BAB III. KAUM MUDA DALAM KATEKESE UMAT
C. Shared Christian Praxis sebagai Suatu Model Katekese Umat
2. Langkah-langkah Shared Christian Praxis
Menurut Sumarno Ds, (2005: 18-22) dalam Program Pengalaman Lapangan PAK Paroki, mengutip tulisan Thomas Groome yang mengemukakan ada lima langkah pokok antara lain:
a. Langkah I : Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual (Sumarno Ds, 2005: 19) Pada langkah pertama ini membantu dan mendorong peserta supaya menyadari pengalaman mereka sendiri untuk mengkomunikasikan pengalaman hidupnya pada peserta lain. Pengungkapan dapat dilakukan secara verbal dan non verbal yaitu dengan lukisan, musik, tari, drama, lambang, cergam atau kombinasi berbagai bentuk dan sarana. Dengan demikian kekhasan dalam langkah ini adalah mengajak peserta untuk mengungkapkan pengalaman hidupnya yang didasari secara
nyata dialami (fakta) dan sesuai dengan tema atau visi yang telah ditentukan bersama pada langkah sebelumnya (Sumarno Ds, 2005: 19).
Tujuan utama dari langkah pertama adalah membantu peserta supaya menyadari pengalamannya sendiri, menginterpretasikan, membahasakan dan selanjutnya mengkomunikasikan kepada yang lain. Membantu di sini berarti mengusahakan agar peserta dapat mengungkapkan pengalamannya dengan suasana yang mendukung dan diberi rangsang dengan pertanyaan oleh pendamping (Sumarno Ds, 2005: 19).
Pembimbing berperan sebagai fasilitator yang menciptakan suasana pertemuan menjadi hangat dan mendukung peserta untuk membagikan pengalaman hidupnya berkaitan dengan tema dasar. Pembimbing hendaknya tidak memaksakan peserta untuk membagikan pengalamannya, melainkan harus sabar, ramah, hormat, bersahabat, peka terhadap latar belakang dan permasalahan peserta (Sumarno Ds, 2005: 19).
Pendamping perlu memilih pertanyaan yang tepat, menyentuh dan membantu peserta untuk mengkodifikasikan pengalaman keterlibatannya. Pertanyaan harus jelas untuk pendamping sendiri. Selain itu pendamping harus memperhatikan pedoman bagaimana membuat pertanyaan (Groome, 1997: 13).
Kaum muda yang memiliki peranan penting dalam keluarga, Gereja, dan masyarakat kadang menghadapi berbagai macam persoalan dan tantangan. Dengan berbagai persoalan yang dihadapi, kaum muda mencari tempat atau teman untuk membagikan pengalaman yang dialaminya. Kaum muda yang menjadi tulang punggung keluarga, Gereja, dan masyarakat kadang belum menyadari akan
tanggungjawab mereka. Maka, contoh sebuah tema dasar dari langkah I: Ceritakanlah peranan anda dalam kegiatan menggereja!
b. Langkah II : Refleksi Kritis atas Sharing Pengalaman Hidup Faktual (Sumarno Ds, 2005: 20)
Pada langkah ini mendorong peserta untuk lebih aktif, kritis, dan kreatif dalam memahami serta mengolah keterlibatan mereka sendiri maupun masyarakat. Kekhasan pada langkah ini adalah kesadaran yang mendalam membantu peserta untuk menemukan maknanya dan mendorong mereka menemukan peluang pada keterlibatan baru. Katekese sungguh-sungguh membantu peserta supaya berdasar pengalaman hidupnya sampai pada tingkat kesadaran yang terdalam supaya mengolah dan menemukan maknanya, dan mendorong mereka untuk melangkah pada praxis baru (Groome, 1997: 14).
Pada langkah ini peserta perlu mempergunakan tiga unsur yaitu pemahaman kritis, kenangan yang analitis dan imajinasi kreatif. Pemahaman kritis adalah kemampuan memberi nilai dan arti pada keterlibatan dalam hidup konkrit. Maksudnya adalah kritis terhadap diri sendiri untuk menemukan keterlibatannya dalam hidup sosial dan semua unsurnya yang menyertai. Kenangan analitis adalah membantu peserta untuk menyadari semua pengaruh yang membentuk sikap, pandangan dan interpretasi terhadap kenyataan. Maksudnya kenangan kritis ini untuk membantu peserta untuk melihat kembali bagaimana sejarah hidupku, keberadaanku sebagai subyek dan perbuatan yang membentuk hidupku. Sedangkan imaginatif kreatif mempunyai kepentingan personal maupun sosial. Kepentingan personal mengarahkan peserta untuk meningkatkan kesadaran akan identitas pribadi
dan memperkokoh keterlibatannya dalam hidup sosial pada taraf tanggung jawab visi dan pelaksanaannya (Sumarno Ds, 2005: 20).
