran mesin dimungkinkan, sehingga jika operasi ke-j dari suatu job mendahului operasi ke-k, maka mesin yang diperlukan dari operasi ke-j mempunyai nomor yang lebih kecil dibandingkan dengan mesin yang dibutuhkan oleh operasi ke-k. Mesin-mesin dalam flow
shop diberi nomor 1, 2, 3, …, m dan operasi job ke-i ditandai dengan (i, 1), (i,
2), …, (i, m).
Setiap job dapat diperlakukan seolah-olah job tersebut memiliki m operasi yang tetap.Aliran pekerjaan flow shop terbagi menjadi 2 yaitu pure
flow shop dan general flow shop. Pada aliran pekerjaan pure flow shop setiap job memiliki satu operasi pada setiap mesin. Sedangkan pada general flow shop suatu pekerjaan dimungkinkan terdiri kurang dari m operasi dengan
operasi terakhir tidak selalu dimulai pada mesin 1dan diakhiri pada mesin m. Karakteristik dasar penjadwalan flow shop adalah sebagai berikut :
a) Terdapat n job yang tersedia dan siap diproses pada waktu t = 0 b) Waktu set up independent terhadap urutan pengerjaan.
c) Terdapat m mesin berbeda yang tersedia secara continue. d) Operasi-operasi individual tidak dapat dipecah-pecah.
2.9 Asumsi dari Penjadwalan
Beberapa asumsi dari penjadwalan yaitu (Ariyani, 2008) :
1. Setiap job merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, sehingga tidak diperbolehkan dua operasi dilakukan pada satu job bersamaan.
2. Tidak ada saling mendahului, setiap operasi harus diselesaikan tuntas terlebih dahulu sebelum operasi yang lain dikerjakan.
3. Tidak ada pembatalan proses, setiap job harus diproses sampai selesai. 4. Hanya ada satu mesin untuk setiap jenis job.
5. Waktu pengerjaan job bersifat independen, artinya antara proses yang satu dengan yang lain dapat diamati sendiri-sendiri.
6. Tidak ada mesin yang mengerjakan lebih dari satu operasi pada waktu yang bersamaan.
7. Mesin tidak pernah rusak pada saat penjadwalan. 8. Tidak ada yang bersifat acak dalam hal berikut :
§ Jumlah job sudah diketahui dan ditetapkan.
§ Waktu pengerjaan job sudah diketahui dan ditetapkan, termasuk waktu
set up dan pembersihan mesinnya.
§ Alur proses sudah diketahui dan ditetapkan untuk masing-masing job.
2.10 Penguku r an Wa ktu K er ja
Data masing-masing proses produksi : 1. Pengujian Keseragaman Data
Menentukan Batas Kontrol Atas (BKA) dan Batas Kontrol Bawah (BKB)
BKA = ̿+ . ̅ BKB = ̿ − . ̅
Karena data yang diambil berdistribusi normal maka tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95% dengan nilai k = 2 dan nilai S (derajat ketelitian) 5%
2. Pengujian Kecukupan Data
Uji kecukupan data yang dihitung dengan rumus sebagai berikut :
( ) ( )
2 2 2 ' − =∑ ∑
∑
x x x N s k N Dimana :N’ = jumlah pengamatan teoritis yang seharusnya dilakukan N = jumlah pengamatan yang telah dilakukan
s = tingkat ketelitian X = data waktu pengamatan
k = angka deviasi standart untuk x, yang besarnya tergantung pada tingkat keyakinan yang diambil.
N’ ≤ N berarti banyaknya data pengukuran pendahuluan telah dianggap “cukup”.
N’ > N berarti banyaknya data pengukuran pendahuluan yang telah dilakukan ternyata “belum cukup”, sehingga perlu diadakan pengukuran pendahuluan kembali untuk menambah jumlah data hingga diperoleh N’≤ N dengan cara perhitungan yang sama (Wignjosubroto,2003).
2.10.1 Waktu Siklus
Waktu Siklus adalah waktu total yang digunakan untuk mengubah input menjadi output . Waktu Siklus terdiri dari dua komponen, yaitu waktu proses (processing time) dan penundaan waktu (nonprocessing time). Waktu proses (processing time) mencakup semua aktivitas yang mengubah input menjadi output. Penundaan waktu (nonprocessing time) mencakup aktivitas seperti menunggu (waiting), menyimpan (storing), dan aktivitas-aktivitas ini biasanya diklasifikasikan sebagai bukan nilai tambah (non value added).
Waktu yang dibutuhkan seorang operator untuk menyelesaikan 1 siklus pekerjaannya termasuk untuk melakukan kerja manual dan berjalan. Terkadang diartikan sebagai waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 unit produk, dalam hal ini ditentukan dari proses yang paling lama (bottleneck), apakah itu pekerjaan manusia atau mesin (Kusnadi,2009).
2.10.2 Waktu Nor mal
Waktu penyelesaian pekerjaan yang diselesaikan oleh pekerja dalam kondisi wajar dan kemampuan rata – rata (Gandey,2011). Waktu normal WN = WS x P.
P adalah factor penyesuaian jika : P=1 bekerja wajar
P < 1 bekerja terlalu lambat P > 1 bekerja terlalu cepat.
2.10.3 Waktu Baku
Waktu baku adalah waktu yang diperlukan oleh seorang pekerja yang bekerja dalam tempo yang wajar untuk mengerjakan suatu tugas yang spesifik