Tujuan dari langkah kedua ini adalah memperdalam refleksi dan mengantar peserta pada kesadaran kritis akan keterlibatan mereka, asumsi dan alasan, motivasi, sumber historis (pengenangan), kepentingan dan konsekuensi yang disadari dan hendak diwujudkan. Dengan refleksi kritis pada pengalaman konkret peserta diharapkan sampai pada nilai dan visinya yang pada langkah keempat akan dikonfrontasikan dengan pengalaman iman Gereja sepanjang sejarah (tradisi) dan Visi Kristiani (Sumarno Ds, 2005: 20).
Maka pada langkah ini pembimbing mampu menciptakan suasana pertemuan yang menghormati dan mendukung setiap gagasan serta sumbang saran para peserta, mengundang refleksi kritis setiap peserta, mendorong peserta supaya mengadakan dialog dan penegasan bersama yang bertujuan memperdalam, menguji pemahaman, kenangan, imajinasi peserta, menyadari kondisi peserta, lebih-lebih mereka yang tidak biasa melakukan refleksi kritis terhadap pengalaman hidupnya. Pada langkah ini pendamping menggunakan pertanyaan yang sifatnya terbuka dan menunjukkan sikap yang siap mendengarkan semua yang disampaikan oleh peserta. (Sumarno Ds, 2005: 20). Selain itu pendamping perlu berusaha untuk menghindari suatu kesan bahwa peserta diwajibkan mempertanggungjawabkan komunikasi praksis faktual yang telah dilakukan pada langkah pertama (Groome, 1997: 19).
Pendamping perlu menyadari bahwa refleksi kritis merupakan tahap sulit yang membutuhkan kesabaran dan ketrampilan untuk memperkembangkannya. Untuk itu pendamping perlu menekankan pentingnya lingkungan psikososial:
keakraban, rasa senasib-sepenanggungan dan kepercayaan antar peserta (Groome, 1997: 19).
Kaum muda yang belum menyadari akan tanggungjawab mereka sebagai generasi penerus keluarga, Gereja, dan masyarakat perlu merefleksikan dan mengingat kembali apa yang telah dilakukan bagi keluarga, Gereja dan masyarakat, sehingga mereka terdorong untuk menjalankan tugas mereka sebagai generasi penerus. Contoh pertanyaan pada langkah ini adalah: Mengapa anda mengikuti kegiatan menggereja?
c. Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau (Sumarno Ds, 2005: 21)
Kekhasan pada langkah ini adalah “dialog tradisi”, yaitu tradisi kristen (pengalaman praxis sepanjang hidup dan visinya). Yang dimaksud dengan tradisi adalah pengungkapan iman kristiani yang sungguh dihidupi Gereja sepanjang sejarahnya. Maka tradisi Gereja tidak terbatas pada pengajaran Gereja (dogma) tetapi juga merangkum Kitab Suci, spiritualitas, devosi, kebiasaan hidup beriman, liturgi, seni dalam Gereja, kepemimpinan dan kehidupan jemaat beriman (Sumarno Ds, 2005: 21).
Tradisi kristiani mengungkapkan kreativitas dan interpretasi manusiawi terhadap pewahyuan ilahi. Bagi umat kristiani, Tradisi Kristiani adalah sumber utama untuk kehidupan dan penghayatan iman. Sebagai umat beriman kita yakin bahwa iman kristiani lahir dari tindakan ilahi yang hadir di tengah-tengah kehidupan manusia. Tradisi kristiani adalah pewahyuan Allah yang ditanggapi oleh manusia,
pewahyuan kehendak Allah juga bersifat universal, tidak hanya terbatas di dalam Gereja Katolik (Groome, 1997: 20).
Tujuan dari langkah ini adalah mengusahakan supaya Tradisi dan Visi Kristiani menjadi lebih terjangkau, lebih dekat dan relevan bagi peserta pada jaman sekarang. Hal ini berarti langkah ini memberi tahap untuk memberi masukan bagi peserta (Sumarno Ds, 2005: 21).
Peran pembimbing pada langkah ini cukup besar sebab menjadi penghubung antara Tradisi dan Visi Kristiani dan visi hidup peserta. Pendamping berperan membuka jalan, menghilangkan hambatan, mendorong partisipasi aktif dan kreatif. Menciptakan suasana untuk mempribadikan nilai-nilai tradisi dan visi kristen yang relevan dan aktual untuk hidup mereka. Dengan demikian interpretasi itu menyentuh bagian terdalam dari hidup peserta sehingga menimbulkan motivasi untuk terlibat dalam kehidupan secara kreatif sebagai umat beriman. Terhadap Tradisi dan Visi kristiani pendamping ditantang untuk memperlihatkan keterlibatan pribadi terhadap nilai-nilai tradisi dan visi kristiani dalam terang iman, harapan dan cinta. Hal ini tidak hanya mengandaikan kemampuan akademik tetapi juga penghayatan dan keterlibatan dalam perjuangan konkrit. Terhadap peserta, kesadaran bahwa peserta harus dibela dan diteguhkan dalam perjuangan hidup menempatkan mereka sebagai subyek yang mandiri. Dengan demikian peran pendamping bukan sebagai guru tetapi sekaligus sebagai murid yang juga sedang belajar. Dalam langkah ini pembimbing menggunakan pertanyaan berdasarkan teks Kitab Suci yang digunakan (Sumarno Ds, 2005: 21).
Pendamping perlu mempersiapkan diri, dukungan sumber, dan studi pribadi supaya peran pendamping pada langkah ketiga ini memenuhi kriterium model
“shared christian praxis”. Di samping itu juga pendamping harus yakin akan imannya pada Allah yang senantiasa hadir dan berkarya di tengah kehidupan manusia. Pendamping juga perlu menyadari segi-segi yang dapat menimbulkan pertanyaan, dan meragukan. Namun pendamping harus yakin akan keharmonian dan kekonsistenan interpretasi manusia dengan iman Gereja (Groome, 1997: 27).
Kaum muda yang sedang dalam proses pertumbuhan dan percarian jati diri belum mengenal istilah Tradisi dengan huruf T besar dalam Gereja. Kaum muda lebih mengenal kata tradisi dengan huruf t kecil. Langkah ini dapat membantu kaum muda untuk mengenal kata Tradisi yang dimaksudkan oleh Gereja yakni Kitab Suci. Contoh tema pada langkah ini adalah berdasarkan Kitab Suci Sir 3:1-16. Contoh pertanyaan: Ayat manakah yang meminta tanggung jawab anda dalam kegiatan menggereja?
d. Langkah IV: Interpretasi/Tafsir Dialektis Antara Tradisi dan Visi Kristiani Dengan Tradisi dan Visi Peserta (Sumarno Ds, 2005: 21)
Pada langkah ini pembimbing mengajak peserta mendialogkan hasil pengolahan pada langkah pertama dan kedua dengan isi pokok langkah ketiga. Agar nilai-nilai Tradisi dan Visi Kristiani dapat meneguhkan, mengkritik atau mempertanyakan dan mengundang mereka untuk melangkah pada kehidupan yang lebih baik dengan penuh semangat, nilai, dan iman yang baru demi terwujudnya Kerajaan Allah (Sumarno Ds, 2005: 21).
Tujuan dari langkah ini adalah agar peserta mampu secara kritis mengintegrasikan dan mempersonalisasikan nilai-nilai hidup mereka ke dalam Tradisi dan Visi Kristiani dalam hidup sehari-hari. Hal ini memperteguh identitas
sebagai orang kristen, sebab peserta selalu ditantang untuk mengadakan penilaian dan penegasan (Sumarno Ds, 2005: 21). Peserta secara aktif dan kreatif mempribadikan nilai-nilai kristiani dengan cara yang memperteguh identitas kekristenan peserta. Secara dialektis peserta mendialogkan praksis hidup yang faktual dengan nilai-nilai kristiani (Groome, 1997: 19).
Pembimbing harus menghormati kebebasan dan hasil penegasan peserta, termasuk peserta yang menolak tafsiran pembimbing, meyakinkan peserta bahwa mereka mampu mempertemukan nilai pengalaman hidup dan visi mereka dengan nilai Tradisi dan Visi kristiani, mendorong peserta untuk merubah sikap dari pendengar pasif menjadi pihak yang aktif, menyadari bahwa tafsiran pembimbing bukan kata mati dan mendengar dengan hati tanggapan, pendapat dan pemikiran peserta.
Pendamping harus menunjukkan keinginannya yang mendalam untuk mendengar tanggapan hermeneutis-dialektis peserta. Pendamping harus peka pada pemahaman, kesadaran, dan sikap baru yang dialami oleh peserta, tetapi ia juga harus terbuka pada ketidaksetujuan dan tambahan gagasan peserta. Hal pokok yang perlu ditekankan oleh pendamping adalah tindakan personalisasi yang dijalankan dengan dialog dan hermeneutik yang dialektis antara persepsi peserta tentang praksis faktual dengan nilai tradisi dan visi kristiani. Seperti Yesus yang menjadi model utama, para pendamping diharapkan memberi peserta kebebasan untuk mempertimbangkan, menilai, dan mengambil keputusan mengenai nilai Tradisi dan Visi Kristiani berdasar situasi konkrit dan kepentingan bersama (Groome, 1997: 33). Kebanyakan kaum muda yang belum mengenal ajaran-ajaran atau Tradisi Kristiani maka diharapkan pada langkah ini dapat membantu kaum muda dalam
menghubungkan pengalamannnya dengan nilai-nilai kristiani sehingga kaum muda dapat mengenal dan mengetahui nilai-nilai kristiani yang diajarkan dalam Kitab Suci. Contoh pertanyaan yang dapat membantu kaum muda adalah: Perbuatan apa yang ditawarkan Yesus bagi kita agar kita dapat mengetahui peranan kita dalam kegiatan menggereja?
e. Langkah V: Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah di dunia ini (Sumarno Ds, 2005: 22)
Kekhasan langkah ini adalah memberi kesempatan kepada peserta untuk mengambil keputusan tentang bagaimana berdasarkan rahmat Allah menghidupi iman kristiani. Memberi kesempatan kepada peserta berarti mendorong peserta dengan pertanyaan-pertanyaan sehingga peserta dapat menentukan keputusan berdasarkan atas apa yang telah dipahami selama pertemuan (Sumarno Ds, 2005: 22).
Keputusan hendaknya praktis tidak perlu muluk-muluk, tetapi mudah dilaksanakan. Keputusan itu harus mendorong dan menyemangati peserta untuk setia melaksanakannya. Keputusan itu perlu dipahami sebagai tanggapan jemaat Kristiani terhadap pewahyuan ilahi yang terus berlangsung di dalam sejarah kehidupan manusia dalam kontinuitasnya dengan Tradisi Gereja sepanjang sejarah dan Visi Kristiani. keprihatinannya adalah praktis yaitu mendorong keterlibatan baru dan dengan cara itu menggarisbawahi peran peserta sebagai subyek yang dipanggil untuk ikut mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah dengan jalan mengusahakan metanoia (pertobatan pribadi dan sosial yang terus menerus (Groome, 1997: 49).
Bentuknya ada yang lebih menekankan aspek kognitif (pemahaman), ada yang menonjolkan aspek afeksi (perasaan), dan ada juga yang mengutamakan aspek yang berhubungan dengan tingkah laku (praktis-politis). Sifatnya dapat lebih menyangkut tingkat personal, intrpresonal, atau sosial-politis. Subyeknya dapat bersifat aktivitas pribadi atau tindakan bersama. Arahnya dapat lebih interen untuk kepentingan kelompok sendiri atau eksteren demi kepentingan di luar kelompok yaitu keterlibatan/pelayanan kepada sesama yang membutuhkan (Groome, 1997: 49-50).
Tujuan langkah ini adalah mendorong peserta untuk sampai pada niat-niat dan tindakan baru, baik yang menyangkut pribadi maupun bersama. Pada langkah ini pembimbing mengajak peserta agar sampai pada keputusan praktis yang dipahami tanggapan jemaat terhadap pewahyuan Allah yang terus berlangsung di dalam sejarah kehidupan manusia dalam kontinuitasnya dengan Tradisi Gereja sepanjang sejarah dan Visi kristiani. Selain itu pembimbing bertanggungjawab menyadari hakikat praktis, inovatif, dan transformatif, menekankan sikap optimis yang realistis pada peserta, pembimbing dapat merangkum hasil langkah pertama sampai keempat, supaya dapat lebih membantu peserta, mengusahakan supaya peserta sampai pada keputusan pribadi dan bersama, dan merumuskan pertanyaan operasional yang membantu peserta ke arah itu (Sumarno Ds, 2005: 22).
Kaum muda yang sedang dalam masa pertumbuhan, lebih senang mendengar daripada melaksanakan. Langkah ini dapat membantu kaum muda untuk berani mengambil sikap dan melaksanakan seperti yang ditawarkan dalam Tradisi Gereja menuju perkembangan yang lebih baik. Contoh pertanyaan: Niat apa yang hendak anda lakukan untuk semakin menyadari peranan anda dalam kegiatan menggereja